Selasa, 22 September 2026

Bahasa dan Sastra (259)

 


`Wong Gemblung` dan `Psikopat`

Subagio S. Waluyo          


“Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?”

“Ya, kamu boleh tidak berpuasa. Anakku yang masih kecil juga tidak berpuasa.”

“Tapi aku bukan anak kecil. Pak. Aku wong gemblung,” kata Sulam serius.

“Ah, siapa yang mengatakan kamu demikian?”

“Wong gemblung boleh tidak puasa kan?”

“Nanti dulu; siapa yang mengatakan kamu wong gemblung?”

Sulam tidak menjawab. Kemampuan nalarnya kukira, sangat terbatas. Dan inilah rupanya yang menyebabkan semua orang yang tinggal di antara Wangon dan Jatilawang mengatakan Sulam wong gemblung.

(Cerpen “Wangon Jatilawang”/Ahmad Tohari)

 

“Kamu gila, Gambir. Kamu tidak waras....”

Kata-kata Menik Sasongko memberebet seperti knalpot tersumbat.

Gambir menancapkan belati ke jantung ibunya berkali-kali.

Napas Gambir tersengal-sengal. Ia melihat mata ibunya melotot. Dalam kematian pun, sorotan ibunya  masih saja menghakimi dirinya. Masih terus saja meremehkan kemampuannya. Menyepelekan karirnya.

Di dua sisi kehidupan yang berbeda—kehidupan dan kematian—ibunya masih saja tidak bisa menghargainya.

(Dikutip dari Novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara, 2004:235)

 ***

Dalam cerpen Ahmad Tohari: “Wangon Jatilawang” Sulam digambarkan sebagai anak laki-laki yang terbelakang mentalnya. Dari kutipan dialog di atas bisa dilihat ketika Tokoh Aku bertanya, “Nanti dulu; siapa yang mengatakan kamu wong gemblung?” Sulam tidak bisa menjawab. Tokoh Aku menyimpulkan kalau Sulam sangat terbatas kemampuan nalarnya sehingga wajar saja kalau orang-orang di sepanjang Wangon-Jatilawang menyebutnya sebagai `wong gemblung` (orang yang setengah gila). Sebutan itu melekat benar di benak Sulam. Saking melekatnya dia menyampaikan pada Tokoh Aku kalau dirinya `wong gemblung`. Mungkin hanya Tokoh Aku yang tidak tega menyebutnya sebagai `wong gemblung` meskipun pada dialog di bawah ini jelas sekali kalau Tokoh Aku juga mengakui Sulam sebagai `wong gemblung`.

 

“Sudah hampir lebaran, ya Pak”

 “Oh iya. Kamu nanti akan memakai baju yang baik. Tetapi aku tidak akan menyerahkan baju itu kepadamu sekarang. Nanti saja, tepat pada hari lebaran kamu pagi-pagi kemari.”

 “Di pasar Wangon dan Jatilawang orang-orang sudah membeli baju baru.”

 “Ya, tetapi untukmu, nanti saja. Aku tidak bohong. Bila baju itu kuberikan sekarang, wah, repot. Kamu pasti akan mengotorinya dengan lumpur sebelum lebaran tiba.”

 “Aku kan wong gemblung, Pak.”

 “Nanti dulu, aku tidak berkata demikian.”

Aku ingin berkata lebih banyak. Namun Sulam melangkah pergi. Wajahnya murung. Aku mengikuti sampai ke pintu halaman. Dari belakang kuperhatikan langkahnya yang pendek-pendek, menyeret-nyeret ujung celananya yang kombor dan kelewat panjang, celana pemberian orang.  

 

 

Walaupun Sulam mengalami keterbelakangan mental, dia  masih bisa menjawab  dirinya benar-benar `wong gemblung.` Jawaban Tokoh Aku itu bisa disimpulkan Sulam kalau ada keraguan Tokoh Aku untuk memberikan baju lebaran sebelum lebaran karena baju itu akan kotor. Bukankah memang benar orang seperti Sulam yang biasa wara-wiri Wangon-Jatilawang akan mengotori baju lebarannya karena memang tidak bisa dijamin dia bisa menjaganya? Sulam sadar kalau Tokoh Aku juga sama seperti orang lain yang menganggap dirinya `wong gemblung.` Cuma Tokoh Aku tidak seperti orang lain yang dengan seenak hatinya menyebut `wong gemblung`. Dengan demikian, bagi Sulam yang terbatas nalarnya penolakan Tokoh Aku untuk memberikan baju lebaran sebelum lebaran dengan alasan nanti kotor sudah cukup kalau Tokoh Aku sama seperti orang lain menganggap dirinya `wong gemblung.`

***

Gambir berbeda dengan Sulam. Gambir tidak mengalami keterbatasan mental seperti Sulam. Gambir bisa berteman walaupun terbatas orang-orang yang bisa diajak berteman. Gambir bisa mencari nafkah. Hasil karya seninya dihargai tinggi sampai ratusan juta rupiah. Dari hasil patungnya Gambir bisa hidup tergolong mewah. Di balik itu semua Gambir memang punya latar belakang yang suram. Dia korban kekerasan perilaku kedua orang tuanya sehingga mengalami penyakit kejiwaan:psikopat. Salah satu contoh gambaran kekerasan perilaku orang tuanya terhadap Gambir bisa dilihat ketika bapaknya mencemplungkan kecoak ke mulut Gambir. Kemudian ibunya memaksanya mengatup mulutnya sehingga kecoak itu benar-benar ditelannya. Tidak cukup sampai di situ, kedua orang tuanya selalu mengatakan kalau Gambir anak pembawa sial sehingga wajar saja kalau kata `kabahagiaan` tidak ada dalam kehidupan Gambir. Gambir memang tidak pernah merasakan kebahagiaan di masa kecilnya.

***

............................................................................................

Bapak mencemplungkan kecoak ke mulut mengangaku. Kini Ibu memaksaku  mengatupkan mulut. Bapak memaksaku menelan. Glegh.

Aku berteriak sekencang-kencangnya.

 Oooouuuwww!!!

 .........................................................................................................................

 Aku anak nakal, umurku sembilan tahun. Kedua orangtuaku menyebutku anak pembawa sial.

 ..............................................................................................

Bahagia. Kebahagiaan. Apakah itu kebahagiaan? Aku tidak ingat lagi kapan aku merasakan kebahagiaan.

 

Orang seperti Gambir pada saatnya mengamuk. Tidak tanggung-tanggung dia habisi nyawa orang-orang terdekat. Dimulai dari Damar, adiknya, yang dibunuh karena terbukti berselingkuh dengan Talyda, istrinya, atas suruhan ibunya sendiri. Kemudian, berturut-turut adiknya, Menur, ketika berusaha melindungi ibunya terpaksa jadi korban juga. Ibunya sendiri pun tidak luput dibunuh Gambir. Bahkan, sampai pada detik-detik terakhir ketika nyawanya akan berpisah, sang ibu sorot matanya seolah-olah seperti menghakimi dirinya. Tidak cukup sampai di situ, Gambir pun menghabisi nyawa kedua sahabat karibnya yang telah berselingkuh dengan istrinya. Terakhir, yang jadi korban berikutnya adalah istrinya sendiri, Talyda. Di sini ungkapan `gila, tidak waras` muncul dari mulut ibunya. Apakah Gambir gila? Gambir setelah menghabisi semua orang yang ada di rumah itu tidak mengakui kalau dia gila. Justru, orang-orang yang telah dihabisi nyawanya itu menurutnya tidak lebih waras dari dirinya. Meskipun demikian, dia juga mengakui kalau dirinya gila dan belum tentu waras.  

“Kamu gila, Gambir. Kamu tidak waras....”

Kata-kata Menik Sasongko memberebet seperti knalpot tersumbat.

Gambir menancapkan belati ke jantung ibunya berkali-kali.

Napas Gambir tersengal-sengal. Ia melihat mata ibunya melotot. Dalam kematian pun, sorotan ibunya  masih saja menghakimi dirinya. Masih terus saja meremehkan kemampuannya. Menyepelekan karirnya.

Di dua sisi kehidupan yang berbeda—kehidupan dan kematian—ibnya masih saja tidak bisa menghargainya.

....................................................................................................

