DIPAKSA MENGAKU
Subagio S Waluyo
“Hei, kamu belum menjawab pertanyaan saya?”
“Ss… saya musti jawab apa, Pak?”
lakilaki itu terisak. Hatinya tertusuk,
nuraninya tersayat, harga dirinya terkoyak.
“Jawab! Gitu aja, nangis. Cengeng!”
“Bapak keterlaluan…Untuk apa, nanyananya kayak gini. Bapak tahu, ini kan konyol, Pak. Kalau bapak mau tembak saya, tembak saja. Ini…
tembak saja, Pak.”
Para petugas tersentak. Embun mendingin. Sunyi menyergap.
Laki-laki itu berteriakteriak menantang. Tak dirasakannya asin darahnya
sendiri. Tak dirasakannya perih lukanya sendiri. Dia hanya tegak menantang, matanya nyalang.
“Kalau kamu tidak diam, saya tembak, kamu.”
“Silakan… coba kalau berani, tembak saja. Buat apa saya susahsusah cari makan, kerja seperti binatang, kalau cuma untuk dihina
seperti ini… Ayo, tembak!”
Para petugas itu terdiam. Komandannya mendekat dan memerintahkan anak buahnya menjauh. Mereka bergerak dengan
cepat, seperti tikus got di kegelapan. Ditinggalkannya laki-laki luka itu, yang masih berteriakteriak
bagai orang gila.
Sebuah
persoalan selesai dengan perkataan “maaf” dari pihak petugas barulah Salamat
sadar, betapa pentingnya arti kekuasaan. Selama ini ia memang sering membaca
dalam surat kabar, tentang banyaknya orang-orang berkuasa yang telah
menggunakan kekuasaannya sesuka hati. Tapi soal kekuasaan itu tidak menarik
hati. Baru setelah ia sendiri korban dari kekuasaan orang lain, ia menyadari
betapa pentingnya untuk memperhatikan keadaan sekitar. Betapa perlunya prihatin
kalau ada kemalangan menimpa orang-orang lain, betapa perlunya berjuang
bersama-sama memenangkan apa yang dianggap benar. Betapa pentingnya kebersamaan
dalam menghadapi suatu peristiwa.
Baru setelah ia sendiri korban dari
kekuasaan orang lain, ia menyadari betapa pentingnya untuk memperhatikan
keadaan sekitar.Apapun yang terjadi di sekitarnya tidak diperdulikannya. Tidak
pernah mendapat perhatiannya. Bahwa ada tetangganya yang kemalingan, ia tidak
perduli. Ketika sebuah kecelakaan lalu lintas mengambil korban tiga nyawa
tetangganya, ia juga tidak acuh. Bahkan ketika atasannya di kantor menampar
seorang rekannya yang dianggap melanggar disiplin, ia juga bersikap masa bodoh
terus mengetik tanpa berpaling seakan-akan tidak ada apapun terjadi di
sekitarnya.
Di masa orde baru yang kata
orang-orang akademis waktu itu saking kuatnya kekuasaan Soeharto sampai-sampai
orang kecil mudah ditekan oleh rezim yang berkuasa. Tidak aneh jika terjadi
sekian banyak intimidasi terhadap orang-orang kecil. Masih kata orang-orang
akademis yang namanya pelanggaran HAM sudah sulit dikalkulasi. Sedikit-sedikit
kalau sudah menyerempet kekuasaan negara stigma PKI atau biasa juga disebut
golongan kiri atau ekstrim kiri (sebutan untuk mereka yang tergolong PKI) selalu
dilekatkan. Sebaliknya, mereka yang dikenal masyarakat Muslim yang taat
beribadah kalau suatu saat mengkritisi kebijakan negara juga dilekatkan ekstrim
kanan atau bisa juga disebut di masa reformasi ini: Islam radikal. Anehnya,
kalangan yang namanya orang-orang akademis itu tidak berani menyampaikan
kebenaran di hadapan rezim yang berkuasa saat itu walaupun di depan mata mereka
sendiri diperlihatkan kekejian rezim terhadap sebagian anak bangsa.
Entah ada kecenderungan upaya menyelamatkan diri sendiri atau mental paternalistik yang masih melekat. Kompetensi akademis yang dimilikinya sebagai orang-orang yang sudah seharusnya memperjuangkan kebenaran malah justru disembunyikan. Kalau memang ada di antara mereka yang tergerak menyuarakan hati nuraninya, itu pun boleh dikatakan sangat sedikit karena resikonya mereka harus berhadapan dengan kekuasaan. Sivitas akademika di masa orde baru benar-benar mati. Sivitas akademika baru benar-benar menyuarakan hati nuraninya beberapa saat saja ketika memasuki reformasi. Begitu reformasi berjalan penyakit-penyakit yang dulu pernah ada di masa orde baru kambuh lagi. Sivitas akademika kembali berupaya menyelamatkan diri sendiri. Mereka lebih cenderung asyik di menara gading dengan berbagai asesori kehidupan akademis yang begitu menggiurkan. Masa orde baru di dunia kampus berulang kembali.
***
Kembali ke masa orde baru, masa
orang-orang kecil, masa orang-orang yang berpendidikan rendah, yang tidak bisa
membela diri dan tidak ada yang bisa membelanya jika berhadapan dengan
kekuasaan. Di masa itu banyak orang yang menyadari begitu pentingnya orang
punya kekuasaan sehingga wajar-wajar saja orang yang punya kekuasaan bisa
bertindak sesuka hatinya. Gambaran tindakan sewenang-wenang orang-orang yang
berkuasa saat itu terekam dalam karya-karya sastrawan di negeri ini. Tidak
kurang orang seperti WS Rendra atau Wiji Thukul dari kalangan penyair juga
kerap menuliskan dalam karya-karyanya tindakan anarkis rezim orde baru. Di
kalangan penulis cerpen juga ada yang merekam masalah-masalah sosial di seputar
pelanggaran HAM dan konflik sosial antara penguasa dan rakyat kecil. Sebut saja
Sori Siregar dalam cerpennya “Maaf” atau Yanusa Nugroho dalam “Tujuh Puluhan”.
Keduanya merupakan sedikit dari sekian banyak sastrawan yang menyuarakan
jeritan hati orang-orang kecil.
Sori Siregar dalam “Maaf” mengawali cerpennya tentang ucapan `maaf` yang disampaikan sang petugas setelah menginterogasi habis-habisan orang yang dituduh penjambret (Salamat). Barang bukti yang diambil paksa dari tukang servis jam di belakang hari ternyata bukan barang hasil jambret tapi justru itu milik Salamat, orang yang diseret secara paksa sang petugas ke kantornya. Setelah habis-habisan diinterogasi dengan berbagai makian dan ancaman, Salamat terbukti bukan penjambret. Justru, dia pemilik jam tangan yang sedang menservis jam tangannya. Petugas yang terlanjur menginterogasinya pun cuma mengatakan `maaf`. Seolah-olah dengan kata `maaf` semua persoalan selesai. Padahal orang sudah dilanggar HAM-nya.
|
Sebuah persoalan selesai
dengan perkataan “maaf” dari pihak petugas barulah Salamat sadar, betapa pentingnya
arti kekuasaan. Selama ini ia memang sering membaca dalam surat kabar,
tentang banyaknya orang-orang berkuasa yang telah menggunakan kekuasaannya
sesuka hati. Tapi soal kekuasaan itu tidak menarik hati. Baru setelah ia
sendiri korban dari kekuasaan orang lain, ia menyadari betapa pentingnya
untuk memperhatikan keadaan sekitar. Betapa perlunya prihatin kalau ada
kemalangan menimpa orang-orang lain, betapa perlunya berjuang bersama-sama
memenangkan apa yang dianggap benar. Betapa pentingnya kebersamaan dalam
menghadapi suatu peristiwa. Baru setelah ia sendiri korban dari kekuasaan orang lain,
ia menyadari betapa pentingnya untuk memperhatikan keadaan sekitar.Apapun
yang terjadi di sekitarnya tidak diperdulikannya. Tidak pernah mendapat
perhatiannya. Bahwa ada tetangganya yang kemalingan, ia tidak perduli. Ketika
sebuah kecelakaan lalu lintas mengambil korban tiga nyawa tetangganya, ia
juga tidak acuh. Bahkan ketika atasannya di kantor menampar seorang rekannya
yang dianggap melanggar disiplin, ia juga bersikap masa bodoh terus mengetik
tanpa berpaling seakan-akan tidak ada apapun terjadi di sekitarnya.
Kisahnya peristiwa yang terjadi kemarin dulu menyentuhnya
untuk berubahsikap.
.............................................................................................
|
Salamat yang sudah diinterogasi dan didesak untuk mengaku, bahkan sempat dimasukkan ke sel, untungnya bisa berpikir positif. Artinya, dia menyadari kalau dalam hidup ini sangat dibutuhkan sebuah kekuasaan. Selain itu, dia juga sadar kalau selama ini kurang bermasyarakat karena kalau saja bisa hidup bermasyarakat kasus yang menimpanya bisa mudah diselesaikan. Di sini dia menyadari kalau selama ini kurang peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ketika musibah menimpanya, baru dia sadar betapa pentingnya hidup bermasyarakat. Bukankah menghadapi musibah yang menimpanya bisa diselesaikan kalau dia bisa hidup bermasyarakat? Di sini penulis cerpen mengajarkan pada pembacanya agar setiap musibah yang menimpanya tidak menyalahkan siapapun. Justru, penulis cerpen berupaya mengembalikan semua musibah yang menimpa seseorang boleh jadi sebuah teguran bahwa selama ini ada saham kesalahan seperti tokoh Salamat di cerpen tersebut yang mengakui bahwa selama ini dia kurang peduli dengan nasib sesamanya.
***
Lain Sori Siregar lain lagi Yanusa Nugroho. Di akhir cerpennya, “Tahun Tujuhpuluhan”, penulis cerpen mengangkat nasib yang diderita Achmad Musodik, pedagang buah, yang diinterogasi habis-habisan oleh petugas. Kalau Salamat dalam cerpen “Maaf” cuma digertak (ditakut-takuti), Achmad Musodik sebagai orang kecil pasrah saja ketika ditampar dan dipukuli sampai berdarah mulutnya dan sekujur tubuhnya terasa sakit. Dia juga sempat ditodong petugas dengan pistol. Karena sudah terlanjur disakiti, ditantangnya sang petugas untuk menembaknya. Sang komandan terpaksa turun tangan dan meminta semua anak buahnya segera pergi. Mereka diibaratkan oleh Yanusa Nugroho seperti tikus got di kegelapan yang pergi begitu saja meninggalkan korbannya yang terkapar di jalan.
|
“Saya
tanya, kamu kok diam saja.” “Maksudnya bagaimana, sih?” “Kamu
marah, ya? Melawan petugas?” “Tidak,
Pak, ampuuun… maaf, Pak… maaf.” “Sialan, ditanya baik-baik nglunjak, kamu.” “Maaf,
Pak… maaf. Jangan pukul, Pak… jangan, Pak.” .......................................................................................................................... Sekali
lagi sebuah gamparan di wajah lakilaki itu.
“Kenal, enggak?” “…Terserah,
Bapak, deh. Saya jangan digebukin, Pak.” “Kalau
kamu ngaku dari tadi, kan, saya tidak usah mukul kamu. Dasar kebo, maunya
dipukul, baru ngaku. Jadi kamu kenal sama Jumadil?” ............................................................................................................................ “Tidak
tahu atau tidak ingat?” “Ss… saya… jj… jangan dipukul, Pak.. ampuun, ampuun…” “Tidak tahu, atau tidak
ingat?” “Ampuuun…
ampuun… kasihan anak bini saya, Pak… ampuun.” Dan lars pun menderapkan mars. Maka patahlah iga. Pecahlah tangis dan rintihan. Malam aneh. Malam penuh halimun licik. Entah apa yang dihadapinya, tak ada yang peduli. ............................................................................................................................ Laki-laki
kurus itu terduduk di tanah. Hidungnya berdarah. Seorang petugas menggantikan
temannya dan mulai menanyai laki-laki luka itu. “Kalau kamu tidak diam, saya tembak, kamu.” “Silakan…
coba kalau berani, tembak saja. Buat apa saya susahsusah cari makan, kerja
seperti binatang, kalau cuma untuk dihina seperti ini… Ayo, tembak!” Para petugas itu terdiam. Komandannya mendekat dan memerintahkan anak buahnya menjauh. Mereka bergerak dengan cepat, seperti tikus got di kegelapan. Ditinggalkannya laki-laki luka itu, yang masih berteriak-teriak bagai orang gila. Dia membayangkan dirinya adalah seekor musang yang diburu di malam hari.
Dia membayangkan dirinya adalah tikus got,
yang sial dan menjadi sasaran tembak pemburu kampung.
Lalu bagaimana
jika dia harus menyekolahkan anak-anaknya nanti? Dia harus menyediakan beberapa ribu rupiah untuk membuat
KTP baru, itu pun kalau orang kelurahan itu mau, kalau tidak?
Laki-laki kurus, merasakan pundaknya melengkung, menahan beban yang luar
biasa besar. Kilatan
ingatannya menyambarnyambar. Seraut wajah anakanak
tanpa alas kaki membacakan teks
proklamasi di upacara sekolah pagi hari.
Dengan menahan pedih di sekujur jiwa raganya, laki-laki itu bangkit. Dia harus pulang dan mengatakan apa adanya pada orang rumah.
Apa pun yang dialaminya,
dia harus menyampaikannya pada anak-anaknya,
agar mereka menjadi manusia yang jauh lebih kuat. Kuat menghadapi apa pun, termasuk menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain.
|
Bukan hanya para petugas yang berlarian begitu korbannya sehabis diinterogasi terkapar di jalan seperti tikus yang berlarian di kegelapan, sang pedagang buah, korban interogasi juga merasa seperti tikus got yang sial yang dijadikan sasaran tembak para pemburunya. Sebagai korban kekerasan petugas, pedagang buah itu mengalami stres karena sekujur tubuhnya yang perih dan lebam tapi juga dia telah kehilangan KTP. Padahal untuk mengurus segala hal (termasuk melindungi diri dari penangkapan petugas bagi warga tanpa KTP), KTP sangat dibutuhkan. Ada kemungkinan KTP-nya diambil petugas ketika dia diinterogasi. Sulit bagi orang kecil seperti pedagang buah ketika di tahun itu terjadi Peristiwa Malari yang membuat semua orang terancam jiwanya jika bepergian di malam hari tanpa KTP. Dia juga membayangkan hari-hari kemudian yang gelap karena harapan-harapan keinginan untuk memperoleh keuntungan dari berdagang buah telah sirna akibat tindak kekerasan yang dialaminya. Meskipun demikian, sebagai orang kecil dia hanya berharap anak-anaknya harus lebih kuat menghadapi apapun termasuk menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain.
Orang seperti Salamat dan Achmad Musodik sebagai orang kecil yang jelas-jelas tidak memiliki kekuasaan hanya bisa pasrah jika diinterogasi petugas. Mereka justru masih bisa berpikir positif cukup dirinya saja yang mengalami interograsi yang disertai dengan ancaman dan kekerasan. Mereka juga tidak berkeinginan membalas dendam walaupun sempat dibikin stres oleh ulah petugas. Bahkan, orang seperti Salamat lebih cenderung untuk kembali bekerja karena ancaman PHK lebih tidak mengenakkan daripada memperpanjang perkara dengan petugas yang ujung-ujungnya pasti dia akan dikalahkan oleh kekuasaan. Begitu juga orang seperti Achmad Musodik, pedagang buah, dia malah lebih berharap agar anak-anaknya tidak menyakiti orang lain walaupun dia sempat disakiti oleh sang pemilik kekuasaan. Rezim orde baru dengan kekuasaannya menyisakan rasa pilu yang mendalam bagi orang-orang kecil. Orang-orang yang jelas-jelas tidak memiliki kekuasaan walaupun demokrasi selalu digaungkan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
***
Masa orang dipaksa mengaku sudah
berlalu. Masa yang menyisakan keperihan dan kepedihan bagi orang-orang yang tidak
punya kekuasaan. Masa sang penguasa melakukan segala cara demi melanggengkan
kekuasaannya. Tapi, masa reformasi seperti sekarang ini bisa dijamin memang
tidak ada lagi orang dipaksa mengaku? Memang, sekarang ini orang bisa
diinterogasi berjam-jam dengan sekian banyak pertanyaan. Mereka dijamin tidak
akan diperlakukan kasar. Kalau nasibnya baik, dia bisa bebas. Kalau nasibnya
apes, bisa langsung masuk hotel prodeo. Khusus untuk mereka yang masuk hotel
prodeo, di pengadilanlah tempat mereka harus menyerah dengan putusan sang hakim.
Biar pun didampingi pengacara berkaliber nasional atau internasional sekalipun kalau
sudah berhadapan kekuasaan, akhirnya mereka yang apes harus masuk hotel prodeo.
Alhasil, baik masa orde baru maupun reformasi sebenarnya sama saja, orang yang
tidak punya kekuasaan akan ditindas oleh penguasa.
Kapankah akan terjadi sang penguasa bisa berbaik hati pada orang-orang yang tidak punya kekuasaan? Orang hanya bisa menjawab `au ah gelap` atau `emang gue pikirin`. Susah untuk menjawabnya karena serba tidak jelas. Semuanya menjadi abu-abu. Orang banyak bilang ganti kekuasaan cuma ganti baju. Orangnya sama saja. Maksudnya, di sini perilakunya sama saja. Tidak akan pernah berubah. Mau orang muda atau generasi milineal yang berkuasa atau ABG (Angkatan Babe Gue) alias orang tua juga sama kalau dari segi perilakunya tetap sama karena yang ada pada dirinya adalah sikap `aji mumpung`. Selagi memegang kekuasaan buat mereka yang berkuasa apa salahnya memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lain. Kalau perlu,setiap orang yang berkuasa ada keinginan untuk berkuasa selamanya. Soal menguatik-atik aturan tinggal menekan anggota parlemen yang matre dan fatalis. Apa yang tidak bisa dikutak-katik di negara ini?
***
Memikirkan nasib bangsa yang tertindas
karena ketiadaan kekuasaan membuat setiap orang yang punya hati nurani hanya
mengelus dada. Tidak bisa berbuat apapun. Melakukan pembiaran juga membikin
dada ini sesak. Kalau sudah begitu, mau mengadu pada siapa? Orang yang masih
ada iman hanya mengadu pada Tuhan. Dia akan mengetuk pintu langit karena di
sana pasti ada jawaban. Di sana pasti ada ketenangan ketika dia sudah mengetuk
pintu langit. Wallahu`alam bissawab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar