Selasa, 30 Agustus 2016

Artikel Administrasi Publik (14)

Pembangunan Berkelanjutan?...Gagal!...Gagal! (3)

Subagio S. Waluyo
PB membutuhkan pengawasan. Pelaksanaan Pengawasan dilakukan bukan hanya oleh para birokrat. `Orang-orang  pintar` dari PT juga bisa dilibatkan dalam pengawasan pelaksanaan PB. Bentuk pengawasan dari `orang-orang pintar` atau `makhluk akademis` itu berupa kerja-kerja P3M. Jadi, sah-sah saja penelitian yang dilakukan calon sarjana (S1) walaupun hanya sebuah skripsi yang penelitiannya tentang pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan di sebuah tempat yang di peta tidak ada (karena tempat itu benar-benar pelosok hutan) didiskusikan. Kemudian, ditindaklanjuti dalam bentuk kerja-kerja pengabdian  masyarakat. Salah satu bentuk kegiatan yang konkrit membuat program kerja desa binaan di desa pelosok hutan itu. Ini pekerjaan menarik `kan? Kita yakin, kalau dosen-dosennya masih tergolong orang-orang yang sadar dan mau terlibat plus tidak mata duitan (`ngga matre`), pasti menyambutnya dengan antusias.

Artikel Administrasi Publik (13)

Pembangunan Berkelanjutan?...Gagal!...Gagal! (2)

Subagio S. Waluyo

Pelibatan masyarakat dalam melakukan pengawasan pelaksanaan PB apakah mungkin bisa dilakukan? Mungkin-mungkin saja. Mengapa tidak? Kita jelaskan dulu siapa saja yang masuk dalam konteks masyarakat di sini. Masyarakat jangan hanya dibatasi pada penduduk yang tinggal di suatu tempat. Masyarakat di sini bisa saja masuk ke dalamnya sivitas akademika (masyarakat perguruan tinggi/ PT). Kita juga bisa masukkan mereka yang aktif di organisasi massa (ormas). Bisa juga orang-orang yang terlibat di organisasi nonpemerintah (NGO/LSM). Bisa juga mereka yang tinggal di suatu tempat (masyarakat lingkungan atau masyarakat adat). Jadi, mereka-mereka inilah yang akan kita libatkan dalam melakukan pengawasan PB. Selama ini karena mereka tidak dilibatkan dalam pengawasan, mau tidak mau terjadi kegagalan PB.

Senin, 29 Agustus 2016

Artikel Administrasi Publik (12)

Pembangunan Berkelanjutan?...Gagal!...Gagal! (1)

Subagio S. Waluyo

Adalah Hetifah S.J. Sumarto dalam bukunya Inovasi, Partipasi dan Good Governance (2003:6) menyatakan bahwa sistem administrasi pemerintah dan kebijakan (publik) yang buruk di banyak negara berkembang merupakan kendala utama untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (PB). Sebagai bukti dari pernyataan tersebut dikaitkan dengan hasil PB yang dilakukan oleh berbagai negara (termasuk Indonesia) beberapa waktu lalu ada yang berpendapat bahwa PB ternyata memang belum banyak berhasil. Bisa juga dikatakan kalau PB yang lebih dari dua puluh tahun yang lalu dicanangkan, ternyata mengalami kegagalan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada pernyataan berikut ini.

Sabtu, 27 Agustus 2016

All You Need Is Love (23)

  Bahan Pendidikan Politik 



ANALISIS GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

DARI ORDE BARU SAMPAI REFORMASI

Subagio S.Waluyo



1.0 PENGANTAR

Masalah mahasiswa adalah masalah yang tidak pernah akan selesai dan bosan-bosannya untuk dibicarakan.  Masalah yang satu ini sesuai dengan kepribadian mahasiswa sebagai pemuda belia yang penuh de-ngan idealisme, enerjik, stamina yang stabil, dan pikiran-pikiran yang cemerlang.  Karena mahasiswa memiliki itu semua, wajarlah jika maha-siswa adalah orang-orang muda yang mencari “kebenaran.”  Apabila “kebenaran” tidak diperoleh, sesuai dengan karakternya ia akan mela-kukan setiap hal yang menurutnya layak untuk dilakukan.

Jumat, 26 Agustus 2016

Artikel Administrasi Publik (11)

Xenofobia-Inferior

Subagio S.Waluyo

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD`45) dimulai dengan sebuah pernyataan berbunyi:
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Ketika UU`45 itu disahkan, Indonesia baru saja merdeka karena satu hari sebelum UUD`45 disahkan, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, negara ini diproklamasikan. Dengan demikian, Indonesia sebagai sebuah negara telah benar-benar terbebas dari penjajahan asing, baik Jepang maupun Belanda yang masih berkeinginan menjajah kembali negara ini.

Rabu, 24 Agustus 2016

Artikel Agama (27)

Rendah Diri-Rendah Hati  


Subagio S. Waluyo   

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ketika membuat definisi `rendah diri` dan `rendah hati` terlihat adanya perbedaan yang jelas. Di KBBI tercantum frase `rendah diri`: `hal (sifat) diri`; `merasa dirinya kurang`. Sementara frase `rendah hati`: hal (sifat) rendah hati, tidak sombong atau `tidak angkuh`. Tetapi, ketika kedua frase tersebut diberikan imbuhan me-kan sehingga menjadi `merendahkan diri` dan `merendahkan hati` mempunyai makna yang sama, yaitu `menjadikan diri tidak sombong`; `tidak congkak`; `tidak angkuh` (KBBI,1999:833). Lho, kok, bisa sama ya? Bukankah seharusnya dibedakan. Untuk frase `merendahkan hati` memang bisa diterima pengertian tersebut. Lha, kalau frase `merendahkan diri` bukankah lebih baik didefinisikan sebagai `menjadikan dirinya merasa kurang`?

Minggu, 21 Agustus 2016

Artikel Agama (26)

Menegakkan Benang Basah

Subagio S.Waluyo
         
Ada pribahasa yang berbunyi `kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana`. Pribahasa yang demikian sederhana itu jika ditilik dari segi isinya ternyata tidak sederhana. Di sana ada kata `kejujuran` yang justeru sampai saat ini kata itu masih dianggap punya nilai tersendiri karena secara hati nurani manusia masih menghendaki adanya sebuah kejujuran. Yang menjadi pertanyaan, “Apakah memang benar banyak manusia yang masih mengikuti hati nurani?”  Pertanyaan itu bisa dipastikan hanya segelintir saja manusia yang masih mengikuti hati nurani. Sebagian besar manusia sudah jauh menyimpang dari hati nurani termasuk ke dalamnya sudah tidak bisa lagi berlaku jujur.   

Pembelajaran Penulisan (5)

MULAILAH DARI MASALAH


Subagio S.Waluyo

/a/

Batang singkong jika ditancapkan di tanah seperti zat hidup. Dia akan berusaha mengeluarkan akar-akarnya yang diteruskan dengan keluarnya tunas-tunas muda. Begitupun orang yang sudah punya bahan manakala sudah cukup penuh memorinya dengan bahan hasil bacaannya, dia akan menyalurkannya lewat tulisan. Cuma timbul pertanyaan dari mana dia akan memulainya?  Selama ini orang akan selalu digiring menulis dimulai dari judul. Cara ini tidak selalu benar. Kalau ada orang yang beranggapan toh judul yang dibuat hanya bersifat sementara, anggapan itu bisa dibenarkan karena memang judul baru bisa dicantumkan ketika tulisan telah selesai.

