Jumat, 15 April 2022

All You Need Is Love (101)

 Kota Gigantisme (3)

Subagio S.Waluyo


 (https://lefthandsymphony.wordpress.com/2010/02/26/misteri-kota-mati/)

Apa yang bisa kita katakan dari sebuah kota yang kotor, yang tidak terurus, di sana-sini timbul kemacetan, dan banjir setiap kali turun hujan? Kita akan mengatakan kota itu telah tidak terurus. Walikota atau gubernurnya sekalipun sudah tidak berkeinginan untuk mengurusi kotanya. Atau boleh juga kota itu telah mengalami kebangkrutan. Jangan-jangan APBD yang setiap tahun rutin digelontorkan oleh pemerintah pusat tidak menyisakan sedikit pun untuk melakukan pembangunan atau pemeliharaan kota? Kota-kota semacam ini jangan-jangan telah terkena stigma kota gigantisme.
Kota Gigantisme (3) dijadikan judul kumpulan tulisan kali ini. Disajikan untuk bisa dibaca, dipelajari, dan direnungkan oleh kita semua. Memang, isi kumpulan tulisan kali ini sebenarnya lebih merupakan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di blog dan website penulis.  Sebagian juga pernah diterbitkan dalam buku-buku penulis: Penampakan Nilai-Nilai Sosial dalam Karya Sastra Indonesia dan Dari Menjauhi Hipokrit ke Mengetuk Pintu Langit. Tapi, tidak ada salahnya kalau dimuat di sini, di blog ini, supaya pembaca-pembaca lain yang tidak sempat memiliki buku-buku tersebut bisa membacanya. Kumpulan tulisan Kota Gigantisme (3) ini merupakan kumpulan tulisan terakhir. Penulis ingin mengucapkan terima kasih pada anak penulis, Umair Shodiq dan Milla Karima, yang telah membuatkan untuk penulis beberapa gambar ilustrasi. Demi kesempurnaan dalam pembuatan kumpulan tulisan ini, segala. kritikan dan masukan sangat  penulis harapkan. Semoga sumbangan yang kecil ini bisa memberikan banyak manfaat.

31. Environmentalisme

32.  Menyoal tentang Apresiasi

33.  Menyoal tentng Koruptor (yang) tidak Korupsi

34.  Menyoal tentang Nyinyir

35.  Menyoal tentang Orang Gila

36.  Menyoal tentang Menguap

37.  Berkisah tentang Kepedulian

38.  Berkisah tentang Meok

39.  Berkisah tentang Palu Arit

40.  Berkisah tentang Orang yang Berpupur Darah

41.   Beragam Wajah

42.   Orang Miskin Dilarang Bla…Bla…Bla….

43.   Dipaksa Mengaku

44.   Manusia Kloning yang Pemurah

45.   Terjadilah Perubahan Sosial (1)

46.   Terjadilah Perubahan Sosial (2) 

47.    Sosok Perilaku Guru dalam Pandangan Dua Penyair 

48.   Blindspot

49.   PBB di Mata Penyair Taufik Ismail

50.   Tahun yang Menyesakkan

Jumat, 25 Maret 2022

All You Need Is Love (100)

Bahan Presentasi DOD dan GG (1)

Subagio S.Waluyo (ed.)


(https://drive.google.com/file/d/15YdBeeZOTBVEIy2X7L1DSNW1V1yyDJv7/view?usp=sharing)

Tanpa terasa kita sudah memasuki masa 21 tahun sejak pertama kali UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah diterapkan di negeri kita tercinta ini.  Undang-undang yang lima tahun kemudian diganti (agar lebih halus dikatakan diperbaharui) dengan UU Nomor 32 tahun 2004 pada akhirnya sepuluh tahun kemudian diperbaharui lagi dengan UU Nomor 23 tahun 2014. Jadi, sudah tiga kali dalam rentang waktu 21 tahun kita menggunakan undang-undang yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. Tapi, dengan kecirian isi yang khas pada undang-undang produk reformasi itu yang di antaranya berkenaan dengan disentralisasi, otonomi daerah, dan good governance sudahkah diterapkan sepenuhnya? Apakah masih ada persepsi bahwa bandul yang sekarang ada saat ini ke arah yang cenderung pada sentralisasi?  Atau malah sebaliknya, bandul tersebut semakin mendekati desentralisasi? Apakah otonomi daerah sudah benar-benar dilaksanakan tanpa ada campur tangan pusat terhadap daerah? Apakah good governance yang jauh sebelum munculnya baik undang-undang yang pertama maupun yang ketiga tentang Pemerintahan Daerah baik pilar-pilarnya maupun prinsip-prinsipnya sudah diterapkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut silakan dikaji lewat berbagai penelitian atau kalau tidak mau repot cari saja di berbagai media sosial yang memberitakan tentang ketiga hal itu.

Kali ini, saya, selaku editor sekedar memaparkan hasil pekerjaan orang lain (tentu saja ada beberapa hasil pekerjaan saya) dalam bentuk presentasi. Semua bahan presentasi yang dipaparkan sesuai dengan judulnya membahas seputar Desentralisasi dan Otonomi Daerah (DOD) serta Good Governance (GG).  Bahan-bahan presentasi yang termuat di sini bisa dijadikan stimulus bagi orang yang ingin menulis tentang DOD dan GG. Bisa juga dijadikan sebagai bahan pengayaan untuk mempelajari masalah-masalah di seputar DOD dan GG. Tentu saja sebagai bahan presentasi sangat-sangat mungkin tidak memuaskan orang-orang yang ingin mengkaji lebih jauh tentang DOD dan GG. Sebagai langkah awal apa salahnya jika tidak ada rotan akar pun berguna. Semoga sumbangsih ini bermanfaat buat saya secara pribadi dan juga pembaca. Selamat membaca dan mengkaji!

01.  Sistem Manajemen Nasional

02. Desentralisasi

03. Implementasi Kebijakan Desentralisasi 

04. Isyu-Isyu Strategis Desentralisasi di Indonesia

05. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

06. Kebijakan Penataan Daerah Terkait DOB Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014

07. Memperkuat Otonomi Daerah, Membangun Indonesia dari Daerah

08. Desentralisasi dan Otonomi Daerah 

09. Revitalisasi, Desentralisasi&Otonomi Daerah

10. Desentralisasi di Indonesia

11. Teori Desentralisasi dan Otonomi Daerah

12. Inovasi Daerah dalam Bab XXI-UU Nomor 23 Tahun 2014 

13. Urusan-Urusan Pemerintahan Hubungan Pusat dan Daerah

14. Tantangan Otonomi Daerah di Indonesia

15. Alasan Amandemen UUD 1945

16. Teori-Teori dalam Pemerintahan Daerah 

Rabu, 23 Maret 2022

All You Need Is Love (99)

 KOTA GIGANTISME (2)

Subagio S.Waluyo


Apa yang bisa kita katakan dari sebuah kota yang kotor, yang tidak terurus, di sana-sini timbul kemacetan, dan banjir setiap kali turun hujan? Kita akan mengatakan kota itu telah tidak terurus. Walikota atau gubernurnya sekalipun sudah tidak berkeinginan untuk mengurusi kotanya. Atau boleh juga kota itu telah mengalami kebangkrutan. Jangan-jangan APBD yang setiap tahun rutin digelontorkan oleh pemerintah pusat tidak menyisakan sedikit pun untuk melakukan pembangunan atau pemeliharaan kota? Kota-kota semacam ini jangan-jangan telah terkena stigma kota gigantisme.

Kota Gigantisme (2) dijadikan judul kumpulan tulisan kali ini. Disajikan untuk bisa dibaca, dipelajari, dan direnungkan oleh kita semua. Memang, isi kumpulan tulisan kali ini sebenarnya lebih merupakan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di blog dan website penulis.  Sebagian juga pernah diterbitkan dalam buku-buku penulis: Penampakan Nilai-Nilai Sosial dalam Karya Sastra Indonesia dan Dari Menjauhi Hipokrit ke Mengetuk Pintu Langit. Tapi, tidak ada salahnya kalau dimuat di sini, di blog ini, supaya pembaca-pembaca lain yang tidak sempat memiliki buku-buku tersebut bisa membacanya. Insya Allah kumpulan tulisan ini akan bersambung ke Kota Gigantisme (3). Penulis ingin mengucapkan terima kasih pada anak penulis, Umair Shodiq dan Milla Karima, yang telah membuatkan untuk penulis beberapa gambar ilustrasi. Demi kesempurnaan dalam pembuatan kumpulan tulisan ini, segala. kritikan dan masukan sangat  penulis harapkan. Semoga sumbangan yang kecil ini bisa memberikan banyak manfaat.

16.  Satire yang Sarkasme



Senin, 28 Februari 2022

All You Need Is Love (98)

 DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

Subagio S. Waluyo (ed.)



Kalau ada orang yang bertanya tentang kabarnya pelaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah (DOD)? Saya sebagai editor orang yang diamanahi mengajar matakuliah DOD akan menjawab diplomatis saja: “Silakan dibuka berita-berita yang berseliweran baik di media sosial maupun media cetak tentang DOD!” Tapi, kalau ada orang yang berkeinginan mencari tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan DOD sekaligus ingin mempelajarinya: “Silakan dibuka file-file di blogspot saya ini! Mudah-mudahan yang ingin diketahui tentang DOD bisa diperoleh!” Saya sengaja menyampaikan jawaban diplomatis itu supaya orang tidak gagal paham tentang DOD. Selain itu, dengan membuka file-file di bawah ini (tapi juga perlu dibaca dan dipelajari) sedikit banyak akan ada penambahan wawasan di sekitar DOD. Itu harapan saya selaku orang yang mengumpulkan bahan dan memilih/memilah bahan-bahan yang berkaitan dengan DOD. Tentu saja saya sebagai editor di sana-sini dalam pengerjaannya pasti banyak kekurangannya. Kritik dan saran sangat saya harapkan dari pembaca. Terima kasih!

  1. Buku Ajar Otonomi Daerah: Perspektif Human Security dalam Negara Demokrasi
  2.  Buku Ajar Otonomi Daerah-Unnes
  3.  Buku Desa Mandiri-Desa Membangun
  4.  Buku Demokrasi di Tingkat Lokal
  5.  Buku Dinamika Otonomi Daerah di Indonesia
  6. Buku Desentralisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir di Amerika Serikat
  7.  Buku Harmonisasi Peraturan Desentralisasi
  8.  Buku Hukum Pemerintahan Daerah-Menngurai Problematika Pemekaran Daerah  
  9. Buku Fasilitasi Legislasi dalam Penguatan Perlindungan Sosial (Otda dan Desentralisasi)
  10.  Buku Handbook Inovasi Administrasi Negara
  11.  Buku Indeks Desa Membagun
  12.  Buku Kajian Akademik Pelaksanaan Otonomi Daerah
  13.  Buku Kewenangan Kepala Daerah menurut Undang-Undang
  14.  Buku Modul 1-Konsep Dasar Pemerintahan Daerah
  15.  Buku Manajemen Pemberdayaan Masyarakat
  16.  Buku Memahami Desentralisasi Indonesia
  17.  Buku Membangun Kota Berkelanjutan
  18.  Buku Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik-Implementasi Kerja Sama Internasional 
  19.  Buku Otonomi Daerah dan Perkembangan Perda Bernuansa Syariah
  20.  Buku Penerapan Kriteria Clear and Clean dalam Penyediaan Tanah pada Pembangunan Kawasan 
  21.  Buku Penjelasan Hukum Asas-Asas Pemerintahan yang Baik
  22.  Buku Perencanaan Pembangunan Desa 
  23.  Buku Politik Hukum Desentralisasi dan Otonomi Daerah dalam Perspektif NKRI
  24.  Buku Praktek-Praktek yang Baik dalam Pemberdayaan UKM 
  25.  Buku Telaah Isu-Isu Strategis Desentralisasi dan Otonomi Daerah
  26.  Buku Thesaurus Otonomi Daerah 

Sabtu, 19 Februari 2022

All You Need Is Love (97)

 KOTA GIGANTISME (1)

Subagio S. Waluyo


(https://www.istockphoto.com/id/vektor/sampah-di-kota-perkotaan-gm1097299074-294654172)

Apa yang bisa kita katakan dari sebuah kota yang kotor, yang tidak terurus, di sana-sini timbul kemacetan, dan banjir setiap kali turun hujan? Kita akan mengatakan kota itu telah tidak terurus. Walikota atau gubernurnya sekalipun sudah tidak berkeinginan untuk mengurusi kotanya. Atau boleh juga kota itu telah mengalami kebangkrutan. Jangan-jangan APBD yang setiap tahun rutin digelontorkan oleh pemerintah pusat tidak menyisakan sedikit pun untuk melakukan pembangunan atau pemeliharaan kota? Kota-kota semacam ini jangan-jangan telah terkena stigma kota gigantisme.

Kota Gigantisme (1) dijadikan judul kumpulan tulisan kali ini. Disajikan untuk bisa dibaca, dipelajari, dan direnungkan oleh kita semua. Memang, isi kumpulan tulisan kali ini sebenarnya lebih merupakan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di blog dan website penulis.  Sebagian juga pernah diterbitkan dalam buku-buku penulis: Penampakan Nilai-Nilai Sosial dalam Karya Sastra Indonesia dan Dari Menjauhi Hipokrit ke Mengetuk Pintu Langit. Tapi, tidak ada salahnya kalau dimuat di sini, di blog ini, supaya pembaca-pembaca lain yang tidak sempat memiliki buku-buku tersebut bisa membacanya. Insya Allah kumpulan tulisan ini akan bersambung ke Kota Gigantisme (2) dan (3). Penulis ingin mengucapkan terima kasih pada anak penulis, Umair Shodiq dan Milla Karima, yang telah membuatkan untuk penulis beberapa gambar ilustrasi. Demi kesempurnaan dalam pembuatan kumpulan tulisan ini, segala. kritikan dan masukan sangat  penulis harapkan. Semoga sumbangan yang kecil ini bisa memberikan banyak manfaat. 


Selasa, 11 Januari 2022

All You Need Is Love (96)

 Kampus Merdeka Merdeka Belajar

Subagio S. Waluyo (ed.)


“Kemerdekaan belajar dalam artian memberikan kebebasan dan otonomi kepada lembaga pendidikan, dan merdeka dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi yang berbelit serta mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai” 

“Mahasiswa perlu penguasaan kombinasi disiplin ilmu ketika menekuni sebuah profesi. Program Kampus Merdeka memungkinkan mahasiswa belajar di luar prodi dan mendapat pendidikan lintas disiplin ilmu.


Adapun rumpun ilmu yang digabungkan dapat melahirkan karya yang unik dan inovatif. Hal ini tidak hanya berdampak pada sang mahasiswa, tetapi juga untuk industri, dan untuk masyarakat Indonesia.”

(Nadiem Makarim, Mendikbud) 

  1. Buku Panduan-Merdeka Belajar Kampus Merdeka 
  2. Buku Pedoman-Implementasi Merdeka Belajar di UNJ
  3. Buku Pedoman-Merdeka Belajar Kampus Merdeka-Unsyiah
  4. Buku Petunjuk Teknis-Merdeka Belajar Kampus Merdeka-UI
  5. Buku Saku-Kampus Merdeka-Indonesia Jaya
  6. Buku Seri-Penerapan Kurikulum Kampus Merdeka di Era Covid 19
  7. Handout-Implementasi Kebijakan Kampus Merdeka
  8. Handout-Kampus Merdeka
  9. Handout-MBKM Universitas Negeri Malang
  10. Handout-MBKM dan MOOCs UGM
  11. Handout-Membangun Budaya Mutu Kampus Merdeka
  12. Handout-Sosialisasi MBKM ITB
  13. Handout-Sosialisasi Pertukaran Mahasiswa Merdeka Unhas
  14. Handout-Sosialisasi MBKM FMIPA Unnes
  15. Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka Prodi Pendidikan Sosiologi UNY
  16. Pedoman Penyelenggaraan MBKM Universitas Jember
  17. Permendikbud RI Nomor 30 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi
  18. Skripsi-Respon Mahasiswa Unimed terhadap Wacana Kampus Merdeka
  19. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  20. Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...