MENYOAL TENTANG NYINYIR
Subagio S.Waluyo
Orang
yang nyinyir tidak sama dengan orang yang kritis. Orang yang nyinyir juga tidak
sama dengan orang yang peduli. Orang yang nyinyir berangkat dari rasa iri,
dengki, atau hasad. Orang yang kritis sudah pasti berangkat dari kejernihan
berpikir dan hati yang bersih. Orang yang peduli berangkat dari kepekaan.
Sebagai bukti kalau orang yang nyinyir berangkat dari rasa iri, hati yang
dengki, atau hasad, dia selalu melihat orang atau kelompok lain dari sisi
negatifnya. Atau dia selalu melihat semua yang dikerjakan orang atau kelompok
pasti dinilainya buruk. Dia tidak pernah melihat dari sisi positifnya. Tidak
aneh kalau orang yang nyinyir selalu tidak pernah memberikan pendapat, jalan
keluar, atau solusi
Orang
yang punya kebiasaan nyinyir tidak pernah memberikan pendapat atau solusi. Dia
cenderung berbust `lempar batu sembunyi tangan` atau `hit and run`. Dengan kata
lain, orang semacam ini bisa digolongkan sebagai orang yang tidak bertanggung
jawab. Kalau dari hasil nyinyirannya, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan,
timbul masalah, dia akan lari dari tanggung jawab. Dia akan berupaya
menghindar. Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai orang yang berperilaku
seperti itu. Orang yang selalu saja membuat ulah baik lewat ucapan maupun
tulisan. Ucapan atau tulisannya sulit untuk dipertanggungjawabkan karena
berangkat dari sinisme.
***
Istilah
sinisme menurut A.Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai Z (2001:213)
ialah sikap suka mengejek, mengolok-olok, mencari kesalahan, dan melemparkan
kritik. Dalam istilah yang ada di media sosial (medsos) biasa disebut
`nyinyir`. Sebagai bukti kalau istilah sinisme ada kemiripan dengan `nyinyir di
dunia medsos bisa dilihat dari pengertian `nyinyir` menurut orang-orang yang
terlibat di dunia maya (netizen). Para netizen sepakat menganggap nyinyir ini
sama artinya dengan menggunjing, menyindir atau mengkritik seseorang atau pihak
lawan. Si tukang nyinyir ini, menurut para netizen artinya sama saja dengan
tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik, dan menggunjing orang lain
dan tukang sebar berita hoax (https://inspirasipedia.com/2019/04/20/apa-itu-nyinyir/).
Bisa juga mereka orang-orang yang tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang
kritik dan menggunjing orang lain, dan tukang sebar berita hoax adalah
orang-orang yang sinis. Orang-orang penganut paham sinisme.
Orang-orang
penganut paham sinisme adalah orang-orang yang tidak bisa mengendalikan diri,
emosi, atau (boleh juga) hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan
akan memunculkan hal-hal yang negatif dalam diri seseorang. Wajar-wajar saja
kalau orang yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu memunculkan
penyakit-penyakit hati entah dengki, iri, atau hasad. Penyakit-penyakit hati
inilah yang menjadi faktor penyebab orang yang biasa di dunia medsos
memunculkan ungkapan-ungkapan `nyinyir`. Orang yang biasa `nyinyir` tidak
pernah berpikir akibat dari perbuatannya. Begitu juga orang yang terbiasa
membuat cuitan-cuitan yang negatif di medsos tidak pernah berpikir akibat
cuitan-cuitannya. Contoh-contoh cuitan `nyinyir` yang biasa ditemukan di dunia
medsos bisa dilihat berikut ini.
1. “Rame gini
palingan piara jin”
2. “Hamil duluan
ni pasti”
3. “Riya` amat,
sedekah diumbar-umbar pahalanya abis woy”
4. “Apaan, sayang
sekolah tinggi-2 kalo di rumah nyuci gosok momong anak doang”
Dari
`nyinyiran` di atas, coba kita ungkapkan satu persatu isi `nyinyiran` tersebut.
`Nyinyiran` nomor satu ditujukan buat pedagang yang baru saja membuka usahanya
yang langsung diserbu pengunjung. Orang yang suka `nyinyir` ada kemungkinan mengeluarkan `nyinyiran`: “Rame
gini palingan piara jin” (Banyaknya pengunjung ada kemungkinan sang pedagang
menggunakan jin). Orang yang menyampaikan `nyinyiran` ini sudah pasti orang
yang berprangsaka buruk. Kalau berpikir positif, dia akan menyampaikan boleh
jadi banyaknya pengunjung karena ketika launching ada diskon besar-besaran atau doorprize yang
menarik. Masih banyak lagi hal positif yang dilakukan pedagang ketika membuka
usahanya. Untuk `nyinyiran` nomor dua ditujukan buat mereka yang menikah muda.
Repotnya ketika orang yang punya hobi `nyinyir` sering kelewatan menyampaikan
`nyinyiran`. Ini bisa menyinggung perasaan orang (tujuan utama orang bikin
`nyinyiran` `kan untuk menyakiti orang?). Pasangan pengantin yang menikah muda
kok ditulis: “Hamil duluan nih pasti”? Bukannya mendoakan orang yang menikah
malah memunculkan `nyinyiran` yang `nyelekit` dan bikin orang tersinggung
berat. Masih untung kalau tersinggung, tapi kalau sampai dituntut ke
pengadilan?
Untuk
`nyinyiran` nomor empat, kalau saja tidak memunculkan `nyinyiran`: “Riya` amat, sedekah diumbar-umbar pahalanya
abis woy” orang akan mengapresiasinya (tapi kalau bukan seperti itu
pernyataannya bukan lagi `nyinyiran`).
Di sini sang pembuat `nyinyiran` (mudah-mudahan) punya maksud baik. Dia
mengingatkan pada orang yang bersedekah agar tidak menyebut-nyebut entah jumlah
uangnya yang disedekahkan atau memamer-mamerkan barang yang disedekahkannya.
Karena kalimatnya seperti tertera di atas, terkesan sarkasme sehingga tidak
mustahil orang yang membacanya menilai sebagai orang yang tidak berakhlak. Niat
baik seharusnya disertai dengan komentar yang baik.
`Nyinyiran`
terakhir tertuju pada seorang ibu rumah tangga yang tentu saja berpendidikan
tinggi. Sang ibu cenderung lebih memilih mengurus rumah tangga daripada
bekerja. Sang ibu yang memilih menjadi ibu rumah tangga ini aktivitas
kesehariannya bisa ditebak mengurusi anak-anak, suami, dan urusan rumah tangga
lainnya (memasak, mencuci, menyetrika, bersih-bersih rumah). Kalau sang suami
termasuk orang yang mapan pekerjaan dan usahanya, sebenarnya tidak ada masalah.
Tapi, kalau sebaliknya dari sisi penghasilan tidak mencukupi, tidak ada
salahnya sang istri juga ikut bekerja atau berwirausaha (apalagi sekarang juga
ada bisnis online yang tidak perlu seorang istri keluar rumah). Jadi, orang
yang mengomentari keputusan seorang ibu rumah tangga yang mau sepenuhnya
mengurus rumah tangganya perlu diapresiasi. Bukan malah dikomentari dengan nada
sumbang yang bikin orang tidak berempati.
***
Orang-orang
yang sering berkomentar dengan nada-nada sumbang alias `nyinyir` adalah orang
yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Orang-orang seperti
itu sudah pasti tidak bisa memanfaatkan waktunya. Waktunya hanya dihabiskan
untuk melihat sisi-sisi negatif yang ada pada orang lain. Bisa jadi setiap
senti dari fisik orang yang diamatinya selalu tampak di matanya ada kekurangan.
Mereka tidak pernah melihat sisi-sisi positif dari orang yang diamatinya.
Begitupun ketika melihat skala yang lebih besar: masyarakat atau negara
sekalipun selalu saja di matanya ada sisi-sisi negatif. Wajar-wajar saja kalau orang
seperti itu punya sangka buruk, tidak bisa berpikir positif, selalu ada rasa
iri, dan (tentu saja) ada sikap merendahkan orang lain. Wajar-wajar juga kalau
yang keluar entah dari mulutnya atau tangannya (tulisan-tulisannya)
ungkapan-ungkapan yang `nyelekit` dan membikin orang atau masyarakat
tersinggung. Dari situ saja bisa
disimpulkan (kalau mereka muslim) kadar keimanan dan akhlaknya rendah (minim).
Kadar keimanan dan akhlak seseorang bisa
dilihat dari ucapan dan juga tulisannya. Iman dan akhlak dua hal yang tidak
bisa dipisahkan. Akhlak merupakan refleksi iman. Orang yang imannya baik,
akhlaknya juga baik. Sebaliknya, akhlak yang buruk merupakan refleksi dari iman
yang buruk. Jadi, tulisan-tulisan di atas (yang diambil sebagai contoh) bisa
dipastikan adalah orang-orang yang akhlaknya minim karena kalau akhlaknya baik
tidak mungkin mereka menyampaikan pernyataan-pernyataan lewat tulisan yang
`nyelekit` dan membikin orang terpukul jiwanya. Orang-orang yang akhlaknya
minim senang melihat orang terpukul jiwanya. Bisa jadi orang-seperti ini adalah
orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Paling tidak orang-orang seperti
ini adalah orang yang mengalami gangguan kepribadian atau bipolar.
***
Apakah
kebiasaan `nyinyir` itu harus dibiarkan berlarut-larut? Kalau sudah diketahui
kebiasaan `nyinyir` itu merupakan kebiasaan buruk, tidak ada salahnya
ditinggalkan. Bukankah kebiasaan `nyinyir` itu memang refleksi lemahnya
keimanan? Agar tidak terjadi kelemahan iman yang berakibat pada rusaknya akhlak
tidak ada salahnya kebiasaan `nyinyir` itu dibuang jauh-jauh. Bagaimana
caranya? Ada tips yang menarik untuk diterapkan dari tulisan berikut ini.
Silakan disimak mudah-mudahan ada manfaatnya.
“Apabila
Anda termasuk orang yang mudah nyinyir, mulailah berubah dari sekarang. Jangan
biarkan sifat nyinyir tersebut hinggap berlarut-larut dalam diri Anda.
Bersihkan aura negatif dari dalam diri, dan masukkan semua hal positif ke dalam
diri Anda.
Bersyukurlah
atas segala hal yang Anda miliki, yang paling sederhana sekalipun. Berhentilah
membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Daripada
mengomentari orang lain, lebih baik Anda mencari kesibukan yang bersifat
positif, misalnya dengan mengikuti komunitas yang sesuai hobi atau bergabung di
kegiatan sosial. Aktivitas ini dapat mengalihkan pikiran negatif Anda dan
tentunya membuat hidup Anda menjadi lebih bahagia”.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar