Rabu, 11 September 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (05)

JIKA CHAIRIL ANWAR DAN MOTINGGO BOESJE
BICARA TENTANG HARAPAN


A K U

                       Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
`Ku mau tak seorang `kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalan
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

                           Maret 1943

Sabtu, 07 September 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (04)

KERANCUAN BERPIKIR DAN KERANCUAN BERBAHASA

DALAM SKRIPSI SARJANA (S1)


Teks II            
Dalam hubungan ini penulis berpendapat dan sekaligus merupakan hipotesa, bahwa pada kenyataannya penerapan sistem kearsipan pola baru belum dilaksanakan secara terpadu dalam arti pembenahan dan penyempurnaan sistem kearsipan tidak dapat dilaksanakan hanya dengan cara menyusun pedoman-pedoman saja, tetapi harus mencakup cakrawala pengurusan yang lebih luas, yang meliputi:
1.       Penyediaan peralatan dan perlengkapan secara baku (standar) serta dana sesuai dengan kebutuhan, termasuk tempat atau ruang simpan arsip dan dokumen.
2.       Peningkatan tenaga kearsipan baik kualitatif maupun kuantitatif.
3.       Peningkatan perhatian pimpinan satuan perangkat organisasi, terutama dalam memberikan motivasi kepada bawahannya.

Kebahasaan dan Kesastraan (03)


KERANCUAN BERPIKIR DAN KERANCUAN BERBAHASA
DALAM SKRIPSI SARJANA (S1)


1.0  Pendahuluan 

            Tulisan ini berawal dari pengamatan penulis terhadap pemakaian bahasa Indonesia oleh mahasiswa di dalam karya ilmiah, khususnya skripsi sarjana (S1).  Penulis dari pengamatan tersebut banyak menemukan kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam penulisan skripsi sarjana (S1).  Kesalahan pemakaian kata  “daripada” yang sudah klasik, penempatan kata depan “di”, pemilihan kata yang kurang tepat, penulisan kalimat yang tidak jelas subjeknya, dan penulisan kalimat yang terlampau panjang sehingga satu kalimat ditulis dalam satu paragraf, semua itu membuat penulis bertanya mengapa hal-hal seperti itu sampai terjadi?  Padahal, bukankah usaha-usaha yang positif ke arah itu telah diusahakan dengan adanya mata kuliah bahasa Indonesia sebagai mata kuliah wajib?


Jumat, 06 September 2013

Artikel Agama (2)


 Lima Syarat dalam Bertaubat

Pada dasarnya semua manusia lahir dalam keadaan fitrah tanpa dosa. Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya karena kelemahannya, lingkungannya, dan pengaruh godaan syetan manusia banyak melakukan dosa. Meskipun demikian Allah swt mempunyai sifat Ar-rahman yang memberi kesempatan pada manusia untuk bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh, meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya atau taubatan nasuha. Allah berfirman :
 “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ….(At-tahrim : 8).

Artikel Agama (1)


Berubah atau Mati

Dalam Surat Ar-Ra`ad:11 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak mau mengubah dirinya sendiri” ada perintah tersirat dari bunyi ayat tersebut, yaitu kita mau berubah atau mati? Perintah tersirat tersebut tentu saja membuat kita jadi bertanya-tanya yang salah satunya tentunya berbunyi : ”Apakah Allah demikian kejam sehingga menyuruh kita berubah atau mati?”. Coba kita singkirkan pertanyaan itu dari benak kita.  Kita ubah dengan sikap sangka baik kita pada Allah.  Bagaimana kalau perintah itu dijadikan motivasi agar kita mau berubah dalam segala hal?



Kamis, 05 September 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (02)

Lanjutan....
SOSOK PERILAKU GURU
DALAM PANDANGAN DUA PENYAIR
(HARTOJO ANDANGDJAJA DAN WS RENDRA)

/3/
            Gambaran sosok guru yang dimunculkan oleh HA adalah gambaran guru di tahun `50-an.  Gambaran guru dua puluh tahun kemudian bukan lagi seperti itu. Gambaran guru tahun `70-an adalah gambaran guru yang seperti diungkapkan oleh Taufik Ismail ‘Guru kencing berdiri/Murid mengencingi guru’.  Gambaran guru tahun `70-an, bahkan memasuki milenium ketiga ini, adalah gambaran guru yang sudah tidak mempunyai nilai-nilai kebenaran di hadapan murid-muridnya sebagaimana terlihat pada bait puisi ini.

Kebahasaan dan Kesastraan (01)


SOSOK PERILAKU GURU
DALAM PANDANGAN DUA PENYAIR
(HARTOJO ANDANGDJAJA DAN WS RENDRA)


/1/
           
Setiap orang yang pernah mengecap bangku sekolah pasti mengenal orang yang pernah mendidiknya.  Orang tersebut dinamakan guru.  Setiap kali orang menyebut guru terbayanglah di benak setiap orang bahwa guru adalah makhluk alit.  Dia disebut alit karena profesi guru adalah profesi yang belum mendapatkan kesejahteraan yang memadai, baik di Masa Orde Baru maupun di Masa Reformasi sekarang ini.  Dia juga disebut alit karena jarang orang yang berprofesi guru menunjukkan dengan bangga tentang profesinya sebagai guru.  Kalau boleh dikatakan orang yang berprofesi guru tidak akan menampakkan sisi superioritasnya.  Dengan kata lain, seorang guru akan lebih memunculkan sosok egaliternya.


Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...