Selasa, 14 November 2023

All You Need Is Love (132)

 

Aksiologi Sivitas Akademika



Subagio S.Waluyo


Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, satu hari  sebelum Aksi Bela Palestina di depan Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat  (aksi diadakan 28/10 2023), Penulis merasa galau. Bagaimana tidak galau kalau di satu sisi Penulis sebagai ilmuwan yang masih punya rasa kemanusiaan tiba-tiba terpanggil untuk ikut acara tersebut? Tapi, di sisi lain acara tersebut berbarengan dengan waktu mengajar di tempat Penulis selama ini mengabdi sebagai pengajar? Putusan akhir, Penulis harus mengedepankan rasa kemanusiaan daripada harus mengajar di depan kelas. Tentang tidak hadirnya Penulis di hari itu H-nya depan kelas bisa dibicarakan dengan anak didik. Singkatnya, Penulis mengikuti acara Aksi Bela Palestina di depan kantor yang menjadi pendukung utama bangsa Zionis Yahudi (bangsa kera).

***

          Perasaan galau bisa saja terjadi bagi seorang akademis yang setiap hari bergelut dengan dunia ilmu. Perasaan galau itu menjadi bukti bahwa Penulis bukan semata-mata menjadi orang yang saking asiknya dengan dunia ilmu sehingga hanya berpikir ilmu itu hanya berputar pada hakikat yang dikaji (ontologi) dan cara mendapatkan pengetahuan yang benar (epistemologi), tapi juga seorang ilmuwan harus mengetahui, memahami, dan mempraktekkan nilai kegunaan ilmu (aksiologi). Jadi, seorang ilmuwan harus membuktikan dirinya bahwa ilmu yang diperolehnya benar-benar bisa diterapkan dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Dengan kata lain, seorang ilmuwan bukan hanya berkutat dengan mentransfer ilmunya ke anak didik. Tidak cukup bagi seorang ilmuwan hanya berkutat dengan mengkaji ilmu lewat riset-riset yang dilakukannya sampai dia mendapatkan pengetahuan yang benar sementara ada segelintir anak bangsa yang berperilaku kera menghabisi sesama manusia yang tidak bersalah melalui pembunuhan massal. Tidak cukup juga bagi seorang yang mengaku berintelektual berdiam diri terhadap nasib bangsa yang sampai saat ini tidak memperoleh pasokan air bersih, aliran listrik, bahan makanan, dan obat-obatan di tengah-tengah perang yang sedang berkecamuk di Jalur Gaza (Palestina). Pasokan air bersih, aliran listrik, bahan makanan, dan obat-obatan sengajar diblokir oleh bangsa kera yang memang punya niat menghabisi bangsa yang dimusuhinya. Mereka sang bangsa kera mau menghapus dari peta wilayah yang direbutnya menjadi wilayah Zionis Yahudi. Bahkan, tidak mustahil, mereka juga akan mencaplok wilayah di sekitarnya dengan bantuan negara-negara Barat yang memang sama-sama memiliki kepentingan dengan bangsa kera.

          Perilaku negara-negara yang dikatakan sebagai negara-negara maju yang mem-back up habis-habisan sang bangsa kera jelas merupakan perilaku buruk. Mereka sama buruknya dengan perilaku sang bangsa kera. Kalau sudah seperti itu perilakunya, ke mana perginya hati nurani para pemimpin negara maju yang sudah kenyang dengan namanya ontologi dan epistemologi yang selama ini dipelajari habis-habisan di perguruan-perguruan tinggi yang boleh dikatakan terkenal di negara-negara maju itu? Mereka-mereka para ilmuwan cuma asik di menara gading lupa kalau hasil berbagai temuan yang katanya untuk kemanusiaan tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka-mereka hanya berpikir tentang prestasi dan prestise yang dicapainya. Padahal ada yang lebih penting dari sekedar prestasi dan prestise, yaitu mewujudkan dunia yang penuh kedamaian, keamanan, kenyamanan, dan jauh dari hiruk-pikuk teriakan orang-orang kecil yang menderita karena ada bangsa kera yang masih punya syahwat untuk menghabisi sesama manusia. Perilaku yang ditunjukkan bangsa kera jelas perilaku yang mengarah pada pembersihan etnis. Sebagai bukti terjadinya pembersihan etnis bagi bangsa Palestina bisa dilihat pada link berikut ini: https://youtu.be/UxoUS7iXvV0 .

          Melihat kejadian yang dipaparkan dalam link di atas, sebagai ilmuwan Penulis tidak bisa berdiam diri. Penulis sama dengan orang lain yang masih punya kepedulian terhadap sesama nasib bangsa terlepas dari ras, suku, etnis, atau agama jelas hati nurani ini tidak menerima perilaku bangsa kera dan bangsa-bangsa yang mengaku sebagai negara paling maju yang konon kabarnya mau habis-habisan mem-back up bangsa kera yang berperilaku bejat itu. Penulis harus menyebut Zionis Yahudi bangsa kera berperilaku bejat karena memang sudah putus urat rasa malunya dan putus juga rasa kemanusiaannya. Kalau memang bukan bangsa bejat, kenapa melakukan cara-cara brutal dengan memborbadir habis-habisan tempat-tempat pemukiman, tempat-tempat ibadah, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, dan lokasi-lokasi strategis yang digunakan untuk hajat hidup orang banyak? Ini `kan bisa disebut brutal yang korbannya bukan hanya para Pejuang Hamas, tapi juga penduduk biasa.

          ***


Penulis sebagai ilmuwan hanya ingin mengajak pada para ilmuwan di Menara Gading agar tidak hanya mengedepankan ontologi dan epistemologi tapi juga aksiologi. Penulis ingin agar sesama ilmuwan mau menerapkan aksiologi karena kalau hanya sampai ontologi dan epistemologi para ilmuwan hanya berkutat dengan ilmu tanpa ada aksi. Bukankah kehadiran seorang ilmuwan sesuai dengan bidang keilmuannya harus mengamalkan ilmu yang dimilikinya? Mudah-mudahan saja harapan itu masih ada. Wallahu`alam bissawab.

Selasa, 31 Oktober 2023

All You Need Is Love (131)

 


Yang Melatarbelakangi 

Subagio S.Waluyo

Episode TOKOH KITA sudah berakhir sampai TOKOH KITA (20). Sekarang TOKOH KITA sebagai sebutan kata ganti pertama berganti menjadi Penulis (dengan P kapital). Jadi, sekarang Penulis fokus pada Catatan dari Menara Gading. Apa yang melatarbelakangi Penulis tiba-tiba saja menulis tulisannya di Catatan dari Menara Gading? Yang pertama, hidup ini `kan harus punya variasi. Orang akan bosan kalau disuguhi yang itu-itu saja. Orang sesekali ingin melihat sesuatu yang baru. Yang kedua, sebagai insan akademis tampaknya tidak bisa berdiam diri kalau berseliweran fenomena sosial yang tampaknya perlu, entah dikritisi, dikomentari, atau diteliti. Yang ketiga, Penulis ingin mengajak setiap pembaca (syukur-syukur ada yang dari teman-teman yang merasa nyaman di Menara Gading) untuk melakukan hal yang sama: mengkritisi, mengomentari, dan kalau perlu meneliti fenomena sosial yang semakin hari semakin tidak terhitung lagi banyaknya. Dengan demikian, sudah jelas ya, kalau Penulis ingin cari variasi, ingin mengkritisi, mengomentari, dan meneliti fenomena sosial, dan mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama.

***

Mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama bukan berarti memprovokasi pembaca agar bersikap ekstrem atau radikal. Bukan itu yang dituju Penulis. Penulis hanya mau mengajak pembacanya yang terutama dari kalangan akademis agar sama-sama punya kepedulian, kesetiakawanan, dan kekritisan sehingga mau keluar dari belenggu yang namanya Menara Gading. Cuma itu saja kok, tidak lebih dari itu! Karena itu, Penulis sangat bersyukur kalau ada kolega sesama orang-orang akademis mau menulis yang isi tulisannya tentu saja berisikan, entah kritik sosial, komentar-komentar, atau penelitian yang tertuju pada ketimpangan sosial. Intinya, mereka harus berani menyampaikan suara hati nuraninya lewat tulisan. Kalau perlu, mereka juga harus berani menyampaikannya pada anak-anak didiknya (mahasiswa). Jadi, jangan jadikan mahasiswa-mahasiswanya hanya berkutat dengan kuliah, pesta, dan cinta (bisa juga yang biasa disebut oleh Rhenaldi Kasali sebagai Generasi Strawberry).

Kalau mau terhindar dari Generasi Strawberry, mahasiswa harus dididik untuk mandiri. Generasi Strawberry `kan generasi rapuh. Tampak luar saja yang terlihatnya indah dan menggemaskan. Tapi, dia mudah hancur. Untuk menarik mereka dari belenggu Generasi Strawberry tidak ada cara ubah pola pendidikan yang cenderung memanjakan mahasiswa dengan pembelajaran yang serba dilayani oleh pengajar (dosen) menjadi pembelajaran yang mereka (para mahasiswa) harus melayani dirinya sendiri. Artinya, jangan semuanya serba dilayani, mahasiswa juga harus siap melayani dirinya sendiri. Selain itu, dalam pembelajaran jangan lagi berfokus pada dosen. Mahasiswa juga bisa terlibat dalam pembelajaran. Sebagai tambahan, pembelajaran yang serba verbalistis (hafalan) segera disingkirkan. Ajak mereka untuk melihat dunia luar yang penuh dengan ketimpangan sosial sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang kritis.

Masalah-masalah ketimpangan sosial inilah yang ingin disampaikan Penulis lewat tulisan-tulisannya. Bukankah dari sekian banyak tulisan yang disampaikan Penulis selama ini banyak menyangkut ketimpangan sosial? Ya, memang benar selama ini penulis banyak menulis yang berkaitan dengan ketimpangan sosial. Cuma, ini yang perlu diketahui, tulisan-tulisan yang ada di Catatan dari Menara Gading, tidak sepanjang seperti tulisan-tulisannya yang terdahulu. Tulisan-tulisannya yang terdahulu bisa sampai lima belas halaman. Tulisan-tulisan yang terdapat di Catatan dari Menara Gading tidak akan lebih dari lima halaman. Meskipun demikian, ada perbedaannya, yaitu kalau tulisan terdahulu selalu diawali dengan gambar. Untuk kali ini dan seterusnya hanya diawali dengan satu gambar seperti gambar di atas dan satu judul utama disertai dengan nomor di belakang judul (nomor-nomor itu akan berkelanjutan). Di bawah gambar akan ada judul sesuai dengan muatannya seperti tulisan ini yang berjudul “Yang Melatarbelakangi” berarti tulisan ini hanya menyampaikan latar belakang Penulis berniat menulis yang berkaitan dengan judul utamanya. Perlu juga diketahui, di beberapa tulisan nantinya akan Penulis lampirkan naskah (kalau perlu juga video klip yang diambil dari Youtube) yang bisa diklik oleh pembaca. Karena tulisan-tulisan yang akan diunggah baik ke website maupun blogspot Penulis maksimal lima halaman, seandainya ada kutipan, panjang kutipannya tidak seperti tulisan-tulisan terdahulu.

***

Sebagai penutup, penulis mohon maaf pada pembuat karikatur Menara Gading yang tidak disebutkan namanya karena Penulis tidak mendapatkan namanya. Meskipun demikian, di bagian akhir tulisan (di bagian lampiran) yang diletakkan di bawah tulisan Penulis tuliskan sumber pengambilan gambarnya.  Selain itu, gambar Menara Gading tersebut akan tetap disertakan setiap kali Penulis menulis Catatan dari Menara Gading. Tentu saja lampiran yang memuat sumber gambar hanya dicantumkan sekali saja. Artinya, Penulis tidak mencantumkannya secara berulang-ulang. Penulis berharap tulisan-tulisan yang terdapat dalam Catatan dari Menara Gading ini bisa menjadi bahan inspirasi pembacanya. Penulis memohon maaf jika dalam penulisannya nanti ada hal-hal yang boleh jadi menyinggung perasaan pembaca. Penulis berharap ada di antara pembaca yang mau mengkritisi, mengomentari, atau bahkan mengajak berdiskusi dengan Penulis tentang isi tulisan. 

Sumber Gambar:  

(https://medanheadlines.com/2017/07/12/ivory-tower-menara-gading/)   





Selasa, 17 Oktober 2023

Bahasa dan Sastra (153)

TOKOH KITA (20)

Subagio S.Waluyo


 


Selain dicirikan dengan menampilkan gambar-gambar ilustrasi, karikatur, dan foto, sejak TOKOH KITA menyalurkan semua tulisannya ke website dan blogspot miliknya di hampir sebagian besar tulisan selalu diawali dengan kutipan. Kutipan-kutipan itu bisa berupa lirik-lirik lagu,bait-bait puisi,  teks dari cerpen atau novel, atau ayat-ayat Quran. Semua kutipan yang diletakkan di awal tulisan sebagian ada yang dibahas oleh TOKOH KITA. Meskipun demikian ada juga yang tidak dibahas. Kutipan yang dibahas TOKOH KITA bisa menjadi sumber inspirasi TOKOH KITA untuk menuangkan gagasannya sehingga menjadi tulisan yang utuh dan menarik untuk dibaca. Boleh jadi kutipan yang tidak dibahas sekedar menjadi asesori agar pembacanya ada ketertarikan untuk membaca tulisannya. Berikut ini bisa dilihat beberapa tulisan yang diawali dengan kutipan-kutipan, baik yang dibahas maupun yang dibahas oleh TOKOH KITA.

***

Ketika menulis “Mengeliminasi Patologi Birokrasi” (https://subagio waluyo.com/7-mengeliminasi-patologi-birokrasi/, TOKOH KITA mengawali tulisannya dengan lirik lagu yang ditulis Iwan Fals. Lirik lagu itu berjudul “Ambulance Zig Zag”. Kenapa TOKOH KITA mengawalinya dengan lirik lagu tersebut? Di lirik lagu tersebut Iwan Fals memberikan gambaran yang demikian singkat tentang perlakuan pegawai rumah sakit (diduga RSCM) di masa Orde Baru ketika menghadapi dua orang calon pasien mereka terlihat memperlakukan keduanya demikian berbeda. Ketika menghadapi pasien yang sudah jelas-jelas tergolong `berduit`, mereka melayani dengan cepat. Tanpa `ba-bi-bu` pasien dilayani dengan cepat karena sudah dipastikan keluarga pasien akan segera menyelesaikan urusan administrasinya (apalagi kalau bukan urusan `duit`). Tapi, ketika menghadapi supir bajaj yang sekujur tubuhnya melepuh, mereka melayaninya setengah hati. Bahkan, belum apa-apa sang suster sudah minta ini-itu pada si pasien. Terang saja sang pasien yang sudah merintih kesakitan bertambah sakit mendengar permintaan yang diajukan `suster cantik` yang memperlakukannya secara tidak manusiawi. Coba disimak saja lirik lagu di bawah ini agar semakin jelas informasi yang diterima!

 

Ambulance Zig Zag

Iwan Fals

 

Deru ambulance

Memasuki pelataran rumah sakit

Yang putih berkilau

 

Di dalam ambulance tersebut

Tergolek sosok tubuh gemuk

Bergelimang perhiasan

 

Nyonya kaya pingsan

Mendengar kabar

Putranya kecelakaan

 

Dan para medis

Berdatangan kerja cepat

Lalu langsung membawa korban menuju ruang periksa

Tanpa basa basi ini mungkin sudah terbiasa

 

Tak lama berselang supir helicak datang

Masuk membawa korban yang berkain sarung

Seluruh badannya melepuh

Akibat pangkalan bensin ecerannya

Meledak

 

Suster cantik datang

Mau menanyakan

Dia menanyakan data si korban

Di jawab dengan

Jerit kesakitan

 

Suster menyarankan bayar ongkos pengobatan

Ai sungguh sayang korban tak bawa uang

Suster cantik ngotot

Lalu melotot

Dan berkata silahkan bapak tunggu di muka

 

Hai modar aku

Hai modar aku

Jerit si pasien merasa kesakitan

 

(https://www.google.com/search?q=lirik+lagu+ambulance+zig+zag&client)

 



Kutipan berikut ini diambil dari tulisan TOKOH KITA dengan judul “Manajemen Bersih Lingkungan” (https://subagiowaluyo.com/manajemen-ber sih-lingkungan/). Di tulisan tersebut, TOKOH KITA berbicara tentang perilaku para pejabat publik (termasuk aparat Kepolisian dan ABRI) yang berbuat sewenang-wenang terhadap warganya sendiri. Mereka-mereka yang tergolong diindikasikan PKI di KTP-nya diberi tanda sehingga mereka-mereka ini juga mendapat perlakuan tidak adil dari aparat entah itu pejabat publik, polisi, atau TNI. Kenapa para aparat itu memperlakukan seperti itu? Tentu saja hal itu tidak terlepas dari peristiwa sebelumnya di pertengahan tahun `60-an ketika terjadi G30S PKI. Tetapi, yang perlu diketahui tulisan itu tidak dimulai dari perlakuan aparat terhadap rakyat kecil yang diindikasikan terlibat G30S PKI atau anak-anak keturunan yang orang tuannya PKI, melainkan dimulai dari nepotisme, patronase, dan konflik kepentingan. Ketiga masalah yang terdapat di kutipan dibahas oleh TOKOH KITA. Untuk lebih jelasnya bisa disimak kutipan dan uraiannya yang terdapat dalam kotak berikut ini.

 

Nepotisme: Pejabat pemerintah mengangkat saudaranya yang tidak kompeten dan punya kualifikasi menjadi pegawai di lingkungan kantornya.

Patronase: Partai politik memenangkan pemilihan umum kemudian memerintah dan mencopot semua pegawai yang mendukung oposisi dan menggantinya dengan orang-orang yang mendukung partai tersebut.

Konflik Kepentingan: Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat punya saham di perusahaan tambang dan mendesakkan undang-undang yang memberi konsesi pajak bagi perusahaan tersebut.

 

 (B. Herry Priyono, Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi, 2018:27)

 ***

Di masa reformasi tiga masalah sosial di atas masih tetap ada. Tampaknya, penyakit-penyakit sosial hasil peninggalan orde baru belum benar-benar hilang. Bahkan, seperti korupsi kehadiran KPK ternyata tidak membawa efek. KPK sendiri terkesan dalam menangani masalah korupsi masih tebang pilih. KPK diibaratkan seperti pisau bermata dua: tajam ke bawah, tumpul ke atas. Pimpinan KPK sekarang ini sangat mungkin banyak diragukan baik kredibilitas maupun integritasnya. Ketua KPK sendiri masih terbilang aktif di kepolisian. Bagaimana kalau di kepolisian suatu saat ada penyelewengan yang berkaitan dengan  penyalahgunaan anggaran? Apakah bisa dijamin KPK mau melakukan penyelidikan sekaligus penangkapan? Rasa-rasanya sulit untuk dilakukan bukan? Buat kita tampaknya salah satu butir yang terdapat dalam tuntutan reformasi yang tempo hari pernah digadang-gadang: pemberantasan korupsi, tidak banyak bisa diharapkan. Adagium yang mengatakan `seperti menggantang asap` benar-benar berlaku saat ini. 

Penempatan anggota Polri di KPK baik sebagai anggota maupun pimpinan jelas tidak menjamin ke depannya keindependenan KPK. Apalagi kalau terbukti mereka yang dari anggota Polri tidak mau mengundurkan diri dari keanggotaannya. Kebijakan penempatan anggota Polri baik di KPK maupun di berbagai instansi pemerintah (walaupun untuk terakhir ini masih boleh dikatakan minim) mengingatkan kita ketika di masa orde baru pimpinan yang berkuasa pada waktu itu menempatkan ABRI di berbagai instansi baik di pemerintahan, BUMN, maupun instansi swasta. Kebijakan orde baru pada waktu itu berkaitan dengan dwi fungsi ABRI. Kalau saat ini, di masa reformasi ada wacana kebijakan penempatan anggota Polri di berbagai instansi, bukankah ini bertentangan dengan salah tuntutan reformasi: pencabutan dwi fungsi TNI/Polri? Ataukah diam-diam TNI juga mengendap-endap ingin juga ditempatkan di instansi pemerintah yang sekarang ini diberikan kewenangan pada Polri? 

 

(https://subagiowaluyo.com/manajemen-bersih-lingkungan/)

 


Meskipun dibahas kutipan yang diletakkan di awal tulisan, belum tentu tulisan itu oleh TOKOH KITA langsung dideskripsikan. Salah satu tulisan yang berjudul “Dipaksa Mengaku” (https://subagiowaluyo.com/dipaksa-mengaku/) misalnya, kutipan yang terdapat di situ baru dideskripsikan di paragraf ketiga. TOKOH KITA malah membahas terlebih dahulu tentang kuatnya kekuasaan Orde Baru di bawah Soeharto sebagai presiden. Digambarkan di masa itu sering terjadi intimidasi terhadap orang-orang kecil. Jadi, pelanggaran HAM sudah sulit dikalkulasi karena saking banyaknya pemerintah yang berkuasa pada waktu itu melakukan pelanggaran HAM. Orang-orang akademis yang seharusnya menyuarakan kebenaran justru cenderung bersikap cari aman karena asyik berlindung di `menara gading`. Setelah menulis dua paragraf yang berisikan tindakan kesewenang-wenangan rezim Soeharto dan sivitas akademis yang tidak berdaya menghadapi rezim Soeharto, TOKOH KITA mendeskripsikan petikan kutipan dari cerpen Sori Siregar “Maaf”. Untuk lebih jelasnya silakan disimak tulisan berikut ini.

 

……………………………………………………………………………………………………..

Sebuah persoalan selesai dengan perkataan “maaf” dari pihak petugas barulah Salamat sadar, betapa pentingnya arti kekuasaan. Selama ini ia memang sering membaca dalam surat kabar, tentang banyaknya orang-orang berkuasa yang telah menggunakan kekuasaannya sesuka hati. Tapi soal kekuasaan itu tidak menarik hati. Baru setelah ia sendiri korban dari kekuasaan orang lain, ia menyadari betapa pentingnya untuk memperhatikan keadaan sekitar. Betapa perlunya prihatin kalau ada kemalangan menimpa orang-orang lain, betapa perlunya berjuang bersama-sama memenangkan apa yang dianggap benar. Betapa pentingnya kebersamaan dalam menghadapi suatu peristiwa. 

Baru setelah ia sendiri korban dari kekuasaan orang lain, ia menyadari betapa pentingnya untuk memperhatikan keadaan sekitar.Apapun yang terjadi di sekitarnya tidak diperdulikannya. Tidak pernah mendapat perhatiannya. Bahwa ada tetangganya yang kemalingan, ia tidak perduli. Ketika sebuah kecelakaan lalu lintas mengambil korban tiga nyawa tetangganya, ia juga tidak acuh. Bahkan ketika atasannya di kantor menampar seorang rekannya yang dianggap melanggar disiplin, ia juga bersikap masa bodoh terus mengetik tanpa berpaling seakan-akan tidak ada apapun terjadi di sekitarnya. 

 (Cerpen Sori Siregar “Maaf”)

 

 ***

Di masa orde baru yang kata orang-orang akademis waktu itu saking kuatnya kekuasaan Soeharto sampai-sampai orang kecil mudah ditekan oleh rezim yang berkuasa. Tidak aneh jika terjadi sekian banyak intimidasi terhadap orang-orang kecil. Masih kata orang-orang akademis yang namanya pelanggaran HAM sudah sulit dikalkulasi. Sedikit-sedikit kalau sudah menyerempet kekuasaan negara stigma PKI atau biasa juga disebut golongan kiri atau ekstrim kiri (sebutan untuk mereka yang tergolong PKI) selalu dilekatkan. Sebaliknya, mereka yang dikenal masyarakat Muslim yang taat beribadah kalau suatu saat mengkritisi kebijakan negara juga dilekatkan ekstrim kanan atau bisa juga disebut di masa reformasi ini: Islam radikal. Anehnya, kalangan yang namanya orang-orang akademis itu tidak berani menyampaikan kebenaran di hadapan rezim yang berkuasa saat itu walaupun di depan mata mereka sendiri diperlihatkan kekejian rezim terhadap sebagian anak bangsa.

 

Entah ada kecenderungan upaya menyelamatkan diri sendiri atau mental paternalistik yang masih melekat. Kompetensi akademis yang dimilikinya sebagai orang-orang yang sudah seharusnya memperjuangkan kebenaran malah justru disembunyikan. Kalau memang ada di antara mereka yang tergerak menyuarakan hati nuraninya, itu pun boleh dikatakan sangat sedikit karena resikonya mereka harus berhadapan dengan kekuasaan. Sivitas akademika di masa orde baru benar-benar mati. Sivitas akademika baru benar-benar menyuarakan hati nuraninya beberapa saat saja ketika memasuki reformasi. Begitu reformasi berjalan penyakit-penyakit yang dulu pernah ada di masa orde baru kambuh lagi. Sivitas akademika kembali berupaya menyelamatkan diri sendiri. Mereka lebih cenderung asyik di menara gading dengan berbagai asesori kehidupan akademis yang begitu menggiurkan. Masa orde baru di dunia kampus berulang  kembali.

 

***

Kembali ke masa orde baru, masa orang-orang kecil, masa orang-orang yang berpendidikan rendah, yang tidak bisa membela diri dan tidak ada yang bisa membelanya jika berhadapan dengan kekuasaan. Di masa itu banyak orang yang menyadari begitu pentingnya orang punya kekuasaan sehingga wajar-wajar saja orang yang punya kekuasaan bisa bertindak sesuka hatinya. Gambaran tindakan sewenang-wenang orang-orang yang berkuasa saat itu terekam dalam karya-karya sastrawan di negeri ini. Tidak kurang orang seperti WS Rendra atau Wiji Thukul dari kalangan penyair juga kerap menuliskan dalam karya-karyanya tindakan anarkis rezim orde baru. Di kalangan penulis cerpen juga ada yang merekam masalah-masalah sosial di seputar pelanggaran HAM dan konflik sosial antara penguasa dan rakyat kecil. Sebut saja Sori Siregar dalam cerpennya “Maaf” atau Yanusa Nugroho dalam “Tujuh Puluhan”. Keduanya merupakan sedikit dari sekian banyak sastrawan yang menyuarakan jeritan hati orang-orang kecil.

 

Sori Siregar dalam “Maaf” mengawali cerpennya tentang ucapan `maaf` yang disampaikan sang petugas setelah menginterogasi habis-habisan orang yang dituduh penjambret (Salamat). Barang bukti yang diambil paksa dari tukang servis jam di belakang hari ternyata bukan barang hasil jambret tapi justru itu milik Salamat, orang yang diseret secara paksa sang petugas ke kantornya. Setelah habis-habisan diinterogasi dengan berbagai makian dan ancaman, Salamat terbukti bukan penjambret. Justru, dia pemilik jam tangan yang sedang menservis jam tangannya. Petugas yang terlanjur menginterogasinya pun cuma mengatakan `maaf`. Seolah-olah dengan kata `maaf` semua persoalan selesai. Padahal orang sudah dilanggar HAM-nya. 

 


 ***


Kutipan tulisan berikut ini yang terdapat dalam “Masyarakat Punya Masalah” (https://subagiowaluyo.com/masyarakat-punya-masalah-2/) boleh dikatakan sama sekali tidak disinggung oleh TOKOH KITA. Kutipan itu diambil dari buku Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi oleh B. Herry Priyono. Buku tersebut memang berbicara tentang korupsi. TOKOH KITA juga ketika menulis dengan judul “Masyarakat Punya Masalah-2” juga berbicara tentang korupsi. Sesuai dengan judulnya “Masyarakat Punya Masalah-2”, di situ TOKOH KITA menulis di seputar salah satu masalah masyarakat yang tidak kunjung usai: korupsi. Tentang korupsi bisa dilihat di bawah kutipan tulisan B. Herry Priyono yang terdapat di dalam kotak berikut ini.Walaupun demikian, tulisan tersebut sama sekali tidak menyinggung kutipan tulisan di atasnya. Silakan simak tulisan yang terdapat dalam kotak berikut ini! 

 

Sejarah selalu gelisah. Sejarawan Eric Hobshawn berkisah tentang bagaimana abad 20 mulai dan berakhir. Antara awal dan akhir berlangsung pergolakan, salah satunya berisi pola ini: “Abad ke-20 berkisah tentang bagaimana seorang tuan berkuasa atas semua orang untuk jangka waktu tertentu, atau atas beberapa orang untuk selamanya, tetapi tidak mungkin berkuasa atas semua orang untuk selamanya.” 

(Korupsi: Melacak Arti, Menyimak Implikasi/ B. Herry Priyono)

 

 

Di sebuah negara kalau terjadi korupsi besar-besaran salah satu penyebabnya adalah buruknya birokrasi. Ada juga di luar birokrasi, seperti mentalitas bangsa yang lemah. Tetapi, perlu diingat, mentalitas bangsa yang lemah juga berakibat pada pengelolaan birokrasi yang buruk. Ujung-ujungnya salah satu faktor penyebab: birokrasi yang buruk. Karena saat ini orang sedang getol-getolnya bicara tentang good governance, bisa saja birokrasi yang buruk merupakan cermin kebalikannya: bad governance. Dari awal memang orang bersemangat mau menerapkan prinsip-prinsip good governance, tapi lagi-lagi mentalitas bangsa yang buruk tujuan yang mulia untuk mewujudkan good governance melenceng ke bad gorvenance. Salah satu buktinya, yaitu makin menjadi-jadi yang namanya korupsi. 

Dulu di zaman orde baru korupsi tersentralisasi. Kalau terjadi di daerah, pelaku-pelakunya bisa dihitung dengan jari. Sekarang, di zaman reformasi, korupsi terdesentralisasi. Pelaku-pelakunya  merata bukan hanya pejabat-pejabat negara di pusat, di daerah-daerah juga berpartisipasi korupsi yang namanya pejabat-pejabat daerah dari gubernur, bupati, walikota, kepala-kepala dinas, sampai anggota parlemen terhormat. Jadi,wakil rakyat alias anggota dewan/parlemen terhormat sekarang juga ikut-ikutan korup. Apa ini tidak hebat? Kalau sudah begini, bukankah ini merupakan cermin buruknya birokrasi di negara ini? Bukankah ini juga lebih merupakan cermin tidak efisiennya birokrasi di negara ini? Birokrasi menjadi tertuduh maraknya korupsi di zaman reformasi ini. 

(https://subagiowaluyo.com/masyarakat-punya-masalah-2/)

 

 ***

Setiap penulis memiliki kecirian dalam menyampaikan gagasannya. TOKOH KITA juga memiliki kecirian tersendiri. Salah satu kecirian yang ada yang kemungkinan jarang ditemukan oleh penulis-penulis lain adalah ketika menulis buku, TOKOH KITA menjadikan website dan blogspot-nya sebagai tempat menitipkan tulisannya yang kelak setelah dirasakan cukup semua tulisan yang telah dimuat di website dan blogspot-nya dikumpulkan. Karena semua tulisannya diunggah ke website dan blogspot-nya sangat mungkin selain diawali dengan gambar ilustrasi, karikatur, dan foto juga diawali dengan kutipan-kutipan. Semua kutipan tidak seluruhnya dibahas. Sebagian kutipan itu hanya sebagai asesori. Tidaklah aneh jika diterbitkan menjadi buku, semua gambar ilustrasi, karikatur, foto, dan juga kutipan diikutsertakan. Bisa jadi ada orang yang tertarik dengan model penulisan buku seperti itu, tetapi juga tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa TOKOH KITA tidak serius dalam menulis buku. Sikap yang terbaik yang dilakukan TOKOH KITA adalah sikap menerima semua masukan dan kritikan karena dengan cara seperti itu TOKOH KITA tetap aktif dan kreatif menulis.      



Kamis, 12 Oktober 2023

Bahasa dan Sastra (152)

 TOKOH KITA (19)

Subagio S.Waluyo


Salah satu ciri tulisan TOKOH KITA kalau diamati ada sesuatu yang menarik. Apakah itu? TOKOH KITA sebelum menulis selalu menampilkan gambar-gambar entah itu gambar ilustrasi, karikatur, atau foto. Di luar karikatur dan foto, gambar-gambar ilustrasi ada yang diambil dari google, ada juga memang sengaja digambar oleh anak-anak TOKOH KITA. Yang menjadi pertanyaan, apakah tanpa gambar ilustrasi, karikatur, atau foto TOKOH KITA tidak bisa menyampaikan gagasannya? Apakah gambar ilustrasi, karikatur, atau foto ada kaitannya dengan gagasan yang disampaikan oleh TOKOH KITA. Mengapa TOKOH KITA harus mendahuluinya dengan gambar ilustrasi, karikatur, atau foto ketika menyampaikan gagasannya? Sangat mungkin akan banyak pertanyaan yang diajukan pembacanya ketika melihat tulisan TOKOH KITA. Meskipun demikian, semua pertanyaan yang berkenaan dengan penggunaan gambar ilustrasi, karikatur, dan foto akan dijawab oleh TOKOH KITA.

***

Kebiasaan menampilkan gambar ilustrasi, karikatur, atau foto pada saat memulai menyampaikan gagasannya lewat tulisan baru dimulai setelah TOKOH KITA memiliki blogspot dan website. Sebelumnya, TOKOH KITA tidak pernah melakukan hal seperti itu. Seringkali, baik gambar ilustrasi, karikatur, maupun foto yang ditampilkan di awal tulisannya belum tentu gagasan yang mau disampaikan berkaitan dengan gambar ilustrasi, karikatur, atau foto. Gambar ilustrasi Kapal Titanic yang tenggelam pelan-pelan seperti gambar ilustrasi di atas justru tulisannya terdapat di bagian paragraf terakhir di tulisan dengan judul “Negeri Kolam Susu”. Yang jadi pertanyaan kenapa bukan gambar grup band Koes Ploes yang memang mendendangkan lagu “Kolam Susu”? malah justru gambar Kapal Titanic yang terbelah dan akhirnya perlahan-lahan tidak tampak di permukaan laut (tenggelam). Tentang tidak ditampilkannya foto grup band Koes Ploes itu menjadi rahasia TOKOH KITA. Sedangkan gambar ilustrasi Kapal Titanic yang lama kelamaan tenggelam bisa dilihat uraiannya di bawah ini.

Indonesiaku “negeri kolam susu” yang membuat rakyatnya selayaknya hidup seperti di surga karena “tiada badai tiada topan kau temui” sehingga nelayan bisa mengail ikan dengan nyaman dan aman. Indonesiaku “negeri kolam susu” yang rakyatnya seharusnya hidup berkecukupan karena “kail dan jala cukup menghidupimu” sehingga lautan yang membentang luas itu siap memenuhi kebutuhan para nelayan. Indonesiaku “negeri kolam susu” yang “orang bilang tanah kita tanah surga” karena “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Dari “tongkat kayu” yang ditancapkan itu akan tumbuh tunas-tunas pohon yang kelak bisa dinikmati oleh para penanamnya. Indonesiaku “negeri kolam susu” ternyata jauh panggang dari api. Pengelola “negeri kolam susu”  ini karena keserakahannya, kebodohannya, kehausan kekuasaannya, dan tentu saja kealpaannya sampai-sampai tidak ingat pada rakyat kecil yang mereka selayaknya juga mendapat bagian dari kekayaan negeri ini. Indonesiaku “negeri kolam susu” berubah jadi “negeri kolam air mata” karena banyak rakyat negeri ini yang setiap hari menangisi kemiskinannya. Ah, “negeri kolam susu” yang telah berganti jadi “negeri kolam air mata” sudah seperti nasibnya Kapal Titanic. 

(Dikutip dari “Negeri Kolam Susu” oleh Subagio S.Waluyo)

 

Ketika berbicara tentang pelayanan publik yang acakadul di negara ini TOKOH KITA juga menampilkan gambar ilustrasi seorang laki-laki berkopiah yang dari tampilannya jelas dari kalangan orang-orang desa. Orang tersebut datang ke kantor pemerintahan entah kantor desa/kelurahan atau kantor kecamatan. Orang tersebut karena dari tampilannya memang orang desa oleh pejabat publik (pegawai ASN) yang ada di kantor tersebut cenderung bersikap `cuek-bebek`, tidak dianggap kehadirannya. Gambar ilustrasi ini jelas bukan mengada-ada atau imajiner, tapi memang dalam kenyataannya seperti itu. Pejabat publik yang seharusnya melayani siapapun orang yang datang lebih melihat siapa orang yang akan dilayaninya. Kalau terlihat `perlente` seperti cukong yang sudah pasti banyak uang, orang itu akan dilayani seperti raja. Tapi, kalau yang datang orang desa seperti gambar di bawah ini, sampai kapanpun orang itu tidak dipedulikan (kasihan memang nasib orang kecil di negara ini). Silakan diperhatikan gambar berikut ini berikut uraian di bawahnya!


Sebagai warga negara, kita berhak mendapatkan pelayanan ublic dari pelayan publik. Kita tidak ingin menjadi anggota masyarakat seperti terlihat di gambar di atas yang sama sekali tidak dipedulikan kehadirannya oleh para pejabat publik. Mereka (para pejabat publik) asyik dengan kesibukannya sendiri. Orang yang seharusnya mendapat pelayanan (mungkin karena orang tersebut rakyat biasa yang miskin) sama sekali tidak dilayani. Perilaku seperti ini jelas telah melanggar, baik yang terdapat dalam UU Pelayanan Publik maupun UU Pemerintah Daerah. Kalau masih ada perilaku seperti ini, pihak-pihak yang terkait dengan ASN layak melakukan  tindakan tegas. Perilaku seperti gambar di atas tidak bisa dibiarkan. Mereka harus diubah, baik mindset maupun kinerjanya.

 

(Dikutip dari “Pelayanan…Pelayanan…Pelayanan Publik” oleh Subagio S. Waluyo)

 

Meskipun semua tulisan TOKOH KITA yang diunggah, baik ke website maupun blogspot-nya bisa dihitung dengan jari kalau tulisannya itu diawali dengan menjelaskan atau menguraikan gambar ilustrasi yang ditampilkan. Dari sekian banyak yang bisa dihitung dengan jari ada tulisan dengan judul “7. Sekedar Pembekalan (3)” yang memang mendeskripsikan isi gambar yang ditampilkan di awal tulisannya. Meskipun demikian, jika dibaca secara teliti, tulisan tersebut tidak melulu bicara tentang seorang pemuda brewok yang terkurung di dalam ruang berkaca seperti akurium. Justru tulisan tersebut lebih banyak membahas tentang persiapan yang harus dimiliki oleh para pemuda (mahasiswa) dalam mengantisipasi tindak pidana korupsi. Panjang tulisan yang membahas sang pemuda brewok itu hanya dua paragraf. Uraian berikut ini bisa dijadikan bukti bahwa TOKOH KITA pernah dalam tulisannya mendeskripsikan gambar ilustrasi yang ditampilkan.

 

Seorang pemuda duduk dalam ruang kaca tertutup sambil merapatkan kedua kakinya dengan kedua lengannya. Boleh jadi pandangannya kosong ke depan entah apa yang dilihatnya. Pemuda `brewok` dalam ruang kaca tertutup dengan pandangan kosong seperti orang frustrasi. Dia gambaran orang yang tidak berdaya. Gambaran orang yang (mungkin) menyesalkan karena merasa beban hidupnya demikian berat? Kalau ruang kaca itu menyimbolkan ruang yang terkungkung, berarti dia hidup dalam keterkungkungan yang sulit untuk  melepaskan diri dari kungkungannya. Dia terpenjara oleh namanya kehidupan yang demikian sulit. Kesulitan hidup itu boleh jadi disebabkan oleh entah gaya hidupnya yang cenderung konsumtif, hedonis, dan serba instan sehingga pada suatu saat ketika keinginannya tidak terpenuhi, dia hanya bisa duduk dengan merapatkan kedua kakinya dengan kedua lengannya disertai dengan pandangannya yang kosong. 

Tipe pemuda `brewok` di atas adalah tipe pemuda `masa depan suram` (madesu). Sah-sah saja kalau juga disebut tipe pemuda `makan enak ogah kerja` alias `meok`. Kalau dulu pernah belajar, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi, dia cenderung melakukan kebiasaan `copy paste` atau `copas` (bisa saja disebut `mencotek, `menjiplak`). Kebiasaan-kebiasaan buruk itu berakibat pada keterkungkungan dia di sebuah tempat yang membuat dia teralienasi. Jelas, itu merupakan gambaran yang buruk. Gambaran yang tidak layak dijadikan contoh buat kita. Agar terhindar dari perilaku seperti itu, kita harus melawan gaya hidup  konsumtif. Termasuk ke  dalamnya kita juga harus menyingkirkan gaya hidup hedonis. Kalau perlu, kita juga menyingkirkan kebiasan `copas`. Kita harus menjadi orang yang siap bekerja keras dan memiliki kemandirian. Dua hal itu, kerja keras dan kemandirian, harus kita camkan dan terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Diharapkan dengan kerja keras dan kemandirian kita terhindar dari tipikor yang bisa merugikan bukan saja negara, tapi juga bangsa ini.  

(Dikutip dari “7. Sekedar Pembekalan (3)” oleh Subagio S.Waluyo)

 


***


Kalau uraian di atas mengambil dari gambar-gambar ilustrasi, pada uraian berikut ini TOKOH KITA sengaja mengambil gambar-gambar karikatur. Sama halnya ketika mengambil gambar-gambar ilustrasi, walaupun banyak mengambil gambar ilustrasi TOKOH KITA tetap saja ketika mendeskripsikan isi gambar cukup singkat saja. Uraian berikutnya justru tidak ada kaitannya dengan gambar karikatur yang ditampilkan. Kalau bisa dikatakan, dari gambar karikatur tersebut TOKOH KITA sekedar membuat pancingan untuk mengembangkan uraiannya. Dari gambar karikatur di atas, misalnya, TOKOH KITA sekedar ingin menunjukkan bahwa dalam hal membicarakan pelayanan publik masih ada perilaku yang mengarah pada nepotisme. Nah, gambar karikatur di atas itu merupakan contoh perilaku nepotisme yang dianggap oleh TOKOH KITA perlu ditampilkan dalam tulisannya berjudul “5. Pengaruh Politik dan Nepotisme”. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada petikan tulisan berikut ini.


Di pojok kanan bawah pada gambar karikatur di atas ada pertanyaan sang anak yang `nyelekit`: “…Bapak nanti jadi abdi rakyat, abdi kekuasaan, atau ….petugas partai?” Sang bapak yang sambil bawa map bertuliskan Pilkada sambil melirik ke anaknya boleh jadi terpukul dengan pertanyaan anaknya itu. Kalau sang bapak seorang pejabat ublic yang tentu saja tugas utamanya melayani publik, hanya ada dua jawaban, pertama dia akan renungkan pertanyaan sang anak walaupun terasa menusuk hatinya. Bisa juga bersikap `cuek bebek`, `masa bodo amat`, `emang gue pikirin`. Sikap kedua tampaknya lebih mendominasi daripada dia harus merenung seraya mengakui betapa ada benarnya  pertanyaan sang anak. Sikap `cuek bebek, `masa bodo amat`, `emang gue pikiran` boleh jadi juga ada pada para birokrat yang menurut hasil survei menunjukkan bahwa netralitas ASN menjadi masalah serius dalam pilkada 2020, utamanya menyangkut politisasi birokrasi dan banyaknya ASN yang melakukan politik praktis. 

(Dikutip dari “5. Pengaruh Politik dan Nepotisme” oleh Subagio S.Waluyo)

 

 


 `Say no to korupsi!` (katakan tidak untuk korupsi!). Tapi, menghadapi korupsi tidak cukup mengatakan `tidak`. Menghadapi korupsi kita harus siap mengatakan `berantas korupsi`, `perangi korupsi`, `basmi korupsi dari negeri ini sampai ke akar-akarnya`, atau `koruptor harus dihukum mati` (kalau memang kita mau tegas memberantas korupsi dari negeri ini). Atau, minimal, kita berani mengatakan `harus ada pemiskinan buat koruptor`. Dengan cara menyampaikan itu semua, kita berharap ada perbaikan di negeri ini dalam menghadapi penyakit sosial yang sudah menggurita. Kira-kira ada keseriusan tidak, baik rakyat maupun penyelenggara negara ini untuk mengentaskan penyakit sosial yang satu ini? Kalau tidak ada keseriusan, cukup sampai di sini saja usaha kita menghadapi bahaya penyakit sosial ini. 

Berkaitan dengan penyakit sosial bernama korupsi, kalau kita amati gambar karikatur di atas, ada hal yang menarik tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK) negeri tercinta ini: Republik Indonesia. Kalau kita perhatikan, IPK negeri ini bukan menaik nilainya malah menurun dari nilai 38 (2021) turun ke nilai 34 (2022). Dengan angka tersebut, IPK negeri ini menempati peringkat ke-110 (sebelumnya peringkat ke-96). Kesimpulannya, negeri ini dalam menangani korupsi memburuk sepanjang tahun 2022. Wajar saja negeri ini menempati peringkat ke-110 mengingat sepanjang tahun 2022 ada 579 kasus korupsi dengan kerugian negara ditaksir mencapai Rp17,8 triliun ((https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/03/16/penyalahgunaan-anggaran-jadi-modus-korupsi-paling-jamak-sepanjang-2022).Selain itu semua, negeri ini juga masih punya PR besar terkait buronan koruptor yang sampai saat ini belum juga bisa diringkus. Ada empat koruptor yang sampai saat ini belum diketahui rimbanya. Keempat buronan koruptor itu adalah Harun Masiku, Ricky Ham Pagawak, Paulus Tannos, dan Kirana Kotama (https://www.kompas.com/tren/read/ 2023/02/08/ 203000 965/4-buronan-korupsi-yang-belum-tertangkap-siapa-saja-?page=all.) Sampai kapankah mereka bisa berkeliaran di negara antah berantah? Kita hanya bisa menjawab: wallahu a`lam bissawab. Jawaban itu lebih bijak daripada kita menyampaikan `emang gue pikirin (EGP)`. 

(Dikutip dari “ 9. `Say No To Korupsi!` ” oleh Subagio S. Waluyo)

 


Pada kutipan teks di atas, pembaca diminta mengamati gambar yang ditampilkan. Baru setelah itu terdapat uraiannya di paragraf kedua bukan pada paragraf pertama. Meskipun demikian, justru dari hasil pengamatan yang terdapat di paragraf kedua TOKOH KITA terpancing menulis tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di negara ini. Dari IPK itu TOKOH KITA berupaya mengembangkan gagasannya lewat tulisan itu agar bangsa ini tidak menjadi bangsa yang cenderung bersikap masa bodoh yang dibahasakan oleh TOKOH KITA dengan bangsa yang berprinsip pada `Emangnya Gue Pikirin` (EGP). Sikap EGP ini jelas menurut TOKOH KITA akan menjadikan penyakit sosial bernama korupsi akan semakin merambah. Dengan demikian, bisa dipastikan ada relasi yang erat antara sikap EGP dengan semakin merambahnya korupsi.

***
Bagaimana dengan foto-foto yang juga ditampilkan di beberapa tulisan TOKOH KITA? Foto-foto yang ditampilkan tidak dideskripsikan. Seperti pada tulisannya yang berjudul “Berkisah tentang Environmentalisme”, di tulisan tersebut TOKOH KITA justru menempatkan uraiannya hampir di tengah-tengah tulisan setelah diuraikan terlebih dahulu tentang perilaku masyarakat di sepanjang Kali Malang ketika di saat Covid-19 melanda negeri ini mereka memiliki kebiasaan baru, yaitu bercocok tanam. Terus dilanjutkan tulisannya tentang masyarakat di sepanjang Kali Code yang mereka bisa menata tempat tinggalnya sehingga tidak merusak keberadaan Kali Code. Bahkan, mereka yang tinggal di sepanjang Kali Code bisa melakukan restorasi sungai sehingga bisa dimanfaatkan sebagai salah satu destinasi pariwisata di Kota Yogyakarta. Baru setelah itu dibahas tentang Sungai Citarum yang keberadaannya kini menyedihkan karena telah dirusak oleh perilaku manusianya. Dari situ tulisan berkembang ke program-program restorasi sungai yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjan Umum dan Perumahan Rakyat. Agar program restorasi berjalan mulus dipandang perlu adanya kolaborasi Kementerian PUPR dengan masyarakat setempat. Agar pembacanya memperoleh informasi lebih jelas lagi, silakan saja melihat uraian tulisan di bawah ini.  

Salah satu cara yang juga perlu dilakukan masyarakat Indonesia agar memiliki kesadaran akan pentingnya lingkungan sebagaimana terlihat pada aktivitas masyarakat pinggir Kali Code adalah melakuan kunjungan wisata ke beberapa negara yang berhasil melakukan restorasi sungai. Salah satu sungai di Eropa yang sampai saat ini menjadi ikon dan sekaligus objek wisata adalah Sungai Seine, Paris, Perancis. Dalam cerpen “Di Seine Meratapi Citarum” oleh Usep Romli H.M. serombongan wisata dari Kota Bandung dibikin terkagum-kagum oleh kebersihan dan kebeningan air Sungai Seine. Mereka teringat dengan sungai di kotanya yang kotor, bau bangkai, dan warnanya sudah hitam legam. Mereka membayangkan kalau saja Sungai Citarum dan Cikapundung bisa direstorasi seperti Sungai Seine gelar Kota Bandung sebagai `Parisj van Java` akan diraih kembali. Itu hanya bayangan karena faktanya menunjukkan kedua sungai di kotanya telah menjadi tempat pembuangan kotoran manusia dan pabrik. Sungai Citarum saat ini telah dirusak perilaku manusia karena memang tidak ada hukum yang melindunginya sehingga orang hanya meratapi Sungai Citarum yang telah membangkai.

……………………………………………………………………………………………………..

Nasib  yang sama juga dialami oleh sungai-sungai yang mengalir di banyak kota di Indonesia. Sebut saja Sungai Ciliwung di Jakarta yang sampai saat ini masih belum selesai direstorasi. Setiap tahun sungai tersebut menelan korban yang tidak sedikit akibat banjir yang dimuntahkan. Bagaimana pula dengan Sungai Bengawan Solo yang airnya mengalir ke beberapa kota baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur? Sudah bisa dipastikan air Sungai Bengawan Solo juga telah tercemar. Sungai Brantas yang membelah Kota Surabaya juga bagaimana kondisinya saat ini? Apakah ada perubahan yang signifikan setelah dilakukan restorasi? Kita tunggu saja hasil kerja keras pemerintah kota di kota-kota besar di Indonesia yang berusaha merestorasi sungai-sungainya yang mengalir di tengah-tengah kotanya.

***

Pekerjaan merestorasi sungai bukan saja dilakukan oleh  pemerintah kota, pemerintah kabupaten bisa juga melakukan hal yang sama. Pengerjaan restorasi agar terjadi sinergitas di antara pemerintah daerah sebaiknya dilakukan oleh pemerintah pusat yang dalam hal ini di bawah komando Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Meskipun demikian, Kementerian PUPR juga perlu melibatkan masyarakat baik LSM maupun akademis (`orang pintar` dari perguruan tinggi). Lewat LSM dan `orang pintar` dari perguruan tinggi diharapkan masyarakat lokal terutama yang tinggal di sepanjang pinggir kali bisa digerakkan menjadi masyarakat yang sadar akan lingkungan sehingga mereka juga mau terlibat dalam aktivitas restorasi sungai. Dengan melibatkan masyarakat lokal yang tinggal di sepanjang sungai lambat-laun akan terbentuk masyarakat yang environmentalis: masyarakat yang melawan pencemaran, pengotoran, dan perusakan alam (sungai).

 

(Dikutip dari “Berkisah tentang Environmentalisme” oleh Subagio S.Waluyo)

 


 ***

Dengan melihat pada uraian di atas, semua pertanyaan sudah terjawab. Dalam hal ini TOKOH KITA cukup menjawabnya melalui sedikit penjelasan dan beberapa petikan dari teks-teks yang pernah ditulisnya. Jadi, pertanyaan seperti mengapa TOKOH KITA harus mendahuluinya dengan gambar ilustrasi, karikatur, atau foto ketika menyampaikan gagasannya? TOKOH KITA tidak menjawabnya dengan kalimat karena bla…bla…bla. Tapi, TOKOH KITA cukup dengan mengambil sampel dari beberapa tulisan yang di setiap awal tulisan ada gambar-gambar ilustrasi, karikatur, dan foto dipandang sudah cukup untuk memberikan jawaban. Tentang pembacanya yang mungkin saja belum bisa menangkap intisarinya, TOKOH KITA hanya menyarankan agar pembaca tersebut melakukan pembacaan ulang secara kritis.

 

Sumber Gambar:

1) (https://www.merdeka.com/jateng/peristiwa-15-april-tenggelamnya-kapal-titanic-ketahui-kronologinya-kln.html)

2)   (https://www.bimteknas.com/bimtek-pelayanan-publik/)

3)  (https://nasional.kompas.com/read/2015/07/21/17055371/Politik.Dinasti.Sebab.atau.Akibat).

4) (https://investor.id/editorial/26045/peti-mati-untuk-koruptor)

5) (https://images.app.goo.gl/Lsj82ihBLGp8ALku5) 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...