Senin, 05 Oktober 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (86)

Menyoal tentang Tanggung Jawab 

Subagio S.Waluyo



 

Kadis terkejut ketika bertemu dengan gurunya, Kyai Dofir, karena sang guru tampaknya berpihak pada sikap istrinya. Dia diancam Kyai Dofir untuk tidak boleh lagi ikut pengajiannya. Sang  Kyai memandang bahwa pelajaran-pelajarannya yang selama ini diberikan tidak diamalkan oleh muridnya, Kadis. Selain itu, sang guru juga mengingatkan bahwa tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di bawah. Lebih baik memperoleh sedikit rezeki dari hasil kerja keras darpada meminta-minta dengan dalih silaturahim. Meskipun  berupaya mengelak, mau tidak mau Kadis harus menerima putusan sang guru. 

“Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya. “Kau aku larang untuk  mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Humam atau Kyai Sobron.” 

“ Tapi apa salah saya, Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika merasa menyesal, karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.

 

“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melangking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, suapaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak istrimu.” 

“Tapi, Kyai, selama ini saya selalu memberi nafkah .........” 

“Ya, memang kau memberi nafkah," suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras,”tapi nafkah itu kan kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?” 

Kadis mengangguk. 

(Cerpen “Kadis”/Mohammad Diponegoro)


 ***

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia merupakan makhluk yang bertanggung jawab.  Manusia bukan saja bertanggung jawab kepada Tuhan, tetapi juga kepada agama, negara, bangsa, sesama umat manusia, orang tua, anak, dan kepada diri sendiri.  Dengan adanya tanggung jawab, manusia di hari Akhir nanti diminta pertanggungjawabannya oleh Tuhan. Bahkan, secara jujur saja manusia yang masih memiliki hati nurani yang bersih pasti akan mau menyampaikan pertanggungjawabannya kepada sesama manusia. Jadi, manusia tidak mungkin bisa mengingkari adanya kewajiban tersebut.  Untuk memahami konsep tanggung jawab, di bawah ini ada sebuah teks cerpen yang ditulis oleh Seno Gumira Aji Darma. 

 

TELEPON DARI ACEH 

                         Seno Gumira Aji Darma 

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang luput dari pengawasan Indonesia Corruption Watch duduk menghadapi meja makan. Di sana ia mengumpulkan istri dan anak-anak-nya, dan sambil makan mulai bicara.

“Bapak sungguh-sungguh bersyukur, sampai hari ini bapak masih selamat.  Barangkali memang tidak mungkin menyapu seluruh koruptor yang ada di Indonesia.  Koruptor nomor satu atau nomor dua  memang tinggal ditunjuk, karena kekayaannya yang tidak bisa disembunyikan, meski juga tidak bisa dijadikan bukti, tetapi bagaimana dengan koruptor nomor dua ratus atau tiga ratus?  Sedang bapak saja, yang bisa korupsi sekitar Rp200 milyar, rangking-nya cuma nomor 11.217.  Pasti susah `kan, mencabut yang nomor 11.217 dari ratusan ribu koruptor?  Jadi, barangkali untuk sementara kalian bisa tenang.  Masih banyak koruptor kelas kakap yang hasil korupsinya tidak masuk akal, karena memang tidak terhitung.  Bapak ini masih kelas teri, cuma Rp200 milyar.  Masih bisa dihitung.  Tenang sajalah.  Lagi pula bisa sekolah di luar negeri, bisa punya rumah mewah, mobilnya tidak cuma satu, dan punya tabungan yang bunganya cukup untuk hidup sambil ongkang-ongkang kaki.  Ya nggak?  Bapak ini jelek-jelek tidak korupsi untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga.  Demi kehormatan, kebesaran, dan keselamatan keluarga.  Makanya kalian semua sekolah yang benar.  Selesaikan pendidikan dengan sekolah di luar negeri, mumpung masyarakat Indonesia masih silau dengan gelar-gelar dari luar negeri.  Perkara ijazahnya bisa beli, ya beli sajalah, untuk apa capai-capai ber-pikir?  Lebih baik kalian pikirkan bagaimana caranya memutihkan tabungan, bagaimana caranya menghindar kalau disidik, dan cari orang-orang yang bersedia melindungi kita.  Bayar saja sedikit.  Kasih perempuan.  Lantas diperas.  Mereka tidak mungkin bicara.  Uanglah yang akan bicara.  Bagi rata kekayaan antara kita semua, jangan rebutan.  Itu sumber perkara.  Hati-hatidengan kekuasaan.

 

Jangan silau dengan politik. Itu hanya akan membuat kamu jadi singa.  Biasanya singa akan mati diterkam singa lain.  Lebih baik kamu jadi tikus seperti bapak. Tidak usah hebat-hebat  punya nama besar, pokoknya korupsi jalan terus.  Kalau kalian punya jabatan di pemerintahan, meskipun tidak tinggi, kalau punya otak korupsi, bisa menjalan-kan korupsi dengan sistematis.  Tidak usah banyak-banyak.  Nanti terlalu kentara.  Yang penting secara sistematis jalan terus.  Seperti Bapak sekarang, menjelang pensiun sudah korupsi sampai Rp200 milyar.  Yah, memang tidak trilyun-trilyunan, tetapi kita tidak usah terlalu rakus.  Kasihan rakyat kecil.  Kalau semua koruptor korupsinya sampai trilyun-trilyunan, nanti rakyat kecil makan apa?  Jangan-jangan sebutir beras pun tidak kebagian. Korupsi itu secukupnya sajalah.  Asal cukup untuk istri dan anak-cucu.  Nanti cucu-cucu  kaliah tidak usah korupsi lagi, karena sudah punya modal untuk berdagang seperti orang baik-baik.  Meskipun modalnya hasil korupsi, tetapi generasi penerus kita bisa menjadi orang suci.  Mereka tidak salah,`kan bukan mereka yang korupsi, tetapi bapak.  Biarlah bapak menjadi tumbal, biarlah bapak menanggung dosa dan masuk neraka, yang penting anak cucu bapak menjadi orang-orang yang mulia.”

………………………………………………………………………………………

 

Setelah kita melihat teks di atas, apakah kita bisa mengatakan tokoh bapak di atas adalah benar-benar bapak yang bertanggung jawab?  Kepada keluarga ia memang benar-benar bertanggung jawab (demikian bertanggungjawabnya ia siap menjadi tumbal api neraka) karena sampai anak cucu pun telah dijamin kebutuhan materinya.  Tetapi, bagaimana tanggung jawabnya pada negara, pada bangsa, pada umat manusia (sesama anak bangsa), atau pada Tuhan?  Tokoh bapak di atas jelas tidak mempunyai tanggung jawab kepada selain keluarganya.  Bahkan, ia termasuk yang memiliki saham  menghancurkan negara ini.  Karena perbuatan buruknya (korupsi), menjadikan negara ini banyak hutangnya.  Karena perbuatan buruknya pula, terjadi ketimpangan ekonomi yang berakibat pada rusaknya tatanan sosial negeri ini. Jadi,kalau negara ini dikatakan telah tidak berbentuk lagi (bentuk remuk), boleh jadi disebabkan merajalelanya korupsi, penegakan hukum yang tidak adil, berkuasanya kalangan penguasa dan konglomerat, dan berbagai macam bentuk penyimpangan lainnya.     

Apakah cukup dirinya saja menjadi tumbal dan siap disiksa api neraka sementara keturunannya dinilai sebagai orang-orang suci?  Pernyataan sang bapak kepada anak-anaknya mencerminkan kedangkalan cara berpikirnya. Coba, kita renungkan dengan mengajukan pertanyaan: apakah yang diberikan kepada anak dan cucunya itu semuanya halal?  Kita mengatakan tidak halal alias haram.  Pertanyaan berikutnya, jika yang diberikan pada mereka (anak cucunya) sesuatu yang haram, apakah anak cucunya kelak menjadi orang-orang suci?  Jawabannya: bagaimana mungkin orang-orang yang suci (bersih) dibentuk dengan memberikan sesuatu yang haram karena sesuatu yang haram yang telah masuk ke tubuhnya mau tidak mau akan membentuk perilakunya.  Singkatnya, untuk menjadi orang-orang suci (sholeh, bersih) harus diisi oleh yang bersih pula.         

Hal lain yang cukup menarik dari teks tersebut jika dikaitkan dengan pandangan hidup, dari ucapan sang bapak ada terkesan gejala hidup yang mau enaknya sendiri, menggampangkan segala hal, dan memperoleh kenikmatan dengan cara tidak perlu bersusah payah (hedonis).  Pandangan hidup yang dianut sang bapak jelas merupakan pandangan hidup manusia yang tidak bertanggung jawab.  Karena tidak memiliki tanggung jawab, ia melakukan segala macam cara sebagaimana terlihat pada teks di atas seperti “ (1) Perkara ijazahnya  bisa beli, ya beli sajalah …. (2) Lebih baik kalian pikirkan bagaimana caranya menyelamatkan kekayaan hasil korupsi bapak. (3) Pikirkan bagaiamana caranya memutihkan tabungan, (4) bagaimana caranya menghindar kalau disidik, dan (5) cari orang yang bersedia melindungi kita. (6) Bayar saja sedikit. (7) Kasih perempuan. (8) Lantas diperas….(9) Bagi rata kekayaan antara kita semua, jangan rebutan… (10) Hati-hati dengan kekuasaan. (11) Jangan silau dengan politik…(12) Tidak usah hebat-hebat punya nama besar, pokoknya korupsi jalan terus. (13) Kalau kalian punya jabatan di pemerintahan, meskipun tidak tinggi, kalau punya otak korupsi, bisa menjalankan korupsi dengan sistematis….. (14) Korupsi itu secukupnya sajalah. (15) Nanti cucu-cucu kalian tidak usah korupsi lagi, karena sudah punya modal untuk berdagang seperti orang baik-baik.  (16) Meskipun modalnya hasil korupsi, tetapi generasi penerus kita bisa menjadi orang suci.…(17) Biarlah bapak menjadi tumbal, biarlah bapak menanggung dosa dan masuk neraka…..”

***

Tampaknya, kita perlu mencari sebuah contoh (prosa/puisi) yang benar-benar mencerminkan sebuah tanggung jawab yang sebenarnya.  Potongan kisah (cerpen) berikut ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kita.

 

Saimah.  Hujan pertama kali turun menyapu pelataran pabrik, tubuhnya kuyup berlari histeri diseret lelaki bersarung:”Cepat, Saimah! Anakmu…” 

“Katakan Adun, kenapan anakku!” Saimah menghardik, seluruh syaraf-syaraf otaknya mamapat, “Katakan Adun!!” 

“Zainab, aku melihat mereka menyeretnya ke arah belakang.  Tiga orang bersenjata.  Kau tahu, aku tidak mungkin melawannya.  Hanya kau…” Adun menyentak, “Ke sini jangan berteriak.” 

Kelebat bayangan lima serdadu berwajah kekar memanggul karaben di pintu gerbang.  Lamat suara tembakan sesekali terdengar dari jauh.  Adun mengeratkan tangan Saimah dan melangkah merunduk diantara semak.  Menuju batas pagar:”Kau larilah cepat ke arah sana.  Ada pintu yang tak terkunci.  Sekali lagi, hanya kau yang bisa menolong Zainab, Saimah. Jangan sampai mereka tahu kalau aku menunggu di sini. Ingat, mereka tidak akan menembak perempuan.Dan rapatkan mulutmu kalau kau tertangkap.Semoga tidak terlambat.” 

Naluri ibu yang kalap.  Saimah memandang angkasa, mengeratkan mulut berdoa.  Allah!  Langit  mengguruhkan suara petir yang runcing, membiaskan cahaya berkerlap.  Ia lari. Menantang angin yang tiba-tiba bertiup menggugurkan daun-daun. Dan itulah!  Radius jarak 200 meter ia mendengar teriak suara parau perempuan yang terhina.  Zainab!  Ia melompat dan bergemuruh, menabrak pintu dan… 

“Masya Allah.  Kalian perkosa anakku?!  Iblis laknat…” Saimah meraung.  Jeritan keras menembus lapisan langit.  Tubuhnya melayang melompat dan menerkam tiga bayangan hitam yang mendadak terjengat, tak menyangka:”Hei,hei, tahan dia Sersan! Sial…” 

Tapi Tuhan tak memiliki kemustahilan.  Ratusan tahun Negeri Serambi telah melahirkan keperkasaan perempuan yang bergerak di hutan-hutan.  Ketika senapan dikokang, selarik cahaya petir tiba menyambar; sedetik mata kopral terpejam, sedetik kemudian tangan Saimah melayang merebut senapan.  Teramat cepat.  Lalu rentetan tembakan menggelegar, mencabik-cabik keputusasaan Saimah.  Dan angin mendesau-desau di luar pagar.  Dan raung tenggorokan yang sekarat menggelepar dibasuh hujan. Amis darah. Lalu hening.  Saimah gemetar suara senapan berkelotrak jatuh: ia memaku.  Lentikan mata di luar kesadaran, wajah yang mengeras, lalu dengan tiba-tiba pula ia menangis.  Memeluk Zainab, anak gadis bau kencur yang belum saatnya dipetik; tapi dirobek paksa dan begitu amat terhina:”Kau…apa yang telah mereka lakukan ter-hadapmu, anakku, ya Allah …” 

“Pasukan gerilyawan Sabil.  Mereka memaksaku untuk mengatakannya.  Salahkah kalau aku memilih mati, ibu?  Tapi alat negara tidak memilih itu.  Mereka memperkosaku.  Mereke hanya perlu unttuk menghina negeri ini.  Allah…Allah…Allah telah begini kotor.” 

“Tidak.  Engkau tetap suci.  Bidadariku.  Diamlah, ssst…” 

(“Bulan Sabit”, hlm. 182 – 184)    

 

Sebelum kita menyimpulkan bahwa potongan kisah di atas diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kita tentang konsep tanggung jawab yang sebenarnya,  adakah kesamaan naluri `Sang Bapak` pada “Telepon dari Aceh” dengan `Sang Ibu` pada “Bulan Sabit” ?     

Keduanya jelas menunjukkan adanya kesamaan naluri kemanusiaan.  Baik pada `Sang Bapak` maupun `Sang Ibu` kedua-duanya berkeinginan menolong  anak-anaknya atau keturunannya agar mereka tidak sia-sia hidupnya (mati sengsara). Tetapi, ada hal yang berbeda.  Jika `Sang Bapak` menolong anaknya dengan cara-cara yang tidak benar (melalui praktek-praktek KKN walaupun peringkatnya ke-11.217), tidak demikian halnya dengan `Sang Ibu`.  Dalam hal ini seandainya ada pengorbanan adalah pengorbanan yang mengarah pada hal-hal yang negatif, yaitu penyalahgunaan jabatan yang merugikan orang lain.  Pada `Sang Ibu` tidak demikian. Di sini  `Sang Ibu` menolong anaknya dengan pengorbanan nyawa.  Demi anaknya ia harus melakukan `sesuatu`  (tentu saja sangat terhormat), antara membunuh dan terbunuh.  Seandainya, ia membunuh pun tidak ada dosa karena ia dalam posisi terjepit.  Begitupun kalau terbunuh, dalam agama ia terhitung mati syahid karena membela keturunannya dari cengkeraman musuh merupakan ibadah.          

Dilihat dari sisi manapun `sang ibu` yang membela mati-matian anak putrinya dari cengkeraman manusia berhati binatang  merupakan tanggung jawab yang mulia.  Sedangkan `sang bapak` yang demi menjaga keturunannya dan kehormatannya terpaksa melakukan korupsi merupakan tanggung jawab yang dilumuri kehinaaan. Boleh juga, kalau bisa dikatakan, tanggung jawab yang tidak mulia atau tanggung jawab yang dinodai oleh kehinaan.  Sebagai penutup coba kita renungkan tulisan sang anak yang kecewa dengan perilaku sang bapak yang korup yang dikutip dari Potret Pembangunan dalam Puisi/WS Rendra,1993:60—61.    


Ayah berkata: “Santai, santai!”

tetapi sebenarnya ayah hanyut

dibawa arus jorok keadaan.

Ayah hanya punya kelas,

tetapi tidak punya kehormatan.

Kenapa ayah berhak mendapat kemewahan yang sekarang

ayah miliki ini?

Hasil dari bekerja?  Bekerja apa?

Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi?

Seorang petani lebih produktif daripada yah.

 

Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.

Ayah hanya bisa membuat peraturan.

Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan

          rakyat dari penguasa

Ayah tidak produktif  melainkan destruktip.

Namun toh ayah mendapat gaji yang besar!

Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan?

Tidak pernah, bukan? 

Terlalu berisiko, bukan?

Apakah aku harus mencontoh ayah?

Sikap hidup ayah adalah pendidikan bagi jiwaku.

……………………………………………………….

 

Minggu, 04 Oktober 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (85)

 Menyoal tentang Pengabdian

Subagio S.Waluyo


DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA

                                                          Hartojo Andangdjaja

Apa yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu

sumber pengabdianku kepadamu

 

Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku

aku takut, anak-anakku

kursi-kursi tua yang di sana

dan meja tulis sederhana

dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya

semua padamu akan bercerita

tentang hidupku di rumah tangga

 

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita

depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja

-----horison yang selalu baru bagiku----

karena kutahu, anak-anakku

engkau terlalu muda

engkau terlalu bersih dari dosa

Untuk mengenal ini semua

 

          (Solo, 1955)

***

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.  Tetapi, manusia juga bisa menjadi makhluk Tuhan yang paling buruk kedudukannya (bisa lebih buruk daripada binatang ternak).  Agar manusia bisa mempertahankan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya, ia harus menyembah (bisa juga diartikan sebagai mengabdi) yang menciptakannya, yaitu Tuhan.  Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai makhluk pengabdi (maksudnya yang mengabdi kepada Tuhan).  Sampai sejauhmana kuatnya pengabdian manusia kepada Sang Khalik, coba kita amati puisi di bawah ini.    

KAUM MUSLIM DI BOSNIA

                                Piek Ardijanto Soeprijadi

Sampai kini kami

tetap membentangkan sajadah

berkiblat ke ka`bah

selalu bertakbir

selalu berdzikir

rajin merangkai tasbih

berusaha jadi orang salih

 

meski bangunan roboh

suami  kami dibunuh

istri kami disiksa

gadis kami diperkosa

meruap haus lapar

penyakit menjalar

selama nadi berdenyut

satu tak bisa hanyut

iman kami tetap pijar

meski hidup begini getir

 

kaulihatkah keadaan kami

kaudengarkah berita duka kami

kaubayangkankah derita kami

terketukkah pintu hati kalian

semoga kami tabah dalam cobaan

semoga kami lulus dalam ujian

sampai kini kami tetap

membentangkan sajadah

berkiblat ke Ka`bah

selalu bertakbir

selalu berdzikir

rajin merangkai tasbih

berusaha jadi orang salih.

 

                                (1992)

 


Manusia yang benar-benar beriman kepada Tuhan-nya meskipun ditimpa musibah bertubi-tubi (seperti kejadian yang menimpa Muslim Bosnia) ia akan tetap menyembah-Nya.  Kaum Muslimin Bosnia di awal tahun `90-an merupakan masyarakat minoritas di Yugoslavia (sebelum pada akhirnya Bosnia melepaskan diri dari Yugoslavia) dan juga di Eropa yang sebagian besar non-Muslim.  Entah mengapa masyarakat minoritas itu yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat non-Muslim dimusuhi dan diperangi sehingga terjadi kejadian yang memilukan bagi bangsa tersebut. Kita mengatakan sebagai kejadian yang memilukan karena pada saat akan memasuki abad XXI terjadi genocide atau pembersihan etnis di negara bagian Yugoslavia tersebut.          

Dalam kejadian di Bosnia, mereka yang memerangi masyarakat Muslim Bosnia telah berlaku sangat kejam.  Mereka bukan saja membunuh kaum laki-laki, tetapi juga memerkosa gadis-gadis dan wanita-wanitanya, membunuh anak dan kaum wanita yang lemah.  Bahkan, wanita-wanita yang sedang hamil pun diambil bayinya dan dipanggang di kompor yang sedang menyala-nyala.  Ini merupakan peristiwa besar yang tidak manusiawi.  Peristiwa tersebut oleh para penyair Muslim di Indonesia (sebanyak 34 penyair) direkam dan diabadikan ke dalam sebuah kumpulan puisi dengan judul Baca Puisi Solidaritas Bosnia Kita yang pada tanggal 16 November 1992 dibacakan di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki.  Acara tersebut dihadiri oleh ribuan penonton yang ingin menyaksikan pembacaan puisi tersebut (selama ini dalam acara pembacaan puisi atau acara sastra lainnya tidak ada yang dihadiri oleh sekian banyak penonton).          

Salah seorang penyumbang yang turut serta dalam acara tersebut adalah Piek Ardijanto Soeprijadi (almarhum).  Piek menunjukkan bahwa seorang Muslim meskipun dalam kondisi yang sangat gawat tidak akan mungkin melepaskan dirinya dari Sang Khalik.  Disebutkan dalam puisi itu “meski bangunan roboh/ suami kami dibunuh/ istri kami disiksa/ gadis kami diperkosa/ meruap haus lapar/ penyakit menjalar”.  Jadi, itu semua tidak menyurutkan dirinya untuk beribadah kepada Tuhannya. Justru dengan adanya peristiwa yang memilukan dan mengancam dirinya, ia harus semakin mendekatkan diri pada Allah bukan hanya mengerjakan yang wajib tetapi juga yang sunah seperti ber-tashbih, ber-tahmid, ber-takbir , dan berbagai macam bentuk dzikir lainnya.  Dengan cara demikian, “iman kami tetap pijar/ meski hidup begini getir”.          

Pada bait ketiga Piek mengajak kita untuk melihat akibat yang diderita mereka (kaum Muslimin Bosnia) tentang keadaannya, kedukaannya, dan penderitaannya.  Untuk itu, ia mempertanyakan hati nurani kita melihat kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di Bosnia: “terketukah pintu hati kalian”.   Meskipun demikian, ia hanya berharap (tentu saja kepada Allah) agar kaum Muslim Bosnia memiliki ketabahan dalam menghadapi cobaan dan dari segala macam bentuk ujian (“semoga kami tabah dalam cobaan/ semoga kami lulus dalam ujian”). 

         ***

Tampaknya, tentang tanggung jawab belum lengkap jika belum adanya sebuah cerita meskipun hanya berupa sepotong kisah yang tidak lengkap.  Di bawah ini ditampilkan teks sebuah cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya.  Silakan dibaca dan disimak!

GURU (1)

           Setelah menjadi kepala sekolah selama 10 tahun, Arif tiba-tiba kaget karena merasa dirinya telah dipisahkan oleh jabatan dengan anak-anak didiknya.  Kesibukan-nya sebagai seorang kepala, menyebabkan ia tak ada waktu lagi mengajar bahasa Indonesia, menyanyi, dan menggambar yang begitu dicintainya. Tak ada lagi kesempat- an ia berdiri di depan kelas dan bersentuhan pandangan serta cakap dengan anak-anak SD 500 itu.

          “Ini sudah bertentangan dengan harkat dan pengabdianku sebagai guru.  Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat.  Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluahnya.

          Ia termenng di belakang mejanya, memandang ke luar.  Lewat jendela dilihatnya di bawah naungan pohon-pohon nangka, anak-anak sedang main kasti.  Sayup-sayup di dengarnya pula di sebuah  kelas anak-anak sedang menyanyikan lagu “Nyiur Hijau” dipimpin oleh Ibu Upik.

          “Wah, aku sudah menjadi korban kedudukanku.  Kini waktunya untuk memutus- kan apakah kebahagiaan hidup itu berarti uang dan jabatan yang empuk, atau perasaan bangga karena sudah berarti dan dekat dengan murid-murid yang menjadi tanggungan sekolah?” tanyanya.

          Lebih duka lagi hatinya ketika pintu diketuk dan seorang murid masuk menanya-kan apakah kelasnya boleh pulang karena seorang guru tidak masuk.  Ia tercengang sebab tidak mengenali siapa anak itu.  Kelas berapa dia?  Namanya, apalagi kedaan keluarganya, tak dikenalnya.

          Arif merinding.  Ia merasa sangat asing.  Pikirannya kalut.  Ia dihimpit sengatan berdosa.

          “Kalau begini terus, aku bisa modar.  Baiknya aku cepat-cepat mengajukan permohonan supaya diberhentikan sebagai kepala sekolah dan dijadikan guru biasa lagi,”  bisiknya kepada istrinya malam hari di rumah.

          Istri Arif seorang wanita biasa yang kurang pendidikan.  Wanita itu heran men-dengar keluah suaminya.  Tetapi ia tak berani memberikan pertimbangan.  Ia terlalu percaya pada buah pikiran suaminya.  Sebagai guru, ia pasti waras.  Masak guru ber-pikir yang tidak-tidak.

          “Ya, bagaimana saja, asal kita semua dapat ketenangan,” katanya sembari menyulam.

          Arif, masih tetap menjabat kepala sekolah, selama 2 tahun kemudian.  Tapi di tahun ketiga, ledakan jiwanya itu sudah mencabik-cabiknya.  Suara hati itu tidak ter-tahankan lagi.  Ia merasa sudah menjadi budak pekerjaan dan musuh cita-citanya sendiri.

          “Ini bisa membuat aku sakit dan kosong.  Aku bisa gila. Aku tak bisa mem-bohongi hati nuraniku sendiri bahwa seorang guru adalah seorang guru, ia harus bersentuhan dengan murid, bukan hanya mengurus administrasi, pidato, dan memerin-tah dari belakang meja serta hanya berhubungan dengan penilik sekolah.  Dosa ini harus dihentikan sekarang!”  teriak Arif di dalam sanubarinya. 

          Akhirnya, kejutan yang tidak merupakan kejutan lagi karena sudah terlalu banyak dikoar-koarkan itu, terjadi juga.  Arif mundur atas kehendak sendiri sebagai kepala sekolah.  Ia rela melepas kursi, kehormatan, dan tanggung jawabnya serta juga gajinya,untuk menukarnya dengan jabatan guru biasa dengan fasilitas yang lebih sedikit.

          “Prosesnya memang berbelit-belit, tetapi tak apalah. Karena kebahagiaan me-mang harus dicapai dengan pengorbanan dan keteguhan,” ujarnya berseri-seri.

          Ia tampak sehat, gembira, meskipun pucat.

          Sejak itu, ia sibuk lagi mengajar.  Masuk kelas demi kelas.  Mendidik dan mene-barkan ilmu yang dikuasainya pada calon-calon penerus di masa depan itu.  Arif tampak berdarah lagi.  Ia bersentuhan pandang dan cakap dengan murid.  Ia mulai tahu lagi nama semua anak didiknya.  Bahkan latar belakang keluarga seluruh murid pun dipahaminya. 

(Protes, 1995:37— 39) 


Guru memang makhluk pengabdi. Sebagai guru yang sudah demikian mendarah daging untuk mengabdi sebagai pendidik, seorang guru akan merasa kering jiwanya jika tidak pernah lagi bertatap muka dengan murid-muridnya.  Demikian pula yang terjadi pada Arif.  Seorang guru yang telah beralih profesi menjadi kepala sekolah (meskipun jabatan kepala sekolah juga masih lekat dengan dunia pendidikan) ternyata juga mengalami kejenuhan dengan jabatan-nya itu.  Ia merasa bahwa jabatannya telah mengakibatkan harus berpisah dengan murid-muridnya karena tidak ada kesempatan untuk mengajar (“Ini sudah bertentangan dengan harkat dan pengabdianku sebagai guru.  Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat.  Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluhnya ). Ia juga merasa bahwa dirinya telah menjadi korban kedudukan. Ia harus memutuskan antara berhenti menjadi kepala sekolah dengan risiko melepaskan jabatan, kehormatan, tanggung jawab, dan gajinya.  Atau ia tetap mempertahankannya dengan risiko terus menerus dihantui rasa berdosa dan menjadi gila karena harus membohongi hati nuraninya. 

Arif memang masih bisa bertahan selama dua tahun lagi menjadi kepala sekolah.  Namun, karena keinginannya yang demikian kuat pada saatnya, manakala sudah tidak bisa lagi dibendung kerinduannya untuk mengajar, dengan berbagai pengorbanan, ia kembali menjadi guru dan melepaskan jabatannya sebagai kepala sekolah.  Meskipun terasa sulit dan butuh waktu yang cukup panjang, ia merasa bahagia karena keinginannya tercapai sudah (“Prosesnya memang berbelit-belit, tetapi tak apalah.  Karena kebahagiaan memang harus dicapai dengan pengorbanan dan keteguhan,” ujarnya berseri-seri).

         ***

Pengabdian yang membuahkan kebahagiaan memang membutuhkan pengorbanan dan keteguhan sebagaimana yang dilakukan oleh Arif.  Namun, kita juga harus realistis karena menjadi kepala sekolah pun meskipun tergolong birokrat, ia masih lekat dengan dunia pendidikan (apalagi kepala sekolah SD yang gajinya  relative rendah).  Jadi, Arif selaku kepala sekolah selayaknya tidak perlu mundur dari jabatannya karena di sela-sela waktu kosong ia masih ada kesempatan untuk mengajar atau mengisi kelas-kelas yang kosong.  Dalam potongan cerita di atas ketika seorang murid menghadap untuk minta pulang karena gurunya tidak hadir, selaku kepala sekolah, Arif harus mengambil inisiatif untuk mengisi kekosongan tersebut.  Selaku birokrat Arif harus mengalahkan jabatannya sehingga tidak ada alasan bahwa ia tidak boleh mengajar kembali.  Dengan cara demikian, hal-hal yang mengganjal hati nuraninya bisa terobati.  Artinya, meskipun menjadi kepala sekolah banyak kesempatan bagi Arif untuk bertatap muka dengan murid-muridnya.  Sebaliknya, sikap Arif yang merasa terpukul dengan jabatannya sementara tidak bis berbuat apa-apa justru menunjukkan bahwa dirinya lemah (kalau bids dikatakan sebagai pengabdi yang kurang bertanggung jawab pada dunia pendidikan).   


Kebahasaan dan Kesastraan (84)

Menyoal tentang Keadilan

 

Subagio S.Waluyo 



RAKYAT BERGERAK 

                                               Fadli Zon 

ketika keadilan diinjak-injak

kebenaran makin terkoyak

di mana kau berpijak?

 

ketika kecurangan meruyak

suara rakyat dibajak

di mana kau berpihak?

 

negeri ini makin rusak

dipimpin penguasa congkak

pribumi tergusur jadi budak

komprador asing pesta merompak

 

bangunlah jiwa-jiwa merdeka

mendobrak tembok tirani

saatnya rakyat bergerak bersama

menjemput perubahan esok hari

 

(https://www.suara.com/news/2019/05/15/120549/isi-puisi-rakyat-bergerak-fadli-zon-keadilan-diinjak-injak)

 


***

Apa itu keadilan? Mengapa kita harus berbuat adil? Adakah orang atau tokoh yang dianggap adil? Bilamanakah keadilan bisa diwujudkan? Bagaimana cara kita menegakkan keadilan?  Pertanyaan-pertanyaan itulah yang perlu kita ajukan agar kita mengetahui bahwa keadilan memang sesuatu yang sampai saat ini sedang kita perjuangkan. Kita memang berkewajiban memperjuangkan dan menegakkannya karena keadilan sampai saat ini hanya sebatas ide-ide indah yang salah satu di antaranya tercantum dalam sila kelima Pancasila.         

Apa itu keadilan? Sebuah pertanyaan sederhana.  Namun pertanyaan itu menggelitik kita untuk mencari jawaban.  Secara sederhana keadilan dalam KBBI (1999:7) didefinisikan sebagai sifat (dalam hal ini perbuatan, perlakuan, dan sebagaimana) yang adil.  Sedangkan kata adil yang melekat pada kata keadilan didefinisikan sebagai 1 tidak berat sebelah; tidak memihak ; 2 berpihak kepada yang benar, berpegang pada kebenaran; 3 sepatutnya; tidak sewenang-wenang.  Jadi, kata keadilan bisa berarti sifat yang:

•        tidak berat sebelah;

•        tidak memihak;

•        berpihak kepada yang benar;

•        berpegang pada kebenaran;

•        sepatutnya; atau

•        tidak sewenang-wenang.

Mengapa kita harus berbuat adil?  Kita harus berbuat adil karena (dengan mengacu pada butir-butir yang menunjukkan arti keadilan di atas) jika kita berat sebelah atau memihak kepada orang atau kelompok yang kuat (ekonominya, kekuasaannya), misalnya, akan terjadi berbagai macam bentuk kemungkaran.  Sebagai bukti bisa kita saksikan nanti tentang nasib negara kita di masa depan.  Akan seperti apa negara ini di masa yang akan datang kalau hutang-hutang luar negeri sudah demikian menumpuknya?  Apakah untuk menutupi APBN yang kerap kali defisit ditanggulangi dengan menaikkan BBM, TDL, atau PPN?  Siapa yang paling menderita dengan kenaikan-kenaikan tersebut?  Rakyat kecil, bukan?  Jika rakyat kecil yang selalu menjadi korban, bagaimana nasib bangsa ini yang sebagian besar adalah rakyat kecil? Bukankah defisitnya APBN salah satu di antaranya karena kita wajib membayar hutang yang kita tahu sendiri bahwa hutang negara yang demikian besar itu lebih merupakan warisan Rezim Orde Baru?  Siapa yang memanfaatkan hutang negara itu kalau bukan para penguasa dan konglomerat yang berkuasa pada waktu itu?  Mengapa mereka tidak diadili? Kalau mereka tidak diadili, apakah akan memberikan kebaikan buat bangsa ini atau sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sampai sekarang ini tidak terjawab (dijawab dengan penegakan hukum bukan retorika hukum) yang berakibat pada munculnya berbagai macam bentuk kemungkaran.  Kemungkaran macam apa itu yang muncul saat ini?

Kemungkaran yang muncul saat ini beragam.  Tindakan anarkis, vandalis, dan main hakim sendiri yang berakibat pada ketidakamanan, ketidak-nyamanan, dan ketidaktenteraman merupakan bentuk kemungkaran. Tindakan masyarakat seperti itu lebih disebabkan oleh tidak tegaknya hukum di negara ini (hukum bisa diatur sedemikian rupa) sehingga Taufik Ismail pun merasa malu sebagai warga negara Indonesia.Ungkapan tentang itu terekam dalam bait puisi di bawah ini.   

………………………………………………………………………

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

                                                                               (Taufik Ismail, 1998:19)

Jadi, akibat tidak tegaknya hukum terjadi perusakan akhlak. Bagaimana jika akhlak telah rusak?  Kita jangan berharap akan jadi apa negara ini.  Inilah alasan kita untuk menegakkan keadilan.   

***      

Pertanyaan berikut: adakah orang atau tokoh yang kita anggap adil saat ini?  Kita jawab singkat saja: tidak ada!  Mengapa tidak ada.  Tidak adanya orang atau tokoh yang adil karena memang orang atau tokoh yang kita duga akan bersikap adil, ternyata juga tidak bersikap adil.  Apakah kita bisa menyatakan bahwa penguasa A, penguasa B, pejabat X, pejabat Y, atau tokoh masyarakat P, Q, R, S itu adil?  Atau orang tua kita, bapak ibu kita, Bisakah dijadikan contoh teladan dalam hal keadilan?  Coba kita simak potongan  puisi di bawah ini yang memberikan jawaban atas pertanyaan: bagaimana sebenarnya (sebagian) orang tua kita dalam hal bersikap adil?

Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat di mejanya:

 “Ayah dan ibu yang terhormat,

aku pergi meninggalkan rumah ini.

Cinta kasih cukup aku dapatkan.

Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.

Ya, aku menolak untuk mendewakan harta,

tetapi kehilangan kesejahteraan.

Bahkan kemewahan yang ayah punya

tidak juga berarti kemakmuran.

Ayah berkata: “Santai, santai!”

tetapi sebenarnya ayah hanyut

dibawa arus jorok keadaan.

Ayah hanya punya kelas,

tetapi tidak punya kehormatan.

Kenapa ayah berhak mendapat kemewahan yang sekarang

ayah miliki ini?

Hasil dari bekerja?  Bekerja apa?

Apakah produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi?

Seorang petani lebih produktif daripada yah.

 

Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.

Ayah hanya bisa membuat peraturan.

Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan

          rakyat dari penguasa

Ayah tidak produktif  melainkan destruktip.

Namun toh ayah mendapat gaji yang besar!

Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan?

Tidak pernah, bukan?

 

Terlalu berisiko, bukan?

Apakah aku harus mencontoh ayah?

Sikap hidup ayah adalah pendidikan bagi jiwaku.

Ayah dan ibu, selamat tinggal.

Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya.”  

(WS Rendra, Potret Pembangunan dalam Puisi, 1993:60-61)                                      

Potongan puisi di atas mencerminkan suatu kenyataan: jauh api dari panggang. Artinya, (sebagian) orang tua kita ternyata melakukan hal-hal yang tidak terpuji meskipun semua yang dilakukan demi anak-cucu.  Seorang anak yang terpanggil hati nuraninya (dalam puisi tersebut diwakili oleh sang putra yang  mahasiswa) menulis surat.  Di surat itu ia menuangkan gejolak perasaan hatinya yang terpendam selama ini.  Ia menyampaikan bahwa ia tidak suka cara hidup kedua orang tuanya meskipun kemewahan hidup ia dapatkan. Ia mempersoalkan tentang status dan pekerjaan ayahnya yang hanya memiliki kelas tetapi tidak punya kehormatan karena seorang petani atau buruh jauh lebih terhormat dari pekerjaan orang tuanya.  Bahkan, dengan kasarnya ia mengatakan ayahnya tidak produktif melainkan destruktif meskipun memperoleh gaji yang besar.  Terakhir, ayahnya ternyata juga tidak pernah memprotes ketidakadilan karena ia sendiri terlibat dalam pusaran untuk menegakkan ketidakadilan. 

 Sekarang, bagaimana dengan diri kita? Jangan-jangan kita sendiri justru tergolong orang yang tidak adil? Jadi, untuk saat ini kita hanya percaya bahwa orang atau tokoh yang adil baru ada pada para nabi dan rosul.  Di luar itu, jangan dicari (termasuk diri kita sendiri).  Dengan demikian, selama tidak ada orang yang bisa dijadikan contoh teladan sebagai orang atau tokoh yang adil, bilamanakah kita bisa mewujudkan keadilan? Rasa-rasanya sulit untuk mewujudkan keadilan selama belum ada tokoh yang dijadikan contoh teladan dalam menegakkan keadilan.  Tetapi, kita tidak boleh putus asa sehingga kita tidak berkeinginan untuk mewujudkan keadilan.  Untuk itu, kita pertama kali harus menegakkan keadilan buat diri kita dulu sendiri.  Bagaimana caranya?  Ini pertanyaan menarik yang perlu kita renungkan melalui sebuah puisi di bawah ini. 

 

JANGAN

                              Sutardji Calzoum Bachri

kita dari akar yang sama

dari pohon sejrah yang sama

kita dari bangsa yang sama

dari kemanusiaan yang satu

 

maka

jangan berucap dengan peluru

jangan bergumam dengan dentuman

jangan berkata lewat batu

jangan sampaikan lewat pentungan

 

utarakanlah dengan mawar

dengan bijak tingkah lembut merdu

utarakanlah dengan sabar

asal dari nurani yang satu

                                                                        Mei 1998

***

Sutardji Calzoum Bachri melalui puisinya di atas mengajarkan kita cara bersikap adil kepada sesama kita, yaitu untuk tidak menggunakan bahasa kekerasan (entah dengan peluru, bom, batu, atau pentungan).  Tetapi, gunakan kelembutan (juga keindahan dan keharuman seperti mawar) dan kesabaran yang berangkat dari hati nurani manusia. Ia mengingatkan kita sekalian karena kita berasal dari akar yang sama, pohon sejarah yang sama, dan bangsa yang sama (yang lebih penting lagi adalah manusia yang memiliki rasa kemanusiaan), yaitu bangsa Indonesia. Singkatnya, kita mulai menegakkan keadilan (juga kebenaran) dengan menghindari kekerasan karena kekerasan tidak akan menghasilkan sesuatu yang terbaik.



Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...