Jumat, 30 Mei 2014

Kebahasaan dan Kesastraan (23)

BAGAIMANA NANTI VERSUS NANTI BAGAIMANA

Subagio S. Waluyo


/a/
Melihat judul di atas, saya yakin ada orang yang beranggapan bahwa `bagaimana nanti` lebih layak digunakan daripada `nanti bagaimana`. Ada juga yang beranggapan bahwa `nanti bagaimana` lebih layak digunakan daripada `bagaimana nanti`. Meskipun demikian, ada juga yang tidak mau ambil pusing, kedua-duanya baik `bagaimana nanti` maupun `nanti bagaimana` sama saja artinya. Khusus untuk pendapat yang ketiga ini ada anggapan bahwa hal itu lebih disebabkan penempatan kedua kata itu saja yang dipertukarkan tempatnya. Tentang artinya tidak ada perbedaan yang substansial. Tulisan ini lebih cenderung untuk memasalahkan pendapat yang ketiga ini agar semua orang tahu bahwa kedua frase tersebut jelas-jelas berbeda dari sisi muatan yang terkandung di dalamnya.

Sabtu, 03 Mei 2014

All You Need Is Love (16)

KECERDASAN SPIRITUAL DAN POLITIK BAGI-BAGI UANG

Subagio S.Waluyo

(1)
Pemilu Pileg 2014 ditandai dengan adanya fenomena money politic (politik bagi-bagi uang) yang dilakukan aktor-aktor politik, calon anggota dewan (CAD) baik yang baru mau masuk parlemen (tingkat DPRD II, DPRD I, dan DPR) maupun yang tergolong incumbent (patahana). Politik bagi-bagi uang untuk Pemilu Pileg 2014 ini tergolong terbesar jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu pileg terdahulu di masa reformasi. Politik bagi-bagi uang ini dilakukan oleh semua partai politik (parpol) tidak terkecuali parpol yang semula tidak melakukan praktek politik bagi-bagi uang untuk saat ini demi memperoleh kursi di parlemen terpaksa melakukannya. Untuk itu, tidaklah aneh ketika Sebastian Salang beberapa waktu lalu di acara Indonesian Lawyer Club (ILC) yang biasa ditayangkan oleh TV One menantang para peserta yang umumnya dari para pengurus parpol untuk mengangkat tangannya kalau partainya tidak melakukan politik bagi-bagi uang, tidak ada satu pun di antara para peserta yang berani mengangkat tangannya. Dengan demikian, sudah bisa disimpulkan bahwa fenomena praktek politik bagi-bagi uang telah dilakukan oleh semua parpol.

Rabu, 16 April 2014

Artikel Administrasi Publik (10)

IMPLIKASI SYAHWAT POLITIK

Subagio S.Waluyo



/1/
Pada tulisan terdahulu (lihat tentang “Implementasi Syahwat Politik”) telah diuraikan bahwa praktek-praktek kotor dengan cara mengimplementasikan syahwat politik jelas-jelas tidak akan bisa meningkatkan kapasitas negara atau daerah. Dengan kata lain, untuk bisa memberdayakan daerah tidak bisa dilakukan dengan mengimplementasikan syahwat politik karena cara-cara seperti itu jelas-jelas telah mencederai demokrasi (lihat tulisan tentang “Instrumen Syahwat Politik”). Agar pemberdayaan daerah bersih dari penyakit syahwat politik, siapapun orangnya yang mau menjadi penguasa harus menegakkan sekaligus menerapkan nilai-nilai demokrasi. Dari nilai-nilai demokrasi yang benar-benar ditegakkan dan diterapkan akan menghasilkan good governance (GG). Kalau memang di setiap daerah di negara ini benar-benar ada orang yang `serius` menerapkan prinsip-prinsip GG, tidak ada lagi budaya patron-klien (PK) yang boleh jadi merupakan `warisan` dari implementasi syahwat politik yang tidak terkendalikan. Budaya PK merupakan batu sandungan dalam penegakan dan penerapan prinsip-prinsip GG (lihat tulisan tentang “Good Governance dan Budaya Patron-Klien”).     

Jumat, 11 April 2014

Artikel Agama (23)


KARAKTERISTIK KEHIDUPAN SAHABAT RASUL SEBAGAI SARANA DAKWAH, JIHAD, TARBIYAH,DAN TAZQIYATUN NAFS




Gambar Kartun Sahabat Rasulullah saw
Merekalah yang telah mendapat petunjuk Allah, dan merekalah yang memiliki akal (Az-Zumar : 18).
Di antara orang-orang mu`min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.  Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya (Al-Ahzab : 23).
 Hai jiwa yang tenang.  Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku 
(Al-Fajr : 27-30)

Artikel Administrasi Publik (09)

INSTRUMEN SYAHWAT POLITIK

Subagio S. Waluyo


/1/
Pada tulisan terdahulu (lihat “Implementasi Syahwat Politik”) telah diuraikan bahwa untuk melenggangkan syahwat politik di antaranya  melalui praktek-praktek kotor, di antaranya melalui lembaga-lembaga survai (LS) melalui quick count (QC) yang memang telah dibayar untuk itu. Di Indonesia LS atau lembaga-lembaga sejenis  yang berkaitan dengan penelitian (boleh jadi LS tersebut juga dari kalangan perguruan tinggi yang para akademisinya telah melacurkan diri sehingga sangat-sangat mungkin melanggar etika akademis) sampai saat ini belum terakreditasi. Kalau lembaga-lembaga pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan perguruan tinggi (PT) telah taat asas setiap lima tahun sekali untuk melakukan akreditasi, tidak demikian halnya dengan lembaga-lembaga swasta yang berhubungan dengan penelitian, seperti LS dan sejenisnya yang justru tampaknya menghindari adanya akreditasi. Sampai saat ini pun belum ada asosiasi atau semacam organisasi yang bertujuan mengikat mereka dalam satu wadah sejenis. Patut diduga dengan adanya asosiasi  mau tidak mau mereka juga harus siap diakreditasi sehingga mereka sepakat tidak perlu adanya asosiasi.

Rabu, 09 April 2014

Artikel Administrasi Publik (08)

IMPLEMENTASI SYAHWAT POLITIK

Subagio S.Waluyo


/1/
Dimaksudkan dengan syahwat politik ialah seorang pemimpin yang masih punya ambisi atau keinginan berkuasa, boleh juga, mempertahankan kekuasaannya meskipun untuk itu harus melakukan berbagai cara baik cara yang legal maupun ilegal (tidak lazim). Orang yang masih punya ambisi untuk berkuasa boleh-boleh saja asal selama ini orang seperti itu tidak pernah bikin permasalahan yang merugikan negara atau rakyat yang dipimpinnya. Selama dia jadi pemimpin di suatu daerah atau negara sekalipun, kondisi daerah atau negaranya semakin baik. Indikasi dari semakin baiknya kondisi negara atau daerah yang dipimpinnya salah satunya adalah negara atau daerah yang dia pimpin tidak mengalami kebangkrutan. Negara atau daerah yang dia pimpin tidak memiliki beban moral untuk membayar hutang karena hutang-hutangnya telah terlunasi. Selain itu, ini yang lebih penting, rakyat yang dia pimpin semakin sejahtera. Indikasi kalau rakyatnya sejahtera, mereka cukup sandang, pangan, dan papan. Mereka tidak ada masalah dengan masalah ekonomi. Begitu juga dengan masalah kesehatan, mereka benar-benar tergolong sehat wal afiat karena negara atau daerah telah menjamin sepenuhnya biaya-biaya kesehatan. Dalam hal pendidikan tidak ada satu pun warganya yang putus sekolah di tengah jalan karena biaya pendidikan sepenuhnya ditanggung oleh negara atau daerah. Cukup itu saja. Jadi, tidak perlu rumit-rumit untuk menilai bahwa dia pemimpin yang berhasil.

Artikel Administrasi Publik (07)

GOOD GOVERNANCE DAN BUDAYA PATRON-KLIEN

Subagio S.Waluyo

Bangsa manapun di dunia ini pasti suka dengan `good governance`. Makhluk yang satu ini telah menyihir seluruh bangsa untuk mengimplementasikannya dalam aktivitas mengelola negara atau pemerintahan. Dia demikian hebat bisa menyihir seluruh bangsa di dunia karena kalau ditilik dari definisinya juga menarik. Good governance yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai tata kelola pemerintahan yang baik bagaimana tidak membikin tergiur bangsa-bangsa di dunia ini karena sekurangnya ada dua lembaga internasional yang merumuskan definisinya. UNDP merumuskan good governancesebagai pelaksanaan kewenangan/kekuasaan di bidang ekonomi, politik, dan administrasi untuk mengelola berbagai urusan negara pada setiap tingkatannya dan instrumen kebijakan negara untuk mendorong terciptanya kondisi kesejahteraan, integritas, dan kohesivitas sosial dalam masyarakat. Masih menurut UNDP, good governance ialah kepemerintahan yang mengembangkan hubungan yang sinergis dan konstruktif diantara negara, swasta dan masyarakat. Sedangkan World Bank (Bank Dunia) merumuskan good governance sebagai penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran korupsi, menjalankan disiplin anggaran serta menciptakan legal and political frameworks bagi tumbuhnya aktivitas kewiraswastaan. Sedangkan  PP 101 tahun 2000  tentang Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil mendefinisikan good governance sebagai kepemerintahan yang mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektifitas, supremasi hukum, dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat.

All You Need Is Love (15)

LELAH DAN LENGAH

Subagio S.Waluyo


Kata `lelah` sudah melekat dalam hidup kita sejak kita lahir. Lelah dalam hal ini jelas tertuju pada fisik. Suatu hal yang wajar kalau fisik kita suatu saat mengalami kelelahan. Semakin tua, semakin cepat fisik ini merasa lelah. Hal ini jelas merupakan sunnatullah yang tidak bisa kita hindari. Kalau kita sudah mengalami kelelahan (fisiknya), tidak ada cara lain memang sudah saatnya kita harus beristirahat. Fisik yang lelah solusinya jelas harus mengistirahatkan fisik. Tapi, dalam hidup kita sehari-hari mungkinkah hanya fisik yang lelah? Ternyata, hati ini juga mengalami kelelahan. Kalau hati yang lelah apakah sama dengan fisik solusinya? Apakah hati ini perlu diistirahatkan? Ternyata, bisa berbeda jawabannya. Justru, hati ini tidak boleh kosong atau menganggur. Hati ini harus disibukkan dengan dzikir pada Allah SWT. Insya Allah dengan hati yang banyak berdzikir kita tidak mengalami kelelahan hati.

All You Need Is Love (14)

BLINDSPOT

Subagio S. Waluyo

Kita hidup membutuhkan cermin. Dengan cermin kita bisa melihat sendiri wajah kita. Apakah sudah tampak kerut-kerut di wajah kita? Apakah ada noda-noda hitam di wajah kita? Kalau seorang lelaki, apakah kumis dan janggut (kalau memang memelihara janggut) sudah berubah warnanya? Yang semula hitam menjadi putih (beruban)? Ketika kecil kita bercermin, mungkin kita tidak peduli dengan wajah kita? Tetapi, dari hari ke hari seiring dengan bertambahnya umur memasuki masa-masa pubertas kita akan mengomentari diri kita. Remaja laki-laki yang berwajah tampan atau ganteng akan mengomentari `Wow, betapa tampannya aku!`. Dia tiba-tiba saja jadi narsis karena melihat wajahnya sendiri. Begitu pun remaja perempuan ketika melihat di cermin wajahnya yang cantik akan mengomentari `Wow, betapa cantiknya aku!`. Semua anak manusia memasuki masa-masa pubertas tiba-tiba saja jadi lupa diri. Mereka menjadi narsis.

Artikel Agama (22)

KESOLEHAN DAN KESOSIALAN

 Gambar kartun orang soleh dan sosial


Apa yang terkandung dalam Surat Al-Maun? Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur`an menyatakan bahwa agama Islam merupakan sistem yang saling melengkapi karena ada interaksi ibadah dan syiar-syiarnya dengan tugas-tugas individual dan sosialnya. Dengan kata lain, menurut Sayyid Quthb, Islam sebagai rahmatan lil alamin hadir untuk kepentingan manusia dengan tujuan mensucikan hati, memperbaiki kehidupan, dan tolong-menolong sesama manusia dalam hal kebaikan, kesolehan, dan perkembangan manusia (masyarakat). Bahkan, menurut Sayyid Quthb, hakikat iman itu (apabila memang sudah benar-benar meresap di dalam hati manusia) akan bergerak merefleksikan dirinya dalam amal soleh. Jadi, kalau tidak ada amal soleh berarti hakikat iman pada diri  manusia itu belum terwujud.

All You Need Is Love (13)

GURU ADA, GURU TIADA

 Subagio S. Waluyo
Judul tulisan ini terinsipirasi dari judul kumpulan puisi yang disunting oleh Irwan Rinaldi, yaitu Ayah Ada, Ayah Tiada. Meskipun dari judul ada kemiripan (hanya berbeda objek, yaitu ayah dengan guru), isi tulisan ini Insya Allah sama sekali tidak mengutip isi yang terdapat pada kumpulan puisi tersebut. Mungkin ada pertanyaan `mengapa mengangkat judul seperti itu?` Ada apa sebenarnya dengan guru sehingga mengangkat judul yang (mungkin) berbau sarkasme? Kedua pertanyaan itulah yang akan diungkapkan dalam tulisan ini supaya setiap orang tua tahu tentang fungsi dan peranan guru saat ini.

All You Need Is Love (12)

BERPIKIR ILMIAH

Subagio S. Waluyo

1.0 Di Seputar Berpikir Ilmiah
             Apa itu berpikir ilmiah?  Sebuah pertanyaan singkat sengaja diajukan di sini karena selama ini kita (anggap saja) belum tahu persis tentang berpikir ilmiah.  Untuk memberikan jawaban pertanyaan di atas, coba Anda lihat bagan Proses Modernisasi yang dibuat oleh Jujun Suria Sumantri (Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, 1988).  Di Nilai Teori, Anda akan mendapati betapa jauh berbeda Nilai Teori yang terdapat pada masyarakat tradisional dengan masyarakat modern.  Kalau Anda mengukur ke dalam diri sendiri, apakah Anda termasuk ke dalam masyarakat tradisional atau masyarakat modern?  Jika Anda sudah bisa mengukurnya, berarti Anda telah melakukan proses berpikir  ilmiah.  Kalau begitu (kita teruskan pertanyaan di atas) apa itu berpikir ilmiah?  Jika Anda masih belum bisa menyimpulkannya sebaiknya kita lihat dulu uraian di bawah ini.

Rabu, 01 Januari 2014

All You Need Is Love (11)

Sekilas tentang Manusia


Masalah manusia adalah masalah yang tidak pernah selesai-selesainya untuk dibicarakan karena objek yang dibicarakan adalah juga subjek yang membicarakannya (Karisma, 1985:iii). Dengan kata lain, baik yang dibicarakan maupun yang membicarakannya adalah sama, yaitu manusia itu sendiri. Di sisi lain, membicarakan manusia adalah membicarakan makhluk Tuhan yang unik. Ia dikatakan unik karena khusus makhluk Tuhan yang satu ini memang dikaruniakan Tuhan dengan memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain di dunia ini. Manusia dikatakan makhluk unik karena hanya manusia di muka bumi ini yang mempersoalkan problematika kehidupannya. Problematika kehidupan manusia sepanjang zaman di antaranya menyangkut tentang posisinya dalam papan catur kehidupan, posisinya terhadap alam dan Tuhannya, batas kehidupannya, yang harus dilakukan kepada sesamanya, tujuan diciptakannya manusia, hak dan kewajibannya setelah diciptakannya, dan keberadaan manusia sesudah mati. Problematika itulah yang pada akhirnya melahirkan berbagai pandangan, aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan agama. Semua orang yang terlibat di dalamnya – yang berangkat dari berbagai sisi tersebut – berusaha memberikan jawaban terhadap problema tersebut. Sebelum kita menjawab berbagai problematika kehidupan manusia yang selalu ada di sepanjang zaman, ada baiknya kita mendefinisikan dulu pengertian manusia. Apa itu manusia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba kita simak puisi Chairil Anwar berikut ini.

All You Need Is Love (10)

KEADILAN — KETERTIBAN —KESEJAHTERAAN




/1/

Di banyak literatur selalu kata keadilan berkaitan dengan dua sisi, yaitu hukum dan sosial. Keadilan hukum akan berujung pada ketertiban. Sementara itu, keadilan sosial akan berujung pada kesejahteraan. Kalau keduanya bisa ditegakkan akan terwujud civil society `masyarakat madani`. Atau syarat mutlak untuk bisa mewujudkan masyarakat madani` harus dimulai dari menegakkan keadilan. Apakah negara ini sudah menegakkan keadilan? Keadilan apa? Hukum atau sosial atau kedua-duanya atau tidak kedua-duanya? Jawabannya, kedua-duanya (keadilan hukum dan sosial) belum dilaksanakan! Kata orang, “Jauh api dari panggang” sehingga yang mau dipanggang tidak matang-matang. Jadi, yang mau diwujudkan tidak pernah terlaksana. Kenapa? Kata Ebiet, “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”. Kalau begitu, apa yang pas jawabannya? Au ah gelap! Itu jawaban orang yang sudah frustrasi atau sudah tidak peduli karena harus bertanya pada rumput yang bergoyang. Apakah rumput yang bergoyang bisa memberikan jawaban? Karena Ebiet yang memunculkan pernyataan itu, sebaiknya coba bertanya pada Ebiet G. Ade. Syukur-syukur ada jawabannya.

Artikel Administrasi Publik (06)



Afiliasi – Partisipasi – Kontribusi

                                                      

(I)

Judul tulisan ini terus terang saja terinspirasi dari tulisan Anis Mata dalam Delapan Mata Air Kecemerlangan. Di buku tersebut yang cukup menarik untuk dijadikan inspirasi dalam tulisan ini terutama pada butir yang menyatakan bahwa untuk mewujudkan model manusia Muslim harus ditempuh tiga langkah, yaitu afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Ketiga langkah tersebut yang merupakan prasyarat untuk mewujudkan model manusia Muslim, bisa juga dijadikan prasyarat untuk model-model manusia yang dikaitkan dengan bidang-bidang kehidupan manusia. Di bidang pelayanan publik, misalnya, berkaitan dengan hal itu seorang birokrat selayaknya juga harus memenuhi ketiga langkah di atas agar menjadi birokrat yang siap melayani publik. Mungkin akan ada pertanyaan mengapa dan bagaimana melakukan ketiga langkah itu? Uraian berikut ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Artikel Agama (21)

ALLAH MASIH MENUTUP AIB KITA


Ketika di bulan Ramadhan, kita memenuhi bulan yang suci itu dengan berbagai aktivitas ibadah. Kita mengisi kurikulum yang telah kita susun. Hasilnya, bulan Ramadhan menampakkan diri sebagai bulan yang benar- benar penuh dengan limpahan rahmat, maghfiroh, dan (insya Allah) menjadikan hamba-Nya itqum minan naar. Ketika ramadhan itu berakhir, apakah kita meneruskan kurikulum yang telah kita susun di luar bulan suci itu? Rasa-rasanya kita tidak pernah lagi mengisinya. Bahkan, banyak sekali aktivitas ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan bukan saja berkurang, tetapi juga kita tidak lakukan lagi.

Artikel Agama (20)



BERLINDUNG DARI 5 K


Prolog

Tulisan ini berangkat dari Sabda Nabi Muhammad SAW dari Anas yang merupakan do`a yang disampaikan Rasulullah SAW. Isi do`a tersebut adalah:

“Ya, Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, berlindung kepada-Mu dari bencana kehidupan (dunia) dan bencana (setelah) kematian” (HR. Asy-Syaikhani).

Dari do`a di atas kita dapati ada 5 K, yaitu kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Kelima K tersebut jelas menunjukkan hal-hal yang negatif bagi seorang Muslim sehingga sangat layak kalau kita berdo`a mohon perlindungan pada Allah SWT. Selain itu, juga kita perlu berlindung dari siksa kubur, bencana kehidupan, dan bencana setelah kematian. Namun, dalam kesempatan ini kita akan lebih menekankan pada 5 K di atas.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...