Sabtu, 30 November 2013

Artikel Agama (11)

HINDARILAH DEBAT


Kita sering di berbagai pertemuan yang diadakan oleh ormas-ormas atau parpol-parpol entah itu yang berupa musyawarah kerja, muktamar, kongres, dan kegiatan sejenisnya yang selalu berakhir dengan perseteruan. Kadang-kadang perseteruan itu berakhir dengan perpecahan di antara aktivis-aktivis ormas atau parpolnya. Bahkan, tidak mustahil perpecahan itu berakibat lebih jauh adanya konflik horisontal yang berkepanjangan. Perpecahan tersebut bukan saja terjadi pada ormas/parpol umum, tetapi juga tidak sedikit pada ormas-ormas/parpol-parpol Islam. Sejarah mencatat perpecahan di tubuh partai Islam di masa lalu lebih disebabkan oleh perbedaan pandangan yang tidak bersifat substansial. Boleh dikatakan, dalam bahasa agama, lebih mengarah pada furu`iyah ubudiyah (masalah-masalah cabang dalam ibadah). Bisa diambil contoh di sini seperti penggunaan usoli ketika niat ingin sholat atau qunut ketika sholat subuh. Boleh jadi di masa lalu seorang kiai dari kalangan moderat ketika tidak memakai sarung dan kopiah di saat rapat-rapat partai dan sebaliknya memakai dasi dan jas bisa jadi masalah. Bahkan, lebih ekstrim lagi ketika sholat tidak bersarung dan berkopiah bisa dimasalahkan. Di kalangan Islam moderat menilai orang-orang yang bersarung dan berkopiah sebagai kalangan Islam tradisional atau kampungan atau terbelakang sehingga sangat mungkin menyulut perdebatan yang berakhir dengan perpecahan.  

Kamis, 28 November 2013

Artikel Administrasi Publik (05)

“PERUBAHAN DAN PERBAIKAN”


I
Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, adakah perubahan dari diri kita? Jawabannya pasti ada. Tetapi, adakah perbaikan?  Perbaikan masih bersifat umum sehingga akan memunculkan pertanyaan: perbaikan apa? Perbaikan perilaku? Perbaikan kompetensi? Ataukah yang sering orang bicarakan, perbaikan nasib? Untuk masalah perbaikan memang agak sulit menjawabnya. Untuk perbaikan perilaku hanya orang yang sering mengintrospeksi diri yang tahu. Sedangkan perbaikan kompetensi hanya orang yang sedikit angkuh yang mengaku bahwa dirinya punya perbaikan kompetensi (walaupun terkadang dibutuhkan ketika seseorang ditanya kompetensinya). Tetapi, perbaikan nasib? Orang yang sebenarnya sudah baik nasibnya sering harus berbohong pada diri sendiri bahwa nasibnya belum ada perbaikan.  Boleh jadi orang tersebut tidak berbohong karena dia punya ukuran dan indikator tentang perbaikan nasib. Semua perbaikan sudah pasti ada ukurannya dan indikatornya. Karena itu, perilaku, kompetensi, dan/atau nasib masing-masing baru bisa dikatakan ada perbaikan jika bisa ditunjukkan ukuran dan indikatornya.

Senin, 25 November 2013

All You Need is Love (07)

REGULASI DIRI (3)

Tahapan kedua dalam regulasi diri adalah penilaian, yaitu membandingkan apa yang dilihat pada diri dan perilaku dengan standar ukuran tertentu. Untuk bisa membandingkan baik diri maupun perilaku apakah diri dan perilakunya dinilai baik atau tidak seseorang harus mengetahui terlebih dahulu standar ukurannya. Standar ukuran yang berkenaan dengan diri dan perilaku yang berlaku umum untuk semua umat manusia tentu saja harus berlandaskan pada nilai-nilai yang terdapat pada agama. Sebagai seorang Muslim tentu saja nilai-nilai agama yang berlaku adalah nilai-nilai Islam. Nilai-nilai Islam yang berkenaan dengan diri dan perilaku kita namakan sebagai akhlak Islami. Implementasi dari akhlak Islami bisa dilihat langsung pada diri dan perilaku Rasulullah SAW sebagai contoh teladan bagi umat Islam.

Kamis, 21 November 2013

All You Need is Love (06)

“IDE—AKTIVITAS—PRODUK—IDE”




Tidak ada orang yang memungkiri bahwa manusia hidup pasti punya masalah. Hanya ada orang yang bisa memecahkan masalah. Ada  juga yang masalahnya tidak terselesaikan yang akhirnya terjadi penumpukan masalah. Tapi, coba dipikir, mengapa timbul masalah? Masalah timbul karena antara ide dan fakta terjadi ketidaksinambungan yang jika dibuat dalam bentuk simbol seperti ini:≠ . Kalau simbolnya seperti ini :  ═ berarti ada kesinambungan antara ide dan fakta sehingga tidak timbul masalah. Tetapi, lain lagi kalau begini :  ≠  berarti tidak ada kesinambungan ide dengan fakta sehingga timbul masalah. Bagaimana caranya memecahkan masalah? Munculkan ide baru. Itu jawabannya. Apakah cukup sampai di situ? Harus diteruskan ide itu dengan aktivitas. Nanti dari aktivitas akan memperoleh produk. Produk yang diperoleh beberapa waktu kemudian akan menimbulkan masalah baru sehingga perlu adanya ide baru. Begitulah seterusnya wujud sebuah kebudayaan yang jika disingkat menjadi judul tulisan ini “Ide—Aktivitas—Produk—Ide” . Agar lebih mudah lagi disingkat saja lagi menjadi “IAPI”.

Senin, 18 November 2013

All You Need Is Love (05)

“M E O K”



Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat di kaca belakang angkot K-02 (Pondok Gede—Terminal Bekasi) ada tulisan “MEOK” yang buat saya tulisan tersebut tidak asing lagi karena tulisan yang sama di tahun-tahun 70-an pernah saya jumpai di Jembatan Merah,Tebet, Jakarta Selatan. Bagi saya yang waktu itu masih bersekolah di SLA ada sesuatu yang asing dengan tulisan itu. Saya sempat bertanya pada beberapa teman atau orang-orang yang lebih tua. Ternyata mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan “MEOK”. Saya juga sempat buka di Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh P.W.J. Poerwadarminta, ternyata jawabannya nihil alias tidak ada. Tulisan itu baru saya dapati ketika suatu saat di salah satu majalah terbitan Pusat Bahasa memuat tulisan tentang grafiti, yaitu corat-coret remaja di tembok atau di tempat-tempat terbuka umum yang terkadang disertai dengan gambar-gambar atau simbol-simbol yang menunjukkan jati diri mereka, ternyata kata tersebut merupakan sebuah akronim. Kata “MEOK” itu sendiri jika ditulis lengkap akan berbunyi `Makan Enak Ogah Kerja`.

Kamis, 14 November 2013

Artikel Administrasi Publik (04)



MENGANATOMI TUBUH LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT
(SEBUAH PEMIKIRAN UNTUK MENGENAL LEBIH JAUH APA, SIAPA, MENGAPA, BILAMANA, DAN BAGAIMANA AKTIVITASNYA SAAT INI)

Pendahuluan

Lembaga Swadaya Masyarakat (untuk selanjutnya kita singkat saja dengan LSM) sebagai sebuah lembaga yang kehadirannya banyak membantu program pemerintah di bidang pemberdayaan swadaya masyarakat beberapa tahun lalu cukup ramai dibicarakan.  Pada waktu itu LSM ramai dibicarakan mengingat lembaga ini di masa-masa akhir Pemerintahan Orde Baru banyak membuat PR pemerintah pada waktu itu.  Mengapa LSM yang kehadirannya pertama kali banyak membantu pemerintah bisa berbalik menjadi PR bagi pemerintah?  Salah satu dugaan yang muncul pada waktu itu karena LSM telah memasuki wilayah politik yang justeru Pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat kritis terhadap segala hal yang berbau politik (Republika, 19 Juni 1995).  Tetapi, itu baru dugaan.  Tentang kebenarannya perlu diteliti lebih jauh.

Selasa, 12 November 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (20)



UJIAN DAN PENGUJIAN

 Subagio S.Waluyo

Dalam pemakaian imbuhan bahasa Indonesia kerap kali ditemukan dua bentuk imbuhan yang fungsinya sama namun maknanya berbeda. Karena pemakai bahasa umumnya tidak memahami baik makna maupun fungsinya. Pemakai bahasa sering kali dengan tidak disadari menggunakan sebuah imbuhan dan tidak memanfaatkan imbuhan lainnya meskipun maknanya jelas berbeda. Contoh konkrit yang bisa diambil di sini adalah kata ujian yang lebih sering digunakan daripada kata pengujian. Kedua kata tersebut apabila dianalisis proses pembentukannya dan maknanya jelas berbeda.

Kebahasaan dan Kesastraan (19)



UNSUR PENGABDIAN DALAM KARYA SASTRA


            Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.  Tetapi, manusia juga bisa menjadi makhluk Tuhan yang paling buruk kedudukannya (bisa lebih buruk daripada binatang ternak).  Agar manusia bisa mempertahankan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya, ia harus menyembah (bisa juga diartikan sebagai mengabdi) yang menciptakannya, yaitu Tuhan.  Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai makhluk pengabdi (maksudnya yang mengabdi kepada Tuhan).  Sampai sejauhmana kuatnya pengabdian manusia kepada Sang Khalik, coba kita amati puisi di bawah ini.   

Artikel Agama (10)

“G SYIRIK”

Gambar DukunSubagio S. Waluyo
Ada orang tergolong “G O`ON” tapi tidak bebas dari syirik. Kenapa ya? Seharusnya `kan orang “G O`ON” “G SYIRIK” dong? Eit, nanti dulu. Belum tentu orang “G O`ON” terbebas dari “G SYIRIK”.  Buktinya, anggota DPR yang punya syahwat politik, yang begitu bersemangat menggolkan 65 RUU Pemekaran Daerah apakah tergolong o`on? Mereka termasuk golongan “G O`ON” tetapi tidak terbebas dari “G SYIRIK” `kan? Lha, kok bisa begitu? Ya, karena mereka telah menjadikan syahwat politiknya sebagai Tuhan-nya. Orang yang seperti itu jelas-jelas telah berbuat syirik karena mereka telah menjadikan Allah SWT sebagai tandingannya (Surat Al-Baqarah :165). Mereka telah menjadikan jabatan, kedudukan, pangkat sebagai Tuhannya.   Boleh juga, demi 3 t (tahta, harta, dan wanita) mereka melakukan cara-cara ilegal sehingga merusak aqidahnya. Bukankah Allah SWT telah mewanti-wanti agar tidak menjadi menjadikan Allah sebagai tandingan-Nya (Surat Al-Baqoroh, Surat Al-Baqarah : 165)? Masih anggota DPR tapi yang ini lain lagi. Ada beberapa anggota DPR menjelang Pemilu 2014 kerapkali ke klenik-klenik. Mereka mendatangi `Mbah Dukun` yang dianggap kramat dan sakti mandraguna. Mereka siapkan sajen-sajen pesanan `Mbah Dukun`. Mereka minta do`a, jampi-jampi, dan jimat-jimat agar bisa terpilih lagi menjadi anggota DPR. Itu perbuatan syirik `kan? Padahal Allah SWT telah mengingatkan agar kita tidak berbuat syirik (mempersekutukan-Nya) sebagaimana firman-Nya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. ….” (An-Nisa, 4:36). Selain itu, masih di surat yang sama ayat 48 Allah SWT tidak akan mengampuni dosa orang-orang yang mempersekutukan-Nya (syirik). Mempersekutukan Allah tergolong perbuatan dosa besar. Perbuatan syirik membuat orang yang melakukannya terhina dan tercela (Surat Al-Isra, 17: 22).

Jumat, 08 November 2013

All You Need Is Love (04)

Mengapresiasi Kemanusiaan dan Kebudayaan

Tulisan ini lebih cenderung untuk menjawab hal-hal di seputar apa, mengapa, dan bagaimana dalam mengapresiasi kemanusiaan dan kebudayaan. Pola pengembangan tulisan dengan mengajukan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana bukan hal yang baru. Di dunia jurnalistik sudah merupakan keharusan apabila seorang wartawan ingin meliput sebuah berita, dia akan berangkat dari 5 W+1 H. Dalam tulisan ini hanya 2 W+1 H, What, Why. dan How. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu kita akan memahami sepenuhnya yang ingin dicapai dari tulisan ini.

Rabu, 06 November 2013

Artikel Agama (9)

MEMBACA DAN MENULIS SEBAGAI SARANA

MENINGKATKAN KUALITAS UMAT

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia.  Yang telah mengajar dengan pena.  Dia telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq (96): 1—5)

“Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Al-Qolam (68): 1)

Artikel Agama (8)

“G  O`ON”


Melihat judul di atas, orang yang terbiasa sms-an jelas tidak ada yang aneh. “G O`ON” jika ditulis lengkap bisa menjadi “Ngga Blo`on” atau “Tidak Bodoh”. Cuma biar terasa lebih akrab kita gunakan saja “G O`ON”. “G O`ON” jelas ditujukan buat kita semua. Kenapa? Ya, supaya kita bisa menjadi anak bangsa atau umat manusia yang tidak mudah dibodohi. Supaya kita menjadi orang-orang yang cerdas. Supaya kita tidak menjadi orang-orang yang selalu ikut-ikutan tanpa ilmu karena sebagaimana telah diingatkan Allah SWT (Surat Al-Isra`:36)

Jumat, 01 November 2013

Artikel Administrasi Publik (03)


PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP ADMINISTRASI
BERDASARKAN KONSEP COMMUNITY DEVELOPMENT
(STUDI KASUS IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN
BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA BEKASI)

1.0   Latar Belakang Masalah

Ada orang yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia umumnya masih mengkhawatirkan.  Hal ini bisa dilihat berita Kompas hari ini yang menyebutkan bahwa angka buta huruf sebesar 8.7% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yang tergolong orang-orang dewasa (dalam hal ini anak-anak balita tidak masuk hitungan).  Berapa pula jumlah anak-anak kita yang Droup Out (DO)? Kemungkinan besar sejak krisis ekonomi dan moneter (pertengahan Juli 1997) jumlahnya semakin membesar.  Untuk Kota Bekasi saja jumlah siswa yang DO sebanyak 341.857 siswa (?).  Sedangkan yang buta huruf tergolong sedikit, yaitu sebesar 1,3% karena menurut data dari BPS yang melek huruf (MH) sebanyak 98,7%.  Sebuah angka yang fantastis karena jauh dari angka nasional.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...