Rabu, 14 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (38)

SEGALANYA TENTANG PUISI (9)

Subagio S.Waluyo


(Lanjutan Apresiasi Puisi)


Pada puisi ‘Surat Cinta’ itu tampak sekali Rendra melibatkan seluruh alam dalam rasa kebahagiaannya. Bumi dan langit, alam dan surga meminjamkan gambaran-gambaran serta bahan-bahan untuk melukiskan perasaan jiwanya. Atau setiap makhluk yang dijumpainya merupakan cermin bagi isi hatinya: burung belibis, anak-anak yang bersenda gurau, bahkan malaikat-malaikat yang dipandangnya dalam percikan air hujan pada kaca jendela. Hal semacam itu juga banyak dijumpai pada puisi-puisi Rendra yang lain. Kita bisa lihat pada kumpulan puisinya yang lain, seperti Blues Untuk Bonie, Ballada Sepatu Tua, atau pada puisinya yang bernada kritik sosial Potret Pembangunan dalam Puisi, Di samping Rendra juga banyak penyair lain yang selalu akrab dengan alam.

Kebahasaan dan Kesastraan (37)

SEGALANYA TENTANG PUISI (8)

5. Apresiasi Puisi 


Subagio S.Waluyo

Sebelum berbicara tentang apresiasi puisi, sebaiknya kita lihat dulu pengertian puisi. Pengertian puisi dapat dilihat pada Segalanya tentang Puisi (1). Apresiasi dan bahasa Inggris to appreciate yang artinya menghargai, berkenaan atau appreciation yang artinya penghargaan. Kata ini diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi apresiasi yang artinya kira-kira kegiatan atau usaha merasakan dan menikmati hasil-hasil karya seni. Apresiasi puisi berarti kegiatan atau usaha merasakan atau menikmati karya seni yang berbentuk puisi.

Senin, 05 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (36)

SEGALANYA TENTANG PUISI (7)

Subagio S.Waluyo

4. Macam-Macam Puisi

Puisi dapat dibedakan atas beberapa macam. Macam-macam puisi itu dapat dibagi menurut isi, bentuk, dan ketersuratan serta ketersiratan makna puisi. Berdasarkan isi secara garis besar puisi dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu (1) puisi liris, (2) puisi naratif, dan (3) puisi dramatis. Puisi liris adalah puisi yang berisi curahan perasaan pribadi dan yang diutamakan ialah lukisan perasaannya. Pelukisan perasaan sebagai akibat adanya kontak antara si pembuat puisi dengan alam sekitar, dengan manusia lain baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, dan dengan Sang Pencipta. Sebagai misal, lukisan rasa Mohammad Yamin yang memuja “tanah air”-nya.

Sabtu, 03 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (35)


SEGALANYA TENTANG PUISI (6) 


Subagio S.Waluyo


G.    Ritme/Irama

Pernahkah Anda mengamati orang yang berbicara? Anda akan menemukan beberapa hal terutama dalam lagu orang itu berbicara. Pada saat ia marah, ia berbicara dengan nada suara yang meninggi. Sebaliknya, pada saat ia menghiba, ia berbicara dengan nada suara yang merendah. Ada nada yang meninggi-merendah, tekanan yang mengeras-melembut, dan tempo yang mencepat-melambat yang terdengar ketika ia berbicara. Irama itu menyangkut arus ujaran. Coba kita lihat bait puisi di bawah ini.

Kebahasaan dan Kesastraan (34)

SEGALANYA TENTANG PUISI (5)

Subagio S.Waluyo


D.    Pigura Bahasa

Pembicaraan tentang pigura bahasa atau bahasa figuratif dibagi dalam dua bagian besar, yaitu metafor dan simile. Untuk metafor sudah dijelaskan dan diuraikan di muka secara panjang lebar. Sekarang kita hanya menguraikan tentang simile saja.
Anda pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti: bagai kerbau dicocok hidung, seperti telur di ujung tanduk, dan laksana air di daun talas. Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan suatu pemisalan. Sering untuk mengatakan ungkapan digunakan kata-kata bagai, bagaikan, sebagai, seperti, laksana, dan bak. Simile biasanya dinyatakan dengan memakai kata-kata tersebut. Oleh karena itu, bisa dikatakan simile ialah gaya pernyataan dengan membandingkan dua objek atau dua hal yang tidak sama.

Kebahasaan dan Kesastraan (33)

SEGALANYA TENTANG PUISI (4)

Subagio S.Waluyo


    C.    Metafor

Metafor atau metafora dalam bahasa Indonesia berarti pemakaian kata-kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasankan persamaan atau perbandingan (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1983:648). Metafor boleh juga disebut sebagai perbandingan langsung. Metafor merupakan salah satu unsur bangunan puisi yang mengandung kesamaan dalam bentuk atau sifat.
Coba kita perhatikan puisi di bawah ini.

Kebahasaan dan Kesastraan (32)

SEGALANYA TENTANG PUISI (3)

Subagio S.Waluyo

3. Unsur-Unsur Puisi


Kalau kita ingin membangun rumah, kita harus tahu unsur-unsur yang harus dipenuhi. Kita bisa menyebutkan adanya fondasi rumah karena fondasi adalah dasar rumah. Rumah yang fondasinya rapuh, cepat rubuh apalagi jika terjadi gempa bumi. Dinding rumah juga turut membentuk rumah. Terakhir tentu saja atapnya. Satu sama lain unsur-unsur tersebut sangat berkaitan. Bahan bangunannya bergantung kepada jenis rumah yang akan dibangun. Apakah itu rumah gubuk, rumah mewah, ataukah bangunan bertingkat ?

Membuat sebuah puisi sama dengan membangun rumah. Ada unsur-unsur yang dipenuhi. Unsur-unsur puisi itu antara lain : bentuk, simbol, metafora, pigura bahasa, imaji, ritme, rima, dan tema. Unsur-unsur puisi itu berguna untuk menganalisis, memahami, dan mengapresiasi puisi. Untuk lebih jelasnya, unsur-unsur puisi itu di bawah ini dibahas satu per satu.

Senin, 28 November 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (31)

Segalanya tentang Puisi (2)

Subagio S.Waluyo

2.   Bahasa Puisi

          Bahasa puisi itu bersifat memadu dan padat meskipun kehadiran puisi itu untuk dinikmati, dirasakan, dan dimengerti. Penghayatan kita terhadapnya tidaklah lepas dari unsur pikiran, perasaan, dan imajinasi yang menjadi bahan bangunannya. Semua elemen bangunan itu sebagian besar menunjukkan dirinya melalui bahasa sang penyair dalam puisinya. Penyair berkomunikasi lewat bahasa dalam puisi-puisinya.

Kebahasaan dan Kesastraan (30)

SEGALANYA TENTANG PUISI (1)


Subagio S.Waluyo


1.   Pengertian Puisi

          Salah satu wujud karya sastra adalah puisi. Puisi adalah untaian kata-kata yang dibentuk dengan cara yang khas dan yang memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Puisi dijadikan sarana untuk mengungkapkan pengalaman batin. Pengalaman yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik (indah). Dengan penggunaan bahasa yang khas itu puisi dapat menggugah perasaan haru pembaca atau pendengamya.

Sabtu, 08 Oktober 2016

All You Need Is Love (27)

Membangun Kreativitas,
Membangun Kepemimpinan,
Membangun Bangsa (3)

Subagio S.Waluyo

Membangun Bangsa

Melihat gambar di sebelah kiri ini kita jadi bertanya-tanya mengapa Bapak Proklamator Republik Indonesia ini menyampaikan pesan seperti itu? Kalau memang benar itu ucapan beliau, ada apa di balik pesan tersebut? Apakah memang saat ini kita mengalami kesulitan menghadapi bangsa sendiri? Lalu, kalau memang kita mengalami kesulitan menghadapi sesama anak bangsa, apa yang harus kita lakukan ke depan? Sekian banyak pertanyaan bisa saja melintas di benak kita. Meskipun demikian, kita perlu menganalisis dan menelaah lebih jauh tentang hal-hal yang terjadi selama ini setelah cukup lama kita merdeka.

Jumat, 07 Oktober 2016

All You Need Is Love (26)

Membangun Kreativitas,
Membangun Kepemimpinan,
Membangun Bangsa (2)

Subagio S.Waluyo

Membangun Kepemimpinan

Kalau ditelusuri secara teliti, media kita baik cetak, elektronik, maupun online dalam pemberitaannya tidak lepas dari liputan pelanggaran moral atau boleh juga berkaitan dengan kasus-kasus kriminal. Kasus-kasus kriminal yang ada di sekitar kita baik dari segi kuantitas maupun kualitas terjadi peningkatan. Coba saja kita perhatikan kasus-kasus yang berkenaan dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) walaupun sudah ada KPK tetap saja ada bahkan akhir-akhir ini ada kecenderungan meningkat. Orang seperti merasa tidak jera untuk melakukan KKN. Sebagai buktinya, berbarengan dengan desentralisasi, pelaku-pelaku KKN juga semakin meluas, merata ke semua kota dan kabupaten di Indonesia. Pelaku-pelaku KKN bukan hanya pejabat-pejabat negara di pusat, pejabat-pejabat di daerah seperti gubernur, walikota, bupati, dan para bawahannya juga melakukan KKN. Bahkan, biar jangan sampai dikatakan `ketinggalan zaman` banyak juga anggota dewan yang ikut-ikutan KKN. 

Sabtu, 10 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (29)

Variasi -Variasi Bahasa Puisi 

Darmanto Yatman (6)

Subagio S. Waluyo

Dalam pengajaran bahasa Indonesia siswa sering bertanya kepada gurunya tentang karya-karya sastra mutakhir yang tidak dimengertinya. Terutama bahasanya. Termasuk di antaranya sejenis puisi-puisi mutakhir. Salah satu dari puisi-puisi mutakhir yang banyak menyerap kata-kata bahasa daerah adalah puisi-puisi DY yang tergabung dalam KIBM. Di samping itu ditemukan pula dalam Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG. Untuk jenis karya prosa dapat dijumpai dalam Burung-burung Manyar karya Y.B.Mangunwijaya.

Kebahasaan dan Kesastraan (28)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
Darmanto Yatman (5)

Subagio S.Waluyo

Dalam puisi-puisi Darmanto saya menemukan ada tiga jenis ragam sapaan. Ketiga jenis ragam sapaan itu adalah seperti terurai berikut ini.

Ragam sapaan Formal/Resmi
Karenanya, kepada Bapak Presiden, yang telah mengangkat Bapak Menteri Pe dan Ka, yang micara lagi pinter, kami mengucapkan “sanget-sanget nuwun”,
Kepada Bapak Menteri yang telah ikhlas mengangkat Bapak Rektor Universitas Diponegoro di Semarang yang pinter lagi trampil, kami mengucapkan “Nuwun nuwun, sanget”
Kepada Bapak Rektor Universitas Diponegoro, yang telah mengangkat Bapak Dosen yang trampil lagi trengginas kami mengucapkan “nuwun”,
Kepada Bapak Dosen yang trengganis lagi ekhlas menghabiskan waktu dan tenaga serta harta untuk  menyelidiki kehidupan kami, kami mengucapkan “Nuw..”
Dan tentu saja kepada para mahasiswa, pemuda harapan bangsa, tumpuan harapan kami, yang telah dengan ikhlas dan greget meninggalkan kampus mereka yang rapih, perpustakaan yang bersih, kelas kelas yang tertib, asrama yang asri, bioskop, disko, rumah bola serta toko-toko serba ada untuk berada bersama kami, kami ucapkan “Sanget sanget nuwun, dan nuwun sanget”.

Kebahasaan dan Kesastraan (27)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi

Darmanto Yatman (4)


Subagio S.Waluyo

Ragam Sapaan


Ragam rapaan memegang peranan penting dalam masyarakat. Dalam pergaulan pertama-tama yang dilakukan seseorang kalau berjumpa dengan sesamanya adalah dengan menyapanya. Kalau hendak menyapa seseorang tentu orang tersebut menyebutkan nama kecil orang tersebut atau jawaban yang dipegang oleh orang tersebut. Bentuk sapaan digunakan untuk menyapa ganti orang kedua. Sapaan merupakan panggilan seseorang, dengan menambahkan suatu nama di depan nama orang itu. Kata sapaan erat hubungannya dengan kata ganti orang. Sapaan diletakkan di depan nama yang sebenarnya. Dalam penyapaan tidak perlu menyebutkan nama  yang seharusnya, cukup kependekannya saja.

Kebahasaan dan Kesastraan (26)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
Darmanto Yatman (3)


Subagio S.Waluyo

Fokus puisi adalah bahasa. Bahasa bagi penyair merupakan materi. Untuk seorang penyair bahasa adalah zat yang akan dibentuk dan diciptakan. Bahasa dalam puisi berbeda dengan bahasa dalam prosa. Begitu pula dalam penyusunan kata-katanya. Kata-kata yang disusun merupakan suatu kesatuan yang padu. Penyair di sini harus pandai-pandai memilih kata (diksi). Karena itu seorang penyair harus pandai menggunakan mekanisme bahasa. Kata-kata dalam puisi berbeda dengan kata-kata dalam prosa. Meskipun wujud dan bentuknya sama, kata-kata dalam puisi memiliki banyak makna dan penafsiran.

Kebahasaan dan Kesastraan (25)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi
DarmantoYatman (2)

Subagio S.Waluyo

Puisi-puisi DY yang dibahas ini terdapat dalam kumpulannya Karto Iya Bilang Mboten (KIBM). Pembahasan ini dilakukan dengan cara kerja sosiolinguistik. Pembahasan dengan cara kerja sosiolinguistik mencakup di antaranya pemakaian variasi bahasa. Ada dua belas buah puisi yang terdapat dalam kumpulannya itu. Masing-masing puisi tersebut saya beri kode dengan huruf latin. Kedua belas buah puisi itu antara lain: Jeng,  Marto Klungsu dari Leiden, Pidato Ki Lurah Karangkedempel sewaktu menerima Masiswa kakaen di Desanya, Surat dari Soma Transmigran untuk saudaranya Manggunkarsa,  Hal-Hal yang mokal-mokal dalam lakon mokal Badranaya lawan Narada,  Teori probabiliti Tukini, Kisah Karto Tukul dan saudaranya Atmo Boten,  Anak,  Nyanyian Matahari Tambran, Rumah,  Dunia teduh sesudah Topan, dan  sambel bawang dan terasi. Berdasarkan data-data yang saya peroleh, saya hanya akan melihat puisi-puisi di atas dari dua aspek saja yang terdapat dalam pemakaian variasi bahasa. Kedua aspek itu, yaitu alih kode dan ragam sapaan. Masing-masing variasi bahasa tersebut saya sertakan contoh-contohnya berupa bait-bait puisi yang dibuat oleh penyair tanpa mengalami perubahan.

Jumat, 09 September 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (24)

Variasi-Variasi Bahasa Puisi

Darmanto Yatman (1)


Subagio S.Waluyo

Puisi sebagai alat komunikasi menggunakan bahasa sebagai alatnya. Namun, dalam hal ini saya harus membedakannya dengan prosa. Prosa juga menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Jika pada puisi kata-kata itu disusun sedemikian rupa dengan mementingkan irama, derap, atau sajak. Sebaliknya, dalam prosa tidaklah demikian karena prosa disusun tanpa terikat pada irama, derap, atau sajak. Bahkan, dalam perkembangannya puisi sekarang sama artinya dengan sajak. Sedangkan untuk prosa saya mengenalnya dalam bentuk karya-karya fiksi, seperti cerita pendek (cerpen), novelet, novel, dan roman.

Rabu, 07 September 2016

All You Need Is Love (25)

Membangun Kreativitas,
Membangun Kepemimpinan,
Membangun Bangsa (1)



Subagio S. Waluyo


Membangun Kreativitas


Masa depan adalah hasil kreativitas. Masa depan sesuatu yang tidak kita ketahui karena semuanya masih tanda tanya. Boleh juga dikatakan masih samar-samar. Masa depan dikatakan samar-samar karena manusia itu serba terbatas kemampuannya. Keterbatasan itu tidak boleh menjadikan kita menjadi manusia yang pasrah terhadap nasib atau fatalis. Kita harus kerja keras untuk menerobos yang masih samar-samar. Kerja keras di sini mencakup kerja fisik, kerja otak, dan kerja ruh/rohani/jiwa. Karena kita berupaya menyeimbangkan ketiga faktor itu (kerja fisik, otak, dan rohani), muncullah sebuah kreativitas.

Minggu, 04 September 2016

Artikel Agama (28)

Pengorbanan dan Pengurbanan

Subagio S.Waluyo


Berbicara tentang kurban kita jadi teringat dengan firman Allah yang semula merupakan bentuk penyerahan diri Nabi Ismail AS ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengurbankan anaknya. Coba disimak sepuluh ayat dalam Surat Ash-Shofat berikut ini.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: `Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!` Ia menjawab: `Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang Sabar`. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah keSaba'ran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar.  Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

(Ash-Shofat, 102 – 111)

Kamis, 01 September 2016

All You Need Is Love (24)

Berat Kepala – Berat Kaki

Subagio S.Waluyo


Ketika melintas di jalan-jalan lingkungan saya sering dapati jalan-jalan berlubang yang siap menanti korban. Saya tidak habis pikir, bagaimana pemilik rumah yang persis di depan rumahnya ada lubang di jalan kok bisa diam saja? Pejalan kaki, Pengendara sepeda, atau kendaraan bermotor yang lewat depan rumahnya pasti harus ekstra hati-hati plus memaki-maki jalan yang rusak. Atau ada juga, mungkin, yang punya pikiran seperti saya walaupun bicara dalam hati tentang perilaku pemilik rumah yang `cuek bebek` dengan kondisi sekitarnya? Apa memang ada kesengajaan atau semacam pembiaran dari pemilik rumah supaya pengendara yang lewat di depan rumahnya tidak `ngebut` sehingga jalan berlubang itu tidak perlu diperbaiki? Kalau ada yang `ngebut`, kemudian terjatuh, terus luka-luka, pemilik rumah cuma komentar `rasain lu`?

Selasa, 30 Agustus 2016

Artikel Administrasi Publik (14)

Pembangunan Berkelanjutan?...Gagal!...Gagal! (3)

Subagio S. Waluyo
PB membutuhkan pengawasan. Pelaksanaan Pengawasan dilakukan bukan hanya oleh para birokrat. `Orang-orang  pintar` dari PT juga bisa dilibatkan dalam pengawasan pelaksanaan PB. Bentuk pengawasan dari `orang-orang pintar` atau `makhluk akademis` itu berupa kerja-kerja P3M. Jadi, sah-sah saja penelitian yang dilakukan calon sarjana (S1) walaupun hanya sebuah skripsi yang penelitiannya tentang pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan di sebuah tempat yang di peta tidak ada (karena tempat itu benar-benar pelosok hutan) didiskusikan. Kemudian, ditindaklanjuti dalam bentuk kerja-kerja pengabdian  masyarakat. Salah satu bentuk kegiatan yang konkrit membuat program kerja desa binaan di desa pelosok hutan itu. Ini pekerjaan menarik `kan? Kita yakin, kalau dosen-dosennya masih tergolong orang-orang yang sadar dan mau terlibat plus tidak mata duitan (`ngga matre`), pasti menyambutnya dengan antusias.

Artikel Administrasi Publik (13)

Pembangunan Berkelanjutan?...Gagal!...Gagal! (2)

Subagio S. Waluyo

Pelibatan masyarakat dalam melakukan pengawasan pelaksanaan PB apakah mungkin bisa dilakukan? Mungkin-mungkin saja. Mengapa tidak? Kita jelaskan dulu siapa saja yang masuk dalam konteks masyarakat di sini. Masyarakat jangan hanya dibatasi pada penduduk yang tinggal di suatu tempat. Masyarakat di sini bisa saja masuk ke dalamnya sivitas akademika (masyarakat perguruan tinggi/ PT). Kita juga bisa masukkan mereka yang aktif di organisasi massa (ormas). Bisa juga orang-orang yang terlibat di organisasi nonpemerintah (NGO/LSM). Bisa juga mereka yang tinggal di suatu tempat (masyarakat lingkungan atau masyarakat adat). Jadi, mereka-mereka inilah yang akan kita libatkan dalam melakukan pengawasan PB. Selama ini karena mereka tidak dilibatkan dalam pengawasan, mau tidak mau terjadi kegagalan PB.

Senin, 29 Agustus 2016

Artikel Administrasi Publik (12)

Pembangunan Berkelanjutan?...Gagal!...Gagal! (1)

Subagio S. Waluyo

Adalah Hetifah S.J. Sumarto dalam bukunya Inovasi, Partipasi dan Good Governance (2003:6) menyatakan bahwa sistem administrasi pemerintah dan kebijakan (publik) yang buruk di banyak negara berkembang merupakan kendala utama untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (PB). Sebagai bukti dari pernyataan tersebut dikaitkan dengan hasil PB yang dilakukan oleh berbagai negara (termasuk Indonesia) beberapa waktu lalu ada yang berpendapat bahwa PB ternyata memang belum banyak berhasil. Bisa juga dikatakan kalau PB yang lebih dari dua puluh tahun yang lalu dicanangkan, ternyata mengalami kegagalan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada pernyataan berikut ini.

Sabtu, 27 Agustus 2016

All You Need Is Love (23)

  Bahan Pendidikan Politik 



ANALISIS GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

DARI ORDE BARU SAMPAI REFORMASI

Subagio S.Waluyo



1.0 PENGANTAR

Masalah mahasiswa adalah masalah yang tidak pernah akan selesai dan bosan-bosannya untuk dibicarakan.  Masalah yang satu ini sesuai dengan kepribadian mahasiswa sebagai pemuda belia yang penuh de-ngan idealisme, enerjik, stamina yang stabil, dan pikiran-pikiran yang cemerlang.  Karena mahasiswa memiliki itu semua, wajarlah jika maha-siswa adalah orang-orang muda yang mencari “kebenaran.”  Apabila “kebenaran” tidak diperoleh, sesuai dengan karakternya ia akan mela-kukan setiap hal yang menurutnya layak untuk dilakukan.

Jumat, 26 Agustus 2016

Artikel Administrasi Publik (11)

Xenofobia-Inferior

Subagio S.Waluyo

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD`45) dimulai dengan sebuah pernyataan berbunyi:
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Ketika UU`45 itu disahkan, Indonesia baru saja merdeka karena satu hari sebelum UUD`45 disahkan, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, negara ini diproklamasikan. Dengan demikian, Indonesia sebagai sebuah negara telah benar-benar terbebas dari penjajahan asing, baik Jepang maupun Belanda yang masih berkeinginan menjajah kembali negara ini.

Rabu, 24 Agustus 2016

Artikel Agama (27)

Rendah Diri-Rendah Hati  


Subagio S. Waluyo   

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ketika membuat definisi `rendah diri` dan `rendah hati` terlihat adanya perbedaan yang jelas. Di KBBI tercantum frase `rendah diri`: `hal (sifat) diri`; `merasa dirinya kurang`. Sementara frase `rendah hati`: hal (sifat) rendah hati, tidak sombong atau `tidak angkuh`. Tetapi, ketika kedua frase tersebut diberikan imbuhan me-kan sehingga menjadi `merendahkan diri` dan `merendahkan hati` mempunyai makna yang sama, yaitu `menjadikan diri tidak sombong`; `tidak congkak`; `tidak angkuh` (KBBI,1999:833). Lho, kok, bisa sama ya? Bukankah seharusnya dibedakan. Untuk frase `merendahkan hati` memang bisa diterima pengertian tersebut. Lha, kalau frase `merendahkan diri` bukankah lebih baik didefinisikan sebagai `menjadikan dirinya merasa kurang`?

Minggu, 21 Agustus 2016

Artikel Agama (26)

Menegakkan Benang Basah

Subagio S.Waluyo
         
Ada pribahasa yang berbunyi `kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana`. Pribahasa yang demikian sederhana itu jika ditilik dari segi isinya ternyata tidak sederhana. Di sana ada kata `kejujuran` yang justeru sampai saat ini kata itu masih dianggap punya nilai tersendiri karena secara hati nurani manusia masih menghendaki adanya sebuah kejujuran. Yang menjadi pertanyaan, “Apakah memang benar banyak manusia yang masih mengikuti hati nurani?”  Pertanyaan itu bisa dipastikan hanya segelintir saja manusia yang masih mengikuti hati nurani. Sebagian besar manusia sudah jauh menyimpang dari hati nurani termasuk ke dalamnya sudah tidak bisa lagi berlaku jujur.   

Pembelajaran Penulisan (5)

MULAILAH DARI MASALAH


Subagio S.Waluyo

/a/

Batang singkong jika ditancapkan di tanah seperti zat hidup. Dia akan berusaha mengeluarkan akar-akarnya yang diteruskan dengan keluarnya tunas-tunas muda. Begitupun orang yang sudah punya bahan manakala sudah cukup penuh memorinya dengan bahan hasil bacaannya, dia akan menyalurkannya lewat tulisan. Cuma timbul pertanyaan dari mana dia akan memulainya?  Selama ini orang akan selalu digiring menulis dimulai dari judul. Cara ini tidak selalu benar. Kalau ada orang yang beranggapan toh judul yang dibuat hanya bersifat sementara, anggapan itu bisa dibenarkan karena memang judul baru bisa dicantumkan ketika tulisan telah selesai.

Pembelajaran Penulisan (4)

ASAH KEPEKAAN

Subagio S.Waluyo

/a/

Orang banyak baca pasti banyak tahu. Orang banyak tahu pasti memunculkan pengetahuan. Karena punya pengetahuan, orang minimal punya kepekaan. Kalau sudah punya kepekaan, mau dikemanakan? Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat melukis. Jadilah, sebuah lukisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat menyanyi. Jadilah, sebuah lagu dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada juga orang yang menyalurkan lewat menulis. Jadilah, berbagai macam bentuk tulisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Tulisan yang dihasilkannya bisa berupa karya fiksi, bisa juga nonfiksi. Dia bisa mewujudkan ekspresi kepekaannya lewat puisi-puisi. WS Rendra (almarhum), misalnya, mencoba mengekspresikan kepekaaannya lewat kumpulan puisi yang terkenal Potret Pembangunan dalam Puisi (PPdP). Di dalam kumpulan puisi tersebut banyak berisikan protes terhadap kebijakan pembangunan di waktu itu (masa orde baru). WS Renda sang penyair ketika mengekspresikan kepekaannya tidak berangkat dari nol. Dari hasil banyak baca buku (tentu saja ditambah dengan  input yang diperoleh dari hasil mengikuti berbagai kajian) sehingga tanpa disadari membentuk satu sikap, yaitu munculnya kepekaan terhadap masalah-masalah ketimpangan sosial. Selanjutnya diekspresikan yang dirasakannya lewat menulis kumpulan puisi. Jadilah, sebuah kumpulan puisi yang sarat kritik sosial terhadap rezim orde baru: PPdP. 

Pembelajaran Penulisan (3)

SIAPKAN BAHAN


Subagio S. Waluyo

/1/
`Sedia payung sebelum hujan` begitu kata peribahasa yang juga bisa diartikan `sedia bahan sebelum menulis`. Kok, bahan? Bahan apa? Bahan di sini referensi. Bisa buku, bisa artikel di koran/majalah (kliping), atau bisa juga dari hasil browsing di internet. Zaman kiwari ini begitu banyak bahan yang bisa diperoleh. Semua yang bisa dibaca adalah bahan. Termasuk semua yang bisa didengar adalah bahan. Hanya bahan yang lewat pendengaran (karena terbiasa `nguping`) tidak bisa dipertanggungjawakan. Boleh saja hasil mendengar dijadikan bahan, tapi harus ada tindak lanjutnya. Teruskan dengan cari bahan sesuai dari yang kita dengar sebagai informasi awal. Bisa juga hasil menyaksikan lewat media elektronik atau ikut kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah di kegiatan agama dijadikan sebagai bahan. Tapi, ya, itu tadi, harus diteruskan dengan mencari referensi dalam bentuk bahan-bahan tertulis. Hasil memanfaatkan audio-visual yang digunakan untuk menyaksikan acara di media elektronik atau kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah keagamaan tidak bisa dijadikan referensi utama. Dia hanya menjadi stimulus agar seseorang melakukan penelusuran mencari bahan-bahan tertulis.

Pembelajaran Penulisan (2)

MENULIS SAMPAI KE LIANG LAHAT

Subagio S.Waluyo



/a/
Orang menulis sama seperti orang menuntut ilmu/belajar, yaitu sama-sama sampai ke liang lahat. Bedanya, menuntut ilmu/belajar dari buaian (lahir). Sedangkan menulis dimulai dari orang bisa membaca yang diteruskan dengan bisa menulis.  Jadi, kalau di usia kelas I SD anak sudah bisa membaca dan menulis, nah di usia itulah harus ada keinginan untuk menulis sampai ke liang lahat. Kenapa sampai liang lahat? Ya, sampai liang lahat karena ada orang yang mati muda, ada yang mati setengah tua, dan ada juga yang mati tua. Kalau dikatakan menulis sampai tua, tiba-tiba belum sampai tua sudah wafat, gimana? Berarti benar `kan hanya sampai liang lahat?

Pembelajaran Penulisan (1)

Dinamakan Pembelajaran Penulisan

Subagio S.Waluyo

Submenu Bahasa ini dinamakan Pembelajaran Penulisan karena memang sengaja disediakan kolom untuk siapa saja yang ingin belajar menulis. Dinamakan Pembelajaran Penulisan karena belajar menulis merupakan sebuah proses. Tentang lamanya mengikuti proses belajar menulis itu sendiri bukan semata-mata adanya talenta, tapi juga dibutuhkan keseriusan. Selain itu, perhatian harus fokus. Perlu juga dicamkan, belajar menulis harus disertai kesabaran dan tetap konsisten dengan komitmen yang telah dicanangkan di awal ketika belajar. Komitmen yang harus ada pada seorang calon penulis adalah dia mau belajar menulis untuk memperoleh tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi pembacanya. Memberikan wawasan pada setiap pembacanya. Tentu saja wawasan yang bermanfaat bagi kehidupan pembacanya di masa depan dan diharapkan (setidak-tidaknya) membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi pembaca.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Artikel Agama (25)

Qarun Sang Kapitalis


                                                                          
 Subagio S.Waluyo

Membaca Surat Al-Qashash ayat 76 – 78 kita seperti diingatkan oleh Allah SWT tentang kisah di zaman Nabi Musa AS tentang orang yang serakah. Adalah Qarun yang dimaksudkan sebagai tokoh yang serakah, riya, kikir, dan sombong yang digambarkan pada ketiga ayat di atas. Karena kesombongannya, Qarun melakukan cara-cara tidak terpuji pada pengikut-pengikut Nabi Musa AS di antaranya melakukan provokasi agar mereka (para pengikut Nabi Musa AS) memusuhinya dan ingkar pada Allah SWT. Perilaku  Qarun sama dengan perilaku Fir`aun yang juga menganggap dirinya lebih tinggi daripada Allah SWT.  Agar lebih jelas lagi, silakan disimak bunyi ketiga ayat itu berikut ini:

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...