Sabtu, 08 Juli 2023

Bahasa dan Sastra (137)

 TOKOH KITA (4)

Subagio S.Waluyo


TOKOH KITA pada tulisan “TOKOH KITA (2)” mempersilakan pada para pembacanya untuk menelusuri tulisan-tulisan TOKOH KITA, baik yang terdapat dalam buku-bukunya maupun yang terdapat di website/blogspot-nya. Dengan cara demikian diharapkan para pembacanya telah melakukan penelitian kepustakaan. Bisa juga dikatakan dengan mencari kata atau frase yang terdapat dalam tulisan-tulisan TOKOH KITA, dengan sendirinya para pembacanya telah melakukan analisis isi. Dimaksudkan dengan analisis isi, menurut Nanang Martono dalam Metode Penelitian Sosial: Konsep-Konsep Kunci (2015: 24-25) adalah upaya mengungkap makna di balik teks, simbol, atau materi tekstual lainnya dengan cara menganalisis secara kritis berbagai kepentingan atau muatan nilai-nilai tertentu yang mendasari pembentukan teks atau simbol-simbol tersebut. Kalau memang demikian bunyi definisinya, bisa dikatakan yang dilakukan oleh TOKOH KITA selama ini ketika membahas berbagai referensi entah itu karya sastra, berita, atau informasi lainnya adalah kegiatan yang berkaitan dengan analisis isi.

Boleh jadi ada orang yang penasaran, apa benar yang dilakukan TOKOH KITA ketika melakukan aktivitas penulisan berkaitan dengan analisis isi? Coba dibuktikan pernyataan tersebut dengan mengangkat beberapa contoh tulisan TOKOH KITA sehingga rasa penasaran itu lambat-laun hilang dan berganti dengan sebuah kepuasan. Kepuasan itu boleh jadi timbul karena wawasan keilmuan pembacanya semakin bertambah. Dengan bertambahnya wawasan, para pembacanya diharapkan bisa melakukan hal yang sama, yaitu sama-sama bisa membuat tulisan yang bermuatan analisis isi. Sekarang, secara bersama-sama diamati dan dipelajari tulisan TOKOH KITA berikut ini. 

 

HAMPA

 

                            Kepada Sri

 

 

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.

Lurus kaku pohonan. Tak bergerak

Sampai ke puncak. Sepi memagut,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti.

Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat-mencekung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa

Udara bertuba. Setan bertempik

Ini sepi terus ada. Dan menanti.

 

 

(Karya: Chairil Anwar) 

Puisi di atas menggambarkan tentang kesepian. Kesepian merupakan sebuah ketentuan Tuhan yang tidak bisa dihindari manusia. Seperti halnya Chairil Anwar yang mencoba mengungkapkan kesepian dengan kata-kata “Sepi di luar. Sepi menekan mendesak./Lurus kaku pohonan. Tak bergerak/ Sampai ke puncak. Jadi, suasana yang digambarkan Chairil memang benar-benar sepi sampai-sampai pepohonan pun tidak bergerak. Bisa dibayangkan kalau pepohonan sampai sama sekali tidak bergerak berarti suasananya sudah benar-benar seperti stagnan, mati. Suasana seperti itu akan membikin orang semakin galau karena biar bagaimana pun manusia membutuhkan suasana yang hidup. Suasana yang hidup setidaknya memunculkan kedinamisan. Dengan demikian, kesepian itu sebuah kematian atau keterasingan sebagaimana diungkap oleh Chairil di puisi “Sia-Sia” yang di akhir puisinya ia mengungkapkan …Ah hatiku yang tak mau memberi/mampus kau dikoyak-koyak sepi. 

Chairil kemudian juga mengungkapkan kalau sepi itu telah membuat dia benar-benar tidak tenang, gelisah, galau. Dia tercekik oleh kesepian sebagaimana diungkapkan …Sepi./Tambah ini menanti jadi mencekik/ Memberat mencekung punda/Sampai binasa segala. Belum apa-apa/Udara bertuba. Setan bertempik/ Ini sepi terus ada. Dan menanti. Jadi, suasananya memang bertambah sepi. Sampai-sampai digambarkan lehernya tercekik oleh kesepian. Saking kuatnya cekikan itu, membuat bahunya berat dan mencekung. Bahkan, kesepian itu telah  membuat segalanya binasa. Kesepian itu membuat udara di sekitarnya beracun. Karena itu, kesepian itu telah membuat setan berteriak keras sehingga suasana sepi itu membuat suasana di sekitarnya semakin seram.

Ungkapan Chairil tentang sepi memang sangat berlebihan (hiperbola). Tapi, jauh di balik itu ada pesan Chairil sebagai penyair, yaitu dia ingin menyampaikan tentang hidup manusia yang tidak lepas dari keterasingan atau keterisolasian. Bisa juga jika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat atau bangsa, dijabarkan sebagai bangsa yang harus siap menerima kondisi yang tidak mengenakkan. Kalau sebelumnya posisinya sangat diperhatikan, mereka pada akhirnya mau tidak mau harus menerima nasib sebagai bangsa yang terasingkan atau terisolasi atau teralienasi. Bangsa yang teralienasi bukankah bangsa yang digambarkan Chairil pada puisi di atas sebagai bangsa yang tercekik sampai mencekung bahunya? Artinya, bangsa tersebut telah benar-benar menderita lahir-batin. Bangsa seperti itu hanya menjadi penonton bukan pemain. Mereka menjadi objek bukan menjadi subjek. Mereka pada akhirnya hanya menatap kekayaan negaranya dirampok habis-habisan oleh pemain-pemain luar (ada juga bangsa sendiri yang bermental hipokrit). Mereka menangisi harga dirinya yang juga dirampok oleh bangsa lain. Dari tangisan mereka bukan lagi keluar air mata, tapi darah karena air mata mereka telah kering sehingga yang keluar dari matanya darah.

 (https://subagiowaluyo.com/teralienasi/)

 

Pada tulisan di atas, TOKOH KITA berusaha mendeskripsikan isi yang terdapat dalam puisi “Hampa” karya Chairil Anwar. Gambaran rasa sepi itu demikian mencekam sehingga pepohonan pun bergeming seolah-olah juga diterpa kesepian. Bisa saja orang mengatakan itu suatu pernyataan yang berlebihan. TOKOH KITA pun mengakuinya karena di paragraf ketiga TOKOH KITA menulis: “Ungkapan Chairil tentang sepi memang sangat berlebihan (hiperbola).” Meskipun demikian, TOKOH KITA menyampaikan bahwa Chairil Anwar selaku penyair ingin menyampaikan tentang hidup manusia yang tidak lepas dari keterasingan atau keterisolasian. Justru, dari ungkapan yang disampaikan TOKOH KITA inilah nanti dikembangkan tulisan yang menggambarkan tentang keterasingan atau keterisolasian atau boleh juga disebut sebagai teralienasi.

***



Bukan hanya menganalisis isi karya sastra seperti puisi di atas, TOKOH KITA juga menganalisis cerita rekaan (cerkan). Cerkan yang dijadikan objek salah satu di antaranya adalah cerita pendek yang ditulis Achmad Marzoeki: “Koruptor Tanpa Korupsi”. Cerpen “Koruptor tanpa Korupsi” berkisah tentang Faisal (tokoh utama) yang divonis bersalah karena telah membiarkan istrinya menerima uang haram dari kontraktor ketika dia masih menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran di salah satu kementerian tempat Faisal bekerja dulu. Walaupun peristiwa tersebut sudah cukup lama, Faisal tetap dianggap bertanggung jawab karena pada saat itu dia belum bercerai dengan istrinya. Memang,  Faisal tidak bersalah. Tidak ada bukti-bukti yang menguatkan kalau Faisal melakukan korupsi. Kesalahan seharusnya ditimpakan pada mantan istrinya. Tetapi. sebagai suami pada waktu itu, Faisal merasa bersalah karena tidak bisa mendidik istrinya agar tidak korupsi. Faisal merasa memiliki tanggung jawab moral atas perbuatan istrinya. Karena itu, Faisal menerima saja vonis yang ditimpakan padanya. Faisal telah jadi korban hukum dari sebuah pengadilan karena dijerat UU Korupsi sehingga disebut koruptor walaupun tidak korupsi.

………………………………………………………………………………………………………

Segalanya berjalan cepat. Persidangan berlangsung mulus. Faisal divonis empat tahun penjara. Pengacaranya membujuk Faisal agar naik banding, kalau perlu sampai kasasi dan peninjauan kembali.

“Tidak. Saya terima hukumannya. Ini sudah adil,” tolak Faisal. 

“Tapi, Bapak kan tidak menerima komisi itu. Bapak tidak korupsi!” 

“Benar, saya tidak menerima komisi itu, makanya saya tidak dibebani ganti rugi. Tapi saya bersalah,” tegas Faisal. 

“Bapak salah apa?” pengacaranya tidak habis mengerti. 

“Saya bersalah dan pantas dihukum bukan karena korupsi, tapi karena tidak bisa mendidik istri agar tidak korupsi. Saya bisa saja lepas dari jeratan UU Korupsi yang menjadi dakwaan primair, karena tidak ada pelanggaran hukum atau penyalahgunaan wewenang yang saya lakukan. Saya juga bisa berkelit dari jeratan Pasal 56 KUHP sebagai dakwaan subsidair, terkait memberi kesempatan sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan korupsi. Tapi saya tidak bisa mengelak dari tanggung jawab moral seorang suami yang seharusnya mendidik istri,” jelas Faisal.

Pengacaranya diam.

………………………………………………………………………………………

 (Cerpen “Koruptor tanpa Korupsi”/Achmad Marzoeki)

 


TOKOH KITA menganalisis isi potongan cerpen di atas dengan membuat deskripsi bahwa peristiwa yang menimpa Faisal bisa dipastikan peristiwa langka. Jangan-jangan malah tidak ada orang seperti Faisal yang mau bertanggung jawab atas perilaku mantan istrinya. Karena yang korupsi adalah istrinya, Faisal bisa saja naik banding atau mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Tapi, itu tidak dilakukannya. Faisal lebih cenderung memilih menerima vonis hukuman. Di sini lagi-lagi pembaca diingatkan penulis cerpen bahwa seorang suami mempunyai kewajiban mendidik istrinya. Selain itu, ditilik dari judul cerpen yang ditulis Achmad Marzoeki saja (“Koruptor tanpa Korupsi”) pembaca sudah dibikin pusing karena tidak mungkin ada di dunia ini koruptor yang tidak melakukan korupsi. Faisal jelas bukan koruptor.  Faisal pejabat yang jujur. Di sini penulis cerpen menulis sebuah satire yang benar-benar menonjok hati nurani pembacanya bahwa kesalahan yang dilakukan oleh seorang mantan istri tidak bisa semata-mata ditimpakan pada seorang suami. Achmad Marzoeki Sang Penulis cerpen telah berhasil mengedukasi pembacanya. Bukankah memang misi utama sebuah karya sastra adalah mengedukasi pembacanya?

Selanjutnya, TOKOH KITA juga mengedukasi pembaca, mengedukasi masyarakat sebenarnya bukan hanya domain kalangan sastrawan. Semua orang punya misi yang sama. Faisal di cerpen tersebut sadar bahwa misi utamanya untuk mengedukasi istrinya telah gagal karena gara-gara istrinya Faisal masuk penjara. Rupanya, Faisal lalai mengedukasi istrinya. Bisa jadi Faisal telah mengeduksi dirinya sendiri sebagai tahap pertama dalam pengedukasian. Faisal merasa kalau belum kesampaian mengedukasi anggota keluarga yang lain (termasuk istrinya) sudah keburu masuk penjara. Orang seperti Faisal ada kemungkinan asyik mengedukasi diri sendiri. Walaupun  juga mengedukasi masyarakat lewat aktivitas agama (khutbah jumat) dan aktif dalam kegiatan antikorupsi, Faisal sampai-sampai lupa sama sekali untuk mengedukasi anggota keluarga yang lain sehingga Faisal menelan akibatnya. Dengan demikian, aktivitas mengedukasi diri sendiri juga harus disertai dengan mengedukasi anggota keluarga yang diteruskan dengan mengedukasi lingkungan tempat tinggal (masyarakat sekitar).

***


TOKOH KITA juga pernah menganalisis isi novel terjemahan. Salah satu Novel terjemahan yang dianalisis isinya adalah novel karya penulis keturunan Jepang yang telah lama tinggal di Inggris: Kazuo Ishiguro. Dari sekian banyak novel yang ditulis Kazuo Ishiguro yang dijadikan objek TOKOH KITA adalah novel berjudul Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku). Novel yang berhasil menjadi Pemenang Novel Sastra tahun 2017 ini berkisah tentang manusia kloning yang nantinya di usia relatif muda harus mendonorkan organ-organ tubuhnya. Pada tahap akhir ketika mendonorkan organ tubuhnya sudah dipastikan mereka akan mendapati kematian. Dari sekian banyak orang muda, yang masih selamat sampai usia 31 tahun belum juga didonorkan organ tubuhnya adalah tokoh utamanya: Kathy. Kathy masih dipertahankan untuk tidak mendonorkan organ tubuhnya karena tenaganya sebagai seorang perawat masih dibutuhkan. Meskipun demikian, sama dengan yang lain, Kathy juga pada akhirnya akan mendonorkan organ tubuhnya. Berikut ini bisa dilihat dari sekian banyak guru (di novel tersebut disebut guardian) ada salah seorang guardian, Lucy, yang secara terbuka menyampaikan pada para siswanya bahwa siswa-siswanya tidak berusia panjang karena sebelum usia tua atau separuh baya mereka harus mendonasikan organ-organ tubuhnya. Berikut ini sedikit kutipan dari novel Never Let Me Go.

 

“….. Masalahnya, menurutku adalah bahwa kalian sudah diberitahu tapi tidak diberitahu. Kalian sudah diberitahu, tapi tak satu pun kalian benar-benar mengerti, dan aku berani bilang, beberapa orang senang membiarkan nya seperti itu. Tapi aku tidak. Kalau kalian akan menjalani hidup yang layak, kalian harus tahu, dan tahu dengan benar. Tak satu pun dari kalian akan pergi ke Amerika, tak satu pun dari kalian akan jadi bintang film. Dan takkan ada yang bekerja di supermarket seperti yang kudengar direncana-kan oleh beberapa dari kalian tempo hari. Hidup kalian sudah ditetapkan. Kalian akan jadi orang dewasa, lalu sebelum kalian menjadi tua, bahkan sebelum separuh baya, kalian akan mulai mendonasikan organ-organ vital kalian. Untuk itulah kalian masing-masing diciptakan. Kalian bukan seperti para aktor yang kalian lihat di video-video, kalian bahkan tidak seperti aku. Kalian diciptakan di dunia ini untuk suatu tujuan, dan masa depan kalian, semuanya, sudah diatur. Maka jangan bicara seperti itu lagi. Tak lama lagi kalian akan meninggalkan Hailsham, dan segera setelahnya tibalah saatnya kalian akan mempersiapkan donasi kalian yang pertama. Kalian harus ingat itu. Kalau ingin hidup layak, kalian perlu tahu siapa dan apa yag ada di depan kalian, masing-masing dari kalian.”

 

Ketika menjadikan teks di atas sebagai bahan yang dijadikan analisis isi, TOKOH KITA mendeskripsikan bahwa Lucy sebagai guardian memang agak lain dibandingkan dengan guardian-guardian yang lain. Kalau guardian yang lain cenderung menutup diri sehingga tidak mau menyampaikan apapun pada para siswa Hailsham, tidak demikian dengan Lucy. Lucy di hadapan siswa-siswa Hailsham, ada kemungkinan karena terpanggil rasa kemanusiaannya, suatu saat pernah menyampaikan sesuatu yang sebenarnya diharamkan untuk disampaikan. Dia menyampaikan kalau siswa-siswa Hailsham jangan bermimpi pergi ke Amerika atau jadi seleberitis atau bekerja di supermarket karena hidupnya sudah ditetapkan. Artinya, mereka tidak akan berusia panjang karena sebelum memasuki usia tua atau separuh baya mereka mendonasikan organ-organ vitalnya. Mereka juga sudah diingatkan bahwa sebentar lagi akan  meninggalkan Hailsham. Maksudnya, ditempatkan di luar Hailsham (di cottage). Setelah itu satu persatu mereka mempersiapkan donasinya.

Apa yang ditulis TOKOH KITA ketika menganalisis isi teks berikut ini? 

…………………………………………………………………………………

Ketika musim semi tiba, semakin banyak veteran pergi untuk memulai pelatihan, dan meskipun kepergian mereka tanpa banyak ribut-ribut seperti biasanya, jumlah mereka yang semakin banyak membuatny mustahil untuk tidak diperhatikan. Aku tak yakin bagaimana perasaan kami, menyaksikan kepergian-kepergian itu. Kupikir dalam batas tertentu kami iri pada orang-orang yang pergi itu. Rasanya seolah mereka menuju dunia yang lebih luas dan lebih menggairahkan. Tapi tentu saja kepergian mereka membuat kami semakin gelisah.

 

Kemudian, seingatku sekitar bulan April, Alice F menjadi yang pertama dari kelompok Hailsham untuk pergi, dan tak lama sesudah Gordon C juga berangkat. Mereka sudah diminta untuk memulai pelatihan, dan mereka pergi dengan senyum riang, tapi setelah itu, setidaknya bagi kelompok kami, suasana di Cottage berubah untuk selamanya.

 

 

TOKOH KITA menulis bahwa perasaan Kathy dan teman-temannya ketika melihat para veteran yang berangkat untuk mulai mendonasi organ-organ tubuhnya jelas membikin nyalinya ciut. Ada perasaan gelisah karena paling tidak mereka sudah merasakan kalau sebentar lagi tiba gilirannya untuk ikut `pelatihan`. Setidak-tidaknya keberangkatan satu persatu teman-teman di cottage-nya membuat suasana yang semula perlu keriangan menjadi kegelisahan. Selanjutnya, TOKOH KITA juga menambahkan kalau satu persatu teman-teman dekat Kathy menjalani pelatihan dan penuntasan. Ruth, misalnya,setelah menjalani donasinya kedua langsung menemui kematiannya. Sementara Tommy masih agak beruntung karena masih bisa menjalani donasi sampai yang keempat. Tommy sudah berusaha agar memperoleh penangguhan. Untuk memperoleh penangguhan dia berusaha menunjukkan hasil-hasil karyanya. Ternyata upaya tersebut sama sekali tidak mengubah keputusan. Upaya melekatkan hubungannya dengan Kathy juga tidak membawa hasil. Akhirnya, setelah menjalani donasi yang keempat Tommy menghadapi kematian. 

Jadi aku bukan bermaksud membanggakan diri. Tapi aku jelas tahu mereka puas dengan pekerjaanku, dan secara keseluruhan aku pun demikian. Para donorku cenderung pulih lebih baik daripada yang diduga. Masa pemulihan mereka sangat mengesankan, dan nyaris tak satu pun dari digolongkan sebagai “gelisah”, bahkan sebelum donasi keempat.


Dari teks di atas TOKOH KITA menulis kalau tinggal Kathy yang masih tersisa. Dia beruntung karena berhasil menjadi perawat yang dinilai berprestasi. Kathy beranggapan selama menjadi perawat banyak pasiennya yang  mengalami kepuasan. Orang-orang yang akan mendonasikan organ-organ tubuhnya bisa pulih kembali berkat perawatannya. Bahkan, mereka yang mau  mendonasikan organ-organ tubuhnya tidak  merasa gelisah. (https://subagiowaluyo.com/manusia-kloning-yang-pemurah/) 

***

Apa yang bisa dikomentari dari uraian di atas? Ternyata, tulisan yang di dalamnya ada deskripsi yang berusaha menjelaskan isi naskah memudahkan orang untuk memahami isi bacaan. Bukankah yang menjadi tugas utama analisis isi adalah berupaya mengungkap makna di balik teks, simbol, atau materi teksual lainnya? Jadi, TOKOH KITA dalam menjalankan tugas untuk menganalisis isi telah banyak membantu pembacanya mengungkap isi yang terkandung dalam karya-karya sastra. Sebagai tambahan, kerja analisis isi juga bisa dilakukan bukan sebatas mengungkap makna yang terkandung dalam karya-karya sastra saja, pemberitaan di media, percakapan dalam teks atau skenario film/drama, adegan dalam sinetron, atau hasil wawancara yang biasa dilakukan dalam penelitian kualitatif juga bisa dilakukan. TOKOH KITA pada tulisan berikutnya juga mencoba melakukan analisis isi sama seperti yang dilakukan kali ini. Silakan disimak tulisan berikutnya yang masih berkaitan dengan analisis isi.

Sumber Gambar:

(https://www.bukukita.com/Buku-Novel/Drama/153663-Never-Let-Me-Go-Jangan-Lepaskan-Aku.html)  

 



Kamis, 06 Juli 2023

Bahasa dan Sastra (136)

 TOKOH KITA (3)

Subagio S. Waluyo



Tidak sedikit tulisan TOKOH KITA yang berhubungan dengan fenomena sosial. Bisa juga dikatakan, justru fenomena sosial sebagian besar dijadikan objek tulisannya. Fenomena sosial yang dijadikan objek menginspirasi TOKOH KITA untuk menuliskannya. Fenomena sosial yang telah menginspirasinya itu oleh TOKOH KITA dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Untuk membuat menjadi sebuah tulisan yang kaya dengan informasi (tetapi juga enak dibaca), TOKOH KITA mau tidak mau harus mencari referensi yang berkaitan dengan fenomena sosial yang diangkatnya. Sebagai ilustrasi, bisa dijadikan contoh di sini ketika TOKOH KITA mengangkat fenomena masyarakat yang tinggal di sepanjang Kali Malang di bawah jalan layang tol Bekasi Cawang Kampung Melayu (Becakayu), Jakarta Timur. TOKOH KITA menemukan fakta banyaknya masyarakat yang tinggal di sepanjang pinggir Kali Malang, yang juga berdekatan dengan jalan layang tol Becakayu, di saat pandemi Covid-19 sedang mewabah di seantero bumi ini memanfaatkan sebagian lahan yang ada di situ untuk bercocok tanam. TOKOH KITA berusaha mencari kata yang tepat untuk masyarakat yang melakukan aktivitas tersebut. TOKOH KITA berhasil menemukan di buku Isme-Isme dari A sampai Z oleh A. Mangunhardjana sebuah kata, yaitu kata `environmentalisme`. Kata tersebut didefinisikan sebagai `pandangan yang berkembang menjadi gerakan untuk menjaga dan melindungi kelestarian lingkungan alam dan juga meningkatkannya` (A.Mangunhardjana, 2001: 76). Berikut ini bisa kita lihat tulisan yang berkaitan dengan `environmentalisme`. 


Ada hal yang menarik ketika Pandemi Covid-19 melanda negeri ini, yaitu kebiasaan mencuci tangan setelah melakukan aktivitas dan menggunakan masker jika ke luar rumah. Selain itu, tentu saja  juga ada kebiasaan baru, yaitu membiasakan menjaga jarak sosial ketika berinteraksi dengan orang lain. Di luar itu ada aktivitas yang juga tidak kalah pentingnya, yaitu kebiasaan bercocok tanam di setiap jengkal tanah yang ada di rumahnya. Hasil cocok tanam (di luar tanaman hias) yang berupa sayur-mayur dan palawija terkadang modalnya jauh lebih besar daripada hasilnya. Bahkan, tidak mustahil banyak juga yang gagal. Meskipun demikian, semua itu tidak menyurutkan ibu-ibu rumah tangga untuk bercocok tanam. Ada sebuah kegembiraan tersendiri ketika memetik hasil dari bercocok tanam dan membagikannya pada para tetangga di sekitar rumahnya karena dalam kondisi sulit masih bisa berbagi.

Kebiasaan baru ini seandainya bisa dijaga dan ditingkatkan kesadarannya bukan saja sekedar bercocok tanam, tetapi juga adanya keinginan keras untuk menjaga kelestarian alam tidak mustahil sebagian masyarakat ini akan menjadi penggerak dan penjaga lingkungan hidup. Mereka yang boleh dikatakan masyarakat perkotaan kalau sudah seperti itu akan menjadi masyarakat yang disebut environmentalis. Environmentalis adalah gerakan melawan pengrusakan alam entah  itu yang namanya pencemaran atau pengotoran lingkungan. Mereka-mereka yang memiliki pandangan untuk menggerakkan dalam bentuk menjaga dan  melindungi kelestarian alam disebut environmentalisme (A.Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A Sampai Z, 2001:76). Dengan demikian, Pandemi Covid-19 yang boleh dikatakan telah banyak memakan korban ternyata di satu sisi juga melahirkan gerakan environtalisme di sebagian masyarakat perkotaan. 

(https://subagiowaluyo.com/berkisah-tentang-environmentalisme/)

 


***

Berbicara tentang fenomena sosial, TOKOH KITA menyebutnya sebagai gejala abnormal atau masalah sosial (Penampakan Nilai-Nilai Kemanusiaan dan Kesosialan dalam Karya Sastra Indonesia, 2020:438). Dalam hal ini, TOKOH KITA mengambil referensi dari sosiolog terkenal, Soerjono Soekanto, yang cenderung menyebutnya sebagai gejala abnormal atau gejala patologis atau masalah sosial ialah gejala yang menjadi faktor penyebab adanya unsur-unsur masyarakat yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan berbagai kekecewaan dan penderitaan yang membahayakan kehidupan kelompok sosial (Sosiologi Suatu Pengantar, 2015:312). Berkaitan dengan hal itu, TOKOH KITA di sumber yang sama menyebutkannya ada sebelas masalah sosial (2020:479-565). Kesebelas masalah sosial itu di antaranya adalah (1) kemiskinan, (2) pengangguran, (3) birokrasi yang buruk, (4) korupsi, (5) perilaku konsumtif, (6) disorganisasi keluarga, (7) modernisasi, (8) globalisasi, (9) pendidikan yang rendah, (10) pelanggaran HAM, dan (11) pertikaian dan konflik sosial. Dalam membahas kesebelas masalah sosial itu, TOKOH  KITA mengambil bahan yang dijadikan bahasannya dari karya-karya sastra Indonesia, baik berupa puisi, cerpen, maupun novel. Berikut ini bisa dilihat beberapa masalah sosial yang dijadikan contohnya.

1.   Kemiskinan


Sastrawan Indonesia banyak memuat masalah di seputar kemiskinan, entah itu dalam bentuk puisi, cerpen, novel, atau naskah drama. Berikut bisa dilihat naskah drama yang ditulis Arifin C. Noer “Mega-Mega” yang juga banyak berkisah tentang kemiskinan. Sesuai dengan judul naskah drama “Mega-Mega” yang berarti `awan`, cerita dalam naskah drama tersebut berkisah tentang orang-orang miskin yang hidupnya penuh dengan khayalan. Khayalan mereka yang demikian tinggi diibaratkan seperti mega, awan yang tinggi di langit, yang tidak mungkin bisa dijangkaunya. Mereka hidup tidak pernah bisa mewujudkan yang diimpikannya dengan kenyataan yang diperoleh. Itulah orang-orang miskin yang hidup dengan angan-angan (mega). Sekedar sebuah contoh bisa dilihat pada kutipan naskah drama Mega-Mega karya Arifin C. Noer berikut ini.

 

KOYAL : ( tidak peduli ) Lalu saya fikir saya harus punya banyak uang dulu. Malah akhir-akhir ini saya mencintai uang. Mengapa tidak? Saya telah melihat rumah yang bagus-bagus. Saya telah melihat mobil yang bagus-bagus. Saya telah melihat segala apa saja yang hanya bisa didapatkan dengan uang. Lalu…

HAMUNG : …..ngemis (tertawabersama Retno) 

KOYAL : ……lalu saya mulai mengumpulkan uang. Tapi pasti terlalu lama. Lalu saya belikan lotre. Dan baru saja saya hampir menang (tertawa) Itu tandanya tidak lama lagi saya akan menang. Dan kalau saya menang dan menang dan menang dan menang…dan menang lagi….oh, uang saya. Bertumpuk setinggi gunung Merapi. (tertawa) Ya, Mung. Kau boleh pergi ke Jakarta besok dan membuat rumah setinggi pohon kelapa, dan di sebelahnya, Tukijan boleh membangun rumah yang besarnya lima kali keraton. Apa yang saya perbuat? 

HAMUNG : Ngemis. (tertawa bersama Retno) 

KOYAL : Tidak. Saya akan mendirikan di antara rumah raksasa itu hanya sebuah gubug kecil saja. Tapi..dengar. Kalau jam tujuh pagi saya, Raja Uang, Keluar dari gubug itu dengan dua buah koper penuh berisi uang. Jangan lupa, becak langganan saya sudah menunggu di muka. Dengan dua koper itu saya berkeliling kota. (tertawa) Orang-orang di sepanjang jalan bersorak sorak ; Hidup Raja Uang, Hiduup Raja uang! Tentu saja saya hanya manggut-manggut. Dan dari koper itu, saya hambur-hamburkan uang. Pasti saya tertawa menyaksikan orang-orang berebutan uang seperti anak-anak ayam. Nah, kalau sudah jam 2 siang saya pulang. Uang habis sama sekali. Dalam gubug ajaib itu saya tidur siang. Tidur di atas kasur yang berisi uang. Berbantalkan bantal yang berisi uang, seraya memeluk guling berisi uang (tertawa). Sorenya saya keluar jalan-jalan dengan empat buah koper berisi uang. Tentu saja kali ini saya mesti menyewa mobil. Tiap-tiao rumah saya masuki dan saya taburi dengan uang. Terutama sekali rumah kau dan rumah Tukijan. (tertawa) Dan kalau sudah habis… 

…………………………………………………………………………………………............................... 

TUKIJAN : Sama sekali salah kalau orang mengira bahwa niat saya ini didorong oleh rasa ingin menolong. Kalau hanya lantaran perasaan itu barangkali tak perlu sampai-sampai saya harus memperistri kau. Saya membutuhkan kau. Tak lebih dari itu. 

RETNO : (Masih membisu) 

TUKIJAN : Impian itu mesti diwujudkan, barulah ada artinya. 

RETNO : (cuma memandang laki-laki itu. Itupun cuma beberapa saat). 

TUKIJAN : Saya juga tidak suka menjanjikan apa-apa. Semuanyya masih bakal. Yang saya miliki hanya kemauan. Dan lagi kita hanya mendengar bahwa tanah di seberang penuh kekayaan yang masih terpendam. Sangat luas. Segalanya masih terpendam. Segalanya. Di dalam tanah dan di dalam diri kita. Kalau kita sungguh-sungguh menghendaki, kita harus mengangkatnya ke permukaan hidup kita. Saya kira begitu. 

RETNO : (kembali memandang lelaki itu). 

TUKIJAN : Retno! Kau percaya? Saya tak peduli siapa kau. Saya hanya membutuhkan kau. Tak lebih dari itu. Saya tidak tahu tapi betul saya tak akan melakukan apa-apa seandainya kau tak ada. Itu saja. Itu pun. 

RETNO : Lantaran saya sangat mencintaimu, saya terpaksa menolak kau ajak. Percayalah, kau akan lebih senang sekiranya kau berangkat sendiri. Tak ada orang yang akan merepoti kau. Waktu kau lebih banyak.

……………………………………………………………………………………………………..

 

 

Orang-orang miskin, pengangguran, gelandangan yang tidak jelas jalan  hidupnya selalu panjang angan-angannya sehingga wajar-wajar saja kalau dalam kesehariannya kerja serabutan. Bahkan, dalam banyak  hal mereka juga tidak mengenal lagi halal-haram. Tokoh seperti Retno, misalnya,  hidupnya bergelimang dengan dosa. Dia menjajakan tubuhnya pada setiap hidup belang (laki-laki pezina) demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu saat dia juga menyadari jalan hidupnya yang kelam. Dia sebenarnya juga ingin  kembali kehidupan normal. Kehidupan yang jauh dari kemaksiatan. Begitu juga yang lainnya: Tukijan, Hamung, Panut, dan Koyal. Karena  tidak punya keterampilan dan tidak ada keinginan mengubah  nasibnya (bahkan sama sekali buta ajaran agama), mau tidak mau mereka fatalis. Mereka menyerah menghadapi kehidupan. Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai kaum yang teralienasi. Di negara ini sangat banyak anak bangsa yang tergolong kaum yang teralienasi karena mereka miskin dan pengangguran.

*** 

2.   Birokrasi yang Buruk dan Korupsi   

          Para sastrawan di negara ini secara masif juga sering menyoroti kedua hal yang  membuat negara ini terpuruk: birokrasi yang buruk dan korupsi. Keduanya dapat ditemukan di banyak karya sastra Indonesia. Taufik Ismail, misalnya, seorang sastrawan Angkatan `66 yang menulis puisi-puisinya yang terhimpun dalam Malu Aku Jadi Orang Indonesia menyoroti ketimpangan negara ini yang lebih disebabkan oleh kedua hal yang disebutkan di atas. Puisi berikut ini yang diambil dari kumpulan puisi di atas membuktikan kepekaan Taufik Ismail terhadap penyakit sosial yang menghinggapi perilaku para birokrat dan pengambil kebijakan di masa orde baru. Coba disimak bait puisi berikut ini yang terdapat dalam kumpulan puisi tersebut.

………………………………………………………………….

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan, 

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,

………………………………………………………………………………..

 

 

Di bait-bait puisi di atas Taufik menyebutkan bahwa di negara ini terjadi kerusakan birokrasi karena terjadi perselingkuhan birokrasi. Artinya, meskipun telah ada regulasi yang mengatur masalah apapun yang berkaitan dengan birokrasi, para birokrat seenaknya mengatur birokrasi. Dalam hal ini ketika berhadapan dengan rakyat kecil yang meminta layanannya, mereka melayaninya dengan setengah hati. Bahkan, ada kecenderungan dipermainkan sehingga setiap pelayanan yang seharusnya bisa diselesaikan dalam beberapa menit saja harus menunggu berhari-hari. Tetapi, kalau berhadapan dengan pebisnis (pengusaha), mereka sangat serius melayaninya karena di balik itu semua ada sesuatu yang menguntungkan (apalagi kalau bukan fulus). Selain itu, pengusaha bisa melakukan tekanan sehingga sang pengusaha karena telah berkolaborasi dengan penguasa tertinggi di sebuah daerah (kalau perlu di negara ini) bisa saja mengancam pejabat setempat dengan ancaman pemecatan atau minimal pemutasian jika dalam pengurusan layanannya dipersulit. 

          Di negeri ini kata Taufik, karena saking kuatnya nepotisme, yang namanya anggota keluarga entah itu anak lelaki, anak perempuan, sepupu, dan cucu mendapat perlindungan sepenuhnya dari sang ayah, paman, atau kakek yang memiliki kekuasaan. Bukankah kehancuran negeri ini dimulai dari adanya penyakit nepotisme? Karena birokrasi ala nepotisme pula yang membikin hancur negara ini, ketika semua kebutuhan hidup yang memang difasilitasi negara ada berbagai penggelembungan biaya. Artinya, ada unsur kesengajaan manipulasi biaya yang merugikan negara. Di sisi lain, negara pun sebenarnya dirugikan oleh penyakit nepotisme ketika dari anak-anak presiden sampai dengan anak-anak dirjen diberi keistimewaan atau mereka diutamakan mendapatkan layanan birokrasi di kedutaan besar negara-negara yang dituju yang boleh jadi bagi masyarakat biasa sangat sulit memperoleh layanan. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa rusaknya negara ini lebih disebabkan adanya layanan birokrasi yang buruk dan korupsi.

***

 

3.   Perilaku Konsumtif


Kenapa pejabat baik lokal maupun pusat di negara ini melakukan korupsi? Salah satu jawabannya adalah karena semakin  membudayanya perilaku konsumtif. Mereka tersihir oleh keserbagemerlapan yang terpampang ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan atau mal. Boleh juga, karena sekarang semua serba digital mereka tergiur dengan berbagai tawaran yang diajukan oleh berbagai toko online. Barang-barang yang ditawarkan benar-benar menggiurkan. Selain, harganya memang relatif terkadang lebih murah daripada di toko atau mal, mereka yang  malas ke luar rumah lebih memilih belanja lewat online. Tinggal ketik kode nomor barang yang ditawarkan dan transfer uang (tidak perlu ke ATM atau minimarket) lewat e-banking, terjadi transaksi. Tinggal tunggu bisa satu atau dua hari. Bahkan, tinggal tunggu beberapa saat, barang sampai ke rumah. Hidup di zaman sekarang ini manusia begitu dimanjakan dengan berbagai kemudahan bukan? Gambaran tentang budaya konsumtif bisa dilihat pada kutipan yang terdapat dalam novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara berikut ini.

 

……………………Sepertinya tidak percuma juga ia hamburkan uang untuk krim-krim mahal. Tidak percuma juga ia habiskan waktu facial dan beauty treatment lain di La Bela Vita, salon dan spa kecantikan langganan. 

Talyda menyipitkan mata. Kerut-kerut di sudut mata tidak tampak. Di usia ke-25, ia paling khawatir bila garis keriput muncul. Apalagi crows feet, garis jejak kaki burung gagak yang ditinggalkan usia pada sudut mata. Ia selalu memperhatikan keriput bila berkenalan orang baru. Tidak perempuan. Salah satu resolusi Tahun Barunya adalah mencegah keriput mata timbul. 

Ia merapikan gaun hitam karya desainer Alexander Mc Queen yang membalut tubuh. Di edisi Vogue bulan lalu, ia melihat Catherine Zeta-Jones mengenakan gaun yang sama. Ia merasa gaun berpotongan rendah itu membuat penampilan dirinya anggun. Semakin sederhana gaun, semakin mewah kesannya. 

Ia menyikat rambut hitam dan panjang, memikirkan keberuntungan-keberuntungan dalam hidupnya. Semua sempurna. Dan malam ini akan sama. Ya, keberuntungan akan berpihak pada dirinya.

………………………………………………………………………………………………….

Baginya dalam urusan parfum, tidak ada yang bisa mengalahkan buatan Prancis. Parfum buatan Italia terlalu keras dan mudah ditebak. Parfum buatan Amerika terlalu mengada-ada. Prancis, ya, hanya hidung Prancis mampu menghasilkan wewangian tepat. Feminin dan natural. Sempurna. Perempuan sempurna adalah perempuan wangi. Ia tak bisa sedetik pun tanpa subliminal. Dari eau de perfume yang biasa ia pakai malam hari. Eau de toilette sehari-hari. Body lotion setiap kali. Shower gel setiap mandi.

………………………………………………………………………………………………………

Ia memasuki walk-in-closet, memperhatikan koleksi baju tergantung. Baju tergantung harus saling berjarak lima senti. Tidak saling bersentuhan, tidak saling meninggalkan kerut. Itu baru sempurna. Ia membuka laci tumpukan baju tidur. Ia mengambil baju tidur warna merah cabe. Ia tersenyum melihat label Victoria`a Secret menempel di bulatan kerah.  Baju tidur dikenakan bagai kulit kedua.

……………………………………………………………………………………………….

Ia menyibak comforter pelapis tempat tidur. Ia menyelusup ke baliknya. Ia merasakan kehalusan kain sprai putih 100% Egyption cotton. Ia menenggelamkan kepala di bantal bulu angsa. Halus dan lembut. Hati sedikit terobati. Malam ini dia tidur dalam pakaian malam yang paling dibenci Gambir.

……………………………………………………………………………………………………..

Ia duduk santai di Chocomania, café yang terletak di dalam Century Center, pusat belanja yang paling mewah di kawasan Senayan. Semua mereka desainer dunia membuka toko mereka di pusat belanja ini. Tempat ini memang tidak seluas mal dan plaza lain di Jakarta. Tapi lebih eksklusif. Lebih upscale, karena barang-barang yang dijajakan di sini lebih mahal. 

Chocomania adalah café favorit Talyda. Café ini merupakan surga bagi penggemar cokelat. Semua hidangan yang disajikan terbuat dari cokelat kualitas terbaik yang diimpor dari Swiss dan Belgia. Sore ini ia memesan Chocolate Éclair untuk Menik Sasongko, dan White Chocolate Monsse untuk dirinya.

………………………………………………………………………………………………

Dikutip dari Novel Pintu Terlarang oleh Sekar Ayu Asmara.

 

***

4.   Disorganisasi Keluarga 

          Disorganisasi keluarga bukan hanya sebatas perceraian atau suami-istri tidur berpisah (pisah ranjang). Disorganisasi keluarga bisa saja entah istri atau suami yang selingkuh. Dalam novel Pintu Terlarang orang semacam Talyda memanfaatkan benar sikap Gambir, sang suami, yang memang takut sehingga melakukan pembiaran. Gambir yang takut pada istrinya (meski ia sangat mencintainya) sering diperlakukan kasar oleh istrinya. Sang istri jika tidak suka pada suaminya dengan kasar mengusir suaminya agar tidak tidur sekamar dengannya. Sebagai istri yang semestinya tunduk dan patuh pada suaminya tidak terlihat pada sikap Talyda. Sebaliknya, justru Talyda karena suaminya di bawah pengaruhnya memperlakukan suaminya seenak perutnya. Terbukti ketika suaminya salah sedikit saja, ia langsung bereaksi yang membuat suaminya benar-benar merasa bersalah. Salah satu perilaku yang diperlihatkan di sini ketika ia dengan kasar  mengusir suaminya dari kamar tidurnya. Tidak cukup sampai di situ, pada saat benar-benar marah pada suaminya, dia menenggak habis anggur yang diminumnya. Inilah salah satu dari disorganisasi keluarga. Tidak harus hidup berpisah atau cerai, cukup salah seorang (entah suami atau istri) sangat berkuasa dia bisa  melakukan apa saja, yaitu menyakiti pasangan hidupnya dengan perilaku kasar seperti yang diperlihatkan Talyda pada suaminya: Gambir. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada kutipan yang diambil dari novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu berikut ini.

