Sangka Buruk Tommy
Cerpen
Subagio S.Waluyo
Setiap rabu dan sabtu pagi Tommy
bersepeda. Di dekat pertigaan jalan yang dilewatinya Tommy seringkali melihat
anak gadis berusia belasan tahun memegang kardus kusam bertuliskan `tolong
sedekahnya untuk adik-adik saya yang belum makan`. Setiap kali melihatnya,
setiap kali pula Tommy berkomentar walaupun hanya di dalam hati `Masih muda
sudah minta-minta. Memang dasar pemalas. Jiwanya jiwa pengemis.` Itu-itu saja
yang selalu dikomentarinya. Terkadang ketika berkendaraan dengan anak-anak dan
istrinya Tommy juga berkomentar dengan ucapan yang sarkasme `Dasar pemalas,
kerjanya cuma minta-minta`. Mendengar ucapan yang sarkasme, spontan istrinya
mengomentarinya `Jangan begitu Yah. Kalau gak ngasi juga gak apa-apa. Lebih
baik diam daripada keluar kata-kata yang kurang baik`. Anak-anaknya juga
mengaminkan ucapan ibunya. Tommy cuma diam saja. Dia enggan menimpalinya.
Sabtu pagi ini Tommy seperti biasa
bersepeda. Dia lewati jalan yang sama. Tapi, pagi ini dia tidak menemukan anak
gadis belasan tahun yang memegang kardus. Rabu pagi juga dia tidak
menemukannya. Selang sepekan, sabtu pagi berikutnya, dia juga tidak
menemukannya. Dia jadi bertanya-tanya dalam hati ke mana gerangan gadis belasan
tahun yang memegang kardus yang biasa ada di dekat pertigaan jalan? Dia
penasaran. Rasa penasarannya menuntunnya untuk mendekati dua orang
peminta-minta, suami-istri, yang juga sering berada di dekat pertigaan jalan
yang sering dia lewati.
“Pak, maaf, anak gadis yang biasa di
dekat pertigaan jalan itu ke mana ya? Kok, dah seminggu lebih gak kelihatan?”
“Sudah meninggal Pak.”
“Sudah meninggal?”, tanyanya heran.
“Iya sudah meninggal. Dia kamis yang
duluan ditabrak truk. Sama bos pake ambulans langsung diantar ke kampungnya, di
Brebes.”
“Ditabrak truk?. Terus diantar bos ke
Brebes? ”, tanya Tommy penuh selidik.
“Ya, Pak. Dia ditabrak truk sampe
badannya berlumuran darah. Kepalanya hancur. Sudah gak bisa dikenalin mukanya.”
Deg, Tommy bergidik mendengar
keterangan pengemis itu.
“Bapak tahu kampungnya gak?”
“Tahu Pak. Dia `kan sekampung sama
saya.”
“Kalo gitu, Bapak bisa anter saya
besok ke kampungnya.”
“Bisa aja Pak. Tapi, saya `kan harus
nyetor ke bos.”
“Nyetor ke bos?”, tanyanya heran.
“Ya, harus nyetor?”
“Sampean biasanya nyetor berapa ke
bos?”
“Seperempat dari yang saya dapat”,
kata si bapak.
“Sampean biasanya dapat berapa
sehari?”
“Sekitar 100 sampe 200 ribu.”
“Iaudah saya kasi sampean besok 200
ribu. Mau gak?”
“Ya…ya…Mau Pak.”
“Besok pagi sampean sama istri nunggu
di sini aja. Nanti saya jemput.”
“Siap Pak!”
***
Besok paginya, hari minggu, dua
pengemis itu telah menunggu kedatangan Tommy. Tidak seperti biasanya, kini
mereka berpakaian rapi dan tidak lusuh. Tommy menyapanya dan mempersilakan
mereka duduk di kursi belakang. Selama dalam perjalanan kedua orang pengemis
itu menyampaikan kalau korban, Nurul Hasanah, adalah gadis berusia enam belas
tahun. Pendidikannya hanya sampai tamat SD. Gadis yang biasa dipanggil Nurul
itu kedua orangtuanya sudah tidak ada. Adik-adiknya dua orang masih
kecil-kecil. Mereka tinggal dengan kakek dan neneknya. Karena kondisi ekonomi
yang lemah, setamat SD Nurul mencari kerja di Jakarta. Dia diajak tetangganya
untuk kerja sebagai pengemis. Seperti yang biasa terjadi di kalangan pengemis,
ketika baru saja dia menjadi pengemis, sang bos minta Nurul untuk berhubungan
badan meskipun waktu itu usianya baru dua belas tahun. Nurul yang memang lugu
dan lemah tidak bisa menolak. Jadi, dalam usia yang demikian muda Nurul telah
hilang keperawanannya. Sejak itu kalau hasrat seksual bosnya sedang naik dia
diminta untuk melayaninya.
Hasil dari meminta-minta memang
sebagian diberikan ke adik-adiknya di kampung. Memang benar juga kalau uang
hasil meminta-minta itu bukan hanya buat makan kedua adiknya, tetapi juga
kakek-neneknya. Kelebihannya digunakan untuk biaya pendidikan kedua adiknya.
Kalau tetangga-tetangganya yang juga sama-sama peminta-minta rumahnya
bagus-bagus, tidak demikian dengan Nurul. Rumah Nurul di kampung tetap yang
paling buruk dan lapuk. Uang kelebihan dari meminta-minta sering diminta oleh
bosnya yang juga sekaligus sebagai pacarnya. Mendengar penjelasan kedua
pengemis itu Tommy cukup kaget. Dia merasa bersalah kalau selama ini telah
bersangka buruk pada gadis belasan tahun peeminta-minta yang menjadi korban
kecelakaan. Sebelum keluar dari jalan tol yang menuju kampung tempat tinggal
Nurul, di rest area terdekat dia minta supirnya untuk istirahat
sebentar. Tanpa sepengetahuan mereka Tommy menuju ATM. Tommy menarik uang dari
rekeningnya yang segera dimasukkan ke amplop yang sudah dia sediakan.
***
Hari masih belum begitu siang ketika
mereka memasuki kampung yang boleh dikatakan sebagian besar warganya biasa
mencari nafkah sebagai pengemis di berbagai kota besar di Jawa. Tommy sempat
kaget juga melihat rumah-rumah mereka yang ternyata cukup mewah untuk ukuran
sebuah kampung. Jalan menuju ke rumah Nurul juga terbilang bagus. Begitu juga
masjid dan kantor desanya.
“Ini semua dari hasil mengemis Pak.
Saya sama teman-teman urunan dari hasil mengemis buat bangun jalan, masjid,
sama kantor desa”, jelas si bapak.
“Dari hasil mengemis sampean sisihkan
buat bikin ini semua?”
“Ya, Pak. Karena memang gak ada
bantuan dari pemerintah”, jelas di bapak.
“Wah, hebat juga nih! Warga kampung
ini lebih hebat dari kami orang kota. Orang kota mana mau nyumbang buat bikin
ini semua.”
“Nah, itu rumah Nurul Pak”
“Seperti yang saya sampein tadi, rumah
Nurul paling jelek di kampung ini. Dia gak bisa nabung karena duitnya banyak
diambil sama bosnya yang juga pacarnya.”
“Ya”
Di depan rumahnya kakek dan nenek
Nurul ditemani kedua adiknya langsung menyambut kedatangan Tommy dan kedua
pengemis yang mengantarnya. Karena memang tidak memiliki apa-apa, kakek dan
nenek Nurul hanya menyediakan minuman dan sedikit penganan kampung. Sebagai
rasa hormat pada tuan rumah, Tommy meminum air yang disediakan. Setelah sedikit
bincang-bincang, Tommy menyerahkan amplop yang telah disediakan pada kakek
Nurul. Orangtua itu kaget juga ketika Tommy memberikan amplop yang cukup tebal.
Semula sang kakek menyangka kalau Tommy adalah penabrak cucunya. Tapi, setelah
dijelaskan oleh kedua pengemis itu dia meminta maaf pada Tommy. Tommy juga
berjanji pada mereka kalau sepulangnya dari rumah Nurul akan berusaha mencari
dana dari teman-teman koleganya dan berbagai yayasan yang peduli pada
orang-orang duafa untuk membiayai kedua adiknya Nurul sekaligus merenovasi
rumahnya. Setelah selesai urusannya, Tommy pamit untuk kembali pulang.
***
Kedua pengemis yang mengantar Tommy
memintanya mampir sebentar di rumahnya. Tommy juga sempat kaget melihat
rumahnya. Kali ini Tommy tidak seperti biasanya yang sering berkomentar
walaupun hanya dalam hati. Tommy telah banyak belajar dari kasus gadis belasan
tahun peminta-peminta yang harus meregang nyawa karena membantu adik-adik dan
kakek-neneknya di kampung yang saat ini dikunjunginya. Tapi, ketika melihat
foto-foto anak-anak pengemis yang diwisuda di salah satu PTN Tommy sempat
bertanya.
“Itu siapa, Pak?”
“Itu anak-anak saya. Ini anak saya,
laki-laki, yang pertama. Dua tahun lalu lulus dari UNY.”
“Nah, ini yang kedua. Juga dah lulus
bulan lalu dari UPN Veteran Jogja”, tambahnya.
“Wah, anak-anak Bapak hebat-hebat
sudah pada sarjana”, puji Tommy.
“Terima kasih, Pak.”
“Anak yang pertama sekarang jadi guru
di Semarang. Alhamdulillah, sekarang sudah PNS di SMA Negeri”,tambahnya.
“Alhamdulillah. Nah, kalau yang
kedua?”
“Lagi coba-coba melamar kerjaan, Pak.
Mohon doanya.”
“Insya Allah saya doakan”, janji
Tommy.
“Terima kasih, Pak.”
Beberapa saat kemudian setelah
bincang-bincang Tommy pamit kembali ke Jakarta. Rupanya, kedua pengemis itu
tidak ikut Tommy ke Jakarta. Sebelum meninggalkan rumah kedua pengemis itu,
Tommy sesuai janjinya memberikan dua lembar uang ratusan ribu rupiah.
***
Dalam perjalanan pulang Tommy banyak
merenung. Dia merasa berdosa pada gadis peminta-minta karena selama ini
bersangka buruk. Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan sangka buruknya. Di
dalam hatinya dia mengadukan perlakuan buruknya:”Ya, Allah aku telah berbuat
zalim karena berprasangka buruk pada hamba-Mu. Aku merasa sia-sia saja segala
amalku. Mungkinkah melalui-Mu, ya Allah, aku bisa menutup rasa maluku pada
seorang hamba-Mu yang telah aku nodai lewat prasangka burukku? Ya, Allah aku
berazam untuk membantu keluarganya. Semoga Engkau mengampuni hamba-Mu ini yang
telah berlumur dosa. Amin. Yaa robbal alamin.”
Sesampainya di rumah, Tommy mencium tangan
istrinya dan menangis sesunggukan. Istrinya heran melihat perilakunya. Tapi,
sebagai istri yang cerdas dia segera maklum atas sikap suaminya. Istrinya tidak
mau bertanya kenapa tiba-tiba saja suaminya mencium tangannya dan menangis
sesunggukan. Dia hanya berpesan pada suaminya.
“Sudah Yah, lain kali kita gak usah
bersangka buruk pada orang. Mudah-mudahan kebaikan Ayah pada mereka dibalas
Allah dengan kebaikan. Yang lebih penting lagi mudah-mudahan Allah memaafkan
kesalahan Ayah.”
“Amin!”, jawab Tommy.
Kota Bekasi, 10 Juli 2025.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar