MENJAUH DARI HIPOKRIT
Subagio S. Waluyo
Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari
kefakiran, kekufuran,
kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan,
sum`ah dan riya`
BUNGLON
Melayang gagah, meluncur rampis,
menentang tenang, 'alam samadi,
Tiada sadar marabahaya:
Alam semesta memberi senjata.
Selayang terbang ke rumpun bambu,
Pindah meluncur ke padi masak,
Bermain mesra di balik dahan,
Tiada satu dapat mengganggu.
Akh, sungguh puas berwarna aneka,
Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.
O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.
(S.M. Ashar, Gema Tanah Air, 1951)
Melihat perilaku makhluk ciptaan Tuhan
bernama bunglon seolah-olah oleh sebagian masyarakat kita binatang jenis itu dijadikan sebagai tersangka.
Binatang yang bisa berubah-ubah warnanya itu kerap dijadikan analogi buat
perilaku manusia yang bermuka dua (standar ganda) yang menyebabkan bunglon jadi
tersangka. Padahal kita tahu Tuhan menciptakan seluruh alam semesta beserta
isinya tidak ada yang sia-sia. Tuhan ciptakan bunglon bukan bertujuan untuk
menipu manusia. Memang, banyak orang yang tertipu oleh bunglon tapi sang
bunglon tidak ada keinginan menipu kita. Perangkat yang Tuhan berikan yang
menjadikan bunglon bisa berubah-ubah warnanya. Bukankah kata S.M. Ashar penulis
puisi Bunglon di atas menyebutnya `Alam semesta memberi senjata’? Karena alam
semesta memberi senjata, wajar-wajar saja jika sang bunglon selalu
terselamatkan oleh alam semesta yang turut mengubah warna kulitnya ketika dia
hinggap di sembarang tempat.
Bunglon
yang demikian mudah mengubah warna kulitnya tidak ada tujuan menipu makhluk
sekitarnya. Semua itu lebih merupakan kehendak Tuhan yang menciptakan makhluk alit dan lemah seperti
bunglon supaya bisa menyelamatkan diri jika ada bahaya yang mengancam dirinya.
Kias yang ditujukan pada manusia yang berstandar ganda sehingga mudah melakukan
penyamaran yang disamakan dengan bunglon bukan berarti bunglon sebagai
tersangka, tapi hanya sebatas kias sama seperti permisalan orang yang berjalan
lambat dikiaskan seperti siput. Jadi, membuat permisalan tidak ada maksud
menjadikan makhluk Tuhan sebagai tersangka. Dengan adanya permisalan justeru
menyadarkan manusia agar tidak melakukan penyamaran agar niat buruknya tidak
diketahui orang lain. Untuk itu, S.M. Ashar berpesan pada orang lain (terutama
pembaca puisinya) agar tidak berperilaku seperti bunglon.
..............................................
O, Tuhanku, biarkan daku
hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.
Di bagian akhir puisinya, S.M. Ashar
berdo`a pada Sang Khaliq agar tidak berperilaku seperti bunglon meskipun dia
harus menghadapi kehidupan yang serba sulit. Bukankah kehidupan yang serba
sulit menyebabkan manusia berperilaku seperti bunglon karena mereka melakukan
cara-cara yang ilegal untuk melakukan segala cara? Agar niat buruknya tercapai
tentu saja mereka melakukan penyamaran atau terpaksa menerapkan standar ganda
atau bermuka dua. Orang jenis inilah yang disebut hipokrit atau munafik.
Dalam
kehidupan berpolitik cara-cara hipokrit kerap dilakukan para politikus. Praktek-praktek
politik yang terbilang kotor karena diwarnai oleh perilaku hipokrit bukankah
memang telah diajarkan oleh Nicollo Machiavelli? Niccolo Maciavelli menulis dalam
bukunya II Principe di Bab 19:
“Penguasa", yaitu pimpinan negara,
haruslah mempunyai sifat-sifat seperti kancil dan singa. Ia harus menjadi
kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa untuk mengejutkan
serigala. Jadi, jelaslah bahwa raja atau pimpinan negara harus memiliki sifat-sifat
cerdik pandai dan licin seibarat seekor kancil, akan tetapi harus pula memiliki
sifat-sifat yang kejam dan tangan besi seibarat singa.
Pendapat Nicollo Machiavelli bahwa
penguasa harus memiliki sifat-sifat kancil dan singa itu sudah mengarah pada
perilaku hipokrit. Satu sisi sang penguasa harus memiliki kecerdikan dan
kelicikan.Di sisi lain sang penguasa juga harus bertindak keji dan kalau perlu
menggunakan tangan besi. Dengan demikian, para politikus yang mempraktekkan
cara kerja Nicollo Machiavelli agar tidak terlacak strategi politiknya yang
terbilang kotor menyamar seperti bunglon. Dengan cara menyamar menjadi bunglon
mereka bisa merebut kekuasaan sebagaimana digambarkan pada puisi “Bunglon”
berikut ini.
BUNGLON
Beni Guntarman
Bunglon,
sang penyamar hati di pohon kekuasaan
pada
warna siapa yang berkuasa ia 'kan menyesuaikan warna diri
lincah
berkelebat dari dahan ke dahan, dari periode ke periode kekuasaan
terus
menjadi ekor, dan kerap bermimpi menjadi sang pelopor
meski
hakikat diri hanyalah alat kekuasaan yang kotor
Bunglon,
sang penyamar hati di pohon kekuasaan
kokoh
berlindung dalam warna-warni hiruk-pikuk percaturan politik
diam-diam
merasa bosan pada keangkuhan kayu dan dedaunan
coba
berjuang menjadi pelopor perubahan
memaksakan
warna kehendak diri pada pohon besar di pelataran singgasana
namun
kayu tetaplah kayu, daun tetaplah daun yang selalu menghijau
tak
sudi menjadi pengikut bunglon
Bunglon,
sang penyamar hati di pohon kekuasaan
dunia
dalam satu warna yang ada di benaknya
ketika
berhadapan dengan tantangan kehidupan nyata
bunglon
selalu kehilangan ekornya!
Penguasa
hipokrit yang berperilaku seperti bunglon kerap melakukan cara-cara penyamaran.
Mereka cenderung melakukan standar ganda. Sikap yang ditunjukkan cenderung mencla-mencle alias `tidak bisa
dipegang` omongannya sehingga sering menimbulkan multitafsir bagi lawan
bicaranya. Dalam kondisi apapun politikus jenis ini selalu survive. Mereka bisa
eksis di manapun meski di sebuah negara terjadi perubahan kekuasaan. Di
Indonesia, misalnya, di masa Orde Baru mereka eksis. Di Masa Reformasi pun demikian.
Mereka-mereka ini walaupun sudah di alam baka (meninggal dunia) tetap saja muncul
generasi penerus (regenerasi) yang meneruskan tongkat estafeta kepemimpinannya.
Namanya juga generasi penerus mereka
juga berperilaku sama, yaitu akan mempraktekkan cara-cara kerja sang
pendahulunya apalagi kalau bukan cara kerja orang-orang hipokrit.
Di
negara manapun kalau masih bercokol politikus-politikus hipokrit negara
tersebut tidak akan bisa menegakkan
demokrasi. Berbicara tentang masalah demokrasi, bukankah memang di negara yang
mengaku paling demokratis pun telah mencampakkan demokrasi? Coba disimak curhat
Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt tentang matinya demokrasi di negaranya,
Amerika Serikat:
“Ya. Kami khawatir. Para
politikus Amerika Serikat sekarang memperlakukan pesaing sebagai musuh,
mengintimidasi pers bebas, dan mengancam akan menolak hasil pemilihan umum.
Mereka mencoba melemahkan kelembagaan pelindung demokrasi kami, termasuk
pengadilan, badan intelejen, dan kantor etika. Boleh jadi Amerika Serikat tak
sendirian. Para ahli makin mencemaskan demokrasi yang barangkali mendapat
ancaman di seluruh dunia-bahkan di tempat-tempat di mana keberadaannya sudah lama dianggap biasa.”
(Bagaimana Demokrasi Mati, 2019:viii)
Di bagian lain di buku yang sama kedua
penulis itu menulis bahwa pelanggaran norma terbesar yang dilakukan Donald Trump
selaku Presiden Amerika Serikat adalah berbohong. Perilaku berbohong bukan saja
dilakukan ketika di masa-masa kampanyenya tetapi juga tetap berlanjut di masa
pemerintahannya. Bagi Trump seorang presiden harus berkata jujur itu bukan
tergolong kontroversial (hlm. 172). Jadi, dalam kehidupan politik di
negara-negara yang mengaku paling demokratis pun, seperti Amerika Serikat,
ternyata melakukan cara-cara yang mengarah pada penghancuran demokrasi. Tidak
usah heran jika negara-negara yang menjadi pengekornya pun melakukan cara-cara
yang sama karena gurunya sendiri juga melakukan hal yang sama. Meskipun
demikian, Steven Levitsky dan Daniel
Ziblatt mengingatkan:
“Norma-norma adalah pagar
lembut demokrasi, kalau pagarnya rusak, kisaran perilaku politik yang bisa
diterima melebar, memunculkan wacana dan aksi yang dapat mengancam demokrasi.
Perilaku yang pernah dianggap tak terpikirkan di perpolitikan Amerika mulai
biasa terjadi. Kalau Donald Trump tidak menabrak pagar keras demokrasi
konstitusional Amerika Serikat, dia telah meningkatkan kemungkinan bahwa
seorang presiden masa depan akan
melakukan itu.”
(hlm. 177)
Amerika bersyukur karena masih ada
orang seperti Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yang berupaya ingin
menyelamatkan demokrasi di negaranya. Mereka ingin agar pimpinan di negaranya
tidak lagi menabrak pagar demokrasi yang telah dianggap sakral dan dianut oleh
sebagian besar negara di dunia.
Kedua
penulis merasa resah dengan
praktek-praktek yang merusak demokrasi ala Trump. Perlu diingat, mereka resah karena
tidak ada penegakan demokrasi yang sifatnya internal untuk negara mereka, yaitu
Amerika Serikat. Kalau yang bersifat eksternal (di luar Amerika Serikat) hampir
sebagian besar warga dunia yang melek politik pasti tahu ulah Amerika. Dalam
hubungan diplomatik dengan negara-negara lain Amerika selalu saja menggunakan
standar ganda. Di saat Perang Dingin (Perang Idiologi) Amerika tak segan-segan
menginvasi sebuah negara yang diperkirakan akan menghambat hegemoninya. Perang
Vietnam, misalnya, yang berlangsung cukup panjang (1957—1975) merupakan salah
satu contoh ikut campur tangannya Amerika karena semata-mata ingin
menyelamatkan idiologinya di Vietnam Selatan (Richard W.Mansbache& Kirsten
L.Rafferty, Pengantar Politik Global,
2012 :215). Amerika memang kalah dalam perang tersebut, tetapi Amerika di
belahan dunia lainnya, seperti Indonesia, berhasil menumbangkan komunis sebagai
idiologi saingannya. Bahkan, Amerika berhasil mencengkram kukunya di Indonesia
melalui penguasaan Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki indonesia. Freeport,
misalnya, merupakan salah satu SDA yang sampai saat ini dikuasai Amerika lebih
dari lima puluh tahun. Freeport entah sampai kapan bisa diserahkan sepenuhnya
ke Pemerintah Indonesia karena begitu kontraknya mau selesai diperpanjang lagi.
Mungkin kalau Freeport sudah benar-benar tidak menghasilkan lagi baru
diserahkan ke Pemerintah Indonesia?
Amerika
juga berhasil mencengkeram negara-negara Teluk yang kaya minyak seraya
menyepelekan masalah rakyat Palestina yang diperangi negara bonekanya, Israel. Khusus
tentang masalah Israel, sebagai bonekanya, Amerika jelas-jelas menerapkan
standar ganda. Di satu sisi Amerika berbaik-baik dengan negara-negara Teluk
karena di sana memang ada ladang-ladang minyak yang siap dirampok habis-habisan
(tentunya dengan cara-cara halus). Tetapi di sisi lain, ketika berhadapan
dengan Palestina sampai kapanpun kebijakan Amerika akan tetap menguntungkan
Israel. Di sini tampak sekali wajah
hipokritnya Amerika. Dia bela habis-habisan musuh bersama negara-negara Teluk
(bahkan negara-negara Islam), Israel, tetapi dirampok juga ladang-ladang
minyaknya dengan bahasa-bahasa kamuflasenya yang membius negara-negara Teluk
sehingga negara-negara tersebut lupa akan misi utamanya, yaitu memperjuangkan
rakyat Palestina dari cengkeraman Israel. Ketika terjadi perang di Bosnia
Herzegovina, Amerika cenderung berupaya menyelamatkan muka sendiri. Padahal
jelas sekali, di Bosnia telah terjadi pembersihan etnis yang dilakukan oleh
Serbia. Di sini Amerika lagi-lagi tidak berminat untuk membela warga Bosnia
yang teraniaya sehingga Prasanti dalam puisinya “Dialog dalam Bisik” mengutip
tulisan William Pfaff.
di The New York Review, 27 Agustus 1992,
William Pfaff
menulis:
menolong
warga yang terperangkap
tanpa
menghentikan pengepungan itu sendiri
sama
halnya dengan menolong korban hari ini
untuk
dibiarkan mati esok hari
mengevakuasi
warga sipil dan tawanan
dari
wilayah yang terkena "pembersihan etnis"
sama saja dengan membantu Serbia mengusir
orang Bosnia
atas biaya dunia internasional
Pendek
kata, pemerintah Barat hanya berusaha mencari jalan
untuk
memuaskan opini masyarakat yang berang
sambil
menghindari isu‑isu serius dalam krisis ini.
Paris,
London, dan Washington
bukan
berusaha mencegah atau menyetop agresi,
melainkan
mencari jalan untuk menyelamatkan muka sendiri
(Majalah Tempo 17 Oktober 1992)
Jadi, Amerika sebagai salah satu
pemerintah Barat sebagaimana ditulis di bait puisi di atas melakukan pembiaran
atau dengan kata lain berupaya untuk menyelamatkan muka sendiri. Bagaimana
kalau kepentingan Amerika di negara lain seperti Indonesia, yang beberapa SDA-nya
dikuasainya direbut bangsa lain? Pasti Amerika tidak tinggal diam. Mereka akan
mengerahkan kekuatan militernya sampai titik darah penghabisan. Itulah salah
satu contoh perilaku hipokrit yang dipertontonkan Amerika di panggung politik.
Perilaku
hipokrit jelas harus dijauhi dari panggung politik. Perilaku hipokrit telah
merusak tatanan demokrasi. Perilaku hipokrit yang secara kasat mata
dipraktekkan Donald Trump diresahkan sebagian publik Amerika lebih disebabkan
oleh masih bercampurnya demokrasi dengan kapitalis. Demokrasi kapitalis benar-benar
telah merasuk sampai ke tulang sumsum warga Amerika sehingga sulit untuk
dihilangkan. Mereka benar-benar sangat fanatik dengan paham tersebut. Paham
yang dianut Amerika ini ketika dipraktekkan di negara-negara yang sudah menjadi
pengikutnya ternyata membuahkan penguasa yang cenderung berjiwa kapitalis
sehingga wajar kalau ada sebutan `penguasa yang pengusaha`. Tidak aneh juga jika
pengabdian dan dedikasi seorang penguasa
atau kepala pemerintahan adalah para pemodal. Bukan untuk melayani rakyat.
Amerika melalui Trump telah mengajarkan pada bangsa ini bahwa sebuah negara
sudah selayaknya bersinergi dengan kalangan pengusaha. Hal itu sesuai dengan
pernyataan kandidat Presiden Amerika dari kubu Demokrat Bernie Sanders beberapa
waktu yang lalu yang mengemukakan tentang sejauh mana pengaruh perusahaan
Amerika dalam pemilu AS. (https://www.kiblat.net
/2016/ 03/ 13 /penguasa-sistem-demokrasi-kapitalis-penguasa-pemberi-harap-an-palsu/).
Agar
terhindar dari perilaku hipokrit tidak ada jalan lain kecuali segera tinggalkan
paham yang telah membawa kita ke jurang demokrasi yang nyaris mencabik-cabik kesatuan bangsa kita
yang kita cintai, Indonesia. Dengan kata lain, kita tinggalkan demokrasi
kapitalis. Demokrasi kapitalis bisa juga disebut demokrasi sekuler. Demokrasi sekuler yang memisahkan kehidupan politik dengan agama.
Sebagai negara yang ber-Pancasila, yang salah satu silanya menyebutan
`Ketuhanan Yang Maha Esa` mau tidak mau kita harus melekatkan demokrasi dengan
religius sehingga menjadi demokrasi religius. Untuk itu, para politikus atau
calon politikus ketika terjun ke dunia politik membiasakan diri untuk berdo`a
sebagaimana tertuang di awal tulisan ini, yaitu “Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum`ah dan riya.`” Dari do`a tersebut yang harus
diseriusi terutama tentang kemunafikan (hipokrit) karena perilaku hipokrit
sudah jelas-jelas merusak demokrasi dan membawa bangsa ini ke dalam jurang
kehancuran. Kita tidak mau NKRI yang
kita cintai ini tercabik-cabik. Kita ingin Indonesia yang satu yang juga
terbebaskan dari intervensi asing. Mudah-mudahan saja harapan itu bisa
diwujudkan. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar