Sabtu, 03 Oktober 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (83)

Menyoal tentang Harapan

Subagio S. Waluyo


A K U

 

                       Chairil Anwar

 

Kalau sampai waktuku

`Ku mau tak seorang `kan merayu

Tidak juga kau

 

Tak perlu sedu sedan itu

 

Aku ini binatang jalan

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

 

Dan aku lebih tidak perduli

 

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

                           Maret 1943

 


***

Puisi di atas bukan puisi yang asing lagi bagi kita. Puisi tersebut sudah kita kenal sejak di bangku SD karena guru-guru kita di SD sudah mengenalkannya pada murid-muridnya. Pada waktu itu guru-guru kita menyuruh murid-muridnya untuk membacakannya dan bila perlu dihafalkan agar bisa dideklamasikan. Kita pun bisa menyaksikan teman-teman kita (termasuk kita sendiri) dengan mimik muka yang dibuat-buat membacakan dan ada juga yang mendeklamasikannya.  Apakah pada waktu itu kita tahu isi puisi tersebut?  Rasa-rasanya, jika ada yang tahu, hanya beberapa murid.  Sebagian besar lebih cenderung untuk membaca dan mendeklamasikannya.  Tentang isinya atau amanatnya (pesan moral) yang ingin disampaikan penyairnya tidak pernah terpikirkan oleh kita.

Berkaitan dengan puisi Chairil Anwar di atas (agar kita terhindar dari membacakan dan mendeklamasikan puisi dengan mimik yang dibuat-buat namun tidak mengerti isi puisinya) ada hal-hal yang perlu kita bicarakan di sini.  Isi puisi di atas, kalau kita amati ada unsur harapan penyairnya tentang sesuatu yang diperjuangkan.  Baris yang berbunyi `Ku mau tak seorang `kan merayu dan Aku mau hidup seribu tahun lagi  merupakan salah satu bukti bahwa sang penyair berkeinginan agar tidak ada kompromi (politik dagang sapi) dalam mewujudkan kemerdekaan negeri ini (`Ku mau tak seorang `kan merayu). Oleh karena itu, ia bertekad agar negeri ini bisa benar-benar menikmati udara kemerdekaan selama- lamanya (Aku mau hidup seribun tahun lagi).            

Di samping dua baris yang secara jelas menunjukkan unsur harapan dengan adanya kata `mau` masih ada dua baris dan satu bait yang sebenarnya juga menunjukkan hal yang sama.  Kita bisa perhatikan pada baris yang berbunyi Aku tetap meradang menerjang dan Aku akan lebih tidak perduli.  Kedua baris itu menyatakan bahwa sebagai pejuang tidak ada kata pantang menyerah karena ada satu prinsip `merdeka` atau `mati` dan seorang pejuang tidak perduli dengan tubuh yang penuh luka, bahkan nyawa pun jika memungkinkan dikorbankan.  Sedangkan bait yang menunjukkan unsur harapan terlihat pada Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri.  Artinya, seorang pejuang yang bertekad mewujudkan kemerdekaan, ia harus menahan segala macam bentuk penderitaan. Ia harus perjuangkan kemerdekaan itu dengan menahan segala macam bentuk penderitaan karena ia merasa yakin bahwa penderitaan itu pada akhirnya akan hilang dan berganti dengan kenikmatan.         

Agar kita memiliki pemahaman yang utuh tentang puisi “Aku” ada baiknya kita meangambil sesuatu yang tersirat pada puisi di atas.  Pada puisi “Aku”, jika kita renungkan, ada hal yang ingin disampaikan penyairnya, yaitu:

·         setiap orang pada saat menghadapi sesuatu yang pelik atau tidak mengenakkan (yang  membuat seseorang boleh jadi menderita) harus diawali dengan sikap optimis;

·         sudah menjadi ketentuan Tuhan bahwa segala sesuatu yang ingin kita capai (kemerdekaan) harus dimulai dengan pengorbanan yang sudah tentu akan menimbulkan penderitaan;

·         menghindari penderitaan dan menggantikannya dengan kompromi (melakukan dialog dengan kelompok lain) adalah sikap yang perlu dijauhi karena hasil yang diperoleh melalui kompromi tidak seoptimal dari hasil yang diperoleh karena perjuangan; dan

·         tidak selamanya penderitaan akan mengikuti kehidupan seseorang (bangsa) karena semua itu pasti akan berakhir dengan kebahagiaan manakala seseorang benar-benar sabar melakoni penderitaannya.             

Uraian di atas sangat boleh jadi kurang memuaskan kita. Karena itu boleh-boleh saja kita mengambil contoh lain sehingga kita memiliki gambaran yang utuh tentang harapan. Salah satu cara untuk memperluas wawasan kita tentang harapan adalah dengan menelaah sebuah cerita atau kisah. Teks di bawah ini, yang akan kita analisis terutama dari sisi harapannya, diharapkan mempermudah kita memahami konsep tentang manusia dan harapan.

 

BANGKU BATU

 

Motinggo Busye

…………………………………………………………………………………………………          Sementara itu, hari ulang tahunku yang ke tujuh puluh enam sudah dekat pula.  Ketika aku melihat kalender, ulang tahunku jatuh pada hari Minggu.  Secara tak sengaja, menyelinap saja ingatan kepada Juliati.  Jika aku tak membuat kesalahan yang gegabah ketika menelpon dulu, tentulah hari ulang tahunku yang ketujuh puluh enam dirayakan di bangku batu di Taman Monas itu bersama Juliati.

          Setelah shalat subuh dan membaca sura Al Mulk dan mencicil beberapa ayat Al Qur`an, sebagaimana hari Sabtu kemarin, hari Minggu itu aku melangkah ke Monas menjinjing satu boks berisi kue-kue.

          Aku sungguh terkejut karena kulihat ada seorang wanita duduk di bangku batu itu.  Dan wanita itu tak lain Juliati.  Aku sangat gembira.  Sangat sangat sangat gembira. 

          “Roy.  Selamat ulang tahun, semoga tetap sehat dan panjang umur,”  katanya seraya memberi sebuah bungkusan kecil.  Juliati menyuruh aku membuka kado itu.  Ternyata sepasang sepatu olahraga.

          “Roy.  Kautahu, mengapa aku tidak ke sini selama hampir enam bulan?  Mesti-nya kau sudah tahu, Roy,” katanya.

          “Aku sudah tahu.  Kamu jengkel sebab aku melakukan apa yang kamu larang.  Aku minta maaf,” kataku.

          “Oke. Tapi kamu juga harus maafkan Willy, Roy. Aku tak ingin ada konflik dengan anakku sendiri.  Orang setua kita harus pandai-pandai mengelak dari konflik.  Betul kan?  Tapi kini aku berani ke sini lagi, karena Willy sudah tak di Indonesia lagi.  Dia sudah kawin dengan orang bule itu.  Kini aku sudah sendirian di rumah.  Mengambil uang pensiun juga sendiri, begitu juga membayar rekening listrik dan telepon,” kata Juliati.

          Juliati meneruskan:”Sekarang kamu boleh menelpon saya anytime, Roy.  Namun jangan harapkan aku yang menelpon kamu.  Aku tetap saja tidak akan menelpon kamu.  Aku seperti mengidap trauma, selalu merasa istrimu masih hidup.”  

          Karena Juliati kali ini yang banyak bicara, hampir saja aku lupa mengucapkan terima kasih karena dia ingat hari ulang tahunku dan memberi kado dengan  ukuran sepatu olah raga yang pas pula.

          Tetapi ada satu hal penting.  Walapun setelah pertemuan itu aku dan Juliati masih bertemu terus setiap pekan, dan walaupun aku sudah diperkenankan berkunjung ke rumahnya, tetapi satu hal senantiasa aku takut menyatakan kepadanya.  Itu menjadi sebuah rahasia abadi.  Rahasiaku itu aku pendam dalam-dalam.

          Katakanlah aku bisa coba-coba menyatakan hal itu kepada Juliati, dan Juliati pun senang hati menerimanya.  Kalau memang begitu, tentu aku tidak menderita apa-apa malahan tambah bahagia, tambah sehat dan punya masa tua yang indah.  Katakan- lah semisal Juliati menerimanya!

          Sebaliknya, jika hal itu kunyatakan pada Juliati, dan Juliati tak senang dan dia menolak, aku akan terkena stroke.  Tak sedikit orang-orang berusia lanjut tidak mampu menerima hal yang mengejutkan lalu terkena stroke.

          Lebih bagus seperti ini saja.  Tiap Minggu duduk mengobrol berdua di bangku batu ini.  Kami tak kurang cerita-cerita masa lalu kami, atau cerita masa lalu teman-teman kami.  Bahkan kami sering sama mengisahkan cerita yang sudah daur ulang.  Sebagai orang lanjut usia kami sadar bahwa kami cuma punya cerita-cerita tentang masa lalu.  Kami hampir tak punya cerita tentang masa datang.  Itu sebenarnya bisa, jika aku punya keberanian untuk menyatakan sesuatu yang amat rahasia itu kepada Juliati.  Ah, lebih baik itu tetap rahasia terpendam.  Bangku batu itu nantinya menjadi batu yang tak berguna, menjadi batu biasa seperti batu-batu lainnya.  Tidak, aku tidak ingin ke-hilangan bangku batu ini.

          Pada akhirnya aku coba juga memberanikan diri untuk menyatakan hal itu.  Jika dia menolak, aku sudah rela sekiranya terkena stroke.

          “Juli,” ucapku gemetar, “Aku akan menyatakan sesuatu.”

          Dia menatapku, kemudian meluncurlah ucapannya:”Sebaiknya jangan.  Aku sudah tahu apa yang mau kaukatakan.  Kita kan sudah tua? Buat apa kita menjadi anak kecil lagi, Roy?  Mendingan seperti ini saja seterusnya.  Kamu hidup di rumahmu, menggoreng telur mata sapi dan tempe setiap pagi.  Aku di rumahku, menunggu surat-surat dari anakku.  Sekali seminggu kita ketemu di bangku batu ini.  Kita tidak terlibat dalam konflik, bukan?”

          Lama aku terdiam.

          “Jika orang satu rumah, biasanya ada konflik.  Orang tua sebaiknya menghindari konflik,” katanya.

          “Betul juga,” ucapku.

          “Jangan marah Roy.  Walaupun sikapku aneh, aku tetap saja menganggap istrimu masih hidup.  Tahu kamu, aku hadir di bangku batu ini seolah-olah mencuri-curi agar istrimu dan suamiku tidak memergoki kita,” ucapnya tertawa kecil.

 

(Dua Tengkorak Kepala, 1999:119 – 123)

 

 ***

Meskipun kita hanya mengambil sebagian dari cerpen “Bangku Batu”, kita sudah melihat adanya unsur harapan pada kisah di atas.  Unsur harapan tersebut tersurat dari ucapan dan tindakan tokoh `aku` terhadap Juliati teman lamanya ketika di SMA dulu.  Kalau tokoh `aku` demikian menaruh harapan pada Juliati (mengingat sikap Juliati yang demikian baik dan memberikan hadiah di saat hari ulang tahunnya yang ke-76), tidak demikian halnya dengan Juliati. Juliati ternyata tidak memberikan harapan pada tokoh `aku` (tidak merespon keinginan tokoh `aku`).  Mengapa Juliati tidak menyambut keinginan tokoh `aku`? Ia menolak keinginan tokoh `aku` karena  ia menyadari, baik dirinya maupun tokoh `aku` sudah sama-sama tua.  Di samping itu, bayangan istri tokoh aku masih melekat di benaknya.  Bahkan, ia merasa bahwa pertemuan rutinnya di bangku batu itu lebih merupakan tempat persembunyian dari intaian mendiang istri tokoh `aku` dan juga suaminya sendiri yang telah lama meninggal dunia.  Oleh karena itu, ia mengambil keputusan agar hubungannya seperti sekarang saja (hubungan persahabatan).    

Jika kita telusuri teks di atas, unsur harapan yang ada pada tokoh `aku` dimulai ketika pada suatu Minggu tokoh `aku` bertemu kembali dengan Juliati, temannya, setelah selama enam bulan tidak bertemu.  Bahkan, bukan hanya itu, ternyata Juliati ingat betul bahwa hari itu merupakan ulang tahun tokoh `aku` yang ke-76.  Tokoh `aku` yang mengira Juliati marah padanya, ternyata salah duga.  Justru, Juliati memberikan surprise, dengan memberikan hadiah ulang tahunnya berupa sepatu olah raga (“Roy.Selamat ulang tahun, semoga tetap sehat dan panjang umur,” katanya seraya memberi sebuah bungkusan kecil.  Juliati menyuruh aku membuka kado itu).  Dengan pemberian itu bagi tokoh `aku` ada anggapan bahwa Juliati sangat memperhatikan dirinya sehingga tumbuh kesempatan untuk menyatakan harapannya.  Harapan itu semakin kuat karena anak bungsu Juliati, Willy, sudah tidak berada lagi di Indonesia.  Di samping itu, setelah anaknya pergi, Juliati tinggal sendiri (“ Oke. Tapi kamu juga harus maafkan Willy, Aku tak ingin ada konflik dengan anakku sendiri.  Orang setua kita harus pandai-pandai mengelak dari konflik.  Betul kan?  Tapi kini aku berani ke sini lagi, karena Willy sudah tak di Indonesia lagi.  Dia sudah kawin dengan orang bule itu. Kini aku sudah sendirian di rumah.  Mengambil uang pensiun juga sendiri, begitu juga membayar rekening listrik dan telepon,” kata Juliati).         

Harapan untuk menyampaikan hasratnya semakin kuat manakala Juliati membolehkan menelponnya setiap waktu meskipun dari pihak Juliati tidak akan menelpon tokoh `aku` karena masih ada trauma dengan istrinya ( ”Sekarang kamu boleh menelpon saya anytime, Roy.  Namun jangan harapkan aku yang menelpon kamu.  Aku tetap saja tidak akan menelpon kamu. Aku seperti mengidap trauma, selalu merasa istrimu masih hidup” ).  Selayaknya, tokoh `aku` ketika Juliati mengatakan bahwa ia tidak berkenan menelponnya karena masih ada trauma dengan istrinya, ia harus menyadari kalau Juliati tidak menghendaki adanya hubungan yang lebih jauh dari sekedar berteman.  Tetapi, tokoh `aku` yang tidak pandai membaca perkataan seseorang, bertindak sebaliknya.  Artinya, ia tetap memiliki harapan terhadap Juliati (Tetapi ada satu hal penting.  Walapun setelah pertemuan itu aku dan Juliati masih bertemu terus setiap pekan, dan walaupun aku sudah diperkenankan berkunjung ke rumahnya, tetapi satu hal senantiasa aku takut menyatakan kepadanya.  Itu menjadi sebuah rahasia abadi.  Rahasiaku itu aku pendam dalam-dalam) meskipun ia juga menyadari adanya risiko yang akan terjadi jika diterima keinginannya dan ditolak (Katakanlah aku bisa coba-coba menyatakan hal itu kepada Juliati, dan Juliati pun senang hati menerimanya.  Kalau memang begitu, tentu aku tidak menderita apa-apa malahan tambah bahagia, tambah sehat dan punya masa tua yang indah.  Katakanlah semisal Juliati menerimanya! Sebaliknya, jika hal itu kunyatakan pada Juliati, dan Juliati tak senang dan dia menolak, aku akan terkena stroke.  Tak sedikit orang-orang berusia lanjut tidak mampu menerima hal yang mengejutkan lalu terkena stroke).          

Dengan cukup berani tokoh `aku` menyampaikannya (“Juli”, ucapku gemetar, “Aku akan menyatakan sesuatu” ). Juliati yang pandai membaca keinginan tokoh `aku` meskipun belum selesai disampaikan secara langsung menjawabnya (Dia menatapku, kemudian meluncurlah ucapannya:”Sebaiknya jangan.  Aku sudah tahu apa yang mau kaukatakan.  Kita kan sudah tua? Buat apa kita menjadi anak kecil lagi, Roy?  Mendingan seperti ini saja seterusnya.  Kamu hidup di rumahmu, menggoreng telur mata sapi dan tempe setiap pagi.  Aku di rumahku, menunggu surat-surat dari anakku.  Sekali seminggu kita ketemu di bangku batu ini.  Kita tidak terlibat dalam konflik, bukan?”).  Jawaban Juliati memupus harapan tokoh `aku` walaupun dibujuk dengan “Jangan marah Roy.  Walaupun sikapku aneh, aku tetap saja menganggap istrimu masih hidup.  Tahu kamu, aku hadir di bangku batu ini seolah-olah mencuri-curi agar istrimu dan suamiku tidak memergoki kita,” ucapnya tertawa kecil.          

 ***

Potongan cerita di atas mengajarkan kita bahwa tidak semua harapan yang kita inginkan dapat terkabul dengan baik. Manakala harapan terkabul kita tidak boleh melupakan itu merupakan suatu kenikmatan dari-Nya.  Namun, manakala kita tidak memperolehnya kita tidak pun harus berbesar hati.  Di sisi lain, kita pun selayaknya pandai melihat suatu fenomena manakala ada ucapan atau ungkapan (tersirat) yang menunjukkan tidak adanya titik harapan buat kita. Hal itu sangat membantu kita agar kita tidak terlalu terburu-buru menyampaikan keinginan atau harapan kita walaupun kita melihat banyak sela yang seringkali mempengaruhi kita. 

Kamis, 01 Oktober 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (82)

Menyoal tentang Pandangan  Hidup 

Subagio S. Waluyo


“Aku lupa.  Belum  menanyakan namamu.”

“Namaku Humam.  Engkau siapa?”

“Barman.”

“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya.  Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.  Di sini, nama tak ada gunanya.”

Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan.  Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya.  Apa bedanya di kota dengan di gunung?  Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.

“Humam, Hum atau Mam.  Engkau bisa usahakan telepon?”  Barman ingat Popi.  Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.

“Untuk apa.  Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”    

Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami.  Dan ia dapat mengagumi.

“Jadi bagaimana?”

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

“Anakmu.  Istrimu.  Keluargamu.  Sahabatmu.”

“Semua sudah kulepaskan.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Dan aku?”

“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

Untuk beberapa lama mereka diam.  Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri!  Pikirannya berjalan-jalan.  Sampai Humam menyentuh tangannya.  “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.

“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung.  Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku.  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik.  Beban itu sudah kulepaskan.”

Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri.  Sedangkan ia merasa itu penderitaan.  Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

***

Salah satu kelebihan manusia diciptakan Tuhan adalah manusia memiliki tanggung jawab.  Karena memiliki tanggung jawab, manusia juga makhluk pengabdi. Untuk mengabdi (kepada Sang Khalik tentunya) manusia memerlukan pedoman atau aturan yang kita namakan sebagai pandangan hidup (boleh juga agama).  Apa itu pandangan hidup?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba  kita dapat  amati dua potongan kisah yang ditulis oleh Kuntowidjojo berikut ini.

 

“Katakanlah, Cucu.  Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”

“Tidak ada , Kakek”, kataku,  keluar begitu saja dari kesadaranku. “Tidak ada yang lebih dari itu.”

“Bagus.  Tidak kusangka kau akan sepandai ini, Cucu.” Ia menepuk pundakku.  Kemudian membenarkan letak duduknya dan kembali menatap bunga-bunga itu.

“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melam-bangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa.  Di luar mata-hari membakar.  Hilir-mudik kendaraan.Orang berjalan ke sana-kemari memburu waktu.Pabrik-pabrik ber- dentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet  me-mainkan tangannya.  Pemimpin meneriakkan semboyan kosong.  Anak-anak bertengkar merebut layang-layang.  Apakah arti-nya semua itu, Cucu?  Mereka semua  menipu diri sendiri.  Hidup ditemukan dalam ketenangan.  Bukan dalam hiruk-pikuk dunia.  Tataplah bunga-bunga di atas air itu.  Hawa dingin menyejuk hatimu.  Engkau menemukan dirimu.  Engkau akan tahu, siapakah dirimu.Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”

Aku mendengarkan sebaik-baiknya.  Ia mengatur nafas.  Lalu berdiri.

“Nah, sudah sampai waktunya kita jalan-jalan!”

Kami berjalan. Menerobos pohon-pohon bunga. Pada setiap bunga kakek men- jentik, tertawa. “Bagus.  Bagus sekali bukan, cucu?” Aku tersenyum.  “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar. Membuat dunia tenang. Ini dunia kita!”   

 

(Dilarang Mencintai Bunga-bunga,1996:12-13)

 

Sahabat tua itu mengajaknya bersama menghabiskan waktu. ”Waktu,” kata sahabat itu, “Sesuatu harus kita nikmati.Seperti  juga benda lainnya.” Barman menam-bahkan:”Ya, atau kita makan waktu, atau kita dimakan waktu.”  Dan ia tertawa. “Kita ber- sahabat, kita mesti ramah!” sahabat itu meneruskan. “Mengapa mesti bermusuhan?”

Mereka pun menyiapkan diri untuk suatu perjalanan yang sesuai dengan laki-laki tua.  “Inilah perjalanan dua orang kakek-kakek,” kata sahabat itu.  Di rumah terdapat pancing.  Barman dibawa ke belakang rumah.  Ada sebuah jalan terbentang di situ.  “Engkau mau mancing atau menjala, Bung?”

“Aku tak biasa dengan air sungai,” kata Barman.

Sahabat itu hanya tertawa.  “Engkau mesti belajar dari hidup ini.”

“Eh, engkau mau juga kita membawa telur? Dan jangan lupa korek api.  Menurut  tampangmu, kau ini sebangsa orang yang belum bahagia waktu kecil-mu, ya.  Inilah saat kauulang kembali riwayat itu.  Bertualang di gunung.”

Barman masih harus mempelajari sahabat barunya itu.  Orang itu suka bicara, tidak seperti diduganya semula.

“Jauhkah perjalanan kita?”

“Orang gunung akan mengatakan dekat saja.  Apa peduli kita!”  Laki-laki itu menunju-nunjuk suatu arah, berbelok-belok dengan jari yang melayang-layang di udara.  Mereka pun keluar dari pekarangan.  Ketika sampai di bawah pohon cemra, Barman baru teringat sesuatu, ia berhenti.

“Apa?” tanya sahabat barunya.

“Aku lupa.  Belum  menanyakan namamu.”

“Namaku Humam.  Engkau siapa?”

“Barman.”

“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya.  Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.  Di sini, nama tak ada gunanya.”

Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan.  Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya.  Apa bedanya di kota dengan di gunung?  Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.

“Humam, Hum atau Mam.  Engkau bisa usahakan telepon?”  Barman ingat Popi.  Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.

“Untuk apa.  Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”    

Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami.  Dan ia dapat mengagumi.

“Jadi bagaimana?”

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

“Anakmu.  Istrimu.  Keluargamu.  Sahabatmu.”

“Semua sudah kulepaskan.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Dan aku?”

“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

Untuk beberapa lama mereka diam.  Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri!  Pikirannya berjalan-jalan.  Sampai Humam menyentuh tangannya.  “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.

“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung.  Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku.  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik.  Beban itu sudah kulepaskan.”

Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri.  Sedangkan ia merasa itu penderitaan.  Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

 

(Khotbah di Atas Bukit, 2000:68-71)

 

***

Kedua potongan kisah di atas memberikan banyak pandangan hidup.  Jika kita amati secara teliti, kita akan mendapatkan ada hal-hal yang sama tentang ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat), baik yang dikemukakan oleh si pemelihara bunga-bunga (kakek) kepada anak tetangganya (cucu) pada cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” maupun oleh Humam kepada Barman (pada novel Khotbah di Atas Bukit). Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat) itu di antaranya sebagai terlihat pada tabel berikut ini.

“Dilarang Mencintai Bunga-bunga”

Khotbah di Atas Bukit

1.  

“Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”

1.  

“Inilah saat kauulang kembali riwayat itu.”

2.  

“Segalanya mengendap…Bunga- bunga di atas air ini melambangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa…. Mereka semua  menipu diri sendiri.  Hidup ditemukan dalam ketenang an. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu.Hawa dingin menyejuk ha- timu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”

2.  

“Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.”

 

3.  

“Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar.  Membuat dunia tenang ini dunia kita!”

3.  

“Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”

4.  

 

4.  

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

5.  

 

5.  

“Pertemuan kita lain, Bung.Suatu kebetulan. Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

6.  

 

6.  

“Itu sudah berjalan, dan berjalan de-ngan baik.  Beban itu sudah dilepaskan.”

7.  

 

7.  

“Keadaanku ialah ketiadaanku.”

“Atau sebaliknya.”

Dari tabel di atas kita menemukan ada beberapa ungkapan yang bermakna sama, seperti  “Hidup ditemukan dalam ketenangan” dengan “Kesendirian adalah hakikat kita “  atau  “Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu,siapakah dirimu”  dengan  “Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”  Ungkapan-ungkapan tersebut  menunjukkan betapa kayanya pandangan hidup yang dimiliki penulisnya (Kuntowidjojo).  Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan nasihat itu juga merupakan sarana kita untuk bercermin seraya bertanya pada diri sendiri : selama di dunia ini, apakah kita telah melakukan peran kita sepenuhnya selaku manusia di hadapan Sang Khalik?          

Sehubungan dengan masalah pandangan hidup, seandainya ada orang yang bertanya: pandangan hidup apakah yang terbaik bagi manusia?  Kita tidak usah ragu-ragu bahwa pandangan hidup yang terbaik bagi manusia adalah yang datangnya dari Sang Khalik (agama).  Kita bisa mengatakan demikian karena:

·         agama bersifat universal sehingga kebaikan agama adalah kebaikan bagi seluruh umat manusia (tidak dibatasi oleh geografis, kesukuan, kebangsaan, ras, dan warna kulit);

·         agama tidak terikat oleh waktu, artinya sampai kapan pun, baik perintah maupun larangannya akan tetap berlaku dan tidak boleh disesuaikan oleh kondisi waktu;

·         agama datang dari Sang Pencipta Manusia yang tentu saja akan mengetahui sisi-sisi kelemahan manusia sehingga apapun yang diberikan untuk manusia sudah diperhitungkan oleh-Nya; dan

·         kebenaran agama yang datangnya dari Tuhan tidak bisa diragukan karena semua itu dikembalikan pada umatnya (sementara kebenaran yang diciptakan manusia sifatnya relatif dan mudah berubah karena manusia tidak akan mungkin bisa melepaskan sifat-sifat manusiawinya yang di satu sisi justru banyak memiliki kelemahan).

Dengan adanya butir-butir di atas, masih layakkah kita menyepelekan pandangan hidup yang datangnya dari Tuhan (agama)?  Risiko apa yang akan muncul jika kita menyepelekannya?  Coba, kita perhatikan petikan kisah berikut ini.

 

BULAN SABIT

                            Joni Ariadinata

…………………………………………………………………………………………

Kota itu pun milik hantu.  Gelombang dzikir mengutuknya dengan sopan, dan di lorong-lorong orang berbicara politik.  Maut tetap mengintai.  Perempuan-perempuan, para janda anak-anak orang tua; ribuan lelaki-perempuan dipaksa mati di jalan-jalan.Dibenam di hutan rawa.  Maka hantu berubah menjadi iblis:langit, katanya, kelak berwarna hitam kelam. 

“Kami benci tentara.”Rapat suara  bocah memandang langit. Beribu-ribu.Tak ada tangis: “Bapak kami mati ditembak!” bergelombang masuk hutan.  Dendam merubah dada menjadi besi.  Menjadi api. 

“Maukah kutembak? Kalian bukan pahlawan, tapi pengkhianat. Pemberontak tengik! Siapa pemimpin kalian, heh?!” bertanya.  Ribuan interogasi.  Bunyi salak pistol dan penjara.  Malam hitam kegelapan pintu-pintu dan jendela rumah.  Dijarah.  Tapi barisan beku mengatup:”Pemimpin kami adalah hati.  Kami tak pernah takluk pada iblis yang menciptakan api!  Kalianlah pengkhianat…” 

“Sial!!” raungan truk dan gemerocak rantai panser baja meletupkan amarah tengik.  Pusaran waktu pecah:gelombang api.  Segerombol serdadu menghanguskan kota, melipat peta dan menunjuk-nunjuk nyawa seperti layaknya Tuhan.  Berbulan-bulan.  Putus asa:”Seluruh penduduk Serambi telah menjadi pemberontak Tuhan…” 

”Kita memang Tuhan!” bunyinya menantang.  Raut wajah putus asa para serdadu, pekik darah mirip anak anjing yang sakit; menerjang dengan tangan mengayunkan karaben dan meledakkannya ke atas langit.  Glar!  Glar!  Glar!  “Tahan tembakanmu, Letnan!!” suatu hari.  Kekeruhan wajah tak ada cahaya.  Melihat jauh kejauhan yang kosong.  Setiap menit, menjadi detik, dan jam-jam yang meledak:”Kita digaji untuk membunuh, kau dengar, Kolonel? Kita memakan darah…” 

“Prajurit tak patut untuk berpikir.” 

“Kau kira kami ini apa?” 

“Kau menghamburkan peluru untuk sesuatu yang tidak jelas!” 

“Lalu apa bedanya?  Menembak angin atau menembak kepala, semua diajarkan dengan sama persis.  Dan kita harus bertanggung jawab.  Begitu mudahkah?”

“Benar!” serempak yang lain membetulkan.  Ketegangan merayap dan gigi gemeretak: “Perintah komando pusat telah membuat kita semua gila.  Berapa ribu nyawa lagi harus kita korbankan?  Seluruh penduduk menginginkan kematian; dan kita menyambutnya tanpa m erasa bahwa dengan itu kita telah menjadi pahlawan.  Mereka masuk hutan untuk sebuah keyakinan.  Sedang kita apa?  Bajingan tengik!  Jika semua orang di daerah ini memilih menjadi pemberontak, maka itu berarti seluruh wilayah Serambi sudah lenyap dalam peta negara.  Apakah kita akan mengusirnya, menembakinya, dan memusnahkannya seperti melenyapkan hutan untuk menjadikannya sebuah padang rumput tempat bermain golf para pemimpin politik?  Kalau itu pilihan presiden dan panglima, maka aku memilih berhenti.  Tembaklah aku, kolonel!  Engkau sudah lupa bahwa mereka yang kita perangi, adalah saudara kita sendiri.  Bukan segerombolan monyet seperti doktrin ajaranmu…” 

“Diam!  Semuanya diam! Kalian semua berada di bawah garis komando.  Setiap pem-bangkangan disiplin, akan diseret ke meja pengadilan militer.  Kau berani melanggar perintah, Letnan Sujarwo?” 

“Aku bicara sebagai manusia…” 

Glar! Letupan keras menghamburkan isi kepala.  Letnan Sujarwo ditembak menggeliat.  Lalu lenggang.  Mati.  Kolonel Hardi gemetar dengan amarah memuncak:”Siapa lagi yang mencoba menjadi pengkhianat, heh?  Dalam hirarki ini, akulah komandan.  Apa yang aku perintahkan adalah hukum! Tidak ada kata tidak…” menggelegar.  Keputusan yang salah.  Sunyi langit  mati dan bangkai Letnan Sujarwo menguapkan hawa panas kegelisahan para serdadu serentak berlompatan memekik.  Mengutuk.  Berpantul dari pohon ke pohon.  Suara-suara campur, jam memantik:serentet tembakan kembali memecah langit.  Kepul asap, menerjang daun; ledak gelegar granat, badai di kepala meletup.  Keputusasaan. 

“Aku bunuh kamu, Letnan!! Aku bunuh…” 

“Kopral!  Kau…” teriak-teriak keras. Gediblag kaki dan keriuhan gema sekarat saling hantam. 

“Gila!! Kita semua gila!!” 

Mereka menembak.  Saling menembak.  Menembak hening, memburu bayangan korban.  Dan bunyi kemerinting sisa mesiu, debu-debu, jatuh di mimpi bayi; menguak kencang, membangunkan ibu yang lantas mengalirkan air mata pedih.  Bersipongang dari ruang ke ruang.  Menjadi hujan,  Menjadi rintihan di lelap malam.  Gusti.

                                                                                 (1999:175—177)        

 

 ***

Kisah di atas merupakan gambaran manusia yang tidak menggunakan lagi agama sebagai pandangan hidupnya. Mereka saling menghabisi sesamanya.  Mereka telah menjadikan doktrin militer sebagai pandangan hidupnya atau agamanya yang baru. Ketika salah seorang di antara mereka terpanggil hati nuraninya, atas nama kesatuan orang seperti itu harus dihabisi. Jadi, pandangan hidup yang tidak berangkat dari agama akan menjadikan manusia menjadi kanibal bagi manusia lainnya.  Berbagai peristiwa yang telah memakan banyak korban anak bangsa ini merupakan tolak ukur kita bahwa pandangan hidup yang bukan agama, yang kita anut selama ini, ternyata telah gagal menjadikan kita lebih manusiawi lagi.  

 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...