`Wong Gemblung` dan `Psikopat`
Subagio S. Waluyo
“Pak wong gemblung
boleh tidak puasa kan?”
“Ya, kamu boleh tidak
berpuasa. Anakku yang masih kecil juga tidak berpuasa.”
“Tapi aku bukan anak
kecil. Pak. Aku wong gemblung,” kata Sulam serius.
“Ah, siapa yang
mengatakan kamu demikian?”
“Wong gemblung boleh
tidak puasa kan?”
“Nanti dulu; siapa yang
mengatakan kamu wong gemblung?”
Sulam tidak menjawab.
Kemampuan nalarnya kukira, sangat terbatas. Dan inilah rupanya yang menyebabkan
semua orang yang tinggal di antara Wangon dan Jatilawang mengatakan Sulam wong
gemblung.
(Cerpen
“Wangon Jatilawang”/Ahmad Tohari)
“Kamu gila, Gambir.
Kamu tidak waras....”
Kata-kata Menik
Sasongko memberebet seperti knalpot tersumbat.
Gambir menancapkan
belati ke jantung ibunya berkali-kali.
Napas Gambir
tersengal-sengal. Ia melihat mata ibunya melotot. Dalam kematian pun, sorotan
ibunya masih saja menghakimi dirinya.
Masih terus saja meremehkan kemampuannya. Menyepelekan karirnya.
Di dua sisi kehidupan
yang berbeda—kehidupan dan kematian—ibunya masih saja tidak bisa menghargainya.
(Dikutip
dari Novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara, 2004:235)
Dalam cerpen Ahmad Tohari:
“Wangon Jatilawang” Sulam digambarkan sebagai anak laki-laki yang terbelakang
mentalnya. Dari kutipan dialog di atas bisa dilihat ketika Tokoh Aku bertanya,
“Nanti dulu; siapa yang mengatakan kamu wong gemblung?” Sulam tidak bisa
menjawab. Tokoh Aku menyimpulkan kalau Sulam sangat terbatas kemampuan nalarnya
sehingga wajar saja kalau orang-orang di sepanjang Wangon-Jatilawang menyebutnya
sebagai `wong gemblung` (orang yang setengah gila). Sebutan itu melekat benar
di benak Sulam. Saking melekatnya dia menyampaikan pada Tokoh Aku kalau dirinya
`wong gemblung`. Mungkin hanya Tokoh Aku yang tidak tega menyebutnya sebagai
`wong gemblung` meskipun pada dialog di bawah ini jelas sekali kalau Tokoh Aku
juga mengakui Sulam sebagai `wong gemblung`.
|
“Sudah
hampir lebaran, ya Pak” Aku ingin berkata lebih banyak. Namun Sulam melangkah pergi. Wajahnya murung. Aku mengikuti sampai ke pintu halaman. Dari belakang kuperhatikan langkahnya yang pendek-pendek, menyeret-nyeret ujung celananya yang kombor dan kelewat panjang, celana pemberian orang. |
Walaupun Sulam mengalami
keterbelakangan mental, dia masih bisa
menjawab dirinya benar-benar `wong
gemblung.` Jawaban Tokoh Aku itu bisa disimpulkan Sulam kalau ada keraguan
Tokoh Aku untuk memberikan baju lebaran sebelum lebaran karena baju itu akan
kotor. Bukankah memang benar orang seperti Sulam yang biasa wara-wiri
Wangon-Jatilawang akan mengotori baju lebarannya karena memang tidak bisa
dijamin dia bisa menjaganya? Sulam sadar kalau Tokoh Aku juga sama seperti
orang lain yang menganggap dirinya `wong gemblung.` Cuma Tokoh Aku tidak
seperti orang lain yang dengan seenak hatinya menyebut `wong gemblung`. Dengan
demikian, bagi Sulam yang terbatas nalarnya penolakan Tokoh Aku untuk
memberikan baju lebaran sebelum lebaran dengan alasan nanti kotor sudah cukup
kalau Tokoh Aku sama seperti orang lain menganggap dirinya `wong gemblung.`
***
Gambir berbeda dengan Sulam.
Gambir tidak mengalami keterbatasan mental seperti Sulam. Gambir bisa berteman
walaupun terbatas orang-orang yang bisa diajak berteman. Gambir bisa mencari
nafkah. Hasil karya seninya dihargai tinggi sampai ratusan juta rupiah. Dari
hasil patungnya Gambir bisa hidup tergolong mewah. Di balik itu semua Gambir
memang punya latar belakang yang suram. Dia korban kekerasan perilaku kedua
orang tuanya sehingga mengalami penyakit kejiwaan:psikopat. Salah satu contoh
gambaran kekerasan perilaku orang tuanya terhadap Gambir bisa dilihat ketika
bapaknya mencemplungkan kecoak ke mulut Gambir. Kemudian ibunya memaksanya
mengatup mulutnya sehingga kecoak itu benar-benar ditelannya. Tidak cukup
sampai di situ, kedua orang tuanya selalu mengatakan kalau Gambir anak pembawa
sial sehingga wajar saja kalau kata `kabahagiaan` tidak ada dalam kehidupan
Gambir. Gambir memang tidak pernah merasakan kebahagiaan di masa kecilnya.
***
|
............................................................................................ Bapak mencemplungkan kecoak ke mulut mengangaku. Kini Ibu memaksaku mengatupkan mulut. Bapak memaksaku menelan. Glegh. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Bahagia. Kebahagiaan. Apakah itu kebahagiaan? Aku tidak ingat lagi kapan aku merasakan kebahagiaan. |
Orang seperti Gambir pada saatnya
mengamuk. Tidak tanggung-tanggung dia habisi nyawa orang-orang terdekat.
Dimulai dari Damar, adiknya, yang dibunuh karena terbukti berselingkuh dengan
Talyda, istrinya, atas suruhan ibunya sendiri. Kemudian, berturut-turut
adiknya, Menur, ketika berusaha melindungi ibunya terpaksa jadi korban juga.
Ibunya sendiri pun tidak luput dibunuh Gambir. Bahkan, sampai pada detik-detik
terakhir ketika nyawanya akan berpisah, sang ibu sorot matanya seolah-olah
seperti menghakimi dirinya. Tidak cukup sampai di situ, Gambir pun menghabisi
nyawa kedua sahabat karibnya yang telah berselingkuh dengan istrinya. Terakhir,
yang jadi korban berikutnya adalah istrinya sendiri, Talyda. Di sini ungkapan
`gila, tidak waras` muncul dari mulut ibunya. Apakah Gambir gila? Gambir
setelah menghabisi semua orang yang ada di rumah itu tidak mengakui kalau dia
gila. Justru, orang-orang yang telah dihabisi nyawanya itu menurutnya tidak
lebih waras dari dirinya. Meskipun demikian, dia juga mengakui kalau dirinya
gila dan belum tentu waras.
|
“Kamu
gila, Gambir. Kamu tidak waras....” Kata-kata Menik Sasongko memberebet seperti knalpot tersumbat. Gambir menancapkan belati ke jantung ibunya berkali-kali. Napas Gambir tersengal-sengal. Ia melihat mata ibunya melotot. Dalam kematian pun, sorotan ibunya masih saja menghakimi dirinya. Masih terus saja meremehkan kemampuannya. Menyepelekan karirnya. Di dua sisi kehidupan yang berbeda—kehidupan dan kematian—ibnya masih saja tidak bisa menghargainya. .................................................................................................... Aku gila? Jangan seenaknya menuduh. Bisa buktikan? Bisa buktikan kau lebih waras dariku? Apa aku gila? Apa aku waras? Bisa ya. Bisa juga tidak. Ooouuuwww!!! |
***
Sulam dalam cerpen “Wangon
Jatilawang” disebut orang sebagai `wong gemblung` atau setengah gila (jadi
tidak gila beneran). Sulam disebut juga orang yang kurang waras karena memiliki
penyakit keterbelakangan mental. Ibunya pun sama sampai wafat mengidap penyakit
yang sama. Orang seperti Sulam jelas tidak berbahaya. Dia tidak pernah
mengamuk. Tidak ada dendam walaupun sering diperlakukan tidak wajar oleh
orang-orang sekitarnya. Mungkin karena memiliki keterbatasan mental Sulam tidak
sakit hati walaupun kerap diusir dan dianggap orang yang membawa sial. Masih
bersyukur ada orang seperti Tokoh Aku yang
masih mau menerima dan melayani Sulam dengan keterbatasan mentalnya.
Lain Sulam, lain Gambir. Gambir
di novel Pintu Terlarang di akhir cerita jelas-jelas benar-benar menunjukkan
kegilaannya. Dia bisa gila karena sakit hatinya sudah sampai pada puncaknya.
Bagaimana tidak sakit hati kalau dia tahu adiknya dan teman-temannya atas
suruhan ibunya mau berselingkuh dengan istrinya? Bagaimana Gambir tidak marah
kalau sang istri, Talyda, mau-mauan disuruh ibunya berselingkuh dengan
teman-temannya? Bagaimana Gambir juga tidak marah kalau ibunya sendiri yang
selama ini memang sudah tidak suka dengan kehadirannya di duni ini punya peran
besar merusak keutuhan rumah tangganya?
Jadi, semua itu menggumpal yang pada akhirnya gumpalan itu meluap
menjadi sebuah kemarahan besar. Gambir yang sudah tidak bisa berpikir jernih,
dia ikuti apa saja kata hawa nafsunya akhirnya menghabisi semua orang yang ada
di sekitarnya dengan belatinya. Inilah titik akhir luapan emosi yang berasal
dari penyakit psikopat. Orang seperti Gambir jelas berbahaya.
Orang seperti Gambir yang
menderita psikopat bisa saja menjadi berbahaya karena psikopat merupakan
gangguan kepribadian yang ditandai dengan beberapa ciri, di antaranya yaitu
perilaku antisosial, tidak memiliki
empati, dan memiliki temperamen yang sulit diprediksi. Penyebab psikopat lebih
disebabkan oleh gangguan yang diprediksi timbul karena pengaruh genetik dan
pengalaman traumatis masa kecil (https://www.alodokter.com/jangan-tertipu-watak-seorang-psikopat).
Gambir menjadi orang yang menderita psikopat lebih disebabkan oleh traumatis di
masa kecil. Perlakuan kedua orang tuanya yang demikian buruk terhadap dirinya
yang menyebabkannya dia lebih suka menyendiri sehingga dia menjadi orang yang
antisosial yang akhirnya bisa membahayakan orang lain.
***
Dari dua tokoh yang ditampilkan
di atas, Sulam walaupun menderita keterbatasan mental bukan orang yang
berbahaya. Justru Gambir yang jelas-jelas menunjukkan orang yang sangat
berbahaya. Tapi, Gambir tidak akan berbahaya kalau tidak ada yang memicunya
untuk melakukan tindak kriminal. Gambir sejak kecil mengalami tekanan
psikologis yang dideritanya akibat perlakuan kedua orang tuanya. Ketika dewasa
dan berkeluarga, tekanan psikologis itu tidak pernah berhenti. Bukan hanya
ibunya, istrinya pun punya peran besar dalam merusak kejiwaannya.
Ungkapan-ungkapan yang cenderung kasar ketika memperlakukan Gambir membuat
Gambir tertekan jiwanya. Semua gumpalan perasaan ketertekanan jiwanya membuat
Gambir mengamuk. Di titik inilah Gambir disebut orang gila.
Orang gila (lebih tepat disebut
orang psikopat) tipe Gambir akan memakan korbannya jika diperlakukan kasar.
Tidak ada orang yang psikopat tiba-tiba membunuh orang tanpa ada rasa sakit
hati. Selain itu, seorang psikopat melakukan tindak kriminal seperti yang
dilakukan Gambir secara spontanitas, tanpa ada perencanaan sebelumnya.
Sementara penikam seorang pendakwah seperti (alm.) Syaikh Ali Jaber jelas-jelas
terindikasi sebagai pembunuhan
berencana. Hasil rekonstruksi yang dilakukan beberapa kali menunjukkan Alfin
Andrian melakukannya dengan perencanaan yang matang. Jadi, kalau dikatakan
Alfin itu gila perlu dipertanyakan karena stigma gila juga melekat pada
orang-orang terdahulu yang melakukan kekerasan pada para ulama. Stigma gila
menguntungkan orang-orang yang seenaknya melakukan kekerasan pada para ulama
atau orang-orang tertentu yang kebetulan ada di antaranya tokoh nasional
seperti Syekh Ali Jaber atau tokoh masyarakat lokal seperti imam masjid. Secara
kebetulan orang-orang yang disasar oleh orang-orang yang terlanjur diberi
stigma orang gila itu notabenenya adalah orang-orang yang aktif dalam kegiatan
keagamaan (Islam). Apakah tidak mungkin di balik ini semua ada tokoh besar (dalangnya)
yang sengaja di-hidden-kan oleh pihak-pihak tertentu yang boleh jadi orang
seperti ini termasuk orang gila?
