Kamis, 22 September 2022

Bahasa dan Sastra (102)

3. PENGGUNAAN PENGULANGAN KATA KUNCI

Subagio S.Waluyo




Menulis paragraf selain bisa menggunakan konjungsi juga bisa menggunakan pengulangan kata kunci. Memang, agak sulit menggunakan kata kunci yang sama yang diletakkan di hampir semua kalimat dalam satu paragraf. Sebagai penulis pemula perlu kehati-hatian untuk menggunakan kata-kata kunci yang berulang. Di samping perlu kehati-hatian juga perlu fokus terhadap kata kunci yang mau ditulis berulang-ulang. Kata `sampah`, misalnya, yang dijadikan contoh berikut ini harus tepat penempatannya agar terlihat enak dibaca dan mudah dipahami. Coba kita lihat paragraf berikut ini yang menggunakan pengulangan kata kunci yang sama, tapi tidak terkesan membosankan ketika membacanya. 

 

(1) Sampah selamanya selalu memusingkan. (2) Berkali-kali masalahnya diseminarkan dan berkali-kali pula jalan pemecahannya dirancang. (2) Namun, keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki tetap menjadikan sampah sebagai masalah yang pelik. (3) Pada waktu seminar-seminar itu berlangsung, penimbunan sampah masih terjadi. (4) Hal ini sedikit banyaknya mempunyai kaitan dengan masalah pencemaran air dan banjir. (5) Selama pengumpulan, pengangkutan, pembuangan akhir, dan pengolahan sampah itu belum dapat dilaksanakan dengan baik, selama itu pula sampah menjadi masalah.  

 

(dikutip dari Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi oleh E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai)

 

Pada paragraf di atas ada lima kata `sampah` yang digunakan berulang-ulang. Penulis dengan cermat menggunakannya sehingga tidak merusak keutuhan sebuah paragraf. Kita pun bisa mudah memahami isi paragraf tersebut. Selain itu, kita yang membacanya pun tidak merasa jenuh. Paragraf di atas menunjukkan bahwa sang penulis adalah seorang penulis yang handal karena tidak mudah menempatkan kata kunci yang sama berulang-ulang di hampir setiap kalimat di paragraf tersebut. Contoh berikut ini juga terlihat adanya pengulangan kata `sesak` yang ditulis berulang-ulang.

 

(1) Kalau ditanya tentang tahun 2020 yang segera ditinggalkan, saya akan menjawab tahun yang menyesakkan. (2) Saya tidak mengatakan menyesakkan buat kesejahteraan saya karena sampai akhir tahun 2020 ini saya masih diberi Allah SWT rezeki yang berkecukupan. (3) Saya tidak mengatakan bahwa keluarga saya tergangggu kesejahteraannya. (4) Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa sesak dada ini melihat perilaku pemimpin negara ini yang telah membuat anak bangsa ini sesak dadanya. (4) Bagaimana tidak sesak kalau di luar Indonesia di awal tahun ini orang sudah ribut-ribut masalah corona di negara ini pemimpin-pemimpin negara dengan angkuhnya mengatakan kalau negara ini tidak akan mungkin terpapar pandemi covid-19? (5) Bagaimana tidak sesak kalau sebagian anak bangsa ini banyak yang berjuang dengan maut karena corona enak-enaknya saja anggota dewan yang katanya terhormat mensahkan UU yang kontroversial, seperti UU Cipta Kerja yang memakan korban yang tidak sedikit? (6) Bagaimana tidak sesak kalau ada kado yang tidak mengenakkan apalagi kalau bukan perilaku pejabat publik yang bernama menteri tega-teganya makan uang haram bantuan sosial yang seharusnya disalurkan sepenuhnya pada anak bangsanya yang terpapar ekonominya akibat pandemi covid-19? (7) Bagaimana juga tidak sesak dada ini kalau terjadi lagi pelanggaran HAM oleh pihak berwajib yang menghabisi nyawa bangsa sendiri lewat peluru yang dananya dibeli dari uang rakyat? (8) Saya sesak melihat pemimpin-pemimpin bangsa ini yang sampai sekarang hanya memberi janji tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang telah terpampang di sila kelima Pancasila yang tidak pernah dan mungkin juga tidak mau mewujudkannya. (9) Wajar saja kalau dada ini sesak melihat perilaku rezim yang berkuasa saat ini.

 

(Dikutip dari “Tahun yang Menyesakkan” oleh Subagio S.Waluyo)

Ada delapan kata `sesak` yang digunakan secara berulang-ulang.  Dari segi jumlah kalimat dan panjangnya paragraf, jelas paragraf di atas kalimatnya lebih banyak daripada paragraf yang sebelumnya. Paragrafnya juga lebih panjang. Penempatan kata `sesak` baru dilakukan di kalimat keempat. Sementara paragraf yang membahas tentang sampah sudah ditempatkan kata `sampah` di awal kalimat. Meskipun lebih panjang paragrafnya dan lebih banyak kalimatnya, tulisan tersebut tidak terkesan membosankan. Mengapa? Masalah yang diangkat cukup menarik tentang perilaku pejabat publik di negara ini yang melakukan penyimpangan. Selain itu, ada beberapa kalimat tanya yang diawali kata tanya `bagaimana` yang juga digunakan berulang-ulang agar pembacanya mau berpikir dan merenungkan masalah yang juga paling tidak menyentuh hati nuraninya. Jadi, sebenarnya ada dua macam kata kunci yang diulang penggunaannya, yaitu kata `sesak` dan `bagaimana`. Keunikannya kedua kata kunci tersebut digunakan secara bersamaan dalam satu kalimat. Ada tiga kalimat yang ditulis bersamaan sehingga membentuk sebuah frasa `bagaimana tidak sesak`. Ditutup dengan bunyi yang hampir sama `bagaimana juga tidak sesak` yang menimbulkan kesan tersendiri ketika membacanya. Dijamin dengan cara penggunaan pengulangan kata sejenis yang ditempatkan di hampir setiap kalimat yang dikombinasikan dengan kata tanya yang juga diulang di beberapa kalimat pembaca mudah memahami isi tulisan. Agar lebih jelas lagi tentang penggunaan kata kunci dalam penulisan paragraf, berikut ini bisa dilihat contoh paragraf yang juga menggunakan kata kunci berulang-ulang.

 

Carolyn Kane seorang penulis Amerika ketika menulis tentang konsep berpikir juga menggunakan pengulangan kata berpikir sampai lima kali. Meskipun sampai lima kali diulang kata yang sama, pembacanya tidak akan pernah jenuh membacanya karena tulisan itu dikemas sedemikian rupa sehingga enak dibaca. Yang dikemukakan Carolyn Kane sederhana saja bahwa semua hal yang dilakukan manusia tidak lebih daripada berpikir. Jika semua orang ketika ingin melakukan sesuatu harus berpikir dulu, boleh jadi pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat akan tertunda karena harus dipikirkan dulu. Kita bisa bayangkan sesuatu yang dikemukakan oleh Carolyn Kane yang begitu sederhana ternyata ketika dituangkan dalam tulisannya bisa mengerutkan dahi. Carolyn Kane dengan pengulangan kata berpikir sampai lima kali yang dituangkannya ke dalam tulisannya terbukti berhasil membuat pembacanya merenung bahwa berpikir tidak harus lebih diutamakan sehingga mengganggu di hampir semua aktivitas manusia walaupun semua aktivitas manusia memerlukan sarana berpikir.   

 

(1) Kami orang Amerika adalah orang yang dermawan dan manusiawi: kami memiliki institusi yang ditujukan untuk setiap tujuan baik dari menyelamatkan kucing tunawisma untuk mencegah Perang Dunia III. (2) Tetapi apa yang telah kami lakukan untuk mempromosikan seni berpikir? (3) Tentu saja kita tidak punya tempat untuk itu pikir dalam kehidupan sehari-hari kita. (4) Misalkan seorang pria berkata kepada teman-temannya, "Aku tidak akan pergi ke PTA malam ini (atau latihan koor atau pertandingan bisbol) karena aku butuh waktu untuk diriku sendiri, suatu waktu untuk berpikir"? Orang seperti itu akan dijauhi oleh tetangganya; keluarganya akan merasa malu padanya. Bagaimana jika seorang remaja berkata," Aku tidak akan pergi ke pesta dansa malam ini karena aku butuh waktu untuk berpikir" Orangtuanya akan segera mulai mencari di Halaman Kuning untuk psikiater. Kita semua terlalu mirip Julius Caesar: kita takut dan tidak mempercayai orang yang berpikir terlalu banyak. Kami percaya bahwa hampir semua hal lebih penting daripada berpikir.

 

(Carolyn Kane, dari "Berpikir: Seni yang Terabaikan." Newsweek, 14 Desember 1981)

 

Tulisan berikut ini cukup panjang paragrafnya. Pengulangan katanya juga demikian banyak. Ada 27 kata `menulis` yang diulang di setiap kalimat. Karena paragraf ini tergolong panjang, jumlah kalimatnya pun cukup banyak: 24 kalimat. Di beberapa kalimat ada dua kata `menulis`, yaitu kalimat (2), (18), dan (21). Meskipun paragraf tersebut tergolong sangat panjang, pembaca tidak akan merasa jenuh karena kalimat-kalimatnya menarik untuk disimak dan direnungkan isinya. Coba saja perhatikan kalimat nomor 3 yang berbunyi: “(3) Saya menulis karena saya tidak dapat melakukan pekerjaan normal seperti yang dilakukan orang lain”. Kalimat tersebut menunjukkan keterus-terangan sang penulis bahwa tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan kecuali menulis. Di kalimat nomor (14)  penulis menulis: “Saya menulis untuk menyendiri”. Itu menunjukkan menulis sebagai tempat yang layak untuk menyendiri? Boleh-boleh saja kita perlu menyendiri karena menulis memerlukan imajinasi dan kontemplasi. Tapi, jangan karena menulis orang menjadi psikopat atau sosiopat. Begitu juga Kalimat di nomor (20): “Saya menulis karena menarik untuk mengubah semua keindahan dan kekayaan kehidupan menjadi kata-kata”. Dapatkah hanya dengan menulis dapat mengubah semua keindahan dan kekayaan menjadi kata-kata? Kalimat itu demikian mendalam maknanya. Susah untuk dicerna apa yang diinginkan penulisnya? Kita baru bisa mengetahuinya di akhir paragraf di kalimat nomor (24): “Saya menulis untuk menjadi bahagia”. Jadi, kebahagiaan itu baginya terletak pada saat dia menulis. Bagi sebagian orang yang terbiasa menulis juga mengakui bahwa ketika menuntaskan tulisannya, dia menemukan sebuah kebahagiaan yang tidak tergantikan.    

 

(1) Pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh penulis, pertanyaan favorit, adalah: mengapa Anda menulis? (2) Saya menulis karena saya memiliki kebutuhan bawaan untuk menulis. (3) Saya menulis karena saya tidak dapat melakukan pekerjaan normal seperti yang dilakukan orang lain. (4) Saya menulis karena saya ingin membaca buku seperti yang saya tulis. (5) Saya menulis karena saya marah kepada semua orang. (6) Saya menulis karena saya suka duduk di kamar seharian menulis. (7) Saya menulis karena saya dapat mengambil bagian dalam kehidupan nyata hanya dengan mengubahnya. (8) Saya menulis karena saya ingin orang lain, seluruh dunia, untuk mengetahui seperti apa kehidupan yang kita jalani, dan terus hidup, di Istanbul, di Turki. (9) Saya menulis karena saya suka bau kertas, pena, dan tinta. (10) Saya menulis karena saya percaya pada sastra, dalam seni novel, lebih dari yang saya percayai dalam hal lain. (11) Saya menulis karena itu kebiasaan, gairah. (12) Saya menulis karena saya takut dilupakan. (13) Saya menulis karena saya suka kemuliaan dan minat yang dibawa oleh tulisan. (14) Saya menulis untuk menyendiri. (15) Mungkin saya menulis karena saya berharap memahami mengapa saya sangat, sangat marah pada semua orang. (16) Saya menulis karena saya suka dibaca. (17) Saya menulis karena begitu saya memulai sebuah novel, esai, halaman yang ingin saya selesaikan. (18) Saya menulis karena semua orang mengharapkan saya untuk menulis. (19) Saya menulis karena saya memiliki keyakinan kekanak-kanakan terhadap keabadian perpustakaan, dan dalam cara buku-buku saya duduk di rak. (20) Saya menulis karena menarik untuk mengubah semua keindahan dan kekayaan kehidupan menjadi kata-kata. (21) Saya menulis untuk tidak menceritakan sebuah kisah tetapi untuk menulis cerita. (22) Saya menulis karena saya ingin melarikan diri dari firasat bahwa ada tempat yang harus saya kunjungi tetapi - seperti dalam mimpi-tidak bisa begitu. (23) Saya menulis karena saya tidak pernah berhasil bahagia. (24) Saya menulis untuk menjadi bahagia.

 

(The Nobel Lecture, 7 Desember 2006. Diterjemahkan dari bahasa Turki, oleh Maureen Freely. The Nobel Foundation 2006)

 

Karikaturis seperti GM Sudarta dalam salah satu karikaturnya juga dengan sengaja menggunakan kata `tidak` sampai tujuh kali. Penggunaan kata `tidak` yang diulang sampai tujuh kali tentu saja akan memberikan efek yang mendalam bagi orang yang melihat karikatur tersebut. Bisa jadi orang yang memang benar-benar Pancasilais sejati atau yang masih ada di dalam dirinya nilai-nilai kebenaran akan menghindari untuk melakukan korupsi, makan suap, mempolitisasi Sara, intoleransi, menebar hoax, menebar hasutan kebencian, dan banyak omong. Sebaliknya, bagi orang-orang yang memang dalam kesehariannya tidak terbebas dari itu semua hanya tersenyum atau menertawakan dirinya sendiri. Bisa jadi juga untuk orang jenis ini hanya teriak `persetan dengan GM Sudarta` dan karikaturnya. Bagi kita orang-orang awam selain memberikan senyuman juga minimal menghargai sesuatu yang sudah dikerjakan GM Sudarta karena kebenaran harus ditegakkan walaupun hanya membuat karikatur yang menggelitik setiap orang termasuk para pejabat publik yang hidupnya tidak lepas dari yang telah disebutkannya di gambar karikatur tersebut. Bukankah celetukan GM Sudarta dengan cara pengulangan kata tidak sampai tujuh kali mencerdaskan, menghibur, menggelitik, dan menyegarkan? 

Pernyataan yang terdapat pada karikatur tersebut juga bisa dituliskan dalam paragraf utuh. Mulai saja dengan pertanyaan: siapa itu Pancasilais sejati? Pancasilais sejati adalah mereka yang tidak korupsi dan tidak makan suap. Pancasilais sejati adalah mereka yang tidak mempolitisir sara sehingga kelak memunculkan sikap tidak intoleransi (maksudnya mereka menjadi memiliki sikap tololeransi. Juga mereka-mereka yang tidak suka menebar hoax karena hoax menumbuhkan salah satunya sikap intoleransi. Pancasilais sejati adalah mereka yang tidak nebar hasutan kebencian. Termasuk juga Pancasilais sejati adalah mereka yang tidak `ngomong doang` (cuma bisa mengomong) tapi minim tindakan.  Tanpa disadari kita pun oleh gambar karikatur yang dibuat GM Sudarta dituntun menulis penggunaan frasa yang berulang: `Pancasilais sejati adalah`. Tidak ada salahnya kita belajar menulis paragraf melalui karikatur yang dibuat oleh GM Sudarta. Karikatur GM Sudarta benar-benar menginspirasi kita!  


(https://www.kompas.id/baca/utama/2018/06/30/gm-sudarta)

Gambar karikatur di bawah ini yang juga dibuat oleh GM Sudarta juga menggunakan pengulangan frasa dalam hal ini frasa `orang pintar`. Dari karikatur tersebut yang menggunakan pengulangan frasa yang sama bisa saja ditulis menjadi sebuah paragraf. Mau coba? Silakan saja! Bisa saja di setiap kalimat diawali dengan frasa `orang pintar`. Silakan kalau frasa tersebut mau diletakkan di awal paragraf. Atau bisa juga ditulis di kalimat kedua atau ketiga. Semua sangat tergantung pada keinginan kita.  

 

        (https://slideplayer.info/amp/2870250/)

Setelah kita melihat contoh-contoh di atas, ternyata menulis paragraf dengan pengulangan kata atau frasa yang bisa diletakkan di setiap kalimat demikian menarik bukan? Sebuah tulisan yang panjang sekalipun kalau di setiap kalimatnya digunakan pengulangan kata/frasa karena kepiawaian penulisnya, ternyata jika direnungkan memiliki makna yang demikian mendalam. Setiap pembaca yang mencoba menelusuri tulisan dengan pengulangan kata `menulis` yang ditempatkan di setiap kalimat (bahkan ada satu kalimat digunakan dua kali), kalau si penulis bisa menyusun kata-kata dengan baik ternyata tidak akan membosankan. Boleh jadi pembacanya akan merasa penasaran untuk menuntaskan bacaannya. Di sini diperlukan adanya latihan. Salah satu latihan yang bisa juga dilakukan adalah mencoba menggunakan kata-kata/frasa-frasa yang juga kerap digunakan oleh seorang karikaturis seperti GM Sudarta. Sebagai penutup, coba kita cari gambar kartun yang ditulis kartunis di luar GM Sudarta yang juga kerap menggunakan kata-kata/ frasa-frasa yang berulang. Dengan cara demikian kita lambat-laun akan menjadi penulis yang handal.


 


Selasa, 30 Agustus 2022

Kebahasaan dan Kesastraan (101)

 2. SAATNYA MENULIS


Subagio S. Waluyo



 


Masalah sudah ditemukan. Sekarang coba dari masalah itu kita mulai saja menulis kalimat pertama. Kalau sekarang ini sedang ramai-ramainya orang bicara tentang virus Corona atau Covid-19, dari sisi mana mau kita bahas. Kita bisa saja membahas hal-hal yang berkaitan dengan virus tersebut dari bidang kedokteran atau kesehatan entah itu ciri-cirinya atau indikator orang yang terkena virus Corona atau gejala- gejalanya. Boleh juga asal-muasal virus tersebut sehingga dengan cepat bisa menyebar ke seantero dunia ini. Boleh juga jumlah korban yang berjatuhan akibat virus Corona. Atau sah-sah saja kejadian ini berkaitan dengan perang antar negara yang berkaitan dengan masalah ekonomi.

Coba kita ambil salah satu dari pilihan di atas, misalnya, kita cenderung mengambil jumlah korban yang berjatuhan akibat virus Corona. Kalau sudah berkaitan dengan jumlah korban, mau tidak mau kita harus cari data. Kita sepakat cari data di Google. Kita temukan data tentang korban virus Corona seperti terlihat pada kutipan berita berikut ini.  

 

Update corona di dunia pada Minggu (15/3/2020) sore, angka infeksi Covid-19 mencapai 157.476 orang di 155 negara dan satu alat angkut internasional (kapal pesiar Diamond Princess berlabuh di Yokohama, Jepang). Angka kematian untuk pandemi Covid-19 ada 5.845 dan pasien yang sudah dinyatakan sembuh menjadi 75.953 orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan pandemi virus corona, menyusul penyebaran SARS-CoV-2 yang semakin meluas di sejumlah negara di dunia..

 

(https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/15/113100723/update-virus-corona-15-maret-75953-pasien-di-155-negara-sembuh)

Kita sudah menemukan data singkat. Sekarang kita mulai saja menulis. Kita tulis saja kalimat pertama seperti ini:

(1) Sampai dengan hari Minggu (15/3-2020) ada 157.476 orang terinfeksi virus Corona.

Bagaimana meneruskan kalimat yang kedua? Untuk meneruskan kalimat yang kedua kita boleh saja mengambil sebagian dari data di atas. Kita tulis saja seperti ini:

(2) Jumlah itu tersebar di 155 negara termasuk mereka yang ada di kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama (Jepang).

Nah, sekarang kita sudah menulis dua kalimat. Coba kita teruskan lagi kalimat ketiga. Untuk menulis kalimat ketiga, kita juga diperbolehkan mencomot data di atas. Kita tulis saja begini:

(3)  Virus Corona yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obatnya menelan korban sebanyak 5.845 orang yang meninggal.


Kita sudah menulis tiga kalimat. Sekarang kita teruskan kalimat yang keempat. Kita masih tetap mencomot data di atas. Kita tulis saja seperti ini:

(4) Meskipun demikian, ada 75.953 orang dinyatakan sembuh.

 

Karena berniat menulis lima kalimat dalam satu paragraf, kita tulis saja kalimat terakhirnya:

 

(5) Dengan demikian, wajar saja jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah virus Corona ini sebagai pandemi.

 

Sekarang, coba kita masukkan semua kalimat di atas ke dalam satu paragraf.

 

(1) Sampai dengan hari Minggu (15/3-2020) ada 157.476 orang terinfeksi virus Corona. (2) Jumlah itu tersebar di 155 negara termasuk mereka yang ada di kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama (Jepang). (3) Virus Corona yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obatnya menelan korban sebanyak 5.845 orang yang meninggal. (4) Meskipun demikian, ada 75.953 orang dinyatakan sembuh. (5) Dengan demikian, wajar saja jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah virus Corona ini sebagai pandemi.

 

Ternyata, kita sudah membuat satu paragraf yang terdiri dari lima kalimat. Kenapa kita bisa menulisnya? Sekarang kita coba analisis paragraf tersebut. Pertama, di kalimat (1) kita dapati ada jumlah orang yang terinfeksi virus Corona, yaitu sebanyak 157.476 orang. Untuk meneruskan ke kalimat (2), kita cukup masukkan kata `jumlah` dan diletakkan di awal kalimat. Kalau mau ditulis jumlah orang yang terinfeksi virus Corona sehingga menjadi seperti ini: “157. 476 orang yang terinfeksi virus Corona tersebar di 155 negara ...” boleh-boleh saja. Tapi, kalimat yang ditulis itu kurang efektif. Daripada menulis lengkap seperti itu, cukup ditulis sepeti ini saja: ”Jumlah itu tersebar di 155 negara...” Jauh lebih sederhana bukan? Kedua, coba kita fokuskan kalimat (2). Di sana ada bagian kalimat yang bisa kita teruskan di kalimat (3). Kita dapati di sana ada bunyi kalimat:”Jumlah itu tersebar di 155 negara...” Kita perlu bertanya: kenapa virus Corona dalam waktu cepat bisa tersebar di 155 negara? Kita bisa berasumsi (asumsi kita juga bisa diperkuat data) bahwa penyakit jenis ini yang memang tergolong baru belum ada vaksin dan obatnya sehingga wajar-wajar saja belum sampai hitungan setengah tahun sudah tersebar di 155 negara. Untuk itu, kita tulis saja seperti yang tercantum di kalimat (3):”Virus Corona yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin dan obatnya menelan korban sebanyak 5.845 orang yang meninggal”.  

Ketiga, kita telah menyebutkan orang yang terinfeksi virus Corona, jumlah penyebarannya di 155 negara, dan korban yang meninggal sebanyak 5.845 orang. Di kalimat (4) kita perlu memberikan suatu harapan bahwa virus Corona ternyata juga bisa disembuhkan karena menurut data yang kita peroleh ada 75.953 orang dinyatakan sembuh. Karena itu, kita masukkan frasa `meskipun demikian` yang kita letakkan di awal kalimat sehingga menjadi “Meskipun demikian,ada 75.953 orang dinyatakan sembuh. Sebagai penutup, kita bisa gunakan frasa `dengan demikian` sehingga bunyi kalimat penutup di paragraf tersebut adalah:”Dengan demikian, wajar saja jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah virus Corona ini sebagai pandemi”. Kalimat penutup dalam sebuah paragraf bisa kita katakan sebagai kesimpulan. Apa kesimpulannya? Virus Corona bukan lagi sebagai endemi karena kalau endemi hanya terjadi pada satu daerah atau wilayah. Dia tidak berpotensi menyebar ke mana-mana. Kenyataannya virus Corona tersebar kemana-mana ke seantero dunia sehingga ada 155 negara yang warganya terkena atau minimal dicurigai (suspect) terinfeksi virus Corona.  

Sebagai catatan tambahan sebagai penulis pemula, ada beberapa hal yang perlu disampaikan di sini. Pertama, sebagai alat bantu untuk memulai sebuah tulisan boleh-boleh saja kita gunakan data dari mana pun asal jangan lupa kita sebutkan sumbernya. Di atas di bagian akhir kutipan ada tertulis:(https:// www.kompas.com /sains/read/2020/03/15/113100723/up-date-virus-corona-15-maret-75953-pasien-di-155-negara-sembuh). Berarti kita mengutip dari sumber yang disebutkan di atas, yaitu dari Google (internet). Kedua, kita juga boleh mengutip sebagian dari bahan yang kita peroleh. Tapi, ingat! Kita tidak boleh meng-copy paste (copas) seutuhnya. Kalau cara itu dilakukan, sama saja kita melakukan pencurian data sehingga sebenarnya tulisan kita itu lebih merupakan pemindahan data orang lain ke tulisan kita. Yang paling parah kalau tulisan kita isinya lebih  merupakan kutipan-kutipan orang yang kita copas dari berbagai tulisan. Setelah jadi tulisan utuh sering kali tulisan tersebut satu paragraf dengan paragraf berikutnya tidak ada kesinambungan. Kalau dalam satu wacana satu paragraf dengan paragraf tidak ada kesinambungan, bisa dipastikan wacana tersebut susah ditangkap isinya.

Ketiga, agar terjadi kesinambungan tulisan antara kalimat pertama dan kalimat kedua dan seterusnya, bisa digunakan kata penghubung (konjungsi) antar- kalimat. Konjungsi antarkalimat dalam penulisan paragraf diletakkan bukan di awal paragraf, melainkan di tengah paragraf. Boleh juga di kalimat kedua setelah kalimat pertama. Kita ambil contoh:”Pemerintah pusat dinilai lamban dalam mensikapi pandemi virus Corona. Sebaliknya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, langsung  membentuk posko begitu ada warganya yang diduga terinfeksi virus Corona.” Pada kalimat tersebut bisa terlihat kata sebaliknya sebagai konjungsi ditempatkan di kalimat kedua bukan di kalimat pertama. Berikut ini bisa dilihat daftar konjungsi antarkalimat yang biasa digunakan dalam penulisan paragraf.

 

(1) Agaknya, ...

(2) Akan tetapi, ...

(3) Akhirnya, ...

(4) Akibatnya, ...

(5) Artinya, ...

(6) Berkaitan dengan itu, ...

(7) Biarpun begitu, ...

(8) Biarpun demikian, ...

(9) Contohnya, ...

(10) Dalam hal ini, ...

(11) Dalam hubungan ini, ...

(12) Dalam konteks ini, ...

(13) Dengan demikian, ...

(14) Dengan kata lain, ...

(15) Di pihak lain, ...

(16) Di samping itu, ...

(17) Di satu pihak, ...

(18) Jadi, ...

(19) Jika demikian, ...

(20) Kalau begitu, ...

(21) Kalau tidak salah, ...

(22) Karena itu, ...

(23) Kecuali itu, ...

(24) Lagi pula, ...

(25) Meskipun begitu, ...

(26) Meskipun demikian, ...

(27) Misalnya, ...

(28) Namun, ...

(29) Oleh karena itu, ...

(30) Oleh sebab itu, ...

(31) Pada dasarnya, ...

(32) Pada hakikatnya, ...

(33) Pada prinsipnya, ...

(34) Paling tidak, ...

(35) Sebagai kesimpulan, ...

(36) Sebaiknya, ...

(37) Sebaliknya, ...

(38) Sebelumnya, ...

(39) Sebenarnya, ...

(40) Sebetulnya, ...

(41) Sehubungan dengan itu, ...

(42) Selain itu, ...

(43) Selanjutnya, ...

(44) Sementara itu, ...

(45) Sesudah itu, ...

(46) Sesungguhnya, ...

(47) Setelah itu, ...

(48) Sungguhpun begitu, ...

(49) Sungguhpun demikian, ...

(50) Tambahan lagi, ...

(51) Tambahan pula, ...

(52) Untuk itu, ...

(53) Walaupun demikian, ...

 

(https://beritagar.id/artikel/tabik/penghubung-antarkalimat) 

Penggunaan konjungsi (semuanya ada 53 konjungsi) sebagaimana dijelaskan di atas merupakan salah satu cara mengaitkan satu kalimat dengan kalimat berikutnya. Berikut ini bisa kita lihat contoh penulisan paragraf yang menggunakan konjungsi.

Berbicara tentang penggusuran, seorang Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Hafidz Abbas, dengan tegas menyatakan bahwa penggusuran secara paksa adalah bentuk pelanggaran HAM. Kalau itu sudah jelas pelanggaran HAM, mengapa sampai saat ini pemerintah masih giat melakukan penggusuran? Penggusuran dilakukan terhadap tempat-tempat tinggal masyarakat kecil. Sementara itu, kenapa tidak dilakukan penggusuran terhadap vila-vila mewah yang dibangun orang-orang kaya di pegunungan yang sudah jelas-jelas melanggar peraturan?  Kok, hukum yang berlaku di negara ini tidak adil? Artinya, hukum itu diibaratkan `pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas`? Hukum itu hanya berlaku untuk orang-orang kecil yang sudah jelas tidak akan ada usaha melawan kalau sudah berhadapan dengan hukum. Untuk kalangan atas, hukum itu tidak berlaku. Hukum di negara ini bisa diatur. Jadi, kita tidak usah berbusa-busa bicara tentang penegakan hukum kalau masih ada sebagian anak bangsa ini masih jadi korban penggusuran. Hukum di negara ini hanya sebatas retorika. Dengan demikian, kita bisa mengatakan negara menutup mata ketika orang-orang kecil terjerat hukum. Tetapi negara akan benar-benar melek matanya kalau menyangkut orang-orang besar, orang-orang berduit, atau orang-orang yang memegang tampuk kekuasaan di negara ini. Negara ini memang belum menjamin sama sekali rasa kenyamanan, keamanan, kesejahteraan, dan ketenangan bagi orang-orang kecil. Orang-orang yang teralienasi! 

 

Dari paragraf di atas, kita menemukan ada empat konjungsi, yaitu sementara itu, artinya, jadi, dan dengan demikian. Keempat konjungsi itu terbukti dapat merekatkan kalimat yang sebelumnya dengan kalimat sesudahnya. Coba kita uraikan satu persatu. Kalimat yang berbunyi ...Penggusuran dilakukan terhadap tempat-tempat tinggal masyarakat kecil..ketika ingin diteruskan ke kalimat berikutnya dikaitkan dengan konjungsi sementara itu. Bagaimana kalau bukan sementara itu yang digunakan? Misalnya menggunakan konjungsi dengan kata lain. Kalau kita menggunakan konjungsi tersebut,  kalimatnya akan berbunya kira-kira seperti ini: Dengan kata lain, dengan melakukan penggusuran terhadap tempat-tempat tinggal masyarakat kecil secara tidak langsung akan menyebabkan orang-orang miskin akan tambah miskin karena mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal. Kalau sudah seperti itu kalimatnya, fokus penulisannya akan berubah bukan seperti yang dijadikan contoh pada kalimat di atas. Jadi, tidak boleh sembarangan kita menggunakan konjungsi karena kurang tepat dalam penggunaan konjungsi akan berakibat pada peralihan fokus penulisan. Konjungsi artinya sebagaimana terdapat dalam kalimat Artinya, hukum itu diibaratkan `pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas`?, sengaja memang penulis menggunakan konjungsi tersebut karena penulis mau menjelaskan kalimat sebelumnya: Kok, hukum yang berlaku di negara ini tidak adil?  Ketika diteruskan ke kalimat berikutnya dengan diawali konjungsi artinya, pembaca paling tidak bisa memahami isi kalimat sebelumnya. Kata jadi sebagai konjungsi yang ditempatkan di awal kalimat yang berbunyi Jadi, kita tidak usah berbusa-busa bicara tentang penegakan hukum kalau masih ada sebagian anak bangsa ini masih jadi korban penggusuran, bisa saja dihilangkan. Tapi, boleh jadi akan ketidak ada kesinambungan dengan kalimat berikutnya. Artinya, kalimat yang sebelumnya  Hukum di negara ini bisa diatur, tidak berkaitan dengan kalimat sesudahnya: Jadi, kita tidak usah berbusa-busa bicara tentang penegakan hukum kalau masih ada sebagian anak bangsa ini masih jadi korban penggusuran. Agar terjadi keterkaitan mau tidak mau digunakan konjungsi jadi. Begitu juga (ini juga konjungsi) dengan konjungsi dengan demikian ini juga berfungsi mengaitkan kalimat yang sebelumnya Hukum di negara ini hanya sebatas retorika dengan kalimat sesudahnya Dengan demikian, kita bisa mengatakan negara menutup mata ketika orang-orang kecil terjerat hukum. Khusus untuk kalimat tersebut, seandainya tidak digunakan konjungsi dengan demikian, tidak menjadi masalah karena tidak akan merusak hubungan kalimat yang sebelumnya dengan kalimat sesudahnya. Agar paragraf tersebut terlihat apik ketika konjungsi dengan demikian dihilangkan, pindahkan saja konjungsi tersebut ke kalimat terakahir: Dengan demikian, negara ini memang belum menjamin sama sekali rasa kenyamanan, keamanan, kesejahteraan, dan ketenangan bagi orang-orang kecil: orang-orang yang teralienasi. 



Rabu, 27 Juli 2022

Kebahasaan dan Kesastraan (100)

1. PROLOG



Pada Mulanya

/a/

Setiap orang yang belajar menulis bisa disebutkan sebagai orang yang sedang melakukan pembelajaran penulisan. Dinamakan Pembelajaran Penulisan karena belajar menulis merupakan sebuah proses. Tentang lamanya mengikuti proses belajar menulis itu sendiri bukan semata-mata adanya talenta, tapi juga dibutuhkan keseriusan. Selain itu, perhatian harus fokus. Perlu juga dicamkan, belajar menulis harus disertai kesabaran dan tetap konsisten dengan komitmen yang telah dicanangkan di awal ketika belajar. Komitmen yang harus ada pada seorang calon penulis adalah dia mau belajar menulis untuk memperoleh tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi pembacanya. Memberikan wawasan pada setiap pembacanya. Tentu saja wawasan yang bermanfaat bagi kehidupan pembacanya di masa depan dan diharapkan (setidak-tidaknya) membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi pembaca.

 

Setiap orang yang mau belajar menulis harus punya komitmen. Tulisan yang mau dibuat hanya akan mengarah pada dua tujuan, tulisan yang berangkat dari ide-ide cemerlang, smart, atau cerdas akan melahirkan tulisan yanga cemerlang, smart, atau cerdas, Sementara itu, tulisan-tulisan yang mengarah pada hal-hal yang negatif, yang berangkat dari ide-ide gila atau senewen akan melahirkan tulisan-tulisan yang penuh kegilaan atau kesenewenan. Berkaitan dengan hal itu di sini ini hanya disediakan bagi mereka yang mau belajar menulis dengan tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa. Jadi, yang akan dilakukan adalah pembelajaran penulisan yang diawali dengan ide-ide cemerlang, smart, atau cerdas. Tidak ada tempat bagi penulis `nyeleneh` yang hanya menghasilkan tulisan-tulisan murahan. Tulisan-tulisan yang cenderung ke arah pembodohan. Bangsa ini sudah terlalu lelah dengan banyaknya orang bodoh yang terjerembab ke dalam lubang yang sama. Jangan lagi ada orang-orang bodoh yang terjerembab di lubang yang sama. Karena itu, buatlah program pencerdasan bangsa melalui tulisan-tulisan yang cemerlang, smart, dan cerdas agar bangsa ini terselamatkan dari kebodohan.

/b/


Imbuhan peN-an pada kata belajar dan tulis mengandung arti `proses`.  Untuk menjadi penulis handal memang membutuhkan proses. Di dunia ini untuk diketahui saja tidak ada segalanya serba instan. Semuanya membutuhkan proses. Tidak ada orang menjadi besar dan tersohor tanpa ada sebuah perjalanan panjang, sebuah proses. Karena dia merupakan sebuah proses, diperlukan kesabaran, ketekunan, keseriusan, dan kekonsistenan. Terasa berat bagi siapa saja yang mau menjalaninya. Tapi, memang harus demikian caranya dan tidak ada cara lain. Penulis-penulis pemula siap-siap saja diuji oleh pembaca yang akan mengomentari tulisannya. Siap-siap saja kalau ada yang mengomentari dengan cara yang memerahkan telinga. Semua penulis yang sekarang ini telah menjadi penulis besar dan tersohor di awal-awal menulis selalu diuji dengan penolakan untuk diterbitkan oleh redaksi-redaksi surat kabar atau majalah. Mereka, para redaksi, ada juga yang memberikan motivasi untuk tetap semangat menulis. Tetapi, ada juga yang langsung berkomentar kalau tulisannya tidak berbobot dan layak dimasukkan ke keranjang sampah. Itulah ujian yang memang harus dilalui. Dalam hidup ini bukankah manusia diuji dengan sesuatu yang tidak mengenakkan? Orang yang punya tekad kuat akan tetap menulis, tetapi orang cepat putus asa akan berhenti untuk menulis lagi. Berarti dia orang yang tidak tahan ujian. Jadilah orang yang tahan ujian meskipun harus berkali-kali jatuh bangun menghadapi berbagai ujian.

 

Pembaca yang baik, Insya Allah, menjadi penulis yang baik. Banyak membaca akan memberi manfaat bagi siapa saja yang ingin tulisannya dinikmati pembacanya. Penulis yang miskin kosa kata karena kurang baca akan menghasilkan tulisan yang kering. Membiasakan diri untuk membaca juga merupakan pekerjaan kebiasaan yang sulit. Tetapi, memang tidak ada cara lain mau tidak mau harus dipaksa diri ini untuk membaca. Sesuatu yang awalnya berat, Insya Allah, akan menjadi terasa nikmat manakala mau mencobanya. Awali dulu dengan bacaan-bacaan yang ringan, yang mudah dicerna, yang tidak membutuhkan banyak kerja otak. Setiap kata yang dianggap sulit dicatat. Cari padanannya atau definisinya di kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Pusat Bahasa bisa dijadikan rujukan. Nanti, perlahan-lahan sesuai dengan kebutuhan membaca bacaan-bacaan yang sedikit berat. Mulailah membaca sehari 10-20 halaman dan berkelanjutan. Dengan cara demikian, diharapkan sesuatu yang di awalnya berat akan terasa ringan bahkan tidak mustahil ternyata membaca itu merupakan sebuah kenikmatan tersendiri.

/c/

 

Setelah kebiasaan membaca telah menjadi sebuah kebutuhan, buku-buku yang dibaca setidak-tidaknya akan membentuk pemikiran seseorang. Orang yang kerap membaca buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan karakter diharapkan akan terbentuk karakternya persis seperti yang digambarkan dalam buku tersebut. Begitu juga orang yang sering membaca karya fiksi sastra yang banyak mengajarkan tentang perilaku yang baik akan terbentuk perilaku seperti yang digambarkan di karya fiksi sastra tersebut meskipun ada penolakan dalam dirinya. Pada saat seseorang telah terbentuk kepribadiannya melalui bacaan, dia akan memiliki konsep nilai. Konsep nilai yang dimilikinya boleh jadi bertentangan dengan yang didapati dalam kehidupannya sehari-hari. Di saat-saat seperti itu dia telah menemukan masalah. Sekarang masalah yang didapatkannya akankah didiamkan saja sehingga tersimpan di arsip pikirannya atau diselesaikan dengan cara menuangkannya dalam tulisan?  Kembali pada judul tulisan ini yang dijadikan submenu dari menu bahasa: “Pembelajaran Penulisan”, menulis merupakan sebuah proses. Menulis juga butuh untuk fokus perhatian pada masalah yang ditemukan. Untuk itu, catat dengan teliti hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang ditemukan. Siapkan bahan-bahan yang diperkirakan akan mendukung tulisan yang akan dibuat. Setelah itu, coba cari gagasan atau ide untuk memecahkan masalah itu. Corat-coret yang telah dibuat jangan sampai dibuang karena boleh jadi ada manfaatnya nanti.

 

Menulis Sampai ke Liang Lahat

 

/a/

Orang menulis sama seperti orang menuntut ilmu/belajar, yaitu sama-sama sampai ke liang lahat. Bedanya, menuntut ilmu/belajar dari buaian (lahir). Sedangkan menulis dimulai dari orang bisa membaca yang diteruskan dengan bisa menulis.  Jadi, kalau di usia kelas I SD anak sudah bisa membaca dan menulis, nah di usia itulah harus ada keinginan untuk menulis sampai ke liang lahat. Kenapa sampai liang lahat? Ya, sampai liang lahat karena ada orang yang mati muda, ada yang mati setengah tua, dan ada juga yang mati tua. Kalau dikatakan menulis sampai tua, tiba-tiba belum sampai tua sudah wafat, gimana? Berarti benar `kan hanya sampai liang lahat?

/b/

Kalau sudah punya niat mau jadi penulis, jangan sampai mundur dari niat tersebut. Sekarang persiapkan diri untuk mulai menulis. Modal utamanya harus punya tekad kuat.Penulis-penulis tua seperti Goenawan Mochamad masih aktif menulis walaupun lebih banyak menulis di Majalah Tempo terutama di Catatan Pinggir. Di kolom itu tidak boleh ada orang lain yang menulis karena akan terasa hambar jika bukan Goenawan yang mengisi kolom itu. Mochtar Loebis sampai menjelang wafatnya masih tetap menulis. Dari tangan beliau lahir puluhan karya-karya fiksi dan nonfiksi. Ada penulis muda, ibu rumah tangga, yang menulis sejak awal tahun 2000-an menulis karya-karya fiksi dan nonfiksi sampai lima puluh judul. Dalam rentang waktu sepuluh tahun menghasilkan karya sebanyak itu. Setiap tahun paling tidak ada lima buku yang ditulis. Sebuah prestasi luar biasa. Kalau mau didata bisa puluhan bahkan ratusan penulis di Indonesia. Tidak semua penulis zaman kiwari di Indonesia menulis dengan komputer atau laptop atau notebook. Sebagian penulis masih bertahan menulis dengan bantuan mesin. Penulis seperti Remy Silado, sampai sekarang masih menulis dengan mesin tik. Di samping memang gaptek, Remy merasa lebih pas jika harus menggunakan mesin tik. Tidak perlu dipermasalahkan dengan apa mereka menulis. Tetapi yang perlu kita jadikan motivasi untuk tetap bertekad menulis adalah semangat mereka yang tidak pernah padam menggeluti dunia penulisan.

 

Jika ditilik dari latar belakangnya, Mochtar Loebis dan Goenawan Mochamad keduanya selain sastrawan juga wartawan. Tidak aneh kalau dalam novel-novel Mochtar Loebis lebih merupakan sebuah hasil reportase daripada sebuah karya fiksi yang sarat dengan imajinasi. Sementara itu, Goenawan Mochamad walaupun seorang wartawan lebih cenderung menulis puisi dan esei. Jauh sebelum mereka menulis karya-karyanya ada seorang ulama besar yang juga sastrawan yang mulai menulis di tahun-tahun `20-an. Orang mengenalnya sebagai Buya Hamka i yang menulis namanya Hamka. Karena  dikenal sebagai ulama dari Sumatra Barat, akhirnya orang memberikan embel-embel di depannya Buya, yaitu sebutan seorang ustadz atau ulama. Sejak itu beliau lebih dikenal sebagai Buya Hamka. Ratusan karya  baik fiksi maupun nonfiksi lahir dari tangannya. Banyak juga tulisannya yang tersebar di berbagai majalah Islam yang terbit sejak di masa-masa penjajahan sampai menjelang beliau wafat, yaitu tahun 80-an. Novelnya yang cukup terkenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck baru-baru ini diangkat ke layar perak (difilmkan). Karya beliau yang monumental adalah Tafsir Al-Azhar sebanyak 30 juz. Untuk ukuran Indonesia kemungkinan besar belum ada penulis seproduktif beliau. Perlu juga diketahui, selain sebagai sastrawan dan ulama, beliau pernah terjun di dunia politik di masa penjajahan, yaitu di Serikat Islam pada tahun 1925. Pada Pemilu pertama tahun 1955 beliau terpilih sebagai anggota dewan konstituante dari Partai Masyumi. Dengan demikian, Buya Hamka bukan hanya  penulis, tetapi juga sastrawan dan tokoh politik di negara ini.

/c/

Di luar sana, maksudnya di belahan dunia lain, begitu banyak penulis dunia yang sampai saat ini masih aktif menulis. Di Inggris, Agatha Christie penulis novel-novel detektif sampai dengan tahun 2003 buku-bukunya telah terjual sebanyak 1 miliar eksemplar dalam bahasa Inggris dan 1 miliar eksemplar lagi dalam 45 bahasa. Di Prancis saja buku-buku beliau terjual sampai 40 juta eksemplar. Jumlah tersebut mengalahkan penulis sainganya Emile Zola (penulis Prancis) yang karya-karyanya terjual 20 juta eksemplar.  Agatha Christie menulis lebih dari 80 novel dan sandiwara teater yang semuanya bercerita tentang dunia kriminal atau detektif. Beberapa penulis dunia lain  yang sampai saat ini masih aktif sebut saja J.K. Rowling penulis novel-novel Harry Potter yang sebagian besar karyanya telah difilmkan, pada mulanya menulis karena desakan ekonomi. Saking miskinnya, penulis wanita ini menulis di lembaran-lembaran tisu. Penerbit-penerbit banyak yang menolak hasil tulisannya yang ditulis di lembaran-lembaran tisu. Tekad yang kuat untuk tetap menulis disertai dorongan karena kemiskinan membawakan hasil. Belakangan penerbit-penerbit tersebut mau menerima hasil karya-karyanya. Begitu karya-karyanya melejit di pasaran berebutan penerbit ingin menerbitkan buku-bukunya. Lagi-lagi prestasi ini diukir oleh seorang wanita generasi penerus sepeninggal Agatha Christie. Bedanya, jika Agatha Christie lebih konsens di dunia penulisan novel-novel detektif sedangkan J.K. Rowling di dunia penulisan novel-novel sihir.

 

/d/

Penulis-penulis besar baik penulis lokal (dalam negeri) maupun mancanegara tidak lahir tanpa adanya tekad yang kuat untuk tetap menulis. Buat mereka tidak ada mantan penulis. Seandainya, ada di antara mereka yang sempat berhenti menulis, pada kesempatan berikutnya langsung `ngebut` mengejar target untuk mengisi kekosongan selama berhenti menulis. Memang, tidak sedikit di antara mereka yang menulis karena adanya kesibukan yang dinilai lebih menguntungkan. Tetapi, penulis sejati tidak pernah berhenti untuk  memberikan yang terbaik pada pembacanya, yaitu tulisan yang berbobot. Untuk itu, jadilah penulis sejati yang tidak akan berhenti menulis walaupun sempat ditolak redaksi atau penerbit tulisan-tulisannya. Seandainya, media cetak tidak berkenan memuat tulisan-tulisannya, masih ada ruang buat penulis melalui media seperti blogspot atau website. Artinya, tulisan-tulisan yang ditulis sendiri bisa diedit sendiri dan dimuat sendiri kapanpun dan di manapun walaupun tidak ada honor untuk itu. Tapi, yakinlah bahwa suatu saat akan ada penerbit yang melirik dan tertaribk untuk menerbitkannya. Bukankah di zaman kiwari ini orang yang rajin ber-tweet-tweet di twitter saja ada penerbit yang berminat menerbitkannya? Mau? Cobalah!

Siapkan Bahan

/a /

`Sedia payung sebelum hujan` begitu kata peribahasa yang juga bisa diartikan `sedia bahan sebelum menulis`. Kok, bahan? Bahan apa? Bahan di sini referensi. Bisa buku, bisa artikel di koran/majalah (kliping), atau bisa juga dari hasil browsing di internet. Zaman kiwari ini begitu banyak bahan yang bisa diperoleh. Semua yang bisa dibaca adalah bahan. Termasuk semua yang bisa didengar adalah bahan. Hanya bahan yang lewat pendengaran (karena terbiasa `nguping`) tidak bisa dipertanggungjawakan. Boleh saja hasil mendengar dijadikan bahan, tapi harus ada tindak lanjutnya. Teruskan dengan cari bahan sesuai dari yang kita dengar sebagai informasi awal. Bisa juga hasil menyaksikan lewat media elektronik atau ikut kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah di kegiatan agama dijadikan sebagai bahan. Tapi, ya, itu tadi, harus diteruskan dengan mencari referensi dalam bentuk bahan-bahan tertulis. Hasil memanfaatkan audio-visual yang digunakan untuk menyaksikan acara di media elektronik atau kegiatan ilmiah atau ceramah/khutbah keagamaan tidak bisa dijadikan referensi utama. Dia hanya menjadi stimulus agar seseorang melakukan penelusuran mencari bahan-bahan tertulis.

/b/

Apakah seseorang hanya mencari referensi ketika menulis ilmiah? Tidak juga. Seorang penulis fiksi sekalipun agar tulisannya tidak kering mau tidak mau harus rajin mencari referensi. Ada seorang penulis fiksi terkenal yang menulis sebuah novel yang latarnya bukan di tempat tinggal dia. Tetapi, penulis ini dengan apiknya bisa menceritakan sedetil mungkin mungkin sudut-sudut kota yang dijadikan latar cerita. Apakah dia harus terjun ke lokasi yang dijadikan latar cerita itu? Ternyata dia tidak pernah ke lokasi yang dimaksud. Usut punya usut ternyata dia hanya banyak membaca dari berbagai referensi tentang gambaran lengkap kota yang dijadikan latar cerita. Sama halnya seorang penulis fiksi yang menulis dunia kedokteran, apakah dia harus seorang dokter? Tidak juga. Dia cukup menjadi seolah-olah seorang jurnalis yang menerapkan prinsip-prinsip 5 W+1 H yang biasa digunakan dalam dunia kewartawanan. Selebihnya, dia cari bahan-bahan yang membahas secara langsung tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Dalam hal ini cukup, misalnya, dia hanya menulis di sekitar penyakit epidemi, seperti demam berdarah. Memang hasil karyanya tidak lebih baik dari seorang yang benar-benar dokter. Tapi, itulah dunia penulisan bisa dilakukan seseorang manakala dia mau membaca. Jadi, untuk menulis sebuah karya fiksi tidak semata-mata mengandalkan imajinasi atau kontemplasi, tapi juga harus banyak mencari referensi.

Bagaimana untuk tulisan yang bukan nonfiksi? Sama saja harus banyak mencari referensi untuk memperkaya wawasan penulis. Semakin tinggi kadar ilmiah sebuah tulisan harus semakin banyak referensinya. Tentang jumlah referensinya tidak ada ketentuan. Tulisan-  tulisan yang berangkat dari hasil penelitian entah itu yang namanya makalah atau kertas kerja, karya ilmiah yang dilombakan, skripsi, tesis, atau disertasi wajib mencantumkan daftar pustaka. Kalau perlu di setiap kutipan harus disebutkan sumber kutipannya.   Untuk tulisan nonfiksi walaupun tulisan yang cenderung ilmiah populer juga dibutuhkan referensi. Hanya untuk tulisan jenis ini tidak mutlak digunakan daftar pustaka. Tetapi, kalau ada kutipan sudah selayaknya mencantumkan sumber datanya. Sekali lagi modal utama penulis bukan hanya punya tekad, tetapi juga mau membiasakan diri membaca.  Menjadi penulis harus juga rajin mencatat segala hal yang dia lihat dan didengar. Semua yang dilihat dan didengar harus diperkuat dengan data-data tertulis: bahan-bahan bacaan. Dengan menjadi penulis seseorang akan memulai budaya baca yang justru budaya ini belum tumbuh di negara ini.  

/c/

Kata kunci untuk bisa menulis itu `membaca`.  Budaya baca di negara ini masih tergolong rendah. Di dunia pendidikan bisa dihitung dengan jari seberapa banyak guru atau dosen yang membiasakan diri untuk membaca? Murid-murid atau mahasiswa-mahasiswa di negara ini masih kurang minat bacanya. Hal ini bisa dibuktikan dengan seberapa banyak buku-buku serius diterbitkan dan berapa lama buku itu akan terjual? Di negara ini orang hanya mau membaca buku-buku yang cenderung tidak banyak membutuhkan energi otak alias tidak mau capek untuk berpikir. Buku-buku yang ringan dibaca akan jadi best seller seperti `kacang goreng` (kata orang jadul kalau sekarang apa ya?).  Ini menunjukkan anak bangsa ini belum menjadi orang serius untuk menangani segala hal yang berkaitan dengan bidang-bidang kehidupan manusia.

Orang yang banyak membaca bukan hanya menambah wawasan keilmuan, tapi juga akan memiliki daya kritis atau kepekaan. Lha, kok bisa begitu? Ya, karena orang yang banyak membaca akan banyak menemukan masalah. Masalah tidak akan dia dapat kalau dia tumpul alias tidak punya konsep untuk memecahkan masalah. Dia tahu baik-buruk suatu kebijakan, misalnya, karena dia punya konsep tentang kebijakan yang ideal. Dari mana dia peroleh itu? Ya, dari hasil membaca. Mungkin, ini suatu hal yang berat karena berhubungan dengan masalah kebijakan. Bagaimana dengan masalah adanya jurang pemisah yang sangat dalam antara orang kaya dan miskin? Mungkin ini lebih mudah. Untuk mengetahui konsep tentang orang kaya dan orang miskin, dia harus punya konsep gambaran yang sesungguhnya orang yang tergolong kaya dan miskin. Dia tidak cukup mengandalkan visualnya dengan melihat di depan matanya ada orang kaya dan miskin. Dia harus tahu setidaknya kriteria orang kaya dan orang miskin. Untuk mengetahui kriteria kedua golongan itu mau tidak mau harus lewat bahan bacaan.   Dia harus punya referensi tentang ukuran kekayaan dan kemiskinan dengan melihat pada pendapatan perkapita tertinggi dan terendah. Begitupun ketika seorang penulis ingin menyampaikan masalah ketertiban, dia harus punya konsep tentang ketertiban. Dari mana dia tahu tentang konsep ketertiban, ya dari literatur yang khusus membahas tentang ketertiban. Di sana bisa jadi didapati kriteria ketertiban, syarat-syaratnya, dan seterusnya. Singkatnya, siapapun orangnya yang menyampaikan suatu hal dia harus punya konsep. Konsep tidak bisa datang begitu saja atau gratis. Dia harus dilakukan dengan kerja keras. Dia akan diperoleh dengan banyak membaca.

/d/

Belajar menulis memang banyak dituntut bukan hanya tekad yang kuat, tetapi juga kesabaran, kekomitmenan, dan kekonsistenan. Dia harus sabar menghadapi cibiran pembaca yang memang tulisannya dinilai tidak/kurang berbobot atau memang ada orang yang sentimen dengan hasil tulisannya. Dia harus punya komitmen untuk tetap menulis sesuai dengan hati nuraninya. Dia tidak boleh terganggu untuk menulis yang menyimpang dari keinginan hatinya atau menjual idealismenya. Dia juga harus konsisten untuk tetap menjadikan dunia menulis sebagai cara untuk menuangkan gagasannya. Kalau perlu, dengan tulisan dia bisa mengekspresikan dirinya. Namun, untuk melengkapi itu semua harus didukung dengan minat baca. Membaca harus menjadi tekad untuk mengubah paradigma yang selama ini melekat di kalangan anak bangsa ini, yaitu minat baca yang rendah.

 

Asah Kepekaan

/a/

Orang banyak baca pasti banyak tahu. Orang banyak tahu pasti memunculkan pengetahuan. Karena punya pengetahuan, orang minimal punya kepekaan. Kalau sudah punya kepekaan, mau dikemanakan? Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat melukis. Jadilah, sebuah lukisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada orang yang menyalurkan kepekaannya lewat menyanyi. Jadilah, sebuah lagu dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Ada juga orang yang menyalurkan lewat menulis. Jadilah, berbagai macam bentuk tulisan dari hasil mengekspresikan kepekaannya. Tulisan yang dihasilkannya bisa berupa karya fiksi, bisa juga nonfiksi. Dia bisa mewujudkan ekspresi kepekaannya lewat puisi-puisi. WS Rendra (almarhum), misalnya, mencoba mengekspresikan kepekaaannya lewat kumpulan puisi yang terkenal Potret Pembangunan dalam Puisi (PPdP). Di dalam kumpulan puisi tersebut banyak berisikan protes terhadap kebijakan pembangunan di waktu itu (masa orde baru). WS Renda sang penyair ketika mengekspresikan kepekaannya tidak berangkat dari nol. Dari hasil banyak baca buku (tentu saja ditambah dengan  input yang diperoleh dari hasil mengikuti berbagai kajian) sehingga tanpa disadari membentuk satu sikap, yaitu munculnya kepekaan terhadap masalah-masalah ketimpangan sosial. Selanjutnya diekspresikan yang dirasakannya lewat menulis kumpulan puisi. Jadilah, sebuah kumpulan puisi yang sarat kritik sosial terhadap rezim orde baru: PPdP.  

 

Bagaimana dengan tulisan-tulisan nonfiksi? Sama saja. Setiap membaca sebuah tulisan secara tanpa disadari pembaca sebenarnya menangkap adanya ide seorang penulis mengekspresikan sesuatu yang dirasakannya. Jika ada tulisan tentang tingkat kriminalitas di setiap kota besar di Indonesia sudah memprihatinkan, berarti si penulis telah banyak memperoleh masukan lewat bacaan atau paling tidak lewat tayangan-tayangan televisi atau dari hasil mendengar berbagai berita yang memuat berbagai berita kriminalitas. Ada orang yang sekedar tahu. Tapi, ada orang yang ingin lebih jauh menelusuri sehingga memunculkan pertanyaan: mengapa di negeri ini terjadi tingkat kriminalitas yang semakin memprihatinkan? Orang tersebut bisa lebih jauh lagi bertanya dan berupaya memberikan solusi dengan mengajukan pertanyaan: bagaimana cara menurunkan tingkat kriminalitas di negeri ini?  Kalau seorang sosiolog, dia akan menelusuri faktor penyebab dari tinjauan sosiologi. Kalau seorang psikolog, dia akan menelusurinya dari sisi kejiwaan. Begitulah seterusnya setiap orang berupaya mencari faktor penyebab dan solusinya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kompetensinya. Bagi seorang penulis, orang yang peka semacam ini yang layak ditiru. Bukan orang yang berderet gelar kesarjanaannya sampai mengalahkan namanya tapi `cuek bebek` terhadap kondisi sekitarnya. Dia cuma pintar untuk diri sendiri. Gelar kesarjanaan yang berderet cuma jadi sarana untuk mengais fulus (uang).

/b/

 

Kepekaan tidak muncul begitu saja. Kepekaan tidak bisa diperoleh dengan gratis. Kepekaan tidak bisa dipaksakan pada setiap orang. Kepekaan harus dimulai dengan pembelajaran. Pembelajaran yang mengajar orang untuk peka butuh waktu. Orang tidak bisa langsung peka lewat pendidikan dan pelatihan (diklat) kepekaan walaupun dilakukan sebulan penuh. Buktinya, penataran P4 yang pernah secara masif dilakukan di masa orde baru dengan berbagai pola yang menunjukkan waktu penataran di setiap instansi pemerintah dan pendidikan tinggi tidak menghasilkan manusia Indonesia yang bersih dari praktek-praktek KKN. Bahkan, Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang merupakan salah satu mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah dan diteruskan di perguruan-perguruan tinggi ternyata `g ngepek`, `g ngaruh`, atau tidak berpengaruh terhadap anak didik atau mahasiswa. Buktinya, mereka tetap saja punya banyak perilaku buruk, seperti kebiasaan `nyontek` atau `tawuran` atau berkembangnya budaya `copas` di kalangan mahasiswa dan dosen. Jadi, tidak ada jaminan diklat atau pendidikan yang menahun memberikan kepekaan.

 

Penanaman rasa peka yang paling efektif dari keluarga. Setiap orang tua harus bisa memberikan contoh pada anak-anaknya kalau mereka punya kepekaan. Praktek-praktek kepekaan melalui contoh-contoh kongkret dari orang tua jelas lebih mudah ditiru oleh anak-anak ketimbang anak diceramahi sampai si orang tua berbusa-busa mulutnya atau anak-anak hanya disuruh tapi orang tua tidak memberikan contoh yang kongkret. Kalau di rumah saja orang tua tidak pernah berusaha menunjukkan kepekaannya, jangan berharap anak-anak punya kepekaan. Selain itu, masyarakat di lingkungan tempat tinggal atau sekolah atau tempat kerja juga turut berpengaruh. Boleh-boleh saja di rumah (kalau bisa jangan sampai terjadi) orang tua tidak punya kepekaan, tetapi di sekolah guru-guru memberikan contoh kongkret tentang kepekaan. Dengan sendirinya anak-anak didik (karena selama ini guru merupakan panutan buat mereka) akhirnya tanpa disadari memiliki kepekaan yang sama dengan guru-gurunya. Justru, yang paling repot sudah di rumah orang tua tidak pernah memberikan contoh kepekaan, di sekolah guru-guru bersikap sama. Akhirnya, muncullah generasi penerus yang tidak punya kepekaan sekaligus kepedulian. Sebut saja generasi `cuek bebek`.

/c/

Di dunia ini begitu banyak objek yang bisa ditulis. Untuk bisa menulisnya dibutuhkan kepekaan. Untuk memperoleh kepekaan tidak bisa orang hanya semata-mata mengandalkan wangsit atau ilham agar bisa menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Untuk memiliki kepekaan selain melihat contoh kongkret di rumah, di sekolah, atau di masyarakat lingkungan, bisa juga melalui pembelajaran lewat membaca. Jadi, kata kuncinya terletak pada membaca, Tentu saja bacaan yang banyak menggugah hati seseorang bukan bacaan yang `murahan` atau `picisan` atau kitsch yang berselera rendah. Orang yang sering membaca bacaan yang serius akan menghasilkan penulis yang serius. Untuk masalah membaca tidak dibutuhkan orang yang harus berpendidikan tinggi atau orang akademis. Membaca itu aktivitas yang gratis kok. Yang harus keluar uang `kan beli bukunya atau beli sarana lain di luar buku. Masih banyak orang/lembaga yang berbaik hati untuk meminjamkan buku. Untuk mengakses internet banyak tempat gratis yang menyediakan hotspot dan sejenisnya. Yang jadi masalah `kan bagi seseorang karena tidak punya sarana untuk bisa mengakses hotspot atau wifi gratis. Syukur-syukur kalau masih ada lembaga yang menyediakan PC gratis plus tersedia sarana untuk berselancar di dunia maya. Jangan jadi orang yang sebenarnya sudah banyak diberikan kemudahan tapi tetap saja malas untuk membaca. Akhirnya, orang seperti ini hanya cenderung mengandalkan telinga atau mata untuk mendengar atau melihat sesuatu yang bernilai itu tadi: `murahan` atau `picisan` atau kitcsh yang berselera rendah.

Memang benar latar belakang pendidikan seseorang berpengaruh untuk bisa mencerna sebuah tulisan. Bisa mencerna tapi tidak mau atau tidak bisa menuangkan ke dalam tulisan, akhirnya tulisan yang dia baca hanya ada di benaknya. Hanya jadi referensi di otaknya. Dia terpendam seperti air yang tidak disalurkan. Selanjutnya, air itu keruh, bau, dan jadi sumber penyakit. Daripada sudah sekian banyak referensi yang dibaca yang nantinya jadi sumber penyakit, coba disalurkan bahan-bahan yang seharusnya sudah bisa membantu itu ke dalam sebuah gagasan. Apa salahnya kalau memulainya dengan menggoreskan pena atau menekan tuts-tuts PC atau laptop atau notebook sehingga menghasilkan kata-kata yang kemudian diteruskan dengan kalimat-kalimat dan seterusnya sehingga menjadi sebuah tulisan utuh? Orang yang peka manakala telah menuntaskan gagasannya ke dalam sebuah tulisan seperti orang yang selesai melaksanakan sebuah kewajiban. Ada perasaan lega yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tentang hasilnya tidak perlu dibahas dulu. Seiring perjalanan waktu ketika suatu saat orang itu membaca kembali tulisan-tulisannya yang terdahulu, sudah pasti orang tersebut akan `nyengir-nyengir` sendiri (walaupun tidak gila) karena menganggap tulisan-tulisannya yang dulu dinilai berbobot ternyata untuk saat ini sudah lawas gagasannya. Meskipun demikian, orang semacam ini lebih beruntung daripada seorang akademis yang berderet gelar kesarjanaannya, yang sampai-sampai gelar sarjana itu jika ditulis lengkap akan menutupi nama aslinya, seumur-umur hanya menulis serius dalam bentuk skripsi, tesis, atau disertasi (itupun terkadang hasil `copas`) tetapi berhasil mendapat gelar akademis tertinggi: profesor!  Masih beruntung orang semacam ini bergelar profesor permanen alias seumur hidup, bagaimana kalau gelar profesor itu hanya diberikan setahun sekali berdasarkan hasil evaluasi dari tulisan-tulisannya atau penelitian-penelitiannya? Begitu sang profesor yang bangga dengan gelar akademis tertingginya ternyata dari hasil evaluasinya minim tulisannya atau hasil-hasil penelitiannya boleh dikatakan nihil sehingga gelar profesor itu dicopot (berikut tunjangannya). Sang profesor akan senewen dan siap-siap jadi penghuni rumah sakit jiwa atau minimal hipertensinya naik, gula darahnya naik, sakit jantungnya kumat, dan …siap-siap saja berhadapan dengan Sang Khalik. Untuk itu, setiap orang harus belajar mengasah kepekaan karena hanya yang peka yang bisa menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Kapan lagi?

Mulailah dari Masalah

/a/

 

Batang singkong jika ditancapkan di tanah seperti zat hidup. Dia akan berusaha mengeluarkan akar-akarnya yang diteruskan dengan keluarnya tunas-tunas muda. Begitupun orang yang sudah punya bahan manakala sudah cukup penuh memorinya dengan bahan hasil bacaannya, dia akan menyalurkannya lewat tulisan. Cuma timbul pertanyaan dari mana dia akan memulainya?  Selama ini orang akan selalu digiring menulis dimulai dari judul. Cara ini tidak selalu benar. Kalau ada orang yang beranggapan toh judul yang dibuat hanya bersifat sementara, anggapan itu bisa dibenarkan karena memang judul baru bisa dicantumkan ketika tulisan telah selesai.

 /b/

 

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru-guru (yang tentu saja diperkuat dengan buku pegangan atau buku paket) selalu mengajarkan pada siswa-siswanya ketika ingin menulis paragraf (terutama untuk tulisan nonfiksi) dimulai dengan menentukan tema atau topik. Sering juga mereka menyebutnya sebagai pikiran utama (lagi-lagi konsep ini pun  dari buku) yang kemudian dijabarkan ke dalam pikiran-pikiran penjelas. Pikiran utama itu sendiri bisa diletakkan di awal atau di akhir paragraf atau bisa juga diletakkan di awal dan akhir paragraf. Guru-guru bahasa Indonesia pada akhirnya disibukkan dengan mencari pikiran utama atau paling banter siswa-siswa diminta meneruskan kalimat utama yang terletak di awal paragraf sehingga menjadi paragraf yang utuh dengan tidak lupa menjelaskan ada kata-kata kunci atau kata-kata pengikat satu kalimat dengan kalimat yang lain. Apa hasilnya? Siswa-siswa itu tetap saja tidak bisa menulis dengan baik.

  

Pembelajaran penulisan dengan gaya seperti itu yang cenderung normatif tidak akan menjadikan anak bisa menulis karena sudah digiring untuk mengikuti aturan-aturan baku kebahasaan. Kalau ada anak-anak didik yang kelak mereka menjadi penulis, hal itu sangat jarang. Boleh jadi mereka menjadi penulis lebih banyak belajar di luar sekolah (bisa saja melalui pembelajaran di rumah atau ikut kursus penulisan yang saat ini cukup banyak di setiap kota di Indonesia). Kalau dikaitkan dengan talenta, apakah kemampuan menulis  memang ada faktor keturunan dari orang tuanya? Jawabannya bisa ya, bisa tidak karena sering dijumpai penulis-penulis besar keturunannya belum tentu akan melahirkan penulis besar. Namun, yang pasti untuk menjadi penulis perlu pembelajaran. Perlu proses yang berkesinambungan. Aktivitas yang harus tetap dilakoni dengan konsisten dan penuh kesabaran.

 /c/

 

Kembali pada uraian di atas, untuk menulis dengan baik orang tidak bisa diminta mengikuti norma-norma baku yang terdapat dalam pelajaran bahasa Indonesia. Terlalu sulit bagi anak didik untuk menentukan temanya dulu. Setelah tema ditentukan, jabarkan tema (pikiran utama) tersebut ke dalam pikiran-pikiran penjelas yang kemudian dituangkan ke dalam kalimat-kalimat penjelas. Pola seperti ini jelas `ribet`, bertele-tele (tidak praktis).  Sering anak didik itu `g mudeng` alias `g nyambung` sehingga timbul persepsi yang berbeda-beda di antara mereka. Mengapa tidak dimulai dari masalah saja? Caranya?  Pancinglah mereka dengan menunjukkan sebuah gambar yang memuat sebuah masalah yang tersirat (karena di balik gambar itu ada masalah). Dari gambar itu suruh mereka bercerita tentang kisah di balik gambar itu ke dalam tulisan. Biarkan mereka menulis yang ada di benak mereka. Setelah jadi tulisan utuh (gaya anak-anak) baru diperbaiki. Gambar berikut ini bisa dijadikan  stimulus agar mereka bercerita tentang isi gambar itu.



Untuk anak didik cukuplah mereka menceritakan isi gambar dengan berpatokan pada 4 W, yaitu What (apa yang terjadi?), When (kapan kejadiannya?), Where (di mana kejadiannya?), dan Who (siapa pelakunya/siapa saja yang terlibat dalam peristiwa itu?).  Seiring dengan perkembangan usia dan pendidikan, pada saatnya boleh juga diajukan pertanyaan Why (mengapa hal itu bisa terjadi) dan How  (bagaimana mengatasi masalah itu?).  Pertanyaan tambahan Why lebih menggiring orang untuk mencari faktor-faktor penyebab. Sedangkan How sudah mengarah pada mengajukan solusi terhadap masalah tersebut. Jelas, untuk menjawab kedua pertanyaan terakhir itu dibutuhkan kerutan dahi.

 /d/


Cara lain bisa juga dilakukan dengan mengajukan pertanyaan masalah apa yang sedang dihadapi? Jawaban yang dikehendaki cukup dengan satu kata atau satu frase. Jawaban itu bisa diangkat menjadi masalah. Di tahap awal silakan saja orang membuat deskripsi tentang sesuatu yang dia lihat atau diperoleh dari hasil bacaan. Mereka bisa membuatnya dalam satu paragraf atau satu wacana yang panjangnya tidak lebih dari lima paragraf. Untuk yang baru belajar menulis bisa melihat contoh yang sudah ada yang dalam hal ini tulisan yang berisikan berita (bahasa jadulnya pandangan mata) yang berintikan pada 4 W (What, When, Where, Who).  Berikut ini bisa dilihat contoh sederhana.

Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi. Kali ini tabrakan KA dengan truk tanki BBM Pertamina, senin, 9 Desember 2013 . Peristiwanya di tempat yang sama, Bintaro, tempat yang 26 tahun lalu pernah terjadi tabrakan KA. Kali ini yang jadi korban bukan saja supir dan crew truk tanki BBM Pertamina tapi juga masinis, crew-nya, dan banyak penumpang yang sebagian besar wanita. Terhitung ada tujuh penumpang yang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Umumnya, mereka baik yang meninggal dunia maupun luka-luka adalah penumpang di gerbong pertama yang memang dikhususkan buat wanita sehingga sebagian besar penumpang yang menjadi korban adalah kaum wanita.


Tulisan di atas tidak diungkapkan faktor penyebab dan solusinya atau opini dari penulis. Jadi, cenderung hanya sampai sebatas menceritakan yang terjadi. Kalau sudah sampai mencari jawaban pertanyaan Why dan How dibutuhkan daya analisis yang tajam. Di sini dituntut penulis sudah memiliki konsep yang diperoleh dari hasil banyak membaca atau belajar atau melalui pengalaman hidup (?). Singkatnya, penulis kalau sudah berhasil mengorek faktor penyebab (apalagi kalau sudah sampai mengaitkannya dengan hal-hal yang bersifat akademis) dan memberikan solusi/pendapat dibutuhkan kompetensi intelektual. Intelektual ini agar memiliki kompetensi harus diasah melalui banyak baca, belajar, brainstorming, dan secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan keilmuan.

 

Tulisan-tulisan yang bersifat fiksi, seperti novel atau cerpen juga sama bisa diajukan sebuah stimulus dalam bentuk tayangan-tayangan film atau gambar karikatur seperti yang terdapat di atas. Bedanya, dalam karya fiksi penulis dituntut untuk berimajinasi dan berkontemplasi. Dia bukan hanya sebatas memberikan deskripsi atas sebuah kejadian, tetapi juga harus memasukkan tokoh-tokoh yang diperlukan dalam sebuah novel atau cerpen yang kemudian terjadi dialog, mungkin juga terjadi keributan antartokoh, terjadi klimaks, dan terjadi pula antiklimaks yang semuanya bisa diketahui oleh alur cerita dan dialog di antara tokoh-tokoh ceritanya. Akhir cerita dengan kekuatan daya khayal penulis bisa happy ending, bisa juga sebaliknya berakhir dengan sesuatu yang tidak mengenakkan atau boleh juga penulis yang dengan sengaja membuat PR pembaca untuk menyimpulkannya sendiri. Dengan demikian, untuk menulis fiksi juga dibutuhkan kemampuan intelektual karena penulis apabila melihat suatu kejadian baik untuk mencari faktor penyebab maupun solusi berupaya menyampaikannya. Hanya saja untuk karya-karya fiksi semua itu dibungkus dengan imajinasi dan kontemplasi.

 /e/

 

Sebagai penutup dari tulisan ini, sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa menulis harus dimulai dari mencari masalah. Setelah masalahnya ditemukan, buat deskripsi timbulnya masalah tersebut dengan berpatokan pada 4 W. Kemudian, seandainya mau diteruskan agar terpenuhi 5 W + 1 H, siapkan bahan (referensi) dari mana saja baik dari media cetak maupun elektronik atau hasil sharing dengan beberapa orang.  Kalau tulisan tersebut disiapkan untuk kebutuhan akademis (laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, atau makalah/kertas kerja) cantumkan daftar pustaka. Jadi, mulailah menulis dengan masalah bukan judul atau menentukan tema.

 

 

 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...