Kamis, 20 Juli 2023

Bahasa dan Sastra (139)

 TOKOH KITA (6)

Subagio S. Waluyo




Bagaimana keberagamaan TOKOH KITA? Sebagai seorang Muslim, TOKOH KITA termasuk orang yang taat dengan agamanya. Kalau ditelusuri, beberapa tulisannya ada yang secara khusus membahas tentang Islam. Tapi, tentu saja bukan melulu bicara tentang Islam dalam arti ilmunya atau syariahnya (Islamologi, syariat Islam) karena TOKOH KITA bukan berlatar belakang dari pondok pesantren atau dari perguruan tinggi Islam (apa lagi sampai mengambil program studi yang berkaitan dengan Ilmu Agama Islam) melainkan sampai saat ini TOKOH KITA lebih banyak belajar Islam dari pengajian-pengajian. Bahkan, lebih sering juga banyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan Islam, entah itu hadis, fiqih dakwah, akidah, ibadah, atau akhlak. TOKOH KITA juga akrab dengan buku-buku yang berkaitan dengan sejarah, baik yang berkaitan dengan sejarah Rasululullah, sejarah para sahabat, maupun sejarah kerajaan-kerajaan Islam setelah tidak adanya kekhalifahan, seperti sejarah kerajaan di masa Muawiyah, Abasiyah, dan Usmaniyah. Sejarah yang berkaitan dengan gerakan-gerakan Islam di negara ini juga tidak luput dari objek bacaan TOKOH KITA. Dengan demikian, sebagai seorang Muslim TOKOH KITA sedikit banyak tahu tentang Islam walaupun TOKOH KITA enggan disebut sebagai seorang ahli agama Islam atau tokoh Islam.

***



TOKOH KITA memang bukan orang ahli agama Islam. Karena sedikit banyak tahu tentang Islam, TOKOH KITA dalam beberapa kesempatan dengan kesedikittahuannya tentang Islam pernah menulis tentang kisah Qarun. Dalam tulisannya berjudul “Qarun Sang Kapitalis” (https://subagiowaluyo. com/ qarun-sang-kapitalis/) mengajak pembacanya untuk merenungkan tiga ayat yang terdapat di Surat Al-Qashas (76-78). Qarun digambarkan dalam tulisannya itu seorang tokoh yang serakah, riya, kikir, dan sombong. Karena kesombongannya, Qarun melakukan cara-cara tidak terpuji pada pengikut-pengikut Nabi Musa AS di antaranya melakukan provokasi agar mereka (para pengikut Nabi Musa AS) memusuhinya dan ingkar pada Allah SWT. Perilaku  Qarun sama dengan perilaku Fir`aun yang juga menganggap dirinya lebih tinggi daripada Allah SWT. Hal tersebut ditulis TOKOH KITA ketika mencoba menjelaskan bunyi Surat Al-Qashas: 76-78 berikut ini.

“Sesungguhya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka (sesama kaumnya). Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, `Janganlah kamu terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orng-orang yang terlalu membanggakan diri`. Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan Janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata, `Sesungguhnya aku  hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku`….”

 

Selanjutnya, berdasarkan ketiga ayat tersebut TOKOH KITA mencoba menyampaikan bahwa  Qarun dan Nabi Musa masih terhitung sepupu karena Qarun anak paman Nabi Musa AS. Ketika miskin Qarun berakhlak baik. Tapi, entah mengapa ketika Allah berikan kekayaan ada perubahan dalam akhlaknya. Qarun menjadi berakhlak buruk. Qarun merasa bahwa kekayaannya selama ini merupakan jerih payahnya berbisnis. Memang benar dari kerja kerasnya Allah berikan sedikit demi sedikit kekayaan sehingga digambarkan kunci-kunci gudang yang digunakan untuk mengunci perbendaharaan hartanya demikian berat dipikul oleh orang-orang yang berotot. Keberhasilannya dalam mengubah nasibnya dari seorang miskin menjadi orang yang sangat kaya tidak disyukurinya. Justru dia semakin sombong. Bentuk kesombongan yang paling nyata ketika dia mengumpulkan orang untuk memamerkan kekayaannya. Meskipun ada orang yang memberikan nasihat agar dia tidak membanggakan diri, dia bergeming alias cuek bebek (masa bodo amat). Dia pun diingatkan oleh Allah seperti yang termaktub dalam ayat 77 di surat yang sama (Al-Qashash).

Khusus untuk ayat 77, ada empat butir yang bisa kita ambil sebagai pembelajaran. Keempat butir itu bisa kita uraikan satu persatu. Pertama, mencari kebahagiaan negeri akhirat. Sebagai manusia perlu dicamkan bahwa kita hidup bukan hanya di dunia ini. Di dunia ini kita hidup hanya sementara. Ada kehidupan yang abadi, yaitu kehidupan akhirat. Kalau semua manusia sadar bahwa ada kehidupan akhirat yang abadi, mereka tentu tidak mau menyia-nyiakan waktu selama hidup di dunia ini. Mereka pasti berusaha mau memanfaatkan hidupnya sebaik mungkin. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, kebanyakan manusia tidak menyadarinya sehingga mereka melakukan lebih banyak keburukan daripada kebaikan. Untuk itu, tidaklah aneh jika sebagian besar manusia gagal dalam menjalankan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat.

Kedua, ada kesempatan manusia untuk memanfaatkan hidupnya selama  di dunia dengan melakukan sesuatu yang merupakan kenikmatan duniawi. Tapi, perlu diingat, kenikmatan duniawi tentu saja yang tidak berbaur dengan kemaksiatan. Ada manusia yang selama hidupnya menikmati kenikmatan duniawi dengan melakukan hal-hal yang terlarang, misalnya berzina, berjudi, dan mabuk-mabukan. Jelas, yang seperti itu merupakan perbuatan terlarang. Kenikmatan yang diperoleh dengan melakukan itu semua hanya kenikmatan sementara. Kenikmatan semacam itu adalah kenikmatan yang bergelimang dengan lumpur-lumpur dosa. Karena itu, selagi Allah masih memberi kesempatan pada kita untuk bisa hidup di dunia ini, kita perlu menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat sebagaimana bunyi hadis berikut ini.


“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: `sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna`

 

Ketiga, berbuat baik pada orang lain dengan memberikan bantuan entah itu dalam bentuk tenaga, pikiran, materi, atau do`a. Selama kita memiliki kemampuan fisik yang memadai, apa salahnya kita bantu orang lain yang memang diminta atau tidak memerlukan tenaga kita? Orang-orang di sekitar kita yang menjadi korban entah itu yang namanya gempa, misalnya, bisa kita bantu dengan tenaga kita selama kita ada waktu walaupun sehari saja atau beberapa jam saja. Kalau tenaga memang tidak bisa, karena waktunya memang tidak ada, kita bisa bantu lewat bantuan pemikiran. Singkatnya, selama kita masih diberi umur oleh Allah SWT manfaatkan baik tenaga, pemikiran, harta, maupun do`a untuk membantu orang lain. Sebagai tambahan, perlu juga direnungkan bunyi hadis berikut ini.

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda `Jika salah seorang di antara kalian baik (sempurna) Islamnya, setiap kebaikan yang dikerjakannya akan dicatat/dilipatgandakan dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap keburukan yang dilakukannya akan dicatat seperti apa yang ia lakukan (tidak ditambahi)`”

(HR Bukhari)

 Meskipun bukan ahli agama, TOKOH KITA sekedar menulis tentang watak orang seperti Qarun yang diambil dari Surat Al-Qashas: 76-78 bukan menjadi hambatan sehingga orang tidak mau menyampaikan nilai-nilai kebaikan. TOKOH KITA mampu menjabarkan perilaku yang ada pada Qarun agar para pembacanya tidak melakukan perilaku yang sama, yaitu serakah, riya, kikir, dan sombong. Bukan itu saja, Qarun juga melakukan cara-cara tidak terpuji pada pengikut-pengikut Nabi Musa AS di antaranya melakukan provokasi para pengikut Nabi Musa agar memusuhinya dan ingkar pada Allah SWT. Di samping itu, TOKOH KITA juga mengutip hadis-hadis yang mengingatkan pada para pembacanya agar meninggalkan perkara yang tidak berguna dan Allah akan mencatat kebaikan yang dilakukan hamba-Nya. Dengan demikian, TOKOH KITA turut menyadarkan pembacanya agar tidak berperilaku seperti Qarun.

***




Kalau uraian di atas lebih pada menjelaskan isi yang terkandung dalam Al-Quran, uraian berikut ini lebih merupakan penjelasan dari bunyi hadis berikut ini:

“Ya, Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, berlindung kepada-Mu dari bencana kehidupan (dunia) dan bencana (setelah) kematian” (HR. Asy-Syaikhani).


Hadis di atas jika diperhatikan merupakan sebuah doa yang boleh jadi sering disampaikan seseorang setelah melaksanakan solat, baik solat fardu maupun sunah. Umat Islam yang kerap membaca doa tersebut banyak yang tidak tahu kalau doa tersebut merupakan bunyi hadis yang disampaikan Rasulullah SAW. Bahkan, boleh jadi banyak juga umat Islam yang tidak memahami makna yang terkandung dalam doa tersebut. Ternyata, TOKOH KITA karena kerap melakukan kontemplasi menemukan bahwa di hadis tersebut ada lima permintaan yang disampaikan seorang hamba pada Allah, yaitu kelemahan, kemalasan, kebodohan, kerentaan, dan kekikiran. TOKOH KITA menyebutnya sebagai 5 K sehingga ketika membuat judul tulisannya menjadi “Berlindung dari 5 K” (https://subagiowaluyo.com /berlindung-dari-5-k/). Dipastikan para pembacanya ketika melihat judul tersebut akan bertanya-tanya dan sudah dipastikan ada rasa ingin tahu: “apa yang dimaksud dengan 5 K itu?”. Di sini bisa dilihat potongan-potongan tulisan TOKOH KITA yang terdapat di link di atas itu.

……………………………………………………………………………………………………..

Kelemahan 

Kelemahan termasuk salah satu indikator negatif seorang Muslim. Karena merupakan salah satu indikator negatif, setiap pribadi Muslim harus menjauhinya. Untuk itu, seorang Muslim harus terhindar dari kelemahan baik fisik, akal, maupun rohani. Untuk terhindar dari kelemahan fisik, seorang Muslim harus memenuhi kebutuhan fisiknya dengan makanan yang halalan thoyyiban. Selain itu, juga harus melakukan aktivitas olah raga secara rutin. Dianjurkan pula oleh Islam untuk berpuasa di luar puasa wajib, seperti puasa selang hari, senin-kamis, pertengahan bulan, dan puasa-puasa sunnah lainnya. Rasulullah SAW sendiri pernah mengatakan bahwa seorang Muslim yang kuat itu lebih baik daripada seorang Muslim yang lemah (Al-Hadis). Agar fisiknya kuat, perlu secara rutin seorang Muslim berinisiatif memeriksakan kesehatannya secara rutin ke dokter. Dengan cara demikian dia akan bisa mendektesi sedini mungkin jika ada penyakit-penyakit internis. Seorang Musim yang sehat fisiknya, Insya Allah mampu untuk beraktivitas, menanggung beban kerja, dan melakukan berbagai kreativitas.

…………………………………………………………………………………………………….

Kemalasan

Setiap Muslim yang memiliki kekuatan (fisik, intelektual, dan mentalitas) harus bisa mengatur waktu, memiliki kedisiplinan, dan mampu mandiri. Kalau salah satu di antara ketiganya atau semuanya tidak ada, dia tergolong seorang Muslim lemah atau malas. Orang malas atau yang mempunyai kemalasan bisa dicirikan dari tidak bisa mengatur waktu. Al-Qur`an sendiri telah mengingatkan akan pentingnya waktu. Sampai-sampai demikian pentingnya masalah waktu ada ayat khusus tentang waktu, yaitu Surat Al-Asr. Di surat tersebut Allah SWT bersumpah dengan menggunakan Al-Asr (demi masa). Di surat tersebut Allah SWT juga mengingatkan pada orang-orang beriman kalau manusia itu banyak (bahkan boleh jadi sebagian besar) tergolong orang yang rugi. Mengapa? Mereka dianggap yang merugi karena sepanjang hidupnya yang demikian singkat ini tidak pernah melakukan kebaikan (amal sholeh) dengan saling berwasiat (mengingatkan atau menasihati) dalam kebenaran dan kesabaran.

…………………………………………………………………………………………………….

Kebodohan

Seperti telah diketahui salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah kebodohan yang ditandai dengan sikap taklid atau jumud sebagaimana telah diuraikan di atas. Orang-orang yang memusuhi Islam ada kecenderungan untuk melakukan pembiaran agar umat Islam tetap dalam kejumudan atau kebodohan. Mengapa? Mereka sadar kalau umat ini cerdas, pintar, dan kritis akan berbalik untuk memusuhi mereka. Bahkan, tidak mustahil membumihanguskan mereka.Untuk itu, ada program yang terselubung dan masif melakukan perang pemikiran. Hanya dengan cara itu umat Islam akan tetap dalam kebodohan.

…………………………………………………………………………………………………….

Kerentaan

Kerentaan identik dengan ketidakberdayaan. Orang yang telah renta (sangat tua) sudah pasti tergolong orang yang tidak berdaya. Karena ketidakberdayaannya, orang yang telah renta diberi keringanan misalnya puasa. Orang yang renta tidak diwajibkan puasa seperti orang yang normal (sehat fisik, akal, dan rohaninya). Cukuplah bagi orang yang renta membayar fidyah (memberi makan orang miskin) sebagaimana telah disebutkan dalam Surat Al-Baqarah: 184. Begitu juga ibadah-ibadah wajib yang lain.Kalau memang masih sanggup dipersilakan mereka untuk melaksanakannya. Tapi, bagaimana dengan orang renta yang selain penyakitan juga pikun (tidak berakal)? Karena akalnya sudah tidak sempurna, mereka tidak ada lagi kewajiban untuk melaksanakan ibadah. Salah satu syarat sahnya ibadah bukankah di antaranya berakal atau sempurna akalnya? Cukuplah amalan-amalan yang lalu ketika mereka sehat dijadikan amal sholeh kelak di yaumul akhir.

……………………………………………………………………………………………………

Kekikiran

Orang yang kikir jelas orang yang tidak bisa memberikan manfaat buat orang lain. Orang seperti ini juga jelas tidak mencintai kebaikan. Orang yang cinta kebaikan sudah pasti tidak kikir. Orang yang mencintai kebaikan pasti orang yang pemurah (lawan dari orang yang kikir). Setiap Muslim yang kaafah bisa dipastikan adalah orang-orang yang pemurah dan mencintai kebaikan. Jika ada seorang yang mengaku Muslim tetapi kikir, dia tidak bisa digolongkan sebagai seorang Muslim yang kaafah karena dia masih memiliki sifat bakhil (kikir). Sifat kikir sendiri yang masih melekat pada diri seorang Muslim menunjukkan kekurangsempurnaannya dalam ber-Islam. Mustahil seorang Muslim yang kaafah masih memiliki sifat kikir.

 

(https://subagiowaluyo.com/berlindung-dari-5-k/)

 

***



Selain dalam tulisannya mengutip dari Al-Quran dan Hadis, TOKOH KITA juga terkadang mengutip dari karya-karya sastra. Hal ini mengingat TOKOH KITA adalah orang yang gemar membaca buku-buku karya sastra. Sebagai penikmat sastra, TOKOH KITA belajar memanfaatkan teks-teks dalam karya sastra dijadikan sebagai bahan tulisannya. Salah satu karya sastra yang diambil di antaranya adalah cerpen yang ditulis oleh Umar Kayam:”Lebaran di Karet. Di Karet….”. Cerpen ini berkisah tentang seorang laki-laki tua yang sudah setahun lamanya ditinggal istrinya. Anak-anaknya yang dididik di Barat tidak ada seorang pun yang mengunjunginya. Mereka hanya mengirimi kartu lebaran yang berisikan permintaan maaf karena tidak bisa datang di hari lebaran. Bagaimana gambaran isi cerpennya? Bisa dilihat beberapa potongan cerpennya dan komentar TOKOH KITA tentang potongan isi cerpen tersebut. 

…………………………………………………………………………………………………….

Menjelang hari-hari Lebaran yang semakin dekat, Is merasa rumahnya semakin kelihatan besar dan kosong lagi. Betapa tidak. Empat ruang tidur di tengah rumah itu hanya dia tempati sendiri sejak istrinya meninggal setahun yang lalu. Ruang-ruang tidur selebihnya selalu kosong sejak anak-anaknya pindah ke luar negeri dan ruang tamu itu lebih lama lagi tidak disinggahi orang. Di bagian belakang rumah, dipisahkan oleh lorong belakang rumah, adalah kamar tempat tinggal sepasang suami-istri Sumo yang sudah ikut keluarga Is selama bertahun-tahun. Mereka akan muncul ke dalam rumah kalau Is memanggil mereka untuk keperluan ini dan itu. Selebihnya tidak ada komunikasi antara mereka.

……………………………………………………………………………………………………

Dalam hari-hari mendekati Lebaran, Is berharap surat anak-anaknya akan mulai berdatangan, seperti layaknya kebiasaan pada hari-hari seperti itu. Dan, memang betul saja, surat mereka memang pada berdatangan. Tetapi surat-surat itu mengecewakan Is karena pendeknya. Dengan bersungut-sungut surat-surat tersebut dalam beberapa detik telah selesai dibacanya. Huh, wong surat Lebaran buat orang tua kok dikirim dalam kartu pos bergambar… Itu pun dalam beberapa baris… Nana yang menulis dari Geneva minta maaf liburan winter tahun ini tidak jadi pulang ke Indonesia karena sudah janji sama si Jon (kakak si temanten baru nih ye), buat mengajari main ski di Alpen. Opo ora hebat, Dad. Maaf banget, nggih Dad? Makam Mommy apa sudah ditutup nisan? Love kita semua. Kemudian Jon hanya titip salam “Hi, Dad”. Kemudian surat dari Suryo, anaknya yang sulung, yang masih menetap di New York yang masih kerja magang di IBM yang juga minta maaf tidak bisa pulang ke bapaknya karena sudah terlanjur janji untuk libur dengan pacarnya anak Puerto Rico. Sambil terus bersungut kartu pos bergambar dari anak-anaknya itu dilemparkannya ke meja. Huh, anak-anak! Yang tanya ibunya juga cuma satu! Itu pun soal sudah dinisan apa belum…

……………………………………………………………………………………………………

 

(Dikutip dari: Cerpen Umar Kayam “Lebaran di Karet. Di Karet….”) 

 

 

Bagaimana komentar TOKOH KITA ketika melihat potongan-potongan cerpen di atas? TOKOH KITA mempertanyakan, kenapa anak-anak Is tidak ada satu pun yang tinggal bersamanya? Jawabannya mudah saja karena sejak kecil tidak ditanamkan pendidikan agama. Maksudnya, pendidikan agama yang  mengajarkan anak-anak agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Bukankah agama (dalam hal ini Islam) memerintahkan agar ketika orang tua berusia lanjut sang anak berbuat baik pada kedua orang tuanya (17/23-24; 31/14; 46/15). Karena kedua orang tuanya lalai menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anaknya, mengakibatkankan anak-anaknya ketika dewasa tidak punya kepedulian pada ayahnya. Kalau sejak kanak-kanak ditanamkan nilai-nilai agama, kedua anaknya tidak akan tega membiarkan ayahnya sendirian di rumahnya. Boleh jadi Is dan istrinya yang tanpa disadari gaya hidupnya sedikit mewah seperti diplomat dan anak-anaknya dididik di Barat yang cenderung sekuler dan liberal menjadikan anak-anaknya tidak punya kepedulian pada kedua orang tuanya. Akar masalahnya sudah jelas, yaitu kesalahan pada Is dan istrinya yang sama sekali tidak menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anaknya. Ayahnya tidak akan kesepian kalau saja di hari Lebaran anak-anaknya berkumpul di rumahnya. Tetapi, sesuatu yang seharusnya demikian indah itu tidak terjadi. Anak-anaknya hanya mengirim kartu lebaran. Walaupun disertai dengan permintaan maaf, hal itu jelas mencerminkan sikap masa bodoh anak-anaknya pada ayahnya.


Ternyata, penanaman nilai-nilai Islam selain dengan Al-Quran dan Hadis juga bisa dilakukan lewat karya sastra (dalam hal ini cerpen). Kalau saja setiap Muslim mau melakukan kebaikan, jalan mengarah kebaikan pasti masih ada. TOKOH KITA telah membuktikannya dengan menampilkan cerpen hasil karya sastrawan Indonesia terkenal: Umar Kayam. Sastrawan-sastrawan Indonesia di luar Umar Kayam banyak yang telah menulis nilai-nilai Islam ke dalam karya-karya sastranya sebut saja Taufik Ismail yang telah menulis puisi-puisi Islam dalam Qasidah Barzanji yang dinyanyikan oleh Grup Bimbo, musisi asal Bandung di tahun `70-`80-an. Begitu juga dengan Ebiet G. Ade yang kalau diamati lirik-lirik lagunya tidak sedikit bernuansa religius. Dengan demikian, sastrawan-sastrawan Indonesia telah banyak berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai Islam di bumi pertiwi ini.

***

Walaupun tidak banyak menguasai ilmu agama, TOKOH KITA telah membuktikan bahwa menegakkan amar makruf nahi mungkar bisa dilakukan oleh siapapun. Dalam hal ini penegakan amar makruf nahi mungkar dilakukan melalui tulisan. Untuk bisa melakukannya, tidak perlu harus memiliki banyak ilmu karena TOKOH KITA berpegang teguh pada bunyi potongan hadis baligul anni walau ayah (sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat). Meskipun hanya tahu bismillah, misalnya, seseorang wajib menyampaikannya karena kalau sampai menunggu banyak ilmu, penegakan amar makruf nahi mungkar tidak akan terlaksana. Bagaimana kalau tidak terlaksana? Sudah bisa dipastikan akan semakin banyak kemungkaran. Jadi, supaya tidak banyak terjadi kemungkaran, TOKOH KITA melalui tulisannya berupaya melakukan amar makruf nahi munkar walaupun sumbangsihnya bagi umat ini tidak begitu banyak. TOKOH KITA berprinsip selagi masih ada umur manfaatkan waktu yang dengan ada memberikan nilai-nilai kebaikan. TOKOH KITA juga berharap agar kebiasaan yang baik itu benar-benar bisa istiqomah.

Sumber Gambar:                                  

(https://www.dailysia.com/kisah-qarun-saudagar-kaya-raya-yang-mati-tenggelam-bersama-hartanya/) 

 


Senin, 17 Juli 2023

Bahasa dan Sastra (138)

 TOKOH KITA (5)

Subagio S. Waluyo


Di “TOKOH KITA (4)” telah dijelaskan bahwa kerja analisis isi juga bisa dilakukan bukan sebatas mengungkap makna yang terkandung dalam karya-karya sastra saja, pemberitaan di media, percakapan dalam teks atau skenario film/drama, adegan dalam sinetron, atau hasil wawancara yang biasa dilakukan dalam penelitian kualitatif juga bisa dilakukan. Selain itu, juga telah dijelaskan bahwa tulisan yang di dalamnya ada deskripsi yang berusaha menjelaskan isi naskah memudahkan orang untuk memahami isi bacaan. Isi bacaan yang berasal dari karya-karya sastra seperti puisi, misalnya, tidak mudah untuk dipahami. Agar pembacanya bisa memahami isi yang terdapat dalam karya sastra dilakukan deskripsi dengan menganalisis setiap baris, bahkan kalau perlu setiap kata, yang terdapat dalam puisi. Bukankah karya sastra merupakan hasil imajinasi dan kontemplasi penulisnya sehingga sangat dibutuhkan uluran tangan dari TOKOH KITA untuk menganalisisi isi sebuah karya sastra?

