Selasa, 24 Desember 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (22)

PELANGGARAN HAM DALAM SOROTAN SASTRAWAN

Subagio S. Waluyo

/1/

Untuk kesekian kalinya terjadi lagi pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) di negara kita. Entah berapa kali lagi peristiwa pelanggaran HAM akan terjadi lagi di negara yang kita cintai ini. Kita berharap, semua orang yang mempunyai hati nurani pun berharap, agar peristiwa yang mengenaskan, yang memakan korban manusia yang tidak sedikit, yang melecehkan hak-hak yang paling mendasar dalam hidup manusia dan kemanusiaan tidak terulang lagi. Meskipun demikian, tampaknya di masa reformasi ini, peristiwa yang pernah terjadi di masa-masa Orde Baru terulang kembali. Mengapa di masa-masa setiap orang sudah demikian bebas menyatakan euphoria-nya masih saja ada segelintir orang diselimuti tabir ketakutan dengan teror-teror ninja, bentrokan antaragama yang memakan korban manusia tak terhitung jumlahnya, tindakan sewenang-wenang aparat militer yang membunuh bangsanya sendiri, demonstrasi mahasiswa yang diterjang nyawanya oleh rentetan timah-timah panas, dan ditampilkannya di hadapan kita badut-badut politik produk Orde Baru yang yang mengulang kembali perilaku Orde dengan bermain dagelan di lembaga terhormat (KPU dan mungkin juga DPR/MPR) di negara ini? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut berpulang pada masih adanya pelecehan HAM di negara ini.

Minggu, 15 Desember 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (21)

Di Seputar Prosa  dan Puisi

Subagio S.Waluyo


          /a/
  Secara sederhana yang dimaksudkan dengan prosa dalam KBBI ialah  karangan bebas, maksudnya tidak terikat oleh kaidah yang terdapat pada puisi  (1999:790).    Tampaknya, definisi yang tercantum dalam  KBBI belum memuaskan kita dalam menentukan  jawaban yang tepat tentang prosa karena hanya  dibedakan dengan pernyataan  “… tidak terikat oleh kaidah yang terdapat pada  puisi.”  Untuk itu, kita lihat pendapat lain, yaitu pendapat Abdul Rozak Zaidan  yang mendefinisikan prosa sebagai jenis karya sastra yang dibedakan dari puisi  karena tidak terikat oleh kaidah puitika.  Selain itu, prosa lebih cenderung  memakai bahasa sehari-hari.  Prosa itu sendiri ada juga yang disebut prosa  puitis atau prosa lirik dan sajak prosa atau prosa berirama (1994:157).  Yang menjadi pertanyaan, prosa lirik dan prosa berirama tergolong puisi atau prosa?  Coba saja kita simak sebait prosa lirik berikut ini.    

Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Agama (19)

DIMANA-MANA SELALU DISIPLIN



Tabrakan kereta api (KA) dengan truk tanki BBM Pertamina yang terjadi 9 Desember 2013, di Bintaro, Jakarta yang memakan korban meninggal dan puluhan luka-luka kalau diteliti lebih jauh lebih disebabkan oleh ketidakadanya kedisiplinan. Dimulai dari supir tanki minyak BBM Pertamina yang tidak disiplin, yang dengan seenaknya menyeberangi pintu pelintasan KA sehingga terjadi tabrakan truk tanki minyak BBM Pertamina dengan lokomotif. Akhirnya, lokomotif dan gerbong KA terbakar dan memakan korban. Kalau saja supir tanki BBM Pertamina itu mau disiplin sangat dimungkinkan tidak terjadi musibah tersebut. Di negara ini sekian banyak musibah yang terjadi di jalan raya lebih disebabkan oleh tidak tegaknya disiplin. Masyarakat negara ini memang cenderung mengabaikan sebuah kata bernama `disiplin`.

Artikel Agama (18)

MENGELOLA WAKTU



“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (Surat Al-Asr : 1—3).

Banyak orang yang tahu, bahkan paham, isi yang terkandung dalam Surat Al-Asr yang tercantum di atas. Tetapi, mengapa masih banyak (sebagian besar) orang yang tergolong merugi? Artinya, orang-orang yang diberi umur panjang oleh Allah SWT tapi selama hidup di dunia tidak/kurang memberikan manfaat buat sesamanya. Timbul pertanyaan, bagaimana dengan orang-orang yang disebut sukarelawan yang telah mendarmabaktikan hampir seluruh hidupnya untuk menolong sesama manusia? Sepanjang dia beriman pada Allah tentu saja dia termasuk orang yang tidak merugi. Sebaliknya, kalau yang dia lakukan tidak dilandasi iman pada Allah SWT akan sia-sia saja apapun yang dia lakukan. Karena itu, sukarelawan sejati sebenarnya adalah orang-orang yang bekerja demi kemanusiaan tapi semua yang dia lakukan dilandasi iman pada Allah SWT.

Artikel Agama (17)

MENGKRANGKENG NAFSU



Nafsu dalam diri manusia seperti orang gila. Nafsu akan selalu memprovokasi manusia untuk melakukan  keburukan. Nafsu itu bagi seorang Muslim harus ditundukkan. Nafsu harus dikrangkeng dengan vonis selamanya. Jadi, tidak ada remisi atau keringanan hukuman buat yang namanya nafsu. Tetapi, nafsu suatu saat bisa menghirup udara bebas manakala manusia yang punya nafsu lalai. Bahkan, tidak mustahil nafsu saking kuatnya bisa berkuasa dan mengendalikan manusia. Untuk itu, ada manusia yang sepanjang hidupnya tidak berhasil mengkrangkeng nafsu.

All You Need is Love (09)


REGULASI DIRI (4)


Subagio S.Waluyo 
/1/
Abu Lubabah  bin Mundzir salah seorang sahabat Nabi suatu kali mendapat amanah dari Rasulullah untuk menemuni Bani Quraidzhah dari kalangan Yahudi. Amanah yang diberikan Rasulullah disebabkan oleh permintaan dari Bani Quraidzah agar mengutus Abu Lubabah. Meskipun Rasulullah mengutus Abu Lubabah, yang mengambil keputusan pada mereka tetap Sa`ad bin Muadz. Tetapi, entah kenapa ketika mereka bertanya tentang ketundukannya pada Sa`ad bin Muadz, Abu Lubabah memberikan jawaban dengan tangannya yang diletakkan ke lehernya yang artinya mereka akan disembelih. Atau dia menyuruh mereka agar tidak mau menerima putusan Sa`id bin Muadz. Menyadari akan kesalahan perbuatannya bahwa dia merasa berikhianat pada Allah dan Rasul-Nya, Abu Lubabah kemudian pergi ke mesjid dan mengikatkan dirinya di salah satu tiang masjid. Selama tujuh hari dia tidak makan dan minum sehingga tidak sadarkan diri. Kemudian Allah SWT mengampuni kesalahannya dengan memerintahkannya untuk melepaskan ikatannya. Sebagai orang yang merasa bersalah Abu Lubabah bersedia meninggalkan kampung halamannya. Bahkan, bukan hanya itu, dia juga berkeinginan untuk menyerahkan seluruh kekayaannya untuk kepentingan umat. Meskipun demikian, Rasulullah SAW hanya mengizinkan dia menyerahkan sepertiga dari kekayaannya.  

Artikel Agama (16)


BERUSAHA MANDIRI




Seorang yang mengaku Muslim harus punya penghasilan bukan pendapatan. Kalau penghasilan jelas-jelas dari hasil `memeras keringat` (bekerja atau berbisnis). Sementara itu, kalau pendapatan bukan dari hasil bekerja atau berbisnis, tetapi dari hasil minta-minta (walaupun biar dianggap keren pakai proposal). Memang, kalau ditanya orang pasti disebutkan berapa pendapatannya sebulan bukan penghasilannya. Sebaiknya, diusulkan saja mulai saat ini diganti dengan berapa besar penghasilannya perbulan. Meskipun demikian, yang perlu ditekankan di sini seorang Muslim yang baik adalah orang yang sudah memiliki kemandirian. Dia tidak tergantung pada orang lain.

Artikel Agama (15)


HIDUPNYA BERMANFAAT



Hidup itu memang singkat. Singkatnya hidup ini harus bisa dimanfaatkan oleh manusia. Ada manusia umurnya panjang, tapi sepanjang hidupnya manusia itu bikin susah makhluk Allah (bukan hanya manusia yang dibikin susah, binatang juga dibikin susah). Ini tergolong manusia celaka karena sepanjang hidupnya menyia-nyiakan kesempatan hidup. Ada manusia yang singkat hidupnya, tapi usia yang singkat itu bermanfaat sepanjang hidupnya. Nah, manusia jenis inilah yang memang dibutuhkan dunia. Anehnya, manusia jenis ini demikian langka. Dengan demikian, sebagian besar manusia walapun umurnya panjang, kehadirannya di dunia `g ngepek`, `g ngaruh` untuk kemaslahatan manusia.

Rabu, 04 Desember 2013

All You Need is Love (08)

BUDAYA COPAS


Subagio S. Waluyo


Hasil gambar untuk Gambar kartun anak yang menyontekWilhelm von Humboldt berpendapat bahwa universitas harus menjadi tempat penelitian ilmiah dan kecendekiaan yang melibatkan insan-insan muda dalam penelitian untuk dididik melalui berbagai penelitian (Edward Shills dalam Etika Akademik, 1993:57).  Pendapat Humboldt tersebut kemudian dikembangkan oleh berbagai universitas untuk menjadikan universitas (perguruan tinggi) bukan saja sebagai lembaga pengajaran melainkan juga sebagai lembaga penelitian.  Di Amerika Serikat gagasan beliau mendapat sambutan yang luar biasa. Tidaklah heran jika saat ini di negara tersebut unsur penelitian lebih diutamakan daripada pengajaran.

Artikel Agama (14)

AKHLAKNYA? “VERY GOOD!!!”

Rasulullah SAW kalau ditanya soal akhlak, Aisyah RA mengatakan bahwa akhlak beliau itu adalah Al-Qur`an. Tentang karakternya bisa dijumpai dalam Surat Al-Mukminun :1-11, yaitu:
1.      orang yang khusyuk dalam sholatnya;
2.      orang yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna;
3.      orang yang menunaikan zakat;
4.      orang yang menjaga kehormatannya;
5.      orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya;
6.      orang yang memelihara sholatnya.

Minggu, 01 Desember 2013

Artikel Agama (13)

“FISIKNYA O.K.”



Ada orang yang mengatakan (bahkan ini sudah menjadi jargon) mensano in corpore sano `dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat`. Ternyata, jargon itu terpatahkan ketika didapati banyak olahragawan yang frustrasi, yang menjadi pecandu obat bius, yang tidak sedikit mengakhiri hidupnya bunuh diri, dan banyak juga di antara mereka yang berperilaku aneh-aneh dengan gaya hidup yang konsumtif dan menyimpang.  Singkatnya, fisik mereka yang kuat ternyata tidak disertai dengan jiwa yang sehat. Kalau begitu, jargon itu harus diganti dengan dalam jiwa yang sehat terdapat (Insya Allah) fisik yang kuat. Bagaimana?

Artikel Agama (12)

“BERIBADAH DENGAN BAIK DAN BENAR”


Bukan hanya `berbahasa Indonesia dengan baik dan benar` dalam beribadah pada Allah SWT juga harus `beribadah dengan baik dan benar`. Pernyataan itu berasal dari dua frase, yaitu `beribadah dengan baik` dan `beribadah dengan benar`. `Beribadah dengan baik` berarti dalam beribadah harus disertai keikhlasan. Untuk itu, setiap insan harus menyadari bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya (Surat Adz-Zariyat: 56). Berkaitan dengan pernyataan `beribadah dengan baik` dalam hal ini ketika seseorang beribadah harus menyadari bahwa seluruh aspek kehidupannya diniatkan semata untuk ibadah pada Allah. Tidak boleh ada niatan-niatan yang lain. Dia harus ikhlas beribadah sehingga tidak boleh ada unsur-unsur riya` agar semua orang tahu bahwa dia ahli ibadah. Tidak boleh ada unsur takabur agar dirinya dipandang paling suci karena ahli ibadah. Singkatnya, tidak boleh tercampur dalam ibadah pada Allah SWT unsur-unsur penyakit hati yang cenderung pada kesyirikan. Dengan demikian orang yang `beribadah dengan baik` adalah orang yang tergolong `G Syirik`.

Sabtu, 30 November 2013

Artikel Agama (11)

HINDARILAH DEBAT


Kita sering di berbagai pertemuan yang diadakan oleh ormas-ormas atau parpol-parpol entah itu yang berupa musyawarah kerja, muktamar, kongres, dan kegiatan sejenisnya yang selalu berakhir dengan perseteruan. Kadang-kadang perseteruan itu berakhir dengan perpecahan di antara aktivis-aktivis ormas atau parpolnya. Bahkan, tidak mustahil perpecahan itu berakibat lebih jauh adanya konflik horisontal yang berkepanjangan. Perpecahan tersebut bukan saja terjadi pada ormas/parpol umum, tetapi juga tidak sedikit pada ormas-ormas/parpol-parpol Islam. Sejarah mencatat perpecahan di tubuh partai Islam di masa lalu lebih disebabkan oleh perbedaan pandangan yang tidak bersifat substansial. Boleh dikatakan, dalam bahasa agama, lebih mengarah pada furu`iyah ubudiyah (masalah-masalah cabang dalam ibadah). Bisa diambil contoh di sini seperti penggunaan usoli ketika niat ingin sholat atau qunut ketika sholat subuh. Boleh jadi di masa lalu seorang kiai dari kalangan moderat ketika tidak memakai sarung dan kopiah di saat rapat-rapat partai dan sebaliknya memakai dasi dan jas bisa jadi masalah. Bahkan, lebih ekstrim lagi ketika sholat tidak bersarung dan berkopiah bisa dimasalahkan. Di kalangan Islam moderat menilai orang-orang yang bersarung dan berkopiah sebagai kalangan Islam tradisional atau kampungan atau terbelakang sehingga sangat mungkin menyulut perdebatan yang berakhir dengan perpecahan.  

Kamis, 28 November 2013

Artikel Administrasi Publik (05)

“PERUBAHAN DAN PERBAIKAN”


I
Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, adakah perubahan dari diri kita? Jawabannya pasti ada. Tetapi, adakah perbaikan?  Perbaikan masih bersifat umum sehingga akan memunculkan pertanyaan: perbaikan apa? Perbaikan perilaku? Perbaikan kompetensi? Ataukah yang sering orang bicarakan, perbaikan nasib? Untuk masalah perbaikan memang agak sulit menjawabnya. Untuk perbaikan perilaku hanya orang yang sering mengintrospeksi diri yang tahu. Sedangkan perbaikan kompetensi hanya orang yang sedikit angkuh yang mengaku bahwa dirinya punya perbaikan kompetensi (walaupun terkadang dibutuhkan ketika seseorang ditanya kompetensinya). Tetapi, perbaikan nasib? Orang yang sebenarnya sudah baik nasibnya sering harus berbohong pada diri sendiri bahwa nasibnya belum ada perbaikan.  Boleh jadi orang tersebut tidak berbohong karena dia punya ukuran dan indikator tentang perbaikan nasib. Semua perbaikan sudah pasti ada ukurannya dan indikatornya. Karena itu, perilaku, kompetensi, dan/atau nasib masing-masing baru bisa dikatakan ada perbaikan jika bisa ditunjukkan ukuran dan indikatornya.

Senin, 25 November 2013

All You Need is Love (07)

REGULASI DIRI (3)

Tahapan kedua dalam regulasi diri adalah penilaian, yaitu membandingkan apa yang dilihat pada diri dan perilaku dengan standar ukuran tertentu. Untuk bisa membandingkan baik diri maupun perilaku apakah diri dan perilakunya dinilai baik atau tidak seseorang harus mengetahui terlebih dahulu standar ukurannya. Standar ukuran yang berkenaan dengan diri dan perilaku yang berlaku umum untuk semua umat manusia tentu saja harus berlandaskan pada nilai-nilai yang terdapat pada agama. Sebagai seorang Muslim tentu saja nilai-nilai agama yang berlaku adalah nilai-nilai Islam. Nilai-nilai Islam yang berkenaan dengan diri dan perilaku kita namakan sebagai akhlak Islami. Implementasi dari akhlak Islami bisa dilihat langsung pada diri dan perilaku Rasulullah SAW sebagai contoh teladan bagi umat Islam.

Kamis, 21 November 2013

All You Need is Love (06)

“IDE—AKTIVITAS—PRODUK—IDE”




Tidak ada orang yang memungkiri bahwa manusia hidup pasti punya masalah. Hanya ada orang yang bisa memecahkan masalah. Ada  juga yang masalahnya tidak terselesaikan yang akhirnya terjadi penumpukan masalah. Tapi, coba dipikir, mengapa timbul masalah? Masalah timbul karena antara ide dan fakta terjadi ketidaksinambungan yang jika dibuat dalam bentuk simbol seperti ini:≠ . Kalau simbolnya seperti ini :  ═ berarti ada kesinambungan antara ide dan fakta sehingga tidak timbul masalah. Tetapi, lain lagi kalau begini :  ≠  berarti tidak ada kesinambungan ide dengan fakta sehingga timbul masalah. Bagaimana caranya memecahkan masalah? Munculkan ide baru. Itu jawabannya. Apakah cukup sampai di situ? Harus diteruskan ide itu dengan aktivitas. Nanti dari aktivitas akan memperoleh produk. Produk yang diperoleh beberapa waktu kemudian akan menimbulkan masalah baru sehingga perlu adanya ide baru. Begitulah seterusnya wujud sebuah kebudayaan yang jika disingkat menjadi judul tulisan ini “Ide—Aktivitas—Produk—Ide” . Agar lebih mudah lagi disingkat saja lagi menjadi “IAPI”.

Senin, 18 November 2013

All You Need Is Love (05)

“M E O K”



Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat di kaca belakang angkot K-02 (Pondok Gede—Terminal Bekasi) ada tulisan “MEOK” yang buat saya tulisan tersebut tidak asing lagi karena tulisan yang sama di tahun-tahun 70-an pernah saya jumpai di Jembatan Merah,Tebet, Jakarta Selatan. Bagi saya yang waktu itu masih bersekolah di SLA ada sesuatu yang asing dengan tulisan itu. Saya sempat bertanya pada beberapa teman atau orang-orang yang lebih tua. Ternyata mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan “MEOK”. Saya juga sempat buka di Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh P.W.J. Poerwadarminta, ternyata jawabannya nihil alias tidak ada. Tulisan itu baru saya dapati ketika suatu saat di salah satu majalah terbitan Pusat Bahasa memuat tulisan tentang grafiti, yaitu corat-coret remaja di tembok atau di tempat-tempat terbuka umum yang terkadang disertai dengan gambar-gambar atau simbol-simbol yang menunjukkan jati diri mereka, ternyata kata tersebut merupakan sebuah akronim. Kata “MEOK” itu sendiri jika ditulis lengkap akan berbunyi `Makan Enak Ogah Kerja`.

Kamis, 14 November 2013

Artikel Administrasi Publik (04)



MENGANATOMI TUBUH LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT
(SEBUAH PEMIKIRAN UNTUK MENGENAL LEBIH JAUH APA, SIAPA, MENGAPA, BILAMANA, DAN BAGAIMANA AKTIVITASNYA SAAT INI)

Pendahuluan

Lembaga Swadaya Masyarakat (untuk selanjutnya kita singkat saja dengan LSM) sebagai sebuah lembaga yang kehadirannya banyak membantu program pemerintah di bidang pemberdayaan swadaya masyarakat beberapa tahun lalu cukup ramai dibicarakan.  Pada waktu itu LSM ramai dibicarakan mengingat lembaga ini di masa-masa akhir Pemerintahan Orde Baru banyak membuat PR pemerintah pada waktu itu.  Mengapa LSM yang kehadirannya pertama kali banyak membantu pemerintah bisa berbalik menjadi PR bagi pemerintah?  Salah satu dugaan yang muncul pada waktu itu karena LSM telah memasuki wilayah politik yang justeru Pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat kritis terhadap segala hal yang berbau politik (Republika, 19 Juni 1995).  Tetapi, itu baru dugaan.  Tentang kebenarannya perlu diteliti lebih jauh.

Selasa, 12 November 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (20)



UJIAN DAN PENGUJIAN

 Subagio S.Waluyo

Dalam pemakaian imbuhan bahasa Indonesia kerap kali ditemukan dua bentuk imbuhan yang fungsinya sama namun maknanya berbeda. Karena pemakai bahasa umumnya tidak memahami baik makna maupun fungsinya. Pemakai bahasa sering kali dengan tidak disadari menggunakan sebuah imbuhan dan tidak memanfaatkan imbuhan lainnya meskipun maknanya jelas berbeda. Contoh konkrit yang bisa diambil di sini adalah kata ujian yang lebih sering digunakan daripada kata pengujian. Kedua kata tersebut apabila dianalisis proses pembentukannya dan maknanya jelas berbeda.

Kebahasaan dan Kesastraan (19)



UNSUR PENGABDIAN DALAM KARYA SASTRA


            Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.  Tetapi, manusia juga bisa menjadi makhluk Tuhan yang paling buruk kedudukannya (bisa lebih buruk daripada binatang ternak).  Agar manusia bisa mempertahankan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya, ia harus menyembah (bisa juga diartikan sebagai mengabdi) yang menciptakannya, yaitu Tuhan.  Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai makhluk pengabdi (maksudnya yang mengabdi kepada Tuhan).  Sampai sejauhmana kuatnya pengabdian manusia kepada Sang Khalik, coba kita amati puisi di bawah ini.   

Artikel Agama (10)

“G SYIRIK”

Gambar DukunSubagio S. Waluyo
Ada orang tergolong “G O`ON” tapi tidak bebas dari syirik. Kenapa ya? Seharusnya `kan orang “G O`ON” “G SYIRIK” dong? Eit, nanti dulu. Belum tentu orang “G O`ON” terbebas dari “G SYIRIK”.  Buktinya, anggota DPR yang punya syahwat politik, yang begitu bersemangat menggolkan 65 RUU Pemekaran Daerah apakah tergolong o`on? Mereka termasuk golongan “G O`ON” tetapi tidak terbebas dari “G SYIRIK” `kan? Lha, kok bisa begitu? Ya, karena mereka telah menjadikan syahwat politiknya sebagai Tuhan-nya. Orang yang seperti itu jelas-jelas telah berbuat syirik karena mereka telah menjadikan Allah SWT sebagai tandingannya (Surat Al-Baqarah :165). Mereka telah menjadikan jabatan, kedudukan, pangkat sebagai Tuhannya.   Boleh juga, demi 3 t (tahta, harta, dan wanita) mereka melakukan cara-cara ilegal sehingga merusak aqidahnya. Bukankah Allah SWT telah mewanti-wanti agar tidak menjadi menjadikan Allah sebagai tandingan-Nya (Surat Al-Baqoroh, Surat Al-Baqarah : 165)? Masih anggota DPR tapi yang ini lain lagi. Ada beberapa anggota DPR menjelang Pemilu 2014 kerapkali ke klenik-klenik. Mereka mendatangi `Mbah Dukun` yang dianggap kramat dan sakti mandraguna. Mereka siapkan sajen-sajen pesanan `Mbah Dukun`. Mereka minta do`a, jampi-jampi, dan jimat-jimat agar bisa terpilih lagi menjadi anggota DPR. Itu perbuatan syirik `kan? Padahal Allah SWT telah mengingatkan agar kita tidak berbuat syirik (mempersekutukan-Nya) sebagaimana firman-Nya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. ….” (An-Nisa, 4:36). Selain itu, masih di surat yang sama ayat 48 Allah SWT tidak akan mengampuni dosa orang-orang yang mempersekutukan-Nya (syirik). Mempersekutukan Allah tergolong perbuatan dosa besar. Perbuatan syirik membuat orang yang melakukannya terhina dan tercela (Surat Al-Isra, 17: 22).

Jumat, 08 November 2013

All You Need Is Love (04)

Mengapresiasi Kemanusiaan dan Kebudayaan

Tulisan ini lebih cenderung untuk menjawab hal-hal di seputar apa, mengapa, dan bagaimana dalam mengapresiasi kemanusiaan dan kebudayaan. Pola pengembangan tulisan dengan mengajukan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana bukan hal yang baru. Di dunia jurnalistik sudah merupakan keharusan apabila seorang wartawan ingin meliput sebuah berita, dia akan berangkat dari 5 W+1 H. Dalam tulisan ini hanya 2 W+1 H, What, Why. dan How. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu kita akan memahami sepenuhnya yang ingin dicapai dari tulisan ini.

Rabu, 06 November 2013

Artikel Agama (9)

MEMBACA DAN MENULIS SEBAGAI SARANA

MENINGKATKAN KUALITAS UMAT

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia.  Yang telah mengajar dengan pena.  Dia telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq (96): 1—5)

“Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Al-Qolam (68): 1)

Artikel Agama (8)

“G  O`ON”


Melihat judul di atas, orang yang terbiasa sms-an jelas tidak ada yang aneh. “G O`ON” jika ditulis lengkap bisa menjadi “Ngga Blo`on” atau “Tidak Bodoh”. Cuma biar terasa lebih akrab kita gunakan saja “G O`ON”. “G O`ON” jelas ditujukan buat kita semua. Kenapa? Ya, supaya kita bisa menjadi anak bangsa atau umat manusia yang tidak mudah dibodohi. Supaya kita menjadi orang-orang yang cerdas. Supaya kita tidak menjadi orang-orang yang selalu ikut-ikutan tanpa ilmu karena sebagaimana telah diingatkan Allah SWT (Surat Al-Isra`:36)

Jumat, 01 November 2013

Artikel Administrasi Publik (03)


PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP ADMINISTRASI
BERDASARKAN KONSEP COMMUNITY DEVELOPMENT
(STUDI KASUS IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN
BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA BEKASI)

1.0   Latar Belakang Masalah

Ada orang yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia umumnya masih mengkhawatirkan.  Hal ini bisa dilihat berita Kompas hari ini yang menyebutkan bahwa angka buta huruf sebesar 8.7% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yang tergolong orang-orang dewasa (dalam hal ini anak-anak balita tidak masuk hitungan).  Berapa pula jumlah anak-anak kita yang Droup Out (DO)? Kemungkinan besar sejak krisis ekonomi dan moneter (pertengahan Juli 1997) jumlahnya semakin membesar.  Untuk Kota Bekasi saja jumlah siswa yang DO sebanyak 341.857 siswa (?).  Sedangkan yang buta huruf tergolong sedikit, yaitu sebesar 1,3% karena menurut data dari BPS yang melek huruf (MH) sebanyak 98,7%.  Sebuah angka yang fantastis karena jauh dari angka nasional.

Kamis, 31 Oktober 2013

All You Need Is Love (03)

Makhluk SosBud 

Judul tulisan ini semula berbunyi "Manusia sebagai Makhluk Sosial dan Budaya". Karena yang tergolong makhluk sosial dan budaya adalah manusia (makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan:binatang, tumbuhan, dan ,apalagi, setan tidak mungkin masuk ke dalam ke dua golongan tersebut), kata `manusia` pada judul itu dihilangkan saja. Supaya lebih ringkas, tidak bertele-tele, disingkat saja menjadi "Makhluk Sosial dan Budaya", yang kemudian disingkat lagi biar lebih benar-benar singkat menjadi "Makhluk SosBud". Tapi, jangan karena muncul makhluk sosbud ada orang yang iseng masukkan saja makhluk paspal (sekarang IPA salah satu jurusan di SMA). Makhluk paspal atau makhluk IPA itu tidak ada. Jadi, kita tidak perlu lagi beranalogi-analogian (nanti jadi tambah panjang urusannya). Meskipun disebut SosBud dalam tulisan ini tetap kita bagi dua bagian, yaitu bagian pertama dibahas terlebih dahulu makhluk sosial. Setelah itu, baru kita bahas makhluk budaya. 

Selasa, 29 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (18)

UNSUR KEINDAHAN DALAM CERPEN

Salah satu bentuk karya sastra yang diminati pembaca karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya dan (mungkin saja) mudah dicerna adalah cerita pendek (cerpen). Sebagai salah satu karya sastra cerpen meskipun mudah dicerna, dimungkinkan adanya unsur-unsur keindahan. Salah satu contoh cerpen yang juga memuat nilai-nilai keindahan adalah potongan cerpen (yang sebenarnya cukup panjang untuk sebuah cerpen) yang ditulis oleh Kurnia JR di bawah ini.

Kamis, 24 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (17)

KARYA SASTRA ANTARA PEMENUHAN
ESTETIKA, IMAJINASI, DAN PESAN MORAL



1.  Karya Sastra dan Bukan Karya sastra

Adakah yang membedakan sebuah karya sastra dengan bukan karya sastra (orang menyebutnya sebagai karya populer, picisan, murahan, atau kitsch)? Sekilas tampaknya susah membedakannya, bukan?  Apakah kita wajib percaya pada seorang sastrawan bahwa sebuah karya fiksi , misalnya, yang sedang kita baca adalah sebuah karya sastra karena karya fiksi tersebut ditulis seorang sastrawan terkenal?  Apakah seorang sastrawan sudah dipastikan akan kerap kali menghasilkan sebuah karya sastra?  Atau bukan malah sebaliknya, mungkinkah suatu saat seorang sastrawan menghasilkan karya fiksi murahan, picisan, populer,  atau kitsch? Apakah benar stigma yang melekat pada seorang penulis murahan bahwa ia tidak akan pernah menghasilkan sebuah karya sastra?  Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul di benak kita karena kita sendiri pun belum memahami dan membedakan antara karya sastra dan bukan karya sastra.

Rabu, 23 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (16)

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE 
DALAM PENGAKUAN PARIYEM 


1. Pendahuluan

Banyak cara yang dapat ditempuh untuk meninjau sebuah karya sastra.  Ada yang meninjaunya dari segi pendidikan, agama, sosiologi, moral, psikologi, sastra, dan ada pula yang meninjaunya dari segi bahasa (linguistik) dengan segala aspeknya.  Sepanjang pengetahuan penulis, sampai dengan tahun `90-an masih jarang orang yang meninjau sebuah karya sastra dari segi sosiolinguistik.  
Pada kesempatan kali ini, penulis mencoba meninjau sebuah karya sastra dari segi sosiolinguistik.  Karya sastra yang dijadikan objek tinjauan penulis berupa prosa liris yang ditulis oleh Linus Suryadi Agustinus yang berjudul Pengakuan Pariyem (PP).  Prosa liris ini sebenarnya pernah ditinjau dari segi sosiolinguistik oleh Stephanus Djawanai pada acara Sarasehan Sanggar Bambu, tanggal 5 Maret 1982, di Yogyakarta.  Stephanus Djawanai pada sarasehan tersebut mencoba membahasnya dari tiga aspek, yaitu kosa kata, ragam sapaan, dan ciri formal tata bahasa.  Sedangkan penulis meskipun menijaunya dari segi yang sama,  penulis hanya membicarakannya dari aspek variasi bahasa, yaitu alih kode (AK) dan campur kode (CK).

Kebahasaan dan Kesastraan (15)

HUMANIORA, IPTEK, DAN SASTRA

1. Sedikit tentang Humaniora

           Setiap kita pasti tahu istilah humaniora karena istilah tersebut  cukup akrab di telinga kita. Mendengar istilah humaniora terbayanglah di benak kita, istilah tersebut sangat dekat hubungannya dengan kata humanus.  Memang benar istilah humaniora dekat dengan kata humanus karena istilah tersebut mempunyai akar kata yang sama, yaitu homo yang artinya `manusia`.  Dari kata homo kita kemudian memperoleh daftar panjang, di antaranya kata humanus  `bersifat manusiawi`, `sesuai dengan kodrat manusia`,  humanisme `paham yang berlandaskan pada kemanusiaan` (Mangunhardjana, 1997:93), humanistarisme `gerakan sosial yang berlandaskan pada paham humanisme` (Mangunhardjana, 1997:96), dan humaniora `seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya` (Liek Wilardjo,  1990: 259). Boleh juga humaniora didefinisikan sebagai ilmu-Ilmu pengetahuan (seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah, filologi, ilmu bahasa, ilmu kesusastraan, dan ilmu kesenian) yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih berbudaya (Zainal Arifin, 1987: 60).         

Kebahasaan dan Kesastraan (14)

MEMPERKOSA DAN PERKOSAAN
VERSUS
MEMERKOSA DAN PEMERKOSAAN

Kita sering menjumpai kata memperkosa dan perkosaan. Tetapi, kita mungkin jarang menjumpai kata memerkosa dan pemerkosaan. Contoh kalimat di bawah ini turut menerangjelaskan distribusi pemakaian kedua kata yang sebutkan pertama tadi.
1. Namun, membuatnya singkat tidak berarti bahwa kita harus memperkosa aturan kaidah bahasa secara sewenang-wenang. (J.S. Badudu, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, 1983:6)  
2.      Pada minggu malam itu terjadi perkosaan atas diri JU (18 th.) oleh beberapa pemuda.

Artikel Agama (7)

REGULASI DIRI (2)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.”
(Surat Al-Hasyr, 59 : 18-19)
Ayat Qur`an di atas mengajak kita untuk melakukan pengamatan diri dengan cara melihat diri sendiri beserta perilakunya. Dengan kata lain, kita melakukan introspeksi diri. Berkaitan dengan instrospeksi diri, sesuai dengan gambar yang disertakan dalam tulisan ini kalau kita sebagai hamba Allah terkena azab tidak ada jalan lain selain bertaubat dan beristigfar. Sementara, kalau mendapat ujian (karena orang beriman tidak luput dari ujian yang Allah berikan), dia harus bersabar dan bersyukur. Bagaimana cara mengimplementasikannya? Berikut ini berdasarkan gambar tersebut dikemukan langkah-langkahnya.

**** 

Artikel Agama (6)

EMPAT WASIAT RASULULLAH SAW TENTANG
PENANAMAN NILAI-NILAI AQIDAH 
BAGI ANAK-ANAK 

Pembukaan 

Nabi Allah Ibrahim AS dalam menyampaikan sebuah do`a yang termaktub do`a itu dalam Surat Al-Furqon: 74. Do`a tersebut demikian sederhana karena semua orang beriman dengan mudah bisa melafalkannya. Bunyinya begini "... "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri- isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa."

Atikel Agama (5)

A R O G A N

Arogan dalam istilah populer di kalangan umat Islam dikenal dengan istilah takabur. Takabur sendiri semakna dengan ta'azhum, yaitu menampak-nampakkan keagungan dan kebesarannya, merasa agung dan besar atau menampakkan kekagumannya terhadap dirinya dalam bentuk merendahkan dan meremehkan pribadi orang lain serta tidak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain. Tentang ancaman bagi orang yang arogan Allah berfirman dalam Surat Al-A`raf:146:
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar ...."

Senin, 21 Oktober 2013

Artikel Administrasi Publik (02)

LANGKAH-LANGKAH EVALUASI POTENSI DAERAH

Subagio S. Waluyo



Indonesia adalah negara terkaya di dunia. Mungkin banyak orang yang tidak percaya kalau Indonesia negara terkaya di dunia karena negara ini punya hutang di mana-mana, negar paling korup, negara yang belum bebas dari kemiskinan, dan kondisi moral bangsanya rusak (bangsa  yang karakternya tidak jelas), Tapi, di luar itu semua, coba kita lihat daftar kekayaan  yang perlu kita ketahui yang memang  menjadi milik kekayaan negara yang kita cintai. Kekayaan negara ini yang perlu kita ketahui di antaranya adalah pertama, negara ini punya pertambangan emas terbesar dengan kualitas yang terbaik di dunia, yaitu Tambang Emas PT Freeport yang telah menghasilkan 724,7 JUTA ton emas dan 7,3 JUTA ton tembaga. Jika dirupiahkan sebesar Rp.217.410.000.000.000. 000.000,00. Sayangnya negara ini hanya memperoleh 1%. Selebihnya, 99%, diambil yang memiliki teknologi, yaitu Amerika Serikat (AS). Kalau nanti emas dan tembaga menipis masih ada uranium yang jauh lebih kaya daripada perolehan emas dan tembaga.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...