Selasa, 30 Januari 2024

All You Need Is Love (158)

 


ORANG MISKIN DILARANG BLA...BLA...BLA...

Subagio S. Waluyo


Ingat orang miskin, ingat WS Rendra menulis dalam puisinya “Blues untuk Bonie”. Rendra menggambarkan tentang seorang penyanyi negro tua yang bernyanyi di sebuah cafe, di Boston yang pengunjungnya hanya tujuh pasang kaki (tujuh orang). Si negro tua sambil bernyanyi dan memetik gitar menyanyikan tentang Georgia tempat tinggalnya yang jauh yang digambarkan di sana didapati gubug-gubug kaum negro yang atapnya bocor dan masih banyak ditemukan cacing dan pellagra. Yang jelas, daerah tempat tinggal si negro tua adalah lingkungan kumuh dan tidak sehat. Selanjutnya, Rendra menggambarkan meskipun si negro tua meninggalkan istrinya di Georgia, sang istri tetap setia tapi merana. Digambarkan juga tentang anak-anak negro yang lebih suka bermain di selokan daripada sekolah. Sementara yang tua-tua terkena penyakit sosiopat karena suka mabuk, banyak hutangnya, dan di hari minggu mereka ke gereja yang khusus untuk orang-orang negro. Georgia (mungkin sebagian dari negara bagian tersebut yang dihuni orang-orang negro) digambarkan kondisinya sangat mengenaskan karena tempat tinggal orang-orang negro jauh dari sehat. Silakan disimak bagian puisi tersebut.


 

.....................................................................

Georgia.

Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.

Istrinya masih di sana

setia tapi merana

Anak-anak Negro bermain di selokan

tak krasan sekolah.

Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual

banyak hutangnya.

Dan di hari Minggu

mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro

Di sana bernyanyi

terpesona pada harapan akherat

kerna di dunia mereka tak berdaya.

 

Georgia.

Lumpur yang lekat di sepatu.

Gubug-gubug yang kurang jendela.

Duka dan dunia

sama-sama telah tua

Sorga dan neraka

keduanya usang pula.

Dan Georgia?

Ya, Tuhan

Setelah begitu jauh melarikan diri,

masih juga Georgia menguntitnya.

 

(dikutip dari Puisi “Blues untuk Bonie”/WS Rendra)

 

***

Itu gambaran kemiskinan di negara `Paman Sam, Amerika Serikat, di penghujung tahun 60-an ketika WS Rendra berkesempatan melawat ke negara itu. Kemiskinan di Amerika Serikat (AS) lebih disebabkan oleh sikap deskriminatif Pemerintah AS terhadap orang-orang negro. Bagaimana gambaran kemiskinan di negara ini, Indonesia, di saat negara ini telah menginjak usianya yang ke-71? Tentu saja, jangan membandingkan kondisi kemiskinan di negara ini dengan AS yang boleh dikatakan terbilang maju. Di negara ini memang tidak ada deskriminatif antara satu suku dan suku lainnya. Jadi, tidak ada pengistimewaan terhadap salah satu suku di negara ini. Tetapi, sikap deskriminatif yang muncul baik disadari maupun tidak yang terjadi di tengah-tengah bangsa ini adalah penganaktirian terhadap orang-orang yang tergolong miskin. Sebaliknya, orang-orang kaya dianakemaskan.


Adanya sikap penganakemasan terhadap orang-orang yang tergolong kaya mencerminkan gagalnya pimpinan di negara ini dalam menerapkan konsep kepemimpinan. Coba perhatikan gambar karikatur di atas itu, apa yang diinginkan oleh sang ibu ketika sedang menyuapi anaknya? Dia hanya menginginkan adanya pemimpin yang bisa membikin negara ini aman dan rakyat hidup tentram. Selanjutnya, apa makna di balik kata-kata sang ibu itu? Selama ini negara ini boleh dikatakan tidak mencerminkan adanya keamanan karena sering terjadi konflik horisontal. Kalau mau digali lagi, mengapa itu bisa terjadi? Karena negara ini dipimpin oleh orang yang hanya memecahkan masalah bukan orang yang merumuskan kebijakan (lihat tulisan saya tentang “Naik Kereta Api Tut..tut..tuut”) sehingga wajar saja kalau selama ini pimpinan di negara ini hanya memecahkan masalah dari satu masalah ke masalah lainnya. Terkadang, bahkan mungkin juga sering, ketika satu masalah belum selesai dipecahkan muncul masalah lainnya. Akibatnya, negara ini hanya berkutat pada pemecahan-pemecahan masalah. Kalau begitu kapan negara ini benar-benar mau mewujudkan visinya? Atau kalau mau dikaitkan dengan cita-cita luhur bangsa ini, yaitu mewujudkan sila kelima dalam Pancasila `Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia`, kapan itu bisa benar-benar bisa diwujudkan? 

Kata `keadilan` sesuatu yang mudah untuk ditulis dan diucapkan. Tapi, ketika dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari selalu berhadapan dengan tembok tinggi yang menghalanginya. Memang, tidak ada pernyataan `sekolah ini hanya untuk orang kaya, orang yang miskin tidak boleh sekolah di sini` tetapi uang pangkal yang dipatok sekolah-sekolah yang tergolong bermutu ditambah lagi dengan uang SPP yang tinggi, siapa yang bisa duduk manis menikmati bangku sekolah di sekolah itu? Bukan hanya uang pangkal dan SPP, di akhir tahun ketika sekolah melakukan semacam study tour atau field trip setiap siswa masih dikutip dananya yang tidak sedikit. Karena itu, tidaklah aneh kalau yang bisa duduk manis bangku sekolah di sekolah-sekolah tergolong berkualitas hanya anak-anak orang kaya. Anak-anak orang miskin hanya gigit jari. 

Bukan hanya menyangkut masalah pendidikan, kalau ada orang miskin sakit juga mereka mengalami deskriminatif. Hampir di semua masalah yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak, orang miskin tetap mengalami deskriminatif kecuali untuk melakukan kewajiban keagamaan (ibadah). Untuk beribadah, di negara ini, Alhamdulillah, tidak ada deskriminatif. Tidak seperti orang-orang negro di AS seperti yang ditulis Rendra dalam “Blues untuk Bonie”, buat mereka ada gereja khusus yang tentu saja dalam beribadah mereka tidak bisa bergabung dengan orang-orang kulit putih. Mudah-mudahan saja hal semacam itu tidak ada akan terjadi di kalangan orang-orang beragama di negara ini untuk bersikap deskriminatif dalam hal beribadah pada Tuhannya.

***

Sikap deskriminatif terhadap orang miskin apakah dilandasi oleh definisi yang disampaikan kalangan ahli-ahli sosiologi karena seperti, Parsudi Suparlan, secara singkat mendefinisikan kemiskinan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah (Manusia Indonesia Individu Keluarga dan Masyarakat, 1986:129). Karena mereka standar tingkat hidupnya rendah, mau tidak mau berpengaruh terhadap tingkat kesehatan, pendidikan, kehidupan moral, dan harga diri sehingga perlu sikap deskriminatif terhadap mereka (orang-orang miskin)? Kalau sikap semacam ini masih bercokol di negara ini, di mana letaknya negara? Bukankah tujuan mendirikan negara adalah untuk mensejahterakan rakyatnya secara adil tanpa adanya diskriminasi? Berkaitan dengan hal itu negara mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan yang baik terhadap kepentingan rakyatnya. Dengan demikian, negara mempunyai kewajiban untuk mengabdi pada kepentingan dan kehendak rakyatnya (Luthfi J. Kurniawan, dkk, dalam Negara Kesejahteraan dan Pelayanan Sosial, 2015:89). 

Berkaitan dengan penguatan peran negara dalam bentuk pengabdiannya pada kepentingan kehendak rakyatnya, Francis Fukuyama (2005) dalam bukunya State Building: Governance and World Order in the 21st Century  menunjukkan bahwa pengurangan peran negara dalam hal-hal yang memang merupakan fungsinya hanya akan menimbulkan problematika baru. Selanjutnya, kata Fukuyama, bukan hanya memperparah kemiskinan dan kesenjangan sosial,melainkan juga menyulut konflik sosial dan perang sipil yang meminta korban jutaan jiwa. Keruntuhan atau kelemahan negara telah menciptakan berbagai malapetaka kemanusiaan dan hak azasi manusia. Karena itu, negara harus diperkuat. Kesejahteraan, kata Fukuyama, tidak mungkin tercapai tanpa hadirnya negara yang kuat, yang mampu menjalankan perannya secara efektif. Sebaliknya, negara yang kuat tidak bertahan lama jika tidak mampu menciptakan kesejahteraan warganya (Edi Suharto dalam Kebijakan Sosial sebagai Kebijakan Publik, 2007:x).


Dalam rangka menciptakan kesejahteraan warganya, pascareformasi Pemerintah Indonesia mengubah formasi kekuasaan dari pemerintahan yang sentralistik menuju pemerintahan yang desentralistik. Diharapkan dengan formasi seperti itu akan terjadi adanya sistem yang lebih dekat dengan warganya ( Edi Suharto dalam Kebijakan Sosial sebagai Kebijakan Publik, 2007:177). Wujud dari pelaksanaan desentralisasi adalah mencoba diterapkannya otonomi daerah (otda). Dalam kurun waktu lima belas tahun (otda pertama kali diterapkan pada tanggal 1 Januari 2001), telah tiga kali perubahan undang-undang yang berkaitan dengan otda atau pemerintah daerah, yaitu Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014. Diharapkan dengan diterapkannya desentralisasi (yang di dalamnya ada otda) akan ada angin segar bagi tumbuhnya demokrasi dan partisipasi masyarakat dalam melaksanakan aktivitas pembangunan. Jika memang benar-benar hal itu bisa terlaksana, tidak mustahil akan terjadi peningkatan kesetaraan antargolongan, perluasan keadilan sosial, dan perbaikan kualitas kehidupan rakyat banyak. Harapan ini sama persis seperti yang diungkapkan secara tersirat oleh Sang Ibu ketika menyuapi anaknya di gambar kartun di atas.   

Apakah harapan Sang Ibu yang menyuapi anaknya akan terkabul? Bagaimana realisasinya dengan harapan Sang Anak yang menginginkan sekolah gratis? Bagaimana pula dengan harapan Sang Ayah untuk memperoleh pekerjaan sehingga bisa menghidupi keluarganya? Kalau memang gambar kartun yang ada di sebelah kiri ini mencerminkan hasil pelaksanaan otda selama ini, tampaknya sudah bisa terjawab bahwa itu semua hanya sebuah harapan yang berakhir pada isapan jempol belaka. Artinya, pelaksanaan otda selama ini belum menyentuh harapan semua orang yang dalam hal ini sampai ke semua masyarakat tergolong miskin. Percuma saja bangsa ini gonta-ganti undang-undang pemerintah daerah yang tujuannya untuk menguatkan pelaksanaan desentralisasi kalau kemakmuran hanya dinikmati oleh sebagian dari rakyat Indonesia. Gaya hidup mereka konsumtif dan hedonistik. Sebaliknya, sebagian rakyat negeri ini masih dibelit oleh aneka keterpurukan. Mereka harus banting tulang demi sesuap nasi. Ironis memang.

***

Selagi belum terlambat, harus ada niat baik untuk benar-benar mewujudkan negara sejahtera. Jangan lagi ada niat mau kotak-katik lagi undang-undang yang mengatur tentang pemerintah daerah. Laksanakan saja secara konsisten. Semua orang yang telah diamanahkan untuk mengelola negeri ini harus punya komitmen mengubah nasib sebagian anak bangsa ini agar mereka di suatu saat nanti bisa menikmati hidup yang lebih baik daripada hari ini. Adalah dosa besar bagi orang-orang yang telah mendapat amanah tetapi malah bersikap khianat sehingga membuat sebagian anak bangsanya sendiri hidup dalam kemiskinan. Satu hal lagi yang perlu diingat, jangan remehkan keberadaan orang-orang miskin karena suatu saat nanti, seperti yang dikatakan WS Rendra dalam puisinya “Rajawali”, mereka akan memberontak pada orang-orang yang diberi amanah tapi khianat (`dia akan mematuk kedua matamu/wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka`). Silakan disimak puisi WS Rendra berikut ini.

Rajawali

                                                   W.S Rendra

 

Sebuah sangkar besi

tidak bisa mengubah rajawali

menjadi seekor burung nuri

 

Rajawali adalah pacar langit

dan di dalam sangkar besi

rajawali merasa pasti

bahwa langit akan selalu menanti

 

Langit tanpa rajawali

adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma

tujuh langit, tujuh rajawali

tujuh cakrawala, tujuh pengembara

 

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi

memandang dunia

rajawali di sangkar besi

duduk bertapa

mengolah hidupnya

 

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan

yang terjadi dari keringat matahari

tanpa kemantapan hati rajawali

mata kita hanya melihat matamorgana

 

Rajawali terbang tinggi

membela langit dengan setia

dan ia akan mematuk kedua matamu

 

wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

 

Sumber Gambar: 

(https://images.app.goo.gl/B89xWzDkAEQ7kGh37) 


Kamis, 18 Januari 2024

All You Need Is Love (157)

 




Bagaimana kabarnya Indonesia? Indonesia tidak baik-baik saja. Ah, jawabannya kok, tidak mengenakkan? Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri, apa yang terjadi di negara ini? Memangnya ada apa dengan negara ini? Coba perhatikan saja foto-foto dan gambar-gambar di bawah ini! Apa yang bisa kita katakan? Bukankah negara ini beragam fenomena sosial mudah dijumpai? Supaya tidak penasaran, silakan diperhatikan foto-foto dan gambar-gambar yang berbicara tentang fenomena sosial berikut ini! Jangan lupa juga dibaca uraian-uraian yang Penulis sampaikan!

*** 

1.   Kemiskinan




Foto di atas merupakan potret kemiskinan di negara ini (bukan di India atau Afrika). Kemiskinan tercermin dari anak-anak bertelanjang dada. Mereka tampak kusam dan kumal. Dari rambutnya saja bisa menunjukkan kalau mereka kurang gizi.Kalau ditanyakan lagi, kenapa mereka kurang gizi? Kurang gizi itu menunjukkan, baik kuantitas maupun kualitas makanan yang masuk ke perutnya termasuk kurang. Bagaimana tidak kurang kalau anak-anak itu mungkin sehari cuma sekali makan. Makanan yang masuk ke perutnya juga tergolong rendah gizinya. Jadi, kalau tampak kusam dan kumal,menunjukkan mereka itu kurang gizi. Keluarga mereka bisa dipastikan sebagai keluarga yang terlilit oleh kemiskinan. Inilah salah satu fenomena sosial yang harus dihadapi oleh para ilmuwan dari `Menara Gading`.

 

2.   Pengangguran 








Naiknya tingkat pengangguran berakibat pada kenaikan kemiskinan. Bukan hanya kemiskinan, pengangguran juga bisa berakibat menjadi pemicu kenaikan kriminalitas. Bukankah memang banyak ditemukan kriminalitas yang dilatarbelakangi oleh pengangguran? Selain itu, pengangguran juga bisa berakibat munculnya ketidaksetaraan politik dan sosial. Tentang yang terakhir ini, ketidaksetaraan politik dan sosial, silakan saja kalau ada ilmuwan yang mau melakukan penelitian! Buat saja penelitian yang entah itu berkaitan dengan implikasi pengangguran terhadap ketidaksetaraan politik dan sosial. Boleh juga korelasi pengangguran dengan ketidaksetaraan politik dan sosial. Mudah-mudahan saja ilmuwan dari kampus `Menara Gading` menemukan memang ada pengaruhnya penggangguran terhadap ketidaksetaraan politik dan sosial atau ada korelasi antara pengangguran dan ketidaksetaraan politik dan sosial. Penelitian tentang fenomena sosial yang berkaitan dengan pengangguran tetap menarik untuk diteliti.

 

3.   Korupsi





Jagat bernama Indonesia yang kabarnya tidak baik-baik saja selalu saja diwarnai oleh hal-hal yang aneh tapi nyata. Bagaimana tidak aneh tapi nyata kalau lembaga yang giat mencegah dan memberantas seperti KPK saja sang pimpinan, Firli Bahuri, terlibat korupsi? Tidak tanggung-tanggung Firli Bahuri selaku pimpinan yang seharusnya menjaga marwah bangsa bukan hanya menerima suap tetapi juga telah melakukan pemerasan. Mantan Penyelidik KPK, Aulia Postiera mengatakan kalau pemerasan merupakan kejahatan korupsi tertinggi karena dilakukan oleh orang yang berdaya kepada orang yang lemah. Firli Bahuri selaku pemeras memanfaatkan ketidakberdayaan Syahrul Yasin Limpo demi mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri (https://nasional.tempo.co/read/1802297/firli-bahuri-tersangka-dugaan-pemerasan-syl-kejahatan-korupsi-tertinggi-di-atas-gratifikasi-dan-suap). Sang pimpinan KPK yang berpangkat Komisari Jenderal Polri itu menjadi tukang peras. Anehnya, kenapa sampai sekarang tidak juga ditahan oleh pihak berwajib? Nah, ini benar-benar fenomena sosial yang bisa dikatakan langka tapi nyata.

  

4.   Ketimpangan Ekonomi





Orang miskin di Indonesia semakin terpuruk walaupun BPS kerap mengatakan bahwa gambaran ketimpangan ekonomi di negara ini cenderung fluktuatif. Namun, perlu dicatat orang yang kondisi ekonominya rentan juga bisa jadi jatuh ke jurang kemiskinan. Ironisnya, dari golongan orang-orang yang terbilang terkaya semakin meningkat pendapatannya. Untuk itu, tidak aneh ada ungkapan yang menyatakan bahwa orang miskin makin miskin dan orang kaya makin kaya. Kalau sudah seperti itu kondisinya, ada jurang yang menganga yang memperlihatkan adanya ketimpangan ekonomi yang demikian parah. Bahkan, lebih jauh lagi bisa jadi adanya ketimpangan sosial dan juga kesenjangan pendidikan. Dampak apa saja yang akan muncul jika telah terjadi ketimpangan ekonomi yang merembet pada ketimpangan sosial dan tentu saja juga kesenjangan pendidikan? Silakan para ilmuwan dari kampus `Menara Gading` mengimplementasikan dharma kedua dan ketiga dari tri dharma PT.

 

5.   Ketimpangan Sosial





Ketimpangan ekonomi bisa saja merembet pada ketimpangan sosial. Ketimpangan sosial bisa diartikan sebagai kondisi ketidakseimbangan atau jarak yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang disebabkan oleh adanya perbedaan, baik status sosial, ekonomi, dan budaya (https://pahamify.com/ blog/pahami-materi/materi-ips/pengertian-dan-bentuk-bentuk-ketimpangan-sosial/). Gambar karikatur di atas mencerminkan adanya perbedaan ekonomi masyarakat homeless people (tuna wisma) dengan peopleless homes (rumah yang dihuni sedikit orang atau nyaris tanpa orang). Golongan pertama (tunawisma) tergolong ekonominya lemah sampai-sampai tidak mampu untuk jangankan membeli rumah, menyewa rumah/flat pun sudah tidak mampu. Golongan kedua jelas menunjukkan orang-orang yang tergolong memiliki harta berlebih (kaya) sehingga saking kayanya rumah-rumah yang dihuni hanya diisi oleh segelintir orang. Bahkan, rumah-rumah itu ditempatinya. Rumah-rumah itu hanya dijadikan investasi yang sewaktu-waktu ketika libur mereka tempati. Ini menunjukkan adanya ketimpangan sosial di antara dua masyarakat antara masyarakat yang miskin dan masyarakat yang kaya.

 

6.   Kesenjangan Pendidikan





Di negara ini juga terjadi kesenjangan pendidikan antara masyarakat berekonomi lemah (miskin) dan masyarakat berekonomi kuat (kaya). Bahkan, bisa juga antara masyarakat yang tinggal di pedesaan yang di masa Orde Baru disebut sebagai desa IDT (Inpres Desa Tertinggal). Sebutan buat desa yang benar-benar tertinggal karena infrastruktur jalan yang jauh dari memadai, tidak adanya aliran listrik, sarana pendidikan yang menyedihkan seperti pada gambar di sebelah kiri di atas, dan sarana kesehatan yang sama sekali tidak ada. Bandingkan dengan masyarakat kota, seperti Jakarta, yang dilihat dari segi sarananya dibandingkan dengan desa tertinggal diibaratkan bumi dengan langit. Gambaran perbedaan itu di masa Reformasi sudah masuk 25 tahun ternyata masih ada. Anehnya, untuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang anggarannya mencapai lebih dari 400 triliun rupiah (itu pun belum selesai pembangunannya) pemerintah negara ini begitu jor-joran untuk melaksanakannya?

 

7.   Pembangunan Tidak Merata





Munculnya kesenjangan pendidikan bisa disebabkan oleh pembangunan yang tidak merata. Artinya, pembangunan di Jawa dan Sumatra tampaknya lebih diutamakan. Bisa juga pembangunan infrastruktur seperti jalan tol lebih diutamakan daripada jalan nontol. Di sini pemerintah lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur yang lebih mengedepankan prestise daripada kebutuhan masyarakat.  Lewat pembangunan seperti IKN, misalnya, di sini pemerintah ingin menunjukkan bahwa bangsa ini sanggup melaksanakan pembangunan sebuah kota baru yang megaproyek yang berorientasi pada kota masa depan. Padahal untuk melaksanakan pembangunan IKN pemerintah harus jor-joran menguras habis APBN yang ujung-ujungnya bisa saja harus berutang ke lembaga-lembaga keuangan internasional. Tetapi, ironisnya, pembangunan infrastruktur yang juga kebutuhannya sangat mendesak, seperti pembangunan jembatan di pedesaan sama sekali tidak dipedulikan. Foto di atas mencerminkan abainya pemerintah untuk membangun jembatan sehingga anak-anak didik di negara ini harus berjuang dengan nyawa untuk menyeberangi sungai. Bisa dibayangkan kalau suatu saat jembatan itu putus tali penghubungnya, apa yang terjadi dengan anak-anak didik dan orang-orang yang menyeberangi sungai lewat jembatan yang rentan dengan bahaya itu? Apakah harus menunggu korban yang berjatuhan baru dilakukan pembangunan? 

 

8.   Deforestasi Hutan




Di akhir tahun `70-an seorang vokalis New Rollies, Delly Rollies, lewat lagunya `Kemarau` melantunkan bagian teks terakhir dari lagunya yang kalau diamati (walaupun hanya sebuah pertanyaan) nyaris sebuah satire. Di bagian akhir lirik lagu itu, Delly Rollies melantunkan “Mengapa, mengapa hutanku hilang. Dan tak pernah tumbuh lagi”. Sebuah pertanyaan yang boleh disebut satire karena tidak mungkin hutan akan tumbuh lagi kalau sang pembabat hutan yang telah berbuat durjana sehabis membabat hutan tidak melakukan reforestasi. Sekali pun ada reforestasi anggarannya malah dikorup. Jadi, sang pembabat hutan setelah membabat hutan habis-habisan diberi dana oleh pemerintah yang sudah demikian berbuat baik padanya, demikian kejinya sang pembabat hutan mengembat dana APBN untuk reforestasi. Mau tahu seberapa besar negara ini telah kehilangan hutan? Selama tahun 2022 negara ini telah kehilangan Hutan Primer sebesar 230.002 Ha. Jumlah Hutan Primer yang hilang itu menempatkan Indonesia sebagai negara keempat kehilangan Hutan Primer dari lima negara di dunia (https://id.linkedin.com/pulse/5-negara-teratas-yang-kehilangan-hutan-primer-tropis-terbanyak-kwflc).

 

9. Masalah Kesehatan Masyarakat






Sampai sekarang belum diketahui persis seberapa besar korban Covid-19 yang meninggal dunia. Entah karena jumlah korban yang tidak diketahui persis jumlahnya atau upaya pemerintah (walaupun sudah ditahui datanya) untuk menutup-nutupi kelemahannya, seorang menteri di negara ini meminta jenazah-jenazah yang ada di hadapannya diminta mengangkat tangannya. Mana mungkin orang yang sudah wafat diminta mengaku kalau dia wafat karena Covid-19? Ini benar-benar sebuah satire yang sarkasme! Dikatakan satire karena lebih merupakan sindiran pada pemerintah yang tidak percaya tentang jumlah korban Covid-19. Bukankah pemerintah selama ini terbiasa menutup-nutupi sebuah kejadian yang dikhawatirkan merusak nama baik negara? Di sisi lain, karikatur di atas juga merupakan sarkasme (ejekan kasar yang pedas) buat pejabat yang cenderung tidak percaya pada data yang sudah jelas-jelas menunjukkan adanya korban yang cukup besar akibat dari Covid-19. Di sini, pemerintah negara ini selayaknya melakukan evaluasi terhadap masalah kesehatan masyarakat yang demikian rentan menghadapi epidemi seperti Covid-19. Seandainya pemerintah mau saja belajar dari kebijakan yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta ketika menghadapi epidemi tidak mustahil korban yang berjatuhan akan mudah terdeteksi. Selain itu, upaya-upaya yang mengarah pada penyelamatan masyarakat dari epidemi Covid-19 sangat mungkin bisa dilakukan bukan malah minta diulang data jumlah korban (karena tidak percaya dengan data yang diterimanya) sampai-sampai muncul karikatur di atas. 

 

10.Urbanisasi yang tidak Terkendali




Setiap orang bisa dipastikan ingin mengubah nasibnya. Orang desa pun sama, mereka juga mau mengubah nasibnya. Orang yang tinggal di pedesaan, walaupun pendidikannya rendah, ketika melihat kehidupan kota-kota besar yang sering dilihatnya di berbagai media, baik media mainstream maupun media online membuat dirinya tergerak ingin mengubah nasib di kota-kota yang pernah dilihatnya. Orang desa tanpa pendidikan yang mencukupi dan keterampilan yang terbatas hanya bermodal nekad mencoba nasibnya di kota-kota besar. Bagaimana dengan nasibnya? Apakah orang desa itu berhasil dalam mengarungi kehidupan di kota besar yang dimasukinya? Kalau ada kemauan untuk bekerja keras disertai dengan menambah pengetahuan lewat pendidikan, entah itu yang namanya pendidikan formal maupun nonformal (intinya dia ada kemauan untuk meningkatkan keterampilan hidupnya), bisa saja  dia berubah nasibnya. Sebaliknya, kalau sekedar mengandalkan tenaga untuk bekerja keras tanpa pendidikan, bisa dikatakan kurang berhasil orang seperti ini mengarungi kehidupan di kota besar. Masih untung kalau orang desa itu bisa tinggal di rumah-rumah kontrakan, bagaimana kalau sebaliknya dia hanya bisa tinggal di kolong jembatan, di pinggiran rel kereta api, atau di tempat-tempat pemakaman? Orang desa semacam ini hanya membuat daftar panjang sebagai bagian dari homeless people. Tidak mustahil orang desa itu termasuk bagian dari masyarakat bermasalah yang bisa saja menjadi sampah masyarakat.

 

11.Disorganisasi Keluarga




Seorang ilmuwan dalam suatu acara diskusi ilmiah mengatakan bahwa pertahanan negara sangat ditentukan oleh ketahanan keluarga. Sebagian peserta diskusi itu ada yang tidak setuju dengan pendapatnya. Meskipun demikian, tidak sedikit yang menyetujuinya. Jika dianalisis pendapat sang ilmuwan tersebut, bisa jadi semua orang akan sependapat dengannya. Jadi, menurut pendapat sang ilmuwan pertahanan suatu negara bukan semata-mata oleh adanya kecanggihan persenjataan yang dimiliki dan keterampilan tentaranya dalam berperang, tetapi kalau semua itu tidak didukung oleh kesiapan setiap anggota masyarakat menghadapi peperangan akan percuma saja. Dalam hal ini, lanjutnya, ketika sebuah negara berperang dengan negara lain rakyat di negara itu juga harus siap menghadapi segala macam bentuk serangan yang dilakukan pihak musuhnya. Kalau masyarakat di negara yang diperangi negara lain tidak mendukungnya, bisa dipastikan semua tentara yang berperang tidak akan sanggup menghadapi serangan dari musuhnya karena sebentar-sebentar bisa saja masyarakatnya sendiri akan membikin repot perjuangan melawan musuh-musuhnya. Dalam hal ini yang dinamakan ketahanan keluarga adalah keluarga yang di dalamnya tidak terjadi namanya disorganisasi. Di sini disorganisasi bukan saja diartikan pasangan suami-istri yang tidak lagi harmonis, tapi juga terjadi perpecahan di tubuh keluarga itu sendiri, misalnya anak-anaknya tidak lagi ada ketaatan pada orang tuanya. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada hubungan yang harmonis di antara mereka. Bahkan, baik orang tuanya maupun anak-anaknya pecandu narkoba. Seandainya suatu saat ada kebahagiaan, tentu saja kebahagiaan yang semu. Itu hanya terjadi pada saat, misalnya, foto bersama yang diabadikan dalam potret keluarga. Potret keluarga itu hanya sebuah tipuan karena di balik itu semua tetap saja di antara mereka tidak terjadi keharmonisan, tidak terjadi kebahagiaan, dan kebahagiaan yang ada adalah kebahagiaan semu. Itulah yang dinamakan sebagai disorganisasi keluarga. 

12. Penyebaran Informasi Palsu (Hoax)




Hoax menurut Robert Nares (brilio.net dari WikiWand) berasal dari kata `hocus` yang berarti `menipu`. `Hocus` sendiri semula digunakan dalam permainan mantra sulap yang merupakan kependekan dari `hocus pocus`. Istilah `hoax` menjadi popular sejak pemutaran film The Hoax (2006). Film yang dibintangi  Richard Gere dan disutradarai Lasse Hallstrom yang skenarionya ditulis oleh William Wheeler ini diangkat dari sebuah buku oleh Clifford Irving dari judul yang sama, yakni The Hoax. Kepopuleran film ini menyebabkan setiap orang manakala berhadapan dengan sebuah berita atau informasi yang patut diduga memuat kebohongan (sumbernya tidak jelas dan kurang dipercaya) dengan mudahnya ikut-ikutan (latah) menyebutnya sebagai `hoax`. Sejak saat itu kata `hoax` menjadi sangat populer. Berkatian dengan hoax, apakah ada hoax terbaik sebagaimana disampaikan Rocky Gerung pada gambar di atas? Rocky Gerung pada gambar di atas menyebutkan bahwa penguasa merupakan pihak pembuat hoax terbaik karena didukung oleh peralatan yang lengkap, yaitu statistik, intelijen, editor, panggung, dan media. Apakah penjelasan Rocky Gerung tentang hoax terbaik adalah hoax versi pemerintah? Kalau perlu diteliti, silakan saja para ilmuwan `Menara Gading` menelitinya!


***

Sebenarnya bisa lebih dari dua belas fenomena sosial yang bisa ditulis di sini. Namun, sebagai sebuah stimulus tidak ada salahnya kalau Penulis hanya menampilkan dua belas butir. Bisa saja nanti di saat menuliskan tulisan-tulisan utuh seperti layaknya sebuah wacana Penulis menambahkan seperti politik uang, pencucian uang, politik dinasti, syahwat politik, dan terakhir yang sekarang populer di era pemilu ini: cawe-cawe politik. Selain itu, ada kemungkinan masalah-masalah sosial yang dianggap besar dan krusial ditulis secara bersambung. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu ada keinginan para ilmuwan `Menara Gading` tergerak untuk melakukan sesuatu sehingga mereka bisa ke luar dari `Menara Gading` yang semakin lama semakin pengap.



























Senin, 01 Januari 2024

All You Need Is Love (156)


 

Membuka Lembaran Baru

Subagio S. Waluyo

Penulis berpendapat tulisan-tulisan yang terdapat dalam kolom “Catatan dari Menara Gading” sudah saatnya berakhir. Kolom “Catatan dari Menara Gading” sebagai bahan pembekalan bagi para ilmuwan atau insan akademis sudah dirasakan cukup. Dari tulisan-tulisan yang terdapat di kolom “Catatan dari Menara Gading” bisa dijadikan pegangan bagi para insan akademis ketika berhadapan dengan fenomena sosial yang berseliweran di hadapannya. Selagi masih bisa mengambil manfaat dari ilmu yang digelutinya, para insan akademis tidak akan terpengaruh menghadapi gemerlapnya kehidupan dunia. Gemerlapnya kehidupan dunia kalau sampai membuat insan akademis melakukan cara-cara ilegal bisa dipastikan sang insan akademis itu bisa dikatakan gagal memahami konsepsi ilmu. Dengan demikian, sang insan akademis juga tidak akan bisa memahami berseliwerannya fenomena sosial yang bermunculan di hadapannya karena mata hatinya telah tertutup oleh kegemeralapan kehidupan dunia.

***

Penulis belum bisa memastikan apakah ada hubungannya ilmuwan yang terpengaruh oleh kegemerlapan kehidupan dunia dengan tertutupnya mata hati untuk memahami fenomena sosial? Memang, belum ada penelitian yang khusus mengkaji masalah tersebut. Sah-sah saja kalau ada ilmuwan yang menganggap penelitian yang khusus membahas masalah tersebut tidak dianggap penting. Tetapi, penulis berpendapat sebaliknya. Bagi penulis, tidak ada salahnya kalau ada ilmuwan yang mencoba meneliti masalah tersebut. Sang Ilmuwan yang berusaha menggali masalah tersebut cukup melakukan pengamatan dan studi kepustakaan. Caranya cukup dengan membuat tulisan yang di dalamnya memuat berbagai kasus munculnya penyimpangan sosial di kalangan ilmuwan. Kemudian sang penulis melakukan penelusuran sehingga menemukan memang ada hubungan di antara keduanya, yaitu kegemerlapan kehidupan dunia dengan tertutupnya mata hati untuk memahami fenomena sosial. Tidak perlu dilakukan metode ilmiah yang terkadang harus mengikuti langkah-langkah normatif dalam melakukan penelitian. Maksudnya, si peneliti harus menempuh cara-cara ilmiah yang biasa dilakukan orang ketika ingin melakukan penelitian. Tentang penelitiannya dalam bentuk tulisan seperti tulisan ilmiah populer dianggap ilmiah atau tidak, dia tidak peduli. Dirinya beranggapan fenomena sosial hanya bisa ditemukan, diteliti, dan dicari solusinya oleh ilmuwan yang masih memiliki hati nurani yang bersih. Ilmuwan yang tidak memiliki hati nurani yang bersih mustahil bisa menemukan, meneliti, dan menyelesaikan masalah fenomena sosial yang berseliweran di hadapannya.

Sebenarnya bukan ilmuwan tidak bisa melihat fenomena sosial, karena mereka sudah terbiasa menutup mata hatinya, sesuatu yang seharusnya mutlak menjadi tantangan di hadapannya cenderung dibiarkan. Mereka ada kecenderungan melakukan pembiaran terhadap segala macam bentuk yang sebenarnya merupakan sesuatu yang perlu ditangani. Seorang ilmuwan kalau sudah terbiasa bersikap seperti itu bisa dipastikan cepat atau lambat akan menciptakan jarak antara dirinya dan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah pasti tidak akan bisa melakukan kerja-kerja pengabdian masyarakat. Kalau ada program-program pengabdian masyarakat, mereka beranggapan bahwa program yang mereka kerjakan dipastikan akan memenuhi pundi-pundi kekayaannya. Kalau sudah seperti itu, mana mungkin mereka termotivasi untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial yang ada di negara ini seperti yang tampak pada film dokumenter ini: (https://www.youtube.com/watch?v= QrvUlpviip4). Dengan sendirinya mereka telah menciptakan `Menara Gading`. Agar tidak tercipta `Menara Gading`, mereka harus diingatkan. Penulis hanya bisa mengingatkan para ilmuwan lewat tulisan-tulisan yang ada dalam kolom `Menggoyang Menara Gading`.

Lewat tulisan-tulisan yang terdapat dalam kolom `Menggoyang Menara Gading` Penulis mau menyampaikan pendapatnya lewat tulisan-tulisan yang diharapkan bisa menggugah perasaan para ilmuwan. Kolom `Menggoyang Menara Gading` sebagai kolom lanjutan “Catatan dari Menara Gaing memuat fenomena sosial. Penulis akan membeberkan masalah-masalah di sekitar fenomena sosial yang berseliweran di negara ini. Fenomena sosial yang banyak berseliweran di hadapan ilmuwan itu harus ditangani. Semua pihak harus terlibat menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial. Ilmuwan atau insan akademis tidak bisa berpangku tangan. Mereka harus berbuat. Ketika berniat menyelesaikan berbagai masalah sosial di masyarakat (bahkan kalau bisa di negara ini sekalipun), mereka tidak perlu dilengkapi dengan persyaratan administrasi layaknya seorang pejabat yang akan ditugaskan ke daerah atau instansi tertentu. Sudah cukup, misalnya, kalau mereka aktif di masyarakat sebagai entah Ketua RT atau RW. Bukankah untuk menjadi Ketua RT atau RW tidak diperlukan Surat Tugas dari kampus tempat mereka mengabdi? Kalau mereka mau terlibat di LSM bagaimana? Buat saja surat pengajuan ke LSM yang dituju. Kalau memang nantinya dibutuhkan surat penugasan, mereka bisa minta ke pimpinan PT tempat mereka mengabdi sebagai tenaga pendidik.

LSM yang kedatangan para insan akademis bisa dipastikan akan mau menerima mereka dengan tangan terbuka. Kedatangan insan akademis yang mau berkiprah di LSM bagi para aktivis LSM diharapkan banyak membantu kerja-kerja LSM. Para aktivis LSM akan menjadikan insan akademis sumber pengetahuan yang harus digali kemampuannya dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Masalah-masalah sosial yang selama ini di PT hanya dibahas di ruang-ruang kuliah, sejak sang insan akademis terjun di LSM benar-benar harus dipraktekkan di LSM tempat mereka membuktikan kemampuannya dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Dengan demikian, kehadiran insan akademis akan banyak memberi manfaat bukan saja bagi LSM, tapi juga bagi masyarakat, bahkan, negara sekalipun.

***



Masalah fenomena sosial hanya bisa diketahui dan dipecahkan oleh ilmuwan yang bisa mengambil manfaat dari ilmu yang digelutinya. Ilmuwan yang terpengaruh oleh kegemerlapan kehidupan dunia bisa dipastikan tidak bisa mengambil manfaat dari ilmu yang digelutinya. Ilmuwan seperti ini akan cenderung bersikap melakukan pembiaran terhadap berbagai masalah sosial yang berseliweran di hadapannya. Agar tidak terpengaruh oleh kegemerlapan kehidupan dunia, mereka harus disadarkan oleh berbagai masukan yang bermanfaat dalam menapaki kehidupannya sebagai insan akademis. Salah satu caranya adalah mereka harus pergi dari kenyamanannya selama ini di `Menara Gading`. Mereka harus berbuat dengan cara `Menggoyang Menara Gading`. Dengan `Menggoyang Menara Gading`, mereka akan bisa melakukan aktivitas pengabdian masyarakat, baik sebagai pengurus RT/RW, pengurus masjid, majelis taklim, atau tempat ibadah lainnya, maupun sebagai aktivis di LSM. Di kolom `Menggoyang Menara Gading` Penulis akan menyampaikan gagasannya yang berkaitan dengan keterlibatan ilmuwan atau insan akademis dalam membantu menyelesaikan masalah-masalah sosial, baik di masyarakat maupun di negara ini sekalipun. Wallahu a`lam bissawab.

 Sumber Gambar:

(https://co-evolve.id/optimalisasi-peluang-kolaborasi-lembaga-swadaya-masyarakat-dan-sektor-usaha/) 


Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...