TOKOH KITA (19)
Subagio S.Waluyo
Salah satu ciri tulisan TOKOH KITA
kalau diamati ada sesuatu yang menarik. Apakah itu? TOKOH KITA sebelum menulis
selalu menampilkan gambar-gambar entah itu gambar ilustrasi, karikatur, atau
foto. Di luar karikatur dan foto, gambar-gambar ilustrasi ada yang diambil dari
google, ada juga memang sengaja digambar oleh anak-anak TOKOH KITA. Yang
menjadi pertanyaan, apakah tanpa gambar ilustrasi, karikatur, atau foto TOKOH
KITA tidak bisa menyampaikan gagasannya? Apakah gambar ilustrasi, karikatur,
atau foto ada kaitannya dengan gagasan yang disampaikan oleh TOKOH KITA.
Mengapa TOKOH KITA harus mendahuluinya dengan gambar ilustrasi, karikatur, atau
foto ketika menyampaikan gagasannya? Sangat mungkin akan banyak pertanyaan yang
diajukan pembacanya ketika melihat tulisan TOKOH KITA. Meskipun demikian, semua
pertanyaan yang berkenaan dengan penggunaan gambar ilustrasi, karikatur, dan
foto akan dijawab oleh TOKOH KITA.
***
Kebiasaan
menampilkan gambar ilustrasi, karikatur, atau foto pada saat memulai
menyampaikan gagasannya lewat tulisan baru dimulai setelah TOKOH KITA memiliki blogspot
dan website. Sebelumnya, TOKOH KITA tidak pernah melakukan hal seperti
itu. Seringkali, baik gambar ilustrasi, karikatur, maupun foto yang ditampilkan
di awal tulisannya belum tentu gagasan yang mau disampaikan berkaitan dengan
gambar ilustrasi, karikatur, atau foto. Gambar ilustrasi Kapal Titanic
yang tenggelam pelan-pelan seperti gambar ilustrasi di atas justru tulisannya
terdapat di bagian paragraf terakhir di tulisan dengan judul “Negeri Kolam
Susu”. Yang jadi pertanyaan kenapa bukan gambar grup band Koes Ploes yang
memang mendendangkan lagu “Kolam Susu”? malah justru gambar Kapal Titanic
yang terbelah dan akhirnya perlahan-lahan tidak tampak di permukaan laut
(tenggelam). Tentang tidak ditampilkannya foto grup band Koes Ploes itu menjadi
rahasia TOKOH KITA. Sedangkan gambar ilustrasi Kapal Titanic yang lama
kelamaan tenggelam bisa dilihat uraiannya di bawah ini.
|
Indonesiaku
“negeri kolam susu” yang membuat rakyatnya selayaknya hidup seperti di surga
karena “tiada badai tiada topan kau temui” sehingga nelayan bisa mengail ikan
dengan nyaman dan aman. Indonesiaku “negeri kolam susu” yang rakyatnya
seharusnya hidup berkecukupan karena “kail dan jala cukup menghidupimu”
sehingga lautan yang membentang luas itu siap memenuhi kebutuhan para
nelayan. Indonesiaku “negeri kolam susu” yang “orang bilang tanah kita tanah
surga” karena “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Dari “tongkat kayu” yang
ditancapkan itu akan tumbuh tunas-tunas pohon yang kelak bisa dinikmati oleh
para penanamnya. Indonesiaku “negeri kolam susu” ternyata jauh panggang dari
api. Pengelola “negeri kolam susu” ini karena keserakahannya,
kebodohannya, kehausan kekuasaannya, dan tentu saja kealpaannya sampai-sampai
tidak ingat pada rakyat kecil yang mereka selayaknya juga mendapat bagian
dari kekayaan negeri ini. Indonesiaku “negeri kolam susu” berubah jadi
“negeri kolam air mata” karena banyak rakyat negeri ini yang setiap hari
menangisi kemiskinannya. Ah, “negeri kolam susu” yang telah berganti jadi
“negeri kolam air mata” sudah seperti nasibnya Kapal Titanic.
(Dikutip
dari “Negeri Kolam Susu” oleh Subagio S.Waluyo)
|
Ketika berbicara tentang pelayanan
publik yang acakadul di negara ini TOKOH KITA juga menampilkan gambar
ilustrasi seorang laki-laki berkopiah yang dari tampilannya jelas dari kalangan
orang-orang desa. Orang tersebut datang ke kantor pemerintahan entah kantor
desa/kelurahan atau kantor kecamatan. Orang tersebut karena dari tampilannya
memang orang desa oleh pejabat publik (pegawai ASN) yang ada di kantor tersebut
cenderung bersikap `cuek-bebek`, tidak dianggap kehadirannya. Gambar ilustrasi
ini jelas bukan mengada-ada atau imajiner, tapi memang dalam kenyataannya
seperti itu. Pejabat publik yang seharusnya melayani siapapun orang yang datang
lebih melihat siapa orang yang akan dilayaninya. Kalau terlihat `perlente`
seperti cukong yang sudah pasti banyak uang, orang itu akan dilayani seperti
raja. Tapi, kalau yang datang orang desa seperti gambar di bawah ini, sampai
kapanpun orang itu tidak dipedulikan (kasihan memang nasib orang kecil di
negara ini). Silakan diperhatikan gambar berikut ini berikut uraian di
bawahnya!
.jpg)
|
Sebagai
warga negara, kita berhak mendapatkan pelayanan ublic dari pelayan publik.
Kita tidak ingin menjadi anggota masyarakat seperti terlihat di gambar di
atas yang sama sekali tidak dipedulikan kehadirannya oleh para pejabat publik.
Mereka (para pejabat publik) asyik dengan kesibukannya sendiri. Orang yang
seharusnya mendapat pelayanan (mungkin karena orang tersebut rakyat biasa
yang miskin) sama sekali tidak dilayani. Perilaku seperti ini jelas telah
melanggar, baik yang terdapat dalam UU Pelayanan Publik maupun UU Pemerintah
Daerah. Kalau masih ada perilaku seperti ini, pihak-pihak yang terkait dengan
ASN layak melakukan tindakan tegas.
Perilaku seperti gambar di atas tidak bisa dibiarkan. Mereka harus diubah, baik
mindset maupun kinerjanya.
(Dikutip
dari “Pelayanan…Pelayanan…Pelayanan Publik” oleh Subagio S. Waluyo)
|

Meskipun semua tulisan TOKOH KITA yang
diunggah, baik ke website maupun blogspot-nya bisa dihitung
dengan jari kalau tulisannya itu diawali dengan menjelaskan atau menguraikan gambar
ilustrasi yang ditampilkan. Dari sekian banyak yang bisa dihitung dengan jari
ada tulisan dengan judul “7. Sekedar Pembekalan (3)” yang memang
mendeskripsikan isi gambar yang ditampilkan di awal tulisannya. Meskipun
demikian, jika dibaca secara teliti, tulisan tersebut tidak melulu bicara
tentang seorang pemuda brewok yang terkurung di dalam ruang berkaca seperti
akurium. Justru tulisan tersebut lebih banyak membahas tentang persiapan yang
harus dimiliki oleh para pemuda (mahasiswa) dalam mengantisipasi tindak pidana
korupsi. Panjang tulisan yang membahas sang pemuda brewok itu hanya dua
paragraf. Uraian berikut ini bisa dijadikan bukti bahwa TOKOH KITA pernah dalam
tulisannya mendeskripsikan gambar ilustrasi yang ditampilkan.
|
Seorang
pemuda duduk dalam ruang kaca tertutup sambil merapatkan kedua kakinya dengan
kedua lengannya. Boleh jadi pandangannya kosong ke depan entah apa yang
dilihatnya. Pemuda `brewok` dalam ruang kaca tertutup dengan pandangan kosong
seperti orang frustrasi. Dia gambaran orang yang tidak berdaya. Gambaran
orang yang (mungkin) menyesalkan karena merasa beban hidupnya demikian berat?
Kalau ruang kaca itu menyimbolkan ruang yang terkungkung, berarti dia hidup
dalam keterkungkungan yang sulit untuk melepaskan diri dari kungkungannya.
Dia terpenjara oleh namanya kehidupan yang demikian sulit. Kesulitan hidup
itu boleh jadi disebabkan oleh entah gaya hidupnya yang cenderung konsumtif,
hedonis, dan serba instan sehingga pada suatu saat ketika keinginannya tidak
terpenuhi, dia hanya bisa duduk dengan merapatkan kedua kakinya dengan kedua
lengannya disertai dengan pandangannya yang kosong.
Tipe
pemuda `brewok` di atas adalah tipe pemuda `masa depan suram` (madesu).
Sah-sah saja kalau juga disebut tipe pemuda `makan enak ogah kerja` alias
`meok`. Kalau dulu pernah belajar, baik di sekolah maupun di perguruan
tinggi, dia cenderung melakukan kebiasaan `copy paste` atau `copas` (bisa
saja disebut `mencotek, `menjiplak`). Kebiasaan-kebiasaan buruk itu
berakibat pada keterkungkungan dia di sebuah tempat yang membuat dia
teralienasi. Jelas, itu merupakan gambaran yang buruk. Gambaran yang tidak
layak dijadikan contoh buat kita. Agar terhindar dari perilaku seperti itu,
kita harus melawan gaya hidup konsumtif. Termasuk ke dalamnya kita
juga harus menyingkirkan gaya hidup hedonis. Kalau perlu, kita juga
menyingkirkan kebiasan `copas`. Kita harus menjadi orang yang siap bekerja
keras dan memiliki kemandirian. Dua hal itu, kerja keras dan kemandirian,
harus kita camkan dan terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Diharapkan
dengan kerja keras dan kemandirian kita terhindar dari tipikor yang bisa
merugikan bukan saja negara, tapi juga bangsa ini.
(Dikutip
dari “7. Sekedar Pembekalan (3)” oleh Subagio S.Waluyo)
|
***
Kalau uraian di atas mengambil dari
gambar-gambar ilustrasi, pada uraian berikut ini TOKOH KITA sengaja mengambil
gambar-gambar karikatur. Sama halnya ketika mengambil gambar-gambar ilustrasi,
walaupun banyak mengambil gambar ilustrasi TOKOH KITA tetap saja ketika
mendeskripsikan isi gambar cukup singkat saja. Uraian berikutnya justru tidak
ada kaitannya dengan gambar karikatur yang ditampilkan. Kalau bisa dikatakan,
dari gambar karikatur tersebut TOKOH KITA sekedar membuat pancingan untuk
mengembangkan uraiannya. Dari gambar karikatur di atas, misalnya, TOKOH KITA
sekedar ingin menunjukkan bahwa dalam hal membicarakan pelayanan publik masih
ada perilaku yang mengarah pada nepotisme. Nah, gambar karikatur di atas itu
merupakan contoh perilaku nepotisme yang dianggap oleh TOKOH KITA perlu
ditampilkan dalam tulisannya berjudul “5. Pengaruh Politik dan Nepotisme”.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada petikan tulisan berikut ini.
|
Di
pojok kanan bawah pada gambar karikatur di atas ada pertanyaan sang anak yang
`nyelekit`: “…Bapak nanti jadi abdi rakyat, abdi kekuasaan, atau ….petugas
partai?” Sang bapak yang sambil bawa map bertuliskan Pilkada sambil melirik
ke anaknya boleh jadi terpukul dengan pertanyaan anaknya itu. Kalau sang
bapak seorang pejabat ublic yang tentu saja tugas utamanya melayani publik,
hanya ada dua jawaban, pertama dia akan renungkan pertanyaan sang anak
walaupun terasa menusuk hatinya. Bisa juga bersikap `cuek bebek`, `masa bodo
amat`, `emang gue pikirin`. Sikap kedua tampaknya lebih mendominasi daripada
dia harus merenung seraya mengakui betapa ada benarnya pertanyaan sang
anak. Sikap `cuek bebek, `masa bodo amat`, `emang gue pikiran` boleh jadi
juga ada pada para birokrat yang menurut hasil survei menunjukkan bahwa
netralitas ASN menjadi masalah serius dalam pilkada 2020, utamanya menyangkut
politisasi birokrasi dan banyaknya ASN yang melakukan politik praktis.
(Dikutip
dari “5. Pengaruh Politik dan Nepotisme” oleh Subagio S.Waluyo)
|
|
`Say
no to korupsi!` (katakan tidak untuk korupsi!). Tapi, menghadapi
korupsi tidak cukup mengatakan `tidak`. Menghadapi korupsi kita harus siap
mengatakan `berantas korupsi`, `perangi korupsi`, `basmi korupsi dari negeri
ini sampai ke akar-akarnya`, atau `koruptor harus dihukum mati` (kalau memang
kita mau tegas memberantas korupsi dari negeri ini). Atau, minimal, kita
berani mengatakan `harus ada pemiskinan buat koruptor`. Dengan cara
menyampaikan itu semua, kita berharap ada perbaikan di negeri ini dalam
menghadapi penyakit sosial yang sudah menggurita. Kira-kira ada keseriusan
tidak, baik rakyat maupun penyelenggara negara ini untuk mengentaskan
penyakit sosial yang satu ini? Kalau tidak ada keseriusan, cukup sampai di
sini saja usaha kita menghadapi bahaya penyakit sosial ini.
Berkaitan
dengan penyakit sosial bernama korupsi, kalau kita amati gambar karikatur di
atas, ada hal yang menarik tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK) negeri
tercinta ini: Republik Indonesia. Kalau kita perhatikan, IPK negeri ini bukan
menaik nilainya malah menurun dari nilai 38 (2021) turun ke nilai 34 (2022).
Dengan angka tersebut, IPK negeri ini menempati peringkat ke-110 (sebelumnya
peringkat ke-96). Kesimpulannya, negeri ini dalam menangani korupsi memburuk
sepanjang tahun 2022. Wajar saja negeri ini menempati peringkat ke-110
mengingat sepanjang tahun 2022 ada 579 kasus korupsi dengan kerugian negara
ditaksir mencapai Rp17,8 triliun ((https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/03/16/penyalahgunaan-anggaran-jadi-modus-korupsi-paling-jamak-sepanjang-2022).Selain itu semua, negeri
ini juga masih punya PR besar terkait buronan koruptor yang sampai saat ini
belum juga bisa diringkus. Ada empat koruptor yang sampai saat ini belum
diketahui rimbanya. Keempat buronan koruptor itu adalah Harun Masiku, Ricky
Ham Pagawak, Paulus Tannos, dan Kirana Kotama (https://www.kompas.com/tren/read/
2023/02/08/ 203000
965/4-buronan-korupsi-yang-belum-tertangkap-siapa-saja-?page=all.) Sampai kapankah mereka
bisa berkeliaran di negara antah berantah? Kita hanya bisa menjawab: wallahu
a`lam bissawab. Jawaban itu lebih bijak daripada kita menyampaikan `emang
gue pikirin (EGP)`.
(Dikutip
dari “ 9. `Say No To Korupsi!` ” oleh Subagio S. Waluyo)
|
Pada kutipan teks di atas, pembaca
diminta mengamati gambar yang ditampilkan. Baru setelah itu terdapat uraiannya di paragraf kedua bukan pada paragraf pertama. Meskipun demikian, justru dari
hasil pengamatan yang terdapat di paragraf kedua TOKOH KITA terpancing menulis
tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di negara ini. Dari IPK itu TOKOH KITA
berupaya mengembangkan gagasannya lewat tulisan itu agar bangsa ini tidak
menjadi bangsa yang cenderung bersikap masa bodoh yang dibahasakan oleh TOKOH
KITA dengan bangsa yang berprinsip pada `Emangnya Gue Pikirin` (EGP). Sikap EGP
ini jelas menurut TOKOH KITA akan menjadikan penyakit sosial bernama korupsi
akan semakin merambah. Dengan demikian, bisa dipastikan ada relasi yang erat
antara sikap EGP dengan semakin merambahnya korupsi.
***
Bagaimana dengan foto-foto yang juga
ditampilkan di beberapa tulisan TOKOH KITA? Foto-foto yang ditampilkan tidak
dideskripsikan. Seperti pada tulisannya yang berjudul “Berkisah tentang
Environmentalisme”, di tulisan tersebut TOKOH KITA justru menempatkan uraiannya
hampir di tengah-tengah tulisan setelah diuraikan terlebih dahulu tentang
perilaku masyarakat di sepanjang Kali Malang ketika di saat Covid-19 melanda
negeri ini mereka memiliki kebiasaan baru, yaitu bercocok tanam. Terus
dilanjutkan tulisannya tentang masyarakat di sepanjang Kali Code yang mereka
bisa menata tempat tinggalnya sehingga tidak merusak keberadaan Kali Code.
Bahkan, mereka yang tinggal di sepanjang Kali Code bisa melakukan restorasi
sungai sehingga bisa dimanfaatkan sebagai salah satu destinasi pariwisata di
Kota Yogyakarta. Baru setelah itu dibahas tentang Sungai Citarum yang
keberadaannya kini menyedihkan karena telah dirusak oleh perilaku manusianya.
Dari situ tulisan berkembang ke program-program restorasi sungai yang
dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjan Umum dan Perumahan Rakyat. Agar program
restorasi berjalan mulus dipandang perlu adanya kolaborasi Kementerian PUPR
dengan masyarakat setempat. Agar pembacanya memperoleh informasi lebih jelas
lagi, silakan saja melihat uraian tulisan di bawah ini.
|
Salah
satu cara yang juga perlu dilakukan masyarakat Indonesia agar memiliki
kesadaran akan pentingnya lingkungan sebagaimana terlihat pada aktivitas
masyarakat pinggir Kali Code adalah melakuan kunjungan wisata ke beberapa
negara yang berhasil melakukan restorasi sungai. Salah satu sungai di Eropa
yang sampai saat ini menjadi ikon dan sekaligus objek wisata adalah Sungai
Seine, Paris, Perancis. Dalam cerpen “Di Seine Meratapi Citarum” oleh Usep
Romli H.M. serombongan wisata dari Kota Bandung dibikin terkagum-kagum oleh
kebersihan dan kebeningan air Sungai Seine. Mereka teringat dengan sungai di
kotanya yang kotor, bau bangkai, dan warnanya sudah hitam legam. Mereka
membayangkan kalau saja Sungai Citarum dan Cikapundung bisa direstorasi
seperti Sungai Seine gelar Kota Bandung sebagai `Parisj van Java` akan diraih
kembali. Itu hanya bayangan karena faktanya menunjukkan kedua sungai di
kotanya telah menjadi tempat pembuangan kotoran manusia dan pabrik. Sungai
Citarum saat ini telah dirusak perilaku manusia karena memang tidak ada hukum
yang melindunginya sehingga orang hanya meratapi Sungai Citarum yang telah
membangkai.
……………………………………………………………………………………………………..
Nasib
yang sama juga dialami oleh sungai-sungai yang mengalir di banyak kota di
Indonesia. Sebut saja Sungai Ciliwung di Jakarta yang sampai saat ini masih
belum selesai direstorasi. Setiap tahun sungai tersebut menelan korban yang
tidak sedikit akibat banjir yang dimuntahkan. Bagaimana pula dengan Sungai
Bengawan Solo yang airnya mengalir ke beberapa kota baik di Jawa Tengah maupun
Jawa Timur? Sudah bisa dipastikan air Sungai Bengawan Solo juga telah
tercemar. Sungai Brantas yang membelah Kota Surabaya juga bagaimana
kondisinya saat ini? Apakah ada perubahan yang signifikan setelah dilakukan
restorasi? Kita tunggu saja hasil kerja keras pemerintah kota di kota-kota
besar di Indonesia yang berusaha merestorasi sungai-sungainya yang mengalir
di tengah-tengah kotanya.
***
Pekerjaan
merestorasi sungai bukan saja dilakukan oleh pemerintah kota,
pemerintah kabupaten bisa juga melakukan hal yang sama. Pengerjaan restorasi
agar terjadi sinergitas di antara pemerintah daerah sebaiknya dilakukan oleh
pemerintah pusat yang dalam hal ini di bawah komando Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Meskipun demikian, Kementerian PUPR juga
perlu melibatkan masyarakat baik LSM maupun akademis (`orang pintar` dari
perguruan tinggi). Lewat LSM dan `orang pintar` dari perguruan tinggi
diharapkan masyarakat lokal terutama yang tinggal di sepanjang pinggir kali
bisa digerakkan menjadi masyarakat yang sadar akan lingkungan sehingga mereka
juga mau terlibat dalam aktivitas restorasi sungai. Dengan melibatkan
masyarakat lokal yang tinggal di sepanjang sungai lambat-laun akan terbentuk
masyarakat yang environmentalis: masyarakat yang melawan pencemaran,
pengotoran, dan perusakan alam (sungai).
(Dikutip
dari “Berkisah tentang Environmentalisme” oleh Subagio S.Waluyo)
|
***
Dengan
melihat pada uraian di atas, semua pertanyaan sudah terjawab. Dalam hal ini
TOKOH KITA cukup menjawabnya melalui sedikit penjelasan dan beberapa petikan
dari teks-teks yang pernah ditulisnya. Jadi, pertanyaan seperti mengapa TOKOH
KITA harus mendahuluinya dengan gambar ilustrasi, karikatur, atau foto ketika
menyampaikan gagasannya? TOKOH KITA tidak menjawabnya dengan kalimat karena
bla…bla…bla. Tapi, TOKOH KITA cukup dengan mengambil sampel dari beberapa
tulisan yang di setiap awal tulisan ada gambar-gambar ilustrasi, karikatur, dan
foto dipandang sudah cukup untuk memberikan jawaban. Tentang pembacanya yang
mungkin saja belum bisa menangkap intisarinya, TOKOH KITA hanya menyarankan
agar pembaca tersebut melakukan pembacaan ulang secara kritis.
Sumber
Gambar:
1) (https://www.merdeka.com/jateng/peristiwa-15-april-tenggelamnya-kapal-titanic-ketahui-kronologinya-kln.html)
2)
(https://www.bimteknas.com/bimtek-pelayanan-publik/)
3) (https://nasional.kompas.com/read/2015/07/21/17055371/Politik.Dinasti.Sebab.atau.Akibat).
4) (https://investor.id/editorial/26045/peti-mati-untuk-koruptor)
5) (https://images.app.goo.gl/Lsj82ihBLGp8ALku5)