Minggu, 11 Maret 2018

Bahan Pembelajaran-28


  1. Buku-Kumpulan Cerpen Kompas 2007
  2. Buku-Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2014
  3. Buku-Kumpulan Cerpen Kompas 2006
  4. Buku-Kumpulan Cerpen Ahmadun Yossi Herfanda
  5. Buku-Kumpulan Cerpen Motinggo Boesje
  6. Buku-Kumpulan Cerpen Eka Kurniawan
  7. Buku-Kumpulan Cerpen Leila S. Chudori 
  8. Buku-Kumpulan Cerpen-Jawa Pos 2015
  9. Buku-Kumpulan Cerpen Kompas 2015
  10. Buku-Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2015
  11. Buku-Kumpulan Cerpen Budi Darma-Orang-Orang Bloomington
  12. Buku-Kumpulan Cerpen Dee 
  13. Buku-Kumpulan Cerpen Nugroho Notosusanto-Hujan Kepagian
  14. Buku-Kumpulan Cerpen YB Mangunwijaya-Rumah Bambu
  15. Buku-Kumpulan Cerpen Terbaik Indonesia-2009

Bahan Pembelajaran-27

  1. Anotasi UU Nomor 30 Tahun 2014-Administrasi Pemerintahan
  2. Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025
  3. LAKIP Deputi Bidang Reformasi Birokrasi
  4. Ajar-Birokrasi dan Politik-Undip
  5. LAKIP Deputi Bidang SDM Aparatur
  6. Manual Penerapan PPMPRB
  7. Manual Penerapan PPMPRB-2
  8. Pemimpin dan Reformasi Birokrasi 
  9. Reformasi Birokrasi dalam Praktik 
  10. Folder Hand-Out-Birokrasi
  11. Folder Hand Out-BUMD
  12. Laporan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi LKPP 
  13. Penelitian-Reformasi Birokrasi Bidang Pelayanan Publik pada Suku Dinas Pendidikan di Wilayah Administrasi Kabupaten Kepulauan Seribu
  14. Penelitian-Dampak Kebijakan Pemekaran Desa pada Aspek Pelayanan Publik
  15. Peraturan Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi di Indonesia Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pedoman Survei Kepuasan Masyarakat Unit Penyelenggara Pelayanan Publik

Jumat, 09 Maret 2018

Bahan Pembelajaran-26


  1. Folder Hand Out-Good Governance
  2. Buku-Tata Pemerintahan Lokal di Asia Tenggara
  3. Buku-Demokratis Governance
  4. Buku-Kebijakan Publik dan Transparansi Pemda
  5. Buku-Indeks Tata Kelola Hutan
  6. Buku-Diktat Otonomi Daerah-Unnes
  7. Hand Out-Otonomi dan Pembangunan Daerah 
  8. Buku-Laporan Hasil Evaluasi Otonomi Daerah
  9. Buku-Memahami Desentralisasi Indonesia
  10. Buku-Dinamika Politik Lokal
  11. Folder-Hand Out-Manajemen Potensi Daerah
  12. Penelitian-Implementasi Prinsip-Prinsip Good Governance dalam Meningkatkan Kepuasan Pelayanan Publik


Bahan Pembelajaran-25


  1. UU Nomor 25 Tahun 2004- Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
  2. UU Nomor 25 Tahun 2009-Pelayanan Publik 
  3. UU Nomor 14 Tahun 2005-Guru dan Dosen 
  4. UU Nomor 11 Tahun 2009-Kesejahteraan Sosial 
  5. UU Nomor 18 Tahun 2008-Pengelolaan Sampah  
  6. UUD 1945-Amandemen keempat 
  7. UU Nomor 23 Tahun 2014-Pemerintah Daerah
  8. UU Nomor 6 Tahun 2014-Desa
  9. UU Nomor 7 Tahun 2014-Penanganan Konflik
  10. UU Nomor 41 Tahun 2004-Wakaf
  11. UU Nomor 20 Tahun 2003-Pendidikan Nasional
  12. UU Nomor 04 Tahun 2016-Tabungan Perumahan Rakyat
  13. UU Nomor 7 Tahun 2016-Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan
  14. UU Nomor 19 Tahun 2016-ITE dan Perubahannya   
  15. UU Nomor 22 Tahun 2014-Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota
  16. UU Nomor 01 Tahun 2016-Penjaminan 



Selasa, 15 Agustus 2017

All You Need Is Love (36)

MENGGOYANG MENARA GADING

Subagio S. Waluyo



Dalam Wiktionary (ensiklopedia multi bahasa) kata menara gading didefinisikan sebagai `tempat atau kedudukan yang serba mulia, enak, dan menyenangkan atau boleh juga tempat untuk menyendiri, misal tempat studi, yang memberi kesempatan untuk bersikap masa bodoh terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya` (https:// id.wiktionary.org/wiki/menara_gading). Kalau begitu memang patut orang-orang kampus alias makhluk akademis tinggal di menara gading karena mereka merasa nyaman dengan kedudukannya yang serba mulia. Bukankah mereka merasa mulia terutama para pengajar (dosen) karena sebutan dosen saja itu di mata masyarakat punya kelas tersendiri (lebih tinggi daripada guru di sekolah). Bukankah juga dianggap mulia karena punya berderet gelar akademis baik dari perguruan tinggi (PT) ternama  di negeri ini maupun lulusan luar negeri kelas dunia sehingga untuk menghormati mereka orang yang di bawahnya atau sesama teman sejawatnya menyapanya dengan `Pak Dosen`, `Doktor`, atau `Prof` (untuk professor)? Yang bukan teman sejawatnya (sekelas mahasiswa atau karyawan/pegawai PT) karena menyapanya dengan sapaan di atas setidak-tidaknya membuat ``Sang Dosen``, `Sang Doktor`, atau `Sang Profesor` merasa tersanjung dengan sapaan tersebut. Jangan coba-coba menyapa mereka dengan sapaan `Pak Guru` atau `Bu Guru` karena buat mereka sapaan itu hanya ada di tingkat pendidikan SD,SMP, SMA atau SMK. Menyapa mereka dengan sapaan seperti itu sama halnya juga merendahkan mereka.  Mudah-mudahan saja tidak semua dosen bawa perasaan (baper) seperti itu karena juga masih banyak dosen yang egaliter.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...