TOKOH KITA (12)
Subagio S.Waluyo
Karya apa pun yang ditulis,
baik berupa karya fiksi atau nonfiksi semua membutuhkan riset. Penulis bisa
melakukan riset dengan cara mengumpulkan, menganalisis, hingga menafsirkan
informasi atau data pada topik tertentu untuk mendapatkan pemahaman dan juga
fakta baru.
Riset yang dilakukan sebelum menulis memang biasanya membutuhkan waktu yang
tidak sedikit, tetapi hal itu dapat menjadi salah satu faktor yang membuat
karya berkualitas dan menarik bagi pembaca. Maka, sebisa mungkin riset sebelum
menulis tetap harus dilakukan.
(https://www.idntimes.com/life/education/ran-1668410603-npb/pentingnya-riset-sebelum-menulis-c1c2)
***
Kebiasaan
melakukan riset yang kerap dilakukan dalam menulis diakui atau tidak membuahkan
hasil yang memuaskan. Sebagai bukti adanya hasil yang memuaskan adalah ketika
TOKOH KITA menulis buku. Ada dua buku dalam kurun waktu dua tahun yang ditulis
TOKOH KITA, yaitu Penampakan Nilai-Nilai Kemanusiaan dan Kesosialan dalam
Karya Sastra Indonesia (2021) dan Pembelajaran Penulisan dari Prolog ke
Epilog (2023). Kalau buku pertama ditulis lebih merupakan bahan diktat yang
kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku (jadi bukan dari nol karena sudah
ditulis lebih dari sepuluh tahun lalu sebelum buku diterbitkan), buku kedua
memang dari nol. Buku pertama sebagai bahan diktat yang dikembangkan dimasukkan
ke dalamnya berbagai tulisan TOKOH KITA yang telah di-upload, baik di website
maupun di blogspot TOKOH KITA. Karena lebih merupakan pengembangan
sebuah bahan diktat wajar saja kalau buku tersebut setelah diterbitkan menjadi
buku yang cukup tebal (578 halaman). Selain itu, masa waktu penulisan sampai
dengan penerbitan terbilang cukup lama sekitar 10-13 tahun. Tidak diketahui
persis pertama kali menulis diktat Sistem Sosial dan Budaya Indonesia
(sebelumnya Ilmu Budaya Dasar atau IBD yang kemudian berganti menjadi Ilmu
Sosial dan Budaya Dasar atau ISBD). Bisa dikatakan dalam penulisan buku pertama
tidak ada perencanaan yang matang dan TOKOH KITA juga tidak fokus untuk menulis
buku. Berikut ini bisa dilihat cover buku pertama yang ditulis TOKOH KITA.
.jpg)
Buku tersebut terdiri atas dua belas
bab. Setiap babnya masih dibagi lagi dalam beberapa subbab. Bab 1, misalnya,
yang merupakan Pendahuluan terbagi dalam lima subbab, yaitu 1.1 Sekilas tentang
Kebudayaan; 1.2 Pembelajan Kebudayaan; 1.3 Sekilas tentang Kemanusiaan; 1.4
Manusia sebagai Makhluk Sosial dan Budaya; dan 1.5 Penampakan Kemanusiaan dalam
Karya Sastra. Begitu juga dengan bab-bab selanjutnya berisikan sub-subbab yang
di setiap subbab itu diberi judul. Sebagai tambahan, perlu juga dijelaskan di
sini, di setiap bab dimasukkan satu-dua tulisan yang pernah dimuat, baik di website
maupun blogspot TOKOH KITA. Tulisan-tulisan yang dimasukkan itu ada
kaitannya dengan bahan yang dibahas.Di bab 5,misalnya, ketika membahas tentang
keadilan, TOKOH KITA memasukkan tulisan dengan judul “Gali Juga Manusia”. Untuk
lebih jelasnya bisa dilihat tulisan yang berkaitan dengan keadilan itu.
GALI
JUGA MANUSIA
Awal tahun 1980-an, ketika Soeharto
sebagai presiden sedang berada di puncak kekuasaannya, dalam rangka
menanggulangi kejahatan yang pada saat itu memang cukup tinggi diadakan
operasi rahasia. Operasi rahasia itu di belakang hari dikenal dengan nama Penembakan
Misterius (petrus). Operasi itu berupa penangkapan dan pembunuhan terhadap
orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketenteraman masyarakat
terutama di DKI Jakarta dan Jawa Tengah (termasuk DIY). Pelakunya sendiri
tidak diketahui dengan jelas sehingga wajar saja muncul ungkapan petrus.
Peristiwa petrus memakan korban
cukup besar. Sejak tahun 1983 sampai dengan 1985 ada 713 korban petrus.
Umumnya, korban petrus yang ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan
lehernya terikat (https://id.wikipedia.org/wiki/Penembakan_misteri-us).
Peristiwa petrus itu tidak luput dari perhatian para sastrawan kita di
Indonesia. Salah seorang sastrawan yang menulis tentang korban petrus adalah
Ahmad Tohari dalam salah satu cerpennya
yang berjudul “Ah Jakarta”. Dalam cerpen tersebut Ahmad Tohari sama
sekali tidak menyinggung tentang petrus. Tapi, terbunuhnya teman Tokoh Aku
yang ditemukan di Kali Serayu dalam kondisi wajah yang sudah tidak karuan
bisa menunjukkan bahwa cerpen “Ah
Jakarta” berisikan korban petrus. Di luar itu semua, ada keunikan, yaitu
adanya unsur kemanusiaan yang ada pada
Tokoh Aku sehingga mau mengurusi jenazah temannya yang jadi korban petrus
sementara sebagian besar orang cenderung bersikap masa bodoh dan tidak mau
menanggung risiko.
Teman Tokoh Aku diburu oleh
pelaku-pelaku petrus karena dikenal sebagai `gali` (akronim yang
kepanjangannya Gabungan Anak-Anak Liar) atau preman. Kata `gali` itu sendiri
merujuk pada sekolompok orang bertato yang terorganisasi dengan rapi
melakukan berbagai tindak kejahatan, seperti pemerasan, perampokan,
pemerkosaan, dan pembunuhan yang di tahun-tahun 1980-an berhasil membombastis
Kota Yogyakarta dan sekitarnya
(https://kumparan.com/potongan-nostalgia/gali-gabungan-anak-liar-dan-petrus-penembak-misterius-yogyakarta-1983-1984).
Karena tindakan mereka dinilai meresahkan, pemerintah yang berkuasa pada
waktu itu (Soeharto) mengambil kebijakan sepihak berupa pembasmian
pelaku-pelaku kejahatan tanpa pengurungan (penjara), tapi langsung dieksekusi
di tempat dengan cara-cara seperti yang diuraikan di atas. Temannya termasuk
salah seorang yang diburu pelaku-pelaku petrus karena kejahatannya di Jakarta
dinilai membahayakan dan meresahkan masyarakat. Sang teman yang ketakutan
berusaha menyembunyikan diri ke rumah
Tokoh Aku. Padahal pada waktu itu sang teman yang `gali` itu baru mau
beroperasi, tapi terjadi kecelakaan yang
menewaskan tiga orang temannya. Sedangkan dia sendiri selamat walaupun
kakinya tergores kaca belakang mobil. Sang teman berupaya menyelamatkan diri
karena di dalam mobilnya, menurut pengakuannya, ada peralatan yang biasa
digunakan untuk merampok.
......................................................................................................................
Malam
itu dia datang. Jalannya terpincang-pincang. Lima jari kaki kanannya luka.
Perbannya sudah kumal. Maka pertama-tama aku membantunya mengganti perban
itu. Baru kemudian aku mengajaknya ngobrol. Hati-hati, sebab wajah temanku
itu jelas gelap.
Aku mau lihat
koran kemarin, atau hari ini,” pintanya.
“Ada apa?”
“Nanti kuceritakan.”
“Ceritakan
dulu. Kamu harus memulai pertemuan ini
dengan keterbukaan. Ingat siapa aku dan siapa kamu.”
Matanya
menatapku sebentar. Lalu menunduk. Lehernya kelihatan kecil. Masih ada sisa
kebagusan wajahnya yang kukenal sejak kami masih kanak-kanak. Dia mulai
cerita. Sedan yang disewanya menabrak tiang listrik di Jalan Matraman. Tiga
temannya tidak bisa bangun, mungkin mati. Dia duduk di jok belakang ketika
itu. Karena bekas sopir, dia tahu suasana kritis dalam kendaraan. Ketika
mobil mulai gontai karena slip dia meringkuk seperti trenggiling. Benturan
dengan tiang listrik begitu hebat. Tidak ada secuil pun dia cedera. Luka di
kaki karena tergores kaca belakang ketika dia berusaha lolos keluar. Orang-orang berdatangan. Dan dia menyelinap
lalu menjauh. Dia tidak mungkin lama di situ. Di dalam mobilnya ada golok,
ada gunting kawat buat melumpuhkan kunci gembok sebesar apa pun, dan ada
clurit.
Sebagai teman yang masih punya rasa
kemanusiaan Tokoh Aku menyediakan tempatnya untuk bersembunyi walaupun
sebenarnya tindakan itu salah. Tokoh Aku teringat pada masa kanak-kanak dulu
ketika di kampung.
Kami
bertatapan. Aku tahu dia sedang
menyelidik sikapku, apakah kedatangannya tidak membuatku susah. Sedangkan aku
melihatnya untuk melihat masa lampau ketika aku dan dia sama-sama telanjang
bulat dan berlarian di pematang sawah. Kami suka mencari telur burung
hahayaman, membalutnya dengan tanah lempung kemudian membakarnya. Enak, tak
ubahnya seperti telur rebus. Kami suka menyelam di lubuk mencari udang batu.
Membenamnya dalam pasir panas di tepi kali sampai warnanta jadi merah,
kemudian mengunyahnya. Enak, gurih, dan manis.
Jadi,
Tokoh Aku dan temannya terhitung sahabat karib. Sebagai sahabat karib wajar
kalau Tokoh Aku cenderung melindungi temannya sementara waktu untuk bermalam
di rumahnya. Tokoh Aku tidak ingin kehilangan temannya dan tidak menyuruhnya
pergi. Bahkan, tidak ada keinginan untuk melapor pada Ketua RT di tempat
tinggalnya.
…………………………………………………………………………………………………
Dia
tidak bohong.Apa yang telah diceritakannya termuat sepenuhnya. Dadaku
menyesak. Di hadapanku kini duduk seorang karib yang pasti buronan. Aku
langsung teringat konsekuensi hukum bagi orang yang menyimpan oknum yang
sedang dicari polisi. Tapi detik itu juga kuputuskan, menerima karibku
seperti biasa. Aku tak ingin kehilangan rasa persahabatan. Tidak ingin
menyilakannya pergi, apalagi melaporkannya kepada ketua RT.
Saking
kuatnya persahabatan Tokoh Aku dengan temannya, ketika istrinya memberi
wanti-wanti pun Tokoh Aku bersikap masa bodoh. Tokoh Aku membiarkan saja
istrinya nyerocos sampai sang istri akhirnya diam.
…………………………………………………………………………………………………..
“Dia
anak sini asli, teman sepermainanku dulu.”
“Ceritanya
mengesankan. Gali ya?”
“Seperti
yang kamu dengar sendiri.”
“Nah,
awas kamu. Aku tidak ingin ada bangkai manusia yang pernah menginap di rumah
ini. Kau tahu orang-orang macam dia yang kini mayatnya tercampak di
mana-mana?”
Aku
menutup mata dengan bantal. Istriku masih menyerocos. Tetapi akhirnya dia
mengalah, diam setelah berkali-kali mendesah panjang.
Sang teman yang berprofesi sebagai
`gali`, yang memang sedang diburu pelaku petrus sebelum Tokoh Aku dan
istrinya bangun telah pergi entah kemana. Tokoh Aku berusaha mencari
temannya. Dia berharap agar temannya kembali ke Jakarta dan bersembunyi di
sana. Dia pun berharap agar temannya menyerahkan diri saja. Tapi yang dia
khawatirkan pada akhirnya terjadi. Temannya ditemukan di kelokan Kali Serayu
dalam kondisi sudah mengembung dan wajahnya tak keruan. Di hadapan polisi dia
mengaku kalau itu temannya. Tokoh Aku pun demi menyelamatkan siapa temannya
dan juga dirinya yang sebenarnya juga berbohong. Tapi, rupanya polisi tidak
bertanya lebih jauh (termasuk tidak meminta KTP-nya). Orang-orang di
sekitarnya heran melihat Tokoh Aku yang demikian nekad mau melindungi
temannya yang sudah jelas-jelas `gali` yang sedang diburu para pelaku petrus.
Orang-orang di sekitarnya cenderung untuk berlepas tangan. Bahkan, mereka
mungkin menatap Tokoh Aku dengan tatapan keji. Ketika diminta pertolongannya untuk ikut
mengurus jenazah temannya, mereka justru menghilang.
......................................................................................................................
Aku
tergagap. Orang-orang bergumam mungkin menatapku dengan keji. Mereka sedang
memperhatikan karib seorang gali, aku.
“Pak,
aku akan menunggu di sini. Mungkin nanti ada saudaraku yang lewat sehingga
aku ada teman buat mengurus mayat ini.”
Polisi
pergi, kelihatan dengan wajah puas. Orang-orang pun mulai pergi. Soal mayat tercampak
sudah sering mereka lihat. Akhirnya hanya aku dan karibku yang tinggal.
Sekali pun aku sama sekali tidak cengeng, namun terasa air mataku meleleh.
Ada dua orang anak pencari rumput. Tetapi mereka menghilang ketika kumintai
bantuan mengurus mayat karibku.
Hati nurani mereka sudah hilang.
Entah kemana perginya hati nurani mereka. Mereka tidak mau menanggung
risiko.Mereka juga mungkin telah luntur nilai-nilai agama yang mengajarkan
kepedulian kepada sesama. Akhirnya, Tokoh Aku harus mengerjakannya sendiri.
Tokoh Aku yang masih punya hati nurani karena didorong rasa persahabatan dan
kemanusiaan yang disertai juga dengan nilai-nilai agama yang masih melekat
mengurusi jenazah temannya yang sudah terlanjur dicap sebagai gali. Sementara
orang-orang di sekitarnya, termasuk dua orang yang tadi dimintai
pertolongannya menghilang, hanya menonton yang dia lakukan.
....................................................................................................................
Lama
aku berdiri bingung tak tahu harus berbuat apa. Mayat karibku teronggok hanya
dengan cawat cassanova. Ah, Jakarta. Ucapan itu lagi-lagi terngiang. Aku
masih bingung. Bila bukan karena sebuah tempurung yang tergeletak di tempat
itu mungkin aku masih diam. Tetapi karena tempurung itu, aku bisa berbuat sesuatu.
Mayat karibku kusirami. Aku memandikannya. Lalat beterbangan. Kemudian dengan
tempurung itu pula aku menggali pasir membujur keutara. Dia kutarik dan ku
masukkan ke dalam lubang pasir sedalam lutut. Kusembahyangkan kemudian
kumiringkan kebarat. Daun-daun jati kututupkan, lalu pasir kutimbunkan.
Sebuah batu sebesar kepala kubuat nisan.
Tokoh Aku menunjukkan kepedulian
yang sangat tinggi. Bukan saja di masa hidupnya sang teman yang `gali`
dilayani, ketika telah tiada pun dia masih mau mengurusi jenazahnya. Hal ini
tidak mungkin terjadi jika tidak dilandasi oleh rasa kemanusiaan. Bukan hanya
karena terikat persshabatan. Tapi, juga Tokoh Aku menunjukkan bahwa seorang
Muslim saudara bagi Muslim lainnya. Lebih jauh dari itu, semua yang dia
lakukan semata-mata karena Tokoh Aku terikat pada bunyi ayat Qur`an yang
terdapat dalam Surat Al-Baqarah: 148:”Maka berlomba-lombalah kamu (dalam
berbuat) kebaikan.” Coba bila dibandingkan dengan nasib yang dialami Maria
Zaitun, seorang pelacur, dalam puisi
yang ditulis WS Rendra “Nyanyian Angsa.”
......................................................
Maria Zaitun ke luar rumah
pelacuran.
Tanpa koper.
Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di
susunya.
Matanya merah. Bibirnya
kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.
Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu
menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir
dan menutup hidung mereka.
Ia meledak marah
tapi buru-buru jururawat
menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang
memprotesnya.
“Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku,”
kata dokter.
“Ya,” jawabnya.
“Sekarang uangmu brapa?”
“Tak ada.”
Dokter geleng kepala dan
menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka
baju
sebab bajunya lekat di borok
ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter.
Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada
jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat
berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu
Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia
hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat
mahal
yang diimport dari luar
negri?”
Maria Zaitun seorang pelacur yang
seluruh tubuhnya penuh dengan koreng. Baju yang dikenakannya kalau dibuka
koreng-koreng yang ada di tubuhnya akan mengelupas. Maria Zaitun terkena
penyakit raja singa (sipilis). Dia diusir oleh bosnya karena sudah tidak menguntungkan.
Bahkan, hutangnya pada sang bos sudah demikian besar sehingga tidak mungkin
bisa melunasinya dalam kondisi seperti
itu. Orang-orang di sekitarnya (sebagian ada yang pernah berhubungan
dengannya) membuang muka. Mereka jijik melihat Maria Zaitun, pelacur yang
malang yang sekujur tubuhnya penuh dengan koreng. Maria Zaitun pelacur yang
malang itu ketika berobat oleh dokter hanya diberikan injeksi vitamin C.
Apakah injeksi vitamin C bisa menyembuhkan penyakit yang diderita Maria
Zaitun? Bukankah sang dokter memang sudah tahu kalau Maria Zaitun hampir
mati? Jadi, bukan hanya masyarakat yang tidak peduli dengan keadaan Maria
Zaitun, sang dokter yang pernah jadi pelanggannya pun cenderung tidak peduli.
Dalam cerpen “Ah Jakarta” masih ada
orang semulia Tokoh Aku yang bersedia menerima dan melayani sang `gali` yang
jelas-jelas sedang diburu pelaku-pelaku petrus. Orang seperti Tokoh Aku di
negara ini tergolong langka. Dikatakan langka karena orang lebih cenderung
berlepas tangan jika berhadapan dengan orang yang dianggap buronan. Mereka
hanya melihat pada sisi gelapnya. Orang hanya melihat pada masa lalu orang
yang dianggap `gali`. Sama halnya ketika orang berhadapan dengan mantan tapol
PKI, banyak orang yang tidak siap menerima kehadiran yang namanya entah
`gali` atau mantan tapol PKI. Karena itu, sangat beruntung bagi sang `gali`
walaupun telah jadi mayat, masih ada sahabat karibnya yang mau mengurusi
kematiannya. Cerpen Ahmad Tohari kali ini sama dengan cerpen-cerpen lainnya
dalam “Wangon Jatilawang” yang memunculkan Tokoh Aku yang peduli dengan nasib
Sulam yang teralienasi karena keterbelakangan mental atau boleh juga dalam
“Kang Sarpin Minta Dikebiri” yang juga peduli dengan Kang Sarpin yang
dianggap orang sebagai tukang zina (tukang main perempuan). Ahmad Tohari ingin mengajarkan pada
pembacanya agar punya kepedulian pada sesama. Selain itu, ia juga mengajarkan
agar semua orang mau memaafkan kesalahan orang walaupun itu sangat sulit
mengingat begitu banyak kesalahan yang dibuat oleh orang seperti sang `gali`
atau `Kang Sarpin`. Bukankah sikap mau memaafkan kesalahan orang lain memang
sebuah sikap mulia? Kalau memang itu sikap mulia, apa salahnya setiap anak
bangsa ini belajar untuk memaafkan kesslahan orang lain? Kalau tidak mulai
dari sekarang kapan lagi?
(Dikutip
dari buku Penampakan Nilai-Nilai Kemanusiaan dan Kesosialan dalam Karya
Sastra Indonesia oleh Subagio S.Waluyo)
Kenapa TOKOH KITA memasukkan tulisan
di atas? Buku yang ditulis TOKOH KITA bukan sekedar buku teks yang memuat
konsep atau teori-teori yang berhubungan dengan kemanusiaan dan kesosialan atau
kebudayaan sekalipun. TOKOH KITA ingin mengajak pembacanya (terutama
mereka-mereka yang mempelajari matakuliah Sistem Sosial dan Budaya Indonesia)
untuk merenungi setiap butir, baik kemanusiaan maupun kesosialan agar mereka
juga memahami banyaknya, misalnya, pelanggaran HAM. Pelanggaran HAM itu bisa
terjadi di masa lalu (Orde Baru) bisa juga di masa sekarang ini (reformasi).
Selain itu, TOKOH KITA di setiap bab juga memasukkan gambar-gambar yang
berkaitan dengan bahan yang dibahas. Semua yang ada di setiap bab di buku itu
memiliki makna dan argumen, tentu saja, dari segi isinya juga bisa
dipertanggungjawabkan. Sebagai sebuah buku TOKOH KITA menyadari
masih banyak kelemahannya. Salah satu kelemahannya adalah di buku setebal itu
tidak memuat soal-soal atau setidaknya bahan-bahan yang bisa didiskusikan. Hal
ini akan menjadi catatan bagi TOKOH KITA ketika nanti pada saatnya masih
diperkenankan untuk menyempurnakan isi buku itu.
***
Bagaimana
dengan buku kedua? Buku kedua oleh TOKOH KITA memang sudah dirancang dari
jauh-jauh hari untuk menulis buku secara serius. Penulisan buku kedua dimulai
dari dua tulisan yang sempat di-upload beberapa waktu lalu, baik di website
maupun blogspot TOKOH KITA. Dari dua tulisan yang telah ditulis jauh
sebelumnya, TOKOH KITA kemudian berniat meneruskannya. Dimulai dari bulan
September 2022 sampai dengan Januari 2023 (kurun waktu lima bulan) TOKOH KITA
berhasil menulis sebanyak 32 tulisan yang kemudian dibukukan menjadi satu buku
utuh. Kalau buku pertama kurun waktunya bisa lebih dari tiga belas tahun (sejak
ditulis dalam bentuk diktat), buku kedua jelas lebih singkat karena TOKOH KITA
benar-benar fokus untuk menulis buku. Buku pertama dalam penulisannya dibagi
dalam bab-bab (semuanya sebanyak 12 bab), buku kedua tidak demikian. Semua
tulisan yang telah diberi nomor secara berurutan dikumpulkan jadi sebuah buku.
Kelebihannya dengan buku pertama terletak pada soal-soal atau bahan-bahan
diskusi yang diletakkan di bagian akhir buku setelah daftar pustaka (“Sekedar
Melampirkan”). Berikut ini bisa dilihat dulu cover buku Pembelajaran
Penulisan dari Prolog ke Epilog.
.jpg)
Telah disampaikan di atas, buku kedua
dalam penyusunannya tidak seperti buku pertama yang terbagi ke dalam dua belas
bab. Buku kedua tidak dibagi dalam bab-bab. Buku kedua memuat 34 tulisan.
Setiap tulisan diberi judul. Isi setiap tulisan disesuaikan dengan judulnya.
Jadi, kalau tulisan pertama yang diberikan judul “Prolog” (pembuka cerita, bisa
juga pembuka tulisan) isinya seperti sebuah pendahuluan dalam tulisan ilmiah.
Meskipun demikian, di “Prolog” ini juga diuraikan tentang pengalaman
orang-orang yang menjadi penulis besar, baik di level nasional maupun
internasional. Di “Prolog” ini juga TOKOH KITA berupaya memberikan motivasi
kepada setiap calon penulis agar membiasakan diri untuk membaca, baik membaca
yang tekstual maupun yang kontekstual. Maksudnya, setiap orang yang berniat
menjadi penulis harus membiasakan diri membaca berbagai referensi. Selain itu,
untuk memperoleh bahan tulisan juga bisa dilakukan dengan membaca yang
kontekstual. Dalam hal ini sang penulis harus jeli melihat segala fenomena sosial
yang ada di sekitarnya. Dia harus rajin mencari objek tulisan dari fakta yang
diperoleh di lapangan. Jadi, tidak cukup seorang penulis memperoleh data dari
bahan-bahan tertulis, tapi juga bahan-bahan yang diperoleh selama dia mengamati
masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya. Untuk itu, seorang penulis harus
memiliki kepekaan sosial.
TOKOH
KITA juga berupaya meluruskan bahwa dalam pembelajaran penulisan harus dimulai
dari menemukan masalah. Di “Prolog” juga telah dijelaskan bahwa setelah seorang
penulis menemukan masalah, dia tidak boleh berdiam diri. Dia harus membuat
deskripsi timbulnya masalah tersebut dengan berpatoka pada 4 W (What, When,
Where, dan Who). Agar benar-benar sempurna tulisannya, dia harus
meneruskan Why dan How sehingga tuntutan 5 W+1 H benar-benar
terpenuhi. Setelah itu, sang penulis harus menyiapkan bahan-bahan referensi
yang bisa mendukung ketentuan di atas. Di sini TOKOH KITA menjelaskan lagi
bahwa menulis bukan dimulai dengan menulis judul tapi dari mengangkat masalah.
Dari masalah yang sudah ditemukan, dia harus mencoba menuangkan masalah itu ke
dalam kalimat pertama. Tentang kalimat pertama yang mau ditulis bisa dimulai
dari definisi atau bisa juga dari pengajuan berbagai pertanyaan. Nanti jawaban
dari definisi yang diajukan atau jawaban dari pertanyaan yang disampaikan akan
diperoleh jawaban. Dari jawaban tersebut yang dijadikan kalimat pembuka bisa
diteruskan ke kalimat berikutnya. Untuk lebih jelasnya tentang isi buku
tersebut, silakan dilihat daftar isinya berikut ini.
|
Halaman Judul
……………………………………………………………………….
|
i
|
|
Kata Pengantar
………………………………………………………………………..
|
ii
|
|
Daftar Isi
…………………………………………………………………………………
|
v
|
|
1.
|
Prolog
………………………………………………………………………………
|
1
|
|
2.
|
Saatnya Menulis
…………………………………………………………………
|
21
|
|
3.
|
Penggunaan Pengulangan Kata
Kunci ……………………………………..
|
29
|
|
4.
|
Awali dengan Definisi
…………………………………………………………..
|
38
|
|
5.
|
Memulainya dengan Pertanyaan
…………………………………………….
|
47
|
|
6.
|
Awali dengan yang Memikat
………………………………………………….
|
57
|
|
7.
|
Awali dengan Kutipan (1)
……………………………………………………..
|
70
|
|
8.
|
Awali dengan Kutipan (2)
……………………………………………………..
|
83
|
|
9.
|
Awali dengan Kutipan (3)
……………………………………………………..
|
95
|
|
10.
|
Awali dengan Kutipan (4)
……………………………………………………..
|
108
|
|
11.
|
Awali dengan Kutipan (5)
……………………………………………………..
|
120
|
|
12.
|
Dipancing Pakai Gambar
Ilustrasi ………………………………………….
|
133
|
|
13.
|
Dipancing Pakai Gambar
Karikatur ………………………………………..
|
147
|
|
14.
|
Belajar Menulis Wacana
Deskripsi (1)………..…………………………….
|
159
|
|
15.
|
Belajar Menulis Wacana
Deskripsi (2) ……………………………………..
|
175
|
|
16.
|
Belajar Menulis Wacana
Deskripsi (3) ……………………………………..
|
185
|
|
17.
|
Belajar Menulis Wacana
Deskripsi (4) ……………………………………..
|
197
|
|
18.
|
Belajar Menulis Wacana
Eksposisi (1) ……………………………………..
|
212
|
|
19.
|
Belajar Menulis Wacana
Eksposisi (2) ……………………………………..
|
223
|
|
20.
|
Belajar Menulis Wacana
Eksposisi (3) ……………………………………..
|
233
|
|
21.
|
Belajar Menulis Wacana
Eksposisi (4)………………………………………
|
242
|
|
22.
|
Belajar Menulis Wacana
Eksposisi (5) ……………………………………..
|
250
|
|
23.
|
Belajar Menulis Wacana
Eksposisi (6) ……………………………………..
|
260
|
|
24.
|
Belajar Menulis Wacana
Eksposisi (7) ……………………………………..
|
267
|
|
25.
|
Belajar Menulis Wacana
Petunjuk/Tips (1) ………………………………
|
282
|
|
26.
|
Belajar Menulis Wacana
Petunjuk/Tips (2) ……………………………….
|
289
|
|
27.
|
Belajar Menulis Wacana
Petunjuk/Tips (3) ……………………………….
|
297
|
|
28.
|
Belajar Menulis Wacana Narasi
(1) ………………………………………….
|
308
|
|
29.
|
Belajar Menulis Wacana Narasi
(2) ………………………………………….
|
318
|
|
30.
|
Masalah-Masalah Kebahasaan (1)
………………………………………….
|
332
|
|
31.
|
Masalah-Masalah Kebahasaan (2)
…………………………………………..
|
352
|
|
32.
|
Masalah-Masalah Kebahasaan (3)
…………………………………………..
|
362
|
|
33.
|
Epilog
………………………………………………………………………………
|
375
|
|
Daftar Pustaka
…………………………………………………………………………
|
381
|
|
Sekedar Melampirkan
..…………….........................................................
|
383
|
|
Tentang Penulis
..……………………………………………………………………..
|
400
|
Dari daftar isi di atas, kita bisa
menyimpulkan kalau isi buku tersebut lebih banyak memberikan arahan, bimbingan,
atau bisa juga semacam ajakan pada pembacanya untuk melakukan sesuatu sesuai
dengan yang diarahkan penulisnya. Berkaitan dengan itu, misalnya, bisa diambil
salah satu contoh, yaitu di “12. Dipancing Pakai Gambar Ilustrasi”. Di sini
melalui gambar yang diletakkan di awal tulisannya, penulisnya mempersilakan
pada pembacanya untuk menuliskan sesuatu yang dilihatnya. Hal yang sama juga
berlaku di “13. Dipancing Pakai Gambar Karikatur”. Lagi-lagi pembacanya juga
diminta untuk mengawali tulisan dengan melihat gambar karikatur sebagai
stimulus. Di nomor-nomor berikutnya (nomor 14 sampai 29) para pembaca yang mau
belajar menulis diarahkan menulis wacana deskripsi dimulai dari “14. Belajar
Menulis Wacana Deskripsi (1)” sampai dengan “17. Belajar Menulis Wacana
Deskripsi (4)”. Jika telah bisa menulis wacana deskripsi, langkah berikutnya
adalah menulis wacana eskposisi yang dimulai dari “18. Belajar Menulis Wacana
Eksposisi (1) sampai dengan “24. Menulis Wacana Eksposisi (7)”. Dalam hal ini
pembelajaran menulis wacana eksposisi tampaknya paling banyak pembahasannya
karena setelah itu seperti penulisan wacana petunjuk dan wacana narasi jauh
lebih singkat.
TOKOH
KITA juga menyadari bahwa banyak pembacanya yang kerap kali melakukan kesalahan
dalam berbahasa Indonesia. Untuk itu, dimulai dari di “30. Masalah-Masalah
Kebahasaan (10) sampai dengan “32. Masalah-Masalah Kebahasaan (12)” diuraikan
tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesalahan dalam berbahasa Indonesia, baik
dalam hal pembentukan kata maupun penulisan kalimat. Di situ dijelaskan secara
mendetail kaidah-kaidah berbahasa yang baik dan benar, contoh-contoh kesalahan
berbahasa, dan cara memperbaiki kesalahan berbahasa. Dengan cara demikian,
pembaca sebagai orang yang belajar menulis diarahkan agar bisa berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Sebagai pelengkap, karena buku ini banyak
berisikan cara-cara dalam pembelajaran penulisan, TOKOH KITA melengkapinya
dengan soal-soal dan bahan-bahan diskusi yang bisa dilakukan bersama-sama agar
setiap pembacanya yang mau belajar menulis bisa menuangkan gagasannya melalui
tulisan. Berikut ini bisa dilihat contoh soal dan sekaligus bahan yang bisa
didiskusikan dan dikerjakan bersama-sama dari gambar-gambar ilustrasi dan
karikatur.
Sebagai bahan pelengkap, tidak ada salahnya kita berlatih menulis. Di sini kita langsung saja menulis wacana entah itu wacana deskripsi, eksposisi, petunjuk/tips, atau narasi. Sebagai langkah awal, kita belajar menulis satu paragraf,baik dari foto-foto, gambar-gambar ilustrasi, maupun gambar-gambar karikatur. Sesuai dengan petunjuk penulisan paragraf, sebelum menulis paragraf, kita tentukan dulu masalahnya. Dalam hal ini dari gambar ilustrasi atau karikatur yang ditampilkan kita temukan masalahnya. Setelah menemukan masalah, kita berusaha mencari jawaban masalah yang diajukan. Jawaban dari masalah itu merupakan tema tulisan kita. Dari tema tersebut kita bisa masukkan ke dalam kalimat. Kita sebut kalimat itu sebagai kalimat utama. Dari kalimat utama inilah kita teruskan ke kalimat-kalimat berikutnya yang kita kenal sebagai kalimat penjelas. Dengan cara demikian, kita sudah menulis satu paragraf. Kalau sudah menulis satu paragraf, kita teruskan menulis wacana sesuai petunjuk yang sudah kita pelajari. Agar tidak berpanjang kalam, kita lihat gambar-gambar ilustrasi dan karikatur berikut ini.
1. |  | 2. |  |
3. |  | 4. |  |
5. |  | 6. |  |
7. |  | 8. |  |
9. |  | 10. | 
|
***
Dengan
melihat pada dua tulisan, baik di TOKOH KITA (11) maupun TOKOH KITA (12), kita
bisa menyimpulkan bahwa setiap penulis yang mau berhasil harus punya
keterampilan riset. Kita bisa mengatakan tanpa adanya keterampilan riset
seorang penulis siap-siap saja untuk mengalami kekeringan dalam tulisannya.
Memang, untuk bisa melakukan riset dibutuhkan perhatian yang fokus pada objek
yang mau ditulis. Dalam hal ini orang yang sudah punya keinginan menulis harus
fokus pada sesuatu yang ditulis. Dia harus bisa meluangkan waktunya walaupun
hanya beberapa menit. Dia tidak boleh perhatiannya buyar ketika sudah
menuangkan gagasannya ke dalam tulisan. TOKOH KITA tidak mungkin bisa menulis
buku kalau tidak fokus. Buku kedua yang diselesaikan dalam rentang waktu hanya lima
bulan merupakan bukti bahwa TOKOH KITA ketika sudah mulai menulis benar-benar
fokus terhadap bahan yang mau ditulisnya.
Sumber Gambar:
1. (https://www.gramedia.com/literasi/kesenjangan-sosial/)
2.(https://www.idntimes.com/life/inspiration/rahardian-shandy/10-ilustrasi-menohok-gambarkan-ironi-ketimpangan-si-kaya-vs-si-miskin-c1c2).
3.(https://hukamnas.com/contoh-kasus-pelanggaran-hak-warga-negara-serta
-penyebabnya)
5.(https://www.kabarpendidikan.id/2021/03/pentingkah-nilai-dalam-dunia-pendidikan.html)
9.(https://www.kompas.com/skola/read/2020/02/28/150000469/pengertian
-pembangunan-berkelanjutan?page=all)
10.(https://ridhme.wordpress.com/2012/07/02/konsepsi-islam-terhadap-ling
kungan-hidup-dalam-pembangunan-berkelanjutan/)