Profesor dan Segumpal Daging
Cerpen
Subagio S.Waluyo
Prof
Sanusi pagi itu begitu kaget ketika di meja kerjanya, di perpustakaan, ada
seorang gadis duduk di kursi yang biasa didudukinya sambil membaca buku-bukunya
yang ada di meja. Baru kali ini ada orang yang begitu beraninya menempati kursi
yang didudukinya. Selama ini tidak ada seorangpun mahasiswanya yang begitu
beraninya seperti yang dilihatnya hari ini. Prof Sanusi sempat bertanya pada
petugas perpustakaan kalau ada seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya
menempati meja yang biasa digunakannya. Informasi yang diterimanya membikin
Prof Sanusi terkejut, konon kabarnya gadis itu sudah ada janji bertemu
dengannya. Tentu saja Prof Sanusi menolak mentah-mentah info yang diterimanya.
Sebagai seorang akademis yang sudah tiga puluh tahun mengabdi sebagai pengajar di perguruan tingginya, Prof Sanusi bersikap
bijak. Dia sama sekali berusaha untuk menghilangkan keterkejutannya. Malah
sebaliknya, dia bersikap lembut. Dia menyapa sang gadis dengan ramahnya.
“Ada yang perlu saya bantu?”, tanyanya
sekedar basa-basi.
“Oh, nggak. Saya cuma lihat buku-buku
Bapak. Tadi saya lewat sini ada setumpuk buku yang menarik buat saya membacanya”,
jawab si gadis (sebenarnya ada niat tertentu bukan hanya sekadar melihat ada buku yang menarik).
“Maaf, kalo saya telah mengganggu kenyamanan
Bapak”, katanya memohon maaf (juga sekedar menunjukkan kepura-puraan).
“Oh, gak apa-apa. Silakan kalo mau
baca-baca”, kata Prof Sanusi masih dengan basa-basi (padahal di dalam hatinya
dongkol juga karena ada orang yang telah mengganggu aktivitas rutinnya di
perpustakaan seusai mengajar).
“Nggak Pak, saya mau pindah ke tempat
lain”, kata si gadis.
“Kamu gak usah pindah. Di situ aja.
Biar saya ambil kursi”, seraya Prof Sanusi mengambil kursi yang ada di dekat
situ.
Prof
Sanusi duduk berseberangan dengan gadis itu. Wajah sang gadis terbilang ayu.
Dalam hal berpakaian gadis itu sama seperti mahasiswa-mahasiswanya lebih suka
memakai T-shirt dan bercelana jins ketat sehingga menampakkan
lekuk-lekuk bagian tubuhnya. Gadis itu juga tidak menampakkan rasa bersalah
telah menduduki kursinya walaupun tadi sempat minta maaf. Sebagai orang yang
memasuki usia setengah baya, Prof Sanusi setidaknya bisa membaca rona wajah
yang menampakkan benar-benar rasa bersalah dengan sekedar berpura-pura. Pada
wajah gadis yang kini duduk di hadapannya jelas tidak menampakkan rasa
bersalah. Untuk mencairkan kebuntuan karena suasananya sontak hening, Prof
Sanusi buka suara.
“Maaf, kamu mahasiswa di perguruan
tinggi ini?”, tanyanya.
“Ya. Saya dari Prodi Sastra Inggris”,
jawab si gadis.
“Semester berapa?”
“Semester enam, Pak. Bapak dosen di
FISIP?”, gantian si gadis bertanya.
“Ya. Saya dari Prodi Sosiologi. Ini
kartu nama saya”, seraya memberikan si gadis kartu namanya.
Begitu melihat kartu namanya, si gadis
kaget juga dengan gelar akademis yang disandang Prof Sanusi.
“Bapak seorang profesor?”, tanyanya
masih dalam keterkejutan.
“Ya. Saya telah menyandang gelar
profesor sejak usia empat puluh tahun. Pas usia saya ke empat puluh saya
mendapat gelar profesor. Gelar profesor waktu itu menjadi hadiah ulang tahun
saya. Boleh dikatakan waktu itu saya profesor termuda di perguruan tinggi ini”,
katanya bangga.
“Wah, Bapak
benar-benar hebat. Keren Pak!”, serunya.
“Terima kasih atas pujiannya”
“Bapak S1-nya dari sini?”,
tanya si gadis.
“Ya, dari sini. S2 dan S3
saya di Monash University.”
“Wah, keren Pak!”
“Kalau umur empat puluh tahun sudah
profesor, maaf, umur berapa Bapak menyandang S3?”, tanya sang gadis
penasaran.
“Saya menyandang gelar S3
umur 27 tahun. Begitu selesai S3 saya tidak langsung bekerja. Saya
menikah dulu. Baru setelah menikah saya coba-coba melamar sebagai dosen PNS di
perguruan tinggi ini. Saya gak perlu berlama-lama langsung diterima karena
pertama, saya lulus tes seleksi PNS dan kedua saya `kan alumnus dari prodi yang
sama dan perguruan tinggi yang sama”, masih dengan bangga Prof Sanusi
menjelaskannya seperti menguliahi mahasiswanya.
“Wah, Pak Prof benar-benar beruntung.
Maaf, kalo saya menyapa Bapak, Pak Prof”,tanpa diminta sang gadis telah
mengubah sapaan dari `Bapak` ke `Pak
Prof`.
“Saya memang disapa sama
mahasiswa-mahasiswa saya, kolega-kolega saya, dan atasan-atasan saya dengan Pak
Prof”, jelas Prof Sanusi memberitahukan (sebenarnya dia juga mau ngomong di
hadapan gadis itu biar tahu siapa dia sebenarnya, tapi setelah dipikir-pikir
tidak ada gunanya disampaikan khawatir nanti makin terpojok si gadis itu).
“Kalo boleh tahu siapa namamu?”, tanya
Prof Sanusi (sebenarnya baru kali ini dia ingin berkenalan dengan seorang gadis
karena sejak istrinya wafat lima tahun lalu dia cenderung bersikap cuek dengan
yang namanya perempuan sehingga ada saja berita hoax yang menyebutnya
dia sebagai guy walaupun gak terbukti kalau dia guy).
“Nama saya Katherina. Biasa dipanggil
Katty. Nama saya seperti orang Barat ya, walaupun saya berasal dari Minahasa”,
jelasnya.
“Bukannya orang-orang Minahasa memang
namanya pakai nama-nama Barat?”, tanya Prof Sanusi.
“Ya. Mungkin karena terlalu lama
dijajah sama Belanda sampai-sampai nama orang juga ikut-ikutan nama-nama
Belanda”, Katty berusaha menjelaskan.
“Orang Jawa juga lama dijajah Belanda,
tapi nama-namanya tetap saja gak pakai nama-nama Barat. Boleh dikatakan sangat
jarang orang Jawa pakai nama-nama Barat, kecuali mereka-mereka yang yang orangtuanya
dulu pendidikan Belanda yang karena supaya disebut priyayi nama anak-anaknya
berbau kebarat-baratan”, Prof Sanusi tidak mau kalah menjelaskannya.
“Pendidikan dan status sosial menjadi
faktor penyebab nama-nama orang mengikuti Barat.”, Prof Sanusi menambahkannya.
“Sebuah nama pasti punya makna.
Seperti namamu Katherina pasti ada maknanya. Sudahlah gak usah dipikirkan soal
nama”, kata Prof Sanusi berusaha meyakinkan Katty.
“Oh, maaf Pak Prof, saya sudah
mengganggu aktivitas Bapak. Saya mohon pamit Pak Prof”, seraya mengajaknya
bersalaman (Prof Sanusi juga baru kali ini mau bersalaman dengan perempuan yang
baru dikenalnya).
“Kartu nama ini boleh saya bawa ya?”,
pintanya.
“Ya, silakan bawa aja. Kalau ada yang
perlu saya bantu silakan kontak saya aja!”, kata Prof Sanusi (memberikan kartu
nama buat seorang perempuan yang baru saja dikenalnya juga baru kali ini
dilakukan Prof Sanusi).
“Kalau sewaktu-waktu saya datang ke
apartemen Bapak gak apa-apa?”, Katty nekad menanyakannya (sebuah permintaan
yang kurang baik sebenarnya baru kenalan sudah mau berkunjung ke rumah orang
yang baru dikenalnya).
“Gak apa-apa. Silakan datang aja! Saya
tinggal sendirian di apartemen”, Prof Sanusi mempersilakan Katty (ini juga
merupakan sesuatu yang aneh buat Prof Sanusi karena baru kali ini mempersilakan
orang yang baru dikenalnya datang berkunjung ke apartemennya, bukannya selama
ini kalau ada mahasiswa yang mau konsultasi skripsi, tesis, atau disertasi
selalu di kampus bukan di apartemennya?).
“Pak Prof tinggal sendirian?”, tanya
Katty heran.
“Ya. Sejak lima tahun lalu istri saya
wafat, saya tinggal sendirian. Anak-anak saya, menantu-menantu saya, plus
cucu-cucu saya tinggal di kota lain. Jauh dari saya”, jelasnya (ini juga
kelalaian buat Prof Sanusi yang telah berani-beraninya membuka sesuatu yang
ditutup-tutupinya selama ini).
“Kenapa bisa begitu,Pak”, tanya Katty
penasaran.
“Sudahlah, terlampau panjang kalo mau
diceritakan”, katanya (ada pernyataan tidak suka).
“Ya, terima kasih Pak Prof. Kalo gitu
saya pamit ya?”
“Ya. Sama-sama.”
“Selamat bekerja”, kata Katty sambil memberikan
senyuman nakal dan meliriknya.
***
Katty
merasa hari ini hari keberuntungan. Bisa kenalan dengan seorang profesor yang
tinggal sendirian bukankah sebuah kesempatan untuk melakukan pemerasan
sekaligus pemberian `segumpal daging` yang dimilikinya pada orang lain? Dia
biasa menyebutkan dirinya sebagai `segumpal daging` yang siap disantap oleh
orang yang menyukainya. Dia juga bisa merasakan `segumpal daging` dari orang
yang disantapnya. Selain itu, tentu saja ada adagium yang berlaku yang juga
selalu dia manfaatkan `tidak ada makan
siang yang gratis`. Bisa saja dia memulainya meminta pada calon korbannya
`sesuatu`. Bisa saja `sesuatu` itu uang atau barang mewah yang wajib
dimilikinya. Tipe Katty jelas tipe gadis hedonis yang menganut paham `seks
bebas`. Buat dia tidak ada istilah cinta. Ada uang, ada barang, pasti ada
`segumpal daging` yang siap disantap dan dia juga siap menyantap `segumpal
daging` milik korbannya. Ada uang atau ada barang dan ada kepuasan pemenuhan
libidonya.
Prof
Sanusi yang jujur, polos, kurang banyak tahu soal selera generasi `Gen Z`
mudah terjebak. Hari ini pertemuannya dengan gadis semacam Katty telah
membuatnya gundah. Prinsip yang dipegang teguh untuk tidak berhubungan dengan
perempuan sudah mulai goyah. Begitu ketemu dengan Katty yang memang bisa
menunjukkan kecantikan dan kepandaiannya dalam bermain peran sudah membuat dirinya
goyah. Hari ini seusai mengajar yang biasanya diisi dengan membaca dan menulis
sampai petang, ternyata tidak ada satupun buku yang dibaca dan tidak ada satu
katapun yang ditulis. Wajah Katty yang cantik dan tubuh yang aduhai tampak
jelas di pelupuk matanya. Pertemuannya dengan Katty akan mengundang bahaya,
bukan keberuntungan yang akan diperolehnya. Akhirnya, Prof Sanusi meninggalkan
perpustakaan lebih cepat dari biasanya. Hari itu Prof Sanusi telah membuat
mereka yang kerap melayaninya terheran-heran karena sang guru besar cuma
berbincang-bincang dengan gadis cantik yang baru dikenalnya.
***
Prof
Sanusi baru saja tiba di rumahnya. Rasa penat seharian mengajar dan rapat guru
besar belum lagi hilang. Tiba-tiba saja bel di pintu apartemennya berbunyi. Dia
intip sebentar siapa gerangan orang yang datang ke apartemen sesore itu.
Diintipnya orang itu, ternyata Katty gadis yang baru dikenalnya beberapa hari
yang lalu. Dia segera membukakan pintu.
“Selamat sore, Pak Prof”, sapa Katty.
“Selamat sore. Kamu sore-sore kemari
ada apa?”, tanya Prof Sanusi sedikit menyelidiki (sebenarya sekedar basa-basi
saja dia bertanya).
“`Kan Pak Prof nyampein ke saya kalo
mau berkunjung ke tempat saya silakan. Nah, saya datang ke sini. Boleh saya
masuk?”, pinta Katty.
“O, silakan masuk”, Prof Sanusi
mempersilakan Katty masuk (baru kali ini ada orang yang datang masuk ke
apartemennya).
“Kamu mau minum apa?”, tanya Prof
Sanusi (ini sudah benar-benar luar biasa sampai menawarkan minuman).
“Minum apa saja Pak Prof. Asal jangan
racun. He…he…heh!”, kata Katty sambil meledek.
“Ha…ha…hah! Gak lah. Masak gadis
secantik kamu saya racun”, Prof Sanusi turut menimpali ledekan Katty (ini juga
baru kali ini Prof Sanusi bisa bercanda dengan gadis cantik).
“Tunggu bentar. Saya siapkan es
sirup”, pinta Prof Sanusi.
Tidak
lama kemudian sudah tersedia di atas meja dua gelas es sirup. Tanpa
dipersilakan Katty langsung menyeruputnya. Prof Sanusi bisa memakluminya orang
muda seperti Katty memang sudah terbiasa di manapun jika ditawari minuman tanpa
basa-basi langsung menyeruputnya. Prof Sanusi kelihatan agak canggung di
hadapan Katty. Untuk menghilangkan kecanggungan, Prof Sanusi langsung saja buka
suara.
“Kamu ada keperluan apa datang
kemari?”, tanyanya.
“Saya mau main-main saja Pak Prof”,
kata Katty.
“Main-main? Kalau mau main-main jangan
di sini. Di play group atau di alun-alun bukan di sini”, Prof Sanusi
mulai mengajak Katty bercanda yang membuat keduanya tertawa geli. Setelah agak
reda tertawanya Katty diam-diam duduk mendekati Prof Sanusi sehingga mereka duduk
berdampingan (Katty sudah mulai pasang perangkap).
“Pak Prof pernah bilang kalau ada
keperluan kontak saya saja. Ya, `kan?”
Dijawab Prof Sanusi dengan anggukan
tanda mengiyakan.
“Nah, saya gak perlu kontak. Saya
datang aja langsung ke tempat Pak Prof”, jelas Katty.
“Apa Pak Prof keberatan saya datang
kemari untuk minta tolong”, tanya Katty sopan.
“O, gak apa-apa. Tempat saya memang well
come buat siapa saja yang mau datang kemari”, kata Prof Sanusi berbohong.
“Langsung saja nih, Pak Prof, to
the point, saya ada keperluan untuk bayar UKT. Orangtua saya di Menado
sampai sekarang belum juga transfer dana. Mereka malah bilang untuk semester
ini kamu sebaiknya cuti dulu. Nanti aja semester depan”, kata Katty dengan
sedikit mengiba (walaupun ini sebenarnya juga bohong).
“Berapa besar UKT kamu?”, tanya Prof
Sanusi.
“7,5 juta Pak Prof”
“Kamu ada VA-nya dan NIM-nya? Kalau
ada di-share ke saya.”, pinta Prof Sanusi (sebenarnya bisa saja Prof
Sanusi mentransfer dananya ke Katty, tapi dia ingin tahu apakah Katty memang
benar-benar mahasiswa Prodi Sastra Inggris seperti yang disampaikannya ketika
pertama kali bertemu).
“Ada Pak Prof. Tunggu sebentar”,
pintanya.
“Ini dia. Saya share ya?”
“Ya. Silakan”
“Nah, itu sudah saya share.”
“Tunggu sebentar, ya?”
“Ya, Pak Prof.”
“Ini sudah selesai saya lunasi
pembayaran UKT kamu. Saya share ya tanda bukti pembayarannya?”, kata Prof
Sanusi sambil dia menunjukkan tanda buktinya.
Katty hanya mengangguk.
“Nah, sudah tuh”
“Terima kasih, Pak Prof. Pak Prof baik
sekali. Benar-benar punya kepedulian”, sanjung Katty. Sambil berkata begitu
secara spontan Katty mencium pipi Prof Sanusi. Tentu saja Prof Sanusi yang
mendapat ciuman yang tidak diduga-duga itu sempat kaget. Tampaknya, Prof Sanusi
senang juga dicium gadis cantik walaupun hanya di pipinya.
“Kamu sudah lapar? Kalau lapar kita
keluar sebentar ya? Kita bisa makan malam di dekat apartemen”, tanya Prof
Sanusi menawarkan Katty untuk makan di luar. Katty hanya mengangguk pelan.
“Yuk, kita keluar cari makan!”,
ajaknya.
***
Selesai
makan malam, mereka kembali ke apartemen Prof Sanusi. Mereka sempat
bincang-bincang dan penuh candaan. Prof Sanusi malam ini begitu riang. Sejak
istrinya wafat lima tahun lalu, sudah begitu
lama tidak pernah duduk berduaan. Malam ini Prof Sanusi merasa seperti
muda kembali apalagi Katty merapatkan tubuhnya yang hangat membuat dia tidak
karuan. Tanpa terasa jam di dinding telah berdentang sebelas kali. Berarti sudah
cukup larut malam. Karena sudah larut malam, Katty pamit ingin pulang.
“Pak Prof, maaf dah jam 11 malam. Saya
mau pulang, ya? Kapan-kapan lagi saya kemari”
“Kenapa gak bermalam aja? Di sini ada
dua kamar yang bisa kamu gunakan untuk bermalam”, pinta Prof Sanusi (di sini
Prof Sanusi buka perangkap atau sebaliknya malah Katty buka perangkap karena
selama ini belum pernah ada seorang perempuan kecuali keluarga anaknya yang
bermalam di apartemennya?).
“Boleh saya bermalam di sini?”, tanya
Katty sekedar basa-basi.
“Boleh aja. Kenapa gak boleh? Mari
saya tunjukkan kamarnya”, sambil berkata begitu Prof Sanusia menarik tangan
Katty menuju kamarnya yang memang selama ini jarang digunakan.
“Nah, ini kamarnya. Mudah-mudahan
masih layak dipakai. Kamar ini jarang dipakai. Di lemari juga ada pakaian
wanita yang biasa dipakai anak perempuan saya. Ini pakaian tidurnya. Silakan
pakai aja”, Prof Sanusi memberikan pakaian tidur yang biasa dipakai anaknya
pada Katty. Katty menerimanya dengan senang hati. Tampak dari wajahnya
berbinar-binar. Setelah menerima baju tidur itu, Katty minta Prof Sanusi
memalingkan wajahnya karena dia mau mengenakannya. Dengan cepat Katty
melepaskan pakaiannya dan mengenakan baju tidur yang dipinjamkannya.
“Wah, benar-benar pas Pak Prof”, katanya.
“Ya. Kamu tambah cantik pakai baju
tidur itu”, puji Prof Sanusi.
Katty yang mendapat pujian itu
langsung saja mencium pipi Prof Sanusi. Seperti biasa Prof Sanusi senang-senang
saja dicium pipinya.
“Kalo mau ke kamar mandi di sebelah
sana ada kamar mandi lengkap dengan handuk dan peralatan mandinya”, Prof Sanusi
selaku tuan rumah yang baik sekali lagi mempersilakan Katty untuk memanfaatkan
sarana yang ada di kamar itu.
“Sudah cukup ya? Selamat tidur!”
“Ya. Pak Prof terima kasih banget.
Selamat tidur Pak Prof. Selamat bermimpi yang indah”, kata Katty dengan penuh
keriangan.
***
Prof
Sanusi mempunyai kebiasaan kalau sudah masuk kamar tidak pernah mengunci pintu
kamarnya. Pintu kamarnya hanya dirapatkan saja. Malam ini selesai bersih-bersih
diri, dia langsung tidur. Prof Sanusi memang orang yang tergolong mudah tidur
dan mudah terbangun. Mungkin orang seperti Prof Sanusi itu dalam hidupnya tidak
memiliki beban atau tidak banyak masalah wajar-wajar saja kalau mudah tertidur.
Di usia yang sudah mendekati enam puluh tahun Prof Sanusi hanya tidur paling
lama lima jam. Kebiasaannya begitu bangun tidur selesai cuci muka dan gosok
gigi langsung buka laptop atau buka buku sampai menjelang matahari terbit di
ufuk timur. Setelah itu, dia siap-siap untuk mandi pagi. Kalau di hari libur
(sabtu, minggu, atau libur) biasanya Prof Sanusi jogging atau berenang
di apartemennya. Karena itu, dalam usia yang sudah tidak muda lagi fisiknya
tetap sehat. Perutnya rata (tidak buncit). Tidak seperti laki-laki sebayanya
yang perutnya buncit atau walaupun tidak buncit tapi kurus. Prof Sanusi
tubuhnya masih terlihat atletis. Prof Sanusi sangat menikmati kesehatan dan
kesendiriannya.
Katty perempuan muda yang sedang butuh
makanan untuk `segumpal daging` yang dimilikinya malam ini begitu gelisah. Dia
tidak bisa tertidur. Di kamar sebelah ada seorang laki-laki yang walaupun dari
sisi usia sudah tidak muda lagi diharapkan bisa memenuhi libido kewanitaannya.
Akhirnya, dia berjinjit ke kamar sebelah tempat Prof Sanusi istirahat. Pintu
kamar Prof Sanusi tidak terkunci. Dengan mudah didorongnya. Sekarang dia telah
memasuki kamar Prof Sanusi. Dia melepaskan pakaian tidurnya. Sekarang tidak ada
selembar benangpun melekat di tubuhnya. Dia naik ke tempat tidur dan tidur
berdampingan dengan Prof Sanusi. Prof Sanusi antara sadar dan tidak sadar
tangannya menyentuh bagian yang paling lembut di tubuh Katty. Dia segera terbangun.
Begitu terbangun dia langsung teriak:
“Astagfirullah
hal adziem! Kamu ngapain di sini. Kamu keluar dari sini. Pakai lagi pakaian
itu!”, teriaknya keras. Dia sempat melihat tubuh Katty yang polos. Sambil
berteriak begitu keras Prof Sanusi seraya berdiri dan memalingkan wajahnya.
Tidak cukup sampai di situ, Prof Sanusi juga masih dalam suara yang memekakkan
telinga berteriak,
“Saya
tidak mau mengkhianati almarhumah istri saya. Sekarang juga kamu keluar dari
kamar ini. Silakan kamu pergi dari sini!”, teriak Prof Sanusi.
Katty benar-benar terkejut dengan
teriakan Prof Sanusi. Dia tidak menyangka kalau Prof Sanusi bisa semarah itu.
Dia segera mengenakan pakaian tidurnya dan keluar kamar. Setelah Katty keluar dari
kamarnya, Prof Sanusi segera menuju kamar mandi. Dia mandi hadas besar walaupun
tadi dia tidak berhubungan badan dengan Katty. Selesai mandi dia ambil wudu.
Dia kenakan sarung, pakaian sholat, dan kopiahnya yang sudah sekian lama
menganggur karena sudah sekian lama pula dia tidak mengerjakan kewajibannya
sebagai hamba Allah. Dia segera salat isya, salat sunah rawatib, diteruskan dengan salat tahajud, salat taubat, dan ditutup dengan salat witir. Selama salat air
matanya mengucur deras. Sebelum salat witir, dia berdoa cukup panjang. Dia
menyesali jalan hidupnya yang telah menyimpang jauh dari yang diwajibkan Allah.
Di tengah doa-doanya dia sempat merenungkan jalan hidupnya. Sebagai hamba
Allah, sejujurnya dia mengakui telah meninggalkan demikian banyak kewajibannya. Tidak cukup sampai di situ, dia sudah juga tidak lagi melakukan berbagai kebaikan seperti ketika dulu masih bersama istri dan anak-anaknya. Rizki yang diperolehnya jarang sekali disedekahkan pada kaum duafa walaupun kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan kolega-kolega dan mahasiswa-mahasiwanya tertuju pada kaum duafa. Seandainya mau bersedekah, sedikit sekali uang yang dikeluarkan dari koceknya. Aktivitasnya di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat buatnya hanya
sebatas untuk memuaskan kebutuhan keilmuannya semata. Dia merasa telah banyak dosa dan kesalahan yang telah diperbuatanya. Biar bagaimanapun, dia tetap bersyukur pada Allah karena terhindar dari perbuatan zina.
Katty tidak menyangka kalau Prof Sanusi
bisa begitu kasar terhadapnya. Teriakan penolakan Prof Sanusi buatnya merupakan
sebuah penghinaan. Selama ini Katty tidak pernah diperlakukan kasar seperti itu
karena dengan mudah dia bisa menundukkan setiap laki-laki yang siap menerima
`segumpal daging` darinya. Diam-diam tanpa sepengetahuan Prof Sanusi dia keluar
bukan saja dari kamarnya, tapi juga pergi meninggalkan apartemen itu. Dia
segera menghapus nama Prof Sanusi dari hp-nya. Buat dia malam ini malam yang
penuh kesialan walaupun semula dia memperoleh sedikit keberuntungan. Katty yang
ndableg meskipun malam ini mendapat kesialan tetap cuek-cuek
saja. Buat dia yang namanya penolakan walaupun kasar dinikmati saja. Bukankah itu
sudah menjadi risiko hidupnya yang ingin tetap hedonis dan permisif?
Kota
Bekasi, 4 Oktober 2025
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)