MENYENANGI
ORANG SESAAT
Subagio S. Waluyo
`Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu
dari kekafiran dan kemiskinan`
Orang
semacam Sulam selain memiliki keterbelakangan mental juga hidup miskin. Kalau
sekedar terbelakang mentalnya, tapi dia tergolong tidak miskin atau hidup serba
berkecukupan, orang seperti Sulam tidak mungkin tinggal di pasar, baik di
Wangon maupun di Jatilawang. Pakaiannya yang tidak layak pakai karena compang-camping
(sampai-sampai celana yang kedodoran pun harus diikat dengan tali pelastik di
pinggangnya supaya tidak merosot) menjadi representasi gambaran orang-orang
yang hidup di bawah garis kemiskinan (GK) di negara ini. Konon kabarnya di
negara ini pemerintahnya telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari semula
di tahun 2018 sebesar 9,82% di tahun 2019 turun menjadi 9,41% atau dari segi
jumlah orang miskin yang semula sebanyak 25,98 juta orang (Maret 2018) menjadi
25,14 juta orang (Maret 2019) (https://www.Idntimes.com/business/economy/hanaadi-perdana-1/
angka -kemiskinan-ri-turun-lagi-jadi-2514-juta-orang-maret/full)






