Kota Anak-Anak Alfa
Subagio S.Waluyo
(Sebuah catatan khusus menyambut Hari Anak Nasional 2026)
Jakarta pada tahun-tahun `60-an dan `70-an tidak
seperti sekarang. Pada waktu itu halaman-halaman rumah masih cukup luas. Masih
banyak didapati tanah lapang yang bisa digunakan
untuk anak-anak bermain. Segala macam bentuk permainan anak-anak yang
sekarang ini dikenal sebagai permainan tradisional banyak dimainkan. Umumnya,
permainan tradisional itu sebagian besar tidak perlu keluar uang.
Permainan anak-anak seperti `galasin` (kalau di Jawa Tengah dinamakan `gobak
sodor`) yang dimainkan secara massal yang terbagi dalam dua grup (satu grup
bisa sampai empat atau enam orang). Permainan ini hanya butuh tanah yang agak
luas dan rata (ada tanah yang luasnya 100 meter juga sudah cukup) atau kalau
ada lapangan badminton yang sedang tidak digunakan juga bisa dipakai untuk
bermain `galasin`. Permainan ini akan terasa lebih nikmat jika dimainkan di
malam hari ketika terang bulan.
Hampir semua permainan anak-anak yang tergolong
tradisional yang bisa dimainkan bersama-sama dan tidak butuh biaya (kalau
terpaksa harus keluar uang juga relatif murah), seperti `petak umpet`,
`benteng`, `egrang`, `perang-perangan`, `bola kasti`, `layangan`, dan `galasin`
membutuhkan tenaga ekstra. Dengan bermain `galasin saja, misalnya, anak harus
bisa berlari cepat, lincah, cekatan, dan harus bisa mengelabui musuhnya yang
menjadi penjaga. Jenis permainan seperti galasin juga mebutuhkan kekompakan
kelompok. Dalam permainan ini dibutuhkan adanya kesatuan komando sehingga untuk
bisa memainkannya dengan apik harus ada satu orang yang menjadi kepala regu.
Permainan yang membutuhkan tenaga yang kuat,
keterampilan, dan keseimbangan seperti `egrang` tidak semua anak bisa
memainkannya. Agar anak bisa memainkan `egrang` dengan lancar dibutuhkan
latihan berkali-kali. Banyak juga anak yang tidak bisa menjaga keseimbangan
ketika bermain `egrang` sering terjatuh dan terkilir. Jenis permainan seperti
ini memang sedikit membahayakan. Tetapi, tetap saja, jenis permainan ini
menggembirakan, baik bagi anak yang bermain maupun yang hanya menjadi
penonton. Sebagai pelengkap, perlu juga diketahui permainan tradisional yang
dimainkan anak-anak juga mengajarkan anak belajar berhitung. Jenis permainan
seperti `congklak`/`dakon` baru bisa dimainkan kalau anak sudah bisa berhitung.
Tentu saja, ini yang sangat perlu diketahui, semua jenis permainan tradisional
membutuhkan keterampilan dan kejujuran.
***
Seiring dengan perjalanan waktu sedikit demi sedikit
terjadi proses penghilangan permainan tradisional. Anak-anak generasi baby boomer yang dulu akrab dengan permainan tradisional,
anak-anak generasi berikutnya yang lahir di awal abad 21 ini karena arus
globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang demikian pesat
perlahan namun pasti menggeser permainan tradisional. Mereka sudah tidak lagi
mengenal itu main `galasin`, `egrang`, `benteng`, atau `gangsing`. Salah satu
tudingan bisa-bisa saja karena semakin sempitnya lahan untuk bermain anak-anak.
Di samping itu, ada sebagian orang tua yang merasa tenang kalau anak-anaknya
bermain di rumah. Orang tua seperti ini untuk mengantisipasi agar anak-anaknya
betah di rumah mau tidak mau menyediakan mainan-mainan buatan pabrik yang
harganya boleh jadi harus merogoh kantung lebih dalam lagi.
Mengapa ada kecenderungan orang tua saat ini melarang
bermain di luar? Apakah orang tua sekarang lebih mengutamakan peran menjaga dan
menjalankan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan fisik anak, serta memastikan
anak menjalankan kewajiban utama seperti sekolah? Mengapa jadi ada kebalikan
dengan pola asuh orang tuanya terdahulu yang lebih mengupayakan anak bermain di
luar agar anak dapat bersosialisasi, mengembangkan kreativitas, dan mampu
berkompetisi di masa yang lebih sulit secara finansial? Kalau direnungkan,
orang tua generasi sebelumnya lebih berpikir logis karena mereka sadar
keseimbangan aktivitas fisik, kognitif, dan sosial, penting untuk perkembangan
anak. Jadi, justru orang tua sekarang kurang menyadari semua itu. Orang
tua sekarang lebih cenderung mengarahkan anaknya agar nantinya menjalankan
peran orangtua yang wajib bekerja keras demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Untuk itu, tidak aneh jika suatu saat nanti generasi jenis ini (disebut sebagai
`generasi baby boomer`) kurang memikirkan keseimbangan kehidupan keluarga.
Di awal abad 21 ini (tepatnya tahun 2010 dan
seterusnya) muncul anak-anak yang dikenal dengan istilah anak-anak generasi
alfa. Bagaimana permainan anak-anak anak-anak generasi
Alfa? Istilah anak-anak generasi alfa merupakan julukan yang pertama
kali diorbitkan dalam tabloid Nova, 22 September 2015 yang mengutip
pendapat Mark Mc Crindle. Dimaksudkan dengan generasi alfa atau generasi broadband
atau mobile ialah generasi keturunan awal generasi Z dan terakhir generasi Y. Ada orang yang memprediksikan bahwa generasi
alfa diprediksi adalah orang-orang ekspresif dan hitec karena
lahir dan berada di era informasi. Bahkan, anak-anak generasi alfa
diprediksi lebih pragmatis materialistik karena dibesarkan di era kemajuan
teknologi. Mereka juga berpikir dengan sangat praktis, kurang memerhatikan
nilai-nilai, lebih egois. Selain itu, anak-anak `generasi alfa` cenderung
memiliki berat badan berlebih karena hidup di era menjamurnya makanan cepat
saji dan junk food.
Karena anak-anak generasi alfa lahir di era
informasi, jenis permainannya juga berbeda dengan generasi terdahulu (apalagi
generasi penulis yang lahir di penghujung tahun `50-an). Anak-anak generasi
alfa ketika disetelkan lagu-lagu MP3 dari smartphone kepalanya
bergerak-gerak seakan mengikuti irama. Kalau tayangan video dari Youtube
dimatikan, ia menjerit seolah tak rela. Permainan anak-anak generasi
alfa ini menggunakan teknologi layar sentuh atau disapu dengan jari baik
itu berupa smatphone maupun ipad atau notebook
sehingga anak-anak generasi alfa dalam permainannya membutuhkan
biaya yang tidak sedikit dan lebih bersifat individual. Kemajuan teknologi yang
demikian pesat telah mempengaruhi gaya hidup anak-anak generasi alfa.
Gaya hidup generasi alfa lebih pragmatis materialistis.
Ada perbedaan yang sangat jauh antara anak-anak
terdahulu (before) dengan anak-anak yang sekarang (today)
yang dinamakan anak-anak generasi alfa. Anak-anak yang terdahulu (before)
dalam permainan lebih mengutamakan kebersamaan. Ada kejujuran, kebersamaan,
kecekatan, kelincahan, kekuatan fisik, kreativitas, dan yang paling penting,
yaitu adanya toleransi. Bagaimana dengan anak-anak generasi alfa (today)?
Mereka masing-masing asyik dengan gadget-nya yang tinggal menggeser
tampilan-tampilan di layar gadget dengan telunjuknya. Tidak
dibutuhkan fisik. Tidak ada kecekatan. Tidak ada kontak fisik. Lebih
menunjukkan sikap individualisnya. Tanpa disadari generasi ini tidak punya
toleransi. Tidak punya kepedulian karena mereka lebih mengedepankan sifat
egosentrisnya. Tidak mustahil `generasi alfa` akan menderita penyakit anti
sosial atau bisa juga sosiopat.
***
Jakarta sebagai ibukota negara seperti kota-kota besar
lainnya di Indonesia (bahkan dunia) memang memiliki daya tarik tersendiri. Kota
ini setiap saat mengundang orang untuk mengadu nasib. Walaupun banyak di antara
mereka yang gagal hidup di kota Jakarta, tetap saja masih banyak orang yang
nekad untuk belajar mengubah nasibnya. Berpindahnya orang-orang dari daerah
atau desa ke kota yang dinamakan urbanisasi memang tidak bisa dibendung.
Akibatnya, kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia semakin padat.
Lahan-lahan kosong semakin langka. Rumah-rumah penduduk yang semula berhalaman
luas kini disesaki dengan rumah-rumah kontrakan/petak. Hal inilah yang menjadi
salah satu faktor penyebab anak-anak generasi alfa lebih cenderung duduk
manis di rumah seraya bermain gadget
atau permainan jenis teknologi canggih lainnya. Untuk itu, wajar-wajar saja kalau Jakarta bisa saja
disebut sebagai kota khusus anak-anak generasi alfa.
Bukan hanya Jakarta, kota-kota di negara ini sudah menjadi kota khusus untuk anak-anak generasi alfa. Kota-kota di negara ini telah tergerus oleh arus globalisasi. Banyak pemerintah kota di negara ini yang sangat minim menyediakan taman-taman khusus bermain anak-anak. Akibatnya, anak-anak kabur ke tempat-tempat play station atau game online yang cenderung menjadikan anak ke depannya sosiopat karena boleh jadi jenis-jenis permainan tersebut memengaruhi perilaku anak yang menjurus pada perilaku antisosial. Jalan-jalan lingkungan di tempat-tempat tinggal penduduk kota dimanfaatkan anak-anak untuk bermain. Tetapi, kondisi tempat seperti itu jelas tidak aman karena tempat lalu lalang kendaraan bermotor. Agar mereka tidak melakukan aktivitas di luar rumah, para orang tua mengambil jalan pintas, yaitu melarang anaknya bermain. Sebagai gantinya berikan mainan buatan pabrik atau gadget, ipad, smartphone, atau notebook karena yang penting anak sambil bermain bisa duduk manis walaupun berjam-jam anak-anak malang ini harus memelototi layar monitor. Beginilah gambaran kota yang dihuni anak-anak alfa. Kota yang bisa digolongkan sebagai kota yang tidak sehat.
Kota yang sehat adalah kota yang memiliki daya dukung
yang sehat bagi warganya. Untuk itu, kota yang sehat memiliki indikator standar
kenyamanan. Selain itu, juga memiliki manajemen perkotaan yang mampu menjaga
keutuhan kawasan per kawasan. Artinya, kota yang nyaman harus memiliki
keberpihakan pada kelestarian lingkungan dengan menyediakan sekurang-kurangnya
tiga puluh persen luas lahan kotanya untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Sebagai
tambahan, kota yang nyaman harus memiliki institusi khusus yang dapat
memobilisasi sumber-sumber pembangunan pemukiman dan perkotaan yang
berkelanjutan dan sampai batas tertentu harus terlepas dari mekanisme pasar (Mengendalikan
Masa Depan/Afthonul Afif, 2015:69). Apakah mungkin pembangunan
perkotaan di Indonesia bisa terlepas dari mekanisme pasar kalau masih saja
pemerintah ini sangat tergantung pada bantuan luar yang dalam hal ini
lembaga-lembaga internasional?
***
Kota-kota di Indonesia sama seperti kota-kota di
dunia sekarang ini sebagian besar penghuninya adalah anak-anak kota generasi
alfa. Anak-anak kota generasi alfa memang banyak juga yang
berprestasi akademik. Angka-angka rapot atau ijazahnya memuaskan bahkan
tinggi-tinggi. Tetapi ada yang terlupakan, mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan
telah tidak lagi memiliki kecerdasan emosional dan spiritual sehingga banyak di
antara mereka yang cepat putus asa. Mereka tidak memiliki toleransi dan
kepedulian pada sesama. Banyak di antara mereka yang menderita penyakit
psikopat atau sosiopat. Apakah kalau nanti banyak di antara mereka yang
menderita penyakit psikopat atau sosiopat akan didiamkan saja?
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)