Kamis, 19 Februari 2026

Bahasa dan Sastra (244)


Berakhirnya Bunglon 
di Pohon Kekuasaan

 Cerpen

 Subagio S.Waluyo

 

          Aku bunglon. Aku bisa berubah warna sesuai dengan tempat aku hinggap. Aku bunglon yang hinggap dari satu pohon kekuasaan ke pohon kekuasaan berikutnya begitu seterusnya. Sampai saat ini aku masih menghidupkan diri sebagai bunglon yang menikmati hidup dari pohon-pohon kekuasaan yang aku hinggapi. Kalau pohon kekuasaan yang satu tiba-tiba saja layu, aku segera hinggap di pohon kekuasaan yang lain. Aku tinggalkan ekorku di pohon kekuasaan yang layu itu. Banyak orang yang tidak bisa menangkapku. Mereka hanya menangkap ekorku yang tertinggal di pohon kekuasaan yang kutinggalkan.

          Aku tidak pernah tersinggung jika ada orang menyebutku bunglon. Aku memang bunglon, kok! Makanya aku rela  jika aku sama seperti tokoh-tokoh bunglon di dunia ini. Silakan saja ada orang yang bikin daftar orang-orang bunglon dari abad ke abad, masukkan aku ke dalam daftar itu, pasti aku terima. Buatku tidak ada masalah kalau namaku dicantumkan sebagai salah satu bunglon. Aku tidak perlu melempar ke orang lain stigma buruk itu. Aku sekali lagi siap menerima sebutan bunglon titik. Kenapa stigma buruk itu aku terima? Buatku menjadi bunglon kata orang `sesuatu banget`. Ya, `sesuatu banget` karena aku saat ini benar-benar merasakan hidup ini semuanya serba mudah dan nikmat. Aku tidak perlu kerja keras. Aku cukup kasih instruksi ke bawahanku kalau ada orang-orang yang mulai membahayakan keberadaanku. Atau aku cepat-cepat cari pohon kekuasaan yang sekiranya bisa buat aku selamat. Untuk bisa selamat, apalagi kalau bukan menjadi penjilat di pohon kekuasaanku yang baru.

***

          Aku tidak tahu, apakah menjadi bunglon lebih merupakan talentaku yang memang sudah ada sejak aku lahir? Seingatku, dulu aku termasuk orang baik-baik. Aku lahir dari keluarga orang-orang yang taat beribadah. Sejak sekolah di bangku SD sampai ke perguruan tinggi aku termasuk anak yang berprestasi. Aku bisa selesaikan studi S3 dengan predikat summa cumlaude di Monash University. Selama aku kuliah S2 dan S3 aku sama sekali tidak mengeluarkan biaya karena aku mendapat beasiswa penuh. Aku kecewa saja ketika kembali ke tanah air kenaikan pendapatanku tidak seimbang dengan gelar S3 yang kuperoleh dari perguruan tinggi ternama di Australia. Makanya aku mencoba peruntungan di dunia politik dengan benar-benar terjun menjadi seorang politikus walaupun aku harus menjadi bunglon.

          Sampai aku dewasa, menikah, dan punya keturunan aku belum menjadi bunglon. Aku menjadi bunglon setelah mulai menikmati hidup di bawah pohon kekuasaan. Aku ingat ketika istriku marah besar padaku karena aku resign sebagai dosen memilih menjadi politikus. Aku menjadi politikus karena mau mengubah nasib. Aku tidak mau hidup terus-terusan dengan kondisi ekonomi yang tidak akan menjadikan aku kaya. Sebagai dosen dengan latar belakang pendidikan S3, buatku gaji yang aku terima pada waktu itu terbilang kecil. Semua alasan yang aku sampaikan ke istriku ditolak mentah-mentah. Saking marahnya, istriku mengusirku dari rumahnya (rumah tempat aku tinggal memang milik istriku).

“Saudara Deni (dia tidak menyebutku `Ayah` seperti biasanya), silakan bawa semua tas dan koper ini. Dulu Saudara Deni datang ke rumah ini cuma bawa tas dan pakaian yang melekat di badan. Sekarang juga silakan bawa semua ini”, sambil berkata begitu istriku langsung membanting pintu seraya sekalian menguncinya.

“Bu!, Ibu!, tega-teganya mengusirku!”, aku berteriak sejadi-jadinya. Tetangga-tetangga rumah hanya bisa diam. Mereka hanya melihat dari kejauhan. Tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka cuma tahu aku diusir dari rumah istriku. Sementara anak-anakku tidak ada seorang pun yang melihatku diusir. Rupanya mereka sudah dikondisikan oleh istriku. Karena istriku di dalam rumah bergeming dan tidak ada reaksi sama sekali dari dalam rumah, aku tinggalkan rumahku. Aku bawa semua tas dan koper. Aku terseok-seok membawa tas dan koper di bawah tatapan tetangga-tetangga rumahku yang tidak bisa berbuat apapun buatku. Mereka hanya menyimpan tanya `ada apa denganku?`. Aku segera menuju ke apartemen yang memang telah disediakan temanku sesama bunglon.

   Temanku sesama bunglon menyambutku dengan penuh antusias. Dia memelukku erat seraya membisikkan sesuatu.

“Kau akan jadi politikus terkenal. Aku sudah lihat talentamu memang ke arah sana. Selamat datang di dunia Politik, Deni!”, sambil senyum semringah temanku sesama bunglon menerima kehadiranku.

“Terima kasih. Tapi, aku sedih karena harus meninggalkan keluarga”, kataku penuh haru.

“Sudahlah Den, jangan disedihkan lagi. Kita harus bikin pesta kecil untuk menyambutmu supaya kesedihanmu hilang. Kalau kau kesepian, nanti ada yang siap menemanimu. Kau ingat `kan Linda, gadis mungil yang naksir kau?”, tanya temanku setengah berbisik.Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Nanti kita undang ke pesta kecil kita”, kata temanku menyemangatiku.

“Sekarang kamu masukkan semua pakaian yang ada dalam tas dan kopermu ke lemari yang telah kusediakan”, perintah temanku.

     Aku segera menuruti perintahnya. Sambil memasukkan pakaian ke dalam lemari aku masih mengingat-ingat kejadian tadi pagi ketika aku diusir oleh istriku. Buatku pengusiran ini sesuatu yang menyakitkan. Aku harus membalas dendam padanya. Aku akan melampiaskan dendamku bukan dalam bentuk menyakiti fisiknya. Tapi, aku akan menerornya lewat perbuatan burukku supaya dia tahu betapa sakitnya seorang kepala rumah tangga diusir dari rumahnya di bawah tatapan para tetangga rumah yang tentu saja menaruh curiga padaku. Aku harus mulai mengatur strategi apa saja yang harus aku perbuat biar dia tambah sakit hati dengan perbuatanku. Sejak aku menempati apartemen yang disedikan temanku, aku telah mulai memasuki dunia penuh gegap gempita yang orang sebut sebagai `dugem` dan sekaligus dunia politik yang penuh tipu daya. Aku campakkan dunia rumah tangga. Aku puasi hidupku di dua alam, dugem dan politik. Di dugem aku yang dulu dikenal pria-pria baik saja, kini adalah pria flamboyan yang siap merayu dan meniduri perempuan-perempuan yang bersedia kusetubuhi. Aku yang dulu tidak pernah memasuki tenggorokanku dengan minunam yang membakar tenggorokan dan perutku, kini entah berapa botol telah aku habiskan. Kini sehabis rapat-rapat di DPR yang penuh kepenatan, aku akhiri dengan mampir ke klub-klub malam apalagi kalau bukan dugem. Ah, aku benar-benar menikmati dugem. Semua yang aku lakukan ku unggah ke WA istriku. Aku hanya dikomentari`norak`. Selalu begitu komentarnya sampai-sampai aku bosan mengunggahnya lagi. Ternyata, strategiku meneror istriku tidak mempan.

      Di dunia politik aku benar-benar sekarang bermuka dua, berstandar ganda, dan aku kini adalah bunglon. Aku tunjukkan sikapku sebagai bunglon di depan ribuan pendukungku yang aku akui kemampuan intelektualnya tidak memadai. Di hadapan mereka aku umbar-umbar janji akan memberikan kesejahteraan termasuk memberikan beasiswa buat pendukungku yang tergolong miskin sambil aku sawer uang dan kaos. Tapi, begitu aku bisa melenggang ke gedung kura-kura segera aku lupakan janjiku. Toh, aku juga yakin pendukungku termasuk orang-orang yang pendek memorinya.

     Perilaku bunglonku juga aku tunjukkan di forum-forum yang diliput oleh sekian banyak, baik di berbagai media mainstream maupun medsos bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga di tingkat internasional. Aku terbiasa jadi narasumber atau pembicara dari kalangan anggota dewan terhormat yang berlatar belakang pendidikan S3 Public Policy and Management Monash University yang bahasa Inggrisnya berstandar internasional tergolong mahir atau dalam istilah kerennya disebut C2 Proficient (CEFR). Karena latar belakang pendidikanku dari perguruan tinggi ternama di Australia ditambah lagi dengan referensiku di bidang politik terbiasa melahap buku-buku dari penulis dan peneliti kenamaan dari mancanegara aku selalu bisa mematahkan lawan-lawanku. Sebagai anggota dewan dari kalangan akademis, aku juga pernah menulis buku-buku politik. Aku juga pernah melakukan banyak penelitian dan menulis jurnal tingkat internasional. Bahkan, aku ketika masih aktif sebagai dosen juga biasa diundang sebagai pembicara mewakili perguruan tinggi di forum-forum nasional dan internasional. Namun yang pasti, tentu saja sebelum aku dipilih oleh rakyat pendukungku, aku dipilih oleh para pimpinan partai politik karena bukan semata dari latar belakang pendidikan dan pekerjaanku dulu sebagai dosen, tetapi juga kemampuan retorikaku ketika berbicara dan berargumentasi. Berkat kemampuan bicaraku yang bisa mematahkan orang-orang yang menjadi lawanku, namaku sebagai politikus semakin melambung.

***

     Tidak terasa aku telah memasuki priode ketiga sebagai anggota dewan. Aku telah meninggalkan keluarga lebih dari sepuluh tahun. Selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah satu rupiah pun uang yang kuperoleh dari hasil kerja kerasku sebagai bunglon dikirim ke keluargaku. Bukan aku pelit. Tapi, karena memang istriku tidak mau menerimanya. Dia pernah mengatakan uang yang kuperoleh dari hasil kerjaku sebagai bunglon adalah uang yang sudah berbaur antara halal dan haram. Aku pernah diam-diam mentransfer ke rekening anak-anakku, tapi begitu mereka tahu langsung istriku segera mengembalikannya. Istriku bukan hanya mengembalikan uangku, tapi juga menyampaikan kata-kata yang sarkasme padaku. Meskipun istriku benar-benar menunjukkan sikap ketidaksukaannya padaku, aku tidak pernah membalasnya. Aku tetap tenang. Aku tidak terusik dengan ucapannya yang cenderung sarkasme.

      Istriku dari ucapan-ucapannya memang sarkasme. Tapi, di acara-acara keluarga dia selalu minta padaku untuk hadir. Aku tidak perlu jual mahal. Aku segera menuruti kemauannya. Di acara-acara keluarga, aku, istriku, dan anak-anakku berpura-pura menunjukkan kebahagiaan. Seusai acara, istriku segera memintaku meninggalkan rumah. Aku pun kembali ke kehidupanku sebagai bunglon. Semua yang aku, istriku, dan anak-anakku lakukan yang penuh dengan kepura-puraan itu akhirnya terbongkar juga. Begitu mereka tahu kalau aku sudah tidak lagi tinggal satu rumah dengan istri dan anak-anakku, aku tidak pernah lagi kumpul-kumpul dengan istri dan anak-anakku. Aku ingat hanya dua kali aku terpaksa kumpul dengan mereka ketika aku menjadi wali sekaligus menjadi pasangan suami istri di panggung pernikahan anak-anakku. Selesai acara seperti biasa aku kembali menjadi laki-laki yang telah ditunggu teman kumpul keboku.

     Memasuki tahun pertama di periode ketiga ini ada sedikit keresahan yang akhir-akhir ini menggelayutiku sebagai bunglon. Aku selalu dikejar-kejar mimpi buruk. Memang, semua mimpi buruk itu bisa terselesaikan dengan rayuan-rayuan gombal teman kumpul keboku. Namun, itu hanya sementara karena di malam-malam berikutnya aku tetap saja dikejar-kerja mimpi serupa. Aku coba konsul ke psikiater ternama. Tetap saja tidak ada jalan keluar yang terbaik. Bahkan, ke `orang-orang pintar` yang katanya ada orang yang iri dan sengaja menjatuhiku yang kemudian seusai itu aku diberikan berbagai macam ajimat, mimpi-mimpi seramku tidak pernah terhenti. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan rayuan gombal perempuan-perempuan yang aku tiduri. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh berbotol-botol miras yang masuk ke tenggorokanku sampai setiap malam sebelum tidur aku selalu masuk ke kamar tidur dalam kondisi teler. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh cara-cara medis yang memberikan suntikan ke tubuhku yang ternyata hanya memberikan ketenangan sesaat. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh `orang-orang pintar` yang menjampi dengan doa-doa yang tidak kumengerti bahasanya disertai dengan ajimat-ajimat yang ternyata penuh dengan kepalsuan. Mimpi-mimpi burukku yang tidak terhenti itu yang membawaku akhirnya ke rumah sakit jiwa. Aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa karena ketika aku baru selesai berzina, aku ternyata membunuh perempuan panggilan. Aku benar-benar tidak sadar ketika membunuhnya. Aku terus meracau yang tidak dimengerti ucapannya oleh orang-orang yang menangkapku. Karena diduga sakit jiwa, aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa ini. Ah, sang bunglon yang menjadi pembunuh, kini dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Aku jadi penghuni rumah sakit jiwa bersama ratusan orang penderita penyakit jiwa yang ada di situ. Aku tidak tahu berapa lama aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Selama aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa seingatku hanya sekali istri dan anak-anakku mengunjungiku. Meski hanya sekali dan sebentar kedatangan mereka membuat aku terhibur.

     Aku kini benar-benar lupa hari, tanggal, bulan, dan tahun. Mimpi-mimpi buruk yang dulu mengejar-ngejarku sudah mulai berkurang. Mungkin obat penenang yang selalu disuntikkan dan diminum setiap hari. Aku kini sudah mulai tenang. Satu hal saja yang aku ketahui kalau aku sekarang bunglon sekaligus pembunuh. Aku sudah siap menanggung resiko akibat perbuatanku. Dan ternyata, aku dipecat sebagai anggota dewan dan pengurus partai. Aku kini bukan lagi menjadi bunglon. Aku kini merasa bebas. Tapi, satu hal lagi yang harus aku lakukan akibat tindakan kriminalku. Itu pun aku sudah siap. Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku di pengadilan karena biar bagaimanapun aku adalah pembunuh. Aku telah menghabisi nyawa orang walaupun itu aku lakukan dalam kondisi tidak sadar.

***

      

      Aku kini bukan lagi menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Aku menjadi pesakitan yang menunggu pengadilan. Aku sekarang menjadi orang hukuman di lapas. Di lapas inilah aku mulai menyadari kesalahanku. Pelan-pelan aku di bawah bimbingan pembina rohani di lapas mulai mengerjakan kewajibanku sebagai hamba Allah. Aku kini benar-benar ingin bertobat. Aku siap menerima hukuman yang akan ditimpakan padaku sebagai pembunuh. Aku saat ini menunggu pengadilan yang siap mengadiliku. Di saat-saat aku menunggu, ada kegembiraan ketika istri, anak-anakku, menantu-menantuku, dan cucu-cucuku mengunjungiku. Saking gembiranya aku melihat kedatangan mereka, tak terasa air mata ini bercucuran. Di akhir kunjungan istriku sempat berpesan.

“Yah, ibu, anak-anak, menantu-menantumu, dan cucu-cucumu akan tetap menunggu sampai ayah menghabisi masa hukuman di penjara. Semua harta yang ayah peroleh selama menjadi bunglon akan ibu sumbangkan ke lembaga amal kemanusiaan yang siap menerimanya. Ayah nanti selepas menjalani hukuman kembali pada keluarga. Kembali pada pekerjaan semula sebagai pendidik. Ayah setuju dengan usul ibu?”, tanya istriku.

“Insya Allah, ayah setuju ”, kataku terharu.

“Ibu pamit, ya Yah?”, sambil berkata begitu dia mencium punggung tanganku seraya memelukku.

“Assalamualaikum!”  

“Waalaikum salam! Terima kasih, Bu!”   

“Ya. Sama-sama.”

        Aku bersyukur karena istriku ternyata masih mencintaiku. Buktinya, dia siap menungguku sampai selesai masa hukumanku di penjara. Aku juga layak bersyukur karena dia sangat setia padaku. Buktinya, selama lebih dari sepuluh tahun aku menjadi bunglon dia tidak pernah menuntut aku untuk menceraikannya. Memang, dia tidak mau menerima pemberianku. Aku juga tidak mau memaksanya, tapi di saat-saat aku menderita karena harus menjalani hukuman dia masih sempat mengurusi harta-harta peninggalanku meskipun aku harus rela semua itu dilimpahkan ke lembaga-lembaga sosial kemanusiaan. Aku sekarang benar-benar bangkrut tidak memiliki harta.Yang kumiliki sekarang ini hanya pakaian yang melekat di badan dan beberapa helai pakaian di lemari kecilku. Tapi, aku masih punya orang-orang yang tetap mencintaiku: keluargaku. Itulah kekayaan yang tidak ternilai buatku. 

 

                                                                  Kota Bekasi, 20 Februari 2026


Minggu, 15 Februari 2026

Bahasa dan Sastra (243)

 



Mencari/Dicari dan Memerlukan/Diperlukan

 

Subagio S.Waluyo

 

        Dalam iklan-iklan di media cetak dan media sosial, apabila suatu perusahaan/badan usaha memerlukan tenaga kerja selalu memulainya dengan kata mencari atau dicari. Meskipun terkadang ada juga yang menyebutkannya dengan kalimat yang agak panjang membuka kesempatan karier, misalnya PT Teknologi Terang Terus membuka kesempatan karier…. Kalau ada perusahaan/ badan usaha yang cenderung menggunakan membuka kesempatan karier, jelas kalimat yang digunakan kurang efektif. Akhirnya, lebih banyak perusahaan/ badan usaha kembali menggunakan  kata mencari atau dicari seperti pada kalimat `PT Teknologi Terang Terus mencari staf untuk sortir barang.` atau bisa juga `Dicari staf untuk sortir barang.`

      Di negara-negara asing yang mempergunakan bahasa Inggris, apabila aparat kepolisian ingin menangkap seorang pelaku tindak kriminal yang sebelumnya sudah diketahui identitasnya selalu memulainya dengan kata wanted. Kata tersebut jika diindonesiakan menjadi dicari. Kata  wanted merujuk pada seseorang yang dicari oleh polisi.  Tetapi, jika suatu badan usaha memerlukan tenaga kerja memulainya dengan kata looking for yang maknanya mencari. Di sini bisa dilihat contoh kalimatnya: "Join our fast-growing international fintech team! EKRUT is looking for a passionate Developer to build the next generation of financial solutions”. Di kalimat di atas ada kata looking for yang artinya mencari. Baik kata wanted maupun looking for maknanya hampir sama, yaitu dicari dan mencari. Dikatakan sama karena dalam bahasa Indonesia keduanya dari kata dasar yang sama, yaitu cari. Cuma kata mencari merupakan kata kerja aktif. Sedangkan, kata dicari merupakan kata kerja pasif. Kalau merujuk pada kalimat-kalimat yang digunakan perusahaan-perusahaan asing agar tidak sama dengan yang digunakan oleh pihak kepolisian, mereka menggunakan kata looking for untuk perusahaan yang mencari tenaga kerja dan menggunakan kata wanted untuk pelaku tindak kriminal yang dicari polisi. Pertanyaan yang muncul, apakah dalam pemakaian kata di Indonesia tidak sebaiknya dilakukan pembedaan ketika pihak kepolisian mencari pelaku tindak kriminal dan perusahaan-perusahaan yang mencari tenaga kerja?

    Sebagai pemerhati bahasa Indonesia, penulis mengusulkan agar ada pembedaan penggunakan kata yang biasa digunakan oleh pihak kepolisian dengan pebisnis atau pemilik perusahaan. Untuk pihak kepolisian yang sedang mencari pelaku tindak kriminal bisa saja tetap menggunakan kata mencari/dicari. Tetapi, khusus untuk mereka yang bergelut di bidang bisnis, sebaiknya lebih memilih kata memerlukan/diperlukan. Kalimat-kalimat berikut ini bisa dijadikan contoh menarik dalam pembuatan iklan, baik iklan lowongan umum, bimbingan belajar, profesional, maupun UMKM/Jasa.

·     Perusahaan swasta di bidang jasa memerlukan tenaga kerja berpengalaman sebagai Marketing Reps (MR).

· Kursus Guna Dharma memerlukan staf Adm (min. SMA) dan Guru Matematika/IPA (min. D3).

·   Kantor hukum terkemuka di Jakarta memerlukan tenaga Legal Corporate dengan pengalaman minimal 3 tahun.

·    Rumah makan Padang Sedap memerlukan tenaga juru masak wanita, jujur, dan ulet.

Kata memerlukan (dalam bentuk aktif) bisa saja diubah menjadi diperlukan (bentuk pasif) sehingga menjadi kalimat-kalimat berikut ini.

·    Diperlukan tenaga kerja berpengalaman sebagai Marketing Reps (MR) oleh perusahaan swasta di bidang jasa.

·   Diperlukan staf Adm (min. SMA) dan guru Matematika/IPA (min.D3) oleh Kursus Guna Dharma.

·     Diperlukan tenaga Legal Corporate dengan pengalaman minimal 3 tahun oleh Kantor hukum terkemuka di Jakarta.

·  Diperlukan tenaga juru masak wanita, jujur, dan ulet oleh Rumah makan Padang Sedap. 

Tentang mau menggunakan kata memerlukan atau diperlukan, semuanya tergantung pada orang yang mau menggunakannya. Namun, yang pasti dengan menggunakan kata memerlukan atau diperlukan pebisnis sudah bisa membedakan antara kalimat yang biasa digunakan pihak kepolisian ketika mencari pelaku tindak kriminal dan perusahaan-perusahaan atau badan usaha yang memang memerlukan tenaga kerja.


Jumat, 13 Februari 2026

Bahasa dan Sastra (242)




Ujian dan Pengujian


Subagio S.Waluyo

 

          Dalam pemakaian imbuhan bahasa Indonesia, kerap kali ditemukan dua bentuk imbuhan yang fungsinya sama namun maknanya berbeda. Karena pemakai bahasa umumnya tidak memahami, baik makna maupun fungsinya pemakai bahasa sering kali dengan tidak disadari menggunakan sebuah imbuhan dan tidak memanfaatkan imbuhan lainnya meskipun maknanya jelas berbeda. Contoh konkret yang bisa diambil di sini adalah kata ujian yang lebih sering digunakan daripada kata pengujian. Kedua kata tersebut apabila dianalisis proses pembentukannya dan maknanya jelas berbeda. Namun dalam pemakaian bahasa sehari-hari akhiran-an pada kata ujian seolah-olah sama maknanya dengan gabungan peN-an. Pada kata pengujian sehingga kata ujian menggeser kata pengujian.

          Akhiran –an menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat TBBBI) bermakna seperti berikut ini.

a.    Hasil tindakan yang dinyatakan oleh verba dengan meng-(dapat juga dikatakan nomina dengan –an bermakna apa yang di….), misalnya:

anjuran

:

hasil menganjurkan/yang dianjurkan

kiriman

:

hasil mengirimkan/yang dikirimkan

asinan

:

hasil mengasinkan/yang diasinkan

kiloan

:

hasil mengilokan/yang dikilokan

b.   Ke `tempat`, misalnya:

tepian

:

tempat menepi

belokan

:

tempat membelok

akhiran

:

yang ditempatkan di akhir

atasan

:

yang ditempatkan di atas/yang diataskan

c.    Ke waktu yang berkala, misalnya:

(surat kabar) harian Republika

(majalah) mingguan Tempo

(jurnal) bulanan Bahasa

 (tabloid) mingguan Nova

Sedangkan gabungan peN-an menurut TBBBI bermakna seperti berikut ini.

a.    Proses atau perbuatan meng- ….`, misalnya:

pemberontakan

:

proses/perbuatan memberontak

pendaftaran

:

proses/perbuatan mendaftar

pelatihan

:

proses/perbuatan melatih

b.   Hasil, misalnya:

penyelesaian

:

proses/perbuatan/hasil menyelesaikan

pemeriksaan

:

proses/perbuatan/hasil memeriksa

pengakuan

:

proses/perbuatan/hasil mengakui/(-kan)

pendapatan

:

proses/perbuatan/hasil mendapatkan

          Berdasarkan uraian di atas, kata ujian berarti hasil menguji, kalau boleh ditambahkan yang diujikan. Selama ini kata ujian hanya digunakan untuk proses/perbuatan. Sebagai bukti bisa dilihat pada contoh berikut ini.

Hasil ujian saya benar-benar mengecewakan.

Anda besok harus menempuh ujian sekali lagi.

Kalau mengacu pada proses/perbuatan, kata yang betul adalah pengujian karena kata pengujian bermakna proses/perbuatan menguji. Dengan demikian contoh kalimat di atas seharusnya berbunyi:

Ujian saya benar-benar mengecewakan.

Anda besok harus menempuh pengujian sekali lagi.  

          Bagaimana pula dengan kata karangan, latihan, lukisan, saringan, dan tulisan? Kata-kata tersebut pada prinsipnya maknanya sama, yaitu hasil mengarang/yang dikarang, hasil melatih/yang dilatih, hasil melukis(kan)/ yang dilukis, hasil menyaring/yang disaring, dan hasil menulis(i)(kan). Singkatnya, untuk menyatakan proses yang akan/sedang berlangsung gunakanlah imbuhan peN-an sehingga kata-kata tersebut menjadi pengarangan, pelatihan, pelukisan, penyaringan, dan penulisan. Demikian, semoga bermanfaat!

 

Selasa, 10 Februari 2026

Bahasa dan Sastra (241)

 



M E O K

 

Subagio S.Waluyo

 

          Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat di kaca belakang angkot K­02 (Pondok Gede—Terminal Bekasi) ada tulisan “MEOK” yang buat saya tulisan tersebut tidak asing lagi karena tulisan yang sama di tahun­tahun `70­an pernah saya jumpai di Jembatan Merah, Tebet, Jakarta Selatan. Bagi saya yang waktu itu masih bersekolah di SLA ada sesuatu yang asing dengan tulisan itu. Saya sempat bertanya pada beberapa teman atau orang­orang yang lebih tua. Ternyata mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan “MEOK”. Saya juga sempat buka di Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh P.W.J. Poerwadarminta (pada waktu itu belum terbit Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa), ternyata jawabannya nihil alias tidak ada. Tulisan itu baru saya dapati ketika suatu saat di salah satu majalah terbitan Pusat Bahasa memuat tulisan tentang grafiti, yaitu corat­coret remaja di tembok atau di tempat­tempat terbuka umum yang terkadang disertai dengan gambar­gambar atau simbol­simbol yang menunjukkan jati diri mereka, ternyata kata tersebut merupakan sebuah akronim. Kata “MEOK” itu sendiri jika ditulis lengkap akan berbunyi `Makan Enak Ogah Kerja`.

    Penulis grafiti “MEOK” saya kurang tahu apakah mereka termasuk dalam komunitas orang­orang yang tergolong “MEOK” atau yang berempati pada “MEOK” atau yang tidak suka kehadiran “MEOK”. Mungkin­mungkin saja penulis grafiti “MEOK” sudah tidak ada atau seandainya adapun usianya sudah lanjut usia (lansia). Mudah­mudahan saja seandainya mereka sudah lansia bukan lagi tergolong manusia “MEOK” karena akronim itu mencerminkan manusia yang cenderung malas mencari nafkah. Manusia yang kecenderungan hidupnya mau enak tanpa ada cucuran keringat. Manusia yang tentu saja tidak punya kemandirian. Manusia seperti ini boleh juga tergolong manusia yang `hedonis`. Mereka bisa juga dimasukkan sebagai penganut paham `hedonisme`.

          Kata `hedonis` menurut A.Mangunhardjana (Isme­Isme dari A sampai Z, 1997:90­92) berasal dari kata `hedone` yang berarti `kenikmatan`. Semua bentuk kenikmatan yang dilakukan manusia secara pribadi, baik kenikmatan indriawi bagi orang­orang yang sensual, kenikmatan intelektual bagi para ilmuwan, maupun kenikmatan estetis bagi pencinta materi (kebendaan) disebut `hedonis`. Karena kenikmatan tersebut lebih bersifat pribadi, kenikmatan di sini menjadi perkara subjektif. Jadi, dalam hal ini orang­orang yang merasakan kenikmatan etis, moral, religius mereka tergolong `hedonis`. Namun, dalam kenyataannya kata tersebut mengalami penyempitan makna. Kata `hedonis` saat ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan sikap konsumeristis. Dengan kata lain kata `hedonis` selalu dikaitkan dengan budaya konsumtif. Manusia atau masyarakat yang menganut paham ini biasa disebut `konsumerisme` atau di kalangan masyarakat lebih dikenal dengan sebutan `matre` (maksudnya materialistis). Sedangkan kata `konsumerisme` diartikan sebagai sikap hidup yang lebih mau menikmati daripada menahan, mengkonsumsi daripada memproduksi. Dengan demikian, orang yang `hedonis` karena sudah dipastikan disertai dengan pendekatan sikap `konsumeristis` lebih suka mendapat daripada memberi atau membeli daripada memproduksi/membuat sendiri.

     Orang `hedonis` atau “MEOK” adalah orang yang lebih mengedepankan tangan di bawah daripada tangan di atas. Tipe manusia seperti ini adalah tipe yang tidak mau susah. Kalau perlu mereka menghindari kesusahan atau penderitaan sekalipun karena hidup ini harus diisi dengan kesenangan dan kenikmatan bukan kesusahan dan penderitaan. Tipe manusia seperti ini adalah tipe orang yang tidak bisa memberi manfaat buat orang lain. Sebaliknya, dia menjadi jenis manusia yang selalu memanfaatkan kebaikan orang lain. Karena tidak bisa memberi manfaat buat orang lain, orang “MEOK” tidak memiliki rasa peduli. Ia lebih mementingkan diri sendiri. Ia tidak mau tahu kalau ada orang di sekitarnya meminta uluran tangan atau belas kasihannya. Ia cenderung bikin orang susah. Jadi, orang “MEOK” merupakan orang bermasalah yang bisa dimasukkan ke dalam kelompok orang­orang berpenyakit sosial.

    Orang “MEOK” karena ada kecenderungan untuk memperoleh sesuatu tanpa kerja keras, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Di bidang politik orang­orang “MEOK” akan mempraktekkan cara­cara Nicolo Machiavelli untuk mendapatkan kekuasaan. Salah satu cara ajaran Nicolo Machiavelli yang dinilai tidak bermoral adalah untuk mendapatkan kekuasaan seseorang bisa melakukan apa saja, termasuk ke dalamnya melakukan cara­cara baik halus maupun kasar. Kalau perlu untuk mendapatkan kekuasaan sah­sah saja orang tersebut membunuh lawan politiknya. Kalau di negara ini, misalnya, dari pemilu ke pemilu atau pilkada ke pilkada selalu ada saja keributan, pasti faktor penyebabnya lebih disulut orang­orang yang tidak puas dengan hasil pemilu atau pilkada karena dianggap ada kecurangan. Unsur kecurangan tersebut jika ditelusuri lebih jauh lagi faktor penyebabnya karena masih dipraktekkannya cara­cara ala Nicolo Machiavelli, yaitu melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Itu baru di bidang politik. Bagaimana di bidang­bidang lainnya?

   Kalau mau ditelisik demikian banyak di luar politik bidang­bidang kehidupan yang dilakukan orang­orang “MEOK” untuk memperoleh kenikmatan dunia dengan cara­cara yang ilegal. Meskipun demikian, kita tidak boleh terpesona bahwa hidup itu indah sehingga harus selalu indah. Atau hidup itu nikmat sehingga kita harus hidup dalam suasana kenikmatan. Kalau sudah demikian falsafah hidup kita, kita tergolong orang yang mendukung hedonisme. Hedonisme harus kita hindari karena hedonisme menjadikan kita sebagai hamba konsumerisme. Orang “MEOK” yang pasti tidak punya kepribadian atau integritas diri. Bisa juga disebut sebagai orang yang tidak punya afiliasi, yaitu orang yang dalam bahasa agamanya, tidak punya komitmen aqidah, ibadah, dan akhlak. Untuk itu, orang “MEOK” jangan diharapkan bisa berpartisipasi. Apalagi untuk memberikan kontribusi rasa­rasanya tidak mungkinlah. Oleh karena itu, kita perlu menghindar dari penyakit “MEOK”. Bagaimana untuk menghindari penyakit tersebut? Silakan pembaca sendiri yang memecahkan masalah tersebut! 


Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...