Potongan Hati yang Tertinggal
Subagio S. Waluyo
Mengenang ibu-ibu perkasa yang
telah dipanggil Allah
di gerbong terakhir KRL Commuter
Line
Cooler
bag itu menjadi saksi bisu yang memisahkan sang ibu dengan anaknya. Sang
ibu yang masih sempat-sempatnya memeras ASI-nya demi keberlanjutan hidup sang
anak setiap pagi buta harus menempuh perjalanan demi menjalankan
keberlangsungan hidup keluarganya. Entah berapa bulan atau tahun usia sang
anak, namun yang pasti sang ibu menjadi korban di gerbong terakhir KRL Commuter
Line yang malam itu (selasa, 27 April 2026) ditabrak Lokomotif KA Argo
Bromo Anggrek. Kita tidak tahu pasti wujud fisik sang ibu setelah peristiwa
yang mengerikan itu menimpa dirinya. Kita hanya tahu cooler bag yang
telah menjadi saksi bisu itu sudah menjadi seperti potongan hati yang
tertinggal (frase potongan hati yang tertinggal dikutip dari catatanmimi)
yang mengikat hubungan tali kasih ibu dan anaknya. Tali kasih itu telah
terputus. Sang anak hanya bisa merasakan ASI terakhir dari sepotong hati yang tertinggal
yang diterima sang ayah dari seorang petugas di Stasiun Bekasi Timur.
Sejak
sang ibu pergi menghadap Sang Ilahi, sejak itu juga telah terputus hubungan ibu
dan anak. Telah terputus juga tatapan kasih dari sang ibu pada anaknya. Sang
anakpun hanya bisa memandang wajah ayahnya dan orang-orang yang ada di
sekitarnya. Sementara itu, wajah sang ibu yang selama ini telah menjadi tumpuan
kasih sayangnya tidak akan dijumpainya lagi. Betapa mudah dan cepat Allah
memutuskan tali kasih di antara hamba-hamba-Nya. Tapi, bukankah kita semua
milik Allah? Jika Allah meminta kembali yang diciptakan-Nya, apakah mungkin
kita bisa menolaknya? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan perenungan kita.
Tentang
perempuan-perempuan yang menjadi korban keganasan sang lokomotif sampai harus
menghilangkan 16 nyawa dan 84 korban luka-luka berat dan ringan, mereka bisa
disebut sebagai perempuan-perempun perkasa. Mereka setiap hari bertaruh nyawa
hanya untuk mengais rezeki yang memang telah diberikan Tuhan, tapi mereka harus
dengan kerja keras. Mereka
perempuan-perempuan perkasa yang berdesak-desakan di KRL sejak subuh buta
sampai hari menjelang senja. Mereka perempuan-perempuan perkasa yang terpaksa
harus meninggalkan sang anak yang semestinya sepenuhnya dalam belaian kasih
sayangnya. Mereka perempuan-perempuan perkasa yang turut berperan dalam
mensejahterakan keluarganya demi keberlanjutan hidup yang tidak bisa diharapkan
hanya dari rezeki pasangan hidupnya.
Mereka layak disebut sebagai perempuan-perempuan perkasa sebagaimana
Hartojo Andangdjaja menulis dalam salah satu puisinya “Perempuan-Perempuan
Perkasa”.
Perempuan-Perempuan
Perkasa
Hartojo Andangdjaja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari
manakah mereka
Ke setasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, ke manakah
mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah
mereka
Mereka ialah ibu-ibu yang perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka: cintakasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.
Perempuan-perempuan perkasa abad 21
jelas tidak membawa bakul. Tapi, mereka membawa tanggung jawab yang secara
moral jauh lebih berat ketimbang membawa bakul karena mereka juga harus
meneruskan estafeta kehidupan keluarganya. Perempuan-perempuan perkasa abad 21
menjejali stasiun-stasiun kereta api seraya berebutan masuk gerbong yang telah
sesak dengan penumpang dengan tujuan yang sama ke pusat-pusat kota untuk
mengais rezeki. Perempuan-perempuan abad 21 sebagian besar bukan dari
bukit-bukit yang ada di desa-desa, tapi mereka datang dari rumah-rumah KPR yang
masih berutang sekian tahun lagi untuk bisa melunasinya. Perempuan-perempuan
perkasa abad 21 dari hari-ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun sebagian
waktunya hidup berkendara di atas roda-roda baja. Perempuan-perempuan perkasa
abad 21 terkadang harus berhadapan dengan aturan-aturan kerja yang membuat
mereka tidak berdaya manakala mereka melanggar aturan-aturan kerja yang cenderung
tidak manusiawi. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 juga sama dengan
perempuan-perempuan perkasa dari bukit-bukit pedesaan, mereka memiliki cinta
kasih bergerak menghidupi keluarga. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 yang
berjuang dari pagi buta, berebut masuk KRL di saat pergi dan pulang, mereka
harus meregang nyawa manakala lokomotif yang ada di belakangnya dengan dahsyat
meluluhlantakkan gerbong KRL yang ada di hadapannya. Ah, tidak ada seorangpun di dunia
ini yang meminta akhir hidupnya ditabrak kereta api yang melaju kencang. Takdir
Allah berkata lain, mereka telah diakhiri hidupnya oleh Allah dengan sesuatu
yang tragis.
Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad
21 telah menyisakan seorang suami yang seiya sekata dalam menata kehidupan dan
merancang masa depan yang lebih baik. Kepergian perempuan-perempuan perkasa
abad 21 telah meninggalkan anak-anak yang semestinya masih dalam dekapannya
karena curahan kasih sayang mutlak dimiliki oleh sang ibu. Kepergian
perempuan-perempuan perkasa abad 21 telah mengandaskan mimpi-mimpi indah
mereka-mereka yang masih banyak berharap dari uluran tangannya. Kepergian
perempuan-perempuan perkasa abad 21 telah banyak memberikan hikmah buat kita
yang ditinggalkan bahwa sebuah perilaku tidak disiplin yang masih banyak dianut
oleh anak bangsa ini akan berakibat fatal. Kepergian perempuan-perempuan
perkasa abad 21 menjadi sebuah teguran buat pengelola bangsa ini agar segera
membenahi pembangunan yang sampai saat ini masih banyak salah urus dan terbengkalai diakibatkan oleh korupsi. Kepergian
perempuan-perempuan perkasa abad 21 menjadi alat koreksi perilaku
pejabat-pejabat publik bangsa ini yang masih bergiat melakukan aktivitas yang
merugikan anak bangsanya sendiri (lagi-lagi korupsi). Kepergian perempuan-perempuan
perkasa abad 21 menjadi sebuah pembelajaran buat kita semua untuk kerap melakukan
koreksi diri. Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 memunculkan sebuah
pertanyaan yang muncul di benak kita: maukah bangsa ini berubah dari sekian banyak keburukan
ke arah kebaikan?
Orang yang masih punya hati nurani yang bersih pasti sangat berminat untuk melakukan perubahan dari keburukan ke kebaikan. Kalau ada yang masih ngotot tidak mau melakukan perubahan, orang semacam ini perlu dicurigai: jangan-jangan orang ini telah sakit jiwanya! Termasuk orang-orang yang sakit jiwanya adalah orang-orang yang semakin bertambah umur semakin giat mengumpulkan harta dari cara-cara yang ilegal (apalagi kalau bukan korupsi dan sejenisnya). Orang-orang seperti ini tidak pernah dan tidak mau belajar dari setiap musibah yang menimpanya. Orang-orang seperti inilah yang memiliki saham memupus harapan masa depan perempuan-perempuan perkasa abad 21. Orang-orang seperti inilah yang merusak perilaku anak bangsa. Orang-orang seperti inilah yang memiliki saham terbesar dalam memutuskan potongan hati yang tertinggal. Wallahu a`lam bissawab!
.jpg)