Sebuah pertanyaan besar
dimunculkan di sini: mengapa sampai saat ini belum juga terungkap siapa yang
menjadi pelaku utamanya? Pelaku yang dengan perencanaannya yang matang sengaja
menyasar sasarannya pada orang-orang yang aktif dalam kegiatan keagamaan. Kalau
melacak pada perbuatan orang-orang PKI yang jelas-jelas menjadikan tokoh-tokoh
Muslim sebagai sasaran tembaknya, modus yang hampir saja juga terjadi. Mereka
(para aktivis dan tokoh-tokoh PKI) dalam beberapa kali pemberontakannya di
negara ini selalu menjadikan sasaran tembaknya tokoh-tokoh Muslim. Puncak
pemberontakannya (sebelum PKI dibubarkan pada 12 Maret 1966) terjadi pada 30 September 1965. Peristiwa
itu yang kemudian disebut Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI. Meskipun PKI
telah bubar tidak mustahil entah antek-anteknya yang sekarang masih hidup atau
anak cucunya tidak mustahil masih menaruh dendam terhadap kaum Muslimin yang
sebagian besar masih berkuasa di negara ini. Untuk lebih jelasnya tentang
kekejaman mereka silakan dibaca buku Banjir Darah: Kisah Nyata Aksi PKI
terhadap Kiai, Santri, dan Kaum Muslimin oleh Anab Afifi-Thowaf Zuharon
(diterbitkan oleh Penerbit Istanbul, Jakarta, 2020). Di buku itu sudah cukup
jelas kejadian yang menimpa aktivis Islam yang dilakukan oleh kalangan PKI.
Karena itu, agar tidak ada tuduhan terhadap siapapun ada baiknya pihak berwajib
secara masif dan transparan menyelidiki kasus yang menimpa para ustadz dan
tokoh agama tersebut.
Kejadian yang menimpa orang-orang
yang aktif dalam kegiatan keagamaan perlu diselidiki oleh pihak berwajib. Tidak
cukup hanya sampai diminta pelakunya untuk merekonstruksi kejadiannya.
Pelakunya harus ditekan agar keluar pengakuan dari mulutnya kira-kira siapa
orang yang pernah menyuruhnya. Dengan cara menekan pelaku tidak mustahil akan
keluar pengakuan dari mulutnya sehingga pertanyaan besar yang selalu muncul di
benak masyarakat akan terjawab. Selain itu, prasangka buruk yang sudah
terlanjur ada di benak publik juga akan sirna. Sebaliknya, kalau pihak berwajib
sekedar menangkap (apa lagi kemudian dilepaskan karena diduga gila pelakunya)
akan membuat masyarakat tidak memiliki kepercayaan pada pihak berwajib. Sikap
seperti ini kalau tidak ada perubahan tidak mustahil akan terjadi ledakan yang
bisa berakibat munculnya vandalisme.
Perilaku vandalisme yang sudah
kerap terjadi di negara ini tidak perlu berulang kembali. Baik Peristiwa Malari
(1974) maupun kerusuhan akibat krisis ekonomi yang belakangan disebut sebagai
Kerusuhan Mei 1998 tidak perlu lagi terjadi. Di sini pemerintah dituntut untuk
bersikap adil terhadap rakyatnya. Kalau ada kejadian terorisme (yang
ujung-ujungnya selalu saja menyasar ke
umat Islam) pemerintah bertindak cepat, kenapa untuk kasus kekerasan pada
kalangan tokoh-tokoh agama Islam cenderung tidak serius? Kalau begitu, ada apa
dengan pihak berwajib? Mengapa tidak juga bisa mengungkap dalang di balik
peristiwa yang menimpat para pemuka agama itu? Sudah jelas orang-orang yang
melakukan kekerasan itu bukan orang gila, kok masih juga belum apa-apa
disimpulkan dilakukan oleh orang gila? Jangan sampai nanti stigma gila malah
justru menempel pada pihak-pihak yang
sengaja melakukan pembiaran terhadap peristiwa tersebut.
***
Sebenarnya dalam kehidupan
sehari-hari walaupun orang seperti Sulam diejek dengan `wong gemblung` (orang
setengah gila) karena keterbatasan mentalnya, justru orang-orang di sekitarnya
yang mengatakan Sulam orang `pembawa apes (sial)` adalah orang-orang yang
berpikiran gila.Sama halnya dengan peristiwa yang menimpa Gambir yang sudah
terlanjur dianggap `anak pembawa sial` justru orang yang mengatakannya (kedua
orang tuanya) adalah orang-orang yang patut dianggap gila. Orang-orang yang
menyebut Sulam `wong gemblung` kenapa menyebutnya demikian kalau memang mereka
tidak sakit jiwanya. Begitu juga kedua orang tua Gambir kenapa selalu
meneriakkan anaknya dengan sinis `anak pembawa sial`? Bukankah Gambir anak
kandung sendiri? Kalau Gambar disebut `anak pembawa sial` berarti kedua orang
tuanya juga `pembawa sial`? Sama halnya menyebut gila pada anak atau pada
siapapun, ungkapan itu akan berbalik kepada orang yang meneriakkannya. Bisakah
setiap orang menahan diri untuk tidak melekatkan kata gila pada seseorang
sebelum orang itu menunjukkan perilaku gila?
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar