Menyoal tentang Keadilan
Subagio S.Waluyo
|
RAKYAT BERGERAK Fadli Zon ketika keadilan diinjak-injak kebenaran makin terkoyak di mana kau berpijak?
ketika kecurangan meruyak suara rakyat dibajak di mana kau berpihak?
negeri ini makin rusak dipimpin penguasa congkak pribumi tergusur jadi budak komprador asing pesta
merompak
bangunlah jiwa-jiwa merdeka mendobrak tembok tirani saatnya rakyat bergerak
bersama menjemput perubahan esok hari
|
***
Apa itu keadilan? Mengapa kita harus berbuat adil? Adakah orang atau tokoh yang dianggap adil? Bilamanakah keadilan bisa diwujudkan? Bagaimana cara kita menegakkan keadilan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang perlu kita ajukan agar kita mengetahui bahwa keadilan memang sesuatu yang sampai saat ini sedang kita perjuangkan. Kita memang berkewajiban memperjuangkan dan menegakkannya karena keadilan sampai saat ini hanya sebatas ide-ide indah yang salah satu di antaranya tercantum dalam sila kelima Pancasila.
Apa
itu keadilan? Sebuah pertanyaan sederhana.
Namun pertanyaan itu menggelitik kita untuk mencari jawaban. Secara sederhana keadilan dalam KBBI (1999:7)
didefinisikan sebagai sifat (dalam hal ini perbuatan, perlakuan, dan sebagaimana)
yang adil. Sedangkan kata adil yang
melekat pada kata keadilan didefinisikan sebagai 1 tidak berat sebelah; tidak
memihak ; 2 berpihak kepada yang benar, berpegang pada kebenaran; 3 sepatutnya;
tidak sewenang-wenang. Jadi, kata
keadilan bisa berarti sifat yang:
• tidak berat sebelah;
• tidak memihak;
• berpihak kepada yang benar;
• berpegang pada kebenaran;
• sepatutnya; atau
• tidak sewenang-wenang.
Mengapa
kita harus berbuat adil? Kita harus
berbuat adil karena (dengan mengacu pada butir-butir yang menunjukkan arti
keadilan di atas) jika kita berat sebelah atau memihak kepada orang atau
kelompok yang kuat (ekonominya, kekuasaannya), misalnya, akan terjadi berbagai
macam bentuk kemungkaran. Sebagai bukti
bisa kita saksikan nanti tentang nasib negara kita di masa depan. Akan seperti apa negara ini di masa yang akan
datang kalau hutang-hutang luar negeri sudah demikian menumpuknya? Apakah untuk menutupi APBN yang kerap kali
defisit ditanggulangi dengan menaikkan BBM, TDL, atau PPN? Siapa yang paling menderita dengan
kenaikan-kenaikan tersebut? Rakyat
kecil, bukan? Jika rakyat kecil yang
selalu menjadi korban, bagaimana nasib bangsa ini yang sebagian besar adalah
rakyat kecil? Bukankah defisitnya APBN salah satu di antaranya karena kita
wajib membayar hutang yang kita tahu sendiri bahwa hutang negara yang demikian
besar itu lebih merupakan warisan Rezim Orde Baru? Siapa yang memanfaatkan hutang negara itu
kalau bukan para penguasa dan konglomerat yang berkuasa pada waktu itu? Mengapa mereka tidak diadili? Kalau mereka
tidak diadili, apakah akan memberikan kebaikan buat bangsa ini atau sebaliknya?
Pertanyaan-pertanyaan itu yang sampai sekarang ini tidak terjawab (dijawab
dengan penegakan hukum bukan retorika hukum) yang berakibat pada munculnya
berbagai macam bentuk kemungkaran.
Kemungkaran macam apa itu yang muncul saat ini?
Kemungkaran
yang muncul saat ini beragam. Tindakan
anarkis, vandalis, dan main hakim sendiri yang berakibat pada ketidakamanan,
ketidak-nyamanan, dan ketidaktenteraman merupakan bentuk kemungkaran. Tindakan
masyarakat seperti itu lebih disebabkan oleh tidak tegaknya hukum di negara ini
(hukum bisa diatur sedemikian rupa) sehingga Taufik Ismail pun merasa malu
sebagai warga negara Indonesia.Ungkapan tentang itu terekam dalam bait puisi di
bawah ini.
………………………………………………………………………
Langit
akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum
tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan
aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan
aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan
aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di
sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan
kubenamkan topi baret di kepala
Malu
aku jadi orang Indonesia.
(Taufik Ismail, 1998:19)
Jadi, akibat tidak tegaknya hukum terjadi perusakan akhlak. Bagaimana jika akhlak telah rusak? Kita jangan berharap akan jadi apa negara ini. Inilah alasan kita untuk menegakkan keadilan.
***
Pertanyaan
berikut: adakah orang atau tokoh yang kita anggap adil saat ini? Kita jawab singkat saja: tidak ada! Mengapa tidak ada. Tidak adanya orang atau tokoh yang adil
karena memang orang atau tokoh yang kita duga akan bersikap adil, ternyata juga
tidak bersikap adil. Apakah kita bisa
menyatakan bahwa penguasa A, penguasa B, pejabat X, pejabat Y, atau tokoh
masyarakat P, Q, R, S itu adil? Atau
orang tua kita, bapak ibu kita, Bisakah dijadikan contoh teladan dalam hal
keadilan? Coba kita simak potongan puisi di bawah ini yang memberikan jawaban
atas pertanyaan: bagaimana sebenarnya (sebagian) orang tua kita dalam hal
bersikap adil?
Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat di mejanya:
“Ayah dan ibu yang terhormat,
aku
pergi meninggalkan rumah ini.
Cinta
kasih cukup aku dapatkan.
Tetapi
aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
Ya,
aku menolak untuk mendewakan harta,
tetapi
kehilangan kesejahteraan.
Bahkan
kemewahan yang ayah punya
tidak
juga berarti kemakmuran.
Ayah
berkata: “Santai, santai!”
tetapi
sebenarnya ayah hanyut
dibawa
arus jorok keadaan.
Ayah
hanya punya kelas,
tetapi
tidak punya kehormatan.
Kenapa
ayah berhak mendapat kemewahan yang sekarang
ayah
miliki ini?
Hasil
dari bekerja? Bekerja apa?
Apakah
produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi?
Seorang
petani lebih produktif daripada yah.
Seorang
buruh lebih punya jasa yang nyata.
Ayah
hanya bisa membuat peraturan.
Ayah
hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan
rakyat dari penguasa
Ayah
tidak produktif melainkan destruktip.
Namun
toh ayah mendapat gaji yang besar!
Apakah
ayah pernah memprotes ketidakadilan?
Tidak
pernah, bukan?
Terlalu
berisiko, bukan?
Apakah
aku harus mencontoh ayah?
Sikap
hidup ayah adalah pendidikan bagi jiwaku.
Ayah
dan ibu, selamat tinggal.
Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya.”
(WS
Rendra, Potret Pembangunan dalam Puisi, 1993:60-61)
Potongan puisi di atas mencerminkan suatu kenyataan: jauh api dari panggang. Artinya, (sebagian) orang tua kita ternyata melakukan hal-hal yang tidak terpuji meskipun semua yang dilakukan demi anak-cucu. Seorang anak yang terpanggil hati nuraninya (dalam puisi tersebut diwakili oleh sang putra yang mahasiswa) menulis surat. Di surat itu ia menuangkan gejolak perasaan hatinya yang terpendam selama ini. Ia menyampaikan bahwa ia tidak suka cara hidup kedua orang tuanya meskipun kemewahan hidup ia dapatkan. Ia mempersoalkan tentang status dan pekerjaan ayahnya yang hanya memiliki kelas tetapi tidak punya kehormatan karena seorang petani atau buruh jauh lebih terhormat dari pekerjaan orang tuanya. Bahkan, dengan kasarnya ia mengatakan ayahnya tidak produktif melainkan destruktif meskipun memperoleh gaji yang besar. Terakhir, ayahnya ternyata juga tidak pernah memprotes ketidakadilan karena ia sendiri terlibat dalam pusaran untuk menegakkan ketidakadilan.
Sekarang, bagaimana dengan diri kita?
Jangan-jangan kita sendiri justru tergolong orang yang tidak adil? Jadi, untuk
saat ini kita hanya percaya bahwa orang atau tokoh yang adil baru ada pada para
nabi dan rosul. Di luar itu, jangan
dicari (termasuk diri kita sendiri).
Dengan demikian, selama tidak ada orang yang bisa dijadikan contoh
teladan sebagai orang atau tokoh yang adil, bilamanakah kita bisa mewujudkan
keadilan? Rasa-rasanya sulit untuk mewujudkan keadilan selama belum ada tokoh
yang dijadikan contoh teladan dalam menegakkan keadilan. Tetapi, kita tidak boleh putus asa sehingga
kita tidak berkeinginan untuk mewujudkan keadilan. Untuk itu, kita pertama kali harus menegakkan
keadilan buat diri kita dulu sendiri.
Bagaimana caranya? Ini pertanyaan
menarik yang perlu kita renungkan melalui sebuah puisi di bawah ini.
JANGAN
Sutardji Calzoum
Bachri
kita
dari akar yang sama
dari
pohon sejrah yang sama
kita
dari bangsa yang sama
dari
kemanusiaan yang satu
maka
jangan
berucap dengan peluru
jangan
bergumam dengan dentuman
jangan
berkata lewat batu
jangan
sampaikan lewat pentungan
utarakanlah
dengan mawar
dengan
bijak tingkah lembut merdu
utarakanlah
dengan sabar
asal
dari nurani yang satu
Mei 1998
***
Sutardji
Calzoum Bachri melalui puisinya di atas mengajarkan kita cara bersikap adil
kepada sesama kita, yaitu untuk tidak menggunakan bahasa kekerasan (entah
dengan peluru, bom, batu, atau pentungan).
Tetapi, gunakan kelembutan (juga keindahan dan keharuman seperti mawar)
dan kesabaran yang berangkat dari hati nurani manusia. Ia mengingatkan kita
sekalian karena kita berasal dari akar yang sama, pohon sejarah yang sama, dan
bangsa yang sama (yang lebih penting lagi adalah manusia yang memiliki rasa
kemanusiaan), yaitu bangsa Indonesia. Singkatnya, kita mulai menegakkan
keadilan (juga kebenaran) dengan menghindari kekerasan karena kekerasan tidak
akan menghasilkan sesuatu yang terbaik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar