Selasa, 28 November 2023

All You Need Is Love (140)

 



Ilmuwan dan Mimbar Bebas Akademik


Subagio S.Waluyo


WS Rendra dalam salah satu puisinya pernah mengatakan, “Aku bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet. Dan papan tulis papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan. Apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan?” (https://www.merdeka.com/jateng/ 27-kata-kata-mutiara-ws-rendra-tentang-perjuangan-hidup-inspiratif-dan-penuh-makna-kln.html). WS Rendra ketika menyampaikan pernyataan yang tertuang dalam puisinya itu diungkapkan di masa Orde Baru. Di masa itu memang kehidupan kampus sudah mulai redup karena rezim Orde Baru perlahan namun pasti mematikan yang namanya mimbar bebas akademik (MBA). Apakah sekarang ini ketika masyarakat sudah mulai muak dengan yang namanya reformasi masih bercokol di kalangan ilmuwan mematikan MBA seperti yang dilakukan rezim Orde Baru?   

***

Sosok ilmuwan yang tidak memperoleh manfaat sama sekali dari ilmu yang dipelajarinya (aksiologi) telah dengan sengaja mematikan MBA. Kalau MBA sudah mati, sudah bisa dipastikan para lulusan yang diproduk dari PT tersebut adalah lulusan yang tidak memiliki kepedulian terhadap sekitarnya. Mereka-mereka (para lulusan PT) selesai kuliah yang terpikirkan adalah mencari kerja atau meneruskan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Tujuan akhirnya apa lagi kalau bukan perbaikan nasib. Mereka-mereka yang dari PT itu lebih cenderung belajar dan belajar. Kalau ada kegiatan kemahasiswaan, bisa ditebak kegiatan kemahasiswaan yang dimasuki adalah yang lebih mengarah pada kegiatan penempaan minat dan bakat. Kegiatan seperti itu sah-sah saja, tetapi kegiatan yang menumbuhkan kekritisan dan kepedulian pada sesama juga penting. Termasuk kekritisan terhadap kondisi negara ini yang kehidupan politiknya semakin amburadul.

Sarana yang paling pas untuk menumbuhsuburkan kekritisan para calon cendekiawan muda adalah menghidupkan MBA. Tanpa MBA bisa saja diibaratkan kehidupan kampus seperti sayur tanpa garam: hambar. Sesuatu yang hambar bisa dipastikan tidak mengenakkan. Agar kehidupan kampus tidak hambar, tidak stagnan, dan tidak menyuburkan paham pembodohan karena para calon cendekia hanya dicekoki dengan pembelajaran yang serba hafalan (verbalistis), perlu dihidupkan MBA. Biarkan mereka-mereka belajar mengkritisi negara agar rakyat juga tahu kalau mahasiswa masih punya yang namanya kepedulian terhadap negara dan bangsa. Bukankah sesuatu yang indah jika para ilmuwan (dosen dan para mahasiswanya) dalam suatu forum membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan demokrasi dan HAM seperti yang terlihat dalam video ini: (https://www.youtube.com/watch?v= rZJaKcXACNo&t=12s).

Menghidupkan MBA bukan berarti mahasiswa sang calon intelektual muda menjadi radikal. Mereka memang aktif turun ke jalan. Mereka bisa saja menciptakan parlemen jalanan. Tetapi, selama mereka turun ke jalan tetap dalam kondisi santun. Bukankah selama ini banyak massa yang turun ke jalan seperti aksi demo Aksi Bela Palestina juga tertib tidak ada kericuhan walaupun dalam jumlah massa sampai ratusan ribu orang seperti terlihat pada video ini: (https://www.youtube.com/watch?v=lmYxMSwLpkI). Jadi, biarkan mereka ikut (kalau perlu para dosen bahkan struktur pimpinan PT juga ikut terlibat) demo aksi apapun asal ada pihak yang bertanggung jawab dan mengaturnya agar tidak terjadi kericuhan atau tindakan vandalisme. Bukankah kehidupan kampus akan terlihat dinamikanya kalau diwarnai dengan demo-demo mahasiswa yang tertib, aman, dan nyaman? Justru, dengan tidak adanya aksi-aksi demo mahasiswa mencerminkan kampus yang menciptakan menara gading.

Menghidupkan MBA bukan hanya dalam aksi-aksi demo mahasiswa, kegiatan di perkuliahan juga boleh-boleh saja sang dosen selaku ilmuwan di hadapan peserta didiknya menyuarakan kebenaran. Menyuarakan kebenaran di ruang kuliah sesuatu yang wajib dilakukan oleh dosen sepanjang dalam penyampaiannya dilakukan secara santun. Selain itu, yang disampaikannya bisa dipertanggungjawabkan (bukan rumor atau hoax). Silakan saja untuk menyampaikan kebenaran disertai dengan video-video klip atau tiktok yang memuat, misalnya, ketimpangan sosial di masyarakat atau penyimpangan kehidupan demokrasi seperti terlihat pada diskusi publik tentang demokrasi dan HAM di FH UGM baru-baru ini. Dengan cara seperti itu mahasiswa akan melek politik. Mereka bukan hanya dicekoki teori-teori tentang kebenaran sementara ketidakbenaran berseliweran di depan mata mereka. Mereka harus bangkit dari tidur panjang karena dininakbobokan oleh ilmuwan-ilmuwan yang cenderung memanjakan mereka dengan verbalistis. Para cendekia muda harus terbebaskan dari generasi gagap. Bahkan, kalau perlu mereka juga harus terbebaskan dari generasi strawberry.

***

Mewujudkan generasi yang terbebaskan dari kegagapan atau generasi strawberry jelas merupakan pekerjaan berat. Meskipun demikian, setiap insan akademis harus memiliki tanggung jawab untuk setiap saat menyelamatkan generasi ini dari kerapuhan. Mereka harus menjadi pemimpin masa depan yang kelak siap memperbaiki kondisi bangsa ini yang dilihat dari beberapa sisi kehidupan telah carut-marut. Mereka harus menjadi tokoh-tokoh perubahan. Untuk mewujudkan tokoh-tokoh perubahan yang dicirikan dengan ketangguhan, kecerdasan, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan tidak ada cara kecuali hidupkan kembali MBA. Dengan MBA bisa dipastikan akan lahir para cendekia muda yang siap melakukan perubahan dan perbaikan. Bukankah negara ini juga dibangun oleh orang-orang muda yang punya tekad untuk melakukan perubahan dan perbaikan? 


Sabtu, 25 November 2023

All You Need Is Love (139)

 Dicari Ilmuwan Inovatif dan Kreatif

Subagio S.Waluyo

Suatu saat ketika masuk ke perpustakaan, Penulis memergoki teman lama yang sudah tidak aktif lagi mengajar di PT tempat Penulis mengajar. Teman lama ini bercerita kalau sudah pindah homebase di PT lain dekat tempat tinggalnya. Penulis kurang tertarik untuk bertanya lebih jauh tentang kepindahan homebase teman lama itu. Penulis lebih tertarik pada kebiasaan teman lama itu sejak sama-sama mengajar di PT tempat Penulis selama ini mengabdi sebagai tenaga pendidik. Kebiasaan yang menurut Penulis  tertarik adalah membawa buku catatan, menulis (lebih tepatnya menyalin) isi buku-buku yang dibacanya dari perpustakaan, dan dari buku catatan itu digunakan sebagai bahan mengajar. Penulis kurang tahu ketika menyampaikan materi di hadapan anak didiknya teman Penulis itu menyebutkan sumbernya atau tidak. Penulis hanya tahu para mahasiswanya belajar menggunakan sistem CBSA (Catat Bahan Sampai Abis kebalikan dari Cara Belajar Siswa Aktif).

***

Sistem CBSA banyak dianut para ilmuwan di banyak PT di negara ini. Kalau ada pertanyaan, mengapa ada kecenderungan ilmuwan menggunakan sistem itu? Jawabannya mudah saja kok, para ilmuwan di negara ini punya penyakit malas, yaitu keengganan melakukan perubahan. Mereka cenderung stagnan (tidak mau berubah). Memang, di antara mereka banyak yang sudah meraih pendidikan lebih tinggi (S3). Bahkan, mereka juga sudah kenyang ikut berbagai pelatihan yang berkaitan dengan metode pembelajaran. Tapi itu, mereka tidak mau belajar untuk pengembangan diri. Bagi mereka dengan menempuh pendidikan lebih tinggi (S3) mereka berharap ada peningkatan pendapatan. Tidak heran jika selesai pendidikan mereka lebih sibuk mengajar di level yang lebih tinggi (S2). Kalau perlu, mereka juga sibuk mengajar di luar dan tentu saja juga disibukkan dengan bimbingan skripsi dan tesis. Wajar-wajar saja dengan kesibukan yang luar biasa ada peningkatan kesejahteraan.

Kesibukan mengajar dan membimbing mahasiswa memang merupakan tugas mulia sebagai tenaga pendidik. Meskipun demikian, bagi sang ilmuwan juga perlu melakukan pengembangan diri. Aktivitas pengembangan diri bagi seorang ilmuwan sebenarnya tidak perlu berbiaya tinggi sampai harus ikut kuliah S3 (walaupun sebenarnya itu juga merupakan tuntutan) atau aktivitas keilmuan yang ditawarkan berbagai PTN/PTS yang harus merogoh kantong cukup dalam dengan tempat kegiatannya di hotel-hotel berbintang. Di era semua aktivitas berbasis IT dengan cukup duduk manis di depan PC, laptop, atau notebook sudah cukup asal sarana untuk bekerja terhubung dengan internet. Kalau sudah terhubung dengan internet, tinggal coba saja masuk ke google. Dari google silakan dicari yang diinginkan. Dijamin google banyak membantu siapa saja yang memerlukan bantuannya.

Penulis yakin banyak ilmuwan yang sudah berinteraksi dengan google. Bahkan, sudah banyak yang sangat bergantung pada google. Bukan hanya ilmuwan dari kalangan tenaga pendidik, para anak didiknya pun tidak mau ketinggalan. Sampai-sampai untuk menjawab ujian, para ilmuwan muda itu pun harus buka-buka google. Itu efek dari pembelajaran yang mengarah pada verbalistis (https://subagiowaluyo.com/ilmuwan-dan-verbalistis/). Untuk itu, tidaklah aneh jika tumbuh penyakit pragmatis di kalangan ilmuwan muda. Di hampir banyak aktivitas keilmuan, seperti menulis karya ilmiah atau naskah akademik sekalipun para ilmuwan tidak segan-segan meng-copy paste dari hasil temuannya di google. Bukan itu saja, untuk keperluan akreditasi PT juga sama, para ilmuwan mencuri data orang yang terdapat di google. Penulis yakin yang namanya asesor dari Badan Akreditasi Nasional PT (BAN PT) juga tahu kalau hasil temuannya di lapangan yang ditunjukkan oleh pihak PT yang diasesori itu hasil rekayasa. Dengan demikian, ilmuwan PT, baik yang disebut sebagai dosen maupun mahasiswa sama-sama melakukan manipulasi data.

Apakah perilaku buruk semacam itu didiamkan saja? Sebagai ilmuwan yang mengedepankan aksiologi perilaku semcam itu tidak bisa dibiarkan. Seorang ilmuwan yang lebih mengedepankan aksiologi harus punya sikap untuk berubah. Tidak bisa seorang ilmuwan karena sudah keenakan mencuri data dari google terus-terusan dari waktu ke waktu melakukan hal yang sama. Dia harus punya tekad kuat untuk berubah. Memang, akan ada risiko dengan mengubah kebiasaan buruk ke kebiasaan baik. Salah satu risikonya, kalau PT yang punya kebiasaan buruk, misalnya, ketika akan ada akreditasi bersikap jujur sudah bisa dipastikan hasil akreditasinya akan turun. Kalau mengalami penurunan, misalnya dari baik menjadi cukup (dulu dari B menjadi C), mau tidak mau juga akan berpengaruh terhadap penurunan jumlah mahasiswa yang akan masuk ke PT-nya. Kemudian juga akan berpengaruh terhadap pemasukan keuangan PT dan seterusnya sehingga terbayanglah di benak sang pimpinan PT yang dikelolanya mengalami kebangkutan. Selain itu, sebagai pimpinan juga harus siap dengan tudingan dari atasannya dan juga dari kalangan mahasiswa yang kecewa dengan hasil akreditasinya. Gara-gara hasil akreditasi BAN berbuntut panjang yang membuat setiap orang yang terlibat di PT tersebut tidak mustahil mengalami depresi.

Apakah harus sampai sejauh itu akibat yang ditanggung pihak PT? Bagi sivitas akademika yang terbiasa berpikiran pragmatis memang seperti itu. Tapi, bagi sivitas akademika yang inovatif dan kreatif akan melakukan kerja-kerja yang baik dan benar. Artinya, sivitas akademika itu akan menempuh cara-cara yang sesuai dengan aturan yang telah digariskan pemerintah (dalam hal ini BAN PT). Bukankah sebenarnya cukup bijak kalau ditentukan masa berlakunya hasil akreditasi itu lima tahun? Dalam masa lima tahun itu PT yang, misalnya, hasil akreditasinya cukup (C) bisa melakukan perbaikan. Caranya,apalagi kalau bukan melakukan langkah-langkah inovatif dan kreatif. Kalau di PT itu, misalnya, tingkat pendidikan para tenaga pendidiknya rata-rata cuma sampai S2, apa salahnya mereka secara bertahap dikuliahkan ke S3? Mustahil dalam kurun waktu lima tahun tidak ada seorang pun yang bisa meraih pendidikan S3. Selain itu, dalam kurun lima tahun juga pihak PT memberi kesempatan pada setiap dosennya untuk melakukan penelitian yang sepenuhnya biayanya disediakan PT. Kemudian dari laporan penelitian itu dibuat makalah yang dipresentasikan di mimbar ilmiah. Makalah-makalah dari mimbar ilmiah itu kalau memang layak bisa dijadikan sebagai bahan tulisan di jurnal PT setempat. Bahkan, tidak mustahil kalau memang bagus makalahnya bisa saja dimasukkan ke jurnal-jurnal berkelas nasional atau internasional.

Bagaimana dengan aktivitas pengabdian masyarakat (PM)? Sebaiknya, aktivitas PM tidak diadakan di tingkat program studi (prodi). Kalau bentuk PT itu sebuah universitas, kegiatan PM dilakukan oleh universitas saja. Nanti dalam kegiatannya bisa melibatkan sivitas akademika yang ada di prodi-prodi PT tersebut. Begitu juga halnya dalam penerbitan buku-buku teks yang ditulis para dosen, sebaiknya universitas memiliki semacam badan penerbitan. Akan lebih baik lagi kalau pihak universitas menjadikan penerbitan buku sebagai proyek yang bisa diikuti oleh setiap ilmuwan yang akan menerbitkan bukunya. Dalam hal ini pihak universitas menyediakan dana untuk penulisan buku-buku teks sekaligus juga menerbitkannya. Dengan cara seperti itu banyak dosen yang mau terlibat dalam penulisan buku teks. Singkatnya, segala cara untuk memenuhi permintaan borang-borang dari BAN PT bisa dipenuhi dengan cara yang baik dan benar. Dengan cara kerja seperti yang disampaikan di atas, akan menghasilkan produk-produk yang inovatif dan kreatif sehingga ketika tiba saatnya dilakukan akreditasi buat PT tersebut tidak mustahil akan bisa mendongkrak perolehan angka hasil akreditasi. Jadi, sudah saatnya orang-orang yang terlibat dalam aktivitas keilmuan melakukan cara-cara kerja yang inovatif dan kreatif. Tinggalkan cara-cara kerja yang serba `grabak-grubuk` yang sudah jelas menempuh cara-cara yang tidak baik. Bukankah seorang ilmuwan harus berlaku jujur?  Bukankah dengan kejujuran itu menunjukkan bahwa ilmuwan itu mengedepankan aksiologi?

***



Perilaku menyesakkan yang ditunjukkan dengan melakukan cara-cara yang menyimpang dalam mewujudkan PT yang bersih dari penyakit pragmatis harus segera disingkirkan. Untuk bisa mewujudkannya diperlukan kerja keras dan serius serta tentu saja dibutuhkan ekstra kesabaran. Memang, kerja keras yang bertujuan untuk mewujudkan PT yang inovatif dan kreatif penuh dengan tantangan. Tantangan itu memang harus dihadapi. Tantangan itu memang penuh dengan risiko. Kalau memang tantangan dan risiko itu bisa dihadapi, tidak mustahil sesuatu yang ingin diperoleh atas jerih payah para ilmuwan yang dibantu dengan sivitas akademika lainnya akan tercapai. Manakala sudah tercapai kerja berikutnya juga akan lebih mudah lagi. Untuk itu, sudah saatnya setiap ilmuwan memiliki niat yang baik dalam mengelola PT. Dengan niat yang baik disertai dengan kerja yang juga baik, Insya Allah akan terwujud sebuah kebaikan. Wallahu a`lam bissawab.   





Rabu, 22 November 2023

All You Need Is Love (138)

 



Ilmuwan dan Verbalistis


Subagio S. Waluyo

 

Penulis pernah bertanya pada mahasiswa kalau pada saat UTS cari jawaban di google atau tidak. Serempak secara jujur mereka mengaku mau tidak mau membuka google. Penulis bertanya seperti itu karena sudah bisa dipastikan mereka-mereka yang tidak mau repot-repot buka catatan, jalan pintas yang paling mudah apalagi kalau bukan mencari jawabannya di google. Mengapa mereka mencari jawabannya di google? Jawabannya mudah saja kok, apalagi kalau bukan karena soal ujiannya bersifat hafalan (verbalistis)!

***

Kalau soal ujian sudah bersifat verbalistis, bisa dipastikan ilmuwan yang kesehariannya mengajar di depan kelas dipastikan ketika mengajar juga tidak terlepas dari pembelajaran yang bersifat verbalistis. Ingat, verbalistis ada kelemahannya. Kelemahan yang pertama, metode ini hanya bisa digunakan ketika orang menyiapkan diri untuk mengikuti ujian. Pada saat mau dan ketika ujian boleh jadi sang mahasiswa akan ingat yang dihafalkannya. Tetapi, selang beberapa hari kemudian semua yang diingatnya akan hilang. Yang kedua, sesuatu yang dihafal belum tentu ketika berhadapan dengan kasus bisa digunakan oleh sang mahasiswa. Jadi, pembelajaran dengan metode verbalistis sudah harus disingkirkan. Sang mahasiswa adalah orang dewasa. Ketika belajar, mereka juga harus diperlakukan dengan pembelajaran orang dewasa. Sekali lagi, bukan lagi mahasiswa diajarkan pembelajaran yang cenderung verbalistis.

Agar terhindar dari pembelajaran yang verbalistis, ajarkan mereka untuk memahami isi bacaan. Sebagai contoh bisa dibuka tautan berikut ini yang berisikan bahan tentang  pencegahan korupsi dengan cara mengklik tautan ini: https://subagiowaluyo.com/10-mahasiswa-vs-koruptor/. Setelah diklik tautan itu, coba dibaca dan dipahami dengan baik isi tulisan tersebut. Untuk memudahkan mahasiswa memahami isi bacaan itu bisa dilakukan dengan cara pemetaan pikiran. Pemetaan pikiran ialah diagram yang menggambarkan secara visual tentang ide, konsep, informasi, atau hal-hal lain. Selanjutnya, setiap ide, konsep, atau informasi tersebut berada dalam sebuah kotak peta pikiran yang saling terhubung secara terorganisir dengan garis ( https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/apa-itu-mind-mapping-kepoin -tentang-peta-pikiran-dan-cara-membuatnya. Untuk lebih jelasnya,bisa dilihat contoh gambar pemetaan pikiran di bawah ini.



Setelah memahami isi bacaan, coba sang ilmuwan meminta para mahasiswanya untuk menganalisis isi bahan tersebut. Biasakan mahaswa untuk belajar menganalisis atas setiap masalah yang ditemuinya. Dengan cara seperti itu, nantinya mahasiswa ketika terjun ke masyarakat terbiasa untuk melakukan analisis terhadap masalah-masalah yang ditemuinya. Mahasiswa yang hanya dijejali hafalan tanpa analisis ketika nanti mereka terjun ke masyarakat akan mengalami kegamangan. Justru, yang dituntut dari seseorang yang mengaku dirinya cendikiawan adalah kemampuannya dalam melakukan analisis.

Jika mahasiswa sudah memiliki kemampuan menganalisis, langkah berikutnya adalah berikan pada mahasiswa studi kasus yang berkaitan dengan bahan yang dibacanya. Di sini sang ilmuwan bertindak sebagai fasilitator. Biarkan saja mahasiswa yang memecahkan kasus yang diajukan. Sudah saatnya mahasiswa belajar dari setiap kasus yang ditemuinya. Ajarkan mereka untuk menganalisis setiap kasus yang ditemuinya. Sang ilmuwan yang mengampu mata kuliah yang berkaitan dengan pendidikan antikorupsi, misalnya, coba cari kasus-kasus tindak pidana korupsi (tipikor) yang akhir-akhir ini melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jangan tanyakan pada mahasiswa apa itu tipikor atau KPK! Tapi, cari berita-berita di seputar keterlibatan anggota atau pimpinan KPK dalam tipikor! Setelah menemukan berita-beritanya, pilih salah satu berita menarik yang bisa dijadikan objek studi kasus. Sebelum dikaji dengan studi kasus, mahasiswa diminta membuat pemetaan pikiran seperti yang tercantum di atas. Jika sudah dilakukan, barulah mahasiswa diminta memecahkan kasus yang ditemukan dari berita itu. Pola pembelajaran seperti itu akan lebih menarik ketimbang pembelajaran verbalistis. Dikatakan menarik karena mahasiswa dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran. Dengan cara demikian, fokus pembelajaran bukan pada dosen tapi pada mahasiswa. Bisa dipastikan pembelajaran model ini akan menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

***



Sudah saatnya ilmuwan yang mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik melakukan perubahan. Dalam hal ini salah satu perubahan yang mendasar adalah pola pembelajaran yang semula terpusat pada dosen bertransformasi ke objek yang diajarkannya (mahasiswa). Dengan berpusat pada mahasiswa diharapkan akan terjadi perubahan, baik pada pengetahuan maupun perilaku mahasiswa. Bukankah pembelajaran yang ideal adalah telah terjadinya perubahan perilaku dan sekaligus kompetensi mahasiswa? Kalau memang sudah mengetahuinya, sudah saatnya para ilmuwan sebagai tenaga pendidik mempraktekkannya sekarang juga. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Sekedar Informasi:

* Ilmuwan yang ingin mengetahui tentang pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (mahasiswa) bisa mengklik tautan di bawah ini.

( https://www.youtube.com/watch?v=ovRQjsF9nPE) 







Selasa, 21 November 2023

All You Need Is Love (137)

 



Ilmuwan antara Who dan What


Subagio S.Waluyo



Seorang pejabat tinggi di salah satu PT pernah menyampaikan kalau pernah meminta salah seorang dosen untuk mundur saja sebagai dosen di PT yang dipimpinnya. Alasannya lebih karena dosen tersebut tidak taat pada aturan dan berseberangan dengan kebijakan yang telah ditetapkan PT. Alasan itu bisa saja dinilai oleh para ilmuwan yang ada di sekitarnya cenderung mengada-ada karena orang yang berani menentangnya dinilai dari sisi usia, pendidikan, dan jabatan fungsionalnya jauh di bawahnya. Sang pejabat tinggi adalah seorang tokoh nasional, usianya sudah memasuki masa lansia, pendidikan terakhirnya S3 plus guru besar dari PTN ternama di negeri ini, dan sudah malang melintang pengalamannya, baik di dunia pendidikan maupun politik, dan tentu saja memiliki seabreg penghargaan atas jasa dan prestasinya, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Karena itu, tidak ada seorang pun di PT yang dipimpinnya berani untuk bersuara `miring` menghadapinya.

***

Dalam tulisan terdahulu (“ Menciptakan Ilmuwan yang tidak Serakah”) disebutkan oleh Wilhelm von Humboldt bahwa PT harus menjadi tempat penelitian ilmiah dan kecendekiaan yang melibatkan insan-insan muda dalam penelitian untuk dididik melalui berbagai penelitian (Edward Shills dalam Etika Akademik, 1993 :57). Untuk melakukan penelitian ilmiah yang nantinya bisa menciptakan para cendekiawan muda diperlukan berbagai aktivitas ilmiah. Aktivitas ilmiah bukan saja dalam bentuk pembelajaran di ruang kelas, tapi juga bisa lewat berbagai mimbar ilmiah, seperti diskusi ilmiah, seminar, konferensi, dan debat publik. Di forum-forum ilmiah seperti itu sah-sah saja kalau setiap sivitas akademika, entah itu mahasiswa atau dosen bebas untuk menyatakan pendapatnya. Bukan hanya di forum-forum ilmiah, dalam rapat-rapat struktural PT atau rapat-rapat dosen juga sah-sah saja kalau setiap orang yang menghadiri rapat bebas menyatakan pendapatnya. Namanya juga PT sah-sah saja jika ada orang yang mengkritisi kebijakan PT. Hal itu suatu bukti bahwa PT tersebut memiliki dinamika kehidupan kampus yang sehat.

Kampus yang sehat tidak hanya ditunjukkan oleh pembelajaran yang tertata apik dengan ketaatan menjalankan aturan yang sudah tercantum, baik menurut aturan pemerintah maupun aturan PT bersangkutan. Kampus yang sehat tidak hanya ditunjukkan oleh para mahasiswanya yang mentaati aturan perkuliahan sehingga IPK lulusannya rata-rata minimal di atas 3 (B+). Kampus yang sehat bukan tidak boleh adanya perdebatan antara dosen dan mahasiswa. Selama dalam beraktivitas di kampus, di ruang kelas apa salahnya ada perdebatan? Sering dijumpai ketika terjadi perdebatan antara mahasiswa dan dosen, sang dosen yang mengalami kesulitan untuk menentang pendapat sang mahasiswa, mau tidak mau harus menggunakan jurus pamungkas: mematikan jawaban mahasiswa dengan cara menunjukkan tentang jati dirinya. Maksudnya, sang dosen di hadapan sang mahasiswa yang mendebatnya akan mengatakan tentang prestasi yang diperolehnya selama ini yang membuat sang mahasiswa akan terpojok alias tidak berkutik. Sang dosen dengan tidak memiliki sedikitpun rasa bersalah bangga kalau bisa membuat sang mahasiswa yang kritis dikunci sehingga sang  mahasiswa terdiam dan tidak berkeinginan lagi melakukan perdebatan.

Sikap sang dosen dan sang pejabat tinggi berkaliber nasional (bahkan internasional) itu jelas menunjukkan sosok ilmuwan yang tidak memperoleh manfaat dari ilmu yang dipelajarinya (aksiologi). Sosok ilmuwan seperti ini telah dengan sengaja mematikan mimbar bebas akademik. Sosok ilmuwan seperti ini di berbagai forum bisa dipastikan ketika ada orang yang mencoba menentang, mengkritisi, atau mempertanyakan pendapatnya akan dilihat dulu siapa orangnya (who). Dengan kata lain, ilmuwan semacam ini berpegang teguh pada siapa (who) bukan pada apa (what) yang dikatakan orang padanya. Prinsip yang dianut ilmuwan jenis ini jelas prinsip yang salah. Memang, sang ilmuwan berpendidikan tinggi, orang yang sudah malang melintang di forum-forum ilmiah nasional dan internasional. Tetapi, itu semua tidak perlu dibanggakan. Justru, semakin tingginya pendidikan, semakin banyaknya pengalaman hidup di dunia pendidikan, semakin banyaknya tanda jasa atau penghargaan yang diperolehnya, semakin menunjukkan ketundukan hatinya: rendah hati. Ilmuwan yang rendah hati adalah ilmuwan yang mengedepankan konsep aksiologi. Ilmuwan yang rendah hati menunjukkan bahwa dia telah memperoleh manfaat yang demikian banyak dari ilmu yang dipelajarinya. Ilmuwan yang rendah hati yang telah memahami dan menerapkan aksiologi dengan sendirinya menghidupkan dinamika kehidupan kampus. Sebaliknya, ilmuwan yang tinggi hati, yang tidak mau ditentang pendapatnya malah meredupkan dinamika kehidupan kampus.

***

Sebagai seorang ilmuwan yang banyak berkecimpung di dunia PT hanya ada dua pilihan ketika berhadapan dengan orang-orang di sekitarnya: who atau what. Ilmuwan yang tinggi hati tentu akan lebih memilih who ketika berhadapan dengan orang yang dianggap rendah, entah mahasiswanya atau tenaga kependidikan yang hanya berpendidikan paling tinggi S2. Sikap seperti ini jelas akan mematikan kehidupan kampus yang penuh dengan dinamika keilmuan. Sebaliknya, ilmuwan yang rendah hati dengan sendirinya akan menghidupkan kehidupan kampus karena ilmuwan jenis ini banyak mengambil manfaat dari ilmu yang dipelajarinya (aksiologi). Jadilah ilmuwan yang rendah hati karena ilmuwan yang rendah hati yang mengedepankan what daripada who yang justru akan menciptakan mimbar bebas ilmiah di kampus. Dengan demikian, kampus yang bisa mewujudkan mimbar ilmiah akan melahirkan insan-insan muda yang cendekia. Wallahu a`lam bissawab.    


All You Need Is Love (136)

 


Menciptakan Ilmuwan yang tidak Serakah


Subagio S.Waluyo



Arief Budiman pernah menulis makalah dengan judul “Menciptakan Manusia Indonesia yang tidak Serakah” (Individu Keluarga dan Masyarakat, 1986:154-172). Makalah tersebut ditulis Arief Budiman dalam Penataran Pengajar Ilmu Sosial Dasar (Bukit Tinggi, 13—19 April 1981)  dan Lokakarya Penyusunan Kumpulan Minimal Bahan Peragaan Mata Kuliah Ilmu Sosial Dasar (Universitas Brawijaya, Malang, 20—27 Januari 1985). Ada kemiripan judul yang ditulis Arief Budiman dengan Penulis. Kemiripannya terletak pada: “Menciptakan ….. yang tidak Serakah”. Yang berbeda hanya pada objeknya, kalau Arief Budiman objeknya `Manusia Indonesia`. Sedangkan Penulis objeknya `Ilmuwan`. Meskipun ada kemiripannya dan ada perbedaannya, keduanya memiliki niat yang sama: agar siapapun orangnya harus menjauhkan diri dari keserakahan.

***

          Setiap orang harus berupaya menjauhkan diri dari keserakahan. Kalau ada seorang ilmuwan yang masih memiliki keserakahan, bisa jadi ilmuwan tersebut belum bisa mengambil manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Ilmuwan tersebut masih terpenjara dalam kisi-kisi teknologi sehingga terampas rasa kemanusiaannya dan kebahagiaannya. Ilmuwan tersebut seperti dikatakan di atas terpenjara dalam kisi-kisi teknologi karena memandang ilmu bagi dirinya menjadi tujuan hidupnya. Ilmu bagi dirinya bukan dijadikan sebagai sarana untuk membantu mencapai tujuan hidupnya, ilmu baginya telah menjadi tujuan hidupnya. Ilmuwan jenis ini tidak mengetahui ilmu itu dipergunakan untuk apa? Di mana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan itu harus diarahkan? Ilmuwan jenis ini telah berpaling dari hakikat moral (Jujun Suria. Sumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, 2007:231-231).

          Apa yang terjadi kalau seorang ilmuwan telah berpaling dari hakikat moral? Mudah ditebak, seorang ilmuwan yang beraktivitas di lembaga riset bisa dipastikan akan melakukan apapun agar hasil risetnya menyenangkan dan sekaligus menguntungkan orang yang menggunakan tenaganya. Tanpa ada perasaan bersalah orang jenis ini mau memanipulasi data. Kalau tidak bisa dan biasa terlibat dalam kerja-kerja penelitian, seorang ilmuwan yang kesehariannya memang sudah sibuk mengajar akan bertambah sibuk karena sudah bisa dipastikan orang jenis ini akan minta jam mengajar diperbanyak. Dengan jam mengajar yang cukup banyak sudah bisa dipastikan dia akan memperoleh banyak pemasukan (penghasilannya bertambah). Walaupun cukup melelahkan karena jam mengajar yang cukup banyak, baginya tidak ada masalah.

          Ilmuwan jenis ini yang mengajar sekian bidang ilmu tidak pernah berpikir dan juga tidak punya perasaan kalau telah banyak mengambil jatah orang lain. Bagaimana dengan hasil dari mengajar sekian banyak mata kuliah dan kelas? Wallahu a`lam bissawab, yang pasti Tuhan Maha tahu akan hasil pengajarannya selain juga anak didiknya. Kalau kualitas anak didiknya diragukan kompetensinya, hal itu lebih disebabkan ilmuwan tersebut tidak fokus pada bidang keilmuan yang didalaminya. Jadi, kalau ada suara miring tentang hasil pengajarannya, ilmuwan jenis ini tidak usah menyalahkan orang lain karena memang dari semula tidak fokus pada bidang keahliannya. Karena tidak fokus pada bidang keilmuan yang digelutinya (yang berakar dari keserakahannya), orang jenis ini tidak akan serius untuk menciptakan intelektual muda di perguruan tinggi tempat dia mengajar. Akhirnya, perguruan tinggi yang dijadikan sang ilmuwan sebagai objek mencari nafkah dari tahun ke tahun hanya menjadi semacam lembaga kursus.

***

Perguruan tinggi jelas bukan lembaga kursus. Perguruan tinggi seperti kata Wilhelm von Humboldt harus menjadi tempat penelitian ilmiah dan kecendekiaan yang melibatkan insan-insan muda dalam penelitian untuk dididik melalui berbagai penelitian (Edward Shills dalam Etika Akademik, 1993:57). Bahkan, lebih dari itu perguruan tinggi juga bisa dijadikan sarana untuk melakukan pengabdian masyarakat. Untuk itu, sejak semula ilmuwan-ilmuwan yang telah mengecap pendidikan tinggi sampai S3 harus fokus pada bidang keilmuannya dan memahami benar tentang manfaat dari ilmu (aksiologi) yang digelutinya. Kalau saja tetap konsisten berpegang teguh pada aksiologi, jenis ilmuwan seperti ini tidak akan serakah. Di lembaga riset, ilmuwan jenis ini tidak akan mau melakukan kecurangan dengan memanipulasi data hasil penelitiannya. Begitu pun jika terjun di dunia pengajaran, ilmuwan jenis ini juga tidak mau disebut sebagai pengajar semua ilmu. Penulis berharap mudah-mudahan saja masih ada ilmuwan yang jauh dari perilaku buruk: serakah karena serakah sudah bisa dipastikan akan merugikan semua pihak.   




Jumat, 17 November 2023

All You Need Is Love (135)

 


Sekali lagi tentang Aksiologi

Subagio S. Waluyo


Jujun S. Suriasumantri dalam Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (2007:231) menyampaikan bahwa ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi itu sendiri. Ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia untuk mencapai tujuan hidupnya. Namun, bahkan, kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. Dengan kata lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Karena tujuan hidup manusia ditentukan oleh ilmu itu sendiri, sah-sah saja kalau ada anggapan kegiatan keilmuan tidak perlu meninggikan kebenaran atau kegiatan keilmuan tidak bisa dipengaruhi oleh pandangan moral. 

***

          Bagaimana kalau kegiatan keilmuan terlepas dari pandangan moral? Bisa jadi kalangan ilmuwan yang berpegang teguh dengan prinsip tersebut termasuk ilmuwan yang sekuler. Bukankah sekuler itu didefinisikan sebagai suatu hal yang bukan bersifat keagamaan atau bisa juga diartikan suatu hal yang cenderung bersifat kebendaan. Jika kata `sekuler` diberi akhiran –isme menjadi `sekulerisme` bisa didefinisikan sebagai paham yang memisahkan antara agama dan urusan-urusan negara, politik, atau institusi publik (https: //www.liputan6.com / hot / read/5370934/sekuler-adalah-bersifat-kebendaan-bukan-keagamaan-kenali-contoh-negara-sekuler). Untuk itu, sekulerisme bisa diartikan sebagai paham atau kepercayaan yang berpendirian bahwa paham agama tidak dimasukkan dalam urusan politik, negara, atau institusi publik.

          Bagaimana seandainya agama tidak dimasukkan ke dalam urusan-urusan politik, negara, atau institusi publik (sebut saja semuanya itu urusan duniawi)? Bukankah dalam agama diajarkan hal-hal yang berkaitan dengan moral atau akhlak? Kalau tidak dimasukkan unsur-unsur agama, sudah bisa dipastikan akan ada ilmuwan yang tidak bermoral atau berakhlak. Ilmuwan jenis ini ketika mengkaji hakikat ilmu dan cara mendapatkan ilmu tentu saja  akan melakukan cara apapun. Cara-cara yang ditempuh sangat mungkin cara-cara yang tidak berpegang teguh pada unsur moral. Bisa juga dikatakan ilmuwan jenis ini telah menyepelekan konsep aksiologi. Kalau  konsep aksiologi sudah tidak ada lagi dalam menjalankan kerja-kerja keilmuannya, sah-sah saja ilmuwan jenis ini akan melakukan berbagai kebohongan seperti yang sudah disampaikan dalam “Catatan dari Menara Gading (3)”. Berbicara tentang kebohongan atau ketidakjujuran bisa dilihat dari dua orang tokoh nasional: Kasino Hadiwibowo (Kasino Warkop) dan Buya Hamka. Silakan disimak yang disampaikan oleh kedua tokoh tersebut berikut ini.


Kasino Hadiwibowo yang lebih dikenal dengan Kasino Warkop adalah salah seorang pelawak di masa Orde Baru (akhir 70-an) yang cukup terkenal. Sebagai pelawak yang berpendidikan tinggi (alumnus FISIP UI) Kasino dalam suatu momen tertentu pernah menyampaikan pernyataan kalau bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur. Ada benarnya juga pernyataan Kasino. Diakui atau tidak bangsa ini orang pintar boleh dikatakan cukup banyak. Semakin ke mari semakin banyak sarjana keluaran PTN-PTS terkenal, baik dalam negeri maupun luar negeri. Tapi, itu perilakunya boleh dikatakan tidak jujur. Justru, kejujuran itu lebih penting daripada seorang akademis yang bertitel guru besar tetapi keblinger perilakunya. Ternyata, di masa reformasi seorang rektor pun tidak luput dari korupsi. Bahkan, kalau diadakan pendataan tentang mereka-mereka yang korup dilihat dari latar belakang pendidikannya, kita yakin sebagian besar mereka adalah orang-orang pintar. Jadi, negara ini boleh dikatakan sudah rusak (kalau boleh hancur sekalipun) karena ulah orang-orang pintar yang tidak jujur.


Setiap orang yang pernah berbuat bohong karena perbuatan bohongnya tidak diketahui orang lain, dia akan mengulanginya. Akhirnya, dia akan kerap melakukan hal yang sama; berbuat bohong. Orang jenis ini tanpa disadarinya telah terbiasa hidup dengan kebohongan. Perbuatan bohong telah mendarah daging dalam hidupnya. Tidak mustahil suatu saat boleh jadi dia sendiri tidak tahu yang keluar dari mulutnya mana perkataan yang benar, mana yang tidak benar (bohong). Berkaitan dengan itu, di negara ini sudah sulit sekali orang percaya dengan ucapan sang pejabat publik karena sesuatu yang disampaikan yang sebenarnya benar oleh masyarakat sudah dianggap tidak benar (bohong). Sebaliknya, sesuatu yang disampaikan tidak benar (bohong) oleh masyarakat dianggap benar. Semua itu lebih disebabkan oleh perilaku pejabat publik yang kerap berbuat bohong. Untuk itu, siapapun orangnya jangan memulai sesuatu dengan kebohongan karena tidak mustahil di samping orang itu tidak bisa lagi membedakan mana ucapannya yang benar, mana ucapannya yang bohong seperti yang disampaikan Buya Hamka di atas.

***

          Sebagai ilmuwan harus terhindar dari kebiasaan bohong. Seorang ilmuwan yang kerap berkutat dengan konsep ontologi dan epistemologi agar terhindar dari kebohongan harus memiliki niat dalam mengkaji ilmu memiliki konsep aksiologi atau dia harus bisa mengambil manfaat dari pengkajian ilmunya. Kalau sudah bisa mengambil manfaat dari ilmu yang dikajinya, ilmuwan tersebut sudah bisa dipastikan tidak akan melakukan kebohongan. Ilmuwan jenis ini benar-benar sudah memiliki konsep aksiologi. Sebaliknya, kalau masih saja ada kebohongan dalam bertindak dan bertutur kata, sangat mungkin ada yang belum beres: ilmuwan tersebut belum secara mendalam mengkaji, memahami, dan menerapkan konsep aksiologi. Mudah-mudahan saja masih ada di antara ilmuwan yang bisa mengambil manfaat dari ilmu yang dikajinya sehingga anak-anak didiknya terhindar dari kebohongan. Wallahu a`lam bissawab.  

 Sumber Gambar :

  1. (https://www.kompasiana.com/monang24764/632a733a4addee                  12dc2307b3/noda-bangsa-korupsi-kolusi-dan-nepotisme-kkn)
  2. (https://web.facebook.com/prof.Hamka/photos/a.950233 551693538/2299247236792156/?type=3&_rdc=1&_rdr)








Kamis, 16 November 2023

All You Need Is Love (134)

 


Bohong dalam Karikatur


Subagio S. Waluyo

 

          Seorang karikaturis walaupun pernah mengecap bangku PT (ada juga di antara mereka yang selesai pendidikan PT-nya), banyak di antara mereka yang tidak memahami konsep ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dengan kata lain, semasa kuliah mereka kurang peduli dengan ketiga konsep tersebut. Meskipun demikian, mereka orang-orang yang kreatif, kritis, dan punya kepedulian. Justru, karena memiliki kreativitas, kekritisan, dan kepedulian, mereka sesungguhnya telah mempraktekkan konsep aksiologi lewat karya-karyanya. Artinya, cukup dengan melihat karya-karyanya bisa disimpulkan bahwa mereka telah mengimplementasikan konsep aksiologi. Sebagai bukti kalau mereka mengimplementasikan konsep aksiologi bisa dilihat pada gambar-gambar karikatur di bawah ini.   

***



Karikaturis di atas lewat karyanya berpesan bahwa seorang pembohong tidak layak menjadi pemimpin. Pesan yang disampaikan sang karikaturis tidak berlebihan. Memang, seorang pemimpin harus memiliki kejujuran. Seorang pemimpin yang tidak jujur (pembohong) ada kesempatan (salah satunya) melakukan tindak pidana korupsi (tipikor). Pemimpin jenis ini terutama pemimpin di suatu negara, daerah, atau instansi, baik pemerintah maupun swasta di manapun berada pasti melakukan praktek-praktek kotor apalagi kalau bukan korupsi. Apa yang terjadi kalau pemimpin di suatu daerah sudah melakukan tipikor? Bisa ditebak daerah itu tidak bisa membangun. Rakyat di daerah itu tetap saja dalam kondisi terbelakang, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pendidikannya. Kalau sudah seperti itu, tidak usah heran di daerah yang dipimpinnya banyak warganya yang tidak sejahtera karena banyak yang miskin, tidak sehat (anak-anaknya banyak yang busung lapar?), dan tidak mustahil tingkat pendidikannya rata-rata menengah ke bawah. Sangat mungkin, kalau ada istilah negara gagal, untuk daerah seperti ini juga bisa dilekatkan istilah  daerah gagal. Dengan demikian, ada benarnya juga ya, kalau pembohong tidak layak menjadi pemimpin?



Seseorang yang melakukan tipikor (koruptor) sudah jelas adalah seorang pembohong. Walaupun sebagian besar koruptor berpendidikan tinggi, sebagai orang yang berintelektual seorang koruptor jelas orang yang tidak bermoral. Orang jenis ini juga punya saham menggiring entah daerah atau negara ke arah daerah atau negara gagal karena koruptor tersebut telah membuat gagal mensejahterakan masyarakatnya. Saking kuatnya syahwat duniawi ketika diadili agar hukuman yang dikenakan lebih ringan, di samping di-back up habis-habisan oleh tim pembelanya, sang koruptor juga berusaha mencari empati masyarakat. Salah satu cara mencari empati masyarakat di antaranya adalah sang koruptor mengharapkan adanya caci-maki dari masyarakat. Berkat caci-maki dari masyarakat, sang hakim yang tidak tega melihat sang koruptor dicaci-maki masyarakat sedemikian rupa justru memberikan vonis ringan. Wallahu a`lam, apakah hakimnya yang masuk angin atau tekanan masyarakat yang membuat vonis hukumannya demikian ringan? Yang pasti, baik sang koruptor maupun sang hakim kedua-duanya tidak jujur alias sama-sama pembohong.



Pejabat-pejabat, baik di daerah maupun pusat juga kerap berbohong. Hal itu terjadi ketika mereka menyampaikan laporan perkembangan ekonomi, baik di daerahnya maupun negaranya sudah bisa dipastikan para pejabat itu memanipulasi data. Bisa saja sang pejabat daerah karena mau mendapat apresiasi dari rakyatnya menyampaikan kalau perekonomian di daerah yang dipimpinnya membaik. Sebaliknya, tingkat kemiskinan menurun. Tetapi, jika dikaitkan dengan realitanya justru sebaliknya. Di sini sang pejabat daerah yang sudah dipastikan sekarang ini sebagian besar dari kalangan orang-orang akademis demi melanggengkan kekuasaannya terpaksa harus berbohong. Saking kerapnya berbohong hidungnya seperti yang tampak pada gambar karikatur di atas semakin memanjang. Persis seperti Pinokio ketika berbohong semakin panjang hidungnya. Tidak mustahil pejabat jenis Pinokio ini juga tidak bersih dari yang namanya korupsi. Dengan demikian, pejabat semacam ini adalah pejabat yang tidak bermoral.

***

          Dengan melihat ketiga gambar karikatur di atas bisa disimpulkan bahwa karikaturis di atas memberikan perhatian khusus agar siapapun orangnya menghindari kebohongan. Siapapun orangnya yang berbuat bohong bisa dipastikan kebohongan yang dilakukannya suatu saat akan terbongkar. Ibarat orang yang berusaha untuk menyembunyikan bangkai, suatu saat akan tercium baunya. Manakala hasil perbuatan bohongnya terbongkar berlaku adagium yang mengatakan `sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya’. Sebaik apapun tampilan dan budi bahasa seseorang (bisa saja orang melihatnya sebagai orang baik) manakala suatu saat berbohong, seumur hidup orang tidak akan percaya. Untuk itu, pada para ilmuwan yang berada di Menara Gading jangan sekali-sekali berbuat bohong karena kebohongan akan membuat hidup tidak tenang, tidak nyaman, dan jauh dari rasa aman. Jadi, sudah saatnya seorang akademikus menegakkan integritas. Wallahu a`lam bissawab.   

Sumber Gambar: 

  1. (https://mobile.facebook.com/MyMovement2015/? rdc=1&_rdr&refsrc=deprecated)
  2. (https://majalah.tempo.co/read/kartun/163980/mengapa-caci-maki-malah-meringankan-hukuman-korupsi)
  3. (https://dearmarintan.wordpress.com/karikatur-170111-karikatur-bohong/)



Rabu, 15 November 2023

All You Need Is Love (133)

 


Integritas Seorang Ilmuwan

Subagio S.Waluyo

         

Kasino Hadiwibowo (Kasino Warkop) suatu saat pernah menyampaikan kalau bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur. Ucapan Kasino ini yang lebih merupakan sebuah satire tentu saja akan membuat orang tersinggung karena jika dikaitkan dengan kondisi sekarang ini ternyata banyak juga orang pintar yang tidak jujur. Kok, bisa begitu Penulis menyimpulkannya? Coba saja direnungkan, bukankah sekarang ini memang orang pintar itu yang ditandai dengan gelar-gelar kesarjanaan, baik mereka yang bergelar S1, S2, maupun S3 sudah demikian banyak? Bahkan, mereka-mereka yang sudah bergelar guru besar (profesor) di berbagai perguruan tinggi (PT) sudah cukup banyak. Tapi, coba perhatikan perilaku mereka-mereka itu, apakah sudah mencerminkan seorang sarjana yang bermoral tinggi?

***

          Pada “Catatan dari Menara Gading (2) telah disinggung oleh Penulis bahwa seorang ilmuwan yang setiap hari berkutat dengan dunia ilmu tidak cukup hanya berputar pada hakikat yang dikaji (ontologi) dan cara mendapatkan pengetahuan yang benar (epistemologi), tapi juga harus mengetahui, memahami, dan mempraktekkan nilai kegunaan ilmu (aksiologi). Boleh jadi seorang ilmuwan yang bermoral rendah (diragukan integritasnya) lebih disebabkan tidak mengetahui, memahami, dan mempraktekkan nilai kegunaan ilmu (aksiologi)? Mereka-mereka itu (ilmuwan yang tidak memiliki integritas) yang kesehariannya berkutat dengan ilmu ketika mengkaji ilmu hanya sampai pada tingkat ontologi dan epistemologi. Sementara itu, yang namanya aksiologi cenderung disepelekan alias dianggap tidak penting. Kalau sudah seperti itu cara berpikirnya, wajar-wajar saja mereka-mereka itu ada kecenderungan untuk berbohong.

          Kalau ada yang bertanya kebohongan seorang ilmuwan di PT dalam bentuk apa atau seperti apa saja contoh perbuatan bohongnya? Menjawab pertanyaan seperti itu gampang saja, kok! Kalau ada yang tidak percaya, coba deh sekali-sekali ke kampus mana saja pas ada salah satu program studi yang mau diakreditasi! Coba lihat betapa sibuknya para pejabat struktural yang dibantu para dosen dan karyawannya! Mereka-mereka berusaha mencari bahan-bahan untuk memenuhi borang akreditasi. Kalau bahan-bahan untuk mencukupi tuntutan borang akreditasi terpenuhi tidak jadi masalah. Tapi, kalau ada beberapa butir di borang akreditasi itu belum juga terpenuhi, di sini mereka mencari bahan di luar program studi yang sekiranya bisa memenuhi tuntutan yang ada di borang akreditas itu. Apa yang mereka kerjakan? Apalagi kalau bukan manipulasi data. Data dari program studi sejenis dari PT lain bisa diambil atau minimal dipinjam dulu. Kalau itu sebuah penelitian, copy paste saja hasil penelitian tersebut. Ganti nama-nama penelitinya dengan nama-nama dosen yang ada di program studi yang mau diakreditasi itu. Ganti juga nama PT-nya dan ganti sana-sini yang memang dipandang perlu untuk diganti. Singkat kata, begitu tiba hari H-nya para asesor datang untuk visitasi layani saja para asesor itu. Usahakan jangan bikin kecewa sang asesor. Dengan cara seperti itu diharapkan nilai akreditasinya tidak turun (kalau bisa naik dari B ke A). Toh, para asesor juga manusia biasa yang cari tambahan dari hasil kerja sebagai asesor (?)

          Itu baru salah satu contoh kebohongan yang dilakukan orang-orang akademis dari PT yang mereka-mereka itu minimal berpendidikan S2. Jadi, tidak dijamin orang yang berpendidikan S3 dan profesor sekalipun memiliki kejujuran. Berkaitan dengan kejujuran, kalau ada pertanyaan lagi: apakah di luar dunia kerjanya mereka juga melakukan hal yang sama? Ya, lebih kurang sama saja perilakunya. Coba saja mereka-mereka yang menjadi pejabat publik di negara ini bukankah banyak juga di antara mereka yang juga masih aktif mengajar di PT? Sekarang semua berita yang memuat perilaku menyimpang (termasuk kebohongan) `kan mudah diakses. Siapapun bisa mengakses berita tentang pejabat si anu yang terbukti korupsi ternyata yang bersangkutan masih aktif sebagai salah seorang dosen di PT anu. Selain itu, karena ada kedekatan dengan salah seorang pejabat tinggi di pusat bisa saja `sang orang pintar` dari salah satu PT di negara ini bisa-bisa saja mengubah bunyi peraturan demi meloloskan anak sang pejabat tinggi tersebut. Ini juga `kan merupakan bentuk pelacuran seorang akademikus yang seharusnya memiliki integritas. Sang akademikus itu karena lebih mementingkan diri sendiri atau bisa juga ingin memenuhi syahwat duniawinya, akhirnya sang akademikus berani berbohong sehingga yang namanya integritas telah hilang dari dirinya. Sang akademikus macam ini secara moral tidak memahami, memiliki, dan menerapkan (sebaliknya malah menyingkirkan) konsep aksiologi yang justru ketika orang mendalami ilmu pengetahuan seharusnya menjadi tujuan mutlak bukan malah disingkirkan.