Aku gila? Jangan seenaknya menuduh. Bisa buktikan? Bisa buktikan kau lebih waras dariku? Apa aku gila? Apa aku waras? Bisa ya. Bisa juga tidak.

Ooouuuwww!!!

***

Sulam dalam cerpen “Wangon Jatilawang” disebut orang sebagai `wong gemblung` atau setengah gila (jadi tidak gila beneran). Sulam disebut juga orang yang kurang waras karena memiliki penyakit keterbelakangan mental. Ibunya pun sama sampai wafat mengidap penyakit yang sama. Orang seperti Sulam jelas tidak berbahaya. Dia tidak pernah mengamuk. Tidak ada dendam walaupun sering diperlakukan tidak wajar oleh orang-orang sekitarnya. Mungkin karena memiliki keterbatasan mental Sulam tidak sakit hati walaupun kerap diusir dan dianggap orang yang membawa sial. Masih bersyukur ada orang seperti Tokoh Aku yang  masih mau menerima dan melayani Sulam dengan keterbatasan mentalnya.

 

Lain Sulam, lain Gambir. Gambir di novel Pintu Terlarang di akhir cerita jelas-jelas benar-benar menunjukkan kegilaannya. Dia bisa gila karena sakit hatinya sudah sampai pada puncaknya. Bagaimana tidak sakit hati kalau dia tahu adiknya dan teman-temannya atas suruhan ibunya mau berselingkuh dengan istrinya? Bagaimana Gambir tidak marah kalau sang istri, Talyda, mau-mauan disuruh ibunya berselingkuh dengan teman-temannya? Bagaimana Gambir juga tidak marah kalau ibunya sendiri yang selama ini memang sudah tidak suka dengan kehadirannya di duni ini punya peran besar merusak keutuhan rumah tangganya?  Jadi, semua itu menggumpal yang pada akhirnya gumpalan itu meluap menjadi sebuah kemarahan besar. Gambir yang sudah tidak bisa berpikir jernih, dia ikuti apa saja kata hawa nafsunya akhirnya menghabisi semua orang yang ada di sekitarnya dengan belatinya. Inilah titik akhir luapan emosi yang berasal dari penyakit psikopat. Orang seperti Gambir jelas berbahaya.

 

Orang seperti Gambir yang menderita psikopat bisa saja menjadi berbahaya karena psikopat merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan beberapa ciri, di antaranya yaitu perilaku antisosial,  tidak memiliki empati, dan memiliki temperamen yang sulit diprediksi. Penyebab psikopat lebih disebabkan oleh gangguan yang diprediksi timbul karena pengaruh genetik dan pengalaman traumatis masa kecil (https://www.alodokter.com/jangan-tertipu-watak-seorang-psikopat). Gambir menjadi orang yang menderita psikopat lebih disebabkan oleh traumatis di masa kecil. Perlakuan kedua orang tuanya yang demikian buruk terhadap dirinya yang menyebabkannya dia lebih suka menyendiri sehingga dia menjadi orang yang antisosial yang akhirnya bisa membahayakan orang lain.

***

Dari dua tokoh yang ditampilkan di atas, Sulam walaupun menderita keterbatasan mental bukan orang yang berbahaya. Justru Gambir yang jelas-jelas menunjukkan orang yang sangat berbahaya. Tapi, Gambir tidak akan berbahaya kalau tidak ada yang memicunya untuk melakukan tindak kriminal. Gambir sejak kecil mengalami tekanan psikologis yang dideritanya akibat perlakuan kedua orang tuanya. Ketika dewasa dan berkeluarga, tekanan psikologis itu tidak pernah berhenti. Bukan hanya ibunya, istrinya pun punya peran besar dalam merusak kejiwaannya. Ungkapan-ungkapan yang cenderung kasar ketika memperlakukan Gambir membuat Gambir tertekan jiwanya. Semua gumpalan perasaan ketertekanan jiwanya membuat Gambir mengamuk. Di titik inilah Gambir disebut orang gila.

 

Orang gila (lebih tepat disebut orang psikopat) tipe Gambir akan memakan korbannya jika diperlakukan kasar. Tidak ada orang yang psikopat tiba-tiba membunuh orang tanpa ada rasa sakit hati. Selain itu, seorang psikopat melakukan tindak kriminal seperti yang dilakukan Gambir secara spontanitas, tanpa ada perencanaan sebelumnya. Sementara penikam seorang pendakwah seperti (alm.) Syaikh Ali Jaber jelas-jelas terindikasi sebagai  pembunuhan berencana. Hasil rekonstruksi yang dilakukan beberapa kali menunjukkan Alfin Andrian melakukannya dengan perencanaan yang matang. Jadi, kalau dikatakan Alfin itu gila perlu dipertanyakan karena stigma gila juga melekat pada orang-orang terdahulu yang melakukan kekerasan pada para ulama. Stigma gila menguntungkan orang-orang yang seenaknya melakukan kekerasan pada para ulama atau orang-orang tertentu yang kebetulan ada di antaranya tokoh nasional seperti Syekh Ali Jaber atau tokoh masyarakat lokal seperti imam masjid. Secara kebetulan orang-orang yang disasar oleh orang-orang yang terlanjur diberi stigma orang gila itu notabenenya adalah orang-orang yang aktif dalam kegiatan keagamaan (Islam). Apakah tidak mungkin di balik ini semua ada tokoh besar (dalangnya) yang sengaja di-hidden-kan oleh pihak-pihak tertentu yang boleh jadi orang seperti ini termasuk orang gila?

 ***

Sebuah pertanyaan besar dimunculkan di sini: mengapa sampai saat ini belum juga terungkap siapa yang menjadi pelaku utamanya? Pelaku yang dengan perencanaannya yang matang sengaja menyasar sasarannya pada orang-orang yang aktif dalam kegiatan keagamaan. Kalau melacak pada perbuatan orang-orang PKI yang jelas-jelas menjadikan tokoh-tokoh Muslim sebagai sasaran tembaknya, modus yang hampir saja juga terjadi. Mereka (para aktivis dan tokoh-tokoh PKI) dalam beberapa kali pemberontakannya di negara ini selalu menjadikan sasaran tembaknya tokoh-tokoh Muslim. Puncak pemberontakannya (sebelum PKI dibubarkan pada 12 Maret 1966)    terjadi pada 30 September 1965. Peristiwa itu yang kemudian disebut Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI. Meskipun PKI telah bubar tidak mustahil entah antek-anteknya yang sekarang masih hidup atau anak cucunya tidak mustahil masih menaruh dendam terhadap kaum Muslimin yang sebagian besar masih berkuasa di negara ini. Untuk lebih jelasnya tentang kekejaman mereka silakan dibaca buku Banjir Darah: Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri, dan Kaum Muslimin oleh Anab Afifi-Thowaf Zuharon (diterbitkan oleh Penerbit Istanbul, Jakarta, 2020). Di buku itu sudah cukup jelas kejadian yang menimpa aktivis Islam yang dilakukan oleh kalangan PKI. Karena itu, agar tidak ada tuduhan terhadap siapapun ada baiknya pihak berwajib secara masif dan transparan menyelidiki kasus yang menimpa para ustadz dan tokoh agama tersebut.    

 

Kejadian yang menimpa orang-orang yang aktif dalam kegiatan keagamaan perlu diselidiki oleh pihak berwajib. Tidak cukup hanya sampai diminta pelakunya untuk merekonstruksi kejadiannya. Pelakunya harus ditekan agar keluar pengakuan dari mulutnya kira-kira siapa orang yang pernah menyuruhnya. Dengan cara menekan pelaku tidak mustahil akan keluar pengakuan dari mulutnya sehingga pertanyaan besar yang selalu muncul di benak masyarakat akan terjawab. Selain itu, prasangka buruk yang sudah terlanjur ada di benak publik juga akan sirna. Sebaliknya, kalau pihak berwajib sekedar menangkap (apa lagi kemudian dilepaskan karena diduga gila pelakunya) akan membuat masyarakat tidak memiliki kepercayaan pada pihak berwajib. Sikap seperti ini kalau tidak ada perubahan tidak mustahil akan terjadi ledakan yang bisa berakibat munculnya vandalisme.

 

Perilaku vandalisme yang sudah kerap terjadi di negara ini tidak perlu berulang kembali. Baik Peristiwa Malari (1974) maupun kerusuhan akibat krisis ekonomi yang belakangan disebut sebagai Kerusuhan Mei 1998 tidak perlu lagi terjadi. Di sini pemerintah dituntut untuk bersikap adil terhadap rakyatnya. Kalau ada kejadian terorisme (yang ujung-ujungnya selalu saja  menyasar ke umat Islam) pemerintah bertindak cepat, kenapa untuk kasus kekerasan pada kalangan tokoh-tokoh agama Islam cenderung tidak serius? Kalau begitu, ada apa dengan pihak berwajib? Mengapa tidak juga bisa mengungkap dalang di balik peristiwa yang menimpat para pemuka agama itu? Sudah jelas orang-orang yang melakukan kekerasan itu bukan orang gila, kok masih juga belum apa-apa disimpulkan dilakukan oleh orang gila? Jangan sampai nanti stigma gila malah justru menempel pada pihak-pihak  yang sengaja melakukan pembiaran terhadap peristiwa tersebut.

***

Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari walaupun orang seperti Sulam diejek dengan `wong gemblung` (orang setengah gila) karena keterbatasan mentalnya, justru orang-orang di sekitarnya yang mengatakan Sulam orang `pembawa apes (sial)` adalah orang-orang yang berpikiran gila.Sama halnya dengan peristiwa yang menimpa Gambir yang sudah terlanjur dianggap `anak pembawa sial` justru orang yang mengatakannya (kedua orang tuanya) adalah orang-orang yang patut dianggap gila. Orang-orang yang menyebut Sulam `wong gemblung` kenapa menyebutnya demikian kalau memang mereka tidak sakit jiwanya. Begitu juga kedua orang tua Gambir kenapa selalu meneriakkan anaknya dengan sinis `anak pembawa sial`? Bukankah Gambir anak kandung sendiri? Kalau Gambar disebut `anak pembawa sial` berarti kedua orang tuanya juga `pembawa sial`? Sama halnya menyebut gila pada anak atau pada siapapun, ungkapan itu akan berbalik kepada orang yang meneriakkannya. Bisakah setiap orang menahan diri untuk tidak melekatkan kata gila pada seseorang sebelum orang itu menunjukkan perilaku gila? 

Rabu, 19 Agustus 2026

Bahasa dan Sastra (258)


 

GURU ADA, GURU TIADA

 Subagio S. Waluyo

 

          Anak-anak didik kita di negara yang kita cintai ini di tahun 1980-an banyak yang tahu tentang lirik lagu yang ditulis Sartono, “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Lagu tersebut kerap kali dinyanyikan pada setiap kali upacara bendera atau hari-hari nasional. Entah anak-anak didik kita di masa-masa reformasi ini apakah masih menyanyikan lagu tersebut? Penulis lagu tersebut pun konon kabarnya benar-benar menjadi `Pahlawan Tanpa Tanda Jasa` karena sampai beliau selesai mendarmabaktikan ilmunya di salah satu sekolah swasta di Madiun (tempat beliau selama ini tinggal) tidak ada pensiun dan tidak ada secarik pun lembaran-lembaran tanda jasa. Ini salah satu contoh betapa bangsa ini kurang menghargai keberadaan seorang guru. Orang seperti Sartono yang mulai mengabdikan ilmunya di tahun 1978 hingga menyelesaikan masa tugasnya di tahun 2002 tetap berstatus sebagai guru honorer dengan gaji Rp60.000,00/bulan! Lirik lagu yang ditulis Sartono memang layak buat dirinya. Atau jangan-jangan memang beliau menulis tentang nasib yang menimpa dirinya selama ini sebagai guru honorer yang tidak mengharapkan tanda jasa? Coba kita simak lirik lagunya berikut ini.

 

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”

 

Sartono


Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Lirik Lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausanr
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

 

          Melihat lirik lagu di atas, kita merasakan keberadaan seorang guru. Keberadaan guru itu tampak ketika guru menjadi pelita dalam kegelapan. Artinya, keberadaan guru memberikan makna bagi anak didik. Tatkala anak didik banyak yang tidak bisa membaca dan menulis, berkat bimbingan seorang guru yang dengan penuh welas asih membimbing anak-anak didiknya, menjadikan anak-anak didiknya memiliki ilmu yang bermanfaat untuk hidupnya di kemudian hari. Selain itu, keberadaan guru merupakan mediator pemenuhan kebutuhan hasrat anak didik akan ilmu pengetahuan. Di saat-saat anak didik haus akan ilmu kehadiran seorang guru menjadi `embun penyejuk dalam kehausan.` Di saat-saat anak didik berupaya mencari jawaban dari hasil browsing-nya tentang alam semesta dan isinya yang juga tidak terjawab melalui akal pikirannya yang memang masih demikian sederhana, guru sebagai mediator dan fasilitator mengantarkan sebuah jawaban atas teka-teki alam semesta yang sedang mereka browsing tetapi tersampaikan juga. Untuk itu, guru adalah  makhluk berjasa yang pengorbanannya tidak memerlukan jasa sehingga dia juga pahlawan bangsa yang tidak berkenan mendapatkan tanda jasa.

          Guru di mata anak didik layak mendapatkan pujian (meskipun pujian tertinggi tetap pada Tuhan) yang akan selalu terpahat dalam sanubari mereka. Semua darma baktinya tidak akan mungkin bisa dilupakan. Semua pengabdian guru akan menjadi prasasti yang akan tetap terukir di hati anak didik. Itulah wujud terima kasih anak didik yang akan tetap menyimpan jasa-jasa baik pengorbanan seorang guru. Adalah hal yang wajar kalau anak didik perlu melakukan koreksi diri sebagai bukti rasa terima kasihnya pada pengabdian seorang guru. Anak didik perlu banyak bertanya pada diri sendiri `karena siapa dia bisa menulis dan membaca, tahu dari mana dia tentang beraneka bidang ilmu?` Itu semua berkat bimbingan bapak ibu guru. Karena pengabdian mereka yang tak pernah kenal lelah sehingga guru `bak pelita penerang dalam gulita`. Untuk itu, guru bagi anak didik selayaknya ditempatkan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang keberadaannya dan kehadirannya memberikan demikian banyak manfaat bagi kehidupan anak didik di masa depan. Guru walaupun sisi tingkatan keberadaannya masih di bawah orang tua, dia memberikan jasa pada anak didik yang tidak ternilai.

 

JASAMU GURU

 M. Isfanhari    

 

Kita jadi bisa menulis dan membaca

Karna siapa

Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu

Dari siapa

 

Kita jadi pintar dibimbing Pak Guru

Kita jadi pandai dibimbing Bu Guru

Guru bak pelita penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara

 

          Lalu, bagaimana dengan nasib guru-guru kita saat ini? Sebagian nasib guru-guru kita sudah cukup baik karena di samping memperoleh gaji dari pemerintah (bagi yang PNS dan P3K) atau gaji dari tempat mengajar (bagi guru tetap sekolah-sekolah swasta) mereka juga mendapat tunjangan sertifikasi yang besarnya satu kali gaji pokok gaji PNS sesuai dengan hasil penyesuaian.  Tentang penyesuaian bagi guru PNS tidak begitu rumit karena bisa ditelisik dari kepangkatan dan golongannya. Tapi, bagi guru swasta disesuaikan dengan masa kerjanya. Guru yang telah mengabdi dua puluh tahun bisa saja disesuaikan tunjangannya menjadi golongan III D. Terkadang, bahkan sering, juga banyak didapati ternyata guru yang bersangkutan golongan kepangkatannya hanya diakui III B. Akhir-akhir ini, masih perlu dikonfirmasi lebih jauh, semua guru swasta yang mengajukan tunjangan sertifikasi hanya diakui III A. Silakan ditebak sendiri berapa besar tunjangan sertifikasi untuk para guru baik negeri maupun swasta.

          Bukan hanya tunjangan sertifikasi, guru juga mendapat tunjangan kinerja dari pemerintah daerah. Besaran tunjangan bergantung pada kemampuan daerahnya masing-masing. Untuk guru-guru yang mengajar di wilayah DKI Jakarta, Pemda DKI Jakarta konon kabarnya memberikan tunjangan kinerja guru terbesar di negara ini. Sementara itu, di kota-kota di sekitar DKI Jakarta tunjangan kinerja guru tidak sebesar DKI Jakarta. Ada yang mengatakan sangat kecil sehingga ada yang mengatakan hanya sebesar kelingking kuku orang dewasa. Bisa juga dikatakan tidak wajar. Ada juga yang mengatakan dibandingkan dengan kota atau kabupaten yang jauh dari DKI Jakarta tunjangan kinerja guru jauh lebih besar dari Kota Bekasi. Wallahu a`lam bissawab. Untuk masalah tunjangan kinerja ini tampaknya memang masih perlu dievaluasi agar orang tidak sebatas mengatakan `katanya` karena pernyataan itu jelas jauh dari ilmiah. Kata `katanya` itu bisa digolongkan rumor.

          Terlepas dari tunjangan kinerja guru yang diberikan pemda yang boleh jadi merupakan tambahan yang bermanfaat bagi guru, guru-guru honor daerah (honda) dan guru-guru honor di sekolah swasta nasibnya masih senin-kamis alias masih tergolong di bawah garis kemiskinan. Lho, kok bisa begitu? Coba saja kita bayangkan berapa besar honor yang mereka terima setiap bulannya? Di sebuah SD Negeri di Kota Bekasi yang letaknya tidak begitu jauh dari DKI Jakarta ada guru honda yang bertahun-tahun mengabdi sampai sekarang ini belum juga jadi PNS hanya memperoleh honor di bawah 1 juta rupiah! Masih lebih baik nasib buruh pabrik yang bekerja sekitar 8-9 jam sehari. Apalagi buruh-buruh pabrik banyak yang sudah disesuaikan dengan UMR di daerah masing-masing. Mereka (para guru honda) untuk menjadi guru PNS atau P3K walaupun harus sekian tahun menunggu pengangkatan sebelumnya harus menyetorkan sebagian uangnya ke oknum-oknum pemda agar proses pengangkatannya sebagai guru PNS dipercepat. Masalah ini bukan rumor tapi sudah menjadi fenomena yang tidak bisa kita pungkiri dengan menutup mata atas kejadian ini.

          Bagaimana pula dengan guru-guru swasta dari sekolah-sekolah kelas abal-abal yang dikelola dengan manajemen abal-abal? Kondisi nasib guru-guru di sekolah itu lebih parah lagi. Kalau ada guru yang terpaksa jadi tukang becak atau ojek atau buruh kasar di luar tugasnya mengajar, jangan salahkan mereka. Ini kenyataan pahit yang terjadi di negara yang kita cintai ini, Indonesia. Guru-guru SD negeri yang tergolong honda akhirnya harus memberikan pelajaran tambahan pada siswa-siswanya di luar jam sekolah yang sudah barang tentu ada kutipan. Jumlah yang diperoleh dari hasil kutipan itu tergolong lebih besar daripada honor yang mereka terima dari sekolah. Praktek-praktek ilegal itu bukan hanya dilakukan guru-guru honda, tapi guru-guru PNS yang sudah mendapat berbagai tunjangan juga melakukan hal yang sama. Guru-guru yang mengajar di sekolah swasta baik yang tergolong guru honorer maupun guru tetap yayasan juga melakukan hal yang sama. Di kelas sudah bukan rahasia umum kalau mereka mengajar terkesan asal-asalan. Guru-guru kita cukup memberikan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang memang diberikan gratis untuk tingkat SD (untuk SMP dan SMA harus beli di sekolah). Mereka menyuruh siswa-siswanya mengerjakan soal-soal yang terdapat di buku LKS tersebut. Sang guru lalu keluar ruang kelas. Ke mana perginya sang guru? Mereka ada yang `ngopi` sambil merokok atau `ngerumpi` sampai menjelang jam pelajaran mau berakhir. Kalau pekerjaan anak didiknya belum selesai dijadikan pekerjaan rumah (PR). Jadi, anak-anak didiknya asyik dengan kegiatannya di dalam kelas. Tidak mustahil jika di dalam kelas ada anak yang memang serius mengerjakan tugas yang dibebankannya. Tapi juga tidak sedikit di antara mereka yang lebih cenderung bermain di dalam kelas! Kalau sudah begini, mau dibawa kemana anak didik ini?

          Melihat kondisi guru-guru kita tampaknya layak kalau kita bertanya keberadaan mereka para guru ada di antara ada dan tidak adanya. Mereka ada dengan menyandang predikat guru, tapi jadi tidak ada karena apa sih yang mereka kerjakan selama di sekolah? Mereka ada ketika membuka pelajaran atau menutup pelajaran atau memberikan pelajaran tambahan. Tapi jadi tidak ada begitu mereka meninggalkan kelas dan melakukan pembiaran terhadap anak-anak didiknya selama di dalam kelas. Fungsi dan peranan guru sebagai fasilitator dan pembimbing anak didik boleh dikatakan minim. Jangankan mereka bisa meningkatkan kompetensi anak didik, untuk mendidik anak agar bermoral atau memiliki sedikitnya karakteristik anak terpelajar saja tidak ada. Buktinya, coba lihat masih adanya tawuran pelajar, geng-geng motor yang dilakukan anak-anak belasan tahun (usia SMP), dan perilaku-perilaku amoral yang dilakukan anak-anak didik kita apakah belum cukup untuk mengatakan bahwa lembaga pendidikan telah gagal mendidik anak yang bermoral atau berperilaku terpelajar? Kalau begitu bagaimana jalan keluarnya? 

    Jalan keluarnya benahi pendidikan kita yang dalam kurikulum terbaru sekalipun masih mengejar masalah kompetensi. Jadi bukan kompetensi yang harus dikejar tapi lebih utamakan masalah moral. Sebelum anak didik yang dibenahi moralnya, benahi dulu guru-gurunya. Benahi dulu moral oknum-oknum aparat pemerintahan yang masih mengutip dana dari guru-guru honda atau memotong anggaran-anggaran pendidikan yang digelontorkan dari pusat. Praktek-praktek semacam ini kalau masih berlangsung tidak akan bisa membenahi pendidikan kita. Kalau praktek-praktek kotor itu masih dilakukan oleh semua pihak yang berwenang dalam pendidikan, sampai kapan pun kita masih dapati guru antara ada dan tiada.

Rabu, 05 Agustus 2026

Bahasa dan Sastra (257)

 


Merdeka! Merdeka! Merdeka?

Subagio S. Waluyo
 

Merdeka!    

 

          Tulisan ini dimulai dari sebuah puisi heroik yang ditulis Chairil Anwar, “Karawang Bekasi”. Puisi yang ditulis oleh penyair Angkatan `45  ini di hari-hari bersejarah buat negeri ini sering dibacakan dan juga sering dijadikan bahan perlombaan baca puisi atau deklamasi, baik di tingkat pendidikan menengah maupun tinggi. Bahkan, tidak sedikit di kalangan masyarakat umum juga menjadikan puisi ini sebagai bahan perlombaan baca puisi atau deklamasi. Memang, isi puisi ini bagi kita benar-benar membangkitkan semangat `45 yang tidak kunjung padam. Agar benar-benar kita bisa meresapi isinya, coba kita simak puisi berikut ini. 

KARAWANG BEKASI

 

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

 

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

Terbayang kami maju dan berdegap hati?

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

 

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

 

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

 

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

 

Kami Cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

 

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa

 

Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata

Kaulah sekarang yang berkata

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

 

Kenang-kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syahrir

 

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

 

Kenang-kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

 

1948

 

          Puisi di atas boleh dikatakan sebuah puisi fenomenal yang monumental. Meskipun kata sebagian sastrawan diduga merupakan puisi saduran, isinya luar biasa. Kita bisa membayangkan boleh jadi sang penyair, Chairil Anwar, ketika menulis puisi ini benar-benar disertai dengan semangat heroik yang tinggi sehingga melahirkan puisi yang tidak pernah bosan-bosannya untuk dibacakan atau dideklamasikan. Membaca puisi “Karawang Bekasi” kita seolah-olah dimotivasi oleh Chairil Anwar agar mempertahankan negara ini dari cengkeraman tangan-tangan imprialis. Caranya, kita harus siap mengangkat senjata sampai tetes darah penghabisan. Oleh karena itu, tidak ada kata menyerah untuk melawan penjajah yang telah mencengkeramkan kuku-kuku imprialisme-kolonialismenya selama lebih dari 350 tahun.

          Ketika puisi ini ditulis usia Chairil Anwar masih sangat muda, baru 26 tahun. Tetapi, dalam usia semuda itu, coba perhatikan isi yang terkandung dalam puisi di atas. Bait pertama puisi “Karawang Bekasi” dimulai dengan sebuah pernyataan `Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi/Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi`. Ini sebuah pernyataan bahwa para pejuang yang berada di Karawang Bekasi telah menjadi korban ketika berhadapan dengan penjajah Belanda yang ingin merebut kembali negara ini. Mereka sudah tidak mampu lagi teriak `merdeka!` dan mengangkat senjata. Mereka yang mengangkat senjata adalah pejuang-pejuang muda. Berbekal semangat juang yang tinggi, dengan senjata apa adanya, mereka melawan penjajah Belanda. Buat mereka, para pejuang muda, hilangnya 4-5 ribu nyawa tidak ada artinya. Bahkan, mereka mengatakan kalau `kerja belum selesai, belum apa-apa` meskipun mereka telah menjadi `tulang-tulang berserakan` atau `tulang-tulang yang diliputi debu`.     

          Meskipun telah tiada, mereka minta agar dikenang perjuangannya. Mereka juga berpesan pada bangsa ini agar meneruskan perjuangan mereka. Selain itu, mereka juga berpesan agar menjaga tokoh-tokoh perjuangan yang menjadi tokoh-tokoh proklamator negara ini, yaitu Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Syahrir karena berkat jasa mereka negara ini bisa merdeka dari penjajahan. Dengan demikian, mereka adalah pejuang-pejuang yang tulus, yang tidak minta imbalan (tanpa pamrih) dari manapun. Mereka hanya minta agar kita yang masih hidup yang sampai saat ini telah menikmati sebuah kemerdekaan tetap mengenang jasa-jasa mereka yang terbaring ribuan pejuang di Karawang Bekasi. Jadi, puisi ini sekali lagi mencoba menggambarkan insan-insan muda yang rela mati demi perjuangan kemerdekaan. Chairil juga meminta kesadaran kita agar generasi penerus bangsa ini melanjutkan perjuangan walaupun negara ini telah benar-benar merdeka.         

 

Merdeka!

 

          Negara yang baru merdeka sama seperti anak bayi yang baru lahir. Ada sebuah proses yang harus dijalankan. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi. Lihat saja seorang anak yang baru lahir, tidak mungkin dia bisa langsung berdiri dan berjalan. Dia perlu proses, perlu tahapan, perlu jatuh bangun untuk bisa berdiri dan berjalan. Ketika berjalan pun harus tertatih-tatih. Lama kelamaan baru semuanya bisa berjalan lancar. Begitu pun yang terjadi pada negara kita. Di masa-masa awal negara ini baru merdeka masih banyak menghadapi tantangan. Tantangan terutama datang dari Britania Raya (Inggris) dengan alasan mau melucuti tentara-tentara Jepang tapi di balik misi itu mereka ingin mengembalikan penjajahan pada Belanda yang kala itu juga turut membonceng tentara-tentara Inggris. Rupanya, Belanda masih ada keinginan menancapkan kuku-kuku imprealisme-kolonialismenya di negeri ini. Mau tidak mau kehadiran mereka yang tidak dikehendaki oleh anak bangsa ini mengundang berbagai pertempuran. Terjadilah pertempuran yang cukup besar di Surabaya. Pertempuran yang setidaknya menewaskan 6.000 – 16.000 pejuang dan 200.000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya telah menggerakkan berbagai perlawanan rakyat di Indonesia.

          Masih ingatkah pertempuran di Surabaya yang kemudian dikenal peristiwa itu dengan gugurnya banyak pejuang sehingga setiap tahun diperingati sebagai Hari Pahlawan? Siapakah tokoh pertempuran di Surabaya yang berhasil membakar semangat `arek-arek Suroboyo? Siapa lagi kalau bukan Bung Tomo yang dengan gagah beraninya berpidato membakar semangat `arek-arek Suroboyo`. Semboyan Bung Tomo `merdeka atau mati` telah membikin para pejuang waktu itu tidak gentar menghadapi tentara Belanda yang bersekutu dengan Inggris. Bung Tomo di Surabaya merupakan salah seorang pemimpin revolusioner yang membakar semangat pejuang melawan tentara-tentara Britania Raya yang bersenjata lebih canggih daripada pejuang-pejuang kita. Jika Chairil Anwar, sebagai sastrawan Angkatan`45,  lewat puisi-puisinya berhasil menggedor insan-insan muda untuk mengangkat senjata melawan penjajahan, Bung Tomo lewat pidatonya yang berapi-api berhasil membakar semangat pejuang-pejuang muda melawan agresor Britania Raya dan Belanda.

          Selama kurun waktu cukup lama (sekitar hampir delapan belas tahun) setelah kemerdekaan negara kita sampai dengan pengambilalihan Irian Jaya pada 1 Mei 1963 begitu banyak  perjuangan melawan kegigihan penjajah Belanda baik melalui pertempuran maupun berbagai perjanjian karena memang masih ada keinginan Belanda untuk menjajah kembali negara ini. Di luar itu, tidak sedikit juga pemberontakan yang dilakukan justru oleh sebagian bangsa Indonesia sendiri yang tidak puas dengan kebijakan Pemerintah Indonesia pada waktu itu. Perjuangan menghadapi melawan bangsa sendiri benar kata Bung Karno lebih sulit daripada menghadapi penjajah. Soekarno sendiri selaku Presiden RI yang berkuasa selama 21 tahun dijatuhkan karena adanya peristiwa Pemberontakan G30S PKI pada 30 September 1965. Jumlah korban jiwa sampai dengan tahun 1966 mencapai 500.000 orang lebih. Yang terbanyak menjadi korban pada peristiwa itu di Jawa dan Bali.

 

Merdeka?

 

          Tanpa terasa sudah 81 tahun negara ini merdeka. Selama  81 tahun negara ini sudah delapan kali mengalami pergantian kepala negara (presiden). Selama 81 tahun negara ini dapat dipertahankan kemerdekaannya. Mereka yang lahir yang bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia, sekarang ini telah menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek. Sudah jadi tua renta. Tetapi, negara ini tidak boleh menjadi tua renta. Boleh-boleh saja manusianya yang lahir 81 tahun yang lalu tua renta. Kondisi fisik sudah jauh berkurang. Negara ini semakin tua justru fisiknya (sarana dan prasarananya) semakin baik. Dengan kata lain, negara yang kita cintai ini infrastrukturnya semakin baik. Di samping itu, kondisi negara ini semakin baik bukan hanya tersedianya infrastruktur yang memadai, tetapi dalam kehidupan politik kita benar-benar telah mengecap alam demokrasi yang demikian kondusif yang sebelumnya kita tidak pernah merasakannya. Begitu juga di bidang pendidikan, banyak anak bangsa yang telah bisa mengecap pendidikan tinggi. Di bidang ekonomi, banyak kalangan pribumi yang sekarang juga bisa bersaing dalam dunia bisnis dengan kalangan pebisnis dari manapun. Yang jelas, di semua sektor kehidupan bangsa ini telah benar-benar mengecap kenikmatan yang namanya kemerdekaan.

          Berbicara tentang kemerdekaan yang sekarang kita benar-benar bisa nikmati, coba kita renungkan: apakah kita saat ini benar-benar merdeka? Apa arti sebuah kemerdekaan kalau pada 11 April 1967 Suharto selaku Presiden RI melakukan penandatanganan Freeport (lengkapnya: Freeport Sulphur of Delaware, AS) untuk penambangan tembaga di Irian Barat. Bertahun-tahun bangsa ini ditipu oleh mereka yang terlibat dalam penandatanganan Freeport tersebut yang ternyata bukan hanya tembaga yang dikeruk oleh Freeport tetapi juga emas dan perak. Inilah untuk pertama kali kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah jutru merugikan Indonesia. Setelah itu juga ikut ditandatangani kontrak eksplorasi nikel di Irian Barat dan di area Waigee Sentani (Irian Barat) oleh PT Pacific Nickel Indonesia dan Kementerian Pertambangan Republik Indonesia. Sejak peristiwa pertama penandatangan Freeport sampai saat ini sekian banyak penandatanganan perjanjian pengerukan sumber daya alam (SDA) dan mineral yang dilakukan pihak Pemerintah Indonesia dengan pihak asing (sebagian besar dengan AS) yang sama sekali tidak meningkatkan kesejahteraan rakyat karena semua tambang itu menjadi tambang para pejabat dan petinggi militer untuk memperkaya diri sendiri. Apakah kita ini benar-benar merdeka?

          Kita bangga di masa Suharto berkuasa bahwa di masa Repelita I (dimulai 1 April 1969) membawa pertumbuhan ekonomi naik dari rata-rata 3% menjadi 6,7% per tahun. Pendapatan perkapita meningkat dari 80 dolar AS menjadi 170 dolar AS. Inflasi dapat ditekan menjadi 47,8% pada akhir Repelita I pada tahun 1974. Diteruskan setiap Pelita selalu ada laporan tentang perbaikan ekonomi. Tetapi, ternyata pada pertengahan 1997 terjadi krisis moneter (krismon) yang berujung pada kemarahan massa. Karena peristiwa itu juga, yang mengakibatkan Suharto harus lengser dari singgasana keprisidenannya setelah berkuasa lebih dari 32 tahun. Apakah kita ini benar-benar merdeka? 

          Pascareformasi yang seharusnya memberikan banyak harapan bagi seluruh lapisan masyarakat ternyata `jauh panggang dari api`. Artinya, apa yang kita harapkan hanya sebatas angan-angan. Di bidang politik, misalnya, kita memang benar-benar harus bangga sebagai negara yang dikatakan orang luar paling demokratis setelah AS dan Eropa. Tapi, tolong dicatat bahwa yang akan menjadi pemimpin di negara ini adalah orang-orang yang direstui pihak asing. Terutama mereka-mereka yang punya kepentingan terhadap negara ini. Mereka-mereka yang memiliki keinginan mengeruk kekayaan SDA dan mineral negara ini. Hal ini yang menjadi salah satu sebab, siapapun yang akan menjadi presiden Indonesia ke depannya, tak akan pernah mampu untuk mengubah perjanjian dengan mereka-mereka, penguasa imprealis, yang mengeruk kekayaan kita. Karena, jika Presiden Indonesia siapapun dia, mulai berani mengutak-atik tambang-tambang para elite dunia, mereka akan menggunakan seluruh kekuatan politik dengan media dan militernya yang sangat kuatnya di dunia. Caranya, menggoyang kekuasaan Presiden Indonesia. Kerusuhan, adu domba, agen rahasia, mata-mata, akan disebar di seluruh pelosok negeri agar rakyat Indonesia merasa tidak aman dan tidak puas. Terakhir, tentu saja mereka akan meruntuhkan kepemimpinan presidennya sehingga sang presiden akan benar-benar jatuh dari kekuasaannya  siapa pun dia. Apakah kita ini benar-benar merdeka?   

          Bagaimana agar kita benar-benar merdeka? Kita harus kembali pada jati diri kita sebagai bangsa. Memang, globalisasi dan liberalisasi kehadirannya tidak bisa ditolak. Negara ini pun telah demikian berlebihan dalam menganut liberalisasi di bidang ekonomi sehingga banyak aset milik bangsa telah beralih ke pihak asing. Di bidang ekonomi telah demikian kuatnya dominasi asing. Ekonomi pasar bebas membuat kita tidak bisa lari menghindar dari arus modal asing. Tetapi, kita tidak perlu menjadi xenophobia, takut terhadap asing. Kita juga jangan sampai terbawa arus besar sehingga kita mengorbankan bangsa kita sendiri. Dominasi asing yang tidak terkontrol akan membuat kita kehilangan kedaulatan. Kita harus menyadari bahwa penjajahan modern bukan lagi dilakukan melalui penjajahan fisik, tetapi melalui penjajahan ekonomi sehingga tidak mustahil akan berpengaruh pada cara berpikir kita. Wallahu a`lam bissawab.   


Sabtu, 01 Agustus 2026

Bahasa dan Sastra (256)

 



ALBUM “SGT. PEPPER`S LONELY HEART CLUB BAND”
SEBAGAI PRODUK BUDAYA UNGGUL NEGARA MAJU

 Subagio S.Waluyo

     Dalam dunia tarik suara di negara-negara maju, siapakah yang layak dicantumkan atau ditorehkan dalam sejarah yang pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besar?  Siapakah yang mampu mengubah arah mata angin pikiran dan pola pikir manusia? Siapa pula yang memiliki karakter, integritas, dan mampu mengoptimalkan potensi diri yang ada pada dirinya sehingga mampu mengubah dunia? Jawabannya hanya satu: The Beatles. Mengapa hanya empat anak muda Liverpool dari Britania Raya yang di awal-awal penampilannya berambut poni yang bermain musik dengan alat seadanya? Apakah tidak ada grup band yang lain selain mereka?

            Adalah majalah Rolling Stone pada tahun 2003 yang memasukkan salah satu album The Beatles yang selesai dirilis pada tahun 1967, yaitu Sgt. Pepper`s Lonely Heart Club Band (selanjutnya disingkat SPLHCB) sebagai album terbaik (nomor 1) di dunia sepanjang masa. Lahirnya album The Beatles kesembilan ini tidak terlepas dari kemajuan band saingannya, The Beach Boys, yang merilis album Pet Sounds yang menggemparkan. The Beach Boys telah melakukan langkah-langkah maju dengan memuat teknologi-teknologi baru, inovasi, dan terobosan baru yang membuat personel-personel The Beatles bersemangat untuk melampaui mereka. Selain semangat untuk melampaui saingan beratnya, banyak kalangan yang meragukan keberlangsungan The Beatles setelah berhenti dari tur (tur mereka terakhir 29 Agustus 1966). Keraguan banyak kalangan tentang keberlanjutanThe Beatles dan semangat untuk melampaui saingan beratnya, The Beach Boys, membuat The Beatles bisa mengalahkan mereka. Hal itu terbukti album SPLHCB yang diluncurkan pada 1 Juni 1967 bisa bertahan di peringkat atas tangga lagu selama 26 minggu (setengah tahun). Sebuah prestasi yang luar biasa. Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa The Beatles bisa seperti itu? Apa yang dilakukan atau bagaimana caranya  The Beatles sampai bisa meraih kesuksesan luar biasa setelah banyak orang yang meragukan keberadaannya dan persaingan yang luar biasa bukan saja menghadapi The Beach Boys tetapi juga grup-grup band lainnya yang mulai melakukan inovasi di era tahun `60-an?

/2/

   Koentjaraningrat (1992:5) dalam Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan berpendapat bahwa kebudayaan itu mempunyai tiga wujud, yaitu wujud (1) ide-de, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan-peraturan; (2) aktivitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat; dan (3) benda-benda hasil karya manusia. Jadi, lingkup wujud kebudayaan itu di sekitar ide, aktivitas, dan hasil. Mengingat mereka (personel-personel The Beatles) merasa tersaingi dan diragukan keberlanjutannya, ketiga wujud kebudayaan tersebut secara berurutan dilakukannya. Memang, mereka melakukan cooling down. Di saat-saat cooling down itu mereka bukan berangan-angan, tetapi merajut mimpi-mimpinya agar bisa mengalahkan saingannya sekaligus menjawab keragu-raguan beberapa kalangan tentang keberlanjutan The Beatles.

          Langkah awal, dalam rangka mewujudkan ide-ide yang cemerlang, diam-diam mereka pelajari perkembangan perubahan masyarakat terhadap peminatannya di dunia musik dan eksprimen-eksprimen serta terobosan-terobosan yang dilakukan The Beach Boys saingannya. Setelah itu di langkah kedua, dalam rangka mewujudkan ide-idenya yang diimplementasikan dengan aktivitas, mereka melakukan langkah besar, yaitu sarana-sarana bermusik yang semula hanya menggunakan gitar, bas, drum, dan harmonika dimodifikasi dengan beragam alat musik India, klarinet, alat musik gesek, harpsicord, harmonium, dan masih banyak lagi. Bahkan, pada A Day in The Life yang oleh banyak pengamat dinilai sebagai masterpiece di album SPLHCB ini, terdapat orkestra musik gesek yang keras, sangat megah, dan diakhiri dengan tiga piano yang ditekan bersamaan. Konon kabarnya untuk mensukseskan A Day in The Life melibatkan empat puluh alat musik orkestra yang diselesaikan selama lima hari.  Ketika kedua langkah di atas telah dilaksanakan dengan sempurna, bagaimana langkah ketiga yang merupakan hasilnya?

            Hasil kerja keras yang diselesaikan selama 700 jam membikin musisi-musisi lain bernafsu mengungguli The Beatles. Sebut saja dedengkot The Beach Boys, Brian Wilson, di tengah-tengah krisis personel-personelnya setelah mendengar Strawberry Fields mundur teratur alias tidak berminat untuk mengunggulinya. Bagaimana Brian Wilson tidak bersemangat untuk menggunggulinya kalau karya agung ini mempunyai banyak keunggulan?

Keunggulan yang perlu dicatat di sini di antaranya.

1.   Album SPLHCB menurut majalah Rolling Stones yang terbit pada tahun 2003 sebagai album terbaik nomor 1 di dunia sepanjang masa karena selama 26 minggu lagu ini tetap di peringkat atas tangga lagu.

2.   Album tersebut  memuat sejumlah track terkenal seperti “When I`m Sixty Four” dan “A Day in The Life” dan khusus untuk “A Day in The Life” dicap oleh berbagai kalangan sebagai masterpiece  terbaik The Beatles dan lagu terbaik sepanjang masa.

3. Karena hasil usaha The Beatles dalam melakukan inovasi-inovasi baru, album SPLHCB menjadi album yang paling berpengaruh bagi industri musik hingga kini.Sampai saat ini cover album SPLHCBdiakui sebagai salah satu cover terbaik di dunia.

4.   Album SPLHCB diakui sebagai produk terbaik dalam hal pengawinan berbagai aransemen musik dan antarbudaya (ada unsur berbau budaya timur: India).

        Album yang memuat tiga belas nomor ini, setelah menjalani delapan tahun karier dan lebih dari 1400 kali penampilan di seluruh dunia, menjadi puncak karya The Beatles. Dengan munculnya album SPLHCB bagi The Beatles sekaligus merupakan ucapan selamat tinggal untuk Beatlemania dan lagu-lagu cinta. Jika sebelum munculnya album ini mereka adalah para musisi pertunjukan, maka setelah munculnya album ini mereka merasa telah menjadi artis yang sesungguhnya. Sebagai tambahan perlu juga dijelaskan di sini, munculnya album ini menjadi sebuah petunjuk bagi sebuah musim yang penuh dengan harapan, gejolak, dan pencapaian di akhir dekade 60-an (Summer Love 1967).

                                                 /3/

          Mengapa The Beatles bisa melakukan langkah besar yang menakjubkan sehingga dengan menyimak albumSPLHCB saja tampak jelas adanya perubahan yang luar biasa? Kunci kesuksesan personil-personil The Beatles bisa mengubah segalanya menurut Larry Lange semata-mata karena mereka secara konsisten (disertai komitmen tentu saja) menerapkan tujuh prinsip kebijaksanaan yang menakjubkan (Larry Lange, 2003:xi). Ketujuh prinsip kebijaksanaan yang menakjubkan itu adalah mimpi, tujuan, sikap, tim, kontrol, berkembang, dan spirit (Larry Lange, 2003:xv-xvi). Prinsip pertama tentang mimpi, The Beatles mengambil inspirasi (juga sebagai bagian dari mewujudkan mimpinya) dari dunia mereka sebagaimana adanya. 

     Tengok saja lagu-lagu seperti “Strawberry Fields Forever” yang merupakan  salah satu tempat favorit John Lennon sewaktu kanak-kanak bermain. Tempat itu dekat dengan rumah bibinya, Mimi, tempat John tinggal. Di tempat itu, John sering bermain dan bermimpi di tempat yang tersembunyi itu. Dari tempat itu, John mendapatkan ilham untuk menulis syair yang belakangan membuat. Brian Wilson tidak bersemangat lagi untuk menyaingi The Beatles.

          Lagu “Penny Lane” juga diambil dari sebuah nama jalan yang benar-benar ada di Liverpool. Di tempat itu ada tukang cukur langganan John, Paul, dan George memotong rambutnya ketika mereka masih kanak-kanak.  Lagu yang digubah oleh Paul Mc Cartney ini berkisah tentang pengalaman visual Mc Cartney. Sambil duduk di halte bus yang ada di jalan  itu, Paul mencatat hal-hal yang dia lihat, seperti tempat tukang cukur, foto langganannya, dan perawat penjual bunga “poppies”. Semua yang dia lihat, dicatat, lalu dituangkan ke dalam sebuah syair.

        Prinsip kedua, tujuan. The Beatles memiliki prinsip yang layak ditiru, yaitu untuk mencapai tujuan yang sesulit apapun tidak ada kata menyerah. Buat mereka, empat pemuda Liverpool itu, tidak ada istilah mati langkah. Selalu ada saja langkah-langkah yang dilakukan. Di saat-saat banyak orang yang bertanya-tanya tentang keberlanjutan The Beatles setelah diputuskan tidak lagi manggung, mereka banting stir dengan melakukan banyak aktivitas di studio-studio rekaman. Eksprimen-eksprimen musik dalam rangka mewujudkan impian-impiannya dilakukan dengan kerja keras. Sekali lagi kerja keras. Sebagaimana saingannya, The Beach Boys, yang terlebih dahulu melakukan eksprimen-eksprimen musik dengan memadukan berbagai instrumen musik, The Beatles pun melakukan hal yang sama. Bahkan, hasilnya ternyata jauh lebih baik daripada grup band saingannya. Lihat saja album mereka yang terdapat di SPLHCB, di sana bukan hanya alunan musik yang jauh berbeda dengan album terdahulu di saat-saat mereka hanya menggunakan gitar, bas, drum, dan sekali-sekali harmonika, tetapi juga beragam alat musik. Mereka juga memasukkan alat musik India, sitar, dalam lagu “Within You Without You”. Sebenarnya, di album sebelumnya, Rubber Soul, mereka juga telah melakukan eksprimen dengan menggunakan sitar ketika merilis “Norwegian Wood”. Setelah itu, di album Revolver, “Yellow Submarine”,  mereka juga bereksprimen dengan memasukkan warna-warna musik yang lain, yang tidak biasanya mereka lakukan. Eksprimen-eksprimen tersebut juga masih dilakukan dalam single-single mereka, seperti dalam “Strawberry Field” dan “Penny Lane”. Kedua single itu lahir sebelum lahirnya album SPLHCB.

        Prinsip ketiga, sikap. Coba amati “We Can Work it Out”. Apa yang bisa diperoleh dari lagu tersebut? The Beatles mengajarkan pada para penggemarnya atau semua orang yang mau mendengarkannya untuk tidak ada kata menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan. Di syair lagu tersebut berulang kali mereka menyerukan “We Can Work it Out” (“Kita dapat Menyelesaikannya”). Bukan itu saja, mereka juga menekankan Life is very short, and there`s no time for fussing and fighting,my friend (Hidup itu sangat singkat kawan, tak ada waktu untuk bertengkar dan berkelahi).  Inilah sikap mereka menghadapi berbagai tantangan:”Kita dapat menyelesaikannya”. Karena yakin dapat menyelesaikan segala tantangan, mereka menjadi orang-orang yang tangguh menghadapi baik para penggemarnya, para produser rekaman, maupun grup-grup band saingannya. Hal ini sesuai dengan ucapan George Harrison, “Saya kira kami sangat tangguh, karena saya mendengar tentang orang yang menjadi gila dan mengalami gangguan jiwa ketika menghadapi tantangan dan kesulitan yang bahkan tak seujung kuku pun dibandingkan yang kami lewati” (Larry Lange, 2003:53). Karena itu, di album berikutnya, White Album, sekurang-kurangnya ada dua lagu yang juga merupakan hasil penyerbukan silang antarbudaya, yaitu di “Piggies” dan “Don`t Pass Me By”. Bisa juga diamati dalam album Yellow Submarine, terutama di “All You  Need is Love”. Khusus untuk yang terakhir ini, ada keunikan tersendiri jika benar-benar disimak alunan musik yang terdapat pada lagu tersebut terutama pada penggunaan orkestranya.

      Prinsip keempat, tim. Paul McCartney mengatakan, “Kenyataannya, kami adalah tim, tak peduli apapun yang terjadi di antara kami dan di sekitar kami” (Larry Lange, 2003:81). Perkataan dan sekaligus pengakuan Paul membuktikan bahwa The Beatles adalah sebuah tim  yang tangguh. The Beatles adalah kumpulan superstar yang tangguh, yang membentuk sebuah tim yang solid. Tim yang tangguh dan solid ini terbukti berhasil menghadapi berbagai rintangan. Silakan diamati inovasi-inovasi yang mereka lakukan dari album ke album, selalu menunjukkan adanya perubahan. Inilah sebuah grup band yang disebut sebagai Fab Four karena adanya ikatan yang konsisten di antara mereka. Bagaimana mereka bukan tim yang konsisten kalau pengalaman masa kecil mereka terbawa dalam ikatan ini? (Larry Lange, 2003:95). Ikatan yang solid dan tangguh ini berhasil menghadapi saingan beratnya, The Beach Boys, dengan mengunjungi studio mereka di AS ketika The Beatles semakin dekat merampungkan  album SPLHCB (Larry Lange, 2003:106). Perlu juga diketahui, di saat The Beatles menggarap album SPLHCB kepemimpinannya telah dialihkan dari John Lennon ke Paul McCartney. Saking kuatnya ikatan mereka dengan tim, John Lennon pada tahun 1967 pernah meluncurkan pernyataan indah: “Jika saya sendirian saja selama tiga hari, tidak melakukan apa-apa, saya akan nyaris kehilangan diri saya sepenuhnya. Saya ada di belakang kepala saya. Saya bisa melihat tangan saya dan menyadari tangan itu bergerak, tapi itu seperti robot yang melakukannya. Saya harus bertemu dengan yang lainnya untuk mengembalikan diri saya” (Larry Lange, 2003:96).

        Prinsip kelima, kontrol. Grup band asal Liverpool ini dalam hal melaksanakan prinsip kelima cenderung untuk menciptakan dan mengontrol aspek karier mereka mulai dari penampakan luar mereka hingga arah dan kualitas musik serta film mereka. Bahkan hingga orang-orang yang dilibatkan dalam mewujudkan semua itu (Larry Lange, 2003:114). Sebagai buktinya, coba perhatikan cover album SPLHCB. Mereka sendiri baik yang merancang cover maupun pemberian nama album SPLHCB tersebut. Jadi, tidak ada campur tangan orang lain. Begitu juga ketika mengaransemen musik di album tersebut, mereka juga yang semuanya terlibat melakukannya. Tentu saja ketika mereka harus melakukan penyerbuksilangan budaya dengan cara memasukkan berbagai instrumen musik (termasuk di antaranya instrumen musik dari India, sitar) mau tidak mau juga harus melibatkan banyak orang. Tetapi, semua pekerjaan itu di bawah kontrol mereka sehingga kalau hasilnya dinilai gagal, mereka sendiri yang menanggungnya. Sebaliknya, kalau berhasil, mereka juga yang menikmatinya.

     Prinsip keenam, berkembang. Salah seorang pentolan The Beatles, Paul McCartney, berucap: ”Kami selalu berusaha menjadi yang terkemuka: lebih keras, lebih jauh, lebih lama, lebih banyak, berbeda” (Larry Lange, 2003:149). Apa yang bisa diambil dari ucapan tersebut? The Beatles ingin mewujudkan mimpi-mimpinya dengan satu kata: berkembang. Mereka buktikan ucapan tersebut dengan terus belajar. Mereka belajar untuk mengalihkan energi mereka dari tur-tur yang melelahkan ke studio rekaman. Hasilnya, mereka menghasilkan album Revolver yang oleh banyak kritikus musik disebut sebagai album rock terbaik sepanjang masa. Mereka berlajar melakukan. Hasilnya, muncullah single-single:”Norwegian Wood”, “Eleanor Rigby”, “Piggies”, “Strawberry Fields Forever”,”Penny Lane”, ”Yellow Submarine”, dan  “All You Need is Love”. Selain itu, satu album yang merupakan sebuah hasil inovasi yang cerdas: SPLHCB.   

            Prinsip ketujuh, spirit. The Beatles, telah memperoleh semua impian. Tetapi, impian yang lebih merupakan kenikmatan duniawi tidak memberikan mereka kepuasan batin. Mereka mulai mencari makna dari kehidupan ini. Mereka menemukannya di India. John Lennon, misalnya, mempelajari buku mistik Tibetan Book of the Dead dan memakai sebagian dari teks dalam buku itu untuk lirik “Tomorrow Never Knows” (Larry Lange, 2003:179). John Lennon seperti manusia pada umumnya yang tidak tahu tentang kejadian yang akan datang. Lewat lirik itu diakui sejujurnya bahwa dia makhluk yang lemah, yang mengakui bahwa ada yang mengatur dan menentukan semuanya. George Harrison juga mengakui hal yang sama bahwa semua benda/makhluk di dunia ini akan binasa.

          Karena mereka mengakui kelemahannya, ini akibat mereka berkelana  ke alam spritual, mau tidak mau mereka melakukan berbagai eksprimen di bidang musik. Eksprimen-eksprimen yang dilandasi spiritual menghasilkan album-album  yang spektakuler dan tetap dikenang sepanjang masa. Silakan disimak album yang terdapat dalam SPLHCB yang lirik-liriknya jauh berbeda dengan album-album yang terdahulu. Begitu juga dengan aransemen musiknya yang terkesan gado-gado tapi tetap mengundang decak kagum setiap penikmat musiknya.  Mungkinkah di abad 21 ini muncul grup band yang bisa lebih mengungguli The Beatles?

 

/4/

        Jika Didi Kwartanada pernah mengatakan “untuk menciptakan budaya Indonesia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global harus berbesar hati mau belajar dari budaya bangsa tetangga” Sahrul Mauludi (ed.),2015:106),  dalam tulisan ini disarankan hal yang sama tetapi juga perlu belajar dari bangsa-bangsa maju yang telah melakukan eksprimen-eksprimen musik, seperti The Beatles (boleh juga The Beach Boys). The Beatles telah berhasil melakukan berbagai inovasi termasuk bereksprimen dalam penyerbukan budaya antarbangsa. Salah satu albumnya SPHLCB merupakan sebuah karya monumental yang sampai saat ini masih belum ada yang menandinginya. Diakui atau tidak, ini merupakan buah kreativitas yang disertai dengan kerja keras karena pada saat album itu dibuat belum ada yang namanya komputer atau instrumen-instrumen yang dianggap canggih seperti sekarang ini. Rahasia keberhasilan mereka bisa menghasilkan album yang tergolong spektakuler itu adalah keempat pemuda Liverpool itu menerapkan secara konsisten dan konsekuen ketujuh prinsip-prinsip yang menakjubkan.

        Bangsa Indonesia kalau mau maju dalam melakukan persilangan antarbudaya, baik merujuk pada budaya bangsa tetangga maupun bangsa-bangsa maju, bisa juga menerapkan secara konsisten dan konsekuen ketujuh prinsip yang telah iuraikan di atas. The Beatles telah membuktikannya. Walaupun grup band ini telah lebih dari lima puluh tahun lalu bubar, sejarah tetap mencatatnya sebagai grup band dari negara maju yang telah menancapkan tonggak sejarah di bidang tarik suara. Selayaknya, anak bangsa ini menyimak secara cermat album SPHLCB juga lirik-lirik lagu baik sebelum maupun sesudah SPHLCB yang dari aransemen musiknya menggunakan penyerbukan silang antarbudaya. Ambil atau tiru kerja-kerja mereka yang dinilai positif. Buang hal-hal yang dinilai negatif, seperti penggunaan LSD atau narkoba atau gaya hidup mereka yang cenderung hippies. Hindari budaya bangsa ini dari psikedelik yang mungkin saja sampai saat ini masih menjadi panutan bagi kebanyakan insan seni di jagat ini.  Bangsa Indonesia masih punya harapan untuk mewujudkan budaya baru hasil penyerbukan silang antarbudaya.

 



Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...