Mama sudah Muak dengan Cara Hidup Papa
Cerpen
Subagio S.Waluyo
Dalam
acara makan malam bersama, ketika satu keluarga menikmati hidangan yang
tersedia di meja, tiba-tiba saja sang ibu berdiri. Sang bapak dan anak-anaknya
yang duduk mengelilingi meja juga terheran-heran karena sang ibu berdiri seraya
berteriak.
“Mama sudah muak dengan cara hidup
Papa!”, teriak sang istri.
“Muak. Kenapa muak Ma?”, tanya
suaminya.
“Papa cuma asik menghitung-hitung
keuntungan dari kayu gelondongan yang Papa ambil dari hutan. Papa gak tahu
berapa banyak orang jadi korban dari hutan yang Papa tebang. Papa tahu gak,
kayu-kayu gelondongan hasil hutan itu sekarang sudah banyak makan korban!”,
cerocos istrinya.
“Lihat nih, di Tamiang! Mobil-mobil
yang terjebak banjir di dalamnya ternyata ada mayat! Ini gak mungkin terjadi
kalau bukan penebangan hutan yang brutal seperti yang Papa lakukan di
sana”, istrinya masih saja mencerocos seperti tidak memberikan kesempatan
suaminya untuk bicara.
“Papa gak usah bicara dulu. Biar Mama
bicara dulu. Papa biar tahu keadaan yang sebenarnya di sana. Nih, lihat! Di You
Tube ini rumah-rumah penduduk di sepanjang DAS roboh semua. Rata sama
tanah. Penyebabnya kayu-kayu gelondongan. Nih, lihat lagi, mobil-mobil yang
terkena banjir. Bukan cuma banjir air, tapi juga lumpur. Coba lihat di dalam
mobil itu! Isinya mayat Pa!”, teriak istrinya.
“Ah itu `kan cuma hasil editan pake
AI”, kata sang suami mencoba mengeles.
“Apa editan pake AI? Kalo Papa gak
percaya turun ke lapangan. Enak aja ini hasil editan. Papa benar-benar kayak
pejabat-pejabat tinggi yang lain yang gak punya rasa kemanusiaan!”, sang istri
masih bersuara tinggi.
“Pake hati nurani Pa kalo bicara.
Jangan asal keluar omongan. Nanti Papa bicara di depan publik ngomong kayak
gitu. Begitu diserang, baru minta maaf”, cerocos istrinya.
“Iya Pa. Itu bukan editan. Itu asli
Pa. Orang turun ke lapangan lihat langsung yang ada di hadapannya.
Teman-temanku juga bilang begitu Pa. Makanya Papa kalo gak percaya ikut kami ke
Tamiang besok”, saran anaknya.
“Besok kalian ke Tamiang? Mau
ngapain?”, tanya sang ayah heran.
“Kok, nanya mau ngapain?”, tanya
istrinya tambah heran.
“Ya, mau terjun langsung ke
lapangan!”, kata istrinya masih meninggikan suaranya.
“Mama berlima ke lapangan bukan cuma
lihat-lihat,tapi juga mau ikut terlibat bantu-bantu mereka yang jadi korban
bencana. Mereka itu Pa, jadi korban kayu gelondongan yang Papa ambil dari
hutan”, jelas sang istri masih dengan suara tinggi.
“Jadi bencana alam kali ini diperparah
karena hutannya ditebang secara serampangan. Termasuk yang Papa kerjakan selama
ini. Papa sama teman-temannya telah melakukan kejahatan membabat habis hutan
sampe 50 ribu hektar di Tamiang. Iya `kan?”, tanya istrinya dengan geram.
Sang
suami tidak berkutik diberondong kata-kata istrinya yang keluar begitu saja.
Baru kali ini istrinya begitu marah terhadapnya. Dari ucapan-ucapannya yang
bernada tinggi disertai pertanyaan-pertanyaan yang nyelekit, dia
menyimpulkan kalau kali ini istrinya tidak main-main. Keempat anaknya juga
walaupun hanya satu orang yang bicara dari sikapnya menunjukkan
ketidaksenangannya pada papanya. Di lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya
dia mengakui kesalahannya selama ini. Tapi, lagi-lagi bisikan setan terkadang
lebih dahsyat daripada bisikan hati nurani sehingga dengan entengnya dia
berucap.
“Silakan aja kalo kalian turun ke
lapangan. Nanti kalo ada apa-apa juga pasti minta tolongnya ke papa juga”,
katanya ketus.
“Apa? Aku akan minta tolong Papa?”,
tanya anak tertuanya.
“Aku mau tunjukin kalo dah lama gak
tergantung sama Papa!”, kata anaknya agak keras.
“Aku dah cukup dewasa Pa untuk
mengambil keputusan”, kata anaknya ketus.
“Papa tahu gak, dulu Papa nyuru-nyuru aku
dan adikku untuk kuliah di luar negeri? Aku dan adikku gak mau. Aku dan adikku
kompak lebih baik kuliah di dalam negeri aja biar kata Papa waktu itu gak
bermutu kuliah di dalam negeri. Dengan aku kuliah di dalam negeri aku jadi tahu
kondisi negara ini. Kalo aku di luar negeri, aku cuma bangga lulusan luar
negeri, tapi gak tahu kondisi negara ini. Kayak sekarang aku jadi tahu kalo
hutan yang Papa babat habis makan korban yang gak sedikit. Papa mau mengganti
semua kerugian yang diderita rakyat karena ulah Papa itu?”, tanya anaknya
dengan sedikit kesal.
“Emang ada apa dengan kondisi negara
ini”, tanya papanya heran.
“Papa belaga pilon ya?”, tanya
istrinya.
“Jangan belaga pilon Pa! Papa itu
dikenal sebagai pebisnis besar yang tiap hari pasti melototin berita-berita
yang berseliweran atau laporan-laporan dari anak buah Papa. Apa jangan-jangan
anak buah Papa sudah memanipulasi data sampe-sampe Papa gak tahu keadaan negara
ini?”, desak istrinya.
“Ya, papa tahu”, jawab sang suami.
“Kalo dah tahu kenapa pake ngomong
begitu? Pake nanya ada apa dengan kondisi negara ini”, tanya istrinya heran.
“Ayo, anak-anak kita beres-beres. Gak
usah lagi diterusin makan malam kita. Kita siap-siap besok pagi habis salat
subuh kita berangkat!”, ajak istrinya pada anak-anaknya.
“Siap, Ma!” kata anak-anaknya
serentak.
Mereka
dibantu asisten rumah tangganya segera beres-beres meja makan yang baru saja
digunakan. Sang papa tidak ikut beres-beres. Dia segera pergi ke ruang tengah.
Setelah terjadi perdebatan di ruang makan, sang papa lebih banyak terdiam.
Entah diamnya sang papa karena mengakui kesalahannya atau mengatur strategi
untuk balik menyerang anggota keluarganya. Maklum, sang papa seorang pebisnis
terkenal yang sudah biasa mengatur strategi. Buat dia debat-debat tadi dianggap
kecil. Dia menganggap istri dan anak-anaknya sedang mood saja dengan
bencana di Sumatra. Nanti kalau sudah turun ke lapangan, dia memastikan istri
dan anak-anaknya tidak akan betah di sana. Mungkin tidak sampai satu pekan akan
balik ke Jakarta. Ah, masa bodo amat. Emangnya gue pikirin begitu
kira-kira yang ada di benaknya.
***
Pukul
02.30 dini hari istri dan anak-anaknya bangun tidur. Tidak seperti biasanya,
mereka langsung mandi. Sehabis mandi mereka berkumpul di musola kecil yang ada
di rumahnya. Mereka melaksanakan salat qiyamul lail. Dia sendiri masih
tertidur karena semalam sempat nonton sepak bola sampai jauh malam. Baru ketika
azan subuh dia terbangun untuk salat berjamaah dengan istri dan anak-anaknya.
Selesai salat, karena masih mengantuk, dia teruskan tidur. Sementara itu, istri
dan anak-anaknya selesai salat langsung siap-siap berangkat ke bandara. Sebelum
berangkat istrinya membangunkannya untuk pamit.
“Pa, mama sama anak-anak mau
berangkat. Mama pamit ya?”, kata istrinya.
“Lha, kalian jadi berangkat?”,
tanyanya.
“Jadi Pa. Mama dah pesan tiket pesawat
tiga hari lalu. Dah ya, Mama sama anak-anak mau berangkat. Hati-hati selama
ditinggal Mama sama anak-anak di rumah”, pesan istrinya.
“Ya”, dengan sedikit heran dia menatap
istri dan anak-anaknya.
Mereka
satu persatu mencium tangan papanya. Satu persatu juga mereka masuk ke mobil
yang sudah siap-siap mau berangkat. Tidak lama kemudian mereka berangkat dan
meninggalkan papanya seorang diri. Sang bapak yang ditinggal sendirian
sebenarnya ada rasa sedih dan kesepian. Baru kali ini mereka pergi tanpa
menyertakan dirinya. Selama ini selalu pergi bersama walaupun sekedar makan
malam bersama di luar rumah. Karena masih digelayuti rasa kantuk sang papa yang
ditinggal sendirian pergi tidur lagi. Sebelum tidur dia masih bergumam Mereka
gak akan bisa lama di sana. Emangnya enak tinggal di tempat yang gak ada aliran
listrik, makan apa adanya, dan gak ada tempat buat istirahat. Sudahlah gak usah
dipikirin. Emangnya gue pikirin.
***
Dia
baru saja tertidur ketika tiba-tiba saja ada orang berjubah yang mendatanginya.
Orang itu memakai jubah putih dan peci putih. Di dagunya ada janggut yang cukup
tebal. Orang itu membawa tasbih. Sambil menghampiri dirinya terdengar suara
zikir yang tidak henti-hentinya. Dia tidak kenal orang itu. Dari air muka yang
tampak dari wajahnya, dia berkesimpulan orang ini orang baik. Orang yang saleh
yang sudah pasti tidak punya niat jahat.
Melihat sosok orang yang mendekatinya yang tidak ada niat berbuat jahat, dia
cenderung berdiam diri. Belum sempat dia menyapanya, orang itu memberikan salam.
“ Assalamualaikum Pak Abdul Gani!”,
sapa orang berjubah itu.
“Waalaikum salam”, jawabnya setengah
heran karena orang itu ternyata tahu namanya.
“Bagaimana kabarnya? Sehat?”, tanya
orang berjubah itu.
“Alhamdulillah sehat. Lho, Bapak ini
siapa? Kok, tahu nama saya?”, tanyanya masih dalam rasa heran.
“Saya ini orang baik yang mau ngajak
Bapak untuk berbuat baik”. Kata orang itu.
“Ya. Tapi, saya belum pernah bertemu
dengan Bapak. Kenapa Bapak bisa tahu nama saya?”, tanyanya masih dalam
keheranan.
“Saya ini orang yang selalu dekat
dengan Allah. Saya selalu menjadikan Allah tempat saya bergantung. Makanya saya
diberi kelebihan oleh Allah tahu orang yang saya datangi. Saya bukan cuma tahu nama
Bapak, saya juga tahu siapa Bapak dan tahu yang tersembunyi jauh di lubuk hati
Bapak”, kata orang itu seperti menceramahinya.
“Tahu sesuatu yang ada lubuk hati
saya?”, tanyanya tambah heran.
