Jumat, 26 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (76)

BERKISAH TENTANG KEJUJURAN

Subagio S. Waluyo

“Hendaklah kamu semua bersikap jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai seorang yang jujur (shiddiq). Dan jauhilah sifat bohong karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Orang  yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzab)”

(HR Bukhari)

Jumat, 19 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (75)


BERKISAH TENTANG VERBALISME

Subagio S. Waluyo



“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)  yang tiada berguna”
(QS Al-Mukminun: 3)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan kebaikan atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Dari Anas ra dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidak akan lurus (benar) keimanan seorang hamba kecuali setelah hatinya lurus, dan tidak akan lurus hati seorang hamba kecuali setelah lisannya lurus”

Minggu, 14 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (74)


BERKISAH TENTANG KEMATIAN

Subagio S. Waluyo


“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”

(QS Al-Anbiya: 35)

“Allah-lah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

(QS Al-Mulk: 2)

“Perbanyaklah mengingat mati karena sesungguhnya mengingat mati dapat membersihkan dosa-dosa dan dapat menanamkan rasa zuhud terhadap perkara duniawi. Apabila kalian mengingatnya di saat kaya, niscaya mengingat mati dapat meruntuhkannya, dan apabila kalian mengingatnya di saat miskin, niscaya hal ini akan membuatmu rela dengan keadaan penghidupanmu.”

(HR Ibnu Abdud Dun-ya melalui Anas Radiallahu Anhu)

Kamis, 11 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (73)


BERKISAH TENTANG HARGA DIRI 

Subagio S. Waluyo


Kebaikan Durakkap mengantar Marlena pulang dipandang sebagai pelecehan oleh Brodin. Laki-laki bajing itu tidak terima istrinya dibonceng oleh Durakkap yang pernah menaruh cinta pada Marlena. Durakkap dianggap melecehkan harga diri Brodin sebagai seorang suami. Durakkap menjelaskan duduk perkaranya. Brodin tak percaya. Degup jantungnya berlompatan tak karuan.

Sebagai seorang bajing yang disegani, Brodin menantang Durakkap carok. Awalnva Durakkap menolak, tapi lama-kelamaan mulut Brodin membuat dadanya berlubang. Durakkap diminta memotong kelaminnya jika menolak tantangan Brodin. Penolakan Durakkap bukan tak beralasan. Ia khawatir dirinya tewas di medan carok. Dengan kematian Durakkap, tentu saja akan membuat Taneyan sebatang kara.

Kesepakatan waktu dan tempat ditentukan hari itu juga. Durakkap pulang dengan dada yang kian sesak. Bayangan anak gadis semata wayangnya berkelebat di matanya. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Taneyan saat tiba di rumah. Rencana carok dengan Brodin ditutup rapat-rapat.

(Cerpen Zainul Muttaqin: “Celurit di Atas Kuburan”)

Senin, 08 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (72)


BERKISAH TENTANG PALU-ARIT

Subagio S. Waluyo



Setelah palu dan arit kusimpan di bawah rak piring, masalah kuanggap selesai. Tapi ternyata tidak. Muncul masalah baru yang sangat rumit, ketika suamiku tiba-tiba menggeledah isi dapur dan menemukan kedua benda yang dianggap memiliki makna politis itu.

“Rupanya kamu tidak bisa melupakan ideologi yang sudah dilarang sejak lama,” komentar suamiku sambil memegang palu dan arit.

“Apa maksudmu?” tanyaku ketus. Rasanya aku sangat tersinggung, karena suamiku mencurigaiku, mentang-mentang aku keturunan PKI. Ayahku dulu Ketua Cabang PKI yang kemudian ikut menjadi korban pembersihan, jenazahnya ditemukan di tengah persawahan dengan leher nyaris putus.

Setelah itu Ibu dipenjara seumur hidup tanpa proses persidangan, sedangkan aku diurus oleh Paman yang kebetulan anti PKI. Sejak kecil aku dididik Paman untuk menjadi manusia beragama yang rajin beribadah. Aku disekolahkan di madrasah agar bisa menulis dan membaca aksara latin dan arab. Lalu setelah dewasa aku menikah dengan suamiku, putra seorang modin di desanya.

“Apa maksudmu menyimpan palu dan arit ini di bawah rak piring? Bukankah benda-benda ini bukan sembarang benda?” suamiku balik bertanya.

“Aku menyimpannya di bawah rak piring, karena siapa tahu suatu ketika ada gunanya.”

(Cerpen Kompas, Siti Siamah, “Paket”)

Minggu, 07 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (71)


BERKISAH TENTANG

MENGKRANGKENG NAFSU


Subagio S. Waluyo 


Hambali kerap melamun berkepanjangan. Sendirian di beranda rumah. Terperanjat jika teringat ibu kandungnya yang pernah dilukai hatinya. Kaget jika terbayang wajah-wajah adik mendiang Amih Dinah yang keruh merasa tak mendapat ketidakadilan. Terlintas masa sebelumnya, menjalani hidup yang anti berbagi pada sesama. Kepala Hambali pusing lalu berputar-putar. Bibirnya perlahan bergerak-gerak. Tersenyum. Lalu tertawa terbahak-bahak melihat dua cicak yang tengah bercengkrama di langit-langit atap beranda. Ia seolah-seolah diajak bercanda. Lalu beranjak, melompat dan hendak menungkup cicak yang jatuh di lantai. Dahinya terbentur ubin yang keras. Ia meraung sakit. Lalu menangis sekeras-kerasnya seperti anak kecil yang tak diberi jajan oleh ibunya.

(Cerpen Kompas Komala Sutha “Nafsu Serakah”)

Senin, 01 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (70)


BERKISAH TENTANG "MEOK"

Subagio S. Waluyo 




Sedari kecil terlalu dimanjakan orangtua, diberi berbagai fasilitas atau kemudahan sehingga merasa selalu mendapatkan apa yang diinginkan tanpa mempedulikan neraca kebutuhan, dan faktor lainnya.
Kehadiran ‘influencer’ di media sosial sangat mempengaruhi rasa kecemburuan untuk memiliki benda-benda mewah yang sebenarnya tidak sanggup untuk didapatkan sehingga memaksakan segala cara meskipun harus berutang.
Pergaulan atau bergaul dengan orang-orang yang memiliki standar hidup mewah, menggunakan barang-barang bermerek, sehingga muncul rasa minder ketika tidak sepadan dengan mereka. Akhirnya demi mengikuti pergaulan tersebut, Anda rela menghabiskan uang untuk membeli barang yang sama.
Menjamurnya akses keuangan bagi masyarakat untuk meminjam uang dan mencicilnya dengan mudah.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...