Pembelajaran Penulisan (4)

ASAH KEPEKAAN

Subagio S.Waluyo

/a/

Orang banyak baca pasti banyak tahu. Orang banyak tahu pasti memunculkan pengetahuan. Karena punya pengetahuan, orang minimal punya kepekaan. Kalau sudah punya kepekaan, mau dikemanakan? Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat melukis. Jadilah, sebuah lukisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat menyanyi. Jadilah, sebuah lagu dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada juga orang yang menyalurkan lewat menulis. Jadilah, berbagai macam bentuk tulisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Tulisan yang dihasilkannya bisa berupa karya fiksi, bisa juga nonfiksi. Dia bisa mewujudkan ekspresi kepekaannya lewat puisi-puisi. WS Rendra (almarhum), misalnya, mencoba mengekspresikan kepekaaannya lewat kumpulan puisi yang terkenal Potret Pembangunan dalam Puisi (PPdP). Di dalam kumpulan puisi tersebut banyak berisikan protes terhadap kebijakan pembangunan di waktu itu (masa orde baru). WS Renda sang penyair ketika mengekspresikan kepekaannya tidak berangkat dari nol. Dari hasil banyak baca buku (tentu saja ditambah dengan  input yang diperoleh dari hasil mengikuti berbagai kajian) sehingga tanpa disadari membentuk satu sikap, yaitu munculnya kepekaan terhadap masalah-masalah ketimpangan sosial. Selanjutnya diekspresikan yang dirasakannya lewat menulis kumpulan puisi. Jadilah, sebuah kumpulan puisi yang sarat kritik sosial terhadap rezim orde baru: PPdP. 

Pembelajaran Penulisan (3)

SIAPKAN BAHAN


Subagio S. Waluyo

/1/
`Sedia payung sebelum hujan` begitu kata peribahasa yang juga bisa diartikan `sedia bahan sebelum menulis`. Kok, bahan? Bahan apa? Bahan di sini referensi. Bisa buku, bisa artikel di koran/majalah (kliping), atau bisa juga dari hasil browsing di internet. Zaman kiwari ini begitu banyak bahan yang bisa diperoleh. Semua yang bisa dibaca adalah bahan. Termasuk semua yang bisa didengar adalah bahan. Hanya bahan yang lewat pendengaran (karena terbiasa `nguping`) tidak bisa dipertanggungjawakan. Boleh saja hasil mendengar dijadikan bahan, tapi harus ada tindak lanjutnya. Teruskan dengan cari bahan sesuai dari yang kita dengar sebagai informasi awal. Bisa juga hasil menyaksikan lewat media elektronik atau ikut kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah di kegiatan agama dijadikan sebagai bahan. Tapi, ya, itu tadi, harus diteruskan dengan mencari referensi dalam bentuk bahan-bahan tertulis. Hasil memanfaatkan audio-visual yang digunakan untuk menyaksikan acara di media elektronik atau kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah keagamaan tidak bisa dijadikan referensi utama. Dia hanya menjadi stimulus agar seseorang melakukan penelusuran mencari bahan-bahan tertulis.

Pembelajaran Penulisan (2)

MENULIS SAMPAI KE LIANG LAHAT

Subagio S.Waluyo



/a/
Orang menulis sama seperti orang menuntut ilmu/belajar, yaitu sama-sama sampai ke liang lahat. Bedanya, menuntut ilmu/belajar dari buaian (lahir). Sedangkan menulis dimulai dari orang bisa membaca yang diteruskan dengan bisa menulis.  Jadi, kalau di usia kelas I SD anak sudah bisa membaca dan menulis, nah di usia itulah harus ada keinginan untuk menulis sampai ke liang lahat. Kenapa sampai liang lahat? Ya, sampai liang lahat karena ada orang yang mati muda, ada yang mati setengah tua, dan ada juga yang mati tua. Kalau dikatakan menulis sampai tua, tiba-tiba belum sampai tua sudah wafat, gimana? Berarti benar `kan hanya sampai liang lahat?

Pembelajaran Penulisan (1)

Dinamakan Pembelajaran Penulisan

Subagio S.Waluyo

Submenu Bahasa ini dinamakan Pembelajaran Penulisan karena memang sengaja disediakan kolom untuk siapa saja yang ingin belajar menulis. Dinamakan Pembelajaran Penulisan karena belajar menulis merupakan sebuah proses. Tentang lamanya mengikuti proses belajar menulis itu sendiri bukan semata-mata adanya talenta, tapi juga dibutuhkan keseriusan. Selain itu, perhatian harus fokus. Perlu juga dicamkan, belajar menulis harus disertai kesabaran dan tetap konsisten dengan komitmen yang telah dicanangkan di awal ketika belajar. Komitmen yang harus ada pada seorang calon penulis adalah dia mau belajar menulis untuk memperoleh tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi pembacanya. Memberikan wawasan pada setiap pembacanya. Tentu saja wawasan yang bermanfaat bagi kehidupan pembacanya di masa depan dan diharapkan (setidak-tidaknya) membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi pembaca.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Artikel Agama (25)

Qarun Sang Kapitalis


                                                                          
 Subagio S.Waluyo

Membaca Surat Al-Qashash ayat 76 – 78 kita seperti diingatkan oleh Allah SWT tentang kisah di zaman Nabi Musa AS tentang orang yang serakah. Adalah Qarun yang dimaksudkan sebagai tokoh yang serakah, riya, kikir, dan sombong yang digambarkan pada ketiga ayat di atas. Karena kesombongannya, Qarun melakukan cara-cara tidak terpuji pada pengikut-pengikut Nabi Musa AS di antaranya melakukan provokasi agar mereka (para pengikut Nabi Musa AS) memusuhinya dan ingkar pada Allah SWT. Perilaku  Qarun sama dengan perilaku Fir`aun yang juga menganggap dirinya lebih tinggi daripada Allah SWT.  Agar lebih jelas lagi, silakan disimak bunyi ketiga ayat itu berikut ini:

Kamis, 18 Agustus 2016

Artikel Agama (24)

Sesudah Kesulitan—Ada Kemudahan


Subagio S. Waluyo

Menjalani hidup seperti mengendarai kendaraan di jalan raya. Terkadang kita ada di jalan yang enak dikendarai seperti jalan tol. Terkadang kita juga ada di jalan yang justru sebaliknya, jalan yang terjal, penuh lubang, berlumpur sehingga harus ekstra hati-hati mengendarainya. Kalau tidak, sudah  bisa ditebak, kita bisa celaka. Bahkan, tidak mustahil kita bisa juga menghadapi kematian. Jadi, kita di dunia ini dalam hidup memang terkadang menghadapi banyak kemudahan, terkadang sebaliknya menghadapi banyak kesulitan. Kalau menghadapi kemudahan, kita merasa senang dan bahagia. Tapi, kalau menghadapi  kesulitan, kita merasa sedih, penuh harap, dan tentu saja penuh ketakutan. Kita benar-benar merasa menderita.

Rabu, 17 Agustus 2016

All You Need Is Love (22)

Merdeka! Merdeka! Merdeka?

Subagio S. Waluyo 

 Merdeka!    
 
Tulisan ini dimulai dari sebuah puisi heroik yang ditulis Chairil Anwar, “Karawang Bekasi”. Puisi yang ditulis oleh penyair Angkatan `45  ini di hari-hari bersejarah buat negeri ini sering dibacakan dan juga sering dijadikan bahan perlombaan baca puisi atau deklamasi, baik di tingkat pendidikan menengah maupun tinggi. Bahkan, tidak sedikit di kalangan masyarakat umum juga menjadikan puisi ini sebagai bahan perlombaan baca puisi atau deklamasi. Memang, isi puisi ini bagi kita benar-benar membangkitkan semangat `45 yang tidak kunjung padam. Agar benar-benar kita bisa meresapi isinya, coba kita simak puisi berikut ini. 

Senin, 15 Agustus 2016

All You Need Is Love (21)

Orang Miskin Dilarang Bla..Bla..Bla...

Subagio S.Waluyo

Ingat orang miskin, ingat WS Rendra menulis dalam puisinya “Blues untuk Bonie”. Rendra menggambarkan tentang seorang penyanyi negro tua yang bernyanyi di sebuah cafe, di Boston yang pengunjungnya hanya tujuh pasang kaki (tujuh orang). Si negro tua sambil bernyanyi dan memetik gitar menyanyikan tentang Georgia tempat tinggalnya yang jauh yang digambarkan di sana didapati gubug-gubug kaum negro yang atapnya bocor dan masih banyak ditemukan cacing dan pellagra. Yang jelas, daerah tempat tinggal si negro tua adalah lingkungan kumuh dan tidak sehat. 

Sabtu, 13 Agustus 2016

All You Need Is Love (20)

Jangan Jadi Kapitalis

Subagio S.Waluyo
Di dekat rumah saya ada sebidang tanah. Luasnya sekitar 200 m2. Tanah itu oleh pemiliknya dibangun rumah-rumah kontrakan. Bagian depan, sekitar 60 m2 semula tidak dibangun. Dalam hati saya bersangka baik saja: “Mudah-mudahan tanah yang tersisa itu untuk halaman rumah.” Ternyata, sangka baik saya secara perlahan-lahan harus diganti dengan persangkaan yang kurang baik karena belakangan tanah yang tersisa itu pun dibangun untuk tambahan rumah kontrakan. Praktis tanah yang luasnya 200 m2 itu tidak menyisakan halaman rumah! Saya hanya mengurut dada seraya berkata (hanya dalam hati): “Serakah benar pemilik tanah ini. Karena di benaknya yang ada hanya uang, sampai demikian teganya tidak terpikirkan efek yang akan muncul dengan membangun rumah kontrakan tanpa halaman rumah!”  

Rabu, 10 Agustus 2016

All You Need Is Love (19)

Naik Kereta Api..Tut..Tut..Tuut

Subagio S. Waluyo

Entah mengapa sampai usia menjelang kepala enam ini masih saja ada ketertarikan saya dengan kereta api. Setiap kali mendengar kata `kereta api` ada sesuatu yang menggelitik saya untuk membacanya kalau itu memang berkaitan dengan beritanya atau paling tidak berupaya melihat atau menontonnya. Untuk membaca beritanya di zaman  kiwari ini tidak perlu beli media cetak, cukup dengan minta pertolongan `Mbah Google` dengan mengetik `kereta api` sudah bisa di-browsing sampai ditemukan isi tulisan utuhnya. Saya tinggal memilih dari sekian banyak tulisan atau paling tidak saya kunjungi website-nya. Begitu juga kalau saya mau menonton aktivitas tentang perkeretaapian, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional saya tinggal klik Youtube dan ketik kereta api, misalnya: kereta api Indonesia, segera terhidang sekian banyak film tentang aktivitas perkeretaapian. Seringkali saya harus berbagi dengan anak atau cucu saya untuk menyaksikan tayangan perjalanan kereta api (KA). Sesuatu yang membuat saya terhibur dengan menonton tayangan tersebut

Selasa, 09 Agustus 2016

All You Need Is Love (18)

Kota Anak-Anak Alfa

Subagio S. Waluyo

Masa kecil saya banyak diisi dengan aktivitas bermain. Di benak saya ketika itu tidak ada pikiran lain kecuali bermain. Buat saya dengan bermain pada waktu itu ada rasa kepuasan diri yang tidak ternilai. Kalau ditanya tentang waktu-waktu saya belajar di  luar sekolah, sedikit sekali waktu saya untuk belajar. Belajar hanya dilakukan di malam hari. Itu pun selesai belajar (yang hanya paling lama satu jam), ya bermain lagi sampai datang rasa kantuk atau capai baru selesai bermain. Itulah dunia masa kecil saya, masa kecil yang merasa puas bila diisi dengan bermain.  

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...