Jangan Kirimi Karangan Bunga
Cerpen
Subagio S.Waluyo
Pak
Haji Nasir dikenal sebagai orang yang dermawan. Pak Haji Nasir saking
dermawannya setiap ada orang yang berkabung atau menikahkan anaknya, baik orang
kaya maupun miskin kerap mengirimi karangan bunga. Tapi, suatu saat dia
berpikir dua kali setelah mendengar ceramah seorang ustadz di masjid tempat dia
biasa salat berjamaah yang mengatakan kalau mengirimi karangan bunga adalah
pekerjaan yang mubazir. Ditegaskan lagi oleh sang ustadz sebagai pekerjaan yang
sia-sia. Mendengar ceramah itu dia berusaha bertanya pada anggota keluarganya
(salah satu kebiasaan yang menurutnya positif sebelum dia mengambil keputusan).
“Bu, apa benar kalau orang mengirimi
karangan bunga itu pekerjaan yang mubazir dan sia-sia?”, tanya Pak Haji Nasir
pada istrinya.
“Kata siapa, Pak?”, istrinya balik
bertanya.
“Kata ustadz yang tadi ngasi pengajian
di masjid”, jelasnya.
“Memang benar itu pekerjaan yang
mubazir dan sia-sia”, jawab istrinya.
“Ya, Pak. Aku setuju sama ceramah
ustadz tadi di masjid”, anak laki-lakinya juga mengaminkan ucapan ibunya.
“Kalo gitu, yang bapak lakukan selama
ini mengirimi orang-orang yang menikahkan anaknya atau yang sedang berduka
dengan karangan bunga sia-sia amalannya?”, tanyanya penasaran.
“Ya, Pak. Jelas salah itu. Bapak gak
usah lagi kirim-kirim karangan bunga. Mubazir Pak. Uang dibuang-buang. Habis
acara besok juga jadi sampah. Gak dilihat orang”, anaknya yang sudah agak
dewasa ikut menimpali seperti memberikan ceramah di hadapan bapaknya.
“Ya. Aku berjanji mulai saat ini gak
lagi kirim karangan bunga”, kata Pak Haji Nasir mantap.
“Nah, gitu dong. Nanti uang Bapak buat
keperluan yang lain aja, misalnya buat membantu orang yang kesusahan atau
disalurkan ke yayasan-yayasan yang peduli sama orang-orang susah. Ingat Pak,
sekarang banyak orang yang hidupnya susah”, kata anaknya mengingatkannya.
“Ya. Insya Allah aku lakukan.”
“Pak, nanti kalo aku nikah `kan pasti
banyak orang yang ngasi karangan bunga, kira-kira Bapak mau menerima gak?”,
tanya anaknya yang perempuan.
“Karena aku gak ngirim bunga, mereka
juga gak usah kirim bunga. Bapak minta kesediaan mereka untuk ngasi sumbangan
aja yang nantinya Bapak salurkan ke yayasan-yayasan yang peduli sama
orang-orang duafa. Bisa juga kita bagi-bagi sembako sehabis acara walimahan
kamu. Kira-kira kamu setuju gak?”, Pak Haji Nasir balik bertanya ke anaknya.
“Aku sih setuju aja. Nanti gimana
nyampeinnya?”, tanya anaknya penasaran.
“Nantilah aku atur. Kamu tenang aja!”,
kata Pak Haji Nasir meyakinkan.
“Oke. Kalo gitu, aku tunggu aja janji
Bapak”
***
Pak
Haji Nasir cukup lama menunggu kabar entah berita duka cita atau undangan
pernikahan. Ketika tiba-tiba dari jauh terdengar suara speaker di musala
di luar komplek perumahannya berita duka cita, dia buru-buru mencatat nama dan
alamat rumahnya. Dia sudah niat akan mendatangi rumah duka. Kalau yang
ditakziah nanti terbukti orang tidak mampu, dia akan memberikan uang duka dan
tahlil untuk tiga hari. Sebaliknya, kalau orang kaya, dia hanya mengasi uang
seperti biasanya ketika takziah. Kali ini mau dibuktikan, kalau dia tidak
mengirimi siapapun orangnya karangan bunga.
Selesai
wudu dan berpakaian rapi, dia segera berangkat ke tempat duka. Sesampainya di
rumah yang dituju, ternyata keluarga yang ditinggalkannya termasuk tergolong orang
susah. Baru saja sampai di rumah yang ditujunya, ada tetangganya di komplek
perumahannya menyapanya.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”, jawabnya.
“Pak Haji sendiri aja kemari”, tanya
tetangganya.
“Ya. Pak.”
“Bapak tumben gak ngirim karangan
bunga?”, tanya tetangganya.
“Daripada saya ngasi karangan bunga,
mending saya ngasi uang aja buat bantu-bantu orang yang berduka. Mubazir Pak,
ngasi karangan bunga!”, jelas Pak Haji Nasir.
“Bapak `kan tahu kalo KH Muhammad
Yasin waktu ceramah tempo hari nyampein ke jamaah kalau kirim karangan bunga
buat siapa saja orang yang berduka atau walimahan itu mubazir dan sia-sia
amalannya”, kata Pak Haji Nasir mengingatkan tetangganya.
“Ya. Saya tahu itu.”
“Nah, kalau dah tahu, sekarang kita praktekkan.
Jadi, kita gak usah lagi kirim-kirim karangan bunga.”
“Paham ya?”, tanyanya.
“Ya,ya. Saya paham. Terima kasih sudah
diingatkan.”
“Saya mau nemuin dulu ya sohibul
baitnya?”, Pak Haji Nasir minta izin untuk menemui keluarga yang berduka.
“Silakan Pak Haji!”, kata tetangganya
mempersilakan.
Setelah urusan dengan keluarga yang
berduka selesai, keduanya minta izin untuk kembali ke rumahnya.
Dalam
perjalanan pulang Pak Haji Nasir menyampaikan pada temannya kalau dia berencana
mau memberi uang duka sebagai ganti karangan bunga. Uang dukanya bisa lebih
besar karena nantinya bisa digunakan untuk acara tahlil selama tiga hari. Tentu
saja uang yang dikeluarkan jauh lebih besar dari harga karangan bunga. Tapi,
bagi Pak Haji Nasir jika dilihat dari manfaatnya jauh lebih bermanfaat.
Tetangganya juga tahu Pak Haji Nasir adalah orang terkaya di komplek
perumahannya. Rumah Pak Haji Nasir termasuk rumah terbesar karena dia membeli
tanah-tanah kosong di seputar rumahnya. Pak Haji Nasir dikenal sebagai juragan
rumah makan Padang. Rumah makan Padang yang dimilikinya terdapat di beberapa
kota besar di Jawa. Selain itu, dia juga mengelola puluhan UMKM. Meskipun
tergolong pengusaha kaya, Pak Haji Nasir dikenal sebagai orang yang dermawan dan
rendah hati. Tidak pernah dia menunjukkan keangkuhannya. Istri dan anak-anaknya
juga sama seperti bapaknya.
***
Dua pekan setelah Pak Haji Nasir takziah ke rumah di luar komplek perumahannya ada undangan pernikahan dari tetangganya di komplek perumahannya. Untuk kedua kalinya, sesuai dengan niatnya, dia tidak kirimi karangan bunga. Dia masukkan uang kondangan yang telah diselipi tulisan:
Dengan
tidak mengurangi rasa hormat,
mohon
maaf kalau saya tidak
mengirimi
karangan bunga. Semoga Bapak/
Ibu berkenan memaafkan kesalahan saya.
Pak Haji Nasir yakin pasti orang yang
mengundangnya kaget. Tapi, dia juga yakin kalau mereka bisa memakluminya. Tidak
hanya sampai di situ, di beberapa tempat juga Pak Haji Nasir melakukan hal yang
sama: tidak lagi mengirimi karangan bunga. Mereka tahu Pak Haji Nasir orang
kaya yang dermawan. Uang kiriman karangan bunga pasti disisihkan untuk kegiatan
di masjid atau di lembaga-lembaga sosial yang kerap kali Pak Haji Nasir secara
rutin mengeluarkan sebagian hartanya. Mereka juga tahu kalau Pak Haji Nasir
jauh dari niat-niat kurang baik. Pasti ada sesuatu yang akan dikerjakan oleh
Pak Haji Nasir.
Pak
Haji Nasir memang diam-diam mengumpulkan dana. Dari yang semula uang yang digunakan
untuk karangan bunga, kini ditabung. Uang yang terkumpul kemudian diberikan
pada orang-orang duafa dalam bentuk pemberian sembako. Pemberian sembako
dilakukan di masjid yang dia sendiri termasuk salah satu pengurusnya. Dengan
adanya aktivitas rutin pembagian sembako, kegiatan di masjidnya semakin
semarak. Semua amal kebaikan yang dilakukannya ternyata membuahkan hasil.
Banyak warga di kompleknya yang mulai ikut-ikutan menyumbang entah dalam bentuk
uang atau bahan-bahan sembako. Kalau sebelumnya hanya menyumbang konsumsi untuk
Jumat Berkah, akhir-akhir ini
warga di perumahannya menyumbang dalam bentuk uang. Bahkan, ada di antara
warganya yang secara rutin mengeluarkan zakat profesinya. Melihat perkembangan
baru itu Pak Haji Nasir bersyukur pada Allah.
***
Beberapa hari sebelum acara pernikahan anaknya yang putri, Pak Haji Nasir menyebarkan undangan. Kali ini dia harus membuktikan kalau orang-orang yang diundang (terutama kalangan sesama pengusaha dan pejabat publik) untuk tidak mengirimi karangan bunga. Dengan `Bismillah` Pak Haji Nasir menyelipkan tulisan di setiap amplop undangan:
Dengan
tidak mengurangi rasa hormat, kami
mohon
agar tidak mengirimi karangan bunga.
Kami
berniat setelah acara pernikahan
anak
kami akan diadakan pembagian
sembako
untuk warga yang
tergolong miskin.
Pak Haji Nasir berdoa agar beberapa
koleganya sesama pengusaha dan pejabat publik bisa memakluminya. Dia juga
menyerahkan semua urusannya pada Allah. Dia yakin semua niat baiknya dikabulkan
Allah.
Ternyata,
tidak ada satupun pengusaha dan pejabat publik yang mengkomplain atau
mengeritisinya. Mereka tahu kalau Pak Haji Nasir bukan termasuk orang yang
punya niat buruk karena meminta mereka untuk tidak mengirimi karangan bunga.
Mereka juga kerap melihat akhir-akhir ini Pak Haji Nasir tidak lagi mengirimi
karangan bunga, entah itu di rumah duka, acara pernikahan, atau launching
perusahaan yang baru dibuka. Mereka melihat pengganti uang karangan
bunga yang diberikan Pak Haji Nasir
justru lebih besar daripada uang yang dikeluarkan untuk karangan bunga.
Acara pernikahan dan walimahan putrinya berjalan lancar dan meriah tanpa karangan bunga. Banyak tamu yang hadir di acara tersebut. Pak Haji Nasir memang mengundang banyak orang. Bukan saja kalangan pengusaha dan pejabat publik, orang-orang jelata juga diundangnya. Setiap tamu yang diundangnya diberikan suvenir berupa buku kumpulan cerpen yang sarat dengan nilai-nilai agama. Di balik cover buku diselipkan kertas yang bertuliskan:
Sesuai
dengan janji yang telah disampaikan
di
undangan yang telah Bapak/Ibu terima,
seusai
acara pernikahan dan walimahan
kami
akan mendistribusikan sembako
sebanyak dua ratus paket.
***
Acara pernikahan dan walimahan baru saja usai. Rasa penat keluarga Pak Haji Nasir belum juga hilang. Keluarga Pak Haji Nasir yang berpegang teguh pada `janji adalah utang yang harus dibayar`, dua hari setelah acara pernikahan dan walimahan langsung melaksanakan niatnya untuk membagi-bagi sembako. Undangan pembagian sembako untuk orang-orang duafa rupanya telah disebarkan jauh hari sebelum acara pernikahan anaknya. Di hari H-nya cukup banyak orang duafa yang hadir. Pak Haji Nasir tentu saja tidak bekerja sendirian. Dia melibatkan remaja-remaja masjid. Dalam waktu singkat dua ratus paket sembako telah terbagi ludes. Pak Haji Nasir benar-benar bersyukur karena telah membantu kesulitan orang-orang duafa. Dia juga menyadari kalau bantuan sembako itu hanya bisa digunakan untuk beberapa hari. Selesai acara Pak Haji Nasir dan beberapa pengurus masjid melakukan rapat. Hasil rapat itu memutuskan lima hal penting buat jamaah masjid dan orang-orang duafa di sekitar masjid:
Pengurus
Masjid Baitul Ummah memutuskan:
1. mulai
saat ini masjid dibuka 24 jam;
2. memberikan
layanan pada setiap musafir
untuk
bermalam di masjid;
3. mengumrohkan
jamaah yang selalu
salat
berjamaah lima waktu dan tepat
waktu
selama enam bulan berturut-turut;
4. merenovasi
rumah-rumah warga yang
tergolong
tidak mampu; dan
5. memberikan
bantuan dana pendidikan bagi
anak-anak jamaah masjid yang berprestasi.
Hasil
rapat yang disebarluaskan itu tentu saja disambut gembira oleh jamaah masjid
dan warga setempat. Pak Haji Nasir yakin dengan hasil rapat yang telah
diketahui banyak jamaah masjid dan warga setempat, infaq masjid akan semakin
bertambah. Dia yakin ke depannya masjid yang turut dikelolanya akan semakin
makmur sehingga stigma buruk yang sering dicibir orang masjid sebagai `museum` karena
hanya dibuka di saat-saat salat atau seperti `menara gading` yang bikin jarak
dengan masyarakat di sekitarnya bisa dihindari. Secara khusus, dia juga yakin
dengan semakin banyak harta yang dimilikinya yang dikeluarkannya untuk semua
kebaikan, Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik.
Kota Bekasi, 13 November 2025.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar