MENYOAL TENTANG PENDERITAAN
Subagio S. Waluyo
Faisal terdiam. Langit rasanya
mau runtuh. Ibarat seorang petinju, Faisal baru saja terkena killing punch
lawan, mencium kanvas dan tinggal menunggu hitungan kesepuluh untuk dinyatakan
kalah KO!
(Cerpen Achmad Marzoeki “Koruptor tanpa Korupsi”)
***
Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan. Kalau ada orang yang mangaku bahwa dia tidak pernah menderita, pengakuannya pasti bohong. Atau kalau ada orang yang tidak mau menderita, berati dia telah melawan dan mengingkari kenyataan hidup. Ia tergolong manusia hedonis. Manusia yang hanya mau hidup serba enak menghindari penderitaan. Manusia jenis ini pun manusia yang melawan dan mengingkari kenyataan. Mengapa? Ia mengingkari kenyataan hidup karena masalah penderitaan adalah masalah yang terus mengikuti hidup kita sejak kita berada di dunia sampai nanti dicabut nyawa kita. Jadi, sebagai manusia kita harus siap hidup menderita.
Kita tidak boleh terpesona bahwa hidup itu indah
sehingga harus selalu indah. Atau hidup
itu nikmat. Jadi, kita harus hidup dalam
suasana kenikmatan. Kalau sudah demikian
falsafah hidup kita, kita tergolong orang yang mendukung hedonisme. Hedonisme harus kita hindari karena hedonisme
menjadikan kita sebagai hamba konsumerisme.
Dengan kata lain,
hedonisme menjadikan kita manusia yang kontraproduktif. Artinya, kita menjadi manusia pembeli
daripada membuat sendiri, lebih suka menanggapi daripada memainkan sendiri;
lebih suka mendapat daripada memberi (Mangunhardjana, 1997:91).
***
Gaya hidup hedonis tampaknya sudah menjadi falsafah
hidup terutama di kota-kota besar di Indonesia.
Gaya hidup seperti ini jelas merusak kehidupan bangsa. Kita bisa menyaksikan di lembaga-lembaga
pendidikan (dari SD sampai PT) sudah menjadi hal yang biasa kalau setiap ujian
atau ulangan selalu diwarnai budaya menyontek. Anak didik kita lebih suka
menyontek daripada berpayah-payah belajar.
Gaya hidup hedonis juga tampak pada kutipan di bawah ini, ketika Bajus
selaku seorang pengusaha agar mudah memperoleh `proyek` dengan seenaknya
memberikan umpan seorang perempuan kepada Blengur sang tamu dari Jakarta. Padahal di balik transaksi kedua belah pihak
tersebut ada tersirat pelecehan wanita dengan menjadikan wanita sebagai umpan
untuk memperlicin usahanya. Untuk lebih
jelasnya, bisa kita lihat teks berikut ini.
|
JANTERA BIANG LALA ………………………………………………………………………………………… Bajus terus
tergagap. Sudah terbayang olehnya bila
dia gagal menyenangkan hati Blengur maka lima juta bakal lepas dari
tangan. Bahkan buat selanjutnya dia
mungkin tidak akan mendapat pekerjaan lagi. Segalanya harus kembali dimulai dari titik nol. Oh, tidak bisa jadi. Blengur tidak boleh dikecewakan bahkan
dengan santapan yang sudah berada tepat di ujung lidah. Dia bisa murka. Sekali lagi Bajus hendak membujuk
Srintil. Kali ini bulat tekadnya
Srintil harus menurut. Hati-hati dibukanya
pintu kamar Srintil. Dia masih tersedu
hingga bagian pung-gungnya berguncang. Bajus duduk di pinggir tempat tidur,
suaranya seperti ayah kepada anak yang sedang merajuk. “Srin, kuharap kamu mau
mengerti. Kasihani aku dan tolonglah
aku sekali ini saja. Bagaimana nanti
bila kamu tidak mau membantuku? Mau
ya, Srin?” Srintil menggeliat
bangkit. Dipandangnya Bajus sekilas
dengan tatapan luar biasa dingin.
Turun dari tempat tidur.
Dirapikannya rambut yang tergerai di bagian depan. Diambilnya tas tangan. “Tunggu. Mau ke mana kamu?” Tak sepatah kata pun
menjawab Srintil melangkah hendak ke luar.
Bajus bertin-dak menangkap tangan Srintil yang bersikeras hendak ke
luar. Buat kali pertama Bajus berlaku
kasar, memaksa Srintil kembali duduk di tempat tidur. “Kamu tetap
menolak? Tidak bisa! Kamu orang Dukuh
Paruk harus tahu diri. Aku telah
banyak membantumu. Aku telah banyak
mengeluarkan uang untuk kamu!” Bajus berjalan
berputar-putar sambil tetap menjaga agar dirinya menjadi palang pintu. Srintil duduk kaku, tak bereaksi sedikit
pun terhadap kata-kata yang didengarnya.
Tiba-tiba Bajus menghentakkan kaki lalu melangkah ke ambang
pintu. Sambil menutup pintu dari luar,
Bajus berkata dengan tekanan berat. “Kamu orang Dukuh Paruk
mesti ingat. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu
ke rumah tahanan.Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?” Pintu terbanting dan
dikunci dari luar. Mengapa orang terlanjur
percaya bahwa pembunuhan ialah menghentikan fungsi ragawi sebagian atau
keseluruhan dengan satu dan lain senjata.
Mengapa orang terlanjur beranggapan kekejaman ialah tumpahnya darah
dan lukanya bagian, raga. Dengan
demikian bajus misalnya gampang sekali mengelak bila ada tuduhan dia baru
saja melakukan kekejaman luar biasa sekaligus pembunuhan. Dalam dua tiga detik melalui beberapa kata
dia telah berhasil sempurna membuat seorang manusia kehilangan
kemanusiaannya, bahkan tanpa Bajus sendiri melihatnya. Satu detik setelah daun
pintu terbanting mulailah berlangsung proses lenyapnya akal budi dari
totalitas sebentuk pribadi. Godam
pertama mengguncangkan tiang kesadaran yang menopang akal budi Srintil, yakni
ketika dia mendapatkan kenyataan citanya menjadi istri Bajus adalah
pundi-pundi hampa. Srintil masih
sempat merasakan perih dan pahitnya guncangan ini. Deraan kedua membuat tiang kesadarannya
miring, tidak kuat menahan beban perintah harus melakukan perjinahan; sejarah
lamanya sendiri yang sudah ingin ditinggalkan dengan suatu tekad membaja. Kemudian tiang itu ambruk sama sekali
ketika sebuah jari setajam mata tombak menudinngnya sebagai PKI dan siap
menyeretnya kembali ke rumah tahanan, sebuah tempat yang boleh jadi bisa
disebut sebagai neraka dunia. Sosok itu tentu masih
bernama Srintil atau ronggeng Dukuh Paruk.
Tentu pula dia masih akan
disebut sebagai manusia. Namun faktor
yang membedakan antara dirinya dengan segala jenis satwa – akal budi dan
kesadarannya -- sudah gaib sedetik
yang lalu. Srintil tidak tahu lagi apa
pun dari segi keberadaan dirinya. Dia
tidak tahu lagi dirinya yang kini tinggal menjadi monumen seonggok benda
organik. Posisi tubuh serta semua
anggota badannya masih melukiskan
orang terkejut, sama seperti ketika Bajus membanting pintu. Wajahnya mati, mati. Matanya tidak berkedip, mulutnya
melongo. Roh kemanusiaan tidak tampak
lagi sedikit pun. Hanya beberapa langkah
di luar kamar Bajus duduk gelisah.
Pikirannya sama sekali lepas dari keadaan di dalam kamar. Dia tidak tahu ada kiamat kecil baru saja
berlangsung tepat di balik tembok di belakangnya. Yang menggelisahkan Bajus adalah kenyataan
bagaimanapun dia harus menghadapi Blengur.
Sungguh tidak terbayangkan olehnya apa yang bakal terjadi bila dia
gagal menyuguhkan kesenangan kepada orang Jakarta itu. |
Petikan teks di atas sebenarnya menampilkan dua orang yang sedang menderita. Bajus sebagai seorang pengusaha yang ingin sukses dalam usahanya bermaksud memberikan `hadiah` kepada seorang tamu dari Jakarta agar tamu tersebut mau memberikan salah satu proyeknya di daerah. Hadiah tersebut berupa perempuan cantik, Srintil, mantan penari ronggeng dari Dukuh Paruk, Banyumas. Ternyata, Srintil menolak kalau dirinya dijadikan `hadiah` karena ia sudah berniat ingin menjadi perempuan baik-baik. Ia ingin menutup masa lalunya yang kelabu. Untuk itu, dengan tegas ia menolak berbuat zinah dengan tamu yang disodorkan Bajus. Penolakan tersebut membuat Bajus marah sehingga mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati Srintil.
Srintil yang kena damprat dan makian yang menyakitkan itu, sangat terpukul jiwanya. Ia kaget dan shock. Ia tidak mengira kalau diperlakukan secara kasar oleh Bajus. Akibat dari perlakuan itu, digambarkan … Wajahnya mati, mati. Matanya tidak berkedip, mulutnya melongo. Roh kemanusiaan tidak tampak lagi sedikit pun. Jadi, Srintil benar-benar terpukul. Dengan kekasaran itu, ia benar-benar sangat menderita. Penderitaan yang dialami Srintil tidak separah Bajus. Kalau Bajus dengan penolakan Srintil, boleh jadi salah satu proyeknya saja yang gagal di daerah. Tidak demikian halnya dengan Srintil. Srintil terpukul batinnya karena disebut-sebut bekas PKI dan diancam untuk dipenjarakan.
Pada kelanjutan kisah tersebut, ternyata penderitaan Bajus lebih bersifat sementara karena `tamu` dari Jakarta itu pada akhirnya memaklumi keadaan Srintil dan meluluskan permintaan Bajus.
|
“Masuklah, Jus,”ujar Blengur setelah mendengar pintu diketuk. “Duduklah,” sambungnya. Bajus tidak menyangka akan berhadapan dengan kesantaian. Di sana Blengur duduk merokok dan
tenang. Sangat tenang. Tidak tergambar kehausan berahi. Matanya yang terkenal berwarna petualangan
kelihatan teduh. “Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar.” “Kata yang mana, Pak?” “Srintil itu.” “Cantik dan lugu, kan?” “Bukan itu maksudku. Aku
terkesan oleh citra pada wajahnya.Wajah perempuan jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu
rumah tangga. Jus!” “Ya, Pak.” “Memang kamu tahu siap aku. Aku
senang berpetualang. Tetapi,
entahlah. Aku tidak tega memakai
Srintil.” “Pak?” “Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu
rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi obyek
petualang- an. Jumlah mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil
mengundurkan diri dari dunia lamanya.” “Pak, lalu?” “Ya. Antar dia pulang ke rumahnya malam ini juga. Ini uang buat
Srintil dan kata- kan sebagai hadiah dari aku.” Mata Bajus menatap sebuah amplop menggembung yang disodorkan oleh
Blengur. Tangannya bergerak gamang. “Ya, Pak, ya,” kata Bajus gugup.
Amplop itu dimasukkan ke saku jaketnya. “Tetapi, Pak.” “Apa?” “Proyek. Ya, bagaimana dengan proyek itu?” “Dasar recehan, kamu. Tentu
saja proyek itu tetap untukmu.
Sekarang sana keluar. Antar
Srintil pulang.” (Ahmad Tohari, 1999:202 – 203) |
Jadi, yang menjadi kekhawatiran Bajus tidak terjadi karena Blengur `sang tamu` dari Jakarta dari awal pertemuannya dengan Srintil telah melihat bahwa Srintil bukan lagi sebagai `perempuan` yang selama ini dibayangkan, yaitu `perempuan nakal. Dengan demikian, sebenarnya penderitaan Bajus telah berakhir. Tetapi, bagaimana halnya dengan Srintil setelah dimaki-maki Bajus dengan makian yang menyakitkan hati? Kutipan kisah berikut ini merupakan saksi bahwa ucapan yang menyakitkan lebih berbahaya daripada pembunuhan fisik.
|
“Srin, ini uang banyak
sekali dari Pak Blengur buat kamu.
Uang hadiah. Bukan uang….” Sunyi. Mencekam. Bulu kuduk merinding. Adakalanya orang menjadi sangat takut bila
tiba-tiba berhadapan dengan mayat. Dan
akan sekian kali lebih takut bila yang didepan mata adalah mayat hidup. Srintil terlihat masih dalam posisi yang
ganjil. Wajah mati. Mata aku berkedip dan mulut
melongo. Bajus terhenyak ke belakang
dan amplop yang menggembung jatuh ke lantai.
Gagap dia. Sulit baginya
menerima kenyataan bahwa kemanusiaan kadang tidak lebih tebal dari kulit
bawang. Srintil beberapa menit yang
lalu masih lengkap dengan pesona seorang perempuan muda yang cantik. Pesona
yang bahkan sesungguhnya menembus juga jantung Bajus yang impoten. Kini tak ada lagi pesona. Tidak juga kecantikan. Kemanusiaannya tinggal tersisa berupa sosok
dan nama. Selebihnya adalah citra
hewani. Citra makhluk tanpa akal
budi. Bajus surut. Dan terus surut hingga punggungnya merapat
ke tembok. Semenit dua menit Bajus
masih belum berhasil menata perasaan dengan memahami kenyataan yang
terpampang tepat di depan mata. Dan
sesaat ketegangan akhirnya mereda Bajus menghubungkan keadaan Srintil sebelum
dan sesudah dia terkunci di kamar.
Bajus mulai merasa dirinyalah penyebab perubahan drastis pada diri
Srintil. Kesadaran Bajus
perlahan-lahan pulih. Pundaknya
mengendur dan napasnya normal. Matanya
masih menatap boneka hidup yang bernapas pendek-pendek. Kemudian Bajus melangkah maju. “Srin, kenapa kamu?” Tak ada tanggapan, bahkan dalam sasmita yang paling samar
sekalipun. Dipungutnya amplop yang
jatuh lalu disodorkannya ke tangan Srintil yang mengambang di udara. Tetapi tangan itu tidak semili pun
bergeming. Bajus membungkuk ingin
melihat mata Srintil lebih jelas. Di
sana hanya ada lingkaran hitam tanpa ekspresi rasa dan cita, sebentuk
kematian dalam hidup. Kebimbangan kembali menyergap. Bajus keluar hendak mencari seseorang,
barangkali dia bisa membantu mengurangi kebingungannya. Mungkin Blengur. Namun l angkahnya terhenti di teras
vila. Bajus masuk lagi, berjalan tak
menentu. Tangannya merogoh saku celana
dan terpegang kunci kontak mobil. Ya. Kini Bajus tahu secara pasti apa yang
sebaiknya dia lakukan, mengantar Srintil pulang ke Dukuh Paruk saat itu juga. “Srin, maafkan aku. Maafkan
aku, ya! Sekarang mari kita pulang.” Srintil menoleh dengan gerakan linglung. Dan bukan mata Bajus yang ditolehnya
melainkan tubuh laki-laki itu. Matanya
tak bergulir, seakan sudah tersekap mati dalam kelopaknya. Dan meski terasa sebagai upaya
untung-untungan Bajus mem-bimbing tangan kiri Srintil. Hatinya lega ketika ternyata Srintil
menurut. Srintil berjalan seperti
tidak melihat apapun meski kedua matanya terbuka lebar dan tidak
berkedip. Bajus merasa seperti sedang
menuntun orang setengah lumpuh dan buta. (Ahmad Tohari,1999: 203 – 205) |
Hikmah apa yang bisa diambil dari kutipan-kutipan di atas? Dari kutipan-kutipan cerita di atas, kita bisa mengambil hikmah bahwa:
· setiap orang manakala memiliki kepentingan mendesak sering menggunakan cara-cara yang tidak terpuji meskipun harus dengan mengorbankan orang lain;
· manakala kepentingannya terganggu (yang dikhawatirkan akan hilangnya kesempatan) ia dengan seenaknya menciptakan penderitaan pada orang lain tanpa memikirkan kesudahannya;
· kaum wanita sering diposisikan sebagai orang yang layak disalahkan atau objek penderita yang salah satu wujudnya adalah dalam bentuk pelecehan seksual; dan
· kata `maaf` sering dijadikan sarana untuk melegitimasi setiap perkataan atau perbuatan yang jelas-jelas akan membuat orang menderita atau minimal menyinggung batin seseorang.
***
Dengan adanya butir-butir hikmah di atas, selayaknya
kita harus menghindari hal-hal yang berakibat pada penderitaan orang lain.
Kalau kita saja tidak mau disakiti maka orang lain pun jangan kita sakiti. Untuk itu, menghindari penderitaan pada diri
kita harus dimulai dari menghindari penderitaan pada orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar