Sabtu, 10 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (29)

Variasi -Variasi Bahasa Puisi 

Darmanto Yatman (6)

Subagio S. Waluyo

Dalam pengajaran bahasa Indonesia siswa sering bertanya kepada gurunya tentang karya-karya sastra mutakhir yang tidak dimengertinya. Terutama bahasanya. Termasuk di antaranya sejenis puisi-puisi mutakhir. Salah satu dari puisi-puisi mutakhir yang banyak menyerap kata-kata bahasa daerah adalah puisi-puisi DY yang tergabung dalam KIBM. Di samping itu ditemukan pula dalam Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG. Untuk jenis karya prosa dapat dijumpai dalam Burung-burung Manyar karya Y.B.Mangunwijaya.

Kebahasaan dan Kesastraan (28)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
Darmanto Yatman (5)

Subagio S.Waluyo

Dalam puisi-puisi Darmanto saya menemukan ada tiga jenis ragam sapaan. Ketiga jenis ragam sapaan itu adalah seperti terurai berikut ini.

Ragam sapaan Formal/Resmi
Karenanya, kepada Bapak Presiden, yang telah mengangkat Bapak Menteri Pe dan Ka, yang micara lagi pinter, kami mengucapkan “sanget-sanget nuwun”,
Kepada Bapak Menteri yang telah ikhlas mengangkat Bapak Rektor Universitas Diponegoro di Semarang yang pinter lagi trampil, kami mengucapkan “Nuwun nuwun, sanget”
Kepada Bapak Rektor Universitas Diponegoro, yang telah mengangkat Bapak Dosen yang trampil lagi trengginas kami mengucapkan “nuwun”,
Kepada Bapak Dosen yang trengganis lagi ekhlas menghabiskan waktu dan tenaga serta harta untuk  menyelidiki kehidupan kami, kami mengucapkan “Nuw..”
Dan tentu saja kepada para mahasiswa, pemuda harapan bangsa, tumpuan harapan kami, yang telah dengan ikhlas dan greget meninggalkan kampus mereka yang rapih, perpustakaan yang bersih, kelas kelas yang tertib, asrama yang asri, bioskop, disko, rumah bola serta toko-toko serba ada untuk berada bersama kami, kami ucapkan “Sanget sanget nuwun, dan nuwun sanget”.

Kebahasaan dan Kesastraan (27)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi

Darmanto Yatman (4)


Subagio S.Waluyo

Ragam Sapaan


Ragam rapaan memegang peranan penting dalam masyarakat. Dalam pergaulan pertama-tama yang dilakukan seseorang kalau berjumpa dengan sesamanya adalah dengan menyapanya. Kalau hendak menyapa seseorang tentu orang tersebut menyebutkan nama kecil orang tersebut atau jawaban yang dipegang oleh orang tersebut. Bentuk sapaan digunakan untuk menyapa ganti orang kedua. Sapaan merupakan panggilan seseorang, dengan menambahkan suatu nama di depan nama orang itu. Kata sapaan erat hubungannya dengan kata ganti orang. Sapaan diletakkan di depan nama yang sebenarnya. Dalam penyapaan tidak perlu menyebutkan nama  yang seharusnya, cukup kependekannya saja.

Kebahasaan dan Kesastraan (26)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
Darmanto Yatman (3)


Subagio S.Waluyo

Fokus puisi adalah bahasa. Bahasa bagi penyair merupakan materi. Untuk seorang penyair bahasa adalah zat yang akan dibentuk dan diciptakan. Bahasa dalam puisi berbeda dengan bahasa dalam prosa. Begitu pula dalam penyusunan kata-katanya. Kata-kata yang disusun merupakan suatu kesatuan yang padu. Penyair di sini harus pandai-pandai memilih kata (diksi). Karena itu seorang penyair harus pandai menggunakan mekanisme bahasa. Kata-kata dalam puisi berbeda dengan kata-kata dalam prosa. Meskipun wujud dan bentuknya sama, kata-kata dalam puisi memiliki banyak makna dan penafsiran.

Kebahasaan dan Kesastraan (25)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
DarmantoYatman (2)

Subagio S.Waluyo

Puisi-puisi DY yang dibahas ini terdapat dalam kumpulannya Karto Iya Bilang Mboten (KIBM). Pembahasan ini dilakukan dengan cara kerja sosiolinguistik. Pembahasan dengan cara kerja sosiolinguistik mencakup di antaranya pemakaian variasi bahasa. Ada dua belas buah puisi yang terdapat dalam kumpulannya itu. Masing-masing puisi tersebut saya beri kode dengan huruf latin. Kedua belas buah puisi itu antara lain: Jeng,  Marto Klungsu dari Leiden, Pidato Ki Lurah Karangkedempel sewaktu menerima Masiswa kakaen di Desanya, Surat dari Soma Transmigran untuk saudaranya Manggunkarsa,  Hal-Hal yang mokal-mokal dalam lakon mokal Badranaya lawan Narada,  Teori probabiliti Tukini, Kisah Karto Tukul dan saudaranya Atmo Boten,  Anak,  Nyanyian Matahari Tambran, Rumah,  Dunia teduh sesudah Topan, dan  sambel bawang dan terasi. Berdasarkan data-data yang saya peroleh, saya hanya akan melihat puisi-puisi di atas dari dua aspek saja yang terdapat dalam pemakaian variasi bahasa. Kedua aspek itu, yaitu alih kode dan ragam sapaan. Masing-masing variasi bahasa tersebut saya sertakan contoh-contohnya berupa bait-bait puisi yang dibuat oleh penyair tanpa mengalami perubahan.

Jumat, 09 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (24)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi

Darmanto Yatman (1)


Subagio S.Waluyo

Puisi sebagai alat komunikasi menggunakan bahasa sebagai alatnya. Namun, dalam hal ini saya harus membedakannya dengan prosa. Prosa juga menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Jika pada puisi kata-kata itu disusun sedemikian rupa dengan mementingkan irama, derap, atau sajak. Sebaliknya, dalam prosa tidaklah demikian karena prosa disusun tanpa terikat pada irama, derap, atau sajak. Bahkan, dalam perkembangannya puisi sekarang sama artinya dengan sajak. Sedangkan untuk prosa saya mengenalnya dalam bentuk karya-karya fiksi, seperti cerita pendek (cerpen), novelet, novel, dan roman.

Rabu, 07 September 2016

All You Need Is Love (25)

Membangun Kreativitas,
Membangun Kepemimpinan,
Membangun Bangsa (1)



Subagio S. Waluyo


Membangun Kreativitas


Masa depan adalah hasil kreativitas. Masa depan sesuatu yang tidak kita ketahui karena semuanya masih tanda tanya. Boleh juga dikatakan masih samar-samar. Masa depan dikatakan samar-samar karena manusia itu serba terbatas kemampuannya. Keterbatasan itu tidak boleh menjadikan kita menjadi manusia yang pasrah terhadap nasib atau fatalis. Kita harus kerja keras untuk menerobos yang masih samar-samar. Kerja keras di sini mencakup kerja fisik, kerja otak, dan kerja ruh/rohani/jiwa. Karena kita berupaya menyeimbangkan ketiga faktor itu (kerja fisik, otak, dan rohani), muncullah sebuah kreativitas.

Minggu, 04 September 2016

Artikel Agama (28)

Pengorbanan dan Pengurbanan

Subagio S.Waluyo


Berbicara tentang kurban kita jadi teringat dengan firman Allah yang semula merupakan bentuk penyerahan diri Nabi Ismail AS ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengurbankan anaknya. Coba disimak sepuluh ayat dalam Surat Ash-Shofat berikut ini.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: `Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!` Ia menjawab: `Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang Sabar`. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah keSaba'ran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar.  Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

(Ash-Shofat, 102 – 111)

Kamis, 01 September 2016

All You Need Is Love (24)

Berat Kepala – Berat Kaki

Subagio S.Waluyo


Ketika melintas di jalan-jalan lingkungan saya sering dapati jalan-jalan berlubang yang siap menanti korban. Saya tidak habis pikir, bagaimana pemilik rumah yang persis di depan rumahnya ada lubang di jalan kok bisa diam saja? Pejalan kaki, Pengendara sepeda, atau kendaraan bermotor yang lewat depan rumahnya pasti harus ekstra hati-hati plus memaki-maki jalan yang rusak. Atau ada juga, mungkin, yang punya pikiran seperti saya walaupun bicara dalam hati tentang perilaku pemilik rumah yang `cuek bebek` dengan kondisi sekitarnya? Apa memang ada kesengajaan atau semacam pembiaran dari pemilik rumah supaya pengendara yang lewat di depan rumahnya tidak `ngebut` sehingga jalan berlubang itu tidak perlu diperbaiki? Kalau ada yang `ngebut`, kemudian terjatuh, terus luka-luka, pemilik rumah cuma komentar `rasain lu`?

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...