Jumat, 03 Oktober 2025

Bahasa dan Sastra (232)

 



Profesor dan Segumpal Daging

 

Cerpen

 
Subagio S.Waluyo

 

        Prof Sanusi pagi itu begitu kaget ketika di meja kerjanya, di perpustakaan, ada seorang gadis duduk di kursi yang biasa didudukinya sambil membaca buku-bukunya yang ada di meja. Baru kali ini ada orang yang begitu beraninya menempati kursi yang didudukinya. Selama ini tidak ada seorangpun mahasiswanya yang begitu beraninya seperti yang dilihatnya hari ini. Prof Sanusi sempat bertanya pada petugas perpustakaan kalau ada seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya menempati meja yang biasa digunakannya. Informasi yang diterimanya membikin Prof Sanusi terkejut, konon kabarnya gadis itu sudah ada janji bertemu dengannya. Tentu saja Prof Sanusi menolak mentah-mentah info yang diterimanya. Sebagai seorang akademis yang sudah tiga puluh tahun mengabdi sebagai pengajar di perguruan tingginya, Prof Sanusi bersikap bijak. Dia sama sekali berusaha untuk menghilangkan keterkejutannya. Malah sebaliknya, dia bersikap lembut. Dia menyapa sang gadis dengan ramahnya.

“Ada yang perlu saya bantu?”, tanyanya sekedar basa-basi.

“Oh, nggak. Saya cuma lihat buku-buku Bapak. Tadi saya lewat sini ada setumpuk buku yang menarik buat saya membacanya”, jawab si gadis (sebenarnya ada niat tertentu bukan hanya sekadar  melihat ada buku yang menarik).

“Maaf, kalo saya telah mengganggu kenyamanan Bapak”, katanya memohon maaf (juga sekedar menunjukkan kepura-puraan).

“Oh, gak apa-apa. Silakan kalo mau baca-baca”, kata Prof Sanusi masih dengan basa-basi (padahal di dalam hatinya dongkol juga karena ada orang yang telah mengganggu aktivitas rutinnya di perpustakaan seusai mengajar).

“Nggak Pak, saya mau pindah ke tempat lain”, kata si gadis.

“Kamu gak usah pindah. Di situ aja. Biar saya ambil kursi”, seraya Prof Sanusi mengambil kursi yang ada di dekat situ.

        Prof Sanusi duduk berseberangan dengan gadis itu. Wajah sang gadis terbilang ayu. Dalam hal berpakaian gadis itu sama seperti mahasiswa-mahasiswanya lebih suka memakai T-shirt dan bercelana jins ketat sehingga menampakkan lekuk-lekuk bagian tubuhnya. Gadis itu juga tidak menampakkan rasa bersalah telah menduduki kursinya walaupun tadi sempat minta maaf. Sebagai orang yang memasuki usia setengah baya, Prof Sanusi setidaknya bisa membaca rona wajah yang menampakkan benar-benar rasa bersalah dengan sekedar berpura-pura. Pada wajah gadis yang kini duduk di hadapannya jelas tidak menampakkan rasa bersalah. Untuk mencairkan kebuntuan karena suasananya sontak hening, Prof Sanusi buka suara.

“Maaf, kamu mahasiswa di perguruan tinggi ini?”, tanyanya.

“Ya. Saya dari Prodi Sastra Inggris”, jawab si gadis.

“Semester berapa?”

“Semester enam, Pak. Bapak dosen di FISIP?”, gantian si gadis bertanya.

“Ya. Saya dari Prodi Sosiologi. Ini kartu nama saya”, seraya memberikan si gadis kartu namanya.

Begitu melihat kartu namanya, si gadis kaget juga dengan gelar akademis yang disandang Prof Sanusi.

“Bapak seorang profesor?”, tanyanya masih dalam keterkejutan.

“Ya. Saya telah menyandang gelar profesor sejak usia empat puluh tahun. Pas usia saya ke empat puluh saya mendapat gelar profesor. Gelar profesor waktu itu menjadi hadiah ulang tahun saya. Boleh dikatakan waktu itu saya profesor termuda di perguruan tinggi ini”, katanya bangga.

“Wah, Bapak benar-benar hebat. Keren Pak!”, serunya.                 

“Terima kasih atas pujiannya”

“Bapak S1-nya dari sini?”, tanya si gadis.

“Ya, dari sini. S2 dan S3 saya di Monash University.”

“Wah, keren Pak!”

“Kalau umur empat puluh tahun sudah profesor, maaf, umur berapa Bapak menyandang S3?”, tanya sang gadis penasaran.

“Saya menyandang gelar S3 umur 27 tahun. Begitu selesai S3 saya tidak langsung bekerja. Saya menikah dulu. Baru setelah menikah saya coba-coba melamar sebagai dosen PNS di perguruan tinggi ini. Saya gak perlu berlama-lama langsung diterima karena pertama, saya lulus tes seleksi PNS dan kedua saya `kan alumnus dari prodi yang sama dan perguruan tinggi yang sama”, masih dengan bangga Prof Sanusi menjelaskannya seperti menguliahi mahasiswanya.

“Wah, Pak Prof benar-benar beruntung. Maaf, kalo saya menyapa Bapak, Pak Prof”,tanpa diminta sang gadis telah mengubah sapaan dari `Bapak`  ke `Pak Prof`.

“Saya memang disapa sama mahasiswa-mahasiswa saya, kolega-kolega saya, dan atasan-atasan saya dengan Pak Prof”, jelas Prof Sanusi memberitahukan (sebenarnya dia juga mau ngomong di hadapan gadis itu biar tahu siapa dia sebenarnya, tapi setelah dipikir-pikir tidak ada gunanya disampaikan khawatir nanti makin terpojok si gadis itu).

“Kalo boleh tahu siapa namamu?”, tanya Prof Sanusi (sebenarnya baru kali ini dia ingin berkenalan dengan seorang gadis karena sejak istrinya wafat lima tahun lalu dia cenderung bersikap cuek dengan yang namanya perempuan sehingga ada saja berita hoax yang menyebutnya dia sebagai guy walaupun gak terbukti kalau dia guy).

“Nama saya Katherina. Biasa dipanggil Katty. Nama saya seperti orang Barat ya, walaupun saya berasal dari Minahasa”, jelasnya.

“Bukannya orang-orang Minahasa memang namanya pakai nama-nama Barat?”, tanya Prof Sanusi.

“Ya. Mungkin karena terlalu lama dijajah sama Belanda sampai-sampai nama orang juga ikut-ikutan nama-nama Belanda”, Katty berusaha menjelaskan.

“Orang Jawa juga lama dijajah Belanda, tapi nama-namanya tetap saja gak pakai nama-nama Barat. Boleh dikatakan sangat jarang orang Jawa pakai nama-nama Barat, kecuali mereka-mereka yang yang orangtuanya dulu pendidikan Belanda yang karena supaya disebut priyayi nama anak-anaknya berbau kebarat-baratan”, Prof Sanusi tidak mau kalah menjelaskannya.

“Pendidikan dan status sosial menjadi faktor penyebab nama-nama orang mengikuti Barat.”, Prof Sanusi menambahkannya.

“Sebuah nama pasti punya makna. Seperti namamu Katherina pasti ada maknanya. Sudahlah gak usah dipikirkan soal nama”, kata Prof Sanusi berusaha meyakinkan Katty.

“Oh, maaf Pak Prof, saya sudah mengganggu aktivitas Bapak. Saya mohon pamit Pak Prof”, seraya mengajaknya bersalaman (Prof Sanusi juga baru kali ini mau bersalaman dengan perempuan yang baru dikenalnya).

“Kartu nama ini boleh saya bawa ya?”, pintanya.

“Ya, silakan bawa aja. Kalau ada yang perlu saya bantu silakan kontak saya aja!”, kata Prof Sanusi (memberikan kartu nama buat seorang perempuan yang baru saja dikenalnya juga baru kali ini dilakukan Prof Sanusi).

“Kalau sewaktu-waktu saya datang ke apartemen Bapak gak apa-apa?”, Katty nekad menanyakannya (sebuah permintaan yang kurang baik sebenarnya baru kenalan sudah mau berkunjung ke rumah orang yang baru dikenalnya).

“Gak apa-apa. Silakan datang aja! Saya tinggal sendirian di apartemen”, Prof Sanusi mempersilakan Katty (ini juga merupakan sesuatu yang aneh buat Prof Sanusi karena baru kali ini mempersilakan orang yang baru dikenalnya datang berkunjung ke apartemennya, bukannya selama ini kalau ada mahasiswa yang mau konsultasi skripsi, tesis, atau disertasi selalu di kampus bukan di apartemennya?).

“Pak Prof tinggal sendirian?”, tanya Katty heran.

“Ya. Sejak lima tahun lalu istri saya wafat, saya tinggal sendirian. Anak-anak saya, menantu-menantu saya, plus cucu-cucu saya tinggal di kota lain. Jauh dari saya”, jelasnya (ini juga kelalaian buat Prof Sanusi yang telah berani-beraninya membuka sesuatu yang ditutup-tutupinya selama ini).

“Kenapa bisa begitu,Pak”, tanya Katty penasaran.

“Sudahlah, terlampau panjang kalo mau diceritakan”, katanya (ada pernyataan tidak suka).

“Ya, terima kasih Pak Prof. Kalo gitu saya pamit ya?”

“Ya. Sama-sama.”

“Selamat bekerja”, kata Katty sambil memberikan senyuman nakal dan meliriknya.

***

        Katty merasa hari ini hari keberuntungan. Bisa kenalan dengan seorang profesor yang tinggal sendirian bukankah sebuah kesempatan untuk melakukan pemerasan sekaligus pemberian `segumpal daging` yang dimilikinya pada orang lain? Dia biasa menyebutkan dirinya sebagai `segumpal daging` yang siap disantap oleh orang yang menyukainya. Dia juga bisa merasakan `segumpal daging` dari orang yang disantapnya. Selain itu, tentu saja ada adagium yang berlaku yang juga selalu  dia manfaatkan `tidak ada makan siang yang gratis`. Bisa saja dia memulainya meminta pada calon korbannya `sesuatu`. Bisa saja `sesuatu` itu uang atau barang mewah yang wajib dimilikinya. Tipe Katty jelas tipe gadis hedonis yang menganut paham `seks bebas`. Buat dia tidak ada istilah cinta. Ada uang, ada barang, pasti ada `segumpal daging` yang siap disantap dan dia juga siap menyantap `segumpal daging` milik korbannya. Ada uang atau ada barang dan ada kepuasan pemenuhan libidonya.

        Prof Sanusi yang jujur, polos, kurang banyak tahu soal selera generasi `Gen Z` mudah terjebak. Hari ini pertemuannya dengan gadis semacam Katty telah membuatnya gundah. Prinsip yang dipegang teguh untuk tidak berhubungan dengan perempuan sudah mulai goyah. Begitu ketemu dengan Katty yang memang bisa menunjukkan kecantikan dan kepandaiannya dalam bermain peran sudah membuat dirinya goyah. Hari ini seusai mengajar yang biasanya diisi dengan membaca dan menulis sampai petang, ternyata tidak ada satupun buku yang dibaca dan tidak ada satu katapun yang ditulis. Wajah Katty yang cantik dan tubuh yang aduhai tampak jelas di pelupuk matanya. Pertemuannya dengan Katty akan mengundang bahaya, bukan keberuntungan yang akan diperolehnya. Akhirnya, Prof Sanusi meninggalkan perpustakaan lebih cepat dari biasanya. Hari itu Prof Sanusi telah membuat mereka yang kerap melayaninya terheran-heran karena sang guru besar cuma berbincang-bincang dengan gadis cantik yang baru dikenalnya.

***

        Prof Sanusi baru saja tiba di rumahnya. Rasa penat seharian mengajar dan rapat guru besar belum lagi hilang. Tiba-tiba saja bel di pintu apartemennya berbunyi. Dia intip sebentar siapa gerangan orang yang datang ke apartemen sesore itu. Diintipnya orang itu, ternyata Katty gadis yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. Dia segera membukakan pintu.

“Selamat sore, Pak Prof”, sapa Katty.

“Selamat sore. Kamu sore-sore kemari ada apa?”, tanya Prof Sanusi sedikit menyelidiki (sebenarya sekedar basa-basi saja dia bertanya).

“`Kan Pak Prof nyampein ke saya kalo mau berkunjung ke tempat saya silakan. Nah, saya datang ke sini. Boleh saya masuk?”, pinta Katty.

“O, silakan masuk”, Prof Sanusi mempersilakan Katty masuk (baru kali ini ada orang yang datang masuk ke apartemennya).

“Kamu mau minum apa?”, tanya Prof Sanusi (ini sudah benar-benar luar biasa sampai menawarkan minuman).

“Minum apa saja Pak Prof. Asal jangan racun. He…he…heh!”, kata Katty sambil meledek.

“Ha…ha…hah! Gak lah. Masak gadis secantik kamu saya racun”, Prof Sanusi turut menimpali ledekan Katty (ini juga baru kali ini Prof Sanusi bisa bercanda dengan gadis cantik).

“Tunggu bentar. Saya siapkan es sirup”, pinta Prof Sanusi.

        Tidak lama kemudian sudah tersedia di atas meja dua gelas es sirup. Tanpa dipersilakan Katty langsung menyeruputnya. Prof Sanusi bisa memakluminya orang muda seperti Katty memang sudah terbiasa di manapun jika ditawari minuman tanpa basa-basi langsung menyeruputnya. Prof Sanusi kelihatan agak canggung di hadapan Katty. Untuk menghilangkan kecanggungan, Prof Sanusi langsung saja buka suara.

“Kamu ada keperluan apa datang kemari?”, tanyanya.

“Saya mau main-main saja Pak Prof”, kata Katty.

“Main-main? Kalau mau main-main jangan di sini. Di play group atau di alun-alun bukan di sini”, Prof Sanusi mulai mengajak Katty bercanda yang membuat keduanya tertawa geli. Setelah agak reda tertawanya Katty diam-diam duduk mendekati Prof Sanusi sehingga mereka duduk berdampingan (Katty sudah mulai pasang perangkap).

“Pak Prof pernah bilang kalau ada keperluan kontak saya saja. Ya, `kan?”

Dijawab Prof Sanusi dengan anggukan tanda mengiyakan.

“Nah, saya gak perlu kontak. Saya datang aja langsung ke tempat Pak Prof”, jelas Katty.

“Apa Pak Prof keberatan saya datang kemari untuk minta tolong”, tanya Katty sopan.

“O, gak apa-apa. Tempat saya memang well come buat siapa saja yang mau datang kemari”, kata Prof Sanusi berbohong.

“Langsung saja nih, Pak Prof, to the point, saya ada keperluan untuk bayar UKT. Orangtua saya di Menado sampai sekarang belum juga transfer dana. Mereka malah bilang untuk semester ini kamu sebaiknya cuti dulu. Nanti aja semester depan”, kata Katty dengan sedikit mengiba (walaupun ini sebenarnya juga bohong).

“Berapa besar UKT kamu?”, tanya Prof Sanusi.

“7,5 juta Pak Prof”

“Kamu ada VA-nya dan NIM-nya? Kalau ada di-share ke saya.”, pinta Prof Sanusi (sebenarnya bisa saja Prof Sanusi mentransfer dananya ke Katty, tapi dia ingin tahu apakah Katty memang benar-benar mahasiswa Prodi Sastra Inggris seperti yang disampaikannya ketika pertama kali bertemu).

“Ada Pak Prof. Tunggu sebentar”, pintanya.

“Ini dia. Saya share ya?”

“Ya. Silakan”

“Nah, itu sudah saya share.”

“Tunggu sebentar, ya?”

“Ya, Pak Prof.”

“Ini sudah selesai saya lunasi pembayaran UKT kamu. Saya share ya tanda bukti pembayarannya?”, kata Prof Sanusi sambil dia menunjukkan tanda buktinya.

Katty hanya mengangguk.

“Nah, sudah tuh”

“Terima kasih, Pak Prof. Pak Prof baik sekali. Benar-benar punya kepedulian”, sanjung Katty. Sambil berkata begitu secara spontan Katty mencium pipi Prof Sanusi. Tentu saja Prof Sanusi yang mendapat ciuman yang tidak diduga-duga itu sempat kaget. Tampaknya, Prof Sanusi senang juga dicium gadis cantik walaupun hanya di pipinya.

“Kamu sudah lapar? Kalau lapar kita keluar sebentar ya? Kita bisa makan malam di dekat apartemen”, tanya Prof Sanusi menawarkan Katty untuk makan di luar. Katty hanya mengangguk pelan.

“Yuk, kita keluar cari makan!”, ajaknya.

***

        Selesai makan malam, mereka kembali ke apartemen Prof Sanusi. Mereka sempat bincang-bincang dan penuh candaan. Prof Sanusi malam ini begitu riang. Sejak istrinya wafat lima tahun lalu, sudah begitu  lama tidak pernah duduk berduaan. Malam ini Prof Sanusi merasa seperti muda kembali apalagi Katty merapatkan tubuhnya yang hangat membuat dia tidak karuan. Tanpa terasa jam di dinding telah berdentang sebelas kali. Berarti sudah cukup larut malam. Karena sudah larut malam, Katty pamit ingin pulang.

“Pak Prof, maaf dah jam 11 malam. Saya mau pulang, ya? Kapan-kapan lagi saya kemari”

“Kenapa gak bermalam aja? Di sini ada dua kamar yang bisa kamu gunakan untuk bermalam”, pinta Prof Sanusi (di sini Prof Sanusi buka perangkap atau sebaliknya malah Katty buka perangkap karena selama ini belum pernah ada seorang perempuan kecuali keluarga anaknya yang bermalam di apartemennya?).

“Boleh saya bermalam di sini?”, tanya Katty sekedar basa-basi.

“Boleh aja. Kenapa gak boleh? Mari saya tunjukkan kamarnya”, sambil berkata begitu Prof Sanusia menarik tangan Katty menuju kamarnya yang memang selama ini jarang digunakan.

“Nah, ini kamarnya. Mudah-mudahan masih layak dipakai. Kamar ini jarang dipakai. Di lemari juga ada pakaian wanita yang biasa dipakai anak perempuan saya. Ini pakaian tidurnya. Silakan pakai aja”, Prof Sanusi memberikan pakaian tidur yang biasa dipakai anaknya pada Katty. Katty menerimanya dengan senang hati. Tampak dari wajahnya berbinar-binar. Setelah menerima baju tidur itu, Katty minta Prof Sanusi memalingkan wajahnya karena dia mau mengenakannya. Dengan cepat Katty melepaskan pakaiannya dan mengenakan baju tidur yang dipinjamkannya.

“Wah, benar-benar pas Pak Prof”, katanya.

“Ya. Kamu tambah cantik pakai baju tidur itu”, puji Prof Sanusi.

Katty yang mendapat pujian itu langsung saja mencium pipi Prof Sanusi. Seperti biasa Prof Sanusi senang-senang saja dicium pipinya.

“Kalo mau ke kamar mandi di sebelah sana ada kamar mandi lengkap dengan handuk dan peralatan mandinya”, Prof Sanusi selaku tuan rumah yang baik sekali lagi mempersilakan Katty untuk memanfaatkan sarana yang ada di kamar itu.

“Sudah cukup ya? Selamat tidur!”

“Ya. Pak Prof terima kasih banget. Selamat tidur Pak Prof. Selamat bermimpi yang indah”, kata Katty dengan penuh keriangan.

***

        Prof Sanusi mempunyai kebiasaan kalau sudah masuk kamar tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Pintu kamarnya hanya dirapatkan saja. Malam ini selesai bersih-bersih diri, dia langsung tidur. Prof Sanusi memang orang yang tergolong mudah tidur dan mudah terbangun. Mungkin orang seperti Prof Sanusi itu dalam hidupnya tidak memiliki beban atau tidak banyak masalah wajar-wajar saja kalau mudah tertidur. Di usia yang sudah mendekati enam puluh tahun Prof Sanusi hanya tidur paling lama lima jam. Kebiasaannya begitu bangun tidur selesai cuci muka dan gosok gigi langsung buka laptop atau buka buku sampai menjelang matahari terbit di ufuk timur. Setelah itu, dia siap-siap untuk mandi pagi. Kalau di hari libur (sabtu, minggu, atau libur) biasanya Prof Sanusi jogging atau berenang di apartemennya. Karena itu, dalam usia yang sudah tidak muda lagi fisiknya tetap sehat. Perutnya rata (tidak buncit). Tidak seperti laki-laki sebayanya yang perutnya buncit atau walaupun tidak buncit tapi kurus. Prof Sanusi tubuhnya masih terlihat atletis. Prof Sanusi sangat menikmati kesehatan dan kesendiriannya.

        Katty perempuan muda yang sedang butuh makanan untuk `segumpal daging` yang dimilikinya malam ini begitu gelisah. Dia tidak bisa tertidur. Di kamar sebelah ada seorang laki-laki yang walaupun dari sisi usia sudah tidak muda lagi diharapkan bisa memenuhi libido kewanitaannya. Akhirnya, dia berjinjit ke kamar sebelah tempat Prof Sanusi istirahat. Pintu kamar Prof Sanusi tidak terkunci. Dengan mudah didorongnya. Sekarang dia telah memasuki kamar Prof Sanusi. Dia melepaskan pakaian tidurnya. Sekarang tidak ada selembar benangpun melekat di tubuhnya. Dia naik ke tempat tidur dan tidur berdampingan dengan Prof Sanusi. Prof Sanusi antara sadar dan tidak sadar tangannya menyentuh bagian yang paling lembut di tubuh Katty. Dia segera terbangun. Begitu terbangun dia langsung teriak:

“Astagfirullah hal adziem! Kamu ngapain di sini. Kamu keluar dari sini. Pakai lagi pakaian itu!”, teriaknya keras. Dia sempat melihat tubuh Katty yang polos. Sambil berteriak begitu keras Prof Sanusi seraya berdiri dan memalingkan wajahnya. Tidak cukup sampai di situ, Prof Sanusi juga masih dalam suara yang memekakkan telinga berteriak,

“Saya tidak mau mengkhianati almarhumah istri saya. Sekarang juga kamu keluar dari kamar ini. Silakan kamu pergi dari sini!”, teriak Prof Sanusi. 

        Katty benar-benar terkejut dengan teriakan Prof Sanusi. Dia tidak menyangka kalau Prof Sanusi bisa semarah itu. Dia segera mengenakan pakaian tidurnya dan keluar kamar. Setelah Katty keluar dari kamarnya, Prof Sanusi segera menuju kamar mandi. Dia mandi hadas besar walaupun tadi dia tidak berhubungan badan dengan Katty. Selesai mandi dia ambil wudu. Dia kenakan sarung, pakaian sholat, dan kopiahnya yang sudah sekian lama menganggur karena sudah sekian lama pula dia tidak mengerjakan kewajibannya sebagai hamba Allah. Dia segera salat isya, salat sunah rawatib, diteruskan dengan salat tahajud, salat taubat, dan ditutup dengan salat witir. Selama salat air matanya mengucur deras. Sebelum salat witir, dia berdoa cukup panjang. Dia menyesali jalan hidupnya yang telah menyimpang jauh dari yang diwajibkan Allah. Di tengah doa-doanya dia sempat merenungkan jalan hidupnya. Sebagai hamba Allah, sejujurnya dia mengakui telah meninggalkan demikian banyak kewajibannya. Tidak cukup sampai di situ, dia sudah juga tidak lagi melakukan berbagai kebaikan seperti ketika dulu masih bersama istri dan anak-anaknya. Rizki yang diperolehnya jarang sekali disedekahkan pada kaum duafa walaupun kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan kolega-kolega dan mahasiswa-mahasiwanya tertuju pada kaum duafa.  Seandainya mau bersedekah, sedikit sekali uang yang dikeluarkan dari koceknya. Aktivitasnya di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat buatnya hanya sebatas untuk memuaskan kebutuhan keilmuannya semata. Dia merasa telah banyak dosa dan kesalahan yang telah diperbuatanya. Biar bagaimanapun, dia tetap bersyukur pada Allah karena terhindar dari perbuatan zina.

        Katty tidak menyangka kalau Prof Sanusi bisa begitu kasar terhadapnya. Teriakan penolakan Prof Sanusi buatnya merupakan sebuah penghinaan. Selama ini Katty tidak pernah diperlakukan kasar seperti itu karena dengan mudah dia bisa menundukkan setiap laki-laki yang siap menerima `segumpal daging` darinya. Diam-diam tanpa sepengetahuan Prof Sanusi dia keluar bukan saja dari kamarnya, tapi juga pergi meninggalkan apartemen itu. Dia segera menghapus nama Prof Sanusi dari hp-nya. Buat dia malam ini malam yang penuh kesialan walaupun semula dia memperoleh sedikit keberuntungan. Katty yang ndableg meskipun malam ini mendapat kesialan tetap cuek-cuek saja. Buat dia yang namanya penolakan walaupun kasar dinikmati saja. Bukankah itu sudah menjadi risiko hidupnya yang ingin tetap hedonis dan permisif? 

 

Kota Bekasi, 4 Oktober 2025

 

  

 

 

 

 

 

   

   

  

Selasa, 30 September 2025

Bahasa dan Sastra (231)

 


Anak Semata Wayang

 Cerpen 

Subagio S.Waluyo

 

          Raden Bagus Brotowali biasa dipanggil Den Bagus memang wajahnya sesuai dengan namanya, benar-benar bagus. Selain bagus wajahnya (yang bikin setiap perempuan masih sempat melirik laki-laki setengah baya itu) Den Bagus juga memang bagus perilakunya. Den Bagus pengusaha yang berhasil. Di beberapa kota di Jawa Den Bagus punya SPBU. Bukan hanya SPBU yang bertebaran di beberapa kota, Den Bagus juga punya sekian banyak UMKM yang dikelola oleh orang-orang yang dibinanya. Karyawan-karyawan yang bekerja padanya tidak ada yang berkeinginan resign karena mereka digaji di atas UMR yang berlaku di kota/kabupaten tempat usahanya berada. Selain itu, Den Bagus juga kerap menolong kalau ada karyawannya yang dirawat karena sakit atau tidak punya uang untuk bayar uang sekolah atau UKT sehingga tidak pernah terbetik berita adanya protes atau demo terhadap kebijakan yang berkaitan dengan UMR yang diterima para karyawannya. Den Bagus orangnya juga dermawan. Saking dermawannya orang-orang yang tidak dikenalnya (terutama orang-orang yang duafa) kalau datang ke rumahnya pasti pulangnya dibekali (tentu saja uang). Den Bagus kerap menyumbang masjid, majelis taklim, pondok pesantren, bahkan fasilitas-fasilitas umum  yang tidak terawat juga dibantunya. Saking dermawanya, setiap tahun Den Bagus tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk acara tahun baruan di tempat tinggalnya. Khusus untuk yang terakhir ini Den Bagus kerap mengundang protes dari istri dan anaknya. Den Bagus beranggapan semua dana yang dikeluarkan untuk kebaikan (termasuk sumbangan untuk tahun baruan, walaupun belakangan ini sudah tidak lagi menjadi penyumbang karena anak dan istrinya terus-menerus menerornya) tidak akan membuatnya miskin. Malah sebaliknya, usahanya semakin berkembang.

          Usia Den Bagus yang menginjak 55 tahun dengan masa pernikahan yang sudah mendekati tiga puluh tahun hanya dikaruniai satu anak laki-laki. Muhammad Ihsan nama anaknya. Biasa dipanggil Ihsan atau Ican. Ihsan anak satu-satunya atau disebut juga `anak semata wayang` sekarang beranjak dewasa. Meski `anak semata wayang`, Ihsan termasuk anak yang saleh karena taat beribadah dan aktif sebagai remaja masjid di tempat tinggalnya. Di masjid Ihsan bersama kawan-kawannya ikut aktif mengikuti, baik kajian-kajian maupun program-program yang diadakan oleh para aktivis masjid. Masjid tempat Ihsan dan kawan-kawannya berkiprah di situ termasuk masjid yang benar-benar hidup kegiatannya. Para pengurus (termasuk marbot) masjid sepakat, semua orang yang berkunjung di masjidnya harus dilayani. Bukan itu saja, keberadaan masjid harus bermanfaat bukan hanya untuk jamaah, tapi juga untuk masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Secara rutin masjid memberikan bantuan buat orang-orang yang tergolong duafa. Karena mempunyai sekian banyak kegiatan positif yang juga bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar masjid, wajar-wajar saja masjid tempat Ihsan dan kawan-kawannya aktif di dalamnya tidak pernah kesulitan menghimpun dana.

***

          Ihsan sebagai anak tunggal di keluarga Den Bagus sebentar lagi akan menyelesaikan studi S2-nya. Ihsan termasuk anak yang berprestasi. IPK-nya mendekati 4.0. Sejak dari bangku SMA Ihsan kerap mendapat beasiswa. Di bidang olah raga Ihsan juga berprestasi. Sebagai karateka Dan 1, Ihsan pernah jadi juara kedua tingkat nasional. Di kampusnya Ihsan pernah mendapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan. Ihsan juga pernah meraih juara pertama dalam lomba menulis cerpen tingkat nasional. Sejak saat itu Ihsan banyak menulis buku bukan hanya kumpulan cerpen, tapi juga novel.   Royalti yang diperoleh dari penerbitan buku-bukunya tergolong lumayan besar. Meskipun memiliki banyak prestasi, Ihsan jauh dari sikap tinggi hati atau sombong. Justru sebaliknya, Ihsan semakin menunjukkan kerendahan hatinya. Ihsan sama seperti bapaknya kerap menolong orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Wajar-wajar saja jika sikapnya yang demikian itu membuat kedua orang tuanya semakin sayang padanya.

          Sebagai orang dewasa, Ihsan sama seperti manusia biasa yang juga menginginkan teman hidup. Semakin hari desakan untuk memiliki teman hidup semakin besar. Desakan ingin menikah itu tentu saja sedikit banyaknya mengganggu aktivitasnya terutama keinginan menyelesaikan studi S2-nya yang boleh dikatakan tinggal melakukan penyelesaian penulisan tesisnya. Tampaknya, desakan untuk menikah harus segera diselesaikan. Dia harus menghadap ayahnya, Den Bagus. Dia siap menerima risiko dari yang akan disampaikannya. Dengan  `bismillah`, di sore yang cerah itu dia menghadap ayahnya yang sedang buka-buka WA.

“Yah, aku mau bicara sebentar”, pintanya.

Den Bagus walaupun sedang asyik membuka-buka WA jika anaknya minta waktu untuk bicara tidak pernah menolak. Dia langsung meletakkan hp-nya. Ini sikap yang disukai anaknya

“Ya, ada apa, Nak?”, tanyanya.

“Aku mau menikah”, kata Ihsan.

“Apa ayah gak salah dengar?”, tanya Den Bagus heran.

“Enggak. Emang benar aku mau menikah”, jelas Ihsan.

“Lho, emang kamu dah punya calon?”, tanya Den Bagus penasaran.

“Ya, udah Yah”, jelas Ihsan.

“Calon istrimu siap untuk menikah?”, tanyanya.

“Ya, siap. Orang dia yang mendesak supaya aku menikahinya”, jelas Ihsan.

“Maaf, ayah gak usah menduga yang enggak-enggak. Aku dan calonku selama ini cuma ketemu sekali-sekali di masjid. Sekali-sekali aku dan calonku juga WA-WA-an. Jadi, aku gak pernah berduaan seperti orang pacaran layaknya. Karena khawatir bisa kebablasan, dia meminta aku menikahinya”, jelas sang anak.

“Oooo, berarti kamu ketemu sama calonmu di masjid ya? Sama-sama aktif di masjid kalo gitu. Wah, berarti kalian berdua Insya Allah sama-sama orang baik.”

“Amin. Insya Allah, Yah.”

“Terus gimana dengan kuliah S2 kamu? Gimana juga dengan biaya hidup kalian berdua setelah menikah?”, tanya sang ayah.

“Setelah menikah, aku akan selesaikan studi S2 `ku. Soal biaya hidup aku masih punya tabungan yang cukup besar untuk hidup berdua. Aku juga punya rencana setelah menikah, aku mau cari kontrakan,” jawab anaknya mantap.

“Kamu gak usah meninggalkan rumah ini. Biar saja kalian tinggal di sini. Ayah dan bundamu kesepian kalau cuma tinggal berdua di rumah besar ini. Rumah ini nantinya `kan ayah wariskan buat kamu. Gak apa-apa ayah dan bunda nantinya diributkan dengan kehadiran anak-anak dari kalian. Malah buat ayah dan bunda merasa terhibur dengan adanya kalian dan cucu-cucu ayah”, jelas ayahnya.

“Kalo memang ayah setuju, besok lusa kita ke rumahnya untuk melamar. Ayah sama bunda bersedia `kan datang ke rumahnya untuk melamar?”, tanya Ihsan.

Den Bagus sempat kaget kalau secepat itu anaknya minta ditemani ketika melamar.

“Insya Allah bersedia.”

“Lho, kamu sudah ngomong sama bunda kalau memang mau menikah?”, tanya ayahnya sekedar basa-basi. Ayahnya sudah tahu kebiasaan anaknya dalam hal apapun anaknya lebih dulu bicara sama bundanya daripada ke ayahnya.    

“Sudah, Yah. Bunda justru sangat mendukung kalau aku menikah mengingat umurku sebentar lagi menginjak 25 tahun. Ayah dulu juga `kan sama ketika menikah dengan bunda umurnya 25 tahun?”, tanya Ihsan.

“Ya. Dulu ayah umur segitu ketika menikahi bundamu”, jelas ayahnya.

“Kalau bisa setelah lamaran, paling lama satu bulan kemudian bisa langsung menikah, Yah”, pinta anaknya.

“Ya. Insya Allah, kita usahakan. Nanti ayah mau bicara juga sama bundamu biar secepatnya niat baik kamu bisa diwujudkan”, jawabnya berusaha untuk meyakinkan anaknya.

“Terima kasih ya, Yah?”, seraya memeluk ayahnya.

“Ya. Sama-sama.”

Tak terasa ayah dan anak menitikkan air mata kebahagiaan.

***

          Den Bagus ketika datang ke rumah calon besannya sempat kaget dengan rumahnya yang terbilang kecil apalagi setelah tahu di rumah yang kecil tinggal dua orang suami istri dan empat anak. Jalan ke rumahnya juga kecil sehingga tidak bisa dilewati mobil. Meskipun rumahnya kecil, terlihat rapi dan tampaknya baru selesai direhab. Rupanya sebulan yang lalu rumah itu mendapat bantuan dana dari masjid tempat Ihsan dan kawan-kawannya aktif di masjid tersebut. Selain itu, diam-diam Ihsan juga mengeluarkan dari koceknya untuk bantu-bantu membenahi rumah calon mertuanya. Bukan itu saja khusus untuk persiapan menikah, Ihsan juga mentransfer dananya ke rekening calon istrinya. Semua dana yang dikeluarkan dari tabungannya. Dia sama sekali tidak pernah minta pada orangtuanya.

          Den Bagus dan istrinya juga sempat kaget ketika melihat langsung calon istrinya. Walaupun usianya tergolong sangat muda, baru sembilan belas tahun usianya, tapi tampak sekali kedewasaannya. Bukan itu saja, ternyata, calon istrinya benar-benar kelihatan solehah. Hal itu bisa terlihat dari matanya yang selalu menjaga pandangan dan nada bicaranya yang menunjukkan anak yang beradab. Den Bagus dan istrinya semakin yakin kalau Ihsan, anaknya, benar-benar mendapatkan calon istri yang nantinya bisa mewujudkan `sakinah, mawadah, wa rohmah`. Tanpa ada keraguan, disaksikan oleh orang-orang banyak yang hadir di rumah yang terbilang sempit itu, kedua belah pihak bulan depan sepakat untuk segera melaksanakan pernikahan kedua calon mempelai itu.

***

          Satu bulan sebenarnya waktu yang singkat. Tapi, bagi kedua calon mempelai yang akan menempuh hidup baru terasa lama sekali. Waktu-waktu yang berjalan bagi mereka berdua demikian lemot. Untuk mengisi waktu-waktu luang selagi menunggu hari H, keduanya sesuai saran dari Ustadz Mukhlisin, yang biasa mengisi pengajian di masjid, mengisinya dengan memperbanyak kedekatan pada Allah. Mereka memperbanyak zikir, tilawah Quran, puasa senin-kamis, dan memperbanyak sedekah. Aktivitas itu bagi keduanya rupanya bisa menggerus rasa jenuh yang menggelayut. Tidak terasa hari-H yang ditunggu-tunggu oleh kedua calon mempelai sudah tiba. Di masjid yang selama ini mereka keduanya aktif melakukan amal soleh dilangsungkan pernikahan. Ijab Kabul juga terlaksana dengan baik. Rona kebahagiaan bukan  saja tampak dari wajah kedua mempelai, tapi juga pada pasangan kedua orangtua mereka berikut kerabat-kerabatnya yang turut hadir di acara yang berbahagia itu. Seusai acara pernikahan yang diteruskan dengan walimahan, mempelai wanita langsung diboyong ke rumah mempelai pria. Buat Den Bagus dan istrinya ini merupakan hari yang sangat istimewa karena bukan hanya kehadiran `anak semata wayang` yang selama ini turut mendampingi mereka, tapi juga kehadiran istri `anak semata wayang` yang sekarang menjadi anggota keluarganya.

Kota Bekasi, 30 September 2025.      

 

                                                                                                

           

            

 

 


Senin, 15 September 2025

Bahasa dan Sastra (230)

 




Kacang Lupa akan Kulitnya

 Cerpen

Subagio S.Waluyo

 

“Yah, teman Ayah tuh! Sekarang dah jadi orang hebat tuh. Wakil menteri dan komisaris di salah satu BUMN. Benar-benar dah jadi orang kaya dia, Yah”, kata anak Pak Haris.

“Ya, dia memang beruntung. Dulu datang ke Jakarta masih kost di kontrakan lusuh dekat kampus. Ya, itulah nasib orang cuma Allah yang tahu”, kata Pak Haris berupaya menjelaskan.

“Ya, kalo ayah `kan cuma pensiunan PNS. Jadi, gak kayak dia walaupun usianya jauh di bawah ayah, rizkinya di atas ayah”, kata anak Pak Haris ngeledek.

“Biar cuma pensiunan PNS golongan IV/A, kita layak bersyukur. Anak-anak ayah gak ada yang pendidikannya rendah. Kamu dan kakak-kakakmu dah selesai S1 `kan? Kakak kamu yang tertua sampai jadi dokter spesialis saja masih ayah bantu biaya kuliahnya walaupun gak sepenuhnya. Jadi, sekali lagi kita layak bersyukur pada Allah”, kata Pak Haris menegaskan.

“Ya, kita layak bersyukur, Yah, karena di Quran `kan dah jelas Yah, kalo tidak bersyukur Allah akan memberikan azab yang pedih”, kata anak Pak Haris.

“Tapi, teman kita itu Yah, sekarang semakin jauh dari kita”, celetuk istri Pak Haris.

“Maksudnya?”, tanya Pak Haris.

“Iya, dia itu ibarat `kacang lupa akan kulitnya`, begitu sudah pegang jabatan tinggi di negara ini lupa sama teman-temannya dulu yang pernah banyak bantu dia”, kata istri Pak Haris menjelaskan.

“Ingat gak, yah? Dulu waktu masih kost di dekat kampus tempat dia belajar kita sering tengokin dia. Kita kasi dia makanan, pakaian, bahkan uang kuliah yang kita usahakan bantuan dari yayasan baitul mal pakai nama ayah karena orangtuanya telat ngasi kiriman. Selesai  kuliah dia pergi ke mana tahu gak jelas. Eh, tahu-tahu dia sudah jadi anggota dewan di kampungnya. Habis masa jabatannya jadi anggota dewan di kampungnya, dia jadi anggota dewan di pusat. Sekalipun dia gak pernah tuh nengokin kita. Makanya, orang kayak gitu sama seperti `kacang lupa akan kulitnya`. Sekarang dah jelas `kan, yah?”, tanya istri Pak Haris.

Pak Haris hanya manggut-manggut saja mengakui apa yang dikatakan istrinya tidak bisa dibantah. Pak Haris memang selalu tidak berkeinginan membantah ucapan istrinya. Dia tahu kalau istrinya tidak suka dibantah ucapannya. Kalau dibantah bisa sampai tiga hari istrinya diam seribu bahasa padanya.

***

Kuncoro, teman Pak Haris yang sekarang jadi wakil menteri sekaligus komisaris di salah satu BUMN di negara ini dulunya termasuk mahasiswa teladan yang lulus summa cumlaude. IPK-nya tinggi mendekati 4.0. Selain itu, Kuncoro juga aktif di kegiatan mahasiswa. Terakhir, di kampusnya Kuncoro menjabat sebagai Ketua BEM. Kuncoro muda pada waktu itu adalah mahasiswa cerdas dan idealis. Ketika di negara ini terjadi gunjang-ganjing, Kuncoro ikut terlibat sebagai pimpinan demo, baik di dalam maupun di luar kampus. Kuncoro bersama teman-temannya waktu itu juga termasuk yang ikut menduduki gedung parlemen sampai beberapa hari. Selepas pergantian kekuasaan Kuncoro direkrut oleh partai terbesar di negara ini menjadi kader sekaligus salah satu pengurus partai. Karena waktu itu Kuncoro ingin memulainya menjadi anggota dewan di tingkat daerah saja, jadilah Kuncoro anggota dewan di kabupaten asalnya. Lima tahun masa jabatan sebagai anggota dewan demikian singkat. Karena diminta  partainya untuk menjadi anggota dewan di pusat dengan daerah pemilihan tetap dari kampungnya, Kuncoro termasuk yang beruntung bisa melenggang ke gedung kura-kura di Senayan. Tanpa terasa empat periode Kuncoro menjadi anggota dewan di pusat. Selesai masa baktinya selama dua puluh lima tahun jadi anggota dewan, Kuncoro diangkat menjadi wakil menteri sekaligus juga komisaris di salah satu BUMN terbesar di negara ini.

 

Orang masih ingat sepak terjang Kuncoro selama jadi anggota dewan. Kuncoro memang bisa menunjukkan diri sebagai orang yang penuh percaya diri. Bukan hanya itu, Kuncoro juga memiliki retorika yang baik ketika berbicara. Kuncoro benar-benar orang yang kritis dan trengginas. Kuncoro pandai berargumen. Tidak ada istilah menyerah kalau berdebat. Tidak aneh Kuncoro sering diwawancarai berbagai media mainstream, baik media lokal, nasional, maupun internasional. Bahkan, Kuncoro juga kerap diikutsertakan dalam debat-debat di berbagai media dan perguruan tinggi. Belakangan ini Kuncoro tidak lagi banyak dilibatkan dalam konferensi pers dan debat-debat. Mungkin karena kesibukannya di kementerian dan di BUMN sebagai komisaris.

 

Pak Haris sempat merenung tentang temannya, ketika setiap lima tahun sekali berkampanye di daerah pemilihannya, Kuncoro benar-benar berjibaku siang-malam menyambangi rumah-rumah penduduk. Kuncoro juga tidak segan-segan memberi bantuan entah sembako bahkan uang kepada penduduk miskin. Seperti biasanya, Kuncoro sebagai calon anggota dewan juga tidak segan-segan mengumbar-ngumbar janji kepada penduduk miskin kalau akan memperjuangkan nasib mereka. Juga seperti biasanya kalau sudah jadi anggota dewan berlaku lagi `kacang lupa akan kulitnya`, Kuncoro lupa akan janji-janjinya ketika kampanye dulu. Mungkin karena masyarakat yang ada di daerah pemilihannya sama seperti daerah-daerah lain, punya memori pendek alias cepat lupa. Dengan diberikan bantuan sembako plus uang mereka masih tetap memilih Kuncoro.

 

Pak Haris juga tidak habis pikir kenapa anggota dewan yang katanya wakil rakyat yang cerdas, kritis, trengginas, dan retorikanya bisa menarik orang ketika berbicara, kok bisa-bisanya melahirkan undang-undang kontroversial yang sekarang memunculkan masalah besar buat negara ini? Pak Haris bisa tunjukkan begitu banyak kebijakan negara yang lahir dari parlemen yang juga disetujui oleh sebagian besar anggota dewan yang menimbulkan keresahan masyarakat. Pak Haris jadi curiga dengan aktivitas anggota dewan selama ini, jangan-jangan mereka  ada benarnya seperti yang dikatakan Iwan Fals di bait akhir lagunya `Surat dari Rakyat` yang menulis liriknya:

 

Wakil rakyat seharusnya merakyat

Jangan tidur waktu sidang soal rakyat

Wakil rakyat bukan paduan suara

Hanya tahu nyanyian lagu "setuju......"

 

 Ah, anggota dewan sekarang ini hidupnya seperti di menara gading. Begitu mereka mendapat tunjangan rumah yang menurut ukuran masyarakat biasa tergolong besar, langsung saja mereka joget-joget sehingga bikin rakyat kecil yang melihatnya naik pitam, tidak suka dengan perilakunya. Rakyat kecil yang hidupnya sudah demikian susah, jelas tidak bisa menerima perilaku mereka: anggota dewan yang katanya wakil rakyat yang terhormat. Bukankah perilaku itu menunjukkan mereka tidak punya kepedulian. Mereka juga tidak hidup merakyat? Jangan-jangan juga ketika pengesahan undang-undang yang akhirnya melahirkan kebijakan yang kontroversial mereka sedang terlelap tidur? Akhirnya, serentak mereka hanya mengucapkan `setuju` seperti yang dikatakan Iwan Fals di bait terakhir lirik lagunya itu? Melihat gaya hidup dan perilaku mereka yang tidak mengundang simpati, Pak Haris berkesimpulan, sebenarnya yang menjadi pemicu demo besar-besaran bukan hanya di Jakarta tapi juga di beberapa daerah dan berakhir dengan anarkis ini boleh jadi salah satunya dari perilaku anggota dewan yang hidupnya tidak merakyat.  

 

Tengah merenung dan memikirkan kondisi bangsa ini yang anggota dewannya lebih merupakan wakil partai daripada wakil rakyat, ponsel Pak Haris tiba-tiba bergetar, ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Biasanya Pak Haris tidak mau merespon panggilan yang tidak dikenal nomornya. Tapi, kali ini Pak Haris penasaran dan langsung mengangkatnya.  Di seberang sana, tiba-tiba saja ada orang yang memberi salam yang suaranya sangat dikenalnya. Ternyata, Kuncoro teman dan tetangganya dulu yang sekarang jadi pejabat tinggi di negara ini.

“Assalamualaikum, Bos”, sapa Kuncoro.

“Waalaikum salam. Jangan sapa saya bos dong!”, kata Pak Haris.

“Sampean `kan layak disapa bos `kan. He..he..heh!”, terdengar tawa Kuncoro dari kejauhan.

“Saya `kan dah gak punya jabatan masa disapa bos. Justru, yang bos itu sampean sekarang. Ha…ha..ha!”, balas Pak Haris penuh keriangan.

“Ngomong-ngomong ada apa nih? Kok tumben-tumbenan pejabat negara terhormat nelpon saya nih?”, tanya Pak Haris.

“Jangan sebut saya pejabat negara terhormatlah. Saya `kan juga sama rakyat biasa seperti sampean”, kata Kuncoro.

“Iya, `kan memang layak sampean disebut pejabat negara.”

“Ya, memang saya pejabat negara kalau ada di kantor kementerian atau di BUMN. Tapi, kalau lagi nelpon sama sampean saya tetap seperti yang dulu”, jelas Kuncoro.

“Baik kalau gitu Mas Kuncoro”.

“Nah, gitu dong. Gini ya, saya mau silaturahim ke rumah sampean. Kapan sampean ada waktu?”, tanya Kuncoro.

“Mau silaturahim? Sebuah kehormatan nih, baru kali ini seorang pejabat tinggi di negara ini mau silaturahim ke rumah saya? Kalau mau silaturahim ke rumah saya bisa kapan saja. Maklum, saya `kan sudah pensiun. Waktunya sudah lebih luanglah.”

“Baik. Kalau gitu nanti malam saya ke rumah sampean ya?”, tanya Kuncoro.

“Ya. Silakan!”

“Jangan lupa tolong di-sharelock lokasi rumah sampean”, pinta Kuncoro.

“Siap!”

“Terima kasih ya. Assalamualaikum!”.

“Waalaikum salam”

***

Pak Haris segera memberitahukukan istrinya kalau Kuncoro mau datang ke rumahnya. Istrinya kaget mendengar berita itu. Istrinya juga merasa bersalah sudah terlanjur menyampaikan kalau orang seperti Kuncoro sama dengan pejabat-pejabat tinggi lainnya yang termasuk `kacang lupa akan kulitnya`. Kuncoro memang layak mendapat sebutan itu. Tapi, kali ini Kuncoro mau berusaha menghapus stigma itu dengan berkunjung ke rumah Pak Haris.

“Dia mau ke rumah kita, yah?”, tanya istrinya.

“Iya tadi di telpon”, jelas Kuncoro.

“Awas ya nanti kalau dia ngasi pekerjaan jangan diterima? Ayah sekarang walaupun sudah pensiun sudah ada kegiatan dengan yayasan baitulmal yang ngurusin anak-anak duafa. Ayah juga sekali-sekali masih diminta kantornya sebagai widyaswara ke luar kota. Jadi, gak usah lagi nambah-nambah kerjaan di luar yang sudah ayah kerjakan”, cerocos istrinya.

“Insya Allah ayah akan konsisten dengan ucapan ayah kalau gak mau lagi ada aktivitas di luar yang sudah ayah kerjakan”, janji Pak Haris pada istrinya.

***

Selepas Pak Haris salat isya di masjid, Kuncoro benar-benar sudah sampai di rumahnya. Kedua sahabat yang sudah cukup lama tidak bertemu itu langsung saja bersalaman dan berpelukan. Pak Haris yang sudah tidak lama melihat sahabatnya agak sedikit pangling karena Kuncoro tubuhnya benar-benar tambun dan seluruh rambutnya yang dulu hitam sudah berubah putih semua.

“Sampean gimana kabarnya Mas Kuncoro?”, tanya Pak Haris.

“Alhamdulillah sehat. Keluarga juga sehat”

“Wah, saya benar-benar kaget nih kedatangan pejabat tinggi. Mas Kuncoro gak dikawal staf khususnya?”, tanya Pak Haris.

“Gak usahlah. Cukup supir aja yang nganter saya.”

 “Lha, kok cuma sendirian kemari gak bawa istri?”, tanya Pak Haris.

“Lagi sibuk dia. Malam ini harus jalanin operasi pasang ring di rumah sakit. Maklum dokter spesialis jantung. Sewaktu-waktu dipanggil untuk ikut operasi jantung”, jelas Kuncoro.

“O, iya udah kalo gitu. Sebentar ya, saya mau menyiapkan minuman ringan.”

“Ya, silakan! Gak usah repot-repot Pak Haris!”, pinta Kuncoro.

“Gaklah cuma minuman dan sedikit penganan ringan.”

Tidak lama kemudian Pak Haris meletakkan minuman dan penganan ringan yang memang sudah disiapkan sebelum tamunya datang.

“Ayo, Mas Kuncoro, diminum. Dicobain nih penganan buatan istri saya!”, kata Pak Haris.

“Ya, terima kasih Pak Haris.”

“Nah, ada apa nih, gak ada hujan gak ada angin tiba-tiba saja sampean datang kemari?”, tanya Pak Haris.

“Saya datang kemari nih yang pertama mau menghapus stigma yang melekat di diri saya yang gak enak didengar”, jelas Kuncoro.

“Apa itu?”, tanya Pak Haris.

“Itu lho, stigma yang menyebut `kacang lupa akan kulitnya`. Orang `kan pasti sering ngucapin itu ke saya”, jelas Kuncoro.

Pak Haris sempat terdiam. Kaget juga dia karena Kuncoro mengucapkan pepatah yang sudah cenderung jadi stigma.

“Orang seperti sampean `kan sudah sering lihat saya di berbagai media ketika saya diwawancarai atau ketika ada debat. Mungkin saja di benak sampean `ini orang sudah jadi pejabat tinggi gak pernah silaturahim ke teman-teman lama ibarat kacang lupa akan kulitnya`, iya `kan. Akui saja. Saya gak maksa, ya sampean mengakuinya. Saya sih ikhlas kalau ada orang menyampaikan hal seperti itu. Memang, itu kesalahan saya. Jadi, sekalian saya minta maaf nih ke Pak Haris dan keluarga kalau selama ini saya lalai untuk silaturahim ke rumah bapak”, jelas Kuncoro.

“Ya. Sama-sama Mas Kuncoro. Saya juga sebagai orang yang lebih tua minta maaf kalau ada kesalahan”, kata Pak Haris.

“Nah, yang kedua, sampean `kan dah pensiun, saya mau ngasi kerjaan di kantor saya biar ada kesibukanlah buat sampean dan sedikit tambahan”, pinta Kuncoro.

“Wah, kalau masalah kerjaan selepas pensiun justru saya banyak kegiatan dengan masyarakat, Mas”, jelas Pak Haris.

“Iya betul. Tapi, `kan kegiatan di masyarakat gak mencukupi buat kebutuhan Pak Haris dan keluarga”, kata Kuncoro.

“Mas Kuncoro, saya nih sudah gak banyak tanggungan. Di rumah ini cuma saya bertiga, saya, istri saya, dan anak saya yang bungsu. Dari uang pensiun dan uang tambahan dari kegiatan saya di yayasan baitulmal sudah cukup. Belum lagi dari kantor saya yang lama karena saya masih diberdayakan sudah lebih dari cukup. Jadi, saya dengan hormat menolak tawaran kerjaan dari sampean. Saya mau benar-benar nikmati masa-masa pensiun saya. Kalau dulu saya jarang bepergian, yang kata orang sekarang itu healing, sekarang saya begitu ada kesempatan langsung jalan saja bertiga. Sewaktu-waktu juga bersama keluarga besar saya. Mohon maaf saja ya, kalau saya menolak tawaran Mas”, pinta Pak Haris.

“Ya. Gak apa-apa kalau sampean memang gak mau. Saya bisa memakluminya kok!”, kata Kuncoro.

 

Setelah cukup lama berbincang-bincang disertai dengan candaan-candaan yang menggelikan mereka berdua, Kuncoro pamit pulang. Pak Haris dan istrinya mengantar Kuncoro sampai pintu pagar rumahnya. Pak Haris juga berjanji untuk silatuharim ke rumah Kuncoro. Sepulangnya Kuncoro dari rumahnya, Pak Haris sempat termenung karena sempat terlintas di benaknya kalau Kuncoro sudah lupa dengan teman-temannya yang dulu pernah diakrabinya. Sampai-sampai keluar pepatah `kacang lupa akan kulitnya`. Pepatah yang cenderung menjadi stigma itu khusus buat Kuncoro sejak temannya itu silaturahim ke rumahnya mulai dihapus dari benaknya. Ah, malam itu benar-benar menjadi sebuah kebahagiaan buat Pak Haris karena tidak berlama-lama berprasangka buruk pada temannya yang telah datang mensilaturahiminya.   


Kota Bekasi, 15 September 2025       

 

 

Rabu, 10 September 2025

Bahasa dan Sastra (229)

 


Dia telah mengambil haknya

 

Cerpen

 

Subagio S.Waluyo

 

          `Dia telah mengambil haknya`. Itulah kalimat yang selalu aku katakan kalau setiap kali ada yang kumiliki hilang. Istri dan anak-anakku juga heran kenapa kalimat yang itu-itu saja yang aku ucapkan kalau ada sesuatu yang kumiliki hilang? Apa tidak ada yang lain? Buatku untuk menyampaikan kalimat yang lain terlampau sulit diucapkan. Justru, dengan kalimat itu aku bisa jelaskan kalau semua yang aku peroleh tidak sepenuhnya milikku. Ada sebagian milik mereka: orang-orang duafa yang memang harus mendapat bagian dariku. Istri dan anak-anakku masih belum bisa menerima karena ada alasan tidak semua orang yang mengambil milikku orang-orang duafa yang memang harus ditolong. Bisa saja mereka itu mencuri milikku untuk maksiat. Aku membenarkan alasan mereka, tapi aku selalu berbaik sangka kalau, misalnya, mereka mencuri jam karena mereka ingin pakai jam yang seperti milikku. Karena tidak mampu, mereka mencuri. Terkadang aku juga bilang kalau Tuhan Maha Pemurah sehingga Tuhan akan menggantikan sesuatu yang kita milikku dengan sesuatu yang lebih baik. Nyatanya, terbukti dalam hitungan waktu yang demikian singkat rizki buatku datang dengan jumlah lebih besar dari yang dicuri orang. Makanya, aku lebih suka mengucapkan `