Kacang Lupa akan Kulitnya
Subagio S.Waluyo
“Yah, teman Ayah tuh! Sekarang dah
jadi orang hebat tuh. Wakil menteri dan komisaris di salah satu BUMN.
Benar-benar dah jadi orang kaya dia, Yah”, kata anak Pak Haris.
“Ya, dia memang beruntung. Dulu datang
ke Jakarta masih kost di kontrakan lusuh dekat kampus. Ya, itulah nasib orang
cuma Allah yang tahu”, kata Pak Haris berupaya menjelaskan.
“Ya, kalo ayah `kan cuma pensiunan
PNS. Jadi, gak kayak dia walaupun usianya jauh di bawah ayah, rizkinya di atas
ayah”, kata anak Pak Haris ngeledek.
“Biar cuma pensiunan PNS golongan IV/A,
kita layak bersyukur. Anak-anak ayah gak ada yang pendidikannya rendah. Kamu
dan kakak-kakakmu dah selesai S1 `kan? Kakak kamu yang tertua sampai jadi dokter
spesialis saja masih ayah bantu biaya kuliahnya walaupun gak sepenuhnya. Jadi,
sekali lagi kita layak bersyukur pada Allah”, kata Pak Haris menegaskan.
“Ya, kita layak bersyukur, Yah, karena
di Quran `kan dah jelas Yah, kalo tidak bersyukur Allah akan memberikan azab
yang pedih”, kata anak Pak Haris.
“Tapi, teman kita itu Yah, sekarang
semakin jauh dari kita”, celetuk istri Pak Haris.
“Maksudnya?”, tanya Pak Haris.
“Iya, dia itu ibarat `kacang lupa akan kulitnya`, begitu sudah pegang jabatan tinggi di negara ini lupa sama teman-temannya
dulu yang pernah banyak bantu dia”, kata istri Pak Haris menjelaskan.
“Ingat gak, yah? Dulu waktu masih kost
di dekat kampus tempat dia belajar kita sering tengokin dia. Kita kasi dia
makanan, pakaian, bahkan uang kuliah yang kita usahakan bantuan dari yayasan
baitul mal pakai nama ayah karena orangtuanya telat ngasi kiriman. Selesai kuliah dia pergi ke mana tahu gak jelas. Eh,
tahu-tahu dia sudah jadi anggota dewan di kampungnya. Habis masa jabatannya jadi
anggota dewan di kampungnya, dia jadi anggota dewan di pusat. Sekalipun dia gak
pernah tuh nengokin kita. Makanya, orang kayak gitu sama seperti `kacang lupa akan kulitnya`. Sekarang dah jelas `kan, yah?”, tanya istri Pak Haris.
Pak Haris hanya manggut-manggut saja
mengakui apa yang dikatakan istrinya tidak bisa dibantah.
***
Kuncoro, teman Pak Haris yang sekarang
jadi wakil menteri sekaligus komisaris di salah satu BUMN di negara ini dulunya
termasuk mahasiswa teladan yang lulus summa cumlaude. IPK-nya tinggi mendekati 4.0.
Selain itu, Kuncoro juga aktif di kegiatan mahasiswa. Terakhir, di kampusnya
Kuncoro menjabat sebagai Ketua BEM. Kuncoro muda pada waktu itu adalah
mahasiswa cerdas dan idealis. Ketika di negara ini terjadi gunjang-ganjing,
Kuncoro ikut terlibat sebagai pimpinan demo, baik di dalam maupun di luar kampus.
Kuncoro bersama teman-temannya waktu itu juga termasuk yang ikut menduduki
gedung parlemen sampai beberapa hari. Selepas pergantian kekuasaan Kuncoro
direkrut oleh partai terbesar di negara ini menjadi kader sekaligus salah satu pengurus
partai. Karena waktu itu Kuncoro ingin memulainya menjadi anggota dewan di
tingkat daerah saja, jadilah Kuncoro anggota dewan di kabupaten asalnya. Lima
tahun masa jabatan sebagai anggota dewan demikian singkat. Karena diminta partainya untuk menjadi anggota dewan di
pusat dengan daerah pemilihan tetap dari kampungnya, Kuncoro termasuk yang
beruntung bisa melenggang ke gedung kura-kura di Senayan. Tanpa terasa empat
periode Kuncoro menjadi anggota dewan di pusat. Selesai masa baktinya selama
dua puluh lima tahun jadi anggota dewan, Kuncoro diangkat menjadi wakil menteri
sekaligus juga komisaris di salah satu BUMN terbesar di negara ini.
Orang masih ingat sepak terjang
Kuncoro selama jadi anggota dewan. Kuncoro memang bisa menunjukkan diri sebagai
orang yang penuh percaya diri. Bukan hanya itu, Kuncoro juga memiliki retorika
yang baik ketika berbicara. Kuncoro benar-benar orang yang kritis dan trengginas. Kuncoro pandai berargumen. Tidak ada istilah menyerah kalau berdebat. Tidak aneh Kuncoro sering
diwawancarai berbagai media mainstream, baik media lokal, nasional,
maupun internasional. Bahkan, Kuncoro juga kerap diikutsertakan dalam
debat-debat di berbagai media dan perguruan tinggi. Belakangan ini Kuncoro
tidak lagi banyak dilibatkan dalam konferensi pers dan debat-debat. Mungkin karena kesibukannya di
kementerian dan di BUMN sebagai komisaris.
Pak Haris sempat merenung tentang
temannya, ketika setiap lima tahun sekali berkampanye di daerah pemilihannya,
Kuncoro benar-benar berjibaku siang-malam menyambangi rumah-rumah penduduk.
Kuncoro juga tidak segan-segan memberi bantuan entah sembako bahkan uang kepada
penduduk miskin. Seperti biasanya, Kuncoro sebagai calon anggota dewan juga
tidak segan-segan mengumbar-ngumbar janji kepada penduduk miskin kalau akan
memperjuangkan nasib mereka. Juga seperti biasanya kalau sudah jadi anggota
dewan berlaku lagi `kacang lupa akan kulitnya`, Kuncoro lupa akan
janji-janjinya ketika kampanye dulu. Mungkin karena masyarakat yang ada di
daerah pemilihannya sama seperti daerah-daerah lain, punya memori pendek alias
cepat lupa. Dengan diberikan bantuan sembako plus uang mereka masih tetap
memilih Kuncoro.
Pak Haris juga tidak habis pikir
kenapa anggota dewan yang katanya wakil rakyat yang cerdas, kritis, trengginas,
dan retorikanya bisa menarik orang ketika berbicara, kok bisa-bisanya
melahirkan undang-undang kontroversial yang sekarang memunculkan masalah besar
buat negara ini? Pak Haris bisa tunjukkan begitu banyak kebijakan negara yang
lahir dari parlemen yang juga disetujui oleh sebagian besar anggota dewan yang
menimbulkan keresahan masyarakat. Pak Haris jadi curiga dengan aktivitas
anggota dewan selama ini, jangan-jangan mereka
ada benarnya seperti yang dikatakan Iwan Fals di bait akhir lagunya
`Surat dari Rakyat` yang menulis liriknya:
Wakil rakyat
seharusnya merakyat
Jangan tidur
waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat
bukan paduan suara
Hanya tahu
nyanyian lagu "setuju......"
Ah, anggota dewan sekarang ini hidupnya
seperti di menara gading. Begitu mereka mendapat tunjangan rumah yang menurut
ukuran masyarakat biasa tergolong besar, langsung saja mereka joget-joget sehingga
bikin rakyat kecil yang melihatnya naik pitam, tidak suka dengan perilakunya. Rakyat
kecil yang hidupnya sudah demikian susah, jelas tidak bisa menerima perilaku
mereka: anggota dewan yang katanya wakil rakyat yang terhormat. Bukankah perilaku
itu menunjukkan mereka tidak punya kepedulian. Mereka juga tidak hidup
merakyat? Jangan-jangan juga ketika pengesahan undang-undang yang akhirnya
melahirkan kebijakan yang kontroversial mereka sedang terlelap tidur? Akhirnya,
serentak mereka hanya mengucapkan `setuju` seperti yang dikatakan Iwan Fals di
bait terakhir lirik lagunya itu? Melihat gaya hidup dan perilaku mereka yang
tidak mengundang simpati, Pak Haris berkesimpulan, sebenarnya yang menjadi
pemicu demo besar-besaran bukan hanya di Jakarta tapi juga di beberapa daerah
dan berakhir dengan anarkis ini boleh jadi salah satunya dari perilaku anggota
dewan yang hidupnya tidak merakyat.
Tengah merenung dan memikirkan kondisi
bangsa ini yang anggota dewannya lebih merupakan wakil partai daripada wakil
rakyat, ponsel Pak Haris tiba-tiba bergetar, ada panggilan dari nomor yang
tidak dikenal. Biasanya Pak Haris tidak mau merespon panggilan yang tidak
dikenal nomornya. Tapi, kali ini Pak Haris penasaran dan langsung
mengangkatnya. Di seberang sana,
tiba-tiba saja ada orang yang memberi salam yang suaranya sangat dikenalnya.
Ternyata, Kuncoro teman dan tetangganya dulu yang sekarang jadi pejabat tinggi
di negara ini.
“Assalamualaikum, Bos”, sapa Kuncoro.
“Waalaikum salam. Jangan sapa saya bos
dong!”, kata Pak Haris.
“Sampean `kan layak disapa bos `kan.
He..he..heh!”, terdengar tawa Kuncoro dari kejauhan.
“Saya `kan dah gak punya jabatan masa
disapa bos. Justru, yang bos itu sampean sekarang. Ha…ha..ha!”, balas Pak Haris
penuh keriangan.
“Ngomong-ngomong ada apa nih? Kok
tumben-tumbenan pejabat negara terhormat nelpon saya nih?”, tanya Pak Haris.
“Jangan sebut saya pejabat negara
terhormatlah. Saya `kan juga sama rakyat biasa seperti sampean”, kata Kuncoro.
“Iya, `kan memang layak sampean
disebut pejabat negara.”
“Ya, memang saya pejabat negara kalau
ada di kantor kementerian atau di BUMN. Tapi, kalau lagi nelpon sama sampean
saya tetap seperti yang dulu”, jelas Kuncoro.
“Baik kalau gitu Mas Kuncoro”.
“Nah, gitu dong. Gini ya, saya mau
silaturahim ke rumah sampean. Kapan sampean ada waktu?”, tanya Kuncoro.
“Mau silaturahim? Sebuah kehormatan
nih, baru kali ini seorang pejabat tinggi di negara ini mau silaturahim ke
rumah saya? Kalau mau silaturahim ke rumah saya bisa kapan saja. Maklum, saya
`kan sudah pensiun. Waktunya sudah lebih luanglah.”
“Baik. Kalau gitu nanti malam saya ke
rumah sampean ya?”, tanya Kuncoro.
“Ya. Silakan!”
“Jangan lupa tolong di-sharelock
lokasi rumah sampean”, pinta Kuncoro.
“Siap!”
“Terima kasih ya. Assalamualaikum!”.
“Waalaikum salam”
***
Pak Haris segera memberitahukukan
istrinya kalau Kuncoro mau datang ke rumahnya. Istrinya kaget mendengar berita
itu. Istrinya juga merasa bersalah sudah terlanjur menyampaikan kalau orang
seperti Kuncoro sama dengan pejabat-pejabat tinggi lainnya yang termasuk `kacang
lupa akan kulitnya`. Kuncoro memang layak mendapat sebutan itu. Tapi, kali ini
Kuncoro mau berusaha menghapus stigma itu dengan berkunjung ke rumah Pak Haris.
“Dia mau ke rumah kita, yah?”, tanya
istrinya.
“Iya tadi di telpon”, jelas Kuncoro.
“Awas ya nanti kalau dia ngasi
pekerjaan jangan diterima? Ayah sekarang walaupun sudah pensiun sudah ada
kegiatan dengan yayasan baitulmal yang ngurusin anak-anak duafa. Ayah
juga sekali-sekali masih diminta kantornya sebagai widyaswara ke luar kota. Jadi,
gak usah lagi nambah-nambah kerjaan di luar yang sudah ayah kerjakan”, cerocos
istrinya.
“Insya Allah ayah akan konsisten
dengan ucapan ayah kalau gak mau lagi ada aktivitas di luar yang sudah ayah
kerjakan”, janji Pak Haris pada istrinya.
***
Selepas Pak Haris salat isya di masjid,
Kuncoro benar-benar sudah sampai di rumahnya. Kedua sahabat yang sudah cukup
lama tidak bertemu itu langsung saja bersalaman dan berpelukan. Pak Haris yang
sudah tidak lama melihat sahabatnya agak sedikit pangling karena Kuncoro tubuhnya
benar-benar tambun dan seluruh rambutnya yang dulu hitam sudah berubah putih
semua.
“Sampean gimana kabarnya Mas Kuncoro?”,
tanya Pak Haris.
“Alhamdulillah sehat. Keluarga juga sehat”
“Wah, saya benar-benar kaget nih
kedatangan pejabat tinggi. Mas Kuncoro gak dikawal staf khususnya?”, tanya Pak
Haris.
“Gak usahlah. Cukup supir aja yang
nganter saya.”
“Lha, kok cuma sendirian kemari gak bawa
istri?”, tanya Pak Haris.
“Lagi sibuk dia. Malam ini harus
jalanin operasi pasang ring di rumah sakit. Maklum dokter spesialis jantung. Sewaktu-waktu
dipanggil untuk ikut operasi jantung”, jelas Kuncoro.
“O, iya udah kalo gitu. Sebentar ya,
saya mau menyiapkan minuman ringan.”
“Ya, silakan! Gak usah repot-repot Pak
Haris!”, pinta Kuncoro.
“Gaklah cuma minuman dan sedikit
penganan ringan.”
Tidak lama kemudian Pak Haris
meletakkan minuman dan penganan ringan yang memang sudah disiapkan sebelum tamunya
datang.
“Ayo, Mas Kuncoro, diminum. Dicobain nih
penganan buatan istri saya!”, kata Pak Haris.
“Ya, terima kasih Pak Haris.”
“Nah, ada apa nih, gak ada hujan gak
ada angin tiba-tiba saja sampean datang kemari?”, tanya Pak Haris.
“Saya datang kemari nih yang pertama
mau menghapus stigma yang melekat di diri saya yang gak enak didengar”, jelas
Kuncoro.
“Apa itu?”, tanya Pak Haris.
“Itu lho, stigma yang menyebut `kacang
lupa akan kulitnya`. Orang `kan pasti sering ngucapin itu ke saya”, jelas
Kuncoro.
Pak Haris sempat terdiam. Kaget juga
dia karena Kuncoro mengucapkan pepatah yang sudah cenderung jadi stigma.
“Orang seperti sampean `kan sudah
sering lihat saya di berbagai media ketika saya diwawancarai atau ketika ada
debat. Mungkin saja di benak sampean `ini orang sudah jadi pejabat tinggi gak
pernah silaturahim ke teman-teman lama ibarat kacang lupa akan kulitnya`, iya `kan.
Akui saja. Saya gak maksa, ya sampean mengakuinya. Saya sih ikhlas kalau ada
orang menyampaikan hal seperti itu. Memang, itu kesalahan saya. Jadi, sekalian
saya minta maaf nih ke Pak Haris dan keluarga kalau selama ini saya lalai untuk
silaturahim ke rumah bapak”, jelas Kuncoro.
“Ya. Sama-sama Mas Kuncoro. Saya juga
sebagai orang yang lebih tua minta maaf kalau ada kesalahan”, kata Pak Haris.
“Nah, yang kedua, sampean `kan dah
pensiun, saya mau ngasi kerjaan di kantor saya biar ada kesibukanlah buat
sampean dan sedikit tambahan”, pinta Kuncoro.
“Wah, kalau masalah kerjaan selepas
pensiun justru saya banyak kegiatan dengan masyarakat, Mas”, jelas Pak Haris.
“Iya betul. Tapi, `kan kegiatan di
masyarakat gak mencukupi buat kebutuhan Pak Haris dan keluarga”, kata Kuncoro.
“Mas Kuncoro, saya nih sudah gak
banyak tanggungan. Di rumah ini cuma saya bertiga, saya, istri saya, dan anak saya yang
bungsu. Dari uang pensiun dan uang tambahan dari kegiatan saya di yayasan
baitulmal sudah cukup. Belum lagi dari kantor saya yang lama karena saya masih
diberdayakan sudah lebih dari cukup. Jadi, saya dengan hormat menolak tawaran
kerjaan dari sampean. Saya mau benar-benar nikmati masa-masa pensiun saya.
Kalau dulu saya jarang bepergian, yang kata orang sekarang itu healing,
sekarang saya begitu ada kesempatan langsung jalan saja bertiga. Sewaktu-waktu
juga bersama keluarga besar saya. Mohon maaf saja ya, kalau saya menolak
tawaran Mas”, pinta Pak Haris.
“Ya. Gak apa-apa kalau sampean memang
gak mau. Saya bisa memakluminya kok!”, kata Kuncoro.
Setelah cukup lama berbincang-bincang disertai dengan candaan-candaan yang menggelikan mereka berdua, Kuncoro pamit pulang. Pak Haris dan istrinya mengantar Kuncoro sampai pintu pagar rumahnya. Pak Haris juga berjanji untuk silatuharim ke rumah Kuncoro. Sepulangnya Kuncoro dari rumahnya, Pak Haris sempat termenung karena sempat terlintas di benaknya kalau Kuncoro sudah lupa dengan teman-temannya yang dulu pernah diakrabinya. Sampai-sampai keluar pepatah `kacang lupa akan kulitnya`. Pepatah yang cenderung menjadi stigma itu khusus buat Kuncoro sejak temannya itu silaturahim ke rumahnya mulai dihapus dari benaknya. Ah, malam itu benar-benar menjadi sebuah kebahagiaan buat Pak Haris karena tidak berlama-lama berprasangka buruk pada temannya yang telah datang mensilaturahiminya.
Kota Bekasi, 15 September 2025
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar