Selasa, 20 Mei 2025

All You Need Is Love (208)

 Revolusi Akhlak (3)

Subagio S.Waluyo




Sebutan Islam sebagai agama ‘rahmatan lil alamin’ tidak akan pernah hilang sampai akhir zaman (hari kiamat). Tetapi, bagaimana dengan umatnya? Saat ini sebagian kecil umat Islam masih bisa menunjukkan dalam praktek kehidupannya sehari-hari masih relevan dengan sebutan tersebut. Artinya, hanya sedikit sekali dari umat Islam yang benar-benar kehadirannya di muka bumi ini memiliki ‘rahmatan lil alamin’. Sementara itu bagian besar umat Islam jauh dari nilai-nilai tersebut. Mengapa bisa seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu uraian yang mendetail. 

          Di masa-masa Rasulullah SAW yang diteruskan dengan masa-masa kekhalifahan Islam pernah berjaya (termasuk ke dalamnya masa Umar bin Abdul Aziz sebagai raja walaupun sangat singkat). Masa-masa itu umat Islam sangat layak disebut umat yang bisa memberikan rahmat bagi seluruh alam (‘rahmatan lil alamin’). Umat Islam di saat itu bisa menunjukkan diri sebagai umatan waahidah (umat yang satu). Karena itu, umat Islam saat itu sulit ditaklukkan oleh umat-umat lain. Sebaliknya, dalam banyak peperangan umat Islam selalu memperoleh kemenangan walaupun dari segi jumlah pasukan dan perlengkapan perang jauh lebih kecil daripada musuh-musuhnya.

          Masa-masa kejayaan Islam berlangsung sekitar 43 tahun. Sepuluh tahun di masa Rasulullah SAW (terbentuknya masyarakat Islam di Madinah dan Fathul Makkah), tiga puluh tahun masa kekhalifahan, dan tiga tahun masa Umar bin Abdul Aziz sebagai raja. Meskipun demikian singkat, warisan yang ditinggalkan Islam luar biasa. Bukan saja menyangkut masalah-masalah ukhrawi yang diwariskan, masalah-masalah duniawi yang berkaitan denganmuamalah dan sebagainya juga diwariskan. Dalam dunia ilmu pengetahuan di masa-masa kerajaan juga berkembang pesat. Eropa yang dulu dikenal sebagai wilayah yang boleh dikatakan masih belum mengenal ilmu, begitu masuknya Islam di benua tersebut terjadi percepatan perkembangan ilmu pengetahuan. Ekspansi umat Islam yang telah dilakukan di masa-masa Rasulullah dan para khalifah yang empat diteruskan di masa-masa kerajaan. Berbagai capaian kemenangan yang diperoleh umat Islam masa itu yang kurang disyukuri (termasuk menjauhkan diri dari Al-Qur’an) menjadi penyebab kekalahan umat Islam sehingga wilayah-wilayah yang dulu dikuasai umat Islam rontok satu persatu. Singkatnya, umat Islam yang dulu berkuasa lambat-laun menjadi yang dikuasai umat lain. Terjadilah sesuatu yang tidak kita inginkan, banyak negara Islam yang dijajah umat lain. Bahkan, yang lebih memilukan lagi tidak sedikit negara Islam menjadi negara-negara yang dikuasai kaum kafir karena umat Islam di negara-negara tersebut menjadi minoritas.

          Berbarengan dengan penguasaan musuh-musuh Islam (negara-negara barat) atas negara-negara Islam, masuk juga berbagai macam paham yang merusak pemikiran (fikroh) umat Islam. Banyak umat Islam yang mengenyam pendidikan barat (yang dianggap modern)fikroh-nya menjadi sekuler. Tidak sedikit juga yang menjadi atheis dan cenderung memusuhi agamanya sendiri. Umat Islam menjadi asing terhadap agamanya sendiri. Seandainya ada di antara umat Islam yang masih menjalankan ibadahnya, dalam berperilaku jauh dari nilai-nilai Islam. Agama bagi sebagian besar umat Islam hanya sebatas pelengkap bukan menjadi tujuan. Agama hanya menjadi asesori agar tidak dianggap kafir atau tidak beragama. Kalau ada di antara umat Islam yang melakukan amalan-amalan yang menunjukkan kepedulian pada sesama (zakat atau sedekah), punya kecenderungan untuk dipublikasi secara luas agar semua orang tahu bahwa mereka masih punya kepeduliaan pada sesamanya. Jadi, umat Islam golongan ini cenderung gila publikasi atau jaga image (gila pencitraan). Dengan demikian, niat awal untuk melakukan ibadah telah dirusak oleh keinginan-keinginan rendah yang dimotivasi oleh hawa nafsu. Naudzubillahi min dzaalik.    

          Timbulnya perilaku umat Islam yang jauh dari nilai-nilai Islam (bahkan cenderung memusuhi sesamanya) bukan tanpa sebab. Perilaku buruk umat Islam itu bisa terjadi karena adanya perang pemikiran (ghazwul fikri) yang dilakukan musuh-musuh Islam secara masif, sistemik, teratur, dan terancang dengan baik. Bukan itu saja, ghazwul fikri yang mereka lakukan serangannya juga mencakup semua segi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat baik itu di bidang politik, sosial, budaya, mental, maupun konsep. Musuh-musuh Islam melakukan ghazwul fikri setelah sebelumnya mereka memerangi umat Islam melalui peperangan fisik yang ternyata tidak banyak membawa hasil. Peperangan secara fisik yang melelahkan bukannya menjadikan umat Islam itu kalah justru semakin kuat melawan mereka. Upaya musuh-musuh Islam yang memang telah digariskan oleh Allah dalam Surat Al-Baqoroh 120 dan 212 sebagai orang-orang yang tidak akan henti-hentinya memusuhi Islam sampai umat Islam murtad dari agamanya, akhirnya membuahkan hasil, yaitu memunculkan konsep ghazwul fikri.

          Peperangan yang tidak memerlukan pengorbanan fisik, cukup dengan perusakan akhlak ternyata jauh lebih efektif. Sarana ghazwul fikri dari masa ke masa (sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi)  mengalami perkembangan baik dari sisi kemudahan maupun kelengkapannya. Kalau di awal-awal tahun ’60-an sarana ghazwul fikriyang masuk ke rumah-rumah umat Islam baru sebatas televisi (TV), di akhir-akhir abad 20 semakin banyak dan semakin mudah mengakses ghazwul fikri. Tidak hanya TV, sarana komunikasi, dalam hal ini Hand Phone (HP), menjadi sarana paling efektif untuk merusak umat Islam. Bukan saja orang dewasa, anak-anak kecil pun bisa dirusak perilakunya oleh kehadiran HP. Selain, HP juga bisa lewat komputer, notebook, atau laptop. Semua sarana, baik informasi maupun komunikasi yang terhubung dengan internet bisa menjadi sarana ghazwul fikri yang paling efektif dan efisien. Akibat, ghazwul fikri sekarang bisa kita lihat kondisi umat Islam saat ini. Perilaku umat Islam jauh dari nilai-nilai ke-Islam-an. Karena jauh dari nilai-nilai ke-Islam-an,wajar-wajar saja juga banyak umat Islam yang merasa asing dengan agamanya sendiri. Tujuan musuh-musuh Islam dengan demikian telah tercapai, yaitu umat Islam telah murtad dari agamanya meskipun umat Islam tidak harus keluar dari agamanya. Kalau cara hidup dan perilakunya sama dengan musuh-musuh Islam, sudah dianggap cukup.

          Gambaran kerusakan perilaku umat Islam bisa dilihat pada banyaknya penyimpangan sosial. Setiap hari, bahkan setiap saat, di negara kita yang kita cintai ini seringkali kita ditemukan entah itu di antaranya anak-anak didik kita yang tawuran, terlibat dalam seks bebas, korban narkoba, atau larut dalam kehidupan malam (dugem). Sementara itu, di kalangan orang-orang dewasa selain banyak di antara mereka yang juga terlibat dalam seks bebas, keranjingan narkoba, dan dugem, gaya hidup yang semakin permisif dan hedonis juga melanda umat ini. Semua gambaran keburukan yang terjadi di belahan dunia lain juga terjadi di negara yang mayoritas Muslim ini. Akibat ghazwul fikri memunculkan cara hidup dan perilaku umat Islam yang dulunya mencerminkan umat yang benar-benar menjunjung tinggi ‘rahmatan lil alamin’ telah menjadi umat yang tidak lagi memiliki kepribadian atau kepribadian yang terpecah. Kalau di belahan dunia lain karena cara hidup dan perilakunya rusak yang berujung dengan kerusakan umat, hal itu boleh jadi juga terjadi pada negara-negara yang notabene-nya Muslim. Negara-negara yang masih menggunakan simbol-simbol Islam hanya sebatas simbol. Cara hidup dan perilaku umat di negara-negara tersebut telah sama rusaknya dengan umat yang hidup di negara-negara musuh-musuh Islam.

          Cara hidup dan perilaku umat Islam yang rusak yang lebih disebabkan oleh musuh-musuh Islam menjadikan umat ini tidak memiliki izzah ‘harga diri’. Karena tidak memiliki harga diri, umat Islam dengan mudah dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Memang, dari segi jumlah umat ini masih tergolong besar, tetapi dari segi kualitas, umat ini rendah kualitasnya. Kalau ada hadits yang mengatakan ‘seperti buih di atas lautan’, ada benarnya. Jadi, umat ini karena telah rusak perilakunya, cara dan gaya hidupnya telah sama dengan musuh-musuh Islam yang berujung dengan tidak memiliki harga diri sehingga umat ini ‘seperti buih di atas lautan’ yang jika ada ombak besar akan hancur. Inilah gambaran umat Islam saat ini yang menunjukkan benar-benar tidak memiliki kualitas walaupun secara kuantitas masih tergolong besar. Dengan kondisi umat seperti ‘buih di atas lautan’, apakah kita sebagai bagian dari umat ini tidak bisa melakukan apa-apa? Pertanyaan ini yang harus kita jawab dalam bentuk revolusi. Revolusi yang dilakukan bukan menumbangkan rezim yang berkuasa, tetapi revolusi akhlak. Bagaimana melakukan revolusi akhlak? Sebuah pertanyaan yang menarik yang akan menjadi PR kita untuk sesegera mungkin melaksanakannya.   

 

(bersambung)

 

All You Need Is Love (207)

 Revolusi Akhlak (2)

Subagio S.Waluyo




Islam adalah agama yang syumul(universal). Karena Islam itu agama yang universal, ada karakteristik yang membedakan Islam dengan baik agama-agama manusia, filsafat-filsafat, maupun aliran-aliran lainnya yang ada di dunia ini. Pengertian Islam sebagai agama yang universal menurut Yusuf Al-Qardhawi dalam Karakteristik Islam:Kajian Analitik (1995:117) adalah agama yang meliputi semua zaman, kehidupan, dan keberadaan manusia. Imam Yusuf Al-Qardhawi di buku yang sama juga mengutip pendapat Imam Syahid Hasan Al-Banna yang mengatakan bahwa Islam adalah risalah yang panjang terbentang sehingga meliputi semua abad sepanjang zaman. Terhampar luas sehingga meliputi semua cakrawala umat. Begitu mendetail sehingga memuat semua urusan dunia dan akhirat (1995:117). Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika Islam itu merupakan ‘rahmatan lil alamin’. 

          Islam agama yang ‘rahmatan lil alamin’ karena dari sisi penamaannya saja Islam berbeda dengan agama-agama di dunia lainnya. Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat Online ketika membahas arti Islam memberikan uraian dari sisi etimologis dan terminologis. Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya ‘selamat’. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya ‘menyerahkan diri atau tunduk dan patuh’ sebagaimana firman Allah SWT,

“Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (Q.S. 2:112).

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti orang yang menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya.  Sedangkan secara terminologis  Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Sebagai tambahan, perlu juga dijelaskan di sini pemberian nama Islam langsung dari Allah SWT sebagaimana terlihat pada firman-Nya berikut ini.

“Sesungguhnya dien (agama) yang diridhai Allah hanyalah Islam.” (Q.S. 3:19)
“Dan siapa saja yang memeluk agama selain Islam, tidak akan diterima (oleh Allah) dan dia termasuk orang-orang yang merugi di akhirat nanti.” (Q.S. 3:85)
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu (Islam) dan Aku telah melimpahkan nikmat-Ku padamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (Q.S. 5:3).

Bahkan, lebih jauh dari itu, menurut Al-Quran, semua agama yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW pun pada hakikatnya adalah agama Islam dan pemeluknya disebut Muslim (Q.S.2:136, 10:72 dan 84, 12:101,  3:52, 4:163-165). KalanganHawariyun, yakni sebutan bagi pengikut Nabi Isa AS menyebut diri mereka Muslim (Q.S.3:52). (https://pusdai. wordpress. com/2008/11/12/arti-islam-etimo- lo gis-terminologis/)

          Pernyataan bahwa Islam merupakan agama ‘rahmatan lil alamin’ telah Allah nyatakan dalam Surat Al-Anbiya ayat 107 yang menyatakan bahwa Allah tidak mengutus Rasulullah SAW melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam. Dalam muslim.or.id ketika membahas “Islam, Rahmatan Lil Alamin” menyebutkan bahwa kata “rahmat” yang terdapat pada ayat tersebut memiliki arti ‘kelembutan’ yang berpadu dengan rasa iba. Bisa juga dengan pengertian ‘kasih sayang’ karena memang diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kasih sayang Allah pada seluruh  manusia. Masih menurut muslim.or.id Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Tafsir Ibnul Qayyim mencoba membagi kata “rahmat” yang terdapat pada 21/107 ke dalam dua bagian. Pertama, alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW. Kedua, Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. (https:// muslim.or.id/1800-islam-rahmatan-lil-ala-min.html).

          Berangkat dari penafsiran Ibnu Qayyim yang menyatakan bahwa alam semesta mendapat manfaat dengan diutusnya Rasulullah SAW dan rahmat bagi setiap manusia, kita perlu melihat contoh-contoh konkrit yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai agama yang universal, Islam seperti diuraikan di atas membahas demikian detail urusan dunia dan akhirat sehingga dari masalah-masalah yang sangat sepele, seperti orang yang mau masuk toilet sampai dengan urusan yang besar seperti jihad fi sabilillah atau bernegara telah diatur sedemikian rupa. Dalam masalah jual-beli atau perjanjian, misalnya, Allah telah menggariskan sebuah ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 282. Di ayat ini secara jelas sekali Allah telah menyarankan pada umat-Nya yang terlibat dalam perjanjian, utang-piutang, jual-beli (muammalah) tentang pentingnya menulis dan menghadirkan saksi-saksi. Berkaitan dengan masalah jihad fi sabilillah, ada aturan yang juga mengaturnya. Dalam Islam ketika para mujahid berperang di jalan Allah ada larangan untuk membunuh anak-anak kecil, kaum wanita, dan orang-orang tua atau orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan. Karena itu, ketika tentara Salahudin Al-Ayyubi merebut Yerusalem (Betlehem) tidak ada orang-orang yang disebutkan di atas itu dibunuh. Orang-orang non-Muslim pun hanya dikenakan jizyah (semacam pajak yang ringan) sehingga ketika tentara-tentara Islam meninggalkan Yerusalem (setelah kalah perang) banyak di antara mereka (penduduk) yang menangis karena selama di bawah pemerintahan Islam kehidupan mereka demikian damai.

          Kalau ada orang yang mengatakan Islam sebagai agama yang damai, agama yang penuh kasih sayang, atau agama yang banyak memberi manfaat bagi seluruh manusia, tidak bisa disalahkan dan tidak juga berlebih-lebihan. Sudah banyak bukti yang menunjukkan Islam sebagai ‘rahmatan lil alamin’. Sampai sekarang ini juga bisa dibuktikan bahwa Islam merupakan agama yang memberikan rahmat bagi seluruh alam. Salah satu bukti bahwa Islam agama yang ‘rahmatan lil alamin’ adalah masalah ibadah dalam fiqih Islam hanya seperempat atau paling banyak sepertiga isinya tentang benar-benar ibadah, selebihnya berkaitan dengan permasalahan manusia, baik itu yang menyangkut muamalah, hukum pidana, sanksi-sanksi, dan lain-lainnya. Bahkan, dalam ibadah itu sendiri seperti ibadah zakat memiliki hakikat kemanusiaan. Bukankah dalam ibadah zakat bagi pihak pertama (si kaya) zakat itu memiliki dimensi tazkiyah (pembersihan dan penyucian) sedangkan bagi pihak kedua berdimensi untuk memenuhi kebutuhan dan membebaskan diri dari kefakiran? (Yusuf Al-Qardhawi, 1999:75).

          Kalau masih terasa kurang bahwa Islam merupakan agama ‘rahmatan lil alamin’, coba kaji hadits-hadits yang terhimpun dalam Arbain Nawawi yang ditulis oleh Imam Nawawi. Hadits-hadits yang terhimpun di situ sebagian besar isinya tentang ajaran Islam yang mengarah pada sisi hubungan manusia dengan sesama manusia. Walaupun di dalamnya ada ketentuan masalah keimanan, rukun Islam dan iman, fiqih (halal-haram), tetap saja muatan yang mengarah pada perihal hubungan kemanusiaan jelas lebih banyak. Berkaitan dengan kajian Hadits Arbain Nawawi, Musthafa Al-Buhga dan Muhyiddin Misto menulis buku Al-Wafi fi-Syarhi Al-Arbain An-Nawawiyah (Pokok-Pokok Ajaran Islam Syarah Arbain Nawawiyah). Dari 42 bab yang terdapat di buku tersebut, lebih dari separuhnya berbicara tentang hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan (humanisme) walaupun Islam bukan humanisme. Salah satu bukti adanya unsur humanisme itu bisa dilihat hadits ke-15 yang berbunyi:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah kebaikan atau diam. Barang-siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,hendaklah ia memuliakan tamunya.”

Hadits di atas dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al-Adab. Insya Allah bunyi hadits di atas semakin menunjukkan bahwa dalam Islam ada unsur-unsur humanisme? Bukankah dengan membahas hal-hal yang bersifat humanisme tentu saja juga mengangkat kodrat hidup manusia sehingga menjadi bukti kuat bahwa Islam itu agama yang ‘rahmatan lil alamin’ ? 

          Berkaitan dengan masalah humanisme dalam Islam yang merupakan bukti bahwa Islam adalah agama ‘rahmatan lil alamin’, seorang ulama besar yang sampai saat ini masih aktif berdakwah baik secara lisan maupun  tulisan, Yusuf Al-Qardhawi, dalam Karakteristik Islam: Kajian Analitik  secara tegas mengatakan bahwa Islam itu istimewa karena memiliki kecenderungan kemanusiaan yang jelas, tetap, dan orisinal baik dalam aqidah, ibadah, syariat maupun orientasi-orientasinya. Untuk itu Islam adalah agamanya manusia.  (Yusuf Al-Qardhawi, 1999:59). Bahkan, Al-Qur’an itu sendiri diperuntukkan bagi manusia. Ayat yang menunjukkan bahwa AlQur’an untuk manusia bisa dilihat pada Surat Al-Alaq: 1—5 yang berbunyi:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah! Bacalah, dan Rabbmulah yang paling pemurah, yang mengajar dengan kalam (pena), Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya!”

 

Kelima ayat di atas merupakan wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW. Ayat-ayat tersebut merupakan babakan baru bagi sejarah kehidupan manusia. Isinya secara tranparan mengungkapkan tentang pandangan Islam terhadap manusia dan hubungannya dengan Allah SWT juga hubungan Allah dengan manusia. Bukan hanya itu, manusia juga diperintahkan untuk membaca karena membaca itu sendiri merupakan langkah awal bagi manusia untuk beraksi dan meninggalkan sesuatu. Sebelum membaca, manusia diminta Allah untuk memulainya dengan menyebut asma Allah (Bismi Rabbika) sebagai pencipta. Menyertakan kata “Rabb” berarti tarbiyah (pembinaan), ri’ayah (pemeliharaan), dan tarqiyah (peningkatan) pada jenjang kesempurnaan (Yusuf Al-Qardhawi, 1999:71).  

           Sebagai pelengkap bahwa Islam adalah agama ‘rahmatan lil alamin’ dapat dibuktikan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama Islam, “Laa ikhroha fid dien” (Surat Al-Baqoroh: 256). Di ayat tersebut jelas-jelas Allah SWT memberikan kebebasan pada manusia untuk menerima atau menolak Islam karena Allah telah memberikan batas yang jelas antara jalan yang benar dan jalan yang salah. Bukankah Allah telah mengajak orang-orang yang beriman untuk masuk Islam secara kaafah (sepenuhnya) dan larangan mengikuti langkah-langkah syaitan sebagaimana telaah digariskan dalam Surat Al-Baqoroh:208? Kalau memang tidak mau, silakan saja karena memang tidak ada paksaan dalam beragama Islam. Bukankah selama ini umat Islam dalam menjalankan agamanya telah mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari? Bukankah dalam sejarah Islam tidak pernah ada sebuah ekspansi dakwah yang berlumuran darah karena orang-orang non-Muslim dipaksa menerima Islam? Bukankah ini juga bisa menjadi bukti keindahan Islam? Kalau mau di-searching lebih jauh lagi dalam kehidupan beragama kita akan menemukan lebih banyak nilai keindahan daripada nilai keburukan karena memang Islam itu indah. Islam itu benar. Islam itu sempurna. Islam itu memang benar-benar ‘rahmatan lil alamin.’ 

 (bersambung)

 



All You Need Is Love (206)

 Revolusi Akhlak (1)

Subagio S.Waluyo


Kata “revolusi” selalu dikaitkan dengan “kekerasan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memang ada terselip kata “kekerasan”. Sebagai bukti bahwa kata “kekerasan” memang terdapat pada definisi yang terdapat di KBBI bisa dilihat berikut ini. 

revolusi/re·vo·lu·si/ /révolusi/ n 1 perubahan ketatanegaraan (pemerintahan atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata); 2 perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang: dialah pelopor -- dalam bidang arsitektur bangunan bertingkat; 3 peredaran bumi dan planet-planet lain dalam mengelilingi matahari;

-- industri perubahan radikal dalam usaha mencapai produksi dengan menggunakan mesin-mesin, baik untuk tenaga penggerak maupun untuk tenaga pemroses;

berevolusi/be·re·vo·lu·si/ v mengadakan perlawanan dan sebagainya untuk mengubah sistem ketatanegaraan (pemerintahan atau keadilan sosial)

 

(http://kbbi.web.id/revolusi)

Pada definisi di atas dapat dibuktikan bahwa kata “revolusi” jika berkaitan dengan pemerintahan atau keadaan sosial (disebut juga sebagai perubahan ketatanegaraan) berkaitan dengan “kekerasan”. Begitu juga jika dikaitkan dengan kata “industri” walaupun tidak disebut dengan “kekerasan”, memiliki makna yang tidak jauh berbeda, yaitu kata “radikal”. Jadi, kata “revolusi” yang selama ini orang mengaitkannya dengan kata “kekerasan” lebih disebabkan oleh cara berpikir masyarakat kita yang selalu dikaitkan dengan perubahan ketatanegaraan (pemerintahan dan sosial).

          Berbicara tentang kata “revolusi” tanpa mengutip dari Wikipedia Indonesia (WI), tampaknya ‘kurang afdhol’. Untuk itu perlu juga berikut ini dicantumkan uraiannya.

          Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Misalnya revolusi industri di Inggris yang memakan waktu puluhan tahun, namun dianggap 'cepat' karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat —seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan— yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru.

 

(https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi)

         

          Diakui atau tidak, uraian dari WI tampaknya lebih tajam atau bisa juga lebih keras daripada KBBI. Sebagai bukti kata “revolusi” dalam WI lebih keras daripada KBBI bisa dilihat pada uraian yang menyatakan bahwa revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru.  Pernyataan ini jelas-jelas secara tidak langsung menanamkan suatu persepsi bahwa sebuah revolusi dibutuhkan sebuah gerakan perubahan yang cenderung radikal, boleh juga, menghendaki kekerasan karena untuk mengubah suatu sistem mau tidak mau harus dilakukan dengan cara paksaan atau intimidasi di antaranya. Jadi, kalau mindset masyarakat kita sudah tergiring oleh uraian baik yang terdapat dalam KBBI maupun WI bahwa sebuah revolusi tidak terlepas dari kekerasan atau tindakan radikal bisa dimaklumi.    

          Sah-sah saja kalau ada orang yang alergi dengan kata “revolusi” karena bukan hanya pada KBBI dan WI yang memang mencantumkan kata “kekerasan” dalam definisinya atau uraiannya, perjalanan sejarah di negara manapun sebuah revolusi selalu berhubungan dengan “kekerasan” atau tindakan radikal. Bagaimana kalau kata “revolusi” kita sandingkan dengan kata “akhlak” sehingga menjadi “revolusi akhlak” sebagaimana judul tulisan ini? Tentu saja kalau kata “revolusi” apabila disandingkan dengan kata “akhlak” babnya sudah berbeda. Bisa dijamin tidak mungkin lagi kata “revolusi” berkaitan dengan “kekerasan” karena justru dengan kehadiran kata “akhlak” menghilangkan atau meniadakan kata “kekerasan”. Mengapa bisa demikian?

          Kata “akhlak” dalam KBBI didefinisikan sebagai “budi pekerti”, “kelakuan” (http://kbbi.web.id/akhlak). Kalau definisi dari KBBI masih dianggap kurang memuaskan, bisa mengambil dari definisi yang ditulis oleh Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Akhlaq (LPPI,1999:1) yang mengatakan bahwa kata “akhlaq (akhlak)” secara etimologis adalah bentuk jamak dari “khuluq” yang berarti “budi pekerti” (sama dengan yang terdapat dalam KBBI), “perangai”, “tingkah laku”, atau “tabiat”.  Sedangkan secara terminologis menurut Yunahar dengan mengutip pendapat Imam Ghazali, Ibrahim Anis, dan Abdul Karim Zaidan sebagaimana terlihat berikut ini.

“Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.”  

 

(Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin,1989:58)

 

“Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.”  

 

(Ibrahim Anis, Al-Mu’jam Al-Wasith, 1972:202)

 

“(Akhlaq) adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.”

 

(Abdul Karim Zaidan, 1976:75)

 

Dengan melihat pada ketiga definisi di atas dapat disimpulkan bahwa secara terminologis akhlak berarti sifat yang tertanam dalam jiwa manusia sehingga sifat itu akan muncul secara spontan bilamana diperlukan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu serta tidak memerlukan dorongan dari luar (Yunahar Ilyas, 1999:2). Untuk itu, masih menurut Yunahar (1999:3) akhlak harus bersifat konstan, spontan, tidak temporer, tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan, dan tidak ada dorongan dari luar (stimulus).

          Setelah secara terpisah diketahui definisi kata “revolusi” dan “akhlak”, bagaimana jika dijadikan satu rangkaian (frase) “revolusi akhlak”? Apabila kita rangkaikan menjadi satu, “revolusi akhlak”, bisa saja didefinisikan menjadi “perubahan mendasar di bidang atau dalam hal yang berhubungan dengan akhlak umat Islam”. Perubahan mendasar di sini jika dikaitkan dengan uraian yang terdapat di WI berkaitan dengan perubahan sosial dan kebudayaan. Atau perubahan yang berkenaan dengan perubahan pokok-pokok kehidupan masyarakat. Karena dalam hal ini dikaitkan dengan umat Islam, boleh jadi lebih mengarah pada perubahan pola hidup masyarakat Islam yang disesuaikan dengan pokok-pokok ajaran Islam.  

          Akhlak sebagaimana terlihat pada definisi di atas terbagi dua bagian besar, yaitu akhlak yang baik dan akhlak yang buruk.  Dalam hal ini perubahan mendasar lebih tertuju pada perubahan akhlak yang semula tidak baik (buruk) menjadi baik. Dengan demikian, kata “revolusi akhlak” di sini lebih terfokus pada perubahan akhlak umat Islam yang semula buruk akhlaknya menjadi baik. Mengapa harus dilakukan “revolusi akhlak” dan bagaimana mewujudkannya?  Sebelum menjawab kedua pertanyaan tersebut, perlu diuraikan terlebih dahulu tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam sebagai ‘rahmatan lil alamin’ (pemberi rahmat bagi seluruh alam). Setelah itu, baru disinggung dengan hal-hal yang berkaitan dengan akhlak.

 

(bersambung)

 

Kamis, 08 Mei 2025

All You Need Is Love (205)

 Home Sweet Home

Subagio S.Waluyo




        Dalam usia yang sudah tidak muda lagi, ada perasaan di benak saya yang selalu merindukan `rumahku surgaku`. Perasaan ini bukan hanya terjadi pada saat ini, jauh di masa-masa saya masih aktif mengajar selalu juga muncul perasaan itu: `rindu rumah, rindu anak istri`. Bagaimana saya tidak rindu dengan rumah kalau rumah saya banyak memberikan kedamaian? Bagaimana saya tidak rindu istri dan anak kalau setiap saya pulang selalu disertai dengan sapaan `gimana kabarnya hari ini?`. Bukan hanya itu, senyum mereka membikin saya merasa `Ah, saya menikmati surga dunia!`

          Bisa saja orang mengatakan saya terlalu berlebihan atau bahasa orang-orang sekarang `lebay`. Tapi, sikap berlebihan saya ada alasannya yang justru jarang dimiliki orang kebanyakan. Mengapa dikatakan jarang? Saya melihat di sekeliling saya, banyak orang begitu pulang kerja tidak langsung pulang ke rumahnya. Dengan alasan lalu lintas masih macetlah yang membuat mereka mampir ke warung-warung kopi atau café. Ada juga yang lebih dari itu, mereka sengaja mampir ke tempat-tempat yang justru membuat pulang ke rumah dalam kondisi limbung alias mabuk (naudzubillahi mindzaalik). Kalau sudah seperti ini, tidak ada alasan lalu lintas yang macet dijadikan alasan untuk berlama-lama pulang ke rumahnya. Alasan utamanya buat orang-orang seperti ini rumah buat mereka bukan sebagai surga tapi boleh jadi malah sebaliknya tempat yang tidak memberikan kedamaian, kenyamanan, atau bisa jadi tidak ada keceriaan.

          Di awal-awal pernikahan mereka boleh jadi sama seperti saya seolah-olah `dunia ini milik kita berdua`. Tapi, seiring berjalannya waktu, perasaan ini buat mereka makin lama makin redup, bahkan menghilang. Mengapa bisa seperti itu? Jawabannya sederhana saja, pasangan hidupnya juga merasakan hal yang sama adanya kejenuhan. Mereka tidak memiliki variasi dalam menjalankan kehidupan. Selalu saja keduanya atau bisa saja sang istri atau suami yang mengeluhkan tentang banyak hal yang itu-itu saja. Mereka tidak memiliki program yang jelas dalam menjalankan rumah tangga. Wajar-wajar saja jika keduanya merasakan kejenuhan.

          Meskipun dikaruniai anak di awal-awal saja sang suami merasakan adanya kebahagiaan. Seiring waktu ketika anak-anak itu sudah semakin besar dan semakin banyak yang harus dipenuhi kebutuhannya, kejenuhan itu muncul lagi. Kehadiran anak-anak tidak bisa mengobati kejenuhan yang memang sudah berkarat dalam hatinya. Rumah yang hingar-bingar oleh suara istri dan anak-anak dianggap seperti `kapal pecah` yang membikinnya untuk menutup mata dan telinga. Orang-orang seperti ini tampaknya kalau sudah berada di tempat kerja ingin berlama-lama. Tidak ada keinginan untuk pulang cepat dan merasakan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga.

          Ada perasaan bersyukur yang wajib saya ungkapkan yang justru ini tidak dimiliki orang kebanyakan. Orang bisa saja menyebut saya sebagai orang rumahan karena banyak waktu saya di rumah. Sejak masih aktif mengajar di perguruan tinggi, banyak waktu saya di rumah. Walaupun sempat beberapa tahun memegang jabatan yang membuat waktu saya agak lama di tempat saya mengajar, begitu selesai melaksanakan tugas saya segera pulang. Rumah dan segala isinya buat saya menjadi magnet yang membuat saya kangen untuk segera pulang. Tawaran dari banyak kolega untuk `nyambi` di luar tidak saya gubris. Buat saya penghasilan dari tempat saya mengajar sudah mencukupi untuk menghidupi satu orang istri dan lima orang anak. Masalah rezeki saya yakin sudah ada yang mengatur.

          Hidup dengan satu istri dan lima anak di zaman seperti sekarang ini sangat mungkin tidak akan mencukupi kalau hanya dari mengajar. Tapi, di saat-saat anak mau masuk perguruan tinggi selalu saja ada rezeki yang tak terduga datangnya. Tentu saja rezeki yang datangnya bukan berasal dari pemberian orang atau lembaga ini itu, tapi dari tawaran sesama kolega saya untuk bantu-bantu melakukan di antaranya penelitian atau menjadi tenaga ahli di salah satu proyek pemerintah. Satu persatu anak-anak saya bisa masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Satu persatu mereka (alhamdulillah) bisa menyelesaikan studinya. Satu persatu mereka sekarang sudah mapan hidupnya. Satu persatu mereka mulai meninggalkan rumahnya karena mereka kini telah berkeluarga. Sekarang tinggal satu anak yang paling kecil (bungsu) masih bersama saya dan istri.

          Kalau direnungkan, hidup ini demikian singkat. Hampir empat puluh tahun berumah tangga sekarang tinggal bertiga saja. Meskipun hanya bertiga, saya tetap merasa nyaman, tenteram, dan aman jika berada di rumah. Saya masih menjadikan `rumahku surgaku` karena di rumah itu ada cinta. Cinta itulah yang selalu mengikat keutuhan rumah tangga saya. Bukankah semua orang membutuhkan cinta? Kalau memang butuh cinta, penuhilah hidup ini dengan cinta.  

          Karena cinta, saya bisa membunuh kejenuhan. Karena cinta, rasa jenuh itu hilang ketika melihat anak-anak dan cucu-cucu saya yang menggemaskan. Karena cinta, saya selalu rindu rumah. Karena cinta, saya bisa melawan kejenuhan dalam menjalankan kehidupan. Meskipun demikian tidak cukup dengan cinta, saya dan keluarga pun harus melakukan pendekatan pada Tuhan secara intens.  Saya meyakini pendekatan pada Tuhan membuat rasa kangen berada di rumah itu masih tetap ada.

 

*) Tulisan ini telah dimuat dalam buku kumpulan tulisan Tempat Hatiku Pulang.



Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...