Pak Kades Ditelan Bumi
Cerpen
Subagio S.Waluyo
`Orang Pintar` baru saja sampai di
rumahnya ketika tiba-tiba saja ada orang yang memberi salam.
“Assalamu`alaikum”, kata orang yang
sudah dikenal suaranya oleh `Orang Pintar`.
“Wa`alaikum salam”, jawab `Orang
Pintar`, “Eh, Pak Sugeng, apa kabar?”, lanjut `Orang Pintar` basa-basi.
“Alhamdulillah, Pak”, jawab Pak
Sugeng.
“Silakan masuk, Pak Sugeng”, `Orang
Pintar` mempersilakan tamunya masuk.
“Terima kasih, Pak”, jawab Pak Sugeng
seraya masuk rumah `Orang Pintar`.
“Kok, sepi-sepi aja Pak?”
“Iya, istri saya pergi ngaji.
Anak-anak masih di sekolah. Nanti mereka pulang agak sore.”
“Maaf, mengganggu waktu istirahat
Bapak, nih!”, kata Pak Sugeng.
“O, gak Pak. Saya sehabis salat asar
gak pernah istirahat. Bapak mau minum kopi atau teh manis?”, `Orang Pintar`
menawari Pak Sugeng minuman.
“Apa saja boleh, Pak”
“Kalo gitu saya buatkan kopi ya?”.
“Ya, gak apa-apa.”
“Tunggu sebentar, ya?”
Sambil
berkata begitu `Orang Pintar` langsung ke dapur meracik minuman buat Pak Sugeng
dan juga buat dirinya. Selang beberapa menit kemudian tercium aroma kopi
Robusta.
“Kalo mau pakai gula ambil aja sendiri
Pak”, `Orang Pintar` menawarkan.
“Ya, Pak. Terima kasih.” Pak Sugeng
langsung mencampurkan sedikit gula. Mengaduknya dan menyeruputnya.
“Wah, kopinya enak nih, Pak?”
“Alhamdulillah. Itu kopi Lampung Pak.
Minggu lalu ada keluarga dari Lampung bawakan kopi. Maaf Pak, gak ada yang
lain. Cuma kopi aja.”
“Gak apa-apa Pak. Ini juga sudah
cukup.”
“Ngomong-ngomong ada apa nih Bapak berkunjung
ke rumah saya?”, tanya `Orang Pintar` penuh selidik.
“Gini Pak. Bapak tahu `kan Pak
Kades?”, tanya Pak Sugeng.
“Ya, tahulah. Saya kenal baik sama Pak
Kades. Ada apa dengan Pak Kades?”, tanya `Orang Pintar` masih penuh selidik.
“Bapak perhatikan gak kepala Pak Kades
belakangan ini?”, tanya Pak Sugeng.
“Ada apa dengan kepala Pak Kades?”,
tanya `Orang Pintar` penasaran.
“Pak Kades kepalanya semakin sehari
semakin membesar”, jelas Pak Sugeng.
“Semakin membesar?”, tanya `Orang
Pintar` penasaran.
“Sejak kapan kepala Pak Kades mulai
membesar?”, tanya `Orang Pintar
“Sudah ada enam bulan kali, Pak”,
jawab Pak Sugeng.
“Sudah enam bulan?”, tanya `Orang
Pintar`.
“Saya malah gak ngeh tuh, kalo kepala
Pak Kades mulai membesar sejak enam bulan lalu. Sampean lihat sendiri atau ada
orang ngasi informasi yang gak jelas? Maklum sekarang ini `kan banyak beredar
informasi yang berbau hoax”, jelas `Orang Pintar`.
“Semula saya dengar bisik-bisik dari
orang-orang di kampung kita. Saya penasaran pengen lihat sendiri. Eh, benar.
Pas, saya perhatikan kepala Pak Kades memang membesar. Pokoknya, jadi gak
normal kelihatannya”, jelas Pak Sugeng meyakinkan `Orang Pintar`.
“Kalo Bapak gak percaya, coba saja
lihat sendiri”, tantang Pak Sugeng.
“Ya. Saya percaya omongan sampean.
Saya memang sudah cukup lama gak ketemu Pak Kades. Kalo mau ketemu paling ada
acara-acara tertentu saja.”
“Terus gimana tuh? Apakah Pak Kades
sudah berobat?”, tanya `Orang Pintar` penasaran.
“Kata orang-orang dekatnya sudah
berobat ke mana-mana Pak. Sampai ke orang-orang paranormal yang terkenal juga
didatangin Pak. Tapi, saya perhatikan kepalanya kok malah makin membesar?”,
jelas Pak Sugeng.
“Sudah berobat gak juga sembuh?
Artinya, kepalanya bukan mengecil tapi malah membesar?”, tanya `Orang Pintar`
penasaran.
“Ya, Pak. Makin membesar. Mungkin
Bapak tahu apa penyebabnya?”, tanya Pak Sugeng.
`Orang
Pintar` tidak menjawab pertanyaan Pak Sugeng. Justru `Orang Pintar` terlihat
merenung sejenak tentang penyakit yang terbilang aneh itu. Beberapa saat
kemudian `Orang Pintar` buka suara.
“Pak Sugeng, segala penyakit yang kita
derita pasti ada faktor penyebabnya. Bisa saja yang diderita sama Pak Kades itu
disebabkan oleh virus. Tapi, juga bisa…”, `Orang Pintar` tiba-tiba saja
menghentikan penjelasannya yang membuat Pak Sugeng penasaran.
“…tapi juga bisa apa, Pak?”
“Bisa juga ada faktor lain yang akal
manusia gak bisa nerimanya.”
“Maksudnya?”, tanya Pak Sugeng semakin
penasaran.
“Sampean tahu `kan perilaku Pak
Kades?”, tanya `Orang Pintar`.
“Ya, tahulah. Apa hubungannya dengan
perilaku Pak Kades?”, Pak Sugeng semakin penasaran.
“Menurut sampean, gimana perilaku Pak
Kades selama ini?”, tanya `Orang Pintar`.
“Baik-baik saja. Suka menolong orang.
Kalau diundang sama warga kampung ini selalu hadir. Dia juga orangnya royal.
Selalu ngasi bantuan ke masjid atau ke orang-orang yang butuh bantuan. Pokoknya
orangnya baik. Kalau gak baik, gak mungkin dia terpilih lagi jadi Kades”, jelas
Pak Sugeng.
“Ya, saya setuju sama sampean kalau
Pak Kades orangnya baik. Tapi, ada yang perlu sampean tahu dari semua yang
sampean bilang baik ada yang perlu sampean tahu atau mungkin sampean juga sudah
tahu”, jelas `Orang Pintar`.
“Apa itu?”, tanya Pak Sugeng.
“Maaf, saya cuma mau ngomong sama
sampean. Sampean gak perlu lagi ngomong sama orang lain. Sampean mau
berjanji?”, pinta `Orang Pintar`.
“Ya, saya mau berjanji. Kalau nanti
saya ingkar janji, silakan saya siap diapapun sama Bapak”, Pak Sugeng berusaha
meyakinkan `Orang Pintar`.
“Jadi gini, Pak Sugeng. Segala
penyakit seperti yang saya katakan tadi ada penyebabnya. Gak mungkin tiba-tiba
saja kepala Pak Kades membesar. Pasti ada penyebabnya”, jelas `Orang Pintar`.
“Terus, apa Pak?”, Pak Sugeng makin
penasaran.
“Boleh jadi penyakit yang diderita Pak
Kades merupakan teguran dari Allah.”
“Teguran dari Allah?”, tanya Pak
Sugeng heran.
“Iya teguran dari Allah?”, jawab
`Orang Pintar` tegas.
“Kalau memang benar-benar orang
beriman, Pak Kades akan banyak bertanya pada diri sendiri, kenapa kepala saya
semakin sehari semakin membesar? Kenapa juga gak ada satu dokter dan paranormal
pun yang bisa mengobati penyakit yang saya derita. Jadi, dia gak cari-cari
penyebab yang datangnya dari luar, entah itu yang namanya virus atau guna-guna
dari orang-orang yang gak suka sama dia”, jelas `Orang Pintar`.
“Lho, emangnya Pak Kades salah apa
sampe ditegur Allah, Pak?”, tanya Pak Sugeng semakin gak ngerti.
“Sampean tuh sampe gak tahu yang
dilakukan Pak Kades selama ini?”, jawab `Orang Pintar`.
“Coba sampean ingat-ingat, pernah gak
Pak Kades dituduh koruptor sampe-sampe punya rumah paling megah di kampung ini
yang di bawah rumahnya kata orang ada bunker tempat Pak Kades nyimpan
uangnya dan mas permatanya yang nilainya sekian miliar itu”, jelas `Orang
Pintar`.
“Ya..ya..saya ingat”, jawab Pak
Sugeng.
“Selain itu, pernah gak dia berbohong
di hadapan orang-orang desa waktu pilkades kalo mau menyejahterakan warga desa?
Dia mau usahakan bangun jalan desa yang kuat dan mulus lewat bantuan bangdes?
Sekarang gimana itu kabarnya? Sudah terealisasi belum?”, tanya `Orang Pintar`
lagi.
“Belum…belum, Pak”, jawab Pak Sugeng.
“Nah, sekarang sampean tahu `kan
kesalahan-kesalahan Pak Kades?”, tanya `Orang Pintar`.
“Ya..ya..Pak, saya tahu”, jawab Pak
Sugeng dengan yakin.
“Pak Kades itu kalau saya bisa katakan
orang yang kemaruk dengan harta. Orang yang serakah!”, kata `Orang Pintar`
dengan sedikit emosional.
“Kalo sampean sudah tahu, sekarang
coba jawab pertanyaan saya, apakah yang diderita selama enam bulan ini sama Pak
Kades bukan hukuman dari Allah?”, pancing `Orang Pintar`.
“Ya, jelas..jelas..hukuman dari Allah,
Pak!”, tegas Pak Sugeng.
“Nah, sampean dah akui `kan itu
hukuman dari Allah?”, tanya `Orang Pintar`.
“Ya, saya akui Pak”, jawab Pak Sugeng.
“Itu baru hukuman dunia, Pak Sugeng.
Belum lagi nanti hukuman di akhirat. Saya susah menggambarkan hukuman apalagi
yang nanti dialami dia di akhirat”, jelas `Orang Pintar`.
“Di Al-Quran banyak cerita tentang
orang-orang yang kemaruk dengan harta. Qarun, misalnya, sampean tahu `kan
Qarun?”, tanya `Orang Pintar`.
“Ya, saya tahu. Orang yang ditelan
bumi bersama-sama hartanya”, jawab Pak Sugeng.
“Buat Allah mudah saja menghukum orang
seperti Qarun”, tegas `Orang Pintar`.
“Maksud Bapak, nanti Pak Kades
nasibnya sama seperti Qarun?”, tanya Pak Sugeng penasaran.
“Saya gak bilang begitu. Saya cuma ngasi
permisalan saja orang yang rakus, serakah, dan gila harta di Al-Quran diberi
hukuman seperti kisah Qarun”, jelas `Orang Pintar.
“Gimana? Sudah bisa dipahami `kan?”,
tanya `Orang Pintar`.
“Ya, sudah jelas Pak! Terima kasih
Pak. Saya sudah dapat pencerahan dari Bapak”, jawab Pak Sugeng.
“Ayo, Pak Sugeng diminum lagi kopinya.
Nanti keburu dingin”, kata `Orang Pintar`.
“Ya. Pak”
Pak Sugeng menyeruput sisa-sisa
minumannya.
Beberapa
saat kemudian Pak Sugeng pamit pada tuan rumah karena mau melanjutkan
aktivitasnya. Sebelum Pak Sugeng meninggalkan tempat, sekali lagi `Orang
Pintar` minta pada Pak Sugeng untuk tidak menyampaikan pembicaraannya tadi. Pak
Sugeng meyakinkan `Orang Pintar` kalau dia akan memegang teguh janjinya.
***
Beberapa
bulan setelah Pak Sugeng bertamu ke rumah `Orang Pintar` sesuatu yang pernah dibicarakan
tentang kisah Qarun dalam Al-Quran benar-benar terjadi di kampungnya. Kisahnya
begini, setelah Pak Kades merayakan hari ulang tahunnya yang ke lima puluh
tujuh, ketika tamu-tamunya sudah pada pulang tinggallah Pak Kades bersama
istri, anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya. Masih dalam suasana gembira,
tiba-tiba saja di dapur rumahnya terjadi ledakan besar. Ledakan itu menimbulkan
kebakaran. Petugas pemadam kebakaran datang sangat terlambat karena memang
tempat tinggalnya di kampung jauh dari Pos Pemadam Kebakaran. Wajar-wajar saja
kalau kebakaran itu melumatkan bangunan termegah di kampung itu. Akibatnya,
rumahnya benar-benar ludes dimakan api. Mereka sekeluarga mengungsi. Hanya
pakaian yang melekat di tubuh mereka. Beberapa warga yang pernah ditolong Pak
Kades menampung mereka.
Meskipun
sudah terkena bencana, sikap tamak dan serakah masih ada pada keluarga Pak
Kades. Terbukti beberapa hari setelah kebakaran, mereka semuanya (tidak
termasuk cucu-cucu dan asisten-asisten rumah tangganya) mendatangi lokasi
rumahnya. Padahal di seputar rumah yang terbakar itu telah dipasangi police
line, mereka tetap masuk menerabas. Mereka mengorek-ngorek bekas-bekas
bangunan. Ketika di bawah bangunan yang terbakar itu masih kelihatan bunker
yang dibangun dulu, mereka gembira sekali. Mereka menyangka harta bendanya yang
berisi uang dan mas permata masih aman tersimpan di bunker yang mereka
bangun. Buat mereka gak masalah kalau bangunannya yang megah bersama
kendaraan-kendaraan yang harganya ratusan juta hangus terbakar karena yang
penting masih ada simpanan uang dan mas permata. Baru saja mereka mengecap
kegembiraan, tiba-tiba saja terjadi sesuatu yang mengejutkan. Bumi yang mereka
pijak terbelah menjadi jurang yang menganga lebar. Mereka semuanya masuk ke
dalam jurang yang lebar itu. Tanah yang tadinya mereka pijak menimbun mereka
hidup-hidup. Harta benda yang berupa uang dan mas permata menenggelamkannya.
Tidak ada yang tersisa. Mereka semuanya tertimbun longsoran dari tanah dan
bangunan bekas-bekas kebakaran dan bunker yang menyimpan uang, dan mas
permatanya. Semuanya terkubur hidup-hidup. Kejadian itu hanya dalam hitungan
menit. Warga desa pun tidak sempat menolongnya karena mereka juga takut
terjerumus ke jurang yang menganga demikian lebar. Tidak ada yang tersisa
karena bekas-bekas kebakaran pun masuk ke jurang. Yang tersisa hanya cucu-cucu
mereka yang masih di rumah-rumah warga yang pernah Pak Kades santuni.
***
Peristiwa
yang terbilang langka ini sontak mengundang sekian banyak konten kreator dan netizen.
Mereka-mereka yang terlibat dalam medsos bukan sekedar memberitakan peristiwa
tersebut, tapi juga turut mengomentarinya. Mereka-mereka ini yang biasa
meramaikan jagat Instagram, Threads, sampai Tik Tok. Sementara
itu, media mainstream baru meramaikannya ketika medsos sudah lebih dulu
meliputnya. Seperti biasa media mainstream menurunkan para wartawannya
dan kelihatan `sok sibuk` mewawancarai orang-orang desa yang diperkirakan tahu kronologi
peristiwa langka itu.
Pak
Sugeng yang turut menjadi saksi semakin percaya bukan karena ramalan `Orang
Pintar`,tapi lebih pada penjelasannya yang telah mencerahkan jiwanya. Dia
semakin yakin akan kebenaran kata-kata `Orang Pintar` bahwa sebuah musibah yang
dihadapi seseorang lebih disebabkan oleh perilakunya. Dia bersyukur masih ada
orang seperti `Orang Pintar` yang mengingatkan akan peran manusia di muka bumi
ini. Baru saja dia mau menyampaikan kabar ke `Orang Pintar`, tiba-tiba saja ada
WA dari `Orang Pintar`: Inna lillahi wa inna ilaihi roji`un.
Kota Bekasi, Akhir Juli 2025.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)