***

Terkadang bukan hanya karya-karya sastra yang sulit dipahami isinya, sebuah pemberitaan juga sulit dipahami kalau dalam pemberitaan tersebut mengutip pendapat orang yang ketika berpendapat menggunakan kata-kata atau istilah-istilah yang berbau akademis. Pendapat dari kalangan akademis karena sudah terbiasa dalam memberikan pembelajaran di bangku kuliah atau di forum-forum ilmiah ketika diwawancarai juga terkadang menyelipkan kata-kata atau istilah-istilah yang sulit dimengerti orang lain. Di sinilah peran seseorang untuk mencoba menjelaskan informasi yang disampaikan orang akademis itu. Tidak sedikit tulisan TOKOH KITA mendeskripsikan isi entah itu yang terdapat dalam pemberitaan, tulisan ilmiah, atau gambar-gambar (dalam hal ini bisa berupa gambar-gambar grafik, ilustrasi, atau karikatur). Dengan melakukan analisis isi yang kemudian dideskripsikan oleh TOKOH KITA pada akhirnya banyak pembacanya yang memahami isinya. Berikut ini bisa dilihat tulisan-tulisan yang merupakan hasil analisis isi dari berbagai referensi.

 

Pada pembelajaran aktif yang berpusat pada mahasiswa (SCAL), fokus pembelajaran tidak pada penguasaan materi atau konten, akan tetapi pada pengembangan sikap belajar sepanjang hayat (life-long learning). Iklim belajar di antara mahasiswa pada pembelajaran aktif bersifat kooperatif, kolaboratif dan suportif. Iklim atau suasana belajar seperti ini memungkinkan mahasiswa membangun dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya serta menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan mendalam (critical and deeper thinking skill) yang diperlukan lulusan menghadapi masalah dalam kehidupan maupun dunia kerja. Suasana belajar ini juga lebih memungkinkan berkembangnya soft skill, antara lain kepemimpinan, empati, bekerja sama, kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah, tenggang rasa, dan lainnya, yang tidak terjadi pada pembelajaran tradisional. Menurut survei sebuah perusahaan, soft skill berperan penting dalam meraih sukses di dunia kerja. 

Dalam SCAL, mahasiswa dan dosen bersama-sama mengembangkan pengetahuan dengan pusat proses pembelajaran adalah pada mahasiswa, sedangkan dosen lebih berperan sebagai fasilitator dan/atau narasumber. Dari uraian di atas dapat dirangkum bahwa pada SCAL : 1. Mahasiswa ikut bertanggung jawab atas pembelajarannya; 2. mahasiswa aktif belajar secara mandiri maupun berkelompok; 3. mahasiswa mampu mengembangkan potensinya secara optimal, untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan secara utuh; 4. mahasiswa dapat memilih dan mengembangkan bidang minatnya; 5. mahasiswa menemukan cara belajar dan cara mempelajari IPTEKS sehingga mampu belajar sepanjang hayat; mahasiswa lebih mampu mengembangkan soft skills; 7. mahasiswa memperoleh pengalaman belajar dalam proses belajarnya; 8. mahasiswa harus dapat menunjukkan hasil belajar/kinerjanya; 9. mahasiswa harus dapat mempresentasikan penyelesaian tugas hasil belajarnya; yang dibahas bersama; 10. mahasiswa harus menyelesaikan tugas yang merupakan pokok dalam pembelajaran, secara mandiri maupun berinteraksi dalam tim atau berkelompok; 11. penilaian proses sama pentingnya dengan penilaian hasil ujian. Proses pembelajaran dalam pembelajaran aktif adalah kegiatan yang didesain untuk memastikan bahwa mahasiswa menggunakan kemampuan yang telah dimilikinya untuk membangun pengetahuan dari gagasan dan informasi penting yang dipelajarinya untuk mencapai kompetensi atau kemampuan yang ditetapkan (Tomlinson,1999); 12. dosen beralih peran sebagai fasilitator dan/atau narasumber yang mendampingi mahasiswa dalam proses pembelajarannya, dan 13. dengan kecepatan kemajuan ipteks dan sarana komunikasi, maka dalam SCAL, dosen dan mahasiswa sama sama belajar. 

(https://simak.ui.ac.id/wp-content/uploads/2016/07/Modul-SCAL-OBM-mahasiswa.pdf)

 


TOKOH KITA ketika menganalisis isi tulisan di atas mendeskripsikan bahwa dalam pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa yang aktif mahasiswanya bukan dosennya karena mahasiswa digiring untuk belajar mandiri. Selain itu, mahasiswa juga bisa belajar bersama (berkelompok) dalam bentuk diskusi atau brainstorming atau bisa juga semacam focus group discussion (FGD). Agar diskusi itu bukan sekedar omong-omong tidak terarah, sejak awal sang dosen sudah memberikan arahan dengan cara menentukan terlebih dahulu tema yang mau dijadikan bahan diskusi. Berikan kisi-kisinya yang berkaitan dengan bahan diskusi. Perlu juga diingatkan bahwa diskusi itu meskipun hanya dilakukan oleh sekelompok mahasiswa bahan hasil diskusi dikumpulkan. Bahan-bahan tersebut kemudian dirangkum dan diedit menjadi sebuah tulisan yang tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan bahan pembelajaran. Kalau aktivitas diskusi mahasiswa sudah berjalan, yang namanya UTS atau UAS sekalipun sebenarnya tidak diperlukan lagi. Cukup penilaian dari diskusi-diskusi seperti itu. Di sini insan akademis yang bernama dosen harus benar-benar menyadari akan pentingnya mengubah paradigma termasuk paradigma yang menyatakan penilaian mutlak dari UTS atau UAS. Padahal ada yang lebih berbobot dari sekedar UTS atau UAS, yaitu diskusi semacam FGD. FGD kalau benar-benar diseriuskan tidak mustahil akan menghasilkan karya besar atau karya monumental sekalipun.

Lebih jauh TOKOH KITA juga menyampaikan  agar FGD benar-benar bisa menghasilkan karya monumental, dalam FGD di kelas masukan-masukan baik dari dosen sebagai fasilitator maupun teman-teman sesama mahasiswa sebagai peserta diskusi diharapkan dapat menyempurnakan isi bahan presentasi tersebut. Dosen sebagai fasilitator mempunyai peranan penting untuk membantu sang mahasiswa agar bahan presentasinya suatu saat bisa dijadikan bahan pengayaan pembelajaran mata kuliah yang diampunya. Bahkan, tidak mustahil di tangan dosen yang kreatif dan inovatif bahan-bahan hasil diskusi itu akan dikumpulkan dan suatu saat bisa saja dijadikan buku teks pembelajaran di perguruan tinggi. Seandainya, ada tiga puluh mata kuliah di setiap program studi melakukan hal  yang sama, akan ada tiga puluh buku teks yang siap diterbitkan. Kalau di sebuah perguruan tinggi ada sepuluh program studi akan ada tiga ratus buku teks yang dapat menjawab masalah kelangkaan buku-buku teks. Bukankah ini merupakan jawaban terhadap miringnya orang yang menganggap remeh tentang proses belajar-mengajar di perguruan tinggi yang selama ini hanya mirip-mirip lembaga kursus?  

***



TOKOH KITA juga bisa menganalisis isi sebuah artikel yang dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online. Salah satu tulisan yang terdapat di media online, seperti di kompasiana.com pernah dianalisis isi tulisannya. Tulisan tersebut berkaitan dengan pembangunan. Kalau berbicara tentang pembangunan, sudah bisa dipastikan teori yang digunakan adalah Teori Pembangunan Pendekatan ala Walt Withman Rostow atau biasa disebut sebagai Teori Pertumbuhan Ekonomi Rostow. Konsep Rostow bisa dilihat pada tabel di atas. Meskipun demikian, tentang isi tabel tersebut tidak perlu dibahas di sini. TOKOH KITA lebih tertarik untuk membahas tulisan yang terdapat di kompasiana.com karena tulisan mengaitkan pembangunan dengan logika pembangunan era Orde Baru. Selain itu, ini yang menarik, TOKOH KITA mengakhiri analisis isinya dengan menampilkan gambar yang berkaitan dengan SDG`s (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat tulisan berikut ini.   

Ada beberapa hal menarik yang harus dilihat dari proses pembangunan bangsa zaman orde baru dengan sekarang, yaitu logika pembangunan. Menurut penulis, logika pembangunan era orde baru dengan sekarang adalah sama, yaitu sama-sama menggunakan pendekatan The stages of economic growth ala W.W. Rostow. 

Dalam teori tersebut, Rostow menjelaskan bahwa pembangunan atau modernisasi merupakan proses bertahap, dimana masyarakat akan berkembang dari masyarakat tradisional dan berakhir pada tahap masyarakat dengan konsumsi tinggi. Pembangunan ekonomi atau transformasi suatu masyarakat tradisional menuju masyarakat modern merupakan suatu proses yang multidimensional. Dimana perubahan ini bukan hanya bertumpu pada perubahan ekonomi dari agraris ke ystemy saja, melainkan pula perubahan pada bidang sosial, budaya, politik, ekonomi, bahkan agama. 

Melihat reaksi dari proses pembangunan baik yang sedang berjalan sekarang maupun pada masa orde baru, memang di akui bahwa pembangunan tersebut berjalan secara signifikan sesuai dengan apa yang di rencanakan. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus di evaluasi dari proses pembangunan tersebut. 

Menurut penulis, proses pembangunan tidak hanya di prioritaskan pada pembangunan infrastruktur yang terlihat secara fisik semata, akan tetapi pembangunan jiwa dan mental masyarakat untuk menuju tahap akhir dari teori Rostow harus juga di imbangi. Hal tersebut di perlukan guna memberikan kesadaran secara psikologis kepada masyarakat untuk menghadapi kemajuan zaman. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih buta terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat ini. 

Selain itu, proses pembangunan ini harus juga merata dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, agar supaya tidak terjadi disintegrasi. Meskipun sudah diterapkan ystem desentralisasi, akan tetapi hal tersebut perlu dikaji kembali oleh pemerintah pusat, sebab sumber daya, tingkatan ekonomi dan pendapatan masing-masing daerah itu berbeba-beda. Hal tersebut diperlukan agar masyarakat tidak kaget ataupun terkejut dengan berbagai tantangan yang akan di hadapi. 

(https://www.kompasiana.com/sang_bima/5cde68076db8434b811a557a/21-tahun-reformasi-pembangunan-masa-depan-bangsa-belum-selesai?page=all)


Pembangunan yang berorientasi pada pendekatan pertumbuhan ekonomi model Rostow ternyata bukan saja menghasilkan pembangunan yang tidak merata tetapi juga menciptakan manusia Indonesia yang tidak manusiawi. Hal itu bisa terjadi karena negara ini abai membangun manusia berkarakter baik. Pembangunan manusia seutuhnya yang dulu pernah digadang-gadang di masa orde baru ternyata hanya sebatas slogan. Dalam prakteknya sama sekali nihil alias sebatas wacana karena ternyata bangsa ini tetap saja semakin materialistis dan liberalis. Bangsa ini pun  mencoba mencanangkan pembangunan yang berkelanjutan (PB). PB yang di dalamnya mencakup tujuh belas tujuan pembangunan sampai saat ini perlu dipertanyakan sampai sejauhmana pelaksanaannya? Jangan-jangan nantinya juga sebatas wacana karena pelaksanaannya jauh panggang dari api. Selain itu, PB juga memiliki tiga aspek, yaitu aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup. Apakah ketiga aspek itu juga benar-benar dilaksanakan sesuai tuntutan dan tuntunan? Bagaimana kalau masih terjadi kebakaran hutan di negara ini yang pelaku-pelakunya adalah orang-orang yang sama? Bagaimana negara ini mau mandiri pemerintahannya kalau penguasanya bergandengan tangan dengan pengusaha sama-sama cari keuntungan atau sama-sama merampok kekayaan negara ini? Dengan demikian, jangan banyak berharap akan terjadi pemerataan pembangunan di negara yang kita cintai ini. Coba saja kita perhatikan gambar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dari tujuh belas tujuan adakah tujuan yang telah tercapai? 

***

Di samping melakukan analisis isi terhadap tulisan yang terdapat, baik di sebuah berita maupun artikel, TOKOH KITA juga beberapa kali mencoba menganalisis isi dari sebuah gambar. Gambar yang dianalisis bisa berupa gambar karikatur, bisa juga ilustrasi. Di gambar karikatur berikut ini, TOKOH KITA walaupun hanya menulisnya dalam satu paragraf berupaya mengajak pembacanya untuk sama-sama mereviu sebuah fenomena sosial yang tampak di hadapan kita. Begitu juga ketika ditampilkan sebuah gambar ilustrasi, TOKOH KITA lagi-lagi juga meminta pembacanya untuk mereviu ke dalam diri kita untuk melakukan introspeksi diri. Agar bisa dipahami lebih jauh lagi, silakan dilihat gambar karikatur dan ilustrasi berikut ini beserta analisis isinya.


(1) Masalah-masalah penyimpangan sosial sering dijadikan objek oleh karikaturis untuk menyampaikan kritik sosialnya. (2) Kritik sosial yang disampaikan karikaturis disalurkan melalui gambar-gambar karikatur yang dimuat di berbagai media massa, baik media cetak maupun online. (3) Gambar karikatur di atas, misalnya, merupakan salah satu cara menyampaikan kritik sosial sang karikaturis. (4) Gambar karikatur tersebut tampaknya dibuat dalam rangka merayakan Hari Anak Nasional. (5) Hal itu jelas terlihat di layar TV yang terdapat di gambar karikatur itu. (6) Anak yang sedang makan sambil nonton TV terlihat menangis dan berteriak-teriak. (7) Sementara itu, kedua orang tuanya dengan gawainya asyik bersilancar di dunia maya. (8) Bersilancar di dunia maya tidak ada salahnya asalkan anak juga mendapat perhatian. (9) Jangan karena asyik bersilancar di dunia maya sampai-sampai kurang perhatian pada anak? 

(https://subagiowaluyo.com/13-dipancing-pakai-gambar-karikatur/)

 



(1) Bagaimana cara memahami diri sendiri dari perspektif diri sendiri? (2) Ini pertanyaan menarik. (3) Dikatakan menarik karena untuk memahami diri sendiri membutuhkan proses berpikir yang mendalam. (4) Meskipun demikian, juga diperlukan kejujuran karena seringkali orang memanipulasi dirinya bahwa dirinya tahu persis kelebihan dan kekurangannya. (5) Kejujuran dibutuhkan karena sering orang saking egonya hanya menonjolkan kalau dirinya punya banyak kelebihan atau lebih mengedepankan kebaikan. (6) Padahal, banyak orang tahu kalau orang tersebut pernah melakukan berbagai kesalahan. (7) Salah satu kesalahan fatal, misalnya, orang tersebut pernah di media online memfitnah orang dengan kata-kata yang tidak senonoh sehingga orang yang  difitnah itu terpukul. (8) Orang tersebut memang merasa bersalah dan buru-buru minta maaf seraya mencabut tulisannya yang nyinyir itu. (9) Itu baru salah satu contoh saja ulah orang tersebut di dunia maya. (10) Walaupun itu hanya baru sekali dilakukan di dunia maya, ibarat nila setitik rusak susu sebelanga, perilaku yang diperlihatkan orang tersebut di dunia maya jelas merupakan cacat dirinya yang tidak bisa dihapus dari ingatan orang terutama orang yang pernah difitnahnya. (11) Artinya, keseharian orang tersebut secara kasat mata di hadapan orang termasuk memang orang baik-baik. (12) Tetapi, perilakunya yang telah mencoreng nama baik orang lain jelas menghapuskan kebaikannya. (13) Dengan kata lain, orang tidak akan mudah untuk melupakan kesalahannya. (14) Bahkan, orang juga bisa berkesimpulan kalau orang tersebut jangan-jangan di dunia nyata memang kesehariannya sering melakukan kesalahan. (15) Untuk itu, ketika seseorang belajar memahami dirinya sendiri dibutuhkan sebuah kejujuran atau dia juga perlu perspektif orang lain. 

(https://subagiowaluyo.com/12-dipancing-pakai-gambar-ilustrasi/)

 


***

Sebagai penulis, TOKOH KITA dengan melakukan analisis isi telah banyak membantu pembacanya dalam memahami isi, baik sebuah karya fiksi maupun nonfiksi. Bahkan, lebih jauh dari itu, TOKOH KITA juga menuntun pembacanya untuk memahami isi yang terdapat, baik dalam gambar ilustrasi maupun gambar karikatur. Agar mudah memahami muatan yang terdapat dalam karya fiksi dan nonfiksi serta gambar-gambar ilustrasi dan karikatur, tidak cukup semua itu dilakukan analisis isi, tapi juga harus dideskripsikan. Dengan cara demikian, pembacanya benar-benar memahami di balik makna yang terkandung, baik pada karya-karya sastra, berita, maupun artikel. Bahkan, gambar-gambar ilustrasi, karikatur, dan grafik atau tabel sekalipun bisa dipahami isi yang terkandung di dalamnya. Diharapkan dengan cara demikian, tidak mustahil, baik TOKOH KITA maupun pembacanya juga bisa menemukan konsep yang biasa dilakukan orang ketika melakukan penelitian kualitatif. 

Sumber Gambar:

1)(https://protuslanx.wordpress.com/2010/10/23/teori-tahap-tahap-pertumbuhan-walt-whitman-rostow/)

2) (https://sdgs.bappenas.go.id/kolaborasi-dalam-mencapai-tujuan-pembangunanberkelanjutan-tp bsdgs-di-indonesia/) 


 

Sabtu, 08 Juli 2023

Bahasa dan Sastra (137)

 TOKOH KITA (4)

Subagio S.Waluyo


TOKOH KITA pada tulisan “TOKOH KITA (2)” mempersilakan pada para pembacanya untuk menelusuri tulisan-tulisan TOKOH KITA, baik yang terdapat dalam buku-bukunya maupun yang terdapat di website/blogspot-nya. Dengan cara demikian diharapkan para pembacanya telah melakukan penelitian kepustakaan. Bisa juga dikatakan dengan mencari kata atau frase yang terdapat dalam tulisan-tulisan TOKOH KITA, dengan sendirinya para pembacanya telah melakukan analisis isi. Dimaksudkan dengan analisis isi, menurut Nanang Martono dalam Metode Penelitian Sosial: Konsep-Konsep Kunci (2015: 24-25) adalah upaya mengungkap makna di balik teks, simbol, atau materi tekstual lainnya dengan cara menganalisis secara kritis berbagai kepentingan atau muatan nilai-nilai tertentu yang mendasari pembentukan teks atau simbol-simbol tersebut. Kalau memang demikian bunyi definisinya, bisa dikatakan yang dilakukan oleh TOKOH KITA selama ini ketika membahas berbagai referensi entah itu karya sastra, berita, atau informasi lainnya adalah kegiatan yang berkaitan dengan analisis isi.

Boleh jadi ada orang yang penasaran, apa benar yang dilakukan TOKOH KITA ketika melakukan aktivitas penulisan berkaitan dengan analisis isi? Coba dibuktikan pernyataan tersebut dengan mengangkat beberapa contoh tulisan TOKOH KITA sehingga rasa penasaran itu lambat-laun hilang dan berganti dengan sebuah kepuasan. Kepuasan itu boleh jadi timbul karena wawasan keilmuan pembacanya semakin bertambah. Dengan bertambahnya wawasan, para pembacanya diharapkan bisa melakukan hal yang sama, yaitu sama-sama bisa membuat tulisan yang bermuatan analisis isi. Sekarang, secara bersama-sama diamati dan dipelajari tulisan TOKOH KITA berikut ini. 

 

HAMPA

 

                            Kepada Sri

 

 

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.

Lurus kaku pohonan. Tak bergerak

Sampai ke puncak. Sepi memagut,

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti.

Sepi.

Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat-mencekung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa

Udara bertuba. Setan bertempik

Ini sepi terus ada. Dan menanti.

 

 

(Karya: Chairil Anwar) 

Puisi di atas menggambarkan tentang kesepian. Kesepian merupakan sebuah ketentuan Tuhan yang tidak bisa dihindari manusia. Seperti halnya Chairil Anwar yang mencoba mengungkapkan kesepian dengan kata-kata “Sepi di luar. Sepi menekan mendesak./Lurus kaku pohonan. Tak bergerak/ Sampai ke puncak. Jadi, suasana yang digambarkan Chairil memang benar-benar sepi sampai-sampai pepohonan pun tidak bergerak. Bisa dibayangkan kalau pepohonan sampai sama sekali tidak bergerak berarti suasananya sudah benar-benar seperti stagnan, mati. Suasana seperti itu akan membikin orang semakin galau karena biar bagaimana pun manusia membutuhkan suasana yang hidup. Suasana yang hidup setidaknya memunculkan kedinamisan. Dengan demikian, kesepian itu sebuah kematian atau keterasingan sebagaimana diungkap oleh Chairil di puisi “Sia-Sia” yang di akhir puisinya ia mengungkapkan …Ah hatiku yang tak mau memberi/mampus kau dikoyak-koyak sepi. 

Chairil kemudian juga mengungkapkan kalau sepi itu telah membuat dia benar-benar tidak tenang, gelisah, galau. Dia tercekik oleh kesepian sebagaimana diungkapkan …Sepi./Tambah ini menanti jadi mencekik/ Memberat mencekung punda/Sampai binasa segala. Belum apa-apa/Udara bertuba. Setan bertempik/ Ini sepi terus ada. Dan menanti. Jadi, suasananya memang bertambah sepi. Sampai-sampai digambarkan lehernya tercekik oleh kesepian. Saking kuatnya cekikan itu, membuat bahunya berat dan mencekung. Bahkan, kesepian itu telah  membuat segalanya binasa. Kesepian itu membuat udara di sekitarnya beracun. Karena itu, kesepian itu telah membuat setan berteriak keras sehingga suasana sepi itu membuat suasana di sekitarnya semakin seram.

Ungkapan Chairil tentang sepi memang sangat berlebihan (hiperbola). Tapi, jauh di balik itu ada pesan Chairil sebagai penyair, yaitu dia ingin menyampaikan tentang hidup manusia yang tidak lepas dari keterasingan atau keterisolasian. Bisa juga jika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat atau bangsa, dijabarkan sebagai bangsa yang harus siap menerima kondisi yang tidak mengenakkan. Kalau sebelumnya posisinya sangat diperhatikan, mereka pada akhirnya mau tidak mau harus menerima nasib sebagai bangsa yang terasingkan atau terisolasi atau teralienasi. Bangsa yang teralienasi bukankah bangsa yang digambarkan Chairil pada puisi di atas sebagai bangsa yang tercekik sampai mencekung bahunya? Artinya, bangsa tersebut telah benar-benar menderita lahir-batin. Bangsa seperti itu hanya menjadi penonton bukan pemain. Mereka menjadi objek bukan menjadi subjek. Mereka pada akhirnya hanya menatap kekayaan negaranya dirampok habis-habisan oleh pemain-pemain luar (ada juga bangsa sendiri yang bermental hipokrit). Mereka menangisi harga dirinya yang juga dirampok oleh bangsa lain. Dari tangisan mereka bukan lagi keluar air mata, tapi darah karena air mata mereka telah kering sehingga yang keluar dari matanya darah.

 (https://subagiowaluyo.com/teralienasi/)

 

Pada tulisan di atas, TOKOH KITA berusaha mendeskripsikan isi yang terdapat dalam puisi “Hampa” karya Chairil Anwar. Gambaran rasa sepi itu demikian mencekam sehingga pepohonan pun bergeming seolah-olah juga diterpa kesepian. Bisa saja orang mengatakan itu suatu pernyataan yang berlebihan. TOKOH KITA pun mengakuinya karena di paragraf ketiga TOKOH KITA menulis: “Ungkapan Chairil tentang sepi memang sangat berlebihan (hiperbola).” Meskipun demikian, TOKOH KITA menyampaikan bahwa Chairil Anwar selaku penyair ingin menyampaikan tentang hidup manusia yang tidak lepas dari keterasingan atau keterisolasian. Justru, dari ungkapan yang disampaikan TOKOH KITA inilah nanti dikembangkan tulisan yang menggambarkan tentang keterasingan atau keterisolasian atau boleh juga disebut sebagai teralienasi.

***



Bukan hanya menganalisis isi karya sastra seperti puisi di atas, TOKOH KITA juga menganalisis cerita rekaan (cerkan). Cerkan yang dijadikan objek salah satu di antaranya adalah cerita pendek yang ditulis Achmad Marzoeki: “Koruptor Tanpa Korupsi”. Cerpen “Koruptor tanpa Korupsi” berkisah tentang Faisal (tokoh utama) yang divonis bersalah karena telah membiarkan istrinya menerima uang haram dari kontraktor ketika dia masih menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran di salah satu kementerian tempat Faisal bekerja dulu. Walaupun peristiwa tersebut sudah cukup lama, Faisal tetap dianggap bertanggung jawab karena pada saat itu dia belum bercerai dengan istrinya. Memang,  Faisal tidak bersalah. Tidak ada bukti-bukti yang menguatkan kalau Faisal melakukan korupsi. Kesalahan seharusnya ditimpakan pada mantan istrinya. Tetapi. sebagai suami pada waktu itu, Faisal merasa bersalah karena tidak bisa mendidik istrinya agar tidak korupsi. Faisal merasa memiliki tanggung jawab moral atas perbuatan istrinya. Karena itu, Faisal menerima saja vonis yang ditimpakan padanya. Faisal telah jadi korban hukum dari sebuah pengadilan karena dijerat UU Korupsi sehingga disebut koruptor walaupun tidak korupsi.

………………………………………………………………………………………………………

Segalanya berjalan cepat. Persidangan berlangsung mulus. Faisal divonis empat tahun penjara. Pengacaranya membujuk Faisal agar naik banding, kalau perlu sampai kasasi dan peninjauan kembali.

“Tidak. Saya terima hukumannya. Ini sudah adil,” tolak Faisal. 

“Tapi, Bapak kan tidak menerima komisi itu. Bapak tidak korupsi!” 

“Benar, saya tidak menerima komisi itu, makanya saya tidak dibebani ganti rugi. Tapi saya bersalah,” tegas Faisal. 

“Bapak salah apa?” pengacaranya tidak habis mengerti. 

“Saya bersalah dan pantas dihukum bukan karena korupsi, tapi karena tidak bisa mendidik istri agar tidak korupsi. Saya bisa saja lepas dari jeratan UU Korupsi yang menjadi dakwaan primair, karena tidak ada pelanggaran hukum atau penyalahgunaan wewenang yang saya lakukan. Saya juga bisa berkelit dari jeratan Pasal 56 KUHP sebagai dakwaan subsidair, terkait memberi kesempatan sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan korupsi. Tapi saya tidak bisa mengelak dari tanggung jawab moral seorang suami yang seharusnya mendidik istri,” jelas Faisal.

Pengacaranya diam.

………………………………………………………………………………………

 (Cerpen “Koruptor tanpa Korupsi”/Achmad Marzoeki)

 


TOKOH KITA menganalisis isi potongan cerpen di atas dengan membuat deskripsi bahwa peristiwa yang menimpa Faisal bisa dipastikan peristiwa langka. Jangan-jangan malah tidak ada orang seperti Faisal yang mau bertanggung jawab atas perilaku mantan istrinya. Karena yang korupsi adalah istrinya, Faisal bisa saja naik banding atau mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Tapi, itu tidak dilakukannya. Faisal lebih cenderung memilih menerima vonis hukuman. Di sini lagi-lagi pembaca diingatkan penulis cerpen bahwa seorang suami mempunyai kewajiban mendidik istrinya. Selain itu, ditilik dari judul cerpen yang ditulis Achmad Marzoeki saja (“Koruptor tanpa Korupsi”) pembaca sudah dibikin pusing karena tidak mungkin ada di dunia ini koruptor yang tidak melakukan korupsi. Faisal jelas bukan koruptor.  Faisal pejabat yang jujur. Di sini penulis cerpen menulis sebuah satire yang benar-benar menonjok hati nurani pembacanya bahwa kesalahan yang dilakukan oleh seorang mantan istri tidak bisa semata-mata ditimpakan pada seorang suami. Achmad Marzoeki Sang Penulis cerpen telah berhasil mengedukasi pembacanya. Bukankah memang misi utama sebuah karya sastra adalah mengedukasi pembacanya?

Selanjutnya, TOKOH KITA juga mengedukasi pembaca, mengedukasi masyarakat sebenarnya bukan hanya domain kalangan sastrawan. Semua orang punya misi yang sama. Faisal di cerpen tersebut sadar bahwa misi utamanya untuk mengedukasi istrinya telah gagal karena gara-gara istrinya Faisal masuk penjara. Rupanya, Faisal lalai mengedukasi istrinya. Bisa jadi Faisal telah mengeduksi dirinya sendiri sebagai tahap pertama dalam pengedukasian. Faisal merasa kalau belum kesampaian mengedukasi anggota keluarga yang lain (termasuk istrinya) sudah keburu masuk penjara. Orang seperti Faisal ada kemungkinan asyik mengedukasi diri sendiri. Walaupun  juga mengedukasi masyarakat lewat aktivitas agama (khutbah jumat) dan aktif dalam kegiatan antikorupsi, Faisal sampai-sampai lupa sama sekali untuk mengedukasi anggota keluarga yang lain sehingga Faisal menelan akibatnya. Dengan demikian, aktivitas mengedukasi diri sendiri juga harus disertai dengan mengedukasi anggota keluarga yang diteruskan dengan mengedukasi lingkungan tempat tinggal (masyarakat sekitar).

***


TOKOH KITA juga pernah menganalisis isi novel terjemahan. Salah satu Novel terjemahan yang dianalisis isinya adalah novel karya penulis keturunan Jepang yang telah lama tinggal di Inggris: Kazuo Ishiguro. Dari sekian banyak novel yang ditulis Kazuo Ishiguro yang dijadikan objek TOKOH KITA adalah novel berjudul Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku). Novel yang berhasil menjadi Pemenang Novel Sastra tahun 2017 ini berkisah tentang manusia kloning yang nantinya di usia relatif muda harus mendonorkan organ-organ tubuhnya. Pada tahap akhir ketika mendonorkan organ tubuhnya sudah dipastikan mereka akan mendapati kematian. Dari sekian banyak orang muda, yang masih selamat sampai usia 31 tahun belum juga didonorkan organ tubuhnya adalah tokoh utamanya: Kathy. Kathy masih dipertahankan untuk tidak mendonorkan organ tubuhnya karena tenaganya sebagai seorang perawat masih dibutuhkan. Meskipun demikian, sama dengan yang lain, Kathy juga pada akhirnya akan mendonorkan organ tubuhnya. Berikut ini bisa dilihat dari sekian banyak guru (di novel tersebut disebut guardian) ada salah seorang guardian, Lucy, yang secara terbuka menyampaikan pada para siswanya bahwa siswa-siswanya tidak berusia panjang karena sebelum usia tua atau separuh baya mereka harus mendonasikan organ-organ tubuhnya. Berikut ini sedikit kutipan dari novel Never Let Me Go.

 

“….. Masalahnya, menurutku adalah bahwa kalian sudah diberitahu tapi tidak diberitahu. Kalian sudah diberitahu, tapi tak satu pun kalian benar-benar mengerti, dan aku berani bilang, beberapa orang senang membiarkan nya seperti itu. Tapi aku tidak. Kalau kalian akan menjalani hidup yang layak, kalian harus tahu, dan tahu dengan benar. Tak satu pun dari kalian akan pergi ke Amerika, tak satu pun dari kalian akan jadi bintang film. Dan takkan ada yang bekerja di supermarket seperti yang kudengar direncana-kan oleh beberapa dari kalian tempo hari. Hidup kalian sudah ditetapkan. Kalian akan jadi orang dewasa, lalu sebelum kalian menjadi tua, bahkan sebelum separuh baya, kalian akan mulai mendonasikan organ-organ vital kalian. Untuk itulah kalian masing-masing diciptakan. Kalian bukan seperti para aktor yang kalian lihat di video-video, kalian bahkan tidak seperti aku. Kalian diciptakan di dunia ini untuk suatu tujuan, dan masa depan kalian, semuanya, sudah diatur. Maka jangan bicara seperti itu lagi. Tak lama lagi kalian akan meninggalkan Hailsham, dan segera setelahnya tibalah saatnya kalian akan mempersiapkan donasi kalian yang pertama. Kalian harus ingat itu. Kalau ingin hidup layak, kalian perlu tahu siapa dan apa yag ada di depan kalian, masing-masing dari kalian.”

 

Ketika menjadikan teks di atas sebagai bahan yang dijadikan analisis isi, TOKOH KITA mendeskripsikan bahwa Lucy sebagai guardian memang agak lain dibandingkan dengan guardian-guardian yang lain. Kalau guardian yang lain cenderung menutup diri sehingga tidak mau menyampaikan apapun pada para siswa Hailsham, tidak demikian dengan Lucy. Lucy di hadapan siswa-siswa Hailsham, ada kemungkinan karena terpanggil rasa kemanusiaannya, suatu saat pernah menyampaikan sesuatu yang sebenarnya diharamkan untuk disampaikan. Dia menyampaikan kalau siswa-siswa Hailsham jangan bermimpi pergi ke Amerika atau jadi seleberitis atau bekerja di supermarket karena hidupnya sudah ditetapkan. Artinya, mereka tidak akan berusia panjang karena sebelum memasuki usia tua atau separuh baya mereka mendonasikan organ-organ vitalnya. Mereka juga sudah diingatkan bahwa sebentar lagi akan  meninggalkan Hailsham. Maksudnya, ditempatkan di luar Hailsham (di cottage). Setelah itu satu persatu mereka mempersiapkan donasinya.

Apa yang ditulis TOKOH KITA ketika menganalisis isi teks berikut ini? 

…………………………………………………………………………………

Ketika musim semi tiba, semakin banyak veteran pergi untuk memulai pelatihan, dan meskipun kepergian mereka tanpa banyak ribut-ribut seperti biasanya, jumlah mereka yang semakin banyak membuatny mustahil untuk tidak diperhatikan. Aku tak yakin bagaimana perasaan kami, menyaksikan kepergian-kepergian itu. Kupikir dalam batas tertentu kami iri pada orang-orang yang pergi itu. Rasanya seolah mereka menuju dunia yang lebih luas dan lebih menggairahkan. Tapi tentu saja kepergian mereka membuat kami semakin gelisah.

 

Kemudian, seingatku sekitar bulan April, Alice F menjadi yang pertama dari kelompok Hailsham untuk pergi, dan tak lama sesudah Gordon C juga berangkat. Mereka sudah diminta untuk memulai pelatihan, dan mereka pergi dengan senyum riang, tapi setelah itu, setidaknya bagi kelompok kami, suasana di Cottage berubah untuk selamanya.

 

 

TOKOH KITA menulis bahwa perasaan Kathy dan teman-temannya ketika melihat para veteran yang berangkat untuk mulai mendonasi organ-organ tubuhnya jelas membikin nyalinya ciut. Ada perasaan gelisah karena paling tidak mereka sudah merasakan kalau sebentar lagi tiba gilirannya untuk ikut `pelatihan`. Setidak-tidaknya keberangkatan satu persatu teman-teman di cottage-nya membuat suasana yang semula perlu keriangan menjadi kegelisahan. Selanjutnya, TOKOH KITA juga menambahkan kalau satu persatu teman-teman dekat Kathy menjalani pelatihan dan penuntasan. Ruth, misalnya,setelah menjalani donasinya kedua langsung menemui kematiannya. Sementara Tommy masih agak beruntung karena masih bisa menjalani donasi sampai yang keempat. Tommy sudah berusaha agar memperoleh penangguhan. Untuk memperoleh penangguhan dia berusaha menunjukkan hasil-hasil karyanya. Ternyata upaya tersebut sama sekali tidak mengubah keputusan. Upaya melekatkan hubungannya dengan Kathy juga tidak membawa hasil. Akhirnya, setelah menjalani donasi yang keempat Tommy menghadapi kematian. 

Jadi aku bukan bermaksud membanggakan diri. Tapi aku jelas tahu mereka puas dengan pekerjaanku, dan secara keseluruhan aku pun demikian. Para donorku cenderung pulih lebih baik daripada yang diduga. Masa pemulihan mereka sangat mengesankan, dan nyaris tak satu pun dari digolongkan sebagai “gelisah”, bahkan sebelum donasi keempat.


Dari teks di atas TOKOH KITA menulis kalau tinggal Kathy yang masih tersisa. Dia beruntung karena berhasil menjadi perawat yang dinilai berprestasi. Kathy beranggapan selama menjadi perawat banyak pasiennya yang  mengalami kepuasan. Orang-orang yang akan mendonasikan organ-organ tubuhnya bisa pulih kembali berkat perawatannya. Bahkan, mereka yang mau  mendonasikan organ-organ tubuhnya tidak  merasa gelisah. (https://subagiowaluyo.com/manusia-kloning-yang-pemurah/) 

***

Apa yang bisa dikomentari dari uraian di atas? Ternyata, tulisan yang di dalamnya ada deskripsi yang berusaha menjelaskan isi naskah memudahkan orang untuk memahami isi bacaan. Bukankah yang menjadi tugas utama analisis isi adalah berupaya mengungkap makna di balik teks, simbol, atau materi teksual lainnya? Jadi, TOKOH KITA dalam menjalankan tugas untuk menganalisis isi telah banyak membantu pembacanya mengungkap isi yang terkandung dalam karya-karya sastra. Sebagai tambahan, kerja analisis isi juga bisa dilakukan bukan sebatas mengungkap makna yang terkandung dalam karya-karya sastra saja, pemberitaan di media, percakapan dalam teks atau skenario film/drama, adegan dalam sinetron, atau hasil wawancara yang biasa dilakukan dalam penelitian kualitatif juga bisa dilakukan. TOKOH KITA pada tulisan berikutnya juga mencoba melakukan analisis isi sama seperti yang dilakukan kali ini. Silakan disimak tulisan berikutnya yang masih berkaitan dengan analisis isi.

Sumber Gambar:

(https://www.bukukita.com/Buku-Novel/Drama/153663-Never-Let-Me-Go-Jangan-Lepaskan-Aku.html)  

 



Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...