***


Pinokio setiap kali berbohong dalam The Adventures of Pinocchio (1883) karya penulis fiksi Italia, Carlo Collodi, hidungnya memanjang. Itu hanya dalam karya fiksi. Namanya juga karya fiksi tentu saja tidak bisa dipercaya. Memang, Carlo Collodi menulis kisah Pinokio punya tujuan baik supaya orang jangan suka berbohong. Tapi, pesan moral sang penulis Pinokio seperti tidak mempan tuh buat orang yang kerap suka berbohong. Meskipun demikian, bagi para akademikus yang masih punya hati nurani sudah saatnya melakukan perubahan. Mereka harus punya niat untuk berubah karena cepat atau lambat kalau tidak melakukan perubahan, sangat boleh jadi anak didiknya yang sampai saat ini masih sangat menghormati statusnya sebagai dosen yang ilmunya telah `mumpuni` suatu saat akan mencemoohkannya atau minimal mereka juga akan melakukan hal yang sama dilakukan dosennya: berbohong.  Naudzubillahi min dzaalik!

 

         

          



Selasa, 14 November 2023

All You Need Is Love (132)

 

Aksiologi Sivitas Akademika



Subagio S.Waluyo


Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, satu hari  sebelum Aksi Bela Palestina di depan Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat  (aksi diadakan 28/10 2023), Penulis merasa galau. Bagaimana tidak galau kalau di satu sisi Penulis sebagai ilmuwan yang masih punya rasa kemanusiaan tiba-tiba terpanggil untuk ikut acara tersebut? Tapi, di sisi lain acara tersebut berbarengan dengan waktu mengajar di tempat Penulis selama ini mengabdi sebagai pengajar? Putusan akhir, Penulis harus mengedepankan rasa kemanusiaan daripada harus mengajar di depan kelas. Tentang tidak hadirnya Penulis di hari itu H-nya depan kelas bisa dibicarakan dengan anak didik. Singkatnya, Penulis mengikuti acara Aksi Bela Palestina di depan kantor yang menjadi pendukung utama bangsa Zionis Yahudi (bangsa kera).

***

          Perasaan galau bisa saja terjadi bagi seorang akademis yang setiap hari bergelut dengan dunia ilmu. Perasaan galau itu menjadi bukti bahwa Penulis bukan semata-mata menjadi orang yang saking asiknya dengan dunia ilmu sehingga hanya berpikir ilmu itu hanya berputar pada hakikat yang dikaji (ontologi) dan cara mendapatkan pengetahuan yang benar (epistemologi), tapi juga seorang ilmuwan harus mengetahui, memahami, dan mempraktekkan nilai kegunaan ilmu (aksiologi). Jadi, seorang ilmuwan harus membuktikan dirinya bahwa ilmu yang diperolehnya benar-benar bisa diterapkan dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Dengan kata lain, seorang ilmuwan bukan hanya berkutat dengan mentransfer ilmunya ke anak didik. Tidak cukup bagi seorang ilmuwan hanya berkutat dengan mengkaji ilmu lewat riset-riset yang dilakukannya sampai dia mendapatkan pengetahuan yang benar sementara ada segelintir anak bangsa yang berperilaku kera menghabisi sesama manusia yang tidak bersalah melalui pembunuhan massal. Tidak cukup juga bagi seorang yang mengaku berintelektual berdiam diri terhadap nasib bangsa yang sampai saat ini tidak memperoleh pasokan air bersih, aliran listrik, bahan makanan, dan obat-obatan di tengah-tengah perang yang sedang berkecamuk di Jalur Gaza (Palestina). Pasokan air bersih, aliran listrik, bahan makanan, dan obat-obatan sengajar diblokir oleh bangsa kera yang memang punya niat menghabisi bangsa yang dimusuhinya. Mereka sang bangsa kera mau menghapus dari peta wilayah yang direbutnya menjadi wilayah Zionis Yahudi. Bahkan, tidak mustahil, mereka juga akan mencaplok wilayah di sekitarnya dengan bantuan negara-negara Barat yang memang sama-sama memiliki kepentingan dengan bangsa kera.

          Perilaku negara-negara yang dikatakan sebagai negara-negara maju yang mem-back up habis-habisan sang bangsa kera jelas merupakan perilaku buruk. Mereka sama buruknya dengan perilaku sang bangsa kera. Kalau sudah seperti itu perilakunya, ke mana perginya hati nurani para pemimpin negara maju yang sudah kenyang dengan namanya ontologi dan epistemologi yang selama ini dipelajari habis-habisan di perguruan-perguruan tinggi yang boleh dikatakan terkenal di negara-negara maju itu? Mereka-mereka para ilmuwan cuma asik di menara gading lupa kalau hasil berbagai temuan yang katanya untuk kemanusiaan tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka-mereka hanya berpikir tentang prestasi dan prestise yang dicapainya. Padahal ada yang lebih penting dari sekedar prestasi dan prestise, yaitu mewujudkan dunia yang penuh kedamaian, keamanan, kenyamanan, dan jauh dari hiruk-pikuk teriakan orang-orang kecil yang menderita karena ada bangsa kera yang masih punya syahwat untuk menghabisi sesama manusia. Perilaku yang ditunjukkan bangsa kera jelas perilaku yang mengarah pada pembersihan etnis. Sebagai bukti terjadinya pembersihan etnis bagi bangsa Palestina bisa dilihat pada link berikut ini: https://youtu.be/UxoUS7iXvV0 .

          Melihat kejadian yang dipaparkan dalam link di atas, sebagai ilmuwan Penulis tidak bisa berdiam diri. Penulis sama dengan orang lain yang masih punya kepedulian terhadap sesama nasib bangsa terlepas dari ras, suku, etnis, atau agama jelas hati nurani ini tidak menerima perilaku bangsa kera dan bangsa-bangsa yang mengaku sebagai negara paling maju yang konon kabarnya mau habis-habisan mem-back up bangsa kera yang berperilaku bejat itu. Penulis harus menyebut Zionis Yahudi bangsa kera berperilaku bejat karena memang sudah putus urat rasa malunya dan putus juga rasa kemanusiaannya. Kalau memang bukan bangsa bejat, kenapa melakukan cara-cara brutal dengan memborbadir habis-habisan tempat-tempat pemukiman, tempat-tempat ibadah, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, dan lokasi-lokasi strategis yang digunakan untuk hajat hidup orang banyak? Ini `kan bisa disebut brutal yang korbannya bukan hanya para Pejuang Hamas, tapi juga penduduk biasa.

          ***


Penulis sebagai ilmuwan hanya ingin mengajak pada para ilmuwan di Menara Gading agar tidak hanya mengedepankan ontologi dan epistemologi tapi juga aksiologi. Penulis ingin agar sesama ilmuwan mau menerapkan aksiologi karena kalau hanya sampai ontologi dan epistemologi para ilmuwan hanya berkutat dengan ilmu tanpa ada aksi. Bukankah kehadiran seorang ilmuwan sesuai dengan bidang keilmuannya harus mengamalkan ilmu yang dimilikinya? Mudah-mudahan saja harapan itu masih ada. Wallahu`alam bissawab.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...