Selasa, 05 Mei 2026

Bahasa dan Sastra (248)

 


Potongan Hati yang Tertinggal

 

Subagio S. Waluyo
 

Mengenang ibu-ibu perkasa yang telah dipanggil Allah

di gerbong terakhir KRL Commuter Line

 

           Cooler bag itu menjadi saksi bisu yang memisahkan sang ibu dengan anaknya. Sang ibu yang masih sempat-sempatnya memeras ASI-nya demi keberlanjutan hidup sang anak setiap pagi buta harus menempuh perjalanan demi menjalankan keberlangsungan hidup keluarganya. Entah berapa bulan atau tahun usia sang anak, namun yang pasti sang ibu menjadi korban di gerbong terakhir KRL Commuter Line yang malam itu (selasa, 27 April 2026) ditabrak Lokomotif KA Argo Bromo Anggrek. Kita tidak tahu pasti wujud fisik sang ibu setelah peristiwa yang mengerikan itu menimpa dirinya. Kita hanya tahu cooler bag yang telah menjadi saksi bisu itu sudah menjadi seperti potongan hati yang tertinggal (frase potongan hati yang tertinggal dikutip dari catatanmimi) yang mengikat hubungan tali kasih ibu dan anaknya. Tali kasih itu telah terputus. Sang anak hanya bisa merasakan ASI terakhir dari sepotong hati yang tertinggal yang diterima sang ayah dari seorang petugas di Stasiun Bekasi Timur.

        Sejak sang ibu pergi menghadap Sang Ilahi, sejak itu juga telah terputus hubungan ibu dan anak. Telah terputus juga tatapan kasih dari sang ibu pada anaknya. Sang anakpun hanya bisa memandang wajah ayahnya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sementara itu, wajah sang ibu yang selama ini telah menjadi tumpuan kasih sayangnya tidak akan dijumpainya lagi. Betapa mudah dan cepat Allah memutuskan tali kasih di antara hamba-hamba-Nya. Tapi, bukankah kita semua milik Allah? Jika Allah meminta kembali yang diciptakan-Nya, apakah mungkin kita bisa menolaknya? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan perenungan kita.

         Tentang perempuan-perempuan yang menjadi korban keganasan sang lokomotif sampai harus menghilangkan 16 nyawa dan 84 korban luka-luka berat dan ringan, mereka bisa disebut sebagai perempuan-perempun perkasa. Mereka setiap hari bertaruh nyawa hanya untuk mengais rezeki yang memang telah diberikan Tuhan, tapi mereka harus dengan kerja keras.  Mereka perempuan-perempuan perkasa yang berdesak-desakan di KRL sejak subuh buta sampai hari menjelang senja. Mereka perempuan-perempuan perkasa yang terpaksa harus meninggalkan sang anak yang semestinya sepenuhnya dalam belaian kasih sayangnya. Mereka perempuan-perempuan perkasa yang turut berperan dalam mensejahterakan keluarganya demi keberlanjutan hidup yang tidak bisa diharapkan hanya dari rezeki pasangan hidupnya.  Mereka layak disebut sebagai perempuan-perempuan perkasa sebagaimana Hartojo Andangdjaja menulis dalam salah satu puisinya “Perempuan-Perempuan Perkasa”.


Perempuan-Perempuan Perkasa

                                    Hartojo Andangdjaja                                              

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka

Ke setasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa

sebelum peluit kereta pagi terjaga

sebelum hari bermula dalam pesta kerja

 

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, ke manakah mereka

Di atas roda-roda baja mereka berkendara

Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota

merebut hidup di pasar-pasar kota

                                                                                          

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka

Mereka ialah ibu-ibu yang perkasa

akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota

Mereka: cintakasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.

 

        Perempuan-perempuan perkasa abad 21 jelas tidak membawa bakul. Tapi, mereka membawa tanggung jawab yang secara moral jauh lebih berat ketimbang membawa bakul karena mereka juga harus meneruskan estafeta kehidupan keluarganya. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 menjejali stasiun-stasiun kereta api seraya berebutan masuk gerbong yang telah sesak dengan penumpang dengan tujuan yang sama ke pusat-pusat kota untuk mengais rezeki. Perempuan-perempuan abad 21 sebagian besar bukan dari bukit-bukit yang ada di desa-desa, tapi mereka datang dari rumah-rumah KPR yang masih berutang sekian tahun lagi untuk bisa melunasinya. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 dari hari-ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun sebagian waktunya hidup berkendara di atas roda-roda baja. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 terkadang harus berhadapan dengan aturan-aturan kerja yang membuat mereka tidak berdaya manakala mereka melanggar aturan-aturan kerja yang cenderung tidak manusiawi. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 juga sama dengan perempuan-perempuan perkasa dari bukit-bukit pedesaan, mereka memiliki cinta kasih bergerak menghidupi keluarga. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 yang berjuang dari pagi buta, berebut masuk KRL di saat pergi dan pulang, mereka harus meregang nyawa manakala lokomotif yang ada di belakangnya dengan dahsyat meluluhlantakkan gerbong KRL yang ada di hadapannya. Ah, tidak ada seorangpun di dunia ini yang meminta akhir hidupnya ditabrak kereta api yang melaju kencang. Takdir Allah berkata lain, mereka telah diakhiri hidupnya oleh Allah dengan sesuatu yang tragis.

          Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 telah menyisakan seorang suami yang seiya sekata dalam menata kehidupan dan merancang masa depan yang lebih baik. Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 telah meninggalkan anak-anak yang semestinya masih dalam dekapannya karena curahan kasih sayang mutlak dimiliki oleh sang ibu. Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 telah mengandaskan mimpi-mimpi indah mereka-mereka yang masih banyak berharap dari uluran tangannya. Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 telah banyak memberikan hikmah buat kita yang ditinggalkan bahwa sebuah perilaku tidak disiplin yang masih banyak dianut oleh anak bangsa ini akan berakibat fatal. Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 menjadi sebuah teguran buat pengelola bangsa ini agar segera membenahi pembangunan yang sampai saat ini masih banyak salah urus dan terbengkalai diakibatkan oleh korupsi. Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 menjadi alat koreksi perilaku pejabat-pejabat publik bangsa ini yang masih bergiat melakukan aktivitas yang merugikan anak bangsanya sendiri (lagi-lagi korupsi). Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 menjadi sebuah pembelajaran buat kita semua untuk kerap melakukan koreksi diri. Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 memunculkan sebuah pertanyaan yang muncul di benak kita: maukah bangsa ini berubah dari sekian banyak keburukan ke arah kebaikan?

           Orang yang masih punya hati nurani yang bersih pasti sangat berminat untuk melakukan perubahan dari keburukan ke kebaikan. Kalau ada yang masih ngotot tidak mau melakukan perubahan, orang semacam ini perlu dicurigai: jangan-jangan orang ini telah sakit jiwanya! Termasuk orang-orang yang sakit jiwanya adalah orang-orang yang semakin bertambah umur semakin giat mengumpulkan harta dari cara-cara yang ilegal (apalagi kalau bukan korupsi dan sejenisnya). Orang-orang seperti ini tidak pernah dan tidak mau belajar dari setiap musibah yang menimpanya. Orang-orang seperti inilah yang memiliki saham memupus harapan masa depan perempuan-perempuan perkasa abad 21. Orang-orang seperti inilah yang merusak perilaku anak bangsa. Orang-orang seperti inilah yang memiliki saham terbesar dalam memutuskan potongan hati yang tertinggal. Wallahu a`lam bissawab!

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...