Kamis, 01 Oktober 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (82)

Menyoal tentang Pandangan  Hidup 

Subagio S. Waluyo


“Aku lupa.  Belum  menanyakan namamu.”

“Namaku Humam.  Engkau siapa?”

“Barman.”

“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya.  Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.  Di sini, nama tak ada gunanya.”

Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan.  Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya.  Apa bedanya di kota dengan di gunung?  Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.

“Humam, Hum atau Mam.  Engkau bisa usahakan telepon?”  Barman ingat Popi.  Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.

“Untuk apa.  Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”    

Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami.  Dan ia dapat mengagumi.

“Jadi bagaimana?”

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

“Anakmu.  Istrimu.  Keluargamu.  Sahabatmu.”

“Semua sudah kulepaskan.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Dan aku?”

“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

Untuk beberapa lama mereka diam.  Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri!  Pikirannya berjalan-jalan.  Sampai Humam menyentuh tangannya.  “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.

“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung.  Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku.  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik.  Beban itu sudah kulepaskan.”

Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri.  Sedangkan ia merasa itu penderitaan.  Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

***

Salah satu kelebihan manusia diciptakan Tuhan adalah manusia memiliki tanggung jawab.  Karena memiliki tanggung jawab, manusia juga makhluk pengabdi. Untuk mengabdi (kepada Sang Khalik tentunya) manusia memerlukan pedoman atau aturan yang kita namakan sebagai pandangan hidup (boleh juga agama).  Apa itu pandangan hidup?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba  kita dapat  amati dua potongan kisah yang ditulis oleh Kuntowidjojo berikut ini.

 

“Katakanlah, Cucu.  Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”

“Tidak ada , Kakek”, kataku,  keluar begitu saja dari kesadaranku. “Tidak ada yang lebih dari itu.”

“Bagus.  Tidak kusangka kau akan sepandai ini, Cucu.” Ia menepuk pundakku.  Kemudian membenarkan letak duduknya dan kembali menatap bunga-bunga itu.

“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melam-bangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa.  Di luar mata-hari membakar.  Hilir-mudik kendaraan.Orang berjalan ke sana-kemari memburu waktu.Pabrik-pabrik ber- dentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet  me-mainkan tangannya.  Pemimpin meneriakkan semboyan kosong.  Anak-anak bertengkar merebut layang-layang.  Apakah arti-nya semua itu, Cucu?  Mereka semua  menipu diri sendiri.  Hidup ditemukan dalam ketenangan.  Bukan dalam hiruk-pikuk dunia.  Tataplah bunga-bunga di atas air itu.  Hawa dingin menyejuk hatimu.  Engkau menemukan dirimu.  Engkau akan tahu, siapakah dirimu.Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”

Aku mendengarkan sebaik-baiknya.  Ia mengatur nafas.  Lalu berdiri.

“Nah, sudah sampai waktunya kita jalan-jalan!”

Kami berjalan. Menerobos pohon-pohon bunga. Pada setiap bunga kakek men- jentik, tertawa. “Bagus.  Bagus sekali bukan, cucu?” Aku tersenyum.  “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar. Membuat dunia tenang. Ini dunia kita!”   

 

(Dilarang Mencintai Bunga-bunga,1996:12-13)

 

Sahabat tua itu mengajaknya bersama menghabiskan waktu. ”Waktu,” kata sahabat itu, “Sesuatu harus kita nikmati.Seperti  juga benda lainnya.” Barman menam-bahkan:”Ya, atau kita makan waktu, atau kita dimakan waktu.”  Dan ia tertawa. “Kita ber- sahabat, kita mesti ramah!” sahabat itu meneruskan. “Mengapa mesti bermusuhan?”

Mereka pun menyiapkan diri untuk suatu perjalanan yang sesuai dengan laki-laki tua.  “Inilah perjalanan dua orang kakek-kakek,” kata sahabat itu.  Di rumah terdapat pancing.  Barman dibawa ke belakang rumah.  Ada sebuah jalan terbentang di situ.  “Engkau mau mancing atau menjala, Bung?”

“Aku tak biasa dengan air sungai,” kata Barman.

Sahabat itu hanya tertawa.  “Engkau mesti belajar dari hidup ini.”

“Eh, engkau mau juga kita membawa telur? Dan jangan lupa korek api.  Menurut  tampangmu, kau ini sebangsa orang yang belum bahagia waktu kecil-mu, ya.  Inilah saat kauulang kembali riwayat itu.  Bertualang di gunung.”

Barman masih harus mempelajari sahabat barunya itu.  Orang itu suka bicara, tidak seperti diduganya semula.

“Jauhkah perjalanan kita?”

“Orang gunung akan mengatakan dekat saja.  Apa peduli kita!”  Laki-laki itu menunju-nunjuk suatu arah, berbelok-belok dengan jari yang melayang-layang di udara.  Mereka pun keluar dari pekarangan.  Ketika sampai di bawah pohon cemra, Barman baru teringat sesuatu, ia berhenti.

“Apa?” tanya sahabat barunya.

“Aku lupa.  Belum  menanyakan namamu.”

“Namaku Humam.  Engkau siapa?”

“Barman.”

“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja dengan lainnya.  Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.  Di sini, nama tak ada gunanya.”

Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di jalanan.  Ia selalu berjalan, tanpa nama dan tanpa nama orang-orang lainnya.  Apa bedanya di kota dengan di gunung?  Nama sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.

“Humam, Hum atau Mam.  Engkau bisa usahakan telepon?”  Barman ingat Popi.  Ia ingin memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.

“Untuk apa.  Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”    

Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan kata-kata yang sulit dipahami.  Dan ia dapat mengagumi.

“Jadi bagaimana?”

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

“Anakmu.  Istrimu.  Keluargamu.  Sahabatmu.”

“Semua sudah kulepaskan.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Dan aku?”

“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

Untuk beberapa lama mereka diam.  Barman mencoba mengingat sahabat itu: Laki-laki tua yang hidup sendiri!  Pikirannya berjalan-jalan.  Sampai Humam menyentuh tangannya.  “Hati-hati!” Mereka berjalan di pinggir jurang.

“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung.  Justru karena ber-tentangan dengan keadaanku.  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik.  Beban itu sudah kulepaskan.”

Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan. Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri.  Sedangkan ia merasa itu penderitaan.  Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”

 

(Khotbah di Atas Bukit, 2000:68-71)

 

***

Kedua potongan kisah di atas memberikan banyak pandangan hidup.  Jika kita amati secara teliti, kita akan mendapatkan ada hal-hal yang sama tentang ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat), baik yang dikemukakan oleh si pemelihara bunga-bunga (kakek) kepada anak tetangganya (cucu) pada cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga” maupun oleh Humam kepada Barman (pada novel Khotbah di Atas Bukit). Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat) itu di antaranya sebagai terlihat pada tabel berikut ini.

“Dilarang Mencintai Bunga-bunga”

Khotbah di Atas Bukit

1.  

“Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”

1.  

“Inilah saat kauulang kembali riwayat itu.”

2.  

“Segalanya mengendap…Bunga- bunga di atas air ini melambangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa…. Mereka semua  menipu diri sendiri.  Hidup ditemukan dalam ketenang an. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu.Hawa dingin menyejuk ha- timu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”

2.  

“Aku sebenarnya tak lagi punya nama.  Aku hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.”

 

3.  

“Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar.  Membuat dunia tenang ini dunia kita!”

3.  

“Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”

4.  

 

4.  

“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”

5.  

 

5.  

“Pertemuan kita lain, Bung.Suatu kebetulan. Hubungan kita ialah bukan hubungan.”

6.  

 

6.  

“Itu sudah berjalan, dan berjalan de-ngan baik.  Beban itu sudah dilepaskan.”

7.  

 

7.  

“Keadaanku ialah ketiadaanku.”

“Atau sebaliknya.”

Dari tabel di atas kita menemukan ada beberapa ungkapan yang bermakna sama, seperti  “Hidup ditemukan dalam ketenangan” dengan “Kesendirian adalah hakikat kita “  atau  “Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu,siapakah dirimu”  dengan  “Kita tak perlu apa pun lagi.  Kita sudah hilang.”  Ungkapan-ungkapan tersebut  menunjukkan betapa kayanya pandangan hidup yang dimiliki penulisnya (Kuntowidjojo).  Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan nasihat itu juga merupakan sarana kita untuk bercermin seraya bertanya pada diri sendiri : selama di dunia ini, apakah kita telah melakukan peran kita sepenuhnya selaku manusia di hadapan Sang Khalik?          

Sehubungan dengan masalah pandangan hidup, seandainya ada orang yang bertanya: pandangan hidup apakah yang terbaik bagi manusia?  Kita tidak usah ragu-ragu bahwa pandangan hidup yang terbaik bagi manusia adalah yang datangnya dari Sang Khalik (agama).  Kita bisa mengatakan demikian karena:

·         agama bersifat universal sehingga kebaikan agama adalah kebaikan bagi seluruh umat manusia (tidak dibatasi oleh geografis, kesukuan, kebangsaan, ras, dan warna kulit);

·         agama tidak terikat oleh waktu, artinya sampai kapan pun, baik perintah maupun larangannya akan tetap berlaku dan tidak boleh disesuaikan oleh kondisi waktu;

·         agama datang dari Sang Pencipta Manusia yang tentu saja akan mengetahui sisi-sisi kelemahan manusia sehingga apapun yang diberikan untuk manusia sudah diperhitungkan oleh-Nya; dan

·         kebenaran agama yang datangnya dari Tuhan tidak bisa diragukan karena semua itu dikembalikan pada umatnya (sementara kebenaran yang diciptakan manusia sifatnya relatif dan mudah berubah karena manusia tidak akan mungkin bisa melepaskan sifat-sifat manusiawinya yang di satu sisi justru banyak memiliki kelemahan).

Dengan adanya butir-butir di atas, masih layakkah kita menyepelekan pandangan hidup yang datangnya dari Tuhan (agama)?  Risiko apa yang akan muncul jika kita menyepelekannya?  Coba, kita perhatikan petikan kisah berikut ini.

 

BULAN SABIT

                            Joni Ariadinata

…………………………………………………………………………………………

Kota itu pun milik hantu.  Gelombang dzikir mengutuknya dengan sopan, dan di lorong-lorong orang berbicara politik.  Maut tetap mengintai.  Perempuan-perempuan, para janda anak-anak orang tua; ribuan lelaki-perempuan dipaksa mati di jalan-jalan.Dibenam di hutan rawa.  Maka hantu berubah menjadi iblis:langit, katanya, kelak berwarna hitam kelam. 

“Kami benci tentara.”Rapat suara  bocah memandang langit. Beribu-ribu.Tak ada tangis: “Bapak kami mati ditembak!” bergelombang masuk hutan.  Dendam merubah dada menjadi besi.  Menjadi api. 

“Maukah kutembak? Kalian bukan pahlawan, tapi pengkhianat. Pemberontak tengik! Siapa pemimpin kalian, heh?!” bertanya.  Ribuan interogasi.  Bunyi salak pistol dan penjara.  Malam hitam kegelapan pintu-pintu dan jendela rumah.  Dijarah.  Tapi barisan beku mengatup:”Pemimpin kami adalah hati.  Kami tak pernah takluk pada iblis yang menciptakan api!  Kalianlah pengkhianat…” 

“Sial!!” raungan truk dan gemerocak rantai panser baja meletupkan amarah tengik.  Pusaran waktu pecah:gelombang api.  Segerombol serdadu menghanguskan kota, melipat peta dan menunjuk-nunjuk nyawa seperti layaknya Tuhan.  Berbulan-bulan.  Putus asa:”Seluruh penduduk Serambi telah menjadi pemberontak Tuhan…” 

”Kita memang Tuhan!” bunyinya menantang.  Raut wajah putus asa para serdadu, pekik darah mirip anak anjing yang sakit; menerjang dengan tangan mengayunkan karaben dan meledakkannya ke atas langit.  Glar!  Glar!  Glar!  “Tahan tembakanmu, Letnan!!” suatu hari.  Kekeruhan wajah tak ada cahaya.  Melihat jauh kejauhan yang kosong.  Setiap menit, menjadi detik, dan jam-jam yang meledak:”Kita digaji untuk membunuh, kau dengar, Kolonel? Kita memakan darah…” 

“Prajurit tak patut untuk berpikir.” 

“Kau kira kami ini apa?” 

“Kau menghamburkan peluru untuk sesuatu yang tidak jelas!” 

“Lalu apa bedanya?  Menembak angin atau menembak kepala, semua diajarkan dengan sama persis.  Dan kita harus bertanggung jawab.  Begitu mudahkah?”

“Benar!” serempak yang lain membetulkan.  Ketegangan merayap dan gigi gemeretak: “Perintah komando pusat telah membuat kita semua gila.  Berapa ribu nyawa lagi harus kita korbankan?  Seluruh penduduk menginginkan kematian; dan kita menyambutnya tanpa m erasa bahwa dengan itu kita telah menjadi pahlawan.  Mereka masuk hutan untuk sebuah keyakinan.  Sedang kita apa?  Bajingan tengik!  Jika semua orang di daerah ini memilih menjadi pemberontak, maka itu berarti seluruh wilayah Serambi sudah lenyap dalam peta negara.  Apakah kita akan mengusirnya, menembakinya, dan memusnahkannya seperti melenyapkan hutan untuk menjadikannya sebuah padang rumput tempat bermain golf para pemimpin politik?  Kalau itu pilihan presiden dan panglima, maka aku memilih berhenti.  Tembaklah aku, kolonel!  Engkau sudah lupa bahwa mereka yang kita perangi, adalah saudara kita sendiri.  Bukan segerombolan monyet seperti doktrin ajaranmu…” 

“Diam!  Semuanya diam! Kalian semua berada di bawah garis komando.  Setiap pem-bangkangan disiplin, akan diseret ke meja pengadilan militer.  Kau berani melanggar perintah, Letnan Sujarwo?” 

“Aku bicara sebagai manusia…” 

Glar! Letupan keras menghamburkan isi kepala.  Letnan Sujarwo ditembak menggeliat.  Lalu lenggang.  Mati.  Kolonel Hardi gemetar dengan amarah memuncak:”Siapa lagi yang mencoba menjadi pengkhianat, heh?  Dalam hirarki ini, akulah komandan.  Apa yang aku perintahkan adalah hukum! Tidak ada kata tidak…” menggelegar.  Keputusan yang salah.  Sunyi langit  mati dan bangkai Letnan Sujarwo menguapkan hawa panas kegelisahan para serdadu serentak berlompatan memekik.  Mengutuk.  Berpantul dari pohon ke pohon.  Suara-suara campur, jam memantik:serentet tembakan kembali memecah langit.  Kepul asap, menerjang daun; ledak gelegar granat, badai di kepala meletup.  Keputusasaan. 

“Aku bunuh kamu, Letnan!! Aku bunuh…” 

“Kopral!  Kau…” teriak-teriak keras. Gediblag kaki dan keriuhan gema sekarat saling hantam. 

“Gila!! Kita semua gila!!” 

Mereka menembak.  Saling menembak.  Menembak hening, memburu bayangan korban.  Dan bunyi kemerinting sisa mesiu, debu-debu, jatuh di mimpi bayi; menguak kencang, membangunkan ibu yang lantas mengalirkan air mata pedih.  Bersipongang dari ruang ke ruang.  Menjadi hujan,  Menjadi rintihan di lelap malam.  Gusti.

                                                                                 (1999:175—177)        

 

 ***

Kisah di atas merupakan gambaran manusia yang tidak menggunakan lagi agama sebagai pandangan hidupnya. Mereka saling menghabisi sesamanya.  Mereka telah menjadikan doktrin militer sebagai pandangan hidupnya atau agamanya yang baru. Ketika salah seorang di antara mereka terpanggil hati nuraninya, atas nama kesatuan orang seperti itu harus dihabisi. Jadi, pandangan hidup yang tidak berangkat dari agama akan menjadikan manusia menjadi kanibal bagi manusia lainnya.  Berbagai peristiwa yang telah memakan banyak korban anak bangsa ini merupakan tolak ukur kita bahwa pandangan hidup yang bukan agama, yang kita anut selama ini, ternyata telah gagal menjadikan kita lebih manusiawi lagi.  

 

Rabu, 30 September 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (81)

 MENYOAL TENTANG PENDERITAAN

Subagio S. Waluyo



Faisal terdiam. Langit rasanya mau runtuh. Ibarat seorang petinju, Faisal baru saja terkena killing punch lawan, mencium kanvas dan tinggal menunggu hitungan kesepuluh untuk dinyatakan kalah KO! 

 Usai penyidikan, Faisal termenung di ruang tahanan. Mantan istrinya mengantongi Rp2,5 milyar sebelum minta cerai. Tak ada peluang untuk lepas dari dakwaan. Tak mungkin berdalih tidak tahu istrinya menerima uang. Tak ada yang peduli, komunikasi dalam rumah tangganya begitu buruk. Tak akan ada pula yang bakal percaya, mantan istrinya menerima Rp2,5 milyar tanpa sepengetahuannya. Karena saat itu memang statusnya masih sebagai istri Faisal. Sebagai orang yang paham hukum, Faisal merasa akan sia-sia jika dia membantahnya. Bisa-bisa malah semakin mempermalukan dirinya, karena persoalan rumah tangganya semakin terbuka semua dan menjadi konsumsi publik.

(Cerpen Achmad Marzoeki “Koruptor tanpa Korupsi”) 

***

Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan.  Kalau ada orang yang mangaku bahwa dia tidak pernah menderita, pengakuannya pasti bohong.  Atau kalau ada orang yang tidak mau menderita,  berati dia telah melawan dan mengingkari kenyataan hidup.  Ia tergolong manusia hedonis.  Manusia yang hanya mau hidup serba enak menghindari penderitaan.  Manusia jenis ini pun manusia yang melawan dan mengingkari kenyataan.  Mengapa?  Ia mengingkari kenyataan hidup karena masalah  penderitaan adalah masalah yang terus mengikuti hidup kita sejak kita berada di dunia sampai nanti dicabut nyawa kita.  Jadi, sebagai manusia kita harus siap hidup menderita.        

Kita tidak boleh terpesona bahwa hidup itu indah sehingga harus selalu indah.  Atau hidup itu nikmat.  Jadi, kita harus hidup dalam suasana kenikmatan.  Kalau sudah demikian falsafah hidup kita, kita tergolong orang yang mendukung hedonisme.  Hedonisme harus kita hindari karena hedonisme menjadikan kita sebagai hamba konsumerisme. Dengan kata lain, hedonisme menjadikan kita manusia yang kontraproduktif.  Artinya, kita menjadi manusia pembeli daripada membuat sendiri, lebih suka menanggapi daripada memainkan sendiri; lebih suka mendapat daripada memberi (Mangunhardjana, 1997:91). 

***

Gaya hidup hedonis tampaknya sudah menjadi falsafah hidup terutama di kota-kota besar di Indonesia.  Gaya hidup seperti ini jelas merusak kehidupan bangsa.  Kita bisa menyaksikan di lembaga-lembaga pendidikan (dari SD sampai PT) sudah menjadi hal yang biasa kalau setiap ujian atau ulangan selalu diwarnai budaya menyontek. Anak didik kita lebih suka menyontek daripada berpayah-payah belajar.  Gaya hidup hedonis juga tampak pada kutipan di bawah ini, ketika Bajus selaku seorang pengusaha agar mudah memperoleh `proyek` dengan seenaknya memberikan umpan seorang perempuan kepada Blengur sang tamu dari Jakarta.  Padahal di balik transaksi kedua belah pihak tersebut ada tersirat pelecehan wanita dengan menjadikan wanita sebagai umpan untuk memperlicin usahanya.  Untuk lebih jelasnya, bisa kita lihat teks berikut ini.

 

JANTERA BIANG LALA

…………………………………………………………………………………………

          Bajus terus tergagap.  Sudah terbayang olehnya bila dia gagal menyenangkan hati Blengur maka lima juta bakal lepas dari tangan.  Bahkan buat selanjutnya dia mungkin tidak akan mendapat pekerjaan lagi. Segalanya harus  kembali dimulai dari titik nol.  Oh, tidak bisa jadi.  Blengur tidak boleh dikecewakan bahkan dengan santapan yang sudah berada tepat di ujung lidah.  Dia bisa murka.  Sekali lagi Bajus hendak membujuk Srintil.  Kali ini bulat tekadnya Srintil harus menurut.

          Hati-hati dibukanya pintu kamar Srintil.  Dia masih tersedu hingga bagian pung-gungnya berguncang. Bajus duduk di pinggir tempat tidur, suaranya seperti ayah kepada anak yang sedang merajuk.

          “Srin, kuharap kamu mau mengerti.  Kasihani aku dan tolonglah aku sekali ini saja.  Bagaimana nanti bila kamu tidak mau membantuku?  Mau ya, Srin?”

          Srintil menggeliat bangkit.  Dipandangnya Bajus sekilas dengan tatapan luar biasa dingin.  Turun dari tempat tidur.  Dirapikannya rambut yang tergerai di bagian depan.  Diambilnya tas tangan.

          “Tunggu.  Mau ke mana kamu?”

          Tak sepatah kata pun menjawab Srintil melangkah hendak ke luar.  Bajus bertin-dak menangkap tangan Srintil yang bersikeras hendak ke luar.  Buat kali pertama Bajus berlaku kasar, memaksa Srintil kembali duduk di tempat tidur.

          “Kamu tetap menolak?  Tidak bisa! Kamu orang Dukuh Paruk harus tahu diri.  Aku telah banyak membantumu.  Aku telah banyak mengeluarkan uang untuk kamu!”

          Bajus berjalan berputar-putar sambil tetap menjaga agar dirinya menjadi palang pintu.  Srintil duduk kaku, tak bereaksi sedikit pun terhadap kata-kata yang didengarnya.  Tiba-tiba Bajus menghentakkan kaki lalu melangkah ke ambang pintu.  Sambil menutup pintu dari luar, Bajus berkata dengan tekanan berat.

          “Kamu orang Dukuh Paruk mesti ingat. Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu ke rumah tahanan.Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?”

          Pintu terbanting dan dikunci dari luar.

          Mengapa orang terlanjur percaya bahwa pembunuhan ialah menghentikan fungsi ragawi sebagian atau keseluruhan dengan satu dan lain senjata.  Mengapa orang terlanjur beranggapan kekejaman ialah tumpahnya darah dan lukanya bagian, raga.  Dengan demikian bajus misalnya gampang sekali mengelak bila ada tuduhan dia baru saja melakukan kekejaman luar biasa sekaligus pembunuhan.  Dalam dua tiga detik melalui beberapa kata dia telah berhasil sempurna membuat seorang manusia kehilangan kemanusiaannya, bahkan tanpa Bajus sendiri melihatnya.

          Satu detik setelah daun pintu terbanting mulailah berlangsung proses lenyapnya akal budi dari totalitas sebentuk pribadi.  Godam pertama mengguncangkan tiang kesadaran yang menopang akal budi Srintil, yakni ketika dia mendapatkan kenyataan citanya menjadi istri Bajus adalah pundi-pundi hampa.  Srintil masih sempat merasakan perih dan pahitnya guncangan ini.  Deraan kedua membuat tiang kesadarannya miring, tidak kuat menahan beban perintah harus melakukan perjinahan; sejarah lamanya sendiri yang sudah ingin ditinggalkan dengan suatu tekad membaja.  Kemudian tiang itu ambruk sama sekali ketika sebuah jari setajam mata tombak menudinngnya sebagai PKI dan siap menyeretnya kembali ke rumah tahanan, sebuah tempat yang boleh jadi bisa disebut  sebagai neraka dunia.

          Sosok itu tentu masih bernama Srintil atau ronggeng Dukuh Paruk.  Tentu pula dia  masih akan disebut sebagai manusia.  Namun faktor yang membedakan antara dirinya dengan segala jenis satwa – akal budi dan kesadarannya --  sudah gaib sedetik yang lalu.  Srintil tidak tahu lagi apa pun dari segi keberadaan dirinya.  Dia tidak tahu lagi dirinya yang kini tinggal menjadi monumen seonggok benda organik.  Posisi tubuh serta semua anggota badannya  masih melukiskan orang terkejut, sama seperti ketika Bajus membanting pintu.  Wajahnya mati, mati.  Matanya tidak berkedip, mulutnya melongo.  Roh kemanusiaan tidak tampak lagi sedikit pun.

          Hanya beberapa langkah di luar kamar Bajus duduk gelisah.  Pikirannya sama sekali lepas dari keadaan di dalam kamar.  Dia tidak tahu ada kiamat kecil baru saja berlangsung tepat di balik tembok di belakangnya.  Yang menggelisahkan Bajus adalah kenyataan bagaimanapun dia harus menghadapi Blengur.  Sungguh tidak terbayangkan olehnya apa yang bakal terjadi bila dia gagal menyuguhkan kesenangan kepada orang Jakarta itu.

 (Ahmad Tohari, 1999: 198--201)

 

Petikan teks di atas sebenarnya menampilkan dua orang yang sedang menderita. Bajus sebagai seorang pengusaha yang ingin sukses dalam usahanya  bermaksud memberikan `hadiah` kepada seorang tamu dari Jakarta agar tamu tersebut mau memberikan salah satu proyeknya di daerah.  Hadiah tersebut berupa perempuan cantik, Srintil, mantan penari ronggeng dari Dukuh Paruk, Banyumas.  Ternyata, Srintil menolak kalau dirinya dijadikan `hadiah` karena ia sudah berniat ingin menjadi perempuan baik-baik. Ia ingin menutup masa lalunya yang kelabu.  Untuk itu, dengan tegas ia menolak berbuat zinah dengan tamu yang disodorkan Bajus. Penolakan tersebut membuat Bajus marah sehingga mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati Srintil. 

Srintil yang  kena damprat dan makian yang menyakitkan itu, sangat terpukul jiwanya.  Ia kaget dan shock. Ia tidak mengira kalau diperlakukan secara kasar oleh Bajus.  Akibat dari perlakuan itu, digambarkan … Wajahnya mati, mati.  Matanya tidak berkedip, mulutnya melongo.  Roh kemanusiaan tidak tampak lagi sedikit pun.  Jadi, Srintil benar-benar terpukul. Dengan kekasaran itu, ia benar-benar sangat menderita.  Penderitaan yang dialami Srintil tidak separah Bajus.  Kalau Bajus dengan penolakan Srintil, boleh jadi salah satu proyeknya saja yang gagal di daerah.  Tidak demikian halnya dengan Srintil.  Srintil terpukul batinnya karena disebut-sebut bekas PKI dan diancam untuk dipenjarakan.

Pada kelanjutan kisah tersebut, ternyata penderitaan Bajus lebih bersifat sementara karena `tamu` dari Jakarta itu pada akhirnya memaklumi keadaan Srintil dan meluluskan permintaan Bajus. 

 

“Masuklah, Jus,”ujar Blengur setelah mendengar pintu  diketuk.

“Duduklah,” sambungnya.

Bajus tidak menyangka akan berhadapan dengan kesantaian.  Di sana Blengur duduk merokok dan tenang.  Sangat tenang.  Tidak tergambar kehausan berahi.  Matanya yang terkenal berwarna petualangan kelihatan teduh.

“Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar.”

“Kata yang mana, Pak?”

“Srintil itu.”

“Cantik dan lugu, kan?”

“Bukan itu maksudku.  Aku terkesan oleh citra pada wajahnya.Wajah perempuan  jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu rumah tangga.  Jus!”

“Ya, Pak.”

“Memang kamu tahu siap aku.  Aku senang berpetualang.  Tetapi, entahlah.  Aku tidak tega memakai Srintil.”

“Pak?”

“Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi obyek petualang- an. Jumlah mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil mengundurkan diri dari dunia lamanya.”

“Pak, lalu?”

“Ya. Antar dia pulang ke rumahnya malam ini juga. Ini uang buat Srintil dan kata- kan sebagai hadiah dari aku.”

Mata Bajus menatap sebuah amplop menggembung yang disodorkan oleh Blengur.  Tangannya bergerak gamang.

“Ya, Pak, ya,” kata Bajus gugup.  Amplop itu dimasukkan ke saku jaketnya.  “Tetapi, Pak.”

“Apa?”

“Proyek. Ya, bagaimana dengan proyek itu?”

“Dasar recehan, kamu.  Tentu saja proyek itu tetap untukmu.  Sekarang sana keluar.  Antar Srintil pulang.”  

 

(Ahmad Tohari, 1999:202 – 203)

 

Jadi, yang menjadi kekhawatiran Bajus tidak terjadi karena Blengur `sang tamu` dari Jakarta dari awal pertemuannya dengan Srintil telah melihat bahwa Srintil bukan lagi sebagai `perempuan` yang selama ini dibayangkan, yaitu `perempuan nakal. Dengan demikian, sebenarnya penderitaan Bajus telah berakhir. Tetapi, bagaimana halnya dengan Srintil setelah dimaki-maki Bajus dengan makian yang menyakitkan hati?  Kutipan kisah berikut ini merupakan saksi bahwa ucapan yang menyakitkan lebih berbahaya daripada pembunuhan fisik. 

          

    “Srin, ini uang banyak sekali dari Pak Blengur buat kamu.  Uang hadiah. Bukan uang….”