 

Belahan nyawanya  benci melihat dirinya memakai lingerie warna merah. Pakaian dalam warna merah terkait image perempuan nakal. Mungkin belahan nyawanya punya pengalaman demikian di masa lalu. Biasanya ia menurut. Tapi malam ini, ia tidak peduli. 

Ia membelai bantal di mana kepala Gambir biasa merebah. Kosong. Tidak akan ada kepala meniduri bantal malam ini. Ia akan memberi Gambir pelajaran. Gambir harus menanggung akibat. “Kalau memang ia cinta, Gambir tak akan pernah melukai perasaan saya.” Ia cinta Gambir. Ia tidak akan pernah  melukai perasaan Gambir. 

Gambir membuka pintu memasuki kamar tidur. Ia terkejut. Pelacur berbaju merah mengambil alih bidadarinya. Matanya mencela. Kepala menggeleng. Batin berbicara. “Ke mana Talyda, bidadariku? Istriku yang sempurna. Istriku perempuan terhormat. Jawab, perempuan jalang! Ke mana istriku?” Tapi mulut terkatup. Ia tak berani melawan murka yang masih berkecamuk di hati bidadarinya.

Geleng kepala Gambir mengelupas luka yang mulai sembuh. Amarah Talyda terusik kembali. “Mau apa kamu ke sini?! Saya nggak mau kamu tidur di sini malam ini! Kamu tidur di luar saja!”

“Maafkan saya, saya bener-bener menyesal.”

“Saya benci kamu! Kamu tidur di luar sana!” Talyda mengambil bantal, membidikkannya ke belahan nyawanya. Gambir menangkap bantal, bergegas menutup pintu.

………………………………………………………………………………………………………

Bias nyala lilin putih di tengah meja menari-nari pada wajah Talyda. Nafsu makan hilang seketika. Gambir mengecewakan. Ia melihat ke pesanan belahan jiwanya. Spaghetti Il Mare, dihidangkan bertumpuk saus kepiting, udang-karang, dan cumi. Aku tak sempurna tanpamu. Kau tak sempurna tanpaku. Aku tak sempurna tanpamu. Kau tak sempurna tanpaku. Aku belahan nyawamu. Kau belahan nyawaku. Bersama kita sempurna. 

“Kamu kenapa nggak minta persetujuan saya dulu sih?”

Talyda merasa belahan nyawanya mulai melantur, mulai semena-mena. Kesempurnaan mulai terancam.

“Koh Jimmy yang maksa. Dia itu yakin banget.” Gambir serasa menyulut sumbu mercon di pemakaman.

“Maksudmu, saya nggak yakin sama kamu?” Kesempurnaan mulai terancam. Harus ditindak tegas.

“Bukannya begitu. Koh Jimmy bilang kamu pasti setuju.” Sumbu terus memercik. Terlambat bila dicegah.

 

Talyda menenggak habis sisa anggur. Gambir laki-laki pilihannya, di antara banyak laki-laki yang mengejarnya. Tak satu pun mampu menyaingi. Aku tak sempurna tanpamu. Kau sempurna tanpaku. Aku belahan nyawamu. Kau belahan nyawaku. Bersama kita sempurna. Kesempurnaan kini terancam. Belahan nyawanya mengambil keputusan tanpa mengajak bicara lebih dahulu.

“Gambir dengar ya. Saya ini istrimu, bukan istrinya Koh Jimmy. Kalau ada apa-apa, kamu mesti tanya dulu sama saya.” Peringatan tegas mengatasi perilaku menyimpang. Menyimpang, meninggalkan kesempurnaan. 

Gambir merasa restoran Antonio`s menyempit. Menyempit, menyempit, dan kian menyempit. Menyempit hingga hanya menyisakan sudut kecil. Sudut kecil dimana Gambir duduk tak berdaya. Dilanda marah pun bidadarinya tetap cantik. Cintanya kepada Talyda tak terbatas. 

………………………………………………………………………………………………………

Kesempurnaan bukanlah kepompong yang pasti bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Kesempurnaan tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan. Bellevue Suites adalah boutique hotel di Jalan Tirtayasa di kawasan Kebayoran Baru. Moto “Small is exclusive” tecermin dari jumlah kamar yang hanya sepuluh. Kata “tidak bisa” tak dikenal dalam pelayanan. Semua permintaan tamu mutlak disanggupi. Privacy dinomorsatukan. Inilah sebabnya hotel ini kemudian menjadi tempat favorit bagi pasangan berselingkuh. Tidak akan pernah ada yang  melihat, tidak akan pernah ada yang mengetahui. 

Di kamar nomor delapan, Talyda mengenakan kembali gaun hitam rancangan Donna Karan. Dari bibir tempat tidur, lamunan melayang ke masa lalu. Ia teringat pertama kali mengenal seks.

………………………………………………………………………………………………………

Pandangan dilayangkan pada tubuh telungkup di tempat tidur. Tubuh telanjang tak bernama. Tubuh telanjang tak beralamat. Meraka tadi bertukar pandang pada laju kecepatan seratus kilometer. Mereka bertukar senyum ketika berhenti di lampu merah. Tubuh tak bernama mengikuti hingga ke kamar nomor delapan. 

Semalaman, mereka berdua berbagi cinta. Singa betina menaklukkan raja belantara. Beban tak hinggap pada hati nurani Talyda. Bercinta dengan pasangan tak dikenal menjadikan semuanya lebih mudah. Tidak akan ada yang menuntut. Tidak akan ada yang disakiti.

…………………………………………………………………………………………………..

Talylda membenci kata selingkuh. Ia marah bila perbuatannya dikategorikan sebagai perselingkuhan. Baginya berselingkuh adalah ketika seseorang yang telah berpasangan memberikan hati kepada orang lain. Mencintai atau jatuh cinta kepada orang lain. Sementara, dirinya tidak demikian. Ia tetap mencintai Gambir. Cintanya tetap milik Gambir seorang.

Petualangan badaniah dengan laki-laki lain hanyalah upaya meyakinkan dirinya bahwa Gambir suami paling tepat. Suami yang sempurna. Petualangan memperkuat cinta kepada belahan nyawanya. Semua yang dilakukan sifatnya hanya fisik belaka. Boleh secara fisik ia dicicipi banyak orang, tapi cintanya tetap milik Gambir seorang.

Tangannya mencemplungkan korek api ke dalam stoples. Stoples sudah tiga perempat terisi berbagai macam korek api. Ia memiliki kebiasaan baru, mengoleksi korek api dari hotel-hotel di mana ia menginap. Setiap petualangan ditandai bukti satu korek baru.

 

Dikutip dari Novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara

 

***

Meskipun hanya menampilkan beberapa kutipan seperti terurai di atas, TOKOH KITA berharap pembaca bisa memahami konsep fenomena sosial atau yang dibahasakan oleh TOKOH KITA dengan masalah sosial. Masalah sosial yang dijadikan inspirasi oleh TOKOH KITA  dalam pengembangan tulisannya dilakukan dengan memasukkan contoh-contoh yang terdapat dalam karya-karya sastra Indonesia. Ternyata, dengan memasukkan kutipan-kutipan yang terdapat, baik dalam puisi, novel, maupun naskah drama pembacanya bisa memahaminya bahwa fenomena sosial juga bisa ditemukan dalam karya-karya sastra Indonesia. Dalam hal ini, TOKOH KITA mengajak pada pembacanya agar mengakrabi karya-karya sastra Indonesia (kalau perlu juga karya-karya sastra dunia) karena hanya dengan mengakrabinya pembacanya dengan mudah bisa menemukan sekian banyak fenomena sosial yang ada di sekitar pembaca. Dengan demikian, melalui membaca dan menikmati karya-karya sastra pembacanya bisa memperluas wawasan keilmuannya terutama yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial. 



Jumat, 30 Juni 2023

Bahasa dan Sastra (135)

 TOKOH KITA (2)

Subagio S. Waluyo


Seorang teman TOKOH KITA yang sengaja tidak disebutkan namanya di sini pernah menyampaikan kalau orang yang kerap menulis akan menemukan atau menciptakan konsep. TOKOH KITA turut mengamininya. Meskipun demikian TOKOH KITA diam-diam mencoba menelusuri semua tulisan yang pernah dimuat di website atau blogspot-nya. Bahkan, tulisan-tulisannya yang telah dibukukannya juga tidak luput dari penelusurannya. Ternyata, memang terbukti orang yang kerap menulis mau tidak mau juga akan menemukan atau menciptakan konsep. Di sini TOKOH KITA mencoba memaparkan contoh-contoh tulisannya yang memang ditemukan adanya penemuan konsep atau penciptaan konsep.

Kamis, 22 Juni 2023

Bahasa dan Sastra (134)

 TOKOH KITA (1)

Subagio S. Waluyo


Ada orang menyukai seni, tapi kurang peduli dengan muatan yang terdapat dalam karya seni itu. Salah seorang seperti itu adalah TOKOH KITA (meminjam tokoh utama dalam novel Iwan Simatupang Merahnya Merah dan Kering). TOKOH KITA termasuk orang yang kurang peduli dengan muatan yang terdapat dalam karya seni. TOKOH KITA selama sekian puluh tahun hanya menjadi penikmat karya seni. Kalau sekali-sekali mendengarkan lantunan lagu-lagu dari musisi lokal yang sebenarnya lirik lagunya punya nilai rasa tersendiri, TOKOH KITA sekedar mendengarnya saja walaupun ikut menyanyikannya. TOKOH KITA tidak pernah berupaya untuk memahami muatan yang terkandung dalam lirik lagu yang dinyanyikannya. Begitu pun kalau membaca karya-karya sastra, TOKOH KITA juga sekedar membacanya tanpa berusaha mengapresiasikannya karena sama dengan mencintai musik, TOKOH KITA hanya menyukai karya sastra tertentu. Namun, suatu saat di tengah malam, di saat menaiki bus luar kota yang sarat penumpang, TOKOH KITA mendengar Ebiet G. Ade melantunkan lagunya: `Dosa Siapa`. Sontak dalam sekejap saja ada satu perasaan yang tumbuh dalam dirinya. Dari sini TOKOH KITA mulai merenung, ternyata lirik-lirik lagu Ebiet yang didengarnya selama dalam perjalanan malam di bus itu banyak menyentuh perasaannya yang terdalam. Tidak terasa sudah sekian puluh tahun TOKOH KITA tidak memiliki kepedulian terhadap muatan yang terkandung dalam sebuah karya seni. TOKOH KITA sekedar menjadi penikmat, tapi tidak pernah belajar untuk memahami bahkan menilai sebuah karya seni. Ah!, TOKOH KITA telah menjadi orang yang abai sehingga kesempatan untuk belajar menikmati, memahami, dan menilai sebuah karya seni telah terabaikan. 

***

    TOKOH KITA sebenarnya patut bersyukur karena banyak orang yang sampai detik ini cenderung mengabaikan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya seni. Kalau ada sebuah nyanyian (apalagi diiringi dengan suara musik yang enak terdengar), orang hanya cenderung menyanyikannya tanpa memahami substansi yang terkandung dalam lirik lagu itu. Kalau ada sebuah karya sastra, orang hanya cenderung membacanya. Terkadang, orang bisa saja menuntaskan bacaannya. Tapi, tidak sedikit orang yang hanya membaca sekilas karena sudah terlanjur malas membaca buku-buku karya sastra yang secara fisik boro-boro membacanya, menyentuhnya pun tidak mau. Hal ini menunjukkan minat baca di kalangan masyarakat terhadap literasi semakin berkurang. Orang lebih cenderung membaca tulisan yang ada di HP-nya (itu pun tulisan yang tidak terlalu panjang). Kalau ada tulisan yang sebenarnya bermanfaat buat dirinya, karena menurutnya panjang dan membosankan, mau tidak mau tulisan semacam itu hanya dibaca sekilas. Wajar saja kalau orang cenderung gagal paham ketika memperoleh sebuah informasi.

   Kegagalan menangkap informasi bisa berakibat fatal. Bisa saja orang itu termakan hoax yang memang dalam dunia media sosial (medsos) sangat mungkin bisa terjadi. Kalau sudah termakan hoax, ujung-ujungnya yang terjadi adalah hingar-bingar di dunia medsos. Ujung-ujungnya, baik orang yang termakan hoax maupun orang yang tanpa sadar menyebarkan hoax sama-sama harus berhadapan dengan UU ITE. Kalau sudah berhadapan dengan UU ITE, siap-siap saja berhadapan dengan hukum. Bisa saja orang yang membuat hoax dan tanpa sadar menyebarkannya harus masuk bui. Jadi, siapapun orangnya ketika memperoleh postingan di gawainya sebaiknya baca sampai tuntas agar tidak gagal paham. Dengan membaca tuntas, orang akan bisa mengambil kesimpulan dari yang dibacanya. Boleh jadi tulisan yang bacanya layak disebarluaskan atau sebaliknya karena dikhawatirkan akan ada dampaknya yang cenderung negatif cukup sampai ke dirinya saja. Di sini seseorang harus terbiasa membaca, meresapi isinya, menangkap makna yang terkandung dalam tulisan, dan kalau perlu merenungi substansi yang ada dalam tulisan yang dibacanya.

    Sejak kecil TOKOH KITA sudah mempunya kebiasaan membaca buku. Buku-buku (terutama buku-buku cerita) dilahapnya sampai tuntas. Tapi, itu tadi TOKOH KITA hanya sebatas membaca. Tentang muatan yang terkandung di dalamnya agak sulit untuk mengungkapkannya. Meskipun demikian, sejak mendengar lagu-lagu Ebiet di perjalanan malam dengan bus TOKOH KITA mulai belajar mengungkapkan isi yang terkandung di dalamnya lewat tulisan. Bukan hanya lirik-lirik lagu, puisi-puisi, cerpen-cerpen, dan bahkan novel-novel juga tidak luput untuk dijadikan bahan mengungkapkan perasaannya lewat tulisan. Jadilah TOKOH KITA orang yang akrab dengan dunia literasi. Dunia literasi yang digelutinya baru benar-benar diseriusi ketika usia sudah mulai senja. Meski usia senja TOKOH KITA tetap berliterasi karena dengan berliterasi ada kepuasan yang tidak tergantikan.

***


TOKOH KITA tidak peduli penilaian orang tentang hasil-hasil karyanya. Orang mau katakan baik atau tidak bagi TOKOH KITA cukup masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Menulis baginya lebih merupakan sarana untuk me-maintenance otaknya agar tidak cepat pikun. Dengan berliterasi TOKOH KITA beranggapan telah berbagi dengan sesama. Bukankah merupakan sebuah kebahagiaan kalau setiap orang bisa berbagi? Tentu saja berbagi di sini adalah berbagi yang mengarah pada hal-hal yang positif bukan berbagi ke hal-hal yang negatif. Termasuk berbagi yang positif di sini adalah berbagi pengalaman hidup. TOKOH KITA pernah menulis pengalaman masa kecilnya yang penuh dengan dunia bermain. Dari tulisan itu TOKOH KITA mencoba membandingkan dunia bermain di masa kecilnya dengan dunia bermain saat ini. Di akhir tulisan TOKOH KITA menyimpulkan permainan di masa kecilnya (permainan tradisional) dulu lebih kreatif. Bukan hanya itu, TOKOH KITA juga menyampaikan kalau permainan tradisional lebih mengutamakan kejujuran, kebersamaan, dan kekuatan fisik. Permainan anak-anak zaman sekarang ini (zaman now) tidak menunjukkan itu semua. Permainan anak-anak zaman now cenderung individualis dan berbiaya tinggi. Selain itu, permainan anak-anak zaman now juga tidak menunjukkan adanya kreativitas. Dengan melihat permainan anak-anak zaman now TOKOH KITA merekomendasikan adanya kekhawatiran terjangkitnya penyakit psikopat dan sosiopat pada anak-anak zaman now.  

    Kalau dipikir-pikir, kok sampai sejauh itu yang dikhawatirkan TOKOH KITA? Kekhawatiran TOKOH KITA yang disampaikan lewat rekomendasinya bisa saja terbukti, bisa saja sebaliknya. Tapi, tidak ada salahnya bagi orang tua yang masih punya kepedulian terhadap pendidikan anak-anaknya untuk melakukan langkah-langkah preventif sedini mungkin. Bahkan, bukan hanya orang tua, masyarakat dan pemerintah juga perlu melakukan hal yang sama. Caranya, sebagaimana disarankan oleh TOKOH KITA, sediakan saja ruang bermain buat anak-anak. Di setiap lingkungan tempat tinggal sediakan saja tempat untuk digunakan anak-anak bermain. Di tempat-tempat yang sudah tersedia itu nantinya dihidupkan lagi permainan tradisional yang sudah jelas-jelas lebih menyehatkan, kreatif, mengedepankan kejujuran, dan tentu saja juga mengutamakan kebersamaan.

     Karena tulisan-tulisannya yang menunjukkan kepedulian pada sesama, TOKOH KITA menjadi orang yang humanis. TOKOH KITA bisa saja disebut sebagai penganut humanisme. TOKOH KITA yang telah menjadi penganut humanisme terbukti dalam tulisan-tulisannya berusaha merekomendasikan kepada setiap pembacanya agar berbuat kebaikan. Bahkan, TOKOH KITA juga menyarankan agar setiap orang mampu hidup lebih baik lagi. Tentu saja ketika TOKOH KITA merekomendasikannya tidak menutup kemungkinan ada pembaca yang siap menerimanya walaupun tidak sedikit yang merasa tidak nyaman dengan tulisannya karena ada kecenderungan mengeritisi perilaku mereka yang menyimpang dari nilai-nilai kemanusian (apa lagi pembaca yang `baperan`). Salah satu contoh tulisan yang mungkin membuat para pejabat publik di negara ini boleh jadi tersinggung ketika membacanya, misalnya, berkaitan dengan kutipan berikut ini.

………………………………………………………………………………………………………............................

Bukti uang rakyat bukan hanya masuk kantong sang koruptor tapi juga ada sebagian masuk ke pundi-pundi partai bukan cerita lama yang tidak perlu diingat-ingat kembali. Sampai sekarang pun masih tetap ada. Tidak usah ditutup-tutupi kalau memang para menteri yang dari partai politik atau anggota dewan yang sekarang juga tukang stempel pemerintah. Sudah banyak rakyat yang tahu tentang kinerja kalian. Tidak usah berbohong pada kami rakyat biasa. Tidak usah pakai ungkapan-ungkapan yang isinya cuma klise supaya rakyat senang. Itu semuanya `Pemberi Harapan Palsu` (PHP). Rakyat sudah tidak butuh lagi pemimpin negeri yang hanya sekedar PHP. Rakyat butuh bukti konkrit dari kerja-kerja kalian `wahai para wakil rakyat dan pimpinan negara terhormat`. Akui saja tahun ini memang tahun yang suram untuk negeri ini karena para wakil rakyat telah begitu banyak berbohong pada anak bangsa yang boleh jadi pernah memilih kalian. Tidak usah tersinggung jika kalian dijuluki sebagai pimpinan yang tidak amanah. Jika pimpinan tidak amanah, tunggu saja azab dari Allah SWT. Mungkin di dunia ini kalian bisa selamat. Tapi, pada saat nanti kalian berhadapan dengan Sang Khalik tidak mungkin kalian menghindar. `Gusti Allah mboten sare` (Tuhan tidak tidur) kata orang Jawa yang selalu menggunakan jargon tersebut. Saya hanya berharap sebelum Allah mencabut nyawa kalian, bertobatlah. Sadarilah bahwa kekuasaan itu umurnya pendek. Umur kita semua di dunia ini juga pendek jika dibandingkan dengan nanti di akhirat. Untuk itu, jangan lagi bikin dada anak bangsa ini sesak melihat perilaku kalian. Jangan sampai rajawali `.. mematuk kedua matamu/wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka…`, kata Rendra dalam puisinya: Rajawali.

 (Dikutip dari: “Tahun yang Menyesakkan”)

 


***


Tidak semua tulisan TOKOH KITA membuat pembacanya tidak nyaman karena sarat bermuatan kritik sosial. Terkadang, tulisan TOKOH KITA sebagai orang yang humanis juga bernuansa cinta kasih. Ketika mengangkat kasus orang yang patah hati, TOKOH KITA mengutip lirik lagu `Knife` (Rockwel) seraya menguraikannya bahwa bukan pisau yang membuat orang terluka, tapi kata-kata yang tajam seperti pisau memotong-motong perasaan seseorang yang mendengarnya. Memang, lirik lagu itu lebih tertuju pada orang yang patah hati karena mungkin kekasihnya entah selingkuh atau tiba-tiba saja memutuskan hubungannya. Tidak sampai di situ, sang kekasih juga sempat-sempatnya mengeluarkan kata-kata yang melukai hatinya. Coba kita simak tulisan TOKOH KITA berikut ini.

 

(1) `Knife/Cuts like a knife/How will I ever heal/I’m so deeply wounded`, potongan lirik ini membuat kita mencoba merenungkan ada apa di balik pisau yang bisa memotong hati manusia? (2) Di lirik tersebut bukan benda biasa yang dipotong dengan pisau. (3) Bukan juga pisau yang digunakan memotong. (4) Tapi, kata-kata yang tajam seperti pisau yang memotong perasaan (hati) seseorang. (5) Kata-kata yang diucapkan seseorang tanpa kendali bisa menusuk perasaan hati orang yang paling dalam. (6) Untuk itu, dalam kondisi apapun kita harus bisa mengendalikan diri. (7) Dengan bisa mengendalikan diri, orang bisa terhindar dari sakit hati.  

Dikutip dari: “9. Awali dengan Kutipan (3)”

  

Jadi, sebagai penulis yang humanis TOKOH KITA bisa menempatkan dirinya: kapan harus mengeritisi orang-orang yang memang menurut pandangannya patut dikritisi. Kapan juga TOKOH KITA akan mengangkat sisi-sisi kehidupan manusia yang penuh dengan keindahan dan cinta kasih.

     TOKOH KITA sebagai penikmat karya-karya seni dan sekaligus sebagai pengamat sosial berupaya menggeluti dunia literasi dengan menampilkan hasil tulisan yang bernuansakan keindahan, kritik sosial, dan juga tidak sedikit yang bernuansakan religiositas. Dalam tulisan-tulisannya tidak sedikit yang diselingi dengan kutipan-kutipan dari karya-karya seni entah itu dari puisi, lirik-lirik lagu, atau dari dialog-dialog yang terdapat dalam cerpen, novel, atau naskah-naskah drama. Semua yang dipandang TOKOH KITA layak untuk diselipkan dalam tulisan-tulisannya dimasukkan ke dalam karya-karyanya. Ada saja orang yang beranggapan bahwa tulisannya cenderung sebagai esai-esai kebahasaan dan kesastraan. Meskipun jika dianalisis, tidak sedikit yang berkaitan dengan bidang-bidang sosial. Salah satu tulisan yang sempat orang terkecoh ketika orang membaca tulisan dengan judul “Negeri Kolam Susu”. Tulisan bagi pembaca awam Cuma berkisah yang berkaitan dengan lirik lagu yang terdapat di sana: ‘Kolam Susu’. Padahal tulisan tersebut bermuatan kritik sosial terhadap pengelola negeri ini yang telah salah dalam mengelola negara sehingga kekayaan negeri ini tidak bisa dinikmati oleh sebagian besar penduduk negeri tercinta ini: Indonesia.

    Berkaitan dengan kekayaan alam negeri ini tetapi tidak bisa dinikmati oleh sebagian besar penduduk negeri ini sehingga menyisakan kemiskinan, pengangguran, kesehatan yang rentan, dan keterbelakangan intelektual yang masih menyelimuti bangsa ini, TOKOH KITA dalam tulisan-tulisannya juga menyertakan data-data akurat. Dalam setiap tulisannya yang tidak luput dari kutipan selalu disertai dengan sumber-sumber kutipannya sehingga TOKOH KITA luput dari tudingan plagiator. Untuk dunia literasi, TOKOH KITA bisa saja digolongkan sebagai orang yang memiliki integritas. Bukankah memang dalam dunia literasi dituntut adanya integritas karena tanpa integritas, bisa saja orang melakukan pencurian data. TOKOH KITA berusaha menjaga sikap integritasnya. Karena itu, sebagai orang yang humanis dan sekaligus memiliki religiositas yang cukup tinggi, TOKOH KITA dalam setiap doa-doanya selalu meminta kepada Tuhan agar dijaga sikap kekonsistenannya.

***

   TOKOH KITA terinspirasi menulis lewat lirik-lirik lagu Ebiet G. Ade yang menggugah nuraninya yang terdalam. TOKOH KITA yang memang sejak masa mudanya gemar membaca, baik buku-buku fiksi maupun nonfiksi tentu saja dimudahkan untuk menggerakkan tangannya untuk menulis. Bukankah pembaca yang baik merupakan penulis yang baik atau malah dibalik, penulis yang baik merupakan pembaca yang baik? TOKOH KITA tidak begitu peduli dengan pernyataan itu. Buat TOKOH KITA selama masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup, selama itu pula waktu dan tenaganya digunakan untuk berakrab dengan dunia literasi. TOKOH KITA juga berharap ada orang (terutama pembacanya) yang mau mengikuti jejak langkahnya.  

                                                                                                        

Sumber Gambar:

(https://godiscover.co.id/berhenti-peduli-pendapat-orang-lain-ini-triknya/) 





Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...