4. AWALI DENGAN DEFINISI
Ada cara lain
yang bisa dilakukan ketika seseorang mengalami kesulitan mengawali sebuah
tulisan. Selain menggunakan pengulangan kata kunci bisa juga dilakukan dengan
menggunakan sebuah definisi. Khusus untuk tulisan yang dimulai dengan definisi
kalau kesulitan mendefinisikan suatu kata atau frasa bisa dicari di kamus
(dalam hal ini Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI) atau buku-buku
keilmuan yang berkaitan dengan kata atau frasa yang dicari. Bisa juga dicari di
buku-buku yang memuat istilah-istilah keilmuan. Kalau tidak mau berlelah-lelah
cari saja lewat google atau di wikipedia yang terdapat di
internet.
***
Berkaitan
dengan uraian di atas, sekarang kita coba membuat tulisan yang mengangkat
masalah kata `menguap`. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kata tersebut
digunakan KBBI. Di KBBI ternyata kita bukan hanya menemukan kata
`menguap` yang didapatkan, tetapi juga asal-usul kata tersebut. Selain itu,
juga banyak pilihan kata yang bisa kita gunakan sehingga kita bebas kata yang
mana saja yang mau kita gunakan. Setelah diperoleh definisi yang mau digunakan,
baru dari kata yang telah diketahui definisinya kita kembangkan menjadi tulisan
utuh.
Pada
kutipan di atas ada sebuah kata yang menarik perhatian kita: `menguap`. Kata
`menguap` menurut Kamus Besar bahasa Indonesia kalau berasal dari kata `kuap`
berarti `mengangakan mulut dengan mengeluarkan napas karena mengantuk`.
Meskipun demikian, kata `menguap` kalau berasal dari kata `uap` berarti 1`
menjadi uap, mengeluarkan uap` misalnya dalam kalimat `Spiritus itu benda cair
yang mudah menguap`. Bisa juga 2 `hilang,lenyap` misalnya dalam kalimat `Jika
tidak kamu kunci, sepedamu akan menguap.` Tampaknya, kata `menguap` yang
berarti `hilang, lenyap` yang digunakan dalam tulisan ini.
(http://subagiowaluyo.blogspot.com/2020/09/all-you-need-is-love-71.html)
Ternyata, dari kata `menguap` kita bisa membuat sebuah paragraf. Walaupun sebagian besar isi paragraf berisikan arti yang dikandung dari kata `kuap`, dari kata tersebut bisa dipastikan akan menjadi sebuah wacana. Untuk mewujudkan sebuah wacana yang utuh tinggal memfokuskan pada kalimat terakhir di paragraf tersebut:Tampaknya, kata `menguap` yang berarti `hilang`, `lenyap` yang digunakan dalam tulisan ini. Kalimat tersebut jelas menjadi stimulus untuk kita respon ke dalam pembuatan paragraf berikutnya. Bisa saja pada kalimat pertama di awal paragraf berbunyi seperti ini: Kata `masalah-masalah` atau `kasus-kasus` jika dirangkaikan dengan kata `menguap` menjadi `masalah-masalah` atau `kasus-kasus` (yang) menguap berarti `masalah-masalah` atau `kasus-kasus` (yang) `hilang, lenyap.` Setelah kita awali dengan kalimat tersebut, langkah berikutnya kita fokuskan pada `masalah-masalah atau kasus-kasus yang menguap`.Dari pernyataan tersebut baru kita menulis di seputar `masalah-masalah atau kasus-kasus yang menguap` tersebut.
***
Buku A. Mangun
Hardjana Isme-Isme dari A sampai Z yang diterbitkan oleh Penerbit
Kanisius, Yogyakarta, 2001 (cetakan kelima), ternyata juga cukup banyak
membantu. Buku tersebut memuat 64 kata yang menggunakan akhiran –isme. Dimulai
dari kata Aksiologisme sampai dengan kata Zelotisme. Buku
tersebut memang tergolong jadul. Tetapi, lewat buku tersebut ketika seseorang
menemukan sebuah kata, misalnya, kata `sinisme`, begitu dia membuka buku
tersebut ditemukan definisi yang menarik untuk membuat sebuah tulisan tentang
hal-hal yang berkaitan dengan `sinisme`. Kata `sinisme` di buku Isme-Isme
dari A sampai Z (2001:213) didefinisikan sebagai sikap suka mengejek,
mengolok-olok, mencari kesalahan, dan melemparkan kritik. Dari definisi
tersebut boleh jadi semua itu mengarah pada satu kata yang biasa digunakan di
media sosial, yaitu yang biasa disebut `nyinyir`. Nah, dari kata `nyinyir`
inilah orang bisa mengembangkan sebuah tulisan menarik. Bisa saja nanti di
dalamnya sang penulis mencoba membedakan orang yang `nyinyir` dengan orang yang
`kritis`. Kalau perlu, masukkan saja dampak yang akan dimunculkan dengan
kebiasaan orang yang suka `nyinyir`. Di bawah ini ada sebuah paragraf yang
memuat definisi dan uraian singkat di seputar kata `sinisme` dan `nyinyir.
Istilah `sinisme` menurut
A.Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai Z (2001:213)
ialah sikap suka mengejek, mengolok-olok, mencari kesalahan, dan melemparkan
kritik. Dalam istilah yang ada di media sosial (medsos) biasa disebut
`nyinyir`. Sebagai bukti kalau istilah sinisme ada kemiripan dengan `nyinyir di
dunia medsos bisa dilihat dari pengertian `nyinyir` menurut orang-orang yang
terlibat di dunia maya (netizen). Para netizen sepakat menganggap nyinyir ini
sama artinya dengan menggunjing, menyindir atau mengkritik seseorang atau pihak
lawan. Si tukang nyinyir ini, menurut para netizen artinya sama saja dengan
tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik, dan menggunjing orang lain
dan tukang sebar berita hoax (https://inspirasipedia.com/2019/04/20/
apa-itu-nyinyir/).
Bisa juga mereka orang-orang yang tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang
kritik dan menggunjing orang lain, dan tukang sebar berita hoax adalah
orang-orang yang sinis. Orang-orang penganut paham sinisme.
(http://subagiowaluyo.blogspot.com/2020/08/all-you-need-is-love-76.html)
Dua kalimat
terakhir yang bisa dijadikan pemancing untuk menulis lebih jauh lagi, yaitu
kalimat yang berbunyi: Bisa juga mereka
orang-orang yang tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik dan
menggunjing orang lain, dan tukang sebar berita hoax adalah orang-orang yang
sinis. Orang-orang penganut paham sinisme. Maksudnya,
pada paragraf berikutnya kita bisa menguraikan bahwa orang-orang yang `nyinyir`
adalah orang-orang penggosip, penyebar aib orang, pengeritik (perlu dijelaskan
dan diuraikan di sini orang-orang yang suka mengeritik kekurangan orang lain),
dan penyebar berita hoax. Mereka ini yang tergolong sebagai penganut paham
sinisme. Karena sudah dimasukkan ke dalam penganut paham sinisme, kita tinggal
menguraikan misalnya saja mencari faktor penyebab orang menjadi penganut paham
sinisme. Kalau masih dirasakan kurang, coba tulis dampak yang diakibatkan oleh
adanya sikap sinisme baik terhadap diri sendiri, masyarakat, maupun bangsa. Terakhir, upaya-upaya apa saja perlu dilakukan untuk
menghindari sikap sinisme.
***
Setiap orang
yang belajar ilmu ekonomi sudah bisa dipastikan akan diawali dengan pengertian
ekonomi. Untuk mencari pengertian ekonomi kita bisa mencari di buku-buku yang
khusus membahas ilmu ekonomi. Meskipun demikian, karena sudah diketahui secara
umum, orang bisa memulainya dengan cara menguraikan akar kata dari kata `ekonomi`.
Ternyata, kalau melihat dari akar katanya, kita akan dapati
pengertian yang unik, yaitu `hukum` atau `aturan-aturan dalam rumah tangga`. Jadi,semua
`hukum` atau `aturan dalam rumah tangga` itu `ekonomi`? Kalau coba dicari di wikipedia, kita akan
menemukan pengertian ekonomi itu ialah ilmu sosial yang mempelajari perilaku
manusia dalam mengelola sumber daya yang terbatas dan menyalurkannya ke dalam
berbagai individu atau kelompok yang ada dalam suatu masyarakat. Kok, bisa jauh
berbeda ya? Di sini seorang penulis harus menjelaskan dulu pengertian yang
diambil dari akar kata tersebut yang boleh jadi entah mengalami perluasan makna
atau kebalikannya, penyempitan makna, sehingga muncul pengertian baru yang
lebih bisa diterima oleh setiap orang. Tidak bisa hanya menyebutkan garis
besarnya. Memang, dengan cara menyebutkan garis besarnya saja orang bisa
memahami pengertian ekonomi. Tetapi, tulisan yang baik setidaknya harus bisa
mensugesti orang bahwa dari sebuah kata, sebagaimana juga diuraikan oleh
bidang-bidang ilmu lainnya, kerap mengalami perubahan makna sehingga tidak
mustahil memunculkan pengertian baru yang bisa diterima oleh semua orang.
Berikut ini bisa kita lihat konsep tentang `ekonomi` yang definisinya dimulai
dari menentukan akar katanya.
Ekonomi
berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti
rumah tangga dan nomos yang berarti aturan atau hukum. Jadi, ekonomi
adalah aturan-aturan dalam rumah tangga. Tetapi, secara garis besar pengertian
ekonomi adalah sebuah keilmuan yang mempelajari tentang aktivitas manusia dalam
lingkup ekonomi yang berhubungan dengan aktivitas produksi, distribusi, dan
konsumsi. Ilmu ini mempelajari tiga proses ekonomi yang telah disebutkan di
atas, di antaranya adalah aktivitas produksi. Dalam hal ini ekonomi membahas
tentang cara barang tersebut dibuat, seperti bahan baku, cara pengolahan,
biaya, dan pembuat. Sementara itu, dalam hal aktivitas distribusi, ekonomi
mempelajari cara barang atau jasa tersebut bertemu dengan konsumen, seperti
pemasaran, pemasokan, dan tempat penjualan. Kemudian aktivitas yang terakhir
adalah konsumsi. Dalam hal ini ilmu ekonomi membahas tentang cara barang atau
jasa tersebut setelah sampai kepada konsumen. Aktivitas ekonomi membahas
tentang pembeli, alat pertukaran atau biaya, dan lain-lain. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa ekonomi adalah sebuah cabang keilmuan yang membahas
tentang aktivitas manusia dalam hal pembelian, penyaluran, dan pemakaian barang
atau jasa.
(https://brainly.co.id/tugas/8865008)
Paragraf di
atas menggunakan dua kalimat utama (di awal dan akhir paragraf). Di awal
paragraf dimulai dengan kalimat berbunyi: Ekonomi berasal dari dua kata
dalam bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah tangga dan nomos yang
berarti aturan atau hukum. Sementara itu, di akhir paragraf kita dapati
kalimat berbunyi: Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekonomi adalah
sebuah cabang keilmuan yang membahas tentang aktivitas manusia dalam hal
pembelian, penyaluran, dan pemakaian barang atau jasa. Bagaimana cara
meneruskan ke paragraf berikutnya agar terwujud menjadi sebuah wacana? Fokuskan
saja pada bunyi kalimat di akhir paragraf tersebut. Caranya mudah kok! Kita
bisa membahasnya dari aktivitas manusia dalam hal pembelian, penyaluran, dan
pemakaian barang dan jasa sebagaimana tercantum dalam kalimat tersebut. Agar
pembaca lebih memahami konsep `ekonomi` yang mau kita uraikan, kita bisa
memulainya dengan aktivitas manusia dalam hal pembelian barang dan jasa.
Kemudian kita teruskan yang berkaitan dengan penyalurannya. Terakhir, kita
uraikan yang berkaitan dengan pemakaiannya. Kalau mengalami kesulitan untuk
menuangkannya ke dalam tulisan, tidak ada salahnya kita mencoba mengambil dari
berbagai referensi yang berkaitan dengan tiga hal di atas: pembelian,
penyaluran, dan pemakaian barang dan jasa.
***
Di dunia
pendidikan orang yang belajar bahasa pasti memulainya dengan menyimak/mendengarkan.
Tahap berikutnya adalah membaca. Apa itu membaca? Tulisan berikut ini dimulai
dengan definisi `membaca`. Setelah diuraikan definisi `membaca`, penulis juga menjelaskan
bahwa membaca merupakan salah satu dari empat kegiatan berbahasa. Lebih jauh
dari itu, penulis juga menjelaskan tentang pengklafikasian jenis membaca, yaitu
membaca nyaring dan membaca dalam hati. Kedua jenis membaca tersebut juga oleh
penulisnya dituliskan definisinya sehingga kita mendapati dalam satu paragraf
tersebut ada tiga definisi, yaitu `membaca`, `membaca nyaring`, dan `membaca
dalam hati`. Untuk lebih jelasnya, bisa kita lihat tulisan berikut ini.
Membaca
ialah salah satu aktivitas berbahasa yang secara teknis melakukan analisis,
interpretasi, dan memahami sebuah wacana atau tulisan tertentu. Membaca juga
merupakan salah satu dari empat kegiatan berbahasa. Beberapa di antaranya adalah
menyimak, berbicara, dan menulis. Jika didasarkan pada cara membaca itu
dilakukan, membaca dapat diklasifikasikan ke dalam dua macam. Jenis membaca
berdasarkan cara tersebut di antaranya adalah membaca nyaring dan membaca dalam
hati. Membaca nyaring ialah suatu aktivitas membaca yang dilakukan dengan cara
mengeraskan suara dengan tujuan agar dapat disimak oleh orang lain. Sedangkan
membaca dalam hati ialah membaca dengan lirih tanpa mengeluarkan suara yang
keras atau bisa juga membaca dengan tanpa mengeluarkan suara sama sekali.
Membaca dalam hati biasa dilakukan untuk memahami maksud dan tujuan tulisan
atau wacana yang sedang dibaca.
(https://www.kakakpintar.id/4-contoh-paragraf-definisi-pengertiannya/)
Dari dua jenis
membaca (membaca nyaring dan membaca dalam hati), mana yang mau kita teruskan
ke paragraf berikutnya? Kalau mau menulis membaca nyaring, kita bisa tulis,
misalnya, cara membaca nyaring yang benar. Bisa juga kita mau fokus pada
kalimat terakhir di paragraf tersebut yang berbicara tentang membaca dalam
hati, kita tuliskan hal-hal yang berkaitan dengan membaca dalam hati. Entah
nanti kita tuliskan cara yang tepat membaca dalam hati. Bisa juga kita menulis kiat-kiat
membaca dalam hati yang baik. Bahkan, boleh saja kita menambahkannya dengan
manfaat yang bisa diambil dari membaca dalam hati.
***
Sebagaimana
telah disampaikan dalam tulisan terdahulu, setiap orang yang mau menulis apapun
harus dimulai dengan menemukan masalah. Setelah masalah ditemukan, kalau kita menemukan
ada kata (frasa) atau istilah yang perlu definisi, kita memulainya dengan membuat
definisi dari kata (frasa) atau istilah
tersebut. Salah satu contoh menarik ketika di masa Pandemi Covid 19 ada
fenomena orang yang mengisi waktu luangnya dengan memanfaatkan setiap jengkal
tanah untuk ditanami palawija. Kita namakan aktivitas tersebut dengan `environmentalis`.
Untuk memperoleh definisi kata `environmentalis`, kita perlu mencari kata atau
istilah tersebut dari beberapa referensi. Nanti dari kata atau istilah yang
kita dapati, boleh jadi kita bukan hanya menemukan arti kata tersebut, tetapi
juga kata atau istilah `environmentalisme`. Lalu, dari kata atau istilah tersebut kita kembangkan
menjadi sebuah tulisan dalam sebuah paragraf. Jika telah dikembangkan menjadi
sebuah paragraf, langkah berikutnya yang paling mudah adalah meneruskan kalimat
terakhir di paragraf tersebut.