          Sunyi.  Mencekam. Bulu kuduk merinding.  Adakalanya orang menjadi sangat takut bila tiba-tiba berhadapan dengan mayat.  Dan akan sekian kali lebih takut bila yang didepan mata adalah mayat hidup.  Srintil terlihat masih dalam posisi yang ganjil.  Wajah mati.  Mata aku berkedip dan mulut melongo.  Bajus terhenyak ke belakang dan amplop yang menggembung jatuh ke lantai.  Gagap dia.  Sulit baginya menerima kenyataan bahwa kemanusiaan kadang tidak lebih tebal dari kulit bawang.  Srintil beberapa menit yang lalu masih lengkap dengan pesona seorang perempuan muda yang cantik. Pesona yang bahkan sesungguhnya menembus juga jantung Bajus yang impoten.  Kini tak ada lagi pesona.  Tidak juga kecantikan.  Kemanusiaannya tinggal tersisa berupa sosok dan nama.  Selebihnya adalah citra hewani.  Citra makhluk tanpa akal budi. 

          Bajus surut.  Dan terus surut hingga punggungnya merapat ke tembok.  Semenit dua menit Bajus masih belum berhasil menata perasaan dengan memahami kenyataan yang terpampang tepat di depan mata.  Dan sesaat ketegangan akhirnya mereda Bajus menghubungkan keadaan Srintil sebelum dan sesudah dia terkunci di kamar.  Bajus mulai merasa dirinyalah penyebab perubahan drastis pada diri Srintil. 

          Kesadaran Bajus perlahan-lahan pulih.  Pundaknya mengendur dan napasnya normal.  Matanya masih menatap boneka hidup yang bernapas pendek-pendek.  Kemudian Bajus melangkah maju.

          “Srin, kenapa kamu?”

Tak ada tanggapan, bahkan dalam sasmita yang paling samar sekalipun.  Dipungutnya amplop yang jatuh lalu disodorkannya ke tangan Srintil yang mengambang di udara.  Tetapi tangan itu tidak semili pun bergeming.  Bajus membungkuk ingin melihat mata Srintil lebih jelas.  Di sana hanya ada lingkaran hitam tanpa ekspresi rasa dan cita, sebentuk kematian dalam hidup. Kebimbangan kembali menyergap.  Bajus keluar hendak mencari seseorang, barangkali dia bisa membantu mengurangi kebingungannya.  Mungkin Blengur.  Namun l angkahnya terhenti di teras vila.  Bajus masuk lagi, berjalan tak menentu.  Tangannya merogoh saku celana dan terpegang kunci kontak mobil.  Ya.  Kini Bajus tahu secara pasti apa yang sebaiknya dia lakukan, mengantar Srintil pulang ke Dukuh Paruk saat itu juga.

“Srin, maafkan aku.  Maafkan aku, ya! Sekarang mari kita pulang.”

Srintil menoleh dengan gerakan linglung.  Dan bukan mata Bajus yang ditolehnya melainkan tubuh laki-laki itu.  Matanya tak bergulir, seakan sudah tersekap mati dalam kelopaknya.  Dan meski terasa sebagai upaya untung-untungan Bajus mem-bimbing tangan kiri Srintil.  Hatinya lega ketika ternyata Srintil menurut.  Srintil berjalan seperti tidak melihat apapun meski kedua matanya terbuka lebar dan tidak berkedip.  Bajus merasa seperti sedang menuntun orang setengah lumpuh dan buta.

 

(Ahmad Tohari,1999: 203 – 205) 

 

Hikmah apa yang bisa diambil dari kutipan-kutipan di atas? Dari kutipan-kutipan cerita di atas, kita bisa mengambil hikmah bahwa: 

·  setiap orang manakala memiliki kepentingan mendesak sering menggunakan cara-cara yang tidak terpuji meskipun harus dengan mengorbankan orang lain;

· manakala kepentingannya terganggu (yang dikhawatirkan akan hilangnya kesempatan)  ia dengan seenaknya menciptakan penderitaan pada orang lain tanpa memikirkan kesudahannya; 

·         kaum wanita sering diposisikan sebagai orang yang layak disalahkan atau objek penderita yang salah satu wujudnya adalah dalam bentuk  pelecehan seksual; dan

·         kata `maaf` sering dijadikan sarana untuk melegitimasi setiap perkataan atau perbuatan yang jelas-jelas akan membuat orang menderita atau minimal menyinggung batin seseorang.

***

Dengan adanya butir-butir hikmah di atas, selayaknya kita harus menghindari hal-hal yang berakibat pada penderitaan orang lain. Kalau kita saja tidak mau disakiti maka orang lain pun jangan kita sakiti.  Untuk itu, menghindari penderitaan pada diri kita harus dimulai dari menghindari penderitaan pada orang lain. 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...