Ada orang menyukai seni, tapi kurang peduli dengan
muatan yang terdapat dalam karya seni itu. Salah seorang seperti itu adalah TOKOH
KITA (meminjam tokoh utama dalam novel Iwan Simatupang Merahnya Merah dan
Kering). TOKOH KITA termasuk orang yang kurang peduli dengan muatan yang
terdapat dalam karya seni. TOKOH KITA selama sekian puluh tahun hanya menjadi
penikmat karya seni. Kalau sekali-sekali mendengarkan lantunan lagu-lagu dari
musisi lokal yang sebenarnya lirik lagunya punya nilai rasa tersendiri, TOKOH
KITA sekedar mendengarnya saja walaupun ikut menyanyikannya. TOKOH KITA tidak
pernah berupaya untuk memahami muatan yang terkandung dalam lirik lagu yang
dinyanyikannya. Begitu pun kalau membaca karya-karya sastra, TOKOH KITA juga sekedar
membacanya tanpa berusaha mengapresiasikannya karena sama dengan mencintai
musik, TOKOH KITA hanya menyukai karya sastra tertentu. Namun, suatu saat di
tengah malam, di saat menaiki bus luar kota yang sarat penumpang, TOKOH KITA
mendengar Ebiet G. Ade melantunkan lagunya: `Dosa Siapa`. Sontak dalam sekejap
saja ada satu perasaan yang tumbuh dalam dirinya. Dari sini TOKOH KITA mulai
merenung, ternyata lirik-lirik lagu Ebiet yang didengarnya selama dalam
perjalanan malam di bus itu banyak menyentuh perasaannya yang terdalam. Tidak
terasa sudah sekian puluh tahun TOKOH KITA tidak memiliki kepedulian terhadap
muatan yang terkandung dalam sebuah karya seni. TOKOH KITA sekedar menjadi
penikmat, tapi tidak pernah belajar untuk memahami bahkan menilai sebuah karya
seni. Ah!, TOKOH KITA telah menjadi orang yang abai sehingga kesempatan untuk
belajar menikmati, memahami, dan menilai sebuah karya seni telah terabaikan.
***
TOKOH KITA sebenarnya patut bersyukur
karena banyak orang yang sampai detik ini cenderung mengabaikan nilai-nilai
yang terkandung dalam sebuah karya seni. Kalau ada sebuah nyanyian (apalagi
diiringi dengan suara musik yang enak terdengar), orang hanya cenderung
menyanyikannya tanpa memahami substansi yang terkandung dalam lirik lagu itu.
Kalau ada sebuah karya sastra, orang hanya cenderung membacanya. Terkadang,
orang bisa saja menuntaskan bacaannya. Tapi, tidak sedikit orang yang hanya
membaca sekilas karena sudah terlanjur malas membaca buku-buku karya sastra
yang secara fisik boro-boro membacanya, menyentuhnya pun tidak mau. Hal ini
menunjukkan minat baca di kalangan masyarakat terhadap literasi semakin
berkurang. Orang lebih cenderung membaca tulisan yang ada di HP-nya (itu pun
tulisan yang tidak terlalu panjang). Kalau ada tulisan yang sebenarnya
bermanfaat buat dirinya, karena menurutnya panjang dan membosankan, mau tidak
mau tulisan semacam itu hanya dibaca sekilas. Wajar saja kalau orang cenderung
gagal paham ketika memperoleh sebuah informasi.
Kegagalan menangkap informasi bisa
berakibat fatal. Bisa saja orang itu termakan hoax yang memang dalam dunia
media sosial (medsos) sangat mungkin bisa terjadi. Kalau sudah termakan hoax,
ujung-ujungnya yang terjadi adalah hingar-bingar di dunia medsos.
Ujung-ujungnya, baik orang yang termakan hoax maupun orang yang tanpa
sadar menyebarkan hoax sama-sama harus berhadapan dengan UU ITE. Kalau
sudah berhadapan dengan UU ITE, siap-siap saja berhadapan dengan hukum. Bisa saja orang yang membuat hoax dan tanpa sadar menyebarkannya harus
masuk bui. Jadi, siapapun orangnya ketika memperoleh postingan di gawainya
sebaiknya baca sampai tuntas agar tidak gagal paham. Dengan membaca tuntas,
orang akan bisa mengambil kesimpulan dari yang dibacanya. Boleh jadi tulisan
yang bacanya layak disebarluaskan atau sebaliknya karena dikhawatirkan akan ada
dampaknya yang cenderung negatif cukup sampai ke dirinya saja. Di sini
seseorang harus terbiasa membaca, meresapi isinya, menangkap makna yang
terkandung dalam tulisan, dan kalau perlu merenungi substansi yang ada dalam
tulisan yang dibacanya.
Sejak kecil TOKOH KITA sudah mempunya
kebiasaan membaca buku. Buku-buku (terutama buku-buku cerita) dilahapnya sampai
tuntas. Tapi, itu tadi TOKOH KITA hanya sebatas membaca. Tentang muatan yang
terkandung di dalamnya agak sulit untuk mengungkapkannya. Meskipun demikian,
sejak mendengar lagu-lagu Ebiet di perjalanan malam dengan bus TOKOH KITA mulai
belajar mengungkapkan isi yang terkandung di dalamnya lewat tulisan. Bukan
hanya lirik-lirik lagu, puisi-puisi, cerpen-cerpen, dan bahkan novel-novel juga
tidak luput untuk dijadikan bahan mengungkapkan perasaannya lewat tulisan.
Jadilah TOKOH KITA orang yang akrab dengan dunia literasi. Dunia literasi yang
digelutinya baru benar-benar diseriusi ketika usia sudah mulai senja. Meski
usia senja TOKOH KITA tetap berliterasi karena dengan berliterasi ada kepuasan
yang tidak tergantikan.
***

TOKOH KITA tidak
peduli penilaian orang tentang hasil-hasil karyanya. Orang mau katakan baik
atau tidak bagi TOKOH KITA cukup masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Menulis baginya lebih merupakan sarana untuk me-maintenance otaknya agar
tidak cepat pikun. Dengan berliterasi TOKOH KITA beranggapan telah berbagi
dengan sesama. Bukankah merupakan sebuah kebahagiaan kalau setiap orang bisa
berbagi? Tentu saja berbagi di sini adalah berbagi yang mengarah pada hal-hal
yang positif bukan berbagi ke hal-hal yang negatif. Termasuk berbagi yang
positif di sini adalah berbagi pengalaman hidup. TOKOH KITA pernah menulis
pengalaman masa kecilnya yang penuh dengan dunia bermain. Dari tulisan itu
TOKOH KITA mencoba membandingkan dunia bermain di masa kecilnya dengan dunia
bermain saat ini. Di akhir tulisan TOKOH KITA menyimpulkan permainan di masa
kecilnya (permainan tradisional) dulu lebih kreatif. Bukan hanya itu, TOKOH
KITA juga menyampaikan kalau permainan tradisional lebih mengutamakan
kejujuran, kebersamaan, dan kekuatan fisik. Permainan anak-anak zaman sekarang
ini (zaman now) tidak menunjukkan itu semua. Permainan anak-anak zaman now
cenderung individualis dan berbiaya tinggi. Selain itu, permainan anak-anak
zaman now juga tidak menunjukkan adanya kreativitas. Dengan melihat
permainan anak-anak zaman now TOKOH KITA merekomendasikan adanya
kekhawatiran terjangkitnya penyakit psikopat dan sosiopat pada anak-anak zaman now.
Kalau dipikir-pikir, kok sampai sejauh
itu yang dikhawatirkan TOKOH KITA? Kekhawatiran TOKOH KITA yang disampaikan
lewat rekomendasinya bisa saja terbukti, bisa saja sebaliknya. Tapi, tidak ada
salahnya bagi orang tua yang masih punya kepedulian terhadap pendidikan
anak-anaknya untuk melakukan langkah-langkah preventif sedini mungkin. Bahkan,
bukan hanya orang tua, masyarakat dan pemerintah juga perlu melakukan hal yang
sama. Caranya, sebagaimana disarankan oleh TOKOH KITA, sediakan saja ruang
bermain buat anak-anak. Di setiap lingkungan tempat tinggal sediakan saja
tempat untuk digunakan anak-anak bermain. Di tempat-tempat yang sudah tersedia
itu nantinya dihidupkan lagi permainan tradisional yang sudah jelas-jelas lebih
menyehatkan, kreatif, mengedepankan kejujuran, dan tentu saja juga mengutamakan
kebersamaan.
Karena tulisan-tulisannya yang
menunjukkan kepedulian pada sesama, TOKOH KITA menjadi orang yang humanis.
TOKOH KITA bisa saja disebut sebagai penganut humanisme. TOKOH KITA yang telah
menjadi penganut humanisme terbukti dalam tulisan-tulisannya berusaha
merekomendasikan kepada setiap pembacanya agar berbuat kebaikan. Bahkan, TOKOH
KITA juga menyarankan agar setiap orang mampu hidup lebih baik lagi. Tentu saja
ketika TOKOH KITA merekomendasikannya tidak menutup kemungkinan ada pembaca
yang siap menerimanya walaupun tidak sedikit yang merasa tidak nyaman dengan
tulisannya karena ada kecenderungan mengeritisi perilaku mereka yang menyimpang
dari nilai-nilai kemanusian (apa lagi pembaca yang `baperan`). Salah satu
contoh tulisan yang mungkin membuat para pejabat publik di negara ini boleh
jadi tersinggung ketika membacanya, misalnya, berkaitan dengan kutipan berikut ini.