“Ya. Saya tahu. Saya tahu Bapak pebisnis
terkenal yang punya hutan sangat luas di Aceh Tamiang. Yang hutannya habis
dibabat nyaris gundul. Setelah gundul Bapak tanami pohon sawit. Sekarang ini
gelondongan kayu hasil Bapak membabat pohon secara brutal memakan korban
di sepanjang aliran sungai. Bapak pasti sudah tahu berapa banyak rumah yang
roboh terhempas gelondongan kayu. Bapak pasti juga tahu berapa banyak
masyarakat yang saat ini tidak lagi punya tempat tinggal. Mereka telah menjadi
tunawisma. Belum cukup sampai di situ, di jalan-jalan banyak mobil yang
terendam lumpur. Lumpur Pak, bukan air yang di dalam mobil-mobil itu ada
orang-orang yang terjebak sehingga mereka mati di dalam mobil itu. Semoga
mereka termasuk orang-orang yang mati syahid. Amin yaa robbal alamin”, kata
orang itu seraya mengangkat kedua lengannya.
“Apakah Bapak masih ngomong kalau itu
semua rekayasa orang-orang yang antipemerintah? Orang-orang yang sengaja
membuat keonaran di negara ini ketika ditimpa bencana?”, tanya orang itu
setengah teriak.
“Tidak. Tidak. Saya memang harus mengakuinya.
Itu memang realita yang ada di lapangan”, katanya setengah ketakutan.
“Alhamdulillah kalau Bapak sudah
mengakuinya”, kata orang berjubah itu.
“Apa perlu saya sampaikan yang saya
tahu biar Bapak benar-benar paham yang terjadi di sana?”, tanya orang berjubah
itu.
“Tidak usah. Saya sudah tahu yang
terjadi di sana”, katanya masih dalam rasa ketakutan.
“Kalau begitu apa yang harus saya
lakukan?”, tanyanya.
Orang
berjubah itu diam sejenak. Orang berjubah itu masih asik dengan zikirnya.
Terdengar samar-samar oleh tuan rumah orang berjubah putih itu beristighfar. Sambil
matanya menyorot ke arahnya. Orang itu berkata.
“Bapak ingin besok mati?”, tanyanya.
Pertanyaan itu tentu saja mengagetkan Pak Abdul Gani.
“Kalau bisa, jangan dulu Pak”, katanya
mengiba.
“Kenapa? Takut mati?”, tanya si orang
berjubah itu.
“Saya belum siap mati Pak. Saya banyak
dosa dan amalan saya masih sedikit Pak”, katanya setengah takut.
“Kalau sudah tahu takut mati, kenapa
Bapak berbuat kesalahan?”, tanya si orang berjubah itu.
“Saya selama ini khilaf Pak. Saya
selalu mengikuti hawa nafsu Pak”, akunya.
“Saya tahu, Bapak itu sebenarnya dulu
orang baik. Bapak mulai rusak ketika jadi pengusaha yang dekat dengan kekuasaan,
ya `kan?”, desak orang berjubah itu.
“Ya, Pak. Saya mulai rusak ketika
masuk dalam lingkungan kekuasaan. Saya jadi lupa diri. Makanya kalau masih
diberi kesempatan hidup saya mau bertobat Pak”, katanya sedikit mengiba.
“Apa cukup bertobat sementara hutan
yang Bapak gunduli itu sekarang makan korban?”, desak si orang berjubah itu.
“Saya mau benar-benar taubatan
nasuha, Pak”, janjinya.
“Kalo bisa…”, katanya.
“Kalo bisa apa?”, belum selesai Pak
Abdul Gani bicara sudah diputus dengan pertanyaan menohok.
“Kalo bisa saya mau mundur jadi
pengusaha kelapa sawit, Pak”, katanya masih mengiba.
“Cukup mau mundur saja?”, tanya si
orang berjubah itu.
“Saya mau serahkan kebun kelapa sawit
itu ke masyarakat dan pemerintah di Tamiang biar dijadikan hutan lagi”,
katanya.
“Terus apa lagi?”, tanyanya.
“Saya bersedia mengganti semua
kerusakan yang berakibat bencana, Pak”, katanya.
“Nanti gimana dengan keluarga Bapak
kalo perusahaan minyak kelapa sawit yang di Tamiang ditutup?”, tanyanya.
“Saya mau merintis usaha dari nol lagi
Pak. Masalah rizki, Insya Allah ada yang menjamin Pak”, katanya.
“Siapa yang menjamin?”, tanya si orang
berjubah itu.
“Allah pasti yang menjamin, Pak”, kata
Pak Abdul Gani mantap.
“Bapak benar-benar mau berjanji, ya?”,
tanya si orang berjubah setengah mengancam.
“Ya, saya berjanji Pak”, katanya.
“Gimana kalo Bapak mengingkari
janji?”, tanyanya.
“Saya siap dicabut nyawanya. Saya siap
masuk neraka, Pak”, katanya mantap.
“Awas, jangan main-main dengan janji.
Kalo Bapak ingkar janji saya akan teror Bapak habis-habisan”, ancam si orang
berjubah seraya memberi salam dan pergi menghilang.
“Saya berjanji Pak…! Saya berjanji
Pak…. ! Saya berjanji Pak…!”, teriak Pak Abdul Gani berulang-ulang
sampai-sampai asisten rumah tangganya kaget dan menggedor-gedor kamarnya.
“Pak…! Pak ….! Bangun Pak!”, teriak
asisten rumah tangganya.
“Ya…Ya…Ada apa?”, tanyanya heran
sambil membukakan pintu kamarnya.
“Bapak tadi teriak-teriak”, kata
asisten rumah tangganya.
“Ooooh, saya bermimpi tadi”, katanya.
“Ini diminum dulu, Pak!”, kata asisten
rumah tangganya yang telah siap membawakan air putih hangat buatnya.
“Ya. Terima kasih”, katanya sambil
meminum air putih hangat.
“Gimana Pak? Bapak gak apa-apa?”,
tanya asisten rumah tangganya.
“Alhamdulillah gak apa-apa. Saya cuma
bermimpi”, katanya.
“Kalo gitu, saya tinggal dulu ya?”,
tanya sang asisten rumah tangga.
“Ya.”
Sepeninggal asisten rumah
tangganya yang telah teruji kesetiaannya, Pak Abdul Gani merenung tentang mimpi
yang baru saja dialaminya. Meski hanya mimpi, dia yakin kalau yang datang itu
bukan orang sembarangan, orang berjubah putih itu pasti diutus oleh Allah untuk
menegur perbuatannya yang selama ini banyak menyimpang. Salah satu perbuatannya
yang saat ini memakan korban membuatnya bergidik kalau mengingat rumah-rumah
orang yang di sepanjang sungai telah rata dengan tanah akibat tersapu oleh
kayu gelondongan miliknya. Tidak cukup sampai di situ, banyak mobil yang
terendam bukan hanya air tapi juga lumpur yang di dalamnya tidak sedikit orang
yang mati. Akibat dari perbuatannya banyak orang yang tiba-tiba jatuh miskin.
Banyak perempuan yang jadi janda atau laki-laki yang jadi duda karena mereka
ditinggal mati pasangannya. Bahkan, banyak anak yang jadi yatim karena
kehilangan orangtuanya. Ah, begitu banyak orang yang jadi korban akibat ulahnya
membuat dia menangis sejadi-jadinya. Air matanya keluar deras dari kelopak matanya.
Sejenak dia berhenti menangis karena hanya dengan menangis tidak menyelesaikan
masalah. Dia segera mengambil handuk membersihkan diri dan sekaligus mengambil
wudu untuk salat duha. Selagi masih ada kesempatan dia harus melakukannya.
Setelah itu satu demi satu janji-janjinya yang tadi disampaikannya ke orang
berjubah putih itu akan dilaksanakannya.
***
Dia
hari ini tidak masuk kantor dengan alasan kurang sehat. Terhitung mulai hari
ini dia memimpin rapat dan mengendalikan usahanya secara daring. Selama
beberapa hari, dia mengajak semua stafnya yang ada di kantor perusahaannya,
baik yang ada di pusat maupun yang ada di Tamiang untuk rapat daring.
Sebelumnya dia telah menerima kabar kalau kebun kelapa sawitnya terendam air
dan lumpur. Bukan itu saja pabriknya rata dengan tanah karena terseret kayu
gelondongan. Di rapat itu secara sepihak dia memutuskan untuk menutup
perusahaannya. Dia sendiri juga memutuskan memundurkan diri dari perusahaannya.
Supaya tidak terjadi gejolak, dia sampaikan kalau semua staf dan karyawannya akan
diberikan pesangon sesuai dengan masa kerjanya. Dengan cara demikian tidak ada
gejolak di perusahaan yang dimilikinya.
Beberapa
hari kemudiann dibantu LSM, baik yang ada di pusat maupun di Tamiang dia
mengirim email ke pejabat pemerintah di Tamiang. Dia sampaikan kalau bekas
kebun kelapa sawitnya diserahkan ke masyarakat untuk dikelola langsung oleh
masyarakat. Selain itu, dia gelontorkan dana yang cukup besar untuk dilakukan
reboisasi di bekas kebun kelapa sawitnya. Tidak cukup sampai di situ, semua
anggota masyarakat yang turut terlibat dalam reboisasi diberikan honor selama
terlibat reboisasi. Khusus untuk korban bencana banjir, dia menyediakan uang
santunan. Uang itu diperoleh dari simpanannya yang selama ini diparkir di
beberapa bank. Mereka-mereka yang jadi korban bencana setelah didata diberikan
uang santunan. Dia tidak peduli dengan kebijakannya akan menghabiskan uang
tabungannya. Buat dia lebih baik uang tabungannya habis daripada setiap hari
dia mendapat kabar buruk tentang mereka-mereka yang jadi korban bencana. Tidak
cukup sampai di situ, lagi-lagi dia mengeluarkan uang tabungannya untuk membenahi
infrastruktur di Tamiang yang hancur akibat banjir yang disebabkan oleh
penggundulan hutan secara brutal. Dia tidak lagi memperhitungkan berapa
banyak uang yang dihabiskan untuk menangani bencana banjir di Tamiang dan
sekitarnya. Meskipun demikian, ada sebuah perasaan tersendiri yang tidak dapat
digambarkan karena dia telah berbuat yang terbaik sebelum ajal memanggilnya.
Sebagaimana permintaannya pada laki-laki berjubah putih yang datang dalam
mimpinya kalau dia tidak mau masuk neraka.
Semua
yang dilakukannya selama lebih dari sepekan tidak diketahui oleh istri dan
anak-anaknya. Kesibukannya mengurusi perusahaannya yang nyaris bangkrut karena
bencana membuat dia lupa untuk berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya. Begitupun
dengan istri dan anak-anaknya karena kesibukannya turun ke lapangan membantu
orang-orang yang terkena musibah juga tidak sempat mengontaknya. Meskipun
demikian, di saat-saat sudah melewati masa-masa genting di Tamiang terpikir
juga oleh mereka untuk mengontak papanya. Inisiatif untuk mengontak papanya
dilakukan oleh anaknya yang bungsu ketika pada siang hari melakukan video
call.
“Assalamualaikum. Halo Papa”, sapa anaknya
sambil melambaikan tangan.
“Waalaikum salam”, jawabnya juga
sambil melambaikan tangannya.
“Gimana kabarnya Papa?”, tanya sang
anak.
“Alhamdulillah sehat. Gimana kabarnya
Mama?”, tanya papanya.
“Ini Mama sehat Pa!”, teriaknya
girang.
“Kok, Mama kayaknya girang banget?”,
tanyanya.
“Ya, Mama girang karena Papa dah
banyak berkorban”, katanya.
“Berkorban apa?”, tanyanya pura-pura.
“Ah, Papa kayak gak tahu aja. Bukannya
Papa sudah menyerahkan kebun kelapa sawit ke masyarakat? Sekarang lagi
dibenahin Pa. Bentar lagi akan direboisasi. Kabarnya semuanya didanai oleh Papa
ya `kan?”, tanya istrinya. Dari nada suaranya terdengar sedikit girang.
“Ya. Papa sudah putuskan untuk menutup
pabrik kelapa sawit itu. Selain itu, Papa juga sudah sediakan dana untuk
santunan kepada para warga yang jadi korban bencana termasuk rumah-rumah yang
terseret banjir dan terkena kayu gelondongan. Infrastruktur yang terkena imbas
akibat banjir juga sudah Papa putuskan untuk disediakan dananya”, katanya
seperti membacakan berita penting ke anggota keluarganya.
“Wah, keren Pa!”, kata anaknya yang
nomor dua.
“Ya. Yang Papa lakukan itu bener-bener
keren! Gak ada pengusaha yang seperti Papa. Kalo aja di negeri ini ada orang
seperti Papa gak perlu lagi yang namanya pemerintah daerah minta-minta bantuan
ke pusat yang memang lagi banyak mikirin buat MBG sama Woosh”, kata anaknya
yang pertama sambil tertawa.
“Eh, ngomong-ngomong kalian bermalam
di mana?”, tanya papanya.
“Waktu pertama kali datang di tenda-tenda.
Sekarang sudah disediakan LSM yang bergerak di sini di masjid yang selamat dari
bencana”, jawab istrinya.
“Jadi, ada tempat ibadah yang gak
terkena bencana?”, tanyanya heran.
“Banyak Pa”, jawab anaknya yang nomor
tiga.
“Masyarakat sini tuh walaupun susah
begitu lihat kita datang dengan niat baik untuk menolong, mereka langsung
meresponnya”, jelas si anak yang nomor tiga.
“Papa ke sini aja!”, kata anak yang
bungsu.
“Insya Allah besok pagi Papa berangkat
menyusul kalian”, janjinya.
“Sudah ya? Papa masih ada urusan yang
harus diselesaikan hari ini”, kata papanya.
“Hati-hati Pa nanti di jalan. Assalamualaikum!”,
kata anak yang pertama.
“Waalaikum salam. Sampai ketemu lagi
ya?”
“Ya. Papa!”, kata istrinya.
***
Setelah
video call dengan istri dan anak-anaknya dia jadi tahu kalau mereka bisa
membersamai orang-orang yang terkena bencana nun jauh di sana. Sikap tinggi
hatinya yang sempat terbetik di benaknya kalau pada suatu saat istri dan
anak-anaknya dipastikan akan minta bantuan padanya ternyata tidak terbukti. Buktinya,
mereka bisa tinggal di tenda-tenda pengungsian dan di masjid. Terbayang di
benaknya, mereka pasti makan bersama dengan para pengungsi dengan makanan apa
adanya. Mereka juga tidak akan bisa tidur nyenyak seperti dirinya yang selama
ditinggal istri dan anak-anaknya masih bisa tidur nyenyak. Melihat mereka yang
tampaknya ceria-ceria saja membuat dirinya rindu ingin segera bertemu dengan mereka.
Dia yakin kerinduan ini akan terobati besok ketika bertemu dengan mereka. Dia
juga rindu bertemu dengan orang-orang yang menjadi korban bencana yang
tiba-tiba saja mereka banyak yang menjadi orang-orang duafa. Ah,
mengingat itu semua membuat kelopak matanya berair. Air mata yang keluar ini
bukan air mata kesedihan, tapi juga ada kegembiraan. Kegembiraan itu akan berkesinambungan
sampai dia bertemu dengan Rob-Nya. Itu harapannya.
Kota Bekasi, 10 Desember 2025.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar