Sabtu, 20 Desember 2025

Bahasa dan Sastra (239)

 



Kado Akhir Tahun

 

Cerpen

 

Subagio S.Waluyo

“Sialan, Si Yunus. Nih!”, maki Bima Arwana setengah berteriak.

“Kenapa Si Yunus, Pa?, tanya istrinya heran.

“Masa` dia kirim paket isinya kain kafan?”, kata Bima Arwana sang suami masih setengah berteriak.

“Keren itu, Pa! Benar-benar keren tuh!”, kata sang istri sambil senyum-senyum kecil.

“Kok, keren? Orang ngirim paket isinya kain kafan kok dibilang keren? Gimana nih, Mama?”, tanya sang suami melongo.

“Ya, keren Pa. Sebab itu benar-benar kiriman paket yang unik”, jelas sang istri.

“Unik?”, tanya sang suami seperti tidak mengerti jawaban sang istri.

“Ya, unik Pa. Karena kita diingatkan sama Si Yunus kalo kita semua nanti akan mati”, jelas sang istri seperti memberi nasihat buat suaminya.

“Kok, ngasi paket supaya kita diingatkan dengan kematian?”, Bima Arwana masih belum mengerti jawaban istrinya.

“Papa maunya orang ngirim paket isinya makanan atau kendaraan mewah atau kunci rumah mewah di Citra Grand?”, tanya sang istri.

“Kalo soal makanan, yang kita makan sudah lebih dari cukup. Kalo soal mobil mewah, di rumah ini sudah banyak. Rumah ini sudah seperti show room mobil-mobil mewah. Saking banyaknya mobil kadang Papa bingung mau pakai mobil yang mana setiap keluar rumah. Kalo soal rumah mewah, selain rumah kita yang kita tempatin sekarang ini, kita masih punya rumah yang tergolong mewah di tiga tempat yang kata Papa nanti buat anak-anak kita”, cerocos sang istri.

“Ya, tapi yang wajarlah. Jangan kirim kain kafan. Ini benar-benar keterlaluan Si Yunus tuh!”, jawab sang suami masih sedikit emosional.

“Emangnya gak wajar kalo orang kirim kain kafan?”, tanya istrinya.

“Ya, gak wajarlah kalo orang kirim paket isinya kain kafan!”, tangkis sang suami.

“Papa merasa terhina kalo Si Yunus itu kirim kain kafan? Kalo emang iya, Papa laporin aja ke polisi biar nanti diproses sama polisi. Bisa juga Papa bikin pengaduan ke Komnas HAM karena sudah melanggar HAM, gimana menurut Papa?”, tantang sang istri.

“Ah, ngapain harus lapor ke polisi atau ke Komnas HAM. Kayak gak ada kerjaan aja!”, jawab sang suami masih sedikit emosi.

“Terus Papa mau labrak tuh Si Yunus?”, tantang sang istri.

“Kalo menurut mama, Papa sampein saja ke Si Yunus ucapan terima kasih karena sudah diingatkan sama kematian. Gitu aja Pa. Santai aja lagi. Gak usah galau Pa. Ingat, kita nih dah punya anak cucu. Kita dah gak muda lagi. Kita semuanya hidup nunggu dipanggil Allah. Emang Papa merasa mau hidup seribu tahun lagi?”, pertanyaan sang istri masih menantang keberanian sang suami untuk meresponnya.

“Nanti kita mati gak bawa apa-apa. Kita cuma bawa amal baik. Benar juga Si Yunus kirim paket isinya kain kafan karena nanti pas kita dikubur yang melekat di tubuh kita cuma kain kafan. Semua mobil Papa yang mewah-mewah itu sama rumah-rumah yang mewah itu termasuk uang Papa yang disimpan di banyak bank gak dibawa mati”, kata sang istri menceramahi   suami.

          Bima Arwana tertunduk mendengar ceramah istrinya. Dia bergeming. Dia tersudut persis seperti tikus yang tidak bergerak di hadapan kucing yang mau menerkamnya. Dia pasrah. Dia tidak punya perbendaharaan kata untuk menangkis ceramah istrinya. Jauh di lubuk hatinya dia membenarkan kata-kata istrinya yang meluncur begitu lancar dari bibirnya. Belum lagi Bima Arwana bereaksi, sang istri kembali bertanya.

“Gimana Pa, dengan kiriman paket Si Yunus? Papa mau buang? Daripada dibuang buat Mama aja biar Mama simpan. Nanti siapa aja yang duluan mati. Nanti kalo Mama duluan yang mati, kain kafan ini Mama pakai. Kalo Papa yang mati duluan, ya Papa yang pakai. Papa `kan mau pakai kafan ini kalo dah mati?”, tanya sang istri mengejek.

“Kalo papa mati, mana mungkin Papa nolak pakai kain kafan pemberian Si Yunus. Papa `kan sudah gak bisa apa-apa lagi waktu itu. Papa dah pasrah aja. Ah, Mama ini pintar benar ngejek”, kata sang suami agak kesal karena diejek istrinya.

“Ya, udah Mama simpan aja”, jawab Bima Arwana menyerah.

“Oke, Mama simpan dulu, ya?”, tanya sang istri.

“Ya!”

***

   Bima Arwana dan Muhammad Yunus adalah dua orang sahabat yang hubungannya sudah demikian melekat. Ketika kecil dulu, mereka berdua hidup bertetangga. Tinggal dalam satu komplek perumahan AURI di Halim Perdana Kusuma. Mereka juga sama-sama satu sekolah dari SD sampai SMA. Setelah lulus SMA, Bima Arwana kuliah di Universitas Trisakti. Muhammad Yunus kuliah di UI. Selesai dari perguruan tinggi, Bima Arwana mencoba menapaki hidupnya di bidang politik sehingga sejak masuk masa reformasi sampai saat ini (sudah lebih dari 25 tahun), dia menjadi anggota dewan. Sementara itu, Muhammad Yunus lebih cenderung ke dunia usaha. Sebagai anggota dewan Bima Arwana hidup penuh dengan kemewahan. Sampai saat ini di luar rumah dinasnya yang sudah sekian lama tidak ditempati, dia juga masih punya tiga rumah mewah. Selain rumah, Bima Arwana juga punya sepuluh mobil mewah. Uang tabungannya tersimpan di banyak bank. Tampaknya, Bima Arwana sudah benar-benar mapan hidupnya.

   Muhammad Yunus termasuk pengusaha yang berhasil. Sebagai seorang pengusaha, dalam membangun usahanya dia sudah biasa jatuh bangun. Meskipun sudah biasa jatuh bangun, dia tidak pernah putus-putusnya untuk bersedekah. Buatnya sedekah lebih merupakan kewajiban yang jika suatu saat ditinggalkan, ada perasaan bersalah. Sebaliknya, dia merasa tenang hidupnya setiap kali bersedekah meskipun yang dikeluarkan dari koceknya terkadang terhitung kecil. Dia merasa yakin ketenteraman hidupnya dalam berumah tangga sangat ditentukan oleh intensnya bersedekah. Dia juga merasa yakin anak-anaknya yang kata orang termasuk anak-anak yang penurut, anak-anak yang saleh-salehah, dan kesuksesan anak-anaknya dalam menapaki dunia pendidikan lebih disebabkan oleh salah satunya adalah kebiasaannya bersedekah. Di luar itu semua, Muhammad Yunus dikenal sebagai pengurus masjid yang sukses dalam memakmurkan masjidnya. Keaktifannya di masjid sudah dimulai sejak di bangku SMA Kelas 1. Waktu itu Muhammad Yunus muda dikenal sebagai aktivis remaja masjid. Begitu masuk perguruan tinggi keaktifannya  di masjid masih ditindaklanjuti. Ketika hijrah dari Komplek Perumahan Halim Perdana Kusuma, di tempat barunya di bilangan Cipayung, Muhammad Yunus juga aktif di masjid komplek perumahannya sampai sekarang ini. Masjid yang sekarang dikelola bersama pengurus masjid lainnya membuahkan hasil yang luar biasa. Salah satu indikator keberhasilannya bisa dilihat dari banyaknya jamaah salat magrib yang sama banyaknya dengan salat subuh. Tidaklah aneh kalau dia bersama pengurus masjid lainnya demikian mudah memperoleh donasi, baik dari jamaah masjid maupun luar masjid. Setiap program, baik program masjid maupun untuk kesejahteraan umat yang digulirkannya selalu mendapat apresiasi dari jamaah masjid dan warga di komplek perumahannya. Bahkan, ada saja jamaah yang tidak dikenal dari tempat yang jauh mendonasikan uangnya di masjid yang dikelolanya.   

      Bima Arwana tidak pernah aktif di masjid. Keaktifannya lebih banyak di karang taruna dan pencinta alam. Pengalamannya dalam mendaki gunung sudah tidak bisa dihitung dengan jari. Selain aktif sebagai pendaki gunung, dia juga aktif di kemahasiswaan. Di masa-masa jauh sebelum reformasi, Bima Arwana sempat menduduki Ketua Senat Mahasiswa tingkat universitas. Selesai kuliah, Bima sempat aktif di sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Ketika bergolak demontrasi mahasiswa dan masyarakat di negara ini, dia sempat ikut turun ke jalan. Bahkan, Bima Arwana dikenal sebagai salah satu aktivis yang berhasil menggerakkan ribuan mahasiswa dan masyarakat untuk turun ke jalan. Berkat keaktifannya dalam demonstrasi yang bisa menjatuhkan rezim Orde Baru, Bima Arwana direkrut oleh salah satu partai besar di masa itu untuk menjadi anggota dewan. Tidak tanggung-tanggung dia langsung masuk ke parlemen di tingkat pusat atau anggota DPR Pusat. Sebagaimana anggota dewan lainnya, begitu masuk ke dalam lingkar kekuasaan idealisme yang dianutnya mulai luntur. Dia mulai larut dalam kehidupan politik yang menguntungkan, yang membuatnya kehidupannya bergelimang harta. Dibandingkan dengan Muhammad Yunus,teman akrabnya, seorang pengusaha yang hidupnya sederhana kekayaannya tidak sebanding. Muhammad Yunus hanya memiliki dua mobil lama dengan satu rumah yang selama ini ditempatinya. Tetapi, Muhammad Yunus patut bersyukur karena bahtera rumah tangganya tidak mengalami goncangan. Lain halnya dengan Bima Arwana yang bahtera rumah tangganya sempat goyah. Baru belakangan ini saja bahtera rumah tangganya mulai membaik setelah sang istri banyak melakukan introspeksi diri. Sang istri diikuti anak-anaknya mulai akrab dengan agama. Mereka sering mengikuti kajian-kajian agama. Makanya ketika Bima Arwana dikirimi kain kafan, bagi istrinya itu merupakan cara yang efektif untuk menyadarkan sang suami agar tidak larut dengan kehidupan dunia.

***

    Larut malam Bima baru pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, dia langsung tertidur. Dia tidak sempat untuk menyapa istrinya yang sudah lebih dulu tertidur di sampingnya. Begitupun juga dengan anak-anaknya yang sudah sama pulas dengan tidur dan mimpinya. Belakangan ini kesibukannya dengan rapat-rapat di DPR yang banyak menguras waktu membuat dia pulang larut malam sehingga dia tidak sempat disapa atau menyapa istri dan anak-anaknya. Dia sudah merasakan kehidupannya sudah demikian hampa karena jarang ada tegur sapa antara dia dan istrinya. Demikian juga dengan anak-anaknya. Baru tadi pagi saja tumben-tumbenan sang istri mau menimpalinya ketika dia menerima kiriman paket berupa kain kafan dari temannya. Dalam tidurnya dia bermimpi, teman akrabnya, Muhammad Yunus menelponnya.

“Assaamualaikum”, sapa Muhammad Yunus.

“Waalaikum salam.”

“Gimana kabarnya nih, Bapak anggota dewan terhormat?”, tanya temannya.

“Baik, alhamdulillah”, jawabnya kalem.

“Ente sudah terima kiriman paket?”, tanya temannya.

“Sudah. Cuma yang gua gak habis pikir, kenapa lu kirim gua kain kafan?”, tanyanya heran.     

“Lha, gua juga bingung mau kirim apa ke elu? Mobil? Rumah? Duit? Ato makanan? Semuanya dah banyak lu punya!”, jawab temannya seperti mengejek.

“Ya, tapi jangan kain kafan lu kirim. Itu bikin gua inget mati”, ketus Bima Arwana.

“Kalo berupa buku lu mau terima?”, tanya temannya.

“Buku apa yang mau lu kirim?”, tanyanya.

“Buku yang isinya cerita siksa kubur sama siksa di neraka. Gimana?”, tanya temannya setengah menantang.

“Masalah kematian, masalah siksa kubur, masalah siksa neraka, jangan dulu dah! Jangan dulu! Jangan dulu!”, teriak Bima Arwana sekeras-kerasnya. Teriakan Bima Arwana membuat istrinya yang tidur di sebelahnya terbangun.

“Pa, Pa, ada apa Pa? Kok, Papa teriak-teriak `jangan dulu-jangan dulu`?, tanya istrinya sambil membangunkannya. Bima Arwana terbangun seraya mengucek matanya.

“Tadi papa mimpi ditelpon Si Yunus. Papa sempat tanya soal kiriman paket berupa kain kafan. Terus dia sampein kalo kirim buku yang isinya soal siksa kubur sama siksa neraka, gimana? Papa jawab sambil teriak `jangan dulu-jangan dulu`”, Bima Arwana berusaha menjelaskan isi mimpinya barusan. Istrinya yang mendengarnya tertawa cekikikan seraya mengambilkan air putih buat suaminya.

“Makanya Pa, kalo mau tidur baca doa dulu. Tapi, tadi itu mimpi bagus buat Papa supaya Papa sadar sama umur. Papa dah gak perlu lagi mengejar dunia. Papa dah musti ninggalin tuh kehidupan politik yang bikin Papa lupa dunia-akhirat. Orang seumur kita dah waktunya dekat sama Allah. Sekarang kita nikmatin aja hidup. Gak usah ngoyo-lah ngejar dunia. Kita kejar akhirat supaya kita selamat dari siksa kubur sama siksa akhirat. Papa mau ninggalin dunia politik? Papa mau jauh dari keluarga sampe gak saling sapa sama anak-anak? Gak mau `kan? Kalo bisa Papa besok mengajukan pengunduran diri aja sebagai anggota dewan. Mobil-mobil mewah yang Papa punya dijual aja. Rumah-rumah mewah juga sama dijual aja. Kita cukup tinggal di sini. Kalo bisa semua yang kita jual, kita hibahkan buat bantu orang-orang duafa. Ingat Pa, saudara-saudara kita di Sumatera yang jadi korban banjir. Mereka butuh bantuan. Papa ikut aktif aja sama Si Yunus di masjid. Kita masih punya simpanan di banyak Bank. Insya Allah kita masih bisa hidup sampai Allah nanti menjemput kita. Gimana sama usul Mama, Pa?”, kata sang istri sedikit menceramahi Bima Arwana. Sejenak ada hening karena sang suami tidak segera menjawab. Namun, beberapa saat kemudian secara perlahan-lahan Bima Arwana menjawabnya dengan mantap.

“Papa bersedia mundur sebagai anggota dewan dan pengurus sekaligus anggota partai. Papa sudah sampai titik jenuh hidup di tengah lingkaran kekuasaan. Papa mau jadi rakyat biasa. Papa mau hidup merakyat. Papa mau dekat sama anak-anak dan sama Allah. Besok pagi Papa segera buat surat pengunduran dirinya”,  janjinya.

“Alhamdulillah. Kalo Papa mau mengajukan pengunduran diri sebagai anggota dewan sekaligus pengurus partai dan anggota partai. Mudah-mudahan permintaan Papa tadi di-ijabah Allah”, kata sang istri terharu.

“Amin”, Bima Arwana mengaminkannya.

“Sekarang kita tidur lagi,Pa. Jangan lupa berdoa sebelum tidur!”, pesan sang istri. Meskipun sempat terbangun dan agak sulit untuk meneruskan tidurnya, akhirnya Bima Arwana tertidur juga.

 

Kota Bekasi, 21 Desember 2025.

   

 

         

 


Rabu, 10 Desember 2025

Bahasa dan Sastra (238)

 



Mama sudah Muak dengan Cara Hidup Papa

 

Cerpen
 
Subagio S.Waluyo

 

          Dalam acara makan malam bersama, ketika satu keluarga menikmati hidangan yang tersedia di meja, tiba-tiba saja sang ibu berdiri. Sang bapak dan anak-anaknya yang duduk mengelilingi meja juga terheran-heran karena sang ibu berdiri seraya berteriak.

“Mama sudah muak dengan cara hidup Papa!”, teriak sang istri.

“Muak. Kenapa muak Ma?”, tanya suaminya.

“Papa cuma asik menghitung-hitung keuntungan dari kayu gelondongan yang Papa ambil dari hutan. Papa gak tahu berapa banyak orang jadi korban dari hutan yang Papa tebang. Papa tahu gak, kayu-kayu gelondongan hasil hutan itu sekarang sudah banyak makan korban!”, cerocos istrinya.

“Lihat nih, di Tamiang! Mobil-mobil yang terjebak banjir di dalamnya ternyata ada mayat! Ini gak mungkin terjadi kalau bukan penebangan hutan yang brutal seperti yang Papa lakukan di sana”, istrinya masih saja mencerocos seperti tidak memberikan kesempatan suaminya untuk bicara.

“Papa gak usah bicara dulu. Biar Mama bicara dulu. Papa biar tahu keadaan yang sebenarnya di sana. Nih, lihat! Di You Tube ini rumah-rumah penduduk di sepanjang DAS roboh semua. Rata sama tanah. Penyebabnya kayu-kayu gelondongan. Nih, lihat lagi, mobil-mobil yang terkena banjir. Bukan cuma banjir air, tapi juga lumpur. Coba lihat di dalam mobil itu! Isinya mayat Pa!”, teriak istrinya.

“Ah itu `kan cuma hasil editan pake AI”, kata sang suami mencoba mengeles.

“Apa editan pake AI? Kalo Papa gak percaya turun ke lapangan. Enak aja ini hasil editan. Papa benar-benar kayak pejabat-pejabat tinggi yang lain yang gak punya rasa kemanusiaan!”, sang istri masih bersuara tinggi.

“Pake hati nurani Pa kalo bicara. Jangan asal keluar omongan. Nanti Papa bicara di depan publik ngomong kayak gitu. Begitu diserang, baru minta maaf”, cerocos istrinya.

“Iya Pa. Itu bukan editan. Itu asli Pa. Orang turun ke lapangan lihat langsung yang ada di hadapannya. Teman-temanku juga bilang begitu Pa. Makanya Papa kalo gak percaya ikut kami ke Tamiang besok”, saran anaknya.

“Besok kalian ke Tamiang? Mau ngapain?”, tanya sang ayah heran.

“Kok, nanya mau ngapain?”, tanya istrinya tambah heran.

“Ya, mau terjun langsung ke lapangan!”, kata istrinya masih meninggikan suaranya.

“Mama berlima ke lapangan bukan cuma lihat-lihat,tapi juga mau ikut terlibat bantu-bantu mereka yang jadi korban bencana. Mereka itu Pa, jadi korban kayu gelondongan yang Papa ambil dari hutan”, jelas sang istri masih dengan suara tinggi.

“Jadi bencana alam kali ini diperparah karena hutannya ditebang secara serampangan. Termasuk yang Papa kerjakan selama ini. Papa sama teman-temannya telah melakukan kejahatan membabat habis hutan sampe 50 ribu hektar di Tamiang. Iya `kan?”, tanya istrinya dengan geram.

          Sang suami tidak berkutik diberondong kata-kata istrinya yang keluar begitu saja. Baru kali ini istrinya begitu marah terhadapnya. Dari ucapan-ucapannya yang bernada tinggi disertai pertanyaan-pertanyaan yang nyelekit, dia menyimpulkan kalau kali ini istrinya tidak main-main. Keempat anaknya juga walaupun hanya satu orang yang bicara dari sikapnya menunjukkan ketidaksenangannya pada papanya. Di lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya dia mengakui kesalahannya selama ini. Tapi, lagi-lagi bisikan setan terkadang lebih dahsyat daripada bisikan hati nurani sehingga dengan entengnya dia berucap.

“Silakan aja kalo kalian turun ke lapangan. Nanti kalo ada apa-apa juga pasti minta tolongnya ke papa juga”, katanya ketus.

“Apa? Aku akan minta tolong Papa?”, tanya anak tertuanya.

“Aku mau tunjukin kalo dah lama gak tergantung sama Papa!”, kata anaknya agak keras.

“Aku dah cukup dewasa Pa untuk mengambil keputusan”, kata anaknya ketus.

“Papa tahu gak, dulu Papa nyuru-nyuru aku dan adikku untuk kuliah di luar negeri? Aku dan adikku gak mau. Aku dan adikku kompak lebih baik kuliah di dalam negeri aja biar kata Papa waktu itu gak bermutu kuliah di dalam negeri. Dengan aku kuliah di dalam negeri aku jadi tahu kondisi negara ini. Kalo aku di luar negeri, aku cuma bangga lulusan luar negeri, tapi gak tahu kondisi negara ini. Kayak sekarang aku jadi tahu kalo hutan yang Papa babat habis makan korban yang gak sedikit. Papa mau mengganti semua kerugian yang diderita rakyat karena ulah Papa itu?”, tanya anaknya dengan sedikit kesal.

“Emang ada apa dengan kondisi negara ini”, tanya papanya heran.

“Papa belaga pilon ya?”, tanya istrinya.

“Jangan belaga pilon Pa! Papa itu dikenal sebagai pebisnis besar yang tiap hari pasti melototin berita-berita yang berseliweran atau laporan-laporan dari anak buah Papa. Apa jangan-jangan anak buah Papa sudah memanipulasi data sampe-sampe Papa gak tahu keadaan negara ini?”, desak istrinya.

“Ya, papa tahu”, jawab sang suami.

“Kalo dah tahu kenapa pake ngomong begitu? Pake nanya ada apa dengan kondisi negara ini”, tanya istrinya heran.

“Ayo, anak-anak kita beres-beres. Gak usah lagi diterusin makan malam kita. Kita siap-siap besok pagi habis salat subuh kita berangkat!”, ajak istrinya pada anak-anaknya.

“Siap, Ma!” kata anak-anaknya serentak.

          Mereka dibantu asisten rumah tangganya segera beres-beres meja makan yang baru saja digunakan. Sang papa tidak ikut beres-beres. Dia segera pergi ke ruang tengah. Setelah terjadi perdebatan di ruang makan, sang papa lebih banyak terdiam. Entah diamnya sang papa karena mengakui kesalahannya atau mengatur strategi untuk balik menyerang anggota keluarganya. Maklum, sang papa seorang pebisnis terkenal yang sudah biasa mengatur strategi. Buat dia debat-debat tadi dianggap kecil. Dia menganggap istri dan anak-anaknya sedang mood saja dengan bencana di Sumatra. Nanti kalau sudah turun ke lapangan, dia memastikan istri dan anak-anaknya tidak akan betah di sana. Mungkin tidak sampai satu pekan akan balik ke Jakarta. Ah, masa bodo amat. Emangnya gue pikirin begitu kira-kira yang ada di benaknya.

***

          Pukul 02.30 dini hari istri dan anak-anaknya bangun tidur. Tidak seperti biasanya, mereka langsung mandi. Sehabis mandi mereka berkumpul di musola kecil yang ada di rumahnya. Mereka melaksanakan salat qiyamul lail. Dia sendiri masih tertidur karena semalam sempat nonton sepak bola sampai jauh malam. Baru ketika azan subuh dia terbangun untuk salat berjamaah dengan istri dan anak-anaknya. Selesai salat, karena masih mengantuk, dia teruskan tidur. Sementara itu, istri dan anak-anaknya selesai salat langsung siap-siap berangkat ke bandara. Sebelum berangkat istrinya membangunkannya untuk pamit.

“Pa, mama sama anak-anak mau berangkat. Mama pamit ya?”, kata istrinya.

“Lha, kalian jadi berangkat?”, tanyanya.

“Jadi Pa. Mama dah pesan tiket pesawat tiga hari lalu. Dah ya, Mama sama anak-anak mau berangkat. Hati-hati selama ditinggal Mama sama anak-anak di rumah”, pesan istrinya.

“Ya”, dengan sedikit heran dia menatap istri dan anak-anaknya.

          Mereka satu persatu mencium tangan papanya. Satu persatu juga mereka masuk ke mobil yang sudah siap-siap mau berangkat. Tidak lama kemudian mereka berangkat dan meninggalkan papanya seorang diri. Sang bapak yang ditinggal sendirian sebenarnya ada rasa sedih dan kesepian. Baru kali ini mereka pergi tanpa menyertakan dirinya. Selama ini selalu pergi bersama walaupun sekedar makan malam bersama di luar rumah. Karena masih digelayuti rasa kantuk sang papa yang ditinggal sendirian pergi tidur lagi. Sebelum tidur dia masih bergumam Mereka gak akan bisa lama di sana. Emangnya enak tinggal di tempat yang gak ada aliran listrik, makan apa adanya, dan gak ada tempat buat istirahat. Sudahlah gak usah dipikirin. Emangnya gue pikirin.

***

          Dia baru saja tertidur ketika tiba-tiba saja ada orang berjubah yang mendatanginya. Orang itu memakai jubah putih dan peci putih. Di dagunya ada janggut yang cukup tebal. Orang itu membawa tasbih. Sambil menghampiri dirinya terdengar suara zikir yang tidak henti-hentinya. Dia tidak kenal orang itu. Dari air muka yang tampak dari wajahnya, dia berkesimpulan orang ini orang baik. Orang yang saleh yang sudah pasti tidak punya niat  jahat. Melihat sosok orang yang mendekatinya yang tidak ada niat berbuat jahat, dia cenderung berdiam diri. Belum sempat dia menyapanya,  orang itu memberikan salam.

“ Assalamualaikum Pak Abdul Gani!”, sapa orang berjubah itu.

“Waalaikum salam”, jawabnya setengah heran karena orang itu ternyata tahu namanya.

“Bagaimana kabarnya? Sehat?”, tanya orang berjubah itu.

“Alhamdulillah sehat. Lho, Bapak ini siapa? Kok, tahu nama saya?”, tanyanya masih dalam rasa heran.

“Saya ini orang baik yang mau ngajak Bapak untuk berbuat baik”. Kata orang itu.

“Ya. Tapi, saya belum pernah bertemu dengan Bapak. Kenapa Bapak bisa tahu nama saya?”, tanyanya masih dalam keheranan.

“Saya ini orang yang selalu dekat dengan Allah. Saya selalu menjadikan Allah tempat saya bergantung. Makanya saya diberi kelebihan oleh Allah tahu orang yang saya datangi. Saya bukan cuma tahu nama Bapak, saya juga tahu siapa Bapak dan tahu yang tersembunyi jauh di lubuk hati Bapak”, kata orang itu seperti menceramahinya.

“Tahu sesuatu yang ada lubuk hati saya?”, tanyanya tambah heran.

“Ya. Saya tahu. Saya tahu Bapak pebisnis terkenal yang punya hutan sangat luas di Aceh Tamiang. Yang hutannya habis dibabat nyaris gundul. Setelah gundul Bapak tanami pohon sawit. Sekarang ini gelondongan kayu hasil Bapak membabat pohon secara brutal memakan korban di sepanjang aliran sungai. Bapak pasti sudah tahu berapa banyak rumah yang roboh terhempas gelondongan kayu. Bapak pasti juga tahu berapa banyak masyarakat yang saat ini tidak lagi punya tempat tinggal. Mereka telah menjadi tunawisma. Belum cukup sampai di situ, di jalan-jalan banyak mobil yang terendam lumpur. Lumpur Pak, bukan air yang di dalam mobil-mobil itu ada orang-orang yang terjebak sehingga mereka mati di dalam mobil itu. Semoga mereka termasuk orang-orang yang mati syahid. Amin yaa robbal alamin”, kata orang itu seraya mengangkat kedua lengannya.

“Apakah Bapak masih ngomong kalau itu semua rekayasa orang-orang yang antipemerintah? Orang-orang yang sengaja membuat keonaran di negara ini ketika ditimpa bencana?”, tanya orang itu setengah teriak.

“Tidak. Tidak. Saya memang harus mengakuinya. Itu memang realita yang ada di lapangan”, katanya setengah ketakutan.

“Alhamdulillah kalau Bapak sudah mengakuinya”, kata orang berjubah itu.

“Apa perlu saya sampaikan yang saya tahu biar Bapak benar-benar paham yang terjadi di sana?”, tanya orang berjubah itu.

“Tidak usah. Saya sudah tahu yang terjadi di sana”, katanya masih dalam rasa ketakutan.

“Kalau begitu apa yang harus saya lakukan?”, tanyanya.

          Orang berjubah itu diam sejenak. Orang berjubah itu masih asik dengan zikirnya. Terdengar samar-samar oleh tuan rumah orang berjubah putih itu beristighfar. Sambil matanya menyorot ke arahnya. Orang itu berkata.

“Bapak ingin besok mati?”, tanyanya. Pertanyaan itu tentu saja mengagetkan Pak Abdul Gani.

“Kalau bisa, jangan dulu Pak”, katanya mengiba.

“Kenapa? Takut mati?”, tanya si orang berjubah itu.

“Saya belum siap mati Pak. Saya banyak dosa dan amalan saya masih sedikit Pak”, katanya setengah takut.

“Kalau sudah tahu takut mati, kenapa Bapak berbuat kesalahan?”, tanya si orang berjubah itu.

“Saya selama ini khilaf Pak. Saya selalu mengikuti hawa nafsu Pak”, akunya.

“Saya tahu, Bapak itu sebenarnya dulu orang baik. Bapak mulai rusak ketika jadi pengusaha yang dekat dengan kekuasaan, ya `kan?”, desak orang berjubah itu.

“Ya, Pak. Saya mulai rusak ketika masuk dalam lingkungan kekuasaan. Saya jadi lupa diri. Makanya kalau masih diberi kesempatan hidup saya mau bertobat Pak”, katanya sedikit mengiba.

“Apa cukup bertobat sementara hutan yang Bapak gunduli itu sekarang makan korban?”, desak si orang berjubah itu.

“Saya mau benar-benar taubatan nasuha, Pak”, janjinya.

“Kalo bisa…”, katanya.

“Kalo bisa apa?”, belum selesai Pak Abdul Gani bicara sudah diputus dengan pertanyaan menohok.

“Kalo bisa saya mau mundur jadi pengusaha kelapa sawit, Pak”, katanya masih mengiba.

“Cukup mau mundur saja?”, tanya si orang berjubah itu.

“Saya mau serahkan kebun kelapa sawit itu ke masyarakat dan pemerintah di Tamiang biar dijadikan hutan lagi”, katanya.

“Terus apa lagi?”, tanyanya.

“Saya bersedia mengganti semua kerusakan yang berakibat bencana, Pak”, katanya.

“Nanti gimana dengan keluarga Bapak kalo perusahaan minyak kelapa sawit yang di Tamiang ditutup?”, tanyanya.

“Saya mau merintis usaha dari nol lagi Pak. Masalah rizki, Insya Allah ada yang menjamin Pak”, katanya.

“Siapa yang menjamin?”, tanya si orang berjubah itu.

“Allah pasti yang menjamin, Pak”, kata Pak Abdul Gani mantap.

“Bapak benar-benar mau berjanji, ya?”, tanya si orang berjubah setengah mengancam.

“Ya, saya berjanji Pak”, katanya.

“Gimana kalo Bapak mengingkari janji?”, tanyanya.

“Saya siap dicabut nyawanya. Saya siap masuk neraka, Pak”, katanya mantap.

“Awas, jangan main-main dengan janji. Kalo Bapak ingkar janji saya akan teror Bapak habis-habisan”, ancam si orang berjubah seraya memberi salam dan pergi menghilang.

“Saya berjanji Pak…! Saya berjanji Pak…. ! Saya berjanji Pak…!”, teriak Pak Abdul Gani berulang-ulang sampai-sampai asisten rumah tangganya kaget dan menggedor-gedor kamarnya.

“Pak…! Pak ….! Bangun Pak!”, teriak asisten rumah tangganya.

“Ya…Ya…Ada apa?”, tanyanya heran sambil membukakan pintu kamarnya.

“Bapak tadi teriak-teriak”, kata asisten rumah tangganya.

“Ooooh, saya bermimpi tadi”, katanya.

“Ini diminum dulu, Pak!”, kata asisten rumah tangganya yang telah siap membawakan air putih hangat buatnya.

“Ya. Terima kasih”, katanya sambil meminum air putih hangat.

“Gimana Pak? Bapak gak apa-apa?”, tanya asisten rumah tangganya.

“Alhamdulillah gak apa-apa. Saya cuma bermimpi”, katanya.

“Kalo gitu, saya tinggal dulu ya?”, tanya sang asisten rumah tangga.

“Ya.”

          Sepeninggal asisten rumah tangganya yang telah teruji kesetiaannya, Pak Abdul Gani merenung tentang mimpi yang baru saja dialaminya. Meski hanya mimpi, dia yakin kalau yang datang itu bukan orang sembarangan, orang berjubah putih itu pasti diutus oleh Allah untuk menegur perbuatannya yang selama ini banyak menyimpang. Salah satu perbuatannya yang saat ini memakan korban membuatnya bergidik kalau mengingat rumah-rumah orang yang di sepanjang sungai telah rata dengan tanah akibat tersapu oleh kayu gelondongan miliknya. Tidak cukup sampai di situ, banyak mobil yang terendam bukan hanya air tapi juga lumpur yang di dalamnya tidak sedikit orang yang mati. Akibat dari perbuatannya banyak orang yang tiba-tiba jatuh miskin. Banyak perempuan yang jadi janda atau laki-laki yang jadi duda karena mereka ditinggal mati pasangannya. Bahkan, banyak anak yang jadi yatim karena kehilangan orangtuanya. Ah, begitu banyak orang yang jadi korban akibat ulahnya membuat dia menangis sejadi-jadinya. Air matanya keluar deras dari kelopak matanya. Sejenak dia berhenti menangis karena hanya dengan menangis tidak menyelesaikan masalah. Dia segera mengambil handuk membersihkan diri dan sekaligus mengambil wudu untuk salat duha. Selagi masih ada kesempatan dia harus melakukannya. Setelah itu satu demi satu janji-janjinya yang tadi disampaikannya ke orang berjubah putih itu akan dilaksanakannya.

***

          Dia hari ini tidak masuk kantor dengan alasan kurang sehat. Terhitung mulai hari ini dia memimpin rapat dan mengendalikan usahanya secara daring. Selama beberapa hari, dia mengajak semua stafnya yang ada di kantor perusahaannya, baik yang ada di pusat maupun yang ada di Tamiang untuk rapat daring. Sebelumnya dia telah menerima kabar kalau kebun kelapa sawitnya terendam air dan lumpur. Bukan itu saja pabriknya rata dengan tanah karena terseret kayu gelondongan. Di rapat itu secara sepihak dia memutuskan untuk menutup perusahaannya. Dia sendiri juga memutuskan memundurkan diri dari perusahaannya. Supaya tidak terjadi gejolak, dia sampaikan kalau semua staf dan karyawannya akan diberikan pesangon sesuai dengan masa kerjanya. Dengan cara demikian tidak ada gejolak di perusahaan yang dimilikinya.

          Beberapa hari kemudiann dibantu LSM, baik yang ada di pusat maupun di Tamiang dia mengirim email ke pejabat pemerintah di Tamiang. Dia sampaikan kalau bekas kebun kelapa sawitnya diserahkan ke masyarakat untuk dikelola langsung oleh masyarakat. Selain itu, dia gelontorkan dana yang cukup besar untuk dilakukan reboisasi di bekas kebun kelapa sawitnya. Tidak cukup sampai di situ, semua anggota masyarakat yang turut terlibat dalam reboisasi diberikan honor selama terlibat reboisasi. Khusus untuk korban bencana banjir, dia menyediakan uang santunan. Uang itu diperoleh dari simpanannya yang selama ini diparkir di beberapa bank. Mereka-mereka yang jadi korban bencana setelah didata diberikan uang santunan. Dia tidak peduli dengan kebijakannya akan menghabiskan uang tabungannya. Buat dia lebih baik uang tabungannya habis daripada setiap hari dia mendapat kabar buruk tentang mereka-mereka yang jadi korban bencana. Tidak cukup sampai di situ, lagi-lagi dia mengeluarkan uang tabungannya untuk membenahi infrastruktur di Tamiang yang hancur akibat banjir yang disebabkan oleh penggundulan hutan secara brutal. Dia tidak lagi memperhitungkan berapa banyak uang yang dihabiskan untuk menangani bencana banjir di Tamiang dan sekitarnya. Meskipun demikian, ada sebuah perasaan tersendiri yang tidak dapat digambarkan karena dia telah berbuat yang terbaik sebelum ajal memanggilnya. Sebagaimana permintaannya pada laki-laki berjubah putih yang datang dalam mimpinya kalau dia tidak mau masuk neraka.

          Semua yang dilakukannya selama lebih dari sepekan tidak diketahui oleh istri dan anak-anaknya. Kesibukannya mengurusi perusahaannya yang nyaris bangkrut karena bencana membuat dia lupa untuk berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya. Begitupun dengan istri dan anak-anaknya karena kesibukannya turun ke lapangan membantu orang-orang yang terkena musibah juga tidak sempat mengontaknya. Meskipun demikian, di saat-saat sudah melewati masa-masa genting di Tamiang terpikir juga oleh mereka untuk mengontak papanya. Inisiatif untuk mengontak papanya dilakukan oleh anaknya yang bungsu ketika pada siang hari melakukan video call.

“Assalamualaikum. Halo Papa”, sapa anaknya sambil melambaikan tangan.

“Waalaikum salam”, jawabnya juga sambil melambaikan tangannya.

“Gimana kabarnya Papa?”, tanya sang anak.

“Alhamdulillah sehat. Gimana kabarnya Mama?”, tanya papanya.

“Ini Mama sehat Pa!”, teriaknya girang.

“Kok, Mama kayaknya girang banget?”, tanyanya.

“Ya, Mama girang karena Papa dah banyak berkorban”, katanya.

“Berkorban apa?”, tanyanya pura-pura.

“Ah, Papa kayak gak tahu aja. Bukannya Papa sudah menyerahkan kebun kelapa sawit ke masyarakat? Sekarang lagi dibenahin Pa. Bentar lagi akan direboisasi. Kabarnya semuanya didanai oleh Papa ya `kan?”, tanya istrinya. Dari nada suaranya terdengar sedikit girang.

“Ya. Papa sudah putuskan untuk menutup pabrik kelapa sawit itu. Selain itu, Papa juga sudah sediakan dana untuk santunan kepada para warga yang jadi korban bencana termasuk rumah-rumah yang terseret banjir dan terkena kayu gelondongan. Infrastruktur yang terkena imbas akibat banjir juga sudah Papa putuskan untuk disediakan dananya”, katanya seperti membacakan berita penting ke anggota keluarganya.

“Wah, keren Pa!”, kata anaknya yang nomor dua.

“Ya. Yang Papa lakukan itu bener-bener keren! Gak ada pengusaha yang seperti Papa. Kalo aja di negeri ini ada orang seperti Papa gak perlu lagi yang namanya pemerintah daerah minta-minta bantuan ke pusat yang memang lagi banyak mikirin buat MBG sama Woosh”, kata anaknya yang pertama sambil tertawa.

“Eh, ngomong-ngomong kalian bermalam di mana?”, tanya papanya.

“Waktu pertama kali datang di tenda-tenda. Sekarang sudah disediakan LSM yang bergerak di sini di masjid yang selamat dari bencana”, jawab istrinya.

“Jadi, ada tempat ibadah yang gak terkena bencana?”, tanyanya heran.

“Banyak Pa”, jawab anaknya yang nomor tiga.

“Masyarakat sini tuh walaupun susah begitu lihat kita datang dengan niat baik untuk menolong, mereka langsung meresponnya”, jelas si anak yang nomor tiga.

“Papa ke sini aja!”, kata anak yang bungsu.

“Insya Allah besok pagi Papa berangkat menyusul kalian”, janjinya.

“Sudah ya? Papa masih ada urusan yang harus diselesaikan hari ini”, kata papanya.

“Hati-hati Pa nanti di jalan. Assalamualaikum!”, kata anak yang pertama.

“Waalaikum salam. Sampai ketemu lagi ya?”

“Ya. Papa!”, kata istrinya.   

***

          Setelah video call dengan istri dan anak-anaknya dia jadi tahu kalau mereka bisa membersamai orang-orang yang terkena bencana nun jauh di sana. Sikap tinggi hatinya yang sempat terbetik di benaknya kalau pada suatu saat istri dan anak-anaknya dipastikan akan minta bantuan padanya ternyata tidak terbukti. Buktinya, mereka bisa tinggal di tenda-tenda pengungsian dan di masjid. Terbayang di benaknya, mereka pasti makan bersama dengan para pengungsi dengan makanan apa adanya. Mereka juga tidak akan bisa tidur nyenyak seperti dirinya yang selama ditinggal istri dan anak-anaknya masih bisa tidur nyenyak. Melihat mereka yang tampaknya ceria-ceria saja membuat dirinya rindu ingin segera bertemu dengan mereka. Dia yakin kerinduan ini akan terobati besok ketika bertemu dengan mereka. Dia juga rindu bertemu dengan orang-orang yang menjadi korban bencana yang tiba-tiba saja mereka banyak yang menjadi orang-orang duafa. Ah, mengingat itu semua membuat kelopak matanya berair. Air mata yang keluar ini bukan air mata kesedihan, tapi juga ada kegembiraan. Kegembiraan itu akan berkesinambungan sampai dia bertemu dengan Rob-Nya. Itu harapannya.

 

Kota Bekasi, 10 Desember 2025.

 

 

 

 

         

    


Senin, 08 Desember 2025

Bahasa dan Sastra (237)



Ustad itu yang Membunuh Ibumu

 

Cerpen

 

Subagio S.Waluyo

 

          Laki-laki tua itu dengan tajamnya menatap Ustad Nur Rohmat. Mata tuanya nyaris tidak berkedip seperti menelanjanginya. Laki-laki tua itu tidak percaya dengan penglihatannya karena yang ada di hadapannya sangat dikenalinya. Orang inilah yang empat puluh tahun lalu membunuh istrinya. Dia masih mengenalinya dari codet yang cukup panjang di pipi kanannya. Ustad Nur Rohmat yang disorot oleh mata tua itu lagi-lagi grogi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika itu terjadi empat puluh tahun lalu, ketika dia masih muda dulu orang yang menatap seperti itu langsung saja tidak perlu `ba-bi-bu` sudah pasti tangannya akan bicara. Tapi, itu cerita dulu empat puluh tahun lalu. Kini Ustad Nur Rohmat sudah memasuki usia 72 tahun. Dia sudah bukan lagi orang muda. Dia telah menjadi seorang tua yang renta yang tubuhnya sudah mulai digerogoti rasa tidak enak. Belum sempat dia berkata pada laki-laki tua yang menatapinya, laki-laki itu berkata setengah berteriak.

“Orang ini yang telah membunuh istri saya. Empat puluh tahun lalu dengan teganya dia tancapkan sebuah belati ke tubuh istri saya.”

          Anak laki-laki tua yang mendengar ucapan ayahnya sempat terkejut. Mendengar ayahnya yang mengatakan itu, dia seperti tidak percaya. Tapi, dia berusaha menenangkan diri. Tidak demikian dengan KH Mudofhir, dia cenderung bergeming. Dari air mukanya yang teduh tidak ada sama sekali keterkejutan. Dia memang sudah tahu siapa Ustad Nur Rohmat. Ustad yang 28 tahun lalu menemuinya dan minta mengabdi di pondok pesantren yang diasuhnya. Waktu itu usia KH Mudhofir masih tergolong muda baru 26 tahun. Baru saja selesai Pendidikan S2 di Timur Tengah. Begitu selesai pendidikan oleh Perserikatan Muhammadiyah diminta menjadi guru sekaligus pembina pondok pesantren. Sementara itu, Ustad Nur Rohmat telah memasuki usia 42 tahun. Jadi, selisih umur mereka cukup jauh. Meskipun masih tergolong muda, sebagai pengasuh pondok pesantren KH Mudhofir menampakkan sikap kebapakannya di hadapan Ustad Nur Rohmat. Sikap itulah yang menjadikan Ustad Nur Rohmat menaruh hormat pada KH Mudhofir. KH Mudhofir bagi Ustad Nur Rohmat bukan saja sebagai gurunya, tapi juga menjadi orangtuanya yang selalu memberikan banyak wejangan padanya.

“Saya membunuh istri Bapak?”, tanya Ustad Nur Rohmat heran (Sebenarnya Ustad Nur Rohmat di dalam hatinya dia mengakuinya kalau memang dia pernah membunuh seorang wanita ketika melakukan pencurian di sebuah rumah mewah di Jakarta. Tapi, dia masih berkeinginan untuk membela diri).

“Ya. Kamu yang membunuh istri saya. Saya masih mengenali wajahmu dari bekas luka di pipi kananmu”, masih setengah berteriak laki-laki tua itu berkata. (Ustad Nur Rohmat yang disapa `kamu` sempat kaget juga karena selama ini tidak ada seorangpun yang menyapanya `kamu`. Di kalangan pondok pesantren, baik santri maupun orangtua santri atau jamaah masjid sekalipun menyapanya dengan `Ustad` atau `Pak Haji`. Dia bisa menerima sapaan itu karena orang yang menyapanya dalam kondisi emosi).

“Apa? Saya telah membunuh istri Bapak?”, Ustad Nur Rohmat berupaya untuk ngeles (Sekali lagi Ustad Nur Rohmat masih berupaya membela diri).

KH Mudhofir yang berada di situ langsung menengahinya.

“Sudah…sudah. Jangan diteruskan pertikaian ini. Nanti saya saja yang coba bicara dengan Ustad Nur Rohmat. Insya Allah akan ada jalan keluarnya. Ustad Nur Rohmat, sampean ikut saya ke rumah!”, perintah KH Mudhofir.

“Saya ajak ke luar ya, Ustad Nur Rohmat? Assalamualaikum!”, kata KH Mudhofir memberi salam.

“Waalaikum salam”

“Silakan Pak Kyai. Daripada saling debat sebaiknya dibicarakan Pak Kyai dengan Ustad Nur Rohmat”, kata anak laki-laki tua itu mempersilakan.

***

Sepeninggal KH Mudofhir dan Ustad Nur Rohmat ada keheningan. Keduanya, laki-laki tua dan anak laki-lakinya yang memasuki usia 40-an tahun sama-sama terdiam. Tiba-tiba saja laki-laki tua itu buka suara.

“Yunus. Laki-laki tua itu yang telah membunuh ibumu empat puluh tahun lalu. Ayah memang belum pernah bercerita padamu tentang peristiwa yang berakibat wafatnya ibumu. Waktu itu usiamu belum genap satu tahun. Sehabis salat tahajud ibumu mendengar ada orang yang masuk ke rumah kita. Spontan ayah dan ibumu sama-sama menuju pintu rumah yang sudah terbuka. Ternyata, di kamar tidur sudah ada orang yang berhasil membawa perhiasan ibumu dan sedikit uang. Ibumu berusaha menghalangi laki-laki asing itu. Laki-laki itu langsung menghunuskan belatinya dan menusukkan ke tubuh ibumu. Ayah sempat menangkap tubuh ibumu yang berlumuran darah. Sementara laki-laki itu melihat korbannya terkapar kabur dari rumah kita. Ayah masih sempat melihat wajahnya. Di pipi kanannya ada codet bekas luka. Codet bekas luka itu persis seperti yang ayah lihat hari ini, di sini. Ayah yakin, laki-laki tua itu yang sebaya dengan ayah yang telah menghabisi nyawa ibumu”, kata laki-laki tua itu menutup ceritanya.

          Selesai menyampaikan peristiwanya di masa lalu. Laki-laki tua dan anak laki-lakinya lagi-lagi sama terdiam. Ada keheningan. Laki-laki tua itu menitikkan air matanya. Sang anak melihat ayahnya menangis tanpa dia sadari juga sama-sama menitikkan air matanya. Dia tidak menyangka Ustad Nur Rohmat yang kesehariannya sebagai orang kepercayaan KH Mudhofir dan menjadi guru mengaji anaknya ternyata mantan seorang penjahat yang menghabisi nyawa ibunya. Selama ini ayahnya tidak pernah bercerita kalau ibunya wafat karena dibunuh oleh seorang penjahat. Begitu pun dengan paman-paman dan bibi-bibinya tidak ada yang bercerita. Mereka seperti sepakat menutup aib kematian ibunya. Kalau saja dia tidak membawa ayahnya ke pondok pesantren untuk menengok anak laki-lakinya yang mondok di pondok pesantren ini, dia tidak mungkin tahu kalau ibunya wafat karena dibunuh. Dia juga tidak akan tahu kalau pembunuh ibunya adalah seorang ustad yang hampir tiga tahun ini hubungannya demikian dekat, baik dengannya maupun dengan anak laki-lakinya yang menjadi santri di pondok pesantren ini. Dengan sedikit keberanian anak laki-lakinya membuka suara.

“Ya, Ayah. Aku percaya cerita Ayah. Aku bingung Ayah, aku harus berbuat apa setelah mendengar cerita Ayah? Aku dan anakku demikian baik dengannya Ayah. Aku bersyukur banyak perubahan pada anakku semenjak menimba ilmu di pesantren ini. Anakku jadi taat pada agama, berakhlak baik dan memiliki hafalan Quran yang cukup banyak. Ustad Nur Rohmat itu termasuk ustad santun dan berilmu yang memadai di pesantren ini. Sekali lagi, aku harus berbuat apa Ayah? Aku benar-benar bingung Ayah”, kata anaknya sedikit iba meminta pendapat ayahnya.

“Nyawa harus dibalas dengan nyawa, Yunus!”, kata ayahnya tegas.

“Jadi, aku harus membunuh Ustad Nur Rohmat?”, tanya anaknya kaget mendengar perkataan ayahnya.

“Kalau kamu tidak mau membunuhnya, ayah yang akan menghabisi nyawanya. Itu yang adil, Yunus. Untuk itu ayah siap masuk penjara!”, kata ayahnya tegas.

“Aku terus terang tidak mau membunuh Ustad Nur Rohmat walaupun dia pernah membunuh ibuku. Bagiku terlalu berisiko membunuh seorang ustad yang sudah mengabdi di pesantren ini hampir tiga puluh tahun yang telah berhasil membentuk perilaku anak-anak didiknya. Anak-anak yang semula malas beribadah, seperti anakku menjadi anak yang taat beribadah. Aku cenderung memaafkan kesalahannya. Toh, dia juga `kan paling tidak pernah tersiksa dengan perbuatan buruknya. Aku yakin ketika mau mengabdi di pesantren ini, dia sudah menyampaikan terus terang ke Pak Kyai siapa dirinya dan perbuatannya di masa lalu. Pak Kyai setahuku tidak sembarang orang bisa diterima mengabdi di pesantren ini. Maafkan aku Ayah kalau aku tidak bersedia memenuhi permintaan Ayah. Aku juga minta Ayah untuk memaafkan kesalahannya. Kita tutup saja lembaran hitam di masa lalu walaupun terasa pahit. Gimana Ayah? Ayah mau menerima saranku?”, tanya anaknya.

Ayahnya tidak segera menjawab. Dia masih tercenung. Air matanya masih menitik keluar dari kedua kelopak matanya. Meski demikian, dia paksakan untuk bicara.

“Kamu bisa saja bicara seperti itu. Ayah gak bisa melupakan peristiwa saat itu. Peristiwa yang menyakitkan. Ayah baru dua tahun mengecap hidup berumah tangga. Baru punya anak kamu. Tiba-tiba saja ada peristiwa yang membuat hati ini perih. Kamu bayangkan setelah peristiwa itu, ayah hidup menduda dengan satu anak. Terpaksa ayah minta adik ayah, bibimu, merawat kamu. Kalo saja tidak ada bibimu, apa mungkin ayah bisa merawatmu?”, kenang ayahnya.

“Tapi ayah kawin lagi `kan? Dan ibu sambungku yang sudah seperti ibu sendiri demikian sayang padaku. Dia juga tidak membeda-bedakan aku sebagai anak tiri dengan adik-adikku sebagai anak-anak kandungnya”, anak laki-lakinya mengingatkan.

“Ya, ayah bersyukur mendapatkan seorang istri yang juga sama salehahnya dengan ibumu. Tapi, ayah belum bisa melupakan kejadian yang menyakitkan itu. Anakku”, katanya sedih.

“Memang Yah, kalau diingat-ingat akan selalu menyakitkan. Semua orang juga sama pikirannya seperti Ayah. Aku mau tanya apa cuma ayah saja yang tahu pembunuh ibuku?”, tanya anaknya.

“Paman-pamanmu dan bibi-bibimu dari pihak ayah dan ibumu juga tahu”, jawab ayahnya.

“Terus setelah dia membunuh ibuku, dia gak ditangkap polisi dan diadili?”, tanya anaknya.

“Dia menyerahkan diri ke polisi. Dia kabarnya minta dihukum”, jelas ayahnya.

“Berarti setelah membunuh ibuku, dia sadar akan perbuatannya. Kalo gitu berapa lama dia dihukum?”, tanya anaknya.

“Setahuku vonis pengadilan waktu itu menetapkan lima belas tahun. Ayah kurang tahu berapa lama dia mendekam di jeruji besi. Bisa saja dia mendapatkan remisi sehingga tidak menjalankan hukuman selama lima belas tahun”, jawab ayahnya.

“Kalo sudah menyerahkan diri ke polisi, dia terus minta dihukum karena perbuatannya berarti dia sudah punya niat baik, Yah”, jawab anaknya seperti menceramahinya.

“Kalo sudah punya niat baik, mungkin selepas dari penjara dia mengabdi di pesantren ini karena setahuku dia sudah 28 tahun di sini, dia berkeinginan untuk menghapuskan segala kesalahannya dengan mengabdi di sini. Aku lihat di sini, walaupun jarak usianya sangat jauh dengan santri-santrinya dia bisa mengajar dengan baik. Anak-anak santrinya akrab dengannya. Mereka enjoy-enjoy aja kayaknya Yah. Apa ayah tega mau membunuh laki-laki tua yang sudah sama tuanya dengan Ayah? Aku sulit membayangkan akan jadi apa pesantren ini kalau seorang ustadnya mati terbunuh. Sekali lagi aku usul, yang sudah lewat gak usah diusik-usik lagi. Menyakitkan Yah. Aku ajak ayah untuk memaafkannya. Maaf Yah, ini sekedar usul. Aku serahkan semuanya ke Ayah bagaimana baiknya”, kata anaknya seperti menceramahi ayahnya.

          Sang ayah, laki-laki tua itu sempat tercekat mendengar ucapan anaknya. Berat rasanya menerima usul anaknya. Meskipun demikian, akhirnya keluar juga ucapannya.  

“Ya, ayah menerima usulmu. Tapi, agar batin ini tidak tersiksa karena biar gimana pun setiap kali ayah melihat wajahnya akan selalu terbayang peristiwa pembunuhan itu. Gimana caranya, Yunus?”, laki-laki tua itu meminta saran dari anaknya.    

“Kita tunggu saja putusan Pak Kyai, Yah!”, saran anaknya.

“Ya, kita tunggu saja.”

“Sambil menunggu putusannya, sekarang kita ke masjid saja”, ajak anaknya.

***

          KH Mudhofir mengajak Ustad Nur Rohmat ke rumahnya. Ustad Nur Rohmat sama sekali terdiam. Tidak seperti biasanya Ustad Nur Rohmat yang dikenal banyak bicara, kali ini seperti tidak berdaya di hadapan KH Mudhofir. Dia merasa bersalah persis seperti 28 tahun lalu ketika menghadap KH Mudhofir yang kini telah memasuki usia 54 tahun. KH Mudhofir yang sudah menampakkan ketuaannya menyilakan Ustad Nur Rohmat duduk. Dia masuk ke dalam ruangan dan meminta istrinya untuk membuatkan kopi. Setelah dua cangkir kopi terhidang disertai dengan penganan kampung, KH Mudhofir mempersilakan Ustad Nur Rohmat meminum kopinya.

“Ustad Nur Rohmat, di luar sepengetahuan kita, ada orang yang mengenali sampean. Ini semua merupakan qodarullah yang gak bisa kita pungkiri. Saya ada usul gimana kalo sampean hijrah dulu selama enam bulan ke pesantren yang diasuh teman saya di Bumiayu? Sama seperti pesantren yang kita asuh masih sama-sama dari Perserikatan Muhammadiyah. Nanti setelah anaknya Pak Yunus selesai pendidikan di sini, sampean balik lagi ke sini?”, saran KH Mudhofir.

“Saya ikuti saran Pak Kyai saja”, kata Ustad Nur Rohmat.

“Baik. Nanti saya kontak dulu teman saya itu. Sekarang sampean siap-siap saja berangkat. Sampean cukup berangkat berdua dengan istri. Anak-anak sampean yang masih mengabdi biar di sini saja. Gak usah ikut sampean. Nanti selama enam bulan salah seorang anak sampean menggantikan sampean”, saran Pak Kyai.

“Nanti ada yang mengantar sampean berdua ke sana”, tambahnya.

“Baik Pak Kyai!”

“Ayo, dihabisi dulu kopinya. Itu rengginangnya dimakan! Sampean sekarang tenang aja. Insya Allah akan selalu ada jalan terbaik buat kita. Nanti kalo dipikirin jadi stres. Jangan sampe jadi ustad stres. Kalo ustadnya stres gimana anak-anak didiknya? Bisa-bisa ikut stres”, kelakar Pak Kyai mencairkan kebekuan seolah-olah seperti tidak ada masalah di antara mereka berdua.

“Ya, Pak Kyai”

Setelah menghabisi kopinya, Ustad Nur Rohmat pamit pada Pak Kyai. Sebelum Ustad Nur Rohmat melangkah ke luar. KH Mudhofir memberikan amplop berisikan uang. Ustad Nur Rohmat menolak pemberian itu (Sekedar basa-basi walaupun akhirnya menerima juga). 

“Ini sekedar uang sangu buat sampean sama istri di jalan. Nanti kalo sudah enam bulan di sana, jangan lupa sampean sama istri balik ke sini lagi. Biar sampean sudah tua tenaga sampean masih dimanfaatkan di sini. Nanti sampean berangkat diam-diam saja. Gak perlu nemuin mereka”, pesan Pak Kyai.

“Ya, Pak Kyai. Saya dan istri akan balik ke sini. Mohon doanya Pak Kyai biar saya dan istri bisa mengabdi di Bumiayu”, pintanya.

“Saya akan tetap mendoakan kalian berdua. Buat saya, kalian sudah menjadi bagian dari pesantren ini”, kata Pak Kyai mantap.

“Saya pamit Pak Kyai. Assalamualaikum”, Ustad Nur Rohmat pamit seraya memberi salam.

“Waalaikum salam. Maassalamah wa fi amanillah”, kata Pak Kyai sambil mendoakan.

“Amin. Yaa robbal alamin!”, Ustad Nur Rohmat mengaminkannya.

***

          Sehabis salat zuhur di rumahnya, Ustad Nur Rohmat diam-diam berangkat ke Bumiayu. Selama di pesantren baru kali ini Ustad Nur Rohmat salat di rumahnya dengan istrinya. Ustad Nur Rohmat sudah menyampaikan ke istrinya kalau siang itu juga harus berangkat ke Bumiayu. Dia sengaja tidak menyampaikan alasannya. Dia berjanji nanti ketika sampai di tempat yang dituju baru akan disampaikan. Mereka diantar supir KH Mudhofir. Sementara itu, KH Mudhofir menemui laki-laki tua dan anaknya di masjid. Rupanya, kedua orang itu sudah menunggu kedatangannya.

“Assalamualaikum”, sapa KH Mudhofir memberi salam.

“Waalaikum salam”, jawab mereka serentak.

“Jadi, gimana Pak Kyai putusannya?”, tanya laki-laki tua itu penasaran.

“Alhamdulillah urusannya sudah selesai. Saya sudah minta Ustad Nur Rohmat dan istrinya meninggalkan pesantren ini”, jawab KH Mudhofir.

“Mudah-mudahan dengan perginya Ustad Nur Rohmat, Bapak yang mungkin gak bisa menghilangkan peristiwa yang menyakitkan itu terobati”, jelas KH Mudhofir.

“Amin”, jawab kedua orang itu.

“Jadi, begini Pak. Dulu waktu Ustad Nur Rohmat ingin mengabdi di pesantren cerita sama saya masa lalunya. Dia memang empat puluh tahun lalu pernah membunuh seorang Wanita yang mencoba menghalanginya ketika mencuri di rumahnya. Karena dihalangi, secara spontan dia menikam tubuh wanita yang menghalanginya. Gak ada rencana dia membunuh istri Bapak”, sambil berkata begitu KH Mudhofir menatap wajah laki-laki tua yang persis di hadapannya.

“Kalau berencana membunuhnya, dia mungkin akan dihukum lebih berat lagi. Bisa saja dia dihukum mati”, tambah KH Mudhofir.

“Selama mengabdi di sini di pesantren ini aman-aman saja. Malahan seperti yang Bapak lihat pesantren ini terpelihara kebersihannya karena memang setiap hari dia dibantu para santri dan beberapa ustad yang lain mengurusi kebersihan pesantren. Lihat saja itu di depan masjid, tanaman-tanamannya terpelihara. Kami di sini selama ada Ustad Nur Rohmat tidak pernah beli sayur atau ikan ke luar karena semuanya terpenuhi dari kebun dan kolam ikan yang ada di pesantren ini. Dia juga bercerita selama di penjara dua belas tahun banyak bertobat dan berzikir. Di penjara dia belajar baca Quran. Dia juga belajar ilmu agama dan beberapa keterampilan lainnya di luar agama. Di pesantren ini karena pengabdiannya luar biasa, kami berangkatkan haji dia sama istrinya beberapa tahun lalu. Karena di pesantren ini juga ada biro perjalanan umroh hampir setiap tahun dia ikut menjadi pembimbing. Saya sangat bersyukur kalau bapak-bapak tidak menaruh dendam padanya. Saya sulit membayangkan kalau bapak-bapak tidak bersedia memaafkannya. Apa lagi sampai berniat menghabisi nyawanya. Saya sangat berharap bapak-bapak juga anggota keluarga yang lain yang empat puluh tahun lalu tahu persis peristiwa itu bisa memaafkan kesalahannya”, kata KH Mudofhir penuh harap.

“Kami berdua sudah memaafkan kesalahannya Pak Kyai. Cuma saya secara pribadi tadinya meminta agar Ustad Nur Rohmat dikeluarkan saja dari pesantren ini. Ternyata, Pak Kyai sudah mengeluarkannya ya?”, tanya laki-laki tua itu. 

“Bukan dikeluarkan tapi dimutasikan ke pesantren lain yang tidak perlu bapak-bapak tahu tempatnya”, jelas KH Mudhofir.

“Terus gimana nanti dengan pesantren ini Pak Kyai?”, tanya anaknya.

“Pesantren ini Insya Allah ada yang siap menggantikannya. Anak-anaknya yang dari Al-Azhar, Mesir, siap menggantikannya. Ilmunya lebih baik dari bapaknya. Untuk mengurusi kebun, kolam-kolam ikan, dan ternak kambing sudah ada beberapa orang yang siap mengurusinya. Insya Allah semuanya bisa tertangani”, kata KH Mudhofir.

“Kita doakan saja semoga mereka berdua bisa mengabdi di tempat yang baru”, kata KH Mudhofir penuh harap.

“Amin. Yaa robbal alamin”, kata mereka berdua.

“Saya kira untuk sementara sudah cukup ya? Saya mau ngasi pengajian di luar. Silakan kalau mau ikut makan siang sama ustad-ustad dan anak-anak santri. Assalamualaikum”, KH Mudhofir memberi salam seraya mengulurkan tangannya kepada kedua orang itu.

“Waalaikum salam. Maafkan saya Pak Kyai”, kata laki-laki tua itu.

“Sama-sama Pak, saya juga minta maaf”, jawab KH Mudhofir.

KH Mudhofir langsung meninggalkan mereka karena sudah ditunggu oleh orang yang akan menjemputnya untuk mengisi pengajian di luar pesantren.

 

Kota Bekasi, 9 Desember 2025


 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...