Sabtu, 23 Agustus 2025

Bahasa dan Sastra (228)

 



Tangan yang di Atas

 

Cerpen
 
Subagio S.Waluyo

 

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta”, begitu kata Ustad Abdul Halim.

“Nih, saya beri contoh. Seperti ini nih”, kata sang ustad sambil memberi contoh dengan tangannya sendiri sampai para jamaah di masjid itu mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Apa artinya?”, tanya sang Ustad pada jamaah pengajian di masjid Al-Barkah. Tidak ada jamaah yang menjawab.

“Artinya, jadilah kita orang pemberi bukan peminta-minta”, jelasnya.

“Minta-minta itu hukumnya haram, ya?”, kata sang Ustad.

Subaki mendengar kalimat itu dari sang Ustad sempat kaget sampai-sampai ada pertanyaan di benaknya `kalo gitu yang saya kerjakan selama ini kerjaan haram, ya?`. Belum lagi Subaki merespon yang ada di benaknya sang Ustad melanjutkan.

“Ini bukan kata saya. Ini ada hadisnya. Jadi, bukan saya mengada-ada. Kita wajib gak mengimaninya? Wajib ya? Kalo kita gak mengimaninya kita masuk ke dalam golongan orang yang ingkar pada hadis. Mau kita mengingkarinya? Gaklah ya?”, kata sang Ustad. Selanjutnya, sang Ustad mengingatkan.

“Nah, besok-besok kalau ada pemilihan anggota legislatif atau anggota dewan atau pemilihan walikota atau gubernur sekalipun, kita jangan minta-minta sama mereka. Kalo dikasi ambil. Soal milih itu rahasia. Kalo kita minta-minta nanti kita jadi punya ketergantungan. Kalo dah punya ketergantungan, kita nanti dikuasain sama yang namanya penguasa . Kalo kita dikuasain, kita jadi seperti `kebo yang dicocok hidungnya`. Ngerti ya?”, tanyanya.

“Ngerti, Ustad”, kata jamaah serentak.

“Nah, supaya gak seperti `kebo dicocok hidungnya`, kita gak usah minta-minta sama siapapun. Sekali lagi yang namanya minta-minta haram kecuali kalo memang terpaksa”, begitu kata sang Ustad.

“Kalo memang dah jelas, mari kita tutup majelis ini dengan sama-sama membaca hamdalah dan doa kafaratul majelis.

          Serentak para jamaah membaca hamdalah dan doa kafaratul majelis. Sebelum meninggalkan masjid para jamaah saling bersalaman. Subaki juga ikut bersalaman dan segera meninggalkan masjid.

***

          Para jamaah pulang dengan keriangan hati. Di antara mereka masih sempat berkelakar menanggapi penjelasan sang Ustad tadi. Tapi, tidak demikian dengan Subaki. Bagi Subaki semua yang didengar malam itu membuat dirinya gundah. Kegundahan itu dibawa sampai ke rumahnya. Sesampai di rumahnya disampaikan yang didapatnya ketika di masjid tadi ke istrinya. Istrinya yang mendengar aduan suaminya langsung menanggapinya.

“Apa yang disampein Ustad tadi benar Pak”, ketus istrinya.

“Lho, kok Ibu ngomongnya begitu?”, tanyanya tidak mengerti.

“Iya, orang kayak Bapak itu dah waktunya ninggalin pekerjaan yang gak baik”, jelas istrinya.

“Emang yang saya kerjakan gak baik? Saya `kan gak nyolong ato merampok?”, tanyanya penasaran.

“Betul Bapak itu gak nyolong ato merampok. Tapi, `kan Bapak barusan juga  ngomong kalo minta-minta itu haram. Kalo memang haram `kan jatuhnya gak baik, Pak?”, jelas istrinya.

“Terus, saya harus ninggalin pekerjaan saya?”, tanyanya.

“Lha, iya. Bapak harus ninggalin pekerjaan Bapak yang gak baik itu”, jawab sang istri ketus.

“Kalo saya tinggalin, saya mau kerja apa lagi, Bu?”, tanyanya.

“Rizki Allah itu luas Pak. Banyak orang bisa cari nafkah yang halal. Pokoknya Bapak harus punya niat ninggalin pekerjaan minta-minta. Kayak saya nih, dari bantu-bantu orang cuci pakaian sampai diminta orang ngurus anak-anaknya sampe bantuin masak. Semua urusan rumah tangga orang saya yang ngerjain. Bapak `kan tahu, suami-istri yang sibuk itu seharian di luar rumah, saya yang ngurusin rumah tangganya. Yang penting saya jujur. Jaga amanah. Kalo memang ada kebutuhan kita terus terang aja minta. Karena saya dah deket hubungannya dan dianggap baik, orang gak sungkan-sungkan ngasi kita. Bapak `kan tau sendiri setiap saya pulang kerja selalu dikasi kalo gak duit yang kata majikan saya sedekah, ya makanan yang berlebih. Kadang-kadang juga  majikan saya ngasi pakaian buat saya, anak-anak, dan juga kadang-kadang buat Bapak `kan?. Makanya Pak mulai besok gak usah minta-minta lagi. Kalo kita minta-minta, kita hina Pak di mata orang”, jelas istrinya.

Subaki sempat tercenung omongan istrinya. Diam-diam dia mengakui yang dikatakan istrinya benar.

“Gimana Pak?”, tanya istrinya.

“Saya besok mau cari kerjaan lain. Saya gak mau minta-minta lagi”, kata Subaki mantap.

“Nah, gitu dong! Itu Bapak yang bertanggung jawab”, kata istrinya girang.

***

          Besoknya pagi-pagi sekali sehabis salat subuh Subaki pamit pada istrinya. Ketika istrinya bertanya.

“Mau ke mana, Pak?”

“Cari rizki Allah, Bu”, katanya mantap.

“Nah, gitu dong! Itu baru Bapak yang baik”, kata istrinya.

Setelah istrinya mencium punggung tangannya, Pak Subaki memberi salam.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikum salam!”

          Subaki tanpa sepengetahuan istrinya ke tempat Birin, pengepul yang biasa menampung barang-barang hasil perolehan pemulung. Begitu Subaki melihat Birin langsung memberi salam.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam. Eh, Pak Subaki, tumben-tumbenan ke mari. Ada apa Pak?”, tanya Birin.

“Saya mau jadi pemulung, Pak”, kata Subaki.

“Lha, Bapak mau jadi pemulung?”, tanya Birin heran.

“Ya, pemulung”, kata Subaki mantap.

“Apa saya gak salah denger?”, tanya Birin bercanda.

“Enggak. Saya memang mau jadi pemulung”, jawab Subaki.

“Bukannya dari kerjaan Bapak sekarang hasilnya lebih banyak dapatnya, Pak?”, tanya Birin.

“Ya, lebih banyak sih. Tapi, yang namanya kerja minta-minta itu hina. Pak”, jelas Subaki.

          Biar Birin gak banyak bertanya macam-macam, Subaki langsung menyampaikan pengajian yang disampaikan Ustad Abdul Halim semalam. Setelah mendengarnya, Birin langsung masuk ke ruangan. Dari ruangan Birin bawa karung plastik besar, tongkat besi, dan masker. Semua perlengkapan diberikan ke Subaki.

“Pak, ini alat-alatnya. Selamat bertugas Pak”, kata Birin menyemangati.

“Ya, terima kasih Pak Birin.”

“Sama-sama Pak.”

“Assalamualaikum!”

“Waalaikum salam!”

***

          Sebelum mulai bertugas menjadi pemulung, Subaki mampir ke toko Uda yang biasa menjual perlengkapan motor. Subaki membeli helm. Helm itu langsung dikenakan. Pemilik toko sempat heran ketika Subaki memakai helm tapi tidak membawa kendaraan. Subaki langsung ke tempat pembuangan sampah yang menurutnya pasti banyak barang rongsokan atau plastik yang dibuang orang. Di sepanjang jalan yang dilaluinya banyak orang yang heran kalau ada pemulung memakai helm. Ada orang yang diam-diam menertawainya. Ada juga orang yang menganggapnya gila dengan memberi kode-kode tertentu. Subaki tidak peduli dengan cemoohan orang. Subaki sudah bertekad mencari nafkah yang halal. Subaki tidak mau lagi disebut orang yang hina yang melakukan pekerjaan haram karena meminta-minta. 

        Tengah asyik mengorek-ngorek tempat sampah, tiba-tiba saja ada motor dengan kecepatan tinggi menyerempet karung yang dipegangnya erat-erat. Subaki sempat oleng dan terjatuh di jalan beraspal. Karena limbung, Subaki wajahnya sempat mencium aspal. Untung Subaki memakai helm sehingga kepalanya yang terlindungi helm tidak apa-apa hanya terasa pening saja. Tangan kiri dan kaki kirinya lecet-lecet. Sementara itu, sang pengendara motor yang juga sempat terkejut kalau motor yang dikendarainya menyerempet karung yang dibawa pemulung langsung kabur. Dia khawatir kalau berhenti risikonya akan dihakimi warga yang melihatnya.

          Warga yang dekat dengan TKP langsung memberikan pertolongan. Pertama-tama salah seorang di antara warga membuka helm yang dikenakan Subaki. Begitu helm dan maskernya terbuka mereka kaget ternyata itu Subaki yang memang mereka mengenalnya sebagai pengemis. Di antara mereka juga ada yang membenahi barang-barang rongsokan yang berantakan. Bersama-sama mereka menggotong Subaki ke Kantor RW yang memang tidak jauh dari situ. Di Kantor RW luka-luka di tangan kiri dan kaki kirinya diolesi Betadin. Subaki pun diberi minuman hangat. Setelah dipastikan tidak ada luka yang serius, Pak RW menyuruh warganya mengantarkannya ke rumah Subaki.

          Tondi pengendara motor yang sempat kabur sesampai di rumahnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal menemui ayahnya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam. Eh, Tondi, kok mukamu pucat. Nafasmu tersengal-sengal. Ada apa, Nak?”, tanya ayahnya heran.

Sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal Tondi menyampaikan kalau tadi baru saja menyerempet seorang pemulung yang sedang mengorek-ngorek tempat sampah.

“Orang itu luka parah gak?”, tanya ayahnya.

“Kayaknya enggak sih, Yah”, katanya memastikan.

“Tapi, biar gimanapun kita harus lihat langsung, Yah. Ayah ada waktu kan`?, tanyanya.

“Ya, boleh. Yuk sekarang juga kita ke sana”, ajak ayahnya.

Mereka berdua langsung ke TKP. Di sana mereka atas informasi dari seorang warga langsung ke Kantor RW. Benar saja di Kantor RW telah banyak warga yang berkerumun. Beberapa warga yang mengenali Tondi sebagai pengendara yang sempat kabur setelah menyerempet Subaki langsung mau mengambil tindakan. Untung saja ada Pak RW dan ayah Tondi yang melerainya.

“Saudara-saudara, anak muda ini mau bertanggung jawab. Buktinya dia balik ke sini sama orangtuanya. Kalau gak bertanggung jawab dia gak bakal balik ke mari. Sekarang gini aja, kita antar aja mereka ke rumah Pak Subaki. Kita gak boleh main hakim sendiri. Kita damai aja ya Pak?”, tanya Pak RW.

“Ya. Sebaiknya begitu”, kata ayah Tondi.

“Bapak sama anak Bapak ke rumah Pak Subaki aja. Nanti dibicarakan solusi terbaiknya. Yuk kita ke rumahnya”, kata Pak RW.    

          Sesampai di rumah Subaki sudah ada istri dan anak-anaknya. Subaki yang hanya luka-luka ringan tidak banyak menuntut. Ketika ditanya tentang luka-luka yang dideritanya, dia hanya menunjukkan tangan kiri dan kaki kirinya  yang lecet-lecet. Sedangkan kepalanya hanya terasa sedikit pening. Jadi tidak ada luka yang serius. Ayah Tondi yang melihat kondisi rumah dan keluarga Subaki merasa iba. Spontan saja ayah Tondi menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah. Subaki yang merasa luka-lukanya tidak terlampau serius langsung menolaknya. Subaki justru mengatakan pada ayah Tondi.

“Tangan di atas itu lebih mulia dari tangan yang di bawah Pak. Saya gak mau minta-minta lagi. Minta-minta itu pekerjaan hina, Pak. Jadi, saya minta maaf kalo gak mau nerima pemberian dari Bapak”, jelasnya.

Begitu mendengar penolakan Subaki, orang-orang di sekitar Subaki bengong.

 

Kota Bekasi, 23 Agustus 2025.


Kamis, 21 Agustus 2025

Bahasa dan Sastra (227)

 



Mantan Koruptor

 

Cerpen

 

Subagio S.Waluyo

 

Aku baru saja ke luar dari Sukamiskin setelah hampir lima tahun mendekam di balik jeruji besi. Aku benar-benar galau karena keluarga berantakan. Aku tidak tahu persis bagaimana keadaan anak-anak dan istriku. Satu hal yang kuketahui kedua anakku jadi korban narkoba. Sedangkan istriku telah lama meninggalkanku. Rasanya belum satu tahun aku mendekam di penjara, dia minta cerai karena mau menikah dengan mantan pacarnya. Aku benar-benar tidak berdaya menghadapinya. Aku persilakan saja kalau dia mau menikah lagi dengan mantan pacarnya. Hanya ada satu anak yang lahir bukan dari rahim istriku, tapi aku selama ini menganggap sebagai anak sendiri. Anak angkat inilah yang sangat aku percaya karena aku masih melihat perilakunya yang baik, alim, dan taat beribadah.

 

Aku percayakan sepenuhnya uang simpanan di bank yang aku peroleh dari benar-benar uang halal selama aku tugas sebagai PNS di salah satu kantor kementerian di negara ini. Semua dokumenku termasuk ijazah S1, S2, dan S3 aku percayakan padanya untuk disimpannya. Kalau sewaktu-waktu aku membutuhkannya aku tinggal memintanya. Uang hasil korupsi telah diatasnamakan istriku. Bukan saja uang hasil korupsi, semua kendaraan dan rumah sekalipun telah diambil alih istriku. Aku tidak peduli dengan semua harta benda hasil korupsi yang telah diambil alih istriku. Sejak pengadilan Tipikor memvonis aku lima tahun penjara dan denda setengah milyar rupiah aku mulai menyadari kalau uang korupsi adalah uang haram bagiku. Aku bertekad tidak mau menyentuhnya dan tidak mau menitipkan pada siapapun yang bagi orang lain uang hasil korupsi itu akan bermanfaat kelak selepas dari penjara. Aku bukan jenis golongan manusia seperti itu.

 

Selama aku di penjara, jika sewaktu-waktu aku butuh uang untuk keperluan biaya hidup atau apapun termasuk di antaranya memberikan infak atau sodaqoh, aku segera minta tolong anak angkatku. Semua pengeluaran yang bersumber dari simpananku dicatat dan dilaporkan secara rutin oleh anak angkatku. Ah, aku bersyukur pada Allah masih ada orang yang punya  empati padaku. Bukan itu saja, yang membuat aku terhibur terkadang dia juga mengajak anak-anaknya. Aku menganggap mereka itu sebagai cucu-cucuku yang membahagiakanku ketika aku dalam kesedihan dan kesepian.

 

Sebagai orang yang telah berlepotan dosa dan maksiat selayaknya aku juga harus bersyukur karena selama di dalam penjara Allah mengirimkan seorang sesama napi yang aku lihat seorang alim dan berakhlak baik. Aku biasa memanggilnya `Pak Ustad`. Pak Ustad sudah dua tahun lebih dulu dari aku di Sukamiskin ini. Kasusnya sama denganku. Sebagai anggota dewan suatu saat pernah terjebak kasus korupsi. Hukumannya lebih lama dariku: sepuluh tahun. Aku banyak mendapat nasihat dan nilai-nilai agama. Darinya aku juga belajar agama lagi. Aku, Pak Ustad, dan napi-napi lainnya kerap kali bersama-sama melaksanakan salat wajib berjamaah. Bukan hanya salat wajib, salat-salat sunah juga dilakukan berjamaah. Puasa senin-kamis juga dilakukan bersama-sama. Selain itu, aku dan kawan-kawan napi lainnya juga tadarus dan tadabur Quran bersama. Jika di antara kami punya kelebihan apapun, kami biasa berbagi. Aku dan juga yang lainnya merasakan kenikmatan yang luar biasa selama di balik jeruji besi penjara Sukamiskin.

 

Tidak terasa tiba-tiba saja aku harus meninggalkan Sukamiskin. Hukuman lima tahun yang seharusnya aku jalani, karena aku dinilai selama dalam penjara berkelakuan baik, aku menjalani hukuman selama empat setengah tahun. Mendengar kabar kalau aku segera dibebaskan, aku sujud syukur. Aku sebenarnya sedih juga meninggalkan Pak Ustad dan teman-teman napi yang sudah seperti keluarga sendiri bagiku. Namun, karena sudah ada putusan kalau aku harus segera meninggalkan lapas Sukamiskin, aku minta izin pada mereka untuk pamit. Aku segera menghubungi anak angkatku. Aku minta buku tabungan dan kartu ATM yang ada padanya berikut semua dokumenku yang dititipkan padanya diserahkan padaku. Aku juga minta kalau di hari aku dibebaskan supaya dia datang dengan istri dan anak-anaknya. Mereka datang menjemputku. Aku bermalam di rumahnya. Aku menolaknya untuk tinggal bersama mereka di rumahnya. Aku hanya semalam saja bermalam. Keesokan harinya pagi-pagi sekali dengan alasan untuk ziarah ke makam orangtuaku di Purworejo aku minta diantar ke Stasiun Kiaracondong. Sebelum meninggalkan mereka, aku tunjukkan pada anak angkatku kalau aku baru saja mentransfer uang buat mereka dengan jumlah yang cukup besar. Aku juga minta kalau dari uang itu disisihkan lima juta rupiah untuk korban genosida di Gaza, Palestina. Aku masih sempat melihat ekspresi wajahnya yang menunjukkan keterkejutan. Segera aku menghiburnya kalau itu merupakan pemberian tanda terima kasihku selama aku di balik jeruji besi Sukamiskin.

***

Selama dalam perjalanan aku banyak terdiam. Pikiranku melayang-layang membayangkan masa-masa indah ketika masih berkumpul dengan anak istri, ketika aku masih belum terjerat kasus korupsi yang memaksaku masuk dalam kurungan selama empat setengah tahun. Membayangkan masa-masa indah dulu tiba-tiba saja “Yesterday” masuk ke dalam kalbuku ketika Paul Mc Cartney personil The Beatles melantunkan "Oh, I believe in yesterday". Bagian akhir dari bait pertama itu seolah-olah mengajakku kalau masa lalu itu lebih baik dari masa kini. Harus aku akui masa laluku lebih baik dari sekarang ini. Sekarang aku seperti orang yang sebatang kara. Tidak ada anak dan istri. Aku hanya punya uang tabungan yang kuperoleh selama aku bekerja sebagai PNS dulu dan rumah peninggalan orangtuaku di Purworejo. Dengan uang yang masih tersisa itu aku bertekad untuk hidup hemat. Aku juga harus cari nafkah yang kukira tidak akan mudah diperoleh mengingat masih banyak orang yang mungkin saja memandangku curiga. Maklum, aku mantan koruptor yang wajahnya pernah terpampang di media sosial dan mainstream yang membuat orang tidak akan mudah percaya padaku.

***

Siang hari kereta api yang aku naiki tiba di Stasiun Kutoarjo. Aku segera menuju ke musola stasiun untuk mengerjakan salat. Selesai salat aku segera memesan Grab Car menuju Purworejo. Aku minta diantar ke Pasar Baledono. Aku mau melakukan napak tilas. Aku masih ingat ketika sekolah di kota kecil ini dengan teman-teman sebaya sering berjalan melewati Pasar Baledono. Dari Pasar Baledono aku tidak tahu kemana kakiku melangkah. Aku terus saja berjalan sampai akhirnya menjelang sore aku tiba di Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP). Di masjid itu aku salat magrib. Selesai salat magrib aku teruskan dengan salat isya. Baru saja aku selesai melaksanakan salat isya, tiba-tiba saja ada orang yang menepuk pundakku. Aku langsung menoleh. Seseorang di belakangku memberi salam.

“Assalamualaikum”, katanya.

“Waalaikum salam”, jawabku. Aku langsung mengenalinya, ternyata teman sekantorku, Khaidir, yang lebih dulu resign.

“Lho, Pak Khaidir, bukan?”, tanyaku.

“Ya. Bapak masih ingat saya, ya?”, tanyanya.

“Ya, ingatlah”, kataku seraya kami saling berpelukan.

“Bagaimana kabarnya?”, tanya temanku.

“Alhamdulillah sehat-sehat aja. Bapak sekeluarga juga sehat, ya?”, tanyaku.

“Alhamdulillah”, katanya.

“Lho, Bapak sama seperti saya sedang mampir di masjid ini?”, tanyaku. Aku tahu temanku bukan orang Purworejo. Dia berasal dari Kebumen. Lima tahun sebelum aku diciduk KPK dia telah menyatakan keluar sebagai PNS karena tidak tahan tekanan dari atasannya untuk melakukan manipulasi data. Aku akui dia lebih berani menantang atasan. Resikonya dia diberhentikan sebagai PNS.

“Saya memang mengajar di sini. Saya selepas dari tempat kita kerja dulu langsung pulang kampung. Karena saya punya ijazah S2 dari Amerika, saya ditawari teman saya ngajar di UMP. Waktu itu saya langsung diangkat jadi dosen tetap karena memang FE UMP butuh tenaga dosen tetap”, jelasnya.

“Alhamdulillah Bapak tidak berlama-lama menganggur, ya?”, kataku.

“Ya. Saya kemudian dikasi kesempatan untuk mengambil S3 di UGM atas biaya kampus”, tambahnya.

“Baru dua tahun lalu saya selesai S3-nya”, katanya.

“Alhamdulillah, Bapak benar-benar beruntung”, kataku bangga.

“Alhamdulillah semua berkat doa Bapak sebelum saya meninggalkan tempat kerja kita dulu. Bapak masih ingat `kan kata-kata Bapak pada saya waktu itu?”, tanyanya.

“Ya, saya ingat”, kata saya.

“Sekarang bagaimana dengan Bapak?”, tanyanya.

Aku jelaskan setelah keluar dari Sukamiskin aku galau. Aku merasa tidak punya tujuan hidup lagi. Aku sendiri juga tidak tahu kemana aku harus melangkah. Aku jelaskan juga tentang istri dan anak-anakku. Aku hanya punya harapan pada anak angkatku di Bandung yang memiliki perilaku yang demikian baik, alim, dan taat pada agama. Setelah mendengar penjelasanku temanku sempat tercenung. Sesaat kemudian dia bertanya.

“Bapak S2 dan S3 bukannya dari Monash University?”, tanyanya.

“Ya, memang saya dulu S2 dan S3-nya dari Monash University. Emang kenapa?”, kataku.

“Cuma saya dulu tidak seberani Bapak yang nekad keluar dari PNS”, sambungku.

“Kalau saja saya waktu itu keluar dari PNS, nasib saya tidak seperti sekarang ini”, sesalku.

“Ya, sudahlah Pak. Itu sudah qodarullah”, katanya.

“Buat apa diingat-ingat lagi. Gak ada gunanya, Pak. Hanya membuat kita semakin sesak nantinya”, jelasnya. Setelah temanku berkata demikian sempat hening sejenak. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami berdua. Namun, tak lama kemudian temanku memecahkan keheningan.

“Bapak kira-kira berminat gak kalau mengajar di sini. Maksud saya di UMP?”, tanyanya.

“Apakah pimpinan UMP ini bersedia menerima mantan koruptor seperti saya ini?”, tanyaku.

“Bukannya lebih baik mantan koruptor jadi orang saleh daripada mantan orang saleh jadi koruptor?”, tanya temanku bercanda.

Aku geli mendengar candaan temanku. Aku mengangguk mengiyakan.

“Bapak tidak usah khawatir, peristiwa yang menimpa Bapak lima tahun lalu Insya Allah lambat-laun akan hilang dari memori mereka. Bapak `kan tahu sendiri orang Indonesia itu memorinya pendek?”,  jelas temanku sambil bercanda.

“Ya. Memang benar memori orang Indonesia itu pendek. Cepat melupakan kejadian-kejadian yang menyakitkan sekalipun”, jelasku.

“Bapak yang penting tunjukkan pada mereka kalau Bapak bisa bekerja profesional. Bapak masih punya integritas. Selain itu, Bapak juga bisa buktikan kalau Bapak termasuk orang yang taat pada agama. Itu saja saran saya Pak”, kata temanku menyarankan.

“Baik kalau memang begitu”, kataku.

Mendengar tawaran temanku aku terharu. Aku sulit berkata-kata. Namun air mata kegembiraan tidak bisa terbendung, keluar dari kedua pelupuk mataku.

“Besok Bapak siapkan saja surat lamaran, curriculum vitae, dan fotokopi ijazah S1, S2, dan S3-nya, kalau pernah dapat piagam-piagam tanda penghargaan juga boleh Pak”, katanya.

“Nanti saya ajukan ke pimpinan saya”, sambungnya.

“Kita ketemu di sini aja ya?”, tanyanya.

“Ya, Insya Allah”, jawabku.

“Maaf, malam ini Bapak bermalam di mana?”, tanyanya.

“Saya orang sini asli Pak. Di sini banyak keluarga dari orangtua saya. Saya mau pulang ke rumah adik saya yang tidak jauh dari sini. Saya juga masih punya rumah warisan orang tua saya”, kataku.

“Kalau begitu nanti Bapak saya antar ke rumah adik Bapak ya?”, tawarnya.

“Terima kasih sebelumnya.”

“Sekarang kita makan malam dulu Pak sebelum saya antar Bapak pulang.”

“Baik. Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan Bapak.”

***

Pegunungan Menoreh yang membentang dari barat ke timur termasuk deretan pegunungan terbesar di Jawa Tengah. Begitupun dengan harapanku untuk memperoleh hidup yang lebih baik, lebih besar dari Pegunungan Menoreh. Aku katakan demikian karena setelah bertemu dengan teman lamaku, aku merasa hidup kembali. Langkah kakiku tidak gontai lagi seperti beberapa saat lalu sebelum aku bertemu dengan Khaidir, temanku. Aku menyadari bekerja sebagai dosen di kota kabupaten seperti Purworejo yang orang sebut sebagai kota pensiun ini tentu saja dilihat dari segi penghasilannya tidak sebanding yang aku peroleh ketika menjadi PNS di kementerian dulu. Tapi, aku wajib bersyukur karena tidak semua orang memandangku curiga. Buktinya, mereka bisa menerima kehadiranku. Aku tidak mengalami kesulitan ketika bertemu dengan adik-adikku di kampung halaman. Rupanya banyak orang yang telah melupakan masa laluku. Aku yakin semua ini merupakan buah dari doa-doaku dan doa teman-temanku sesama napi selama di Sukamiskin. Selain itu, boleh jadi ini semua terwujud berkat infak dan sodaqoh yang selama ini tidak putus-putusnya keluar dari kantongku. Aku merasa seperti terlahir kembali, Ah, di tengah kebahagiaan ini hampir saja aku terlupa untuk menyelamatkan kedua anakku yang terjerat narkoba. Aku tidak tahu tentang perkembangan terakhir mereka. Aku bertekad harus menyelamatkan mereka sebelum ajal menjemputnya. Mungkinkah mereka masih bisa diselamatkan?

 

Kota Bekasi, 22 Agustus 2025.

       

 

 

  


Rabu, 13 Agustus 2025

Bahasa dan Sastra (226)

Rindu Senyuman, Rindu Terima Kasih


Cerpen

Subagio S.Waluyo

Aku tidak habis pikir dalam sebulan mendapat musibah beruntun. Pertama, simpanan di salah satu rekeningku di bank amblas ditipu orang. Segera setelah musibah itu terjadi aku blokir rekeningku, aku ganti nomor rekening, ganti kartu ATM, dan e-banking-ku. Baru saja selesai urusan dengan bank, anakku sepulang kuliah mendapat musibah ketika motornya diserempet mobil. Untung anakku hanya luka ringan. Terakhir, ketika aku, istri, dan anak-anakku ke luar kota, burung tekukur kesayanganku digondol maling. Burung itu baru saja aku beli dan menjadi kesayanganku karena setiap pagi suaranya mengingatkanku ketika aku kecil di kampung.

         

Selama ini aku selalu beranggapan yang namanya musibah lebih karena kelalaianku. Aku tidak pernah terpikir kalau ada sebab lain munculnya musibah. Memang, musibah yang aku hadapi terbilang kecil. Bagi anggota dewan seperti aku rekening yang amblas bisa diisi kembali, toh uang bagiku mudah didapat. Anakku yang terluka ringan karena keserempet mobil buatku juga tidak jadi masalah. Begitu pun dengan burung yang digondol maling, suatu saat juga bisa aku beli lagi. Tapi, yang jadi masalah bagiku `bagaimana kalau suatu saat aku mendapat musibah yang lebih besar lagi?`. Masalah ini yang sampai beberapa hari menggelayuti hidupku membuat aku tidak tenang menjalani kehidupan.

                                                            ***

Di saat-saat aku tercenung memikirkan musibah yang mungkin saja akan menimpaku, aku teringat pada teman lama yang sudah lama tidak aku kunjungi. Temanku seorang dosen di salah satu PTN ternama di negeri ini. Kabarnya dia seorang profesor. Aku biasa menyapanya `Pak Dosen`. Dulu aku biasa menyambanginya sekalian curhat. Sejak menjadi anggota dewan sudah cukup lama aku tidak mendengar lagi nasihatnya. Mungkin sudah sepuluh tahun aku tidak bertemu dengannya karena kesibukan yang sebenarnya kalau memang berniat mau silaturahim bisa saja aku lakukan. Ah, selagi masih ada waktu aku coba mengunjunginya. Segera aku berkunjung ke rumahnya. Sebelumnya aku mampir ke toko buah membeli parsel buah. Alhamdulillah aku masih ingat jalan arah ke rumahnya meskipun di sekitar rumahnya sudah banyak bermunculan bangunan-bangunan baru. Begitu sampai di rumahnya aku segera memberi salam.

“Assalamu`alaikum!”.

“Waalaikum salam”. Kudengar suaranya dari dalam rumahnya. Tidak lama kemudian muncul temanku yang segera mengenaliku.

“Eh, Din tumben-tumbenan lu datang ke rumah gua. Gua kira lu dah lupa sama gua”, katanya dengan penuh keriangan.

Aku segera menyalami dan memeluknya.

“Gua gak bakal lupa sama lu, Pak Dosen. Biar gimanapun Kita `kan tetap bersahabat”, kataku.

“Gimana kabar lu bapak anggota dewan terhormat?”, canda temanku.

“Alhamdulillah, sehat-sehat aja. Lu sekeluarga juga sehat ya? Gua lihat rambut lu masih hitam gak kayak gua nih, dah putih semua”, kataku.

“Lu `kan banyak yang dipikirin.”

“Nah, kalo lu?”, tanyaku.

“Kalo gua gak ada pikiran”, katanya bercanda sampai kami berdua tertawa. `Ah, temanku masih seperti dulu, selalu penuh dengan humor ketika bicara serius`, kataku dalam hati.

“Yuk, masuk ke dalam. Kita bincang-bincang di dalam aja”, ajak temanku.

“Sore-sore gini, lu mau ngopi `kan?”, tanyanya.

“Air apa juga gua minum. Asal jangan air tajin aja”, kataku bercanda.

“Ah, elu. Tunggu bentar ya?”, tanya temanku. Sambil berkata begitu temanku langsung ke dapur meracik minuman. Tak lama kemudian dua cangkir kopi telah tersedia di meja.       

Setelah bincang-bincang, aku membuka pembicaraan. Aku sampaikan maksud kedatanganku. Aku ceritakan kalau aku mendapat musibah dalam waktu satu bulan sampai tiga kali. Aku juga sampaikan  bagaimana kalau ada musibah yang lebih besar menimpaku sekeluarga. Temanku serius menyimak yang aku sampaikan. Sebelum menjawab masalah yang aku sampaikan, aku lihat dia tercenung sejenak. Kemudian dia buka suara.

“Din, yang namanya musibah itu ada dua kemungkinan”, katanya.

“Maksud lu?”, tanyaku.

“Iya, maksud gua, yang namanya musibah itu boleh jadi lu lagi diuji sama Allah”.

“Lha, kenapa gua musti diuji sama Allah?”, tanyaku penasaran.

“Itu hal yang biasa Din. Semua orang pasti diuji kesabarannya, kira-kira lu termasuk orang yang sabar gak nerima musibah atau sebaliknya”.

“Nah, yang kedua?”, tanyaku sedikit memaksa.

“Bisa juga musibah itu merupakan teguran dari Allah”, jelas temanku.

“Teguran? Kenapa gua musti ditegur?”, tanyaku heran.

“Semua orang yang mengaku beriman pasti diuji Allah dalam bentuk teguran. Lu beriman gak sama Allah?”, tanya temanku.

“Jelas berimanlah”, jawabku.

“Jadi, musibah yang lu terima sampe tiga kali dalam sebulan itu teguran dari Allah. Mungkin ya, maaf nih, lu tuh gak berbagi”, jelas temanku.

“Gak berbagi? Gua selama ini tetap berbagi. Gua bagi anak istri gua. Gua kasi rutin ngasi uang belanja buat kebutuhan sehari-hari ke istri gua. Anak-anak gua segala kebutuhannya gua penuhi. Begitu juga ke orang tua dan mertua gua semuanya yang mereka minta maupun yang gak diminta gua penuhi. Juga buat adik-adik gua atau adik-adik ipar gua semuanya. Pokoknya, semua yang ada di sekitar keluarga semua kebutuhannya gua penuhi”, kataku sedikit menekan temanku.

“Semua yang lu sampein itu dah kewajiban lu.”

“Maksud lu, apa?”, tanyaku makin heran.

“Maksud gua berbagi itu, maaf ya, kalau gua sedikit menggurui, lu dah kasi gak haknya orang-orang duafa di sekitar lu?”, tanyanya.

“Maksud lu tetangga-tetangga gua? Tetangga-tetangga gua semuanya orang kaya. Mereka `kan anggota dewan”, kataku menjelaskan.

“Maksud gua bukan tetangga-tetangga lu sekomplek yang anggota dewan. Tapi, yang di luar tembok perumahan anggota dewan”, jelas temanku.

“Maksud lu gua ngasi sedekah ke orang-orang duafa yang tinggal di luar komplek perumahan anggota dewan?”, tanyaku.

“Ya”.

“Kalau zakat, gua ngasi zakat fitrah ke masjid.”

“Itu masih kurang Din. Lu `kan kalau gua lihat dari penghasilan lu dah musti ngeluarin zakat mal. Lu cuma keluarin dua setengah persen dari harta yang lu peroleh selama setahun. Selain itu, lu gak usah pelit-pelit keluarin buat orang-orang duafa di sekitar lu karena biar gimanapun ada milik mereka di harta lu. Boleh jadi di antara tetangga-tetangga lu yang orang duafa itu iri sama lu. Sampe-sampe burung tekukur kesayangan lu dicuri sama mereka. Insya Allah kalo lu dah berbagi sama mereka yang namanya maling segan nyuri di rumah lu. Kalo lu ke masjid di situ `kan ada kotak infak. Kalo ada banyak kotak infak buat TPA, anak yatim, Palestina, jumat berkah, atau buat jariah masjid, lu isi semua kotak juga gak apa-apa. Dengan lu ngeluarin zakat mal, infak, atau sedekah lu gak bakal miskin Din. Malahan lu akan dapat rizki yang makin berlimpah. Tetangga-tetangga lu yang rutin lu kasi sedekah akan baik sama lu hubungannya. Lu coba kasi mereka. Lu lihat nanti senyum mereka, ucapan terima kasih mereka rasanya nih hati akan adem. Lu percaya deh sama gua”, jelas temanku.

“Ya, ya. Gua ngerti apa yang lu sampein. Gua juga percaya sama elu”, kataku.

“Lu kasi tetangga-tetangga lu sedekah. Bentuknya bisa berupa uang atau sembako juga boleh”.

“Nanti kalo gua kasi uang ato sembako bukannya money politic?”, tanyaku.

“Gak lah. Lu kan ngasi rutin. Bukan waktu pileg ato pilpres. Lagi juga di situ bukan daerah pemilihan lu `kan?, tanya temanku.

“Bukan sih. Cuma jaga-jaga aja jangan sampe gua nanti kena delik money politic”, kataku.

“Insya Allah gak papa. Kalo lu mau ngasi zakat mal salurkan ke yayasan yang khusus menangani ziswaf”, jelas temanku.

“Apa itu ziswaf”, tanyaku.

“Zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf”, kata temanku.

“Kalo untuk infaq ke masjid aja”, sambungnya.

“Ya. Gua segera laksanakan titah baginda”, selorohku bercanda. Kami berdua tertawa riang.

“Kita dah sama-sama tua gini masih suka bercanda, ya?”, tanya temanku.

“Gak apa-apa selagi bercanda gak dikenain pajak”, kataku ngeledek. Ledekanku kali ini juga mengundang tawa bersama.

 

Setelah cukup lama berbincang-bincang, aku pamit diri. Sebelum ke luar dari rumahnya aku berikan parsel buah dan amplop yang telah aku siapkan sebelum berangkat. Temanku langsung merespon.

“Apa-apaan nih. Kok, pake ngasi parsel sama amplop?”, tanya temanku.

“Udah, lu terima aja”, kataku. “Ada rizki jangan ditolak!”, tegasku.

“Gua jadi enak, nih!”, kata temanku ngeledek. Kami tertawa lagi.

“Iaudah gua pamit, ya?”, kataku.

“Ya, hati-hati di jalan. Nanti kalo ada waktu luang gua mau ke rumah lu.”

“Siap, Pak Dosen! Assalamualaikum”.

“Waalaikum salam”.

***

Pas azan magrib aku sudah sampai di rumah. Aku langsung berganti pakaian, mengenakan sarung, dan peci untuk salat magrib berjamaah di masjid. Sudah lama rasanya aku tidak salat berjamaah. Di masjid aku disapa oleh beberapa jamaah yang mengenalku. Sapaan, salam, dan senyum mereka membuat hatiku tenteram. Sebelum kembali ke rumah, selesai salat dan wirid aku sempatkan untuk berbincang-bincang dengan beberapa jamaah. Aku juga menyempatkan diri untuk memasukkan uang ke kotak-kotak infak. Sesuai dengan saran temanku, aku masukkan semua kotak infak itu. Ah, hari ini aku merasa lega karena bisa salat berjamaah, berbincang-bincang dengan jamaah masjid, dan menginfakkan sebagian rizki yang aku miliki. Aku berniat besok sore orang-orang duafa yang tinggal di belakang tembok perumahan anggota dewan tempat tinggalku akan aku sambangi dan kuberikan sedekah. Aku rindu dengan ucapan terima kasih dan senyum mereka.  

 

Kota Bekasi, 14 Agustus 2025.

 

 

  

      

         




 

Jumat, 08 Agustus 2025

Bahasa dan Sastra (225)

 


Hampir Saja Lupa Pasang Bendera

 

Cerpen
 
Subagio S. Waluyo

 

 

          Aku baru saja selesai salat duha, ketika tiba-tiba saja anakku nyeletuk.

“Yah, kita gak usah pasang bendera merah putih.”

“Lho, kenapa?”, tanyaku heran.

“Ayah tahu `kan negara kita banyak masalah?”, tanya anakku seolah-olah memancingku untuk meresponnya.

“Maksudnya?”, tanyaku penasaran.

“Iya, pasti ayah tahu kalo negara kita ini banyak masalah. Ayah tahu negara ini banyak hutangnya. Hutangnya itu gak dinikmatin rakyat banyak, tapi dikorup sama pejabat-pejabat negara. Rakyat kita tetap aja miskin. Selain itu, mereka yang korupsi vonisnya ringan. Mereka nanti pas bebas masih punya harta yang dulu dikorup. Terus, hukum gak adil. Dia diibaratkan pisau yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Ayah ngerti `kan maksudnya?”, tanyanya.

“Iya, ayah ngerti”, kataku. “Tapi, apa hubungannya dengan pasang bendera merah putih?”, tanyaku.

“Ya ada hubungannya Yah. Dengan pasang bendera merah putih kita seolah-olah mendukung mereka yang memperkaya dirinya dan keluarganya lewat korupsi. Dengan memasang bendera merah putih kita mendukung pejabat-pejabat negara yang bejat moralnya”, jelas anakku seperti menceramahiku. Aku hanya mengangguk-angguk mengakui kebenaran kata-katanya. Sejurus kemudian aku memberikan penjelasan.

“Kita harus bedakan negara dengan pejabat negara. Negara ini gak punya salah. Yang punya salah itu pejabat-pejabat negaranya. Jadi, dengan memasang bendera merah putih kita menghargai negara ini bukan menghargai pejabat-pejabat negara yang tadi kamu sebutkan telah bejat moralnya.”

“Kamu mengerti apa yang ayah katakan?”, tanyaku.

“Ya, aku ngerti. Kita musti bisa membedakan negara dengan pejabat negara”, katanya.

“Nah, kalo gitu, kita harus pasang bendera merah putih”, kataku.

“Iya, tapi kita pasangnya nanti aja pas 17 Agustus”, katanya.

“Ya, terserah kamulah”, kataku mengalah.

***

          Aku sempat tercenung dengan kata-kata anakku tentang pejabat-pejabat negara ini yang telah bejat moralnya. Aku harus akui memang negara ini dipimpin oleh pejabat-pejabat yang korup. Akibat dari perbuatan mereka-mereka yang tidak bertanggung jawab, berbagai kerusakan moral muncul di hadapanku. Di usiaku yang tidak lagi muda ini terkadang terbesit di benakku tentang kondisi bangsa ketika di masa orde baru yang memang tidak seperti sekarang ini demikian demokratisnya. Tapi, di saat itu korupsi hanya ada di lingkar kekuasaan pemerintah pusat. Sekarang ini korupsi bukan lagi hanya di lingkar kekuasaan sekitar pemerintah pusat, tapi juga sampai ke para anggota dewan baik pusat maupun daerah semuanya menikmati aliran dana yang sebagian berasal dari hutang-hutang negara. Mereka-meraka yang berada di pemerintahan daerah juga ikut-ikut korup. Sampai-sampai para kepala desa pun turut ambil bagian. Wajar-wajar saja jika hutang negara ini semakin besar. Jika dibandingkan dengan masa-masa  sebelumnya, jelas hutang negara saat ini jauh lebih besar. Bisa aku katakan hutang negara ini sudah mencapai rekor tertinggi sehingga layak mendapat penghargaan dari MURI.

          Aku juga sempat merenung sampai aku menemukan benang merah yang mengaitkan antara pimpinan yang rusak dan moral anak-anak bangsa yang semakin hari semakin tidak karuan. Aku yakin kerusakan moral anak-anak bangsa ini berakar dari pimpinan negara yang kucintai ini yang tidak memberikan contoh yang baik buat bangsanya. Aku yakin kalau saja mereka-mereka yang berada di tampuk kekuasaan berperilaku baik, Insya Allah rakyat yang dipimpinnya juga akan berperilaku baik. Tapi, yang kudapati kini membuat aku harus mengurut dada. Bagaimana aku tidak mengurut dada kalau setiap kali aku menyimak berita-berita, baik di media mainstream maupun medsos selalu ditampilkan berita-berita mengenaskan? Ada pejabat partai yang diberi amnesti karena terbukti melakukan suap. Ada pejabat negara yang divonis demikian ringan walaupun terbukti korupsi sampai ratusan triliun rupiah. Ada pensiunan polisi yang sudah jelas-jelas menabrak seorang mahasiswa sampai meregang nyawanya, tapi sang mahasiswa yang ditabraknya malah dijadikan sebagai terdakwa. Sang mahasiswanya sudah meninggal, kok jadi terdakwa? Ada hukuman ringan terhadap aparat keamanan yang telah menghilangkan nyawa ratusan suporter sepakbola ketika terjadi kericuhan. Ada permainan politik lewat bagi-bagi sembako dan uang pada rakyat tapi menggunakan APBN. Ada ini, ada itu yang membuat aku sendiri bukan hanya mengurut dada tapi pusing tujuh keliling melihat kondisi bangsa ini yang semakin hari semakin tidak jelas. Akhirnya, ada rasa khawatir di benak ini: jangan-jangan negara ini akan masuk ke dalam jurang negara gagal? Ujung-ujungnya aku hanya mengatakan `au ah gelap!`.

          Apakah aku harus hanyut pada kondisi negara yang tidak karuan ini seraya ikut terlibat untuk melakukan pemberontakan? Ah, pikiran seperti itu aku buang jauh-jauh. Masih ada yang harus aku perbuat. Aku gak mau seperti orang-orang yang sampai saat ini nyinyir di medsos mengeritik soal pejabat-pejabat negara yang culas. Buatku cukup hanya dibicarakan dengan anggota keluarga dan teman-teman dekatku.Aku juga gak mau terlibat dengan beberapa orang yang mengkritisi ijazah palsu sang mantan presiden karena aku yakin ujung-ujungnya orang-orang yang kritis seperti itu akan dikalahkan oleh kekuasaan. Aku harus melakukan yang lain, yang jauh dari sekedar mengkritisi. Buatku masih banyak yang dilakukan untuk membenahi bangsa ini.

***

          Ah, aku tak mau terbawa arus keadaan. Justru, aku mau melawan arus keadaan. Aku mau berbuat sesuatu yang bermanfaat bukan saja buatku, tapi juga buat orang lain. Aku mau hari-hariku yang tersisa sebelum dipanggil Allah bisa bermanfaat buat orang lain. Aku isi hari-hariku untuk melakukan yang terbaik. Bukankah dengan demikian aku juga punya peran mengisi hari kemerdekaan dengan sesuatu yang bermanfaat. Aku isi hari kemerdekaan dengan caraku sendiri sesuai dengan kemampuanku. Memang, peranku tidak sebesar beberapa teman yang telah bercokol sebagai anggota dewan yang kata orang telah banyak memperjuangkan aspirasi rakyat. Peranku juga tidak sebesar mereka-mereka yang menjabat entah sebagai kepala daerah atau sekelas menteri dan presiden. Tetapi, aku wajib merasa bangga karena aku memiliki peran mencetak generasi masa depan yang masih punya harapan, yang bersih dari dosa, dan tentu saja mereka merupakan horison yang selalu baru bagiku (meniru ungkapan yang digunakan Hartojo Andangdjaja dalam puisinya “Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya”). Mereka anak-anak duafa yang ingin mengecap pendidikan tetapi tidak memiliki biaya. Kepada merekalah aku mengabdikan jiwa dan ragaku untuk mencetak generasi yang lebih baik dari generasiku yang dikatakan anakku sebagai pejabat yang bejat moralnya.

          Hari-hari berlalu begitu cepat. Tak terasa besok sudah memasuki hari ahad, hari Kemerdekaan ke-80 negara ini. Aku masih asyik dengan renungan tentang negara ini, apakah di Kemerdekaan ke-100 negara ini nanti akan terwujud Indonesia emas atau sebaliknya Indonesia cemas? Di tengah aku merenung, tiba-tiba saja istriku mengagetkanku dengan kata-katanya yang setengah berteriak.

“Bendera kapan tuh mau dipasang?”, serunya.

“Astagfirullah hal adziem. Ayah sampai lupa”, kataku.

“Iaudah pasang aja sekarang!”, seru istriku.

“Ya, segera ayah pasang.”

          Aku ambil batang besi pipa yang panjangnya kurang dari tiga meter. Aku ikatkan bendera merah putih di ujung pipa besi itu. Biar agak tinggi aku ikatkan dengan kawat di batang pohon yang kemarin aku tebang. Benderanya tidak terlampau besar. Tapi, aku sangat menghormatinya karena dari dua warna itu ada lambang yang selalu melekat dalam diriku. Berani untuk selalu melakukan kebaikan dan bersih dari segala hal yang akan mengotori hidupku.  

Kota Bekasi, Menjelang Hari Kemerdekaan RI.  

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...