Rabu, 18 September 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (45)


MENJAUH DARI KENYATAAN HIDUP

Subagio S.Waluyo


          Bagaimana mungkin kalbu (hati) akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana mungkin akan bertamu ke hadirat-Nya, sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat dari kekeliruannya?
(Ibnu Athai`llah Al-Iskandari)

Jumat, 13 September 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (44)


KADIS SI TUKANG JAGAL

Subagio S. Waluyo



Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum
sebelum mereka mau mengubah dirinya sendiri.
(Ar-Ra`ad: 11)

          Ayat Qur`an di atas kalau kita renungkan sebenarnya bisa memotivasi kita untuk melakukan perubahan. Di ayat tersebut jelas sekali Sang Khaliq sudah berkomitmen pada setiap hamba Allah (apakah dia orang yang beriman atau tidak beriman) agar punya semangat atau keinginan yang kuat untuk melakukan perubahan. Melakukan perubahan dalam banyak hal termasuk perubahan paradigma kita. Kalau paradigma diartikan sebagai cara kita memandang alam sekitar, kita bisa mengartikan memandang dalam arti, melihat dengan mata, memahami, kemudian menafsirkannya. Pada saat kita dituntut untuk memunculkan suatu perubahan penting dalam hidup kita, yang harus kita lakukan pertama kali adalah meneliti kembali paradigma kita. Setelah itu kita mantapkan, kita perbaharui, boleh juga kita melakukan perubahan. Kalau paradigma yang kita gunakan salah, maka kita pun akan salah memandang sesuatu sehingga efeknya adalah salah dalam berprilaku dan berinteraksi dengan sesuatu itu (https://www. Kompasiana. com/ibnuabidin/54ff5b47a33311 b14b50 fd45/paradigma-berpikir).  

Rabu, 11 September 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (43)


GALI JUGA MANUSIA


Subagio S. Waluyo



          Awal tahun 1980-an, ketika Soeharto sebagai presiden sedang berada di puncak kekuasaannya, dalam rangka menanggulangi kejahatan yang pada saat itu memang cukup tinggi diadakan operasi rahasia. Operasi rahasia itu di belakang  hari dikenal dengan nama Penembakan Misterius (petrus). Operasi itu berupa penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketenteraman masyarakat terutama di DKI Jakarta dan Jawa Tengah (termasuk DIY). Pelakunya sendiri tidak diketahui dengan jelas sehingga wajar saja muncul ungkapan petrus. 

Senin, 09 September 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (42)


KONSPIRASI PARA PSIKOPAT

Subagio S. Waluyo


 Aku anak nakal, umurku sembilan tahun.
Kedua orangtuaku menyebutku anak pembawa sial.

          Satu keluarga kompak berkhianat dan mau menghabisi salah seorang nyawa anggota keluarganya karena sudah dianggap gila dan anak pembawa sial.  Satu keluarga ini terkena sindrom psikopat. Mereka walaupun terlihat normal tapi ada faktor kejiwaan yang susah diobati. Mereka telah rusak hati nuraninya. Mereka juga sudah tidak memiliki empati. Wajar-wajar saja kalau mereka cenderung bertindak kriminal. Bukankah memang demikian perilaku orang psikopat? (https:// hellosehat. com/hidup-sehat/ psikologi /ciri-ciri-psikopat/).

Jumat, 06 September 2019

All You Need Is Love (43)


MENJAUH DARI HIPOKRIT

Subagio S. Waluyo


Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari kefakiran, kekufuran,
 kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan,
sum`ah  dan riya`

BUNGLON

Melayang gagah, meluncur rampis,
menentang tenang, 'alam samadi,
Tiada sadar marabahaya:
Alam semesta memberi senjata.

Selayang terbang ke rumpun bambu,
Pindah meluncur ke padi masak,
Bermain mesra di balik dahan,
Tiada satu dapat mengganggu.

Akh, sungguh puas berwarna aneka,
Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.
O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.

(S.M. Ashar, Gema Tanah Air, 1951)

Rabu, 04 September 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (41)


MENYENANGI ORANG SESAAT

Subagio S. Waluyo

`Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari kekafiran dan kemiskinan`

Orang semacam Sulam selain memiliki keterbelakangan mental juga hidup miskin. Kalau sekedar terbelakang mentalnya, tapi dia tergolong tidak miskin atau hidup serba berkecukupan, orang seperti Sulam tidak mungkin tinggal di pasar, baik di Wangon maupun di Jatilawang. Pakaiannya yang tidak layak pakai karena compang-camping (sampai-sampai celana yang kedodoran pun harus diikat dengan tali pelastik di pinggangnya supaya tidak merosot) menjadi representasi gambaran orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan (GK) di negara ini. Konon kabarnya di negara ini pemerintahnya telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari semula di tahun 2018 sebesar 9,82% di tahun 2019 turun menjadi 9,41% atau dari segi jumlah orang miskin yang semula sebanyak 25,98 juta orang (Maret 2018) menjadi 25,14 juta orang (Maret 2019) (https://www.Idntimes.com/business/economy/hanaadi-perdana-1/ angka -kemiskinan-ri-turun-lagi-jadi-2514-juta-orang-maret/full)

Kamis, 29 Agustus 2019

Kebahasaan dan Kesastraan (40)


BELAJAR  MALU DARI SULAM


Subagio S. Waluyo



Menunda amal karena  menunggu waktu yang luang
termasuk tanda kebodohan
(Ibnu Atha`illah Al-Iskandari)

          Tokoh Aku dalam cerpen “Wangon Jatilawang” (Ahmad Tohari) sebenarnya termasuk orang yang sangat peduli pada orang seperti Sulam. Tokoh Aku juga digambarkan sebagai orang yang sabar, orang yang mau berbagi dengan Sulam yang digambarkan sebagai orang yang teralienasi, terbelakang mental atau idiot. Sulam yang tidak punya lagi ibu-bapak, yang rumahnya begitu ibunya meninggal juga ikut punah (konon kabarnya ibunya juga mengalami keterbelakangan mental) setiap hari wara-wiri dari Wangon ke Jatilawang. Dua kota kecamatan yang jaraknya tujuh kilometer. Sulam dengan pakaian yang tidak layak dipandang karena lusuh dan kalau memakai celana kedodoran sehingga dia harus menyangkutkan tali pelastik di celananya. Orang seperti Sulam ini jelas tidak disukai orang karena ada anggapan setiap rumah yang disinggahi Sulam katanya bisa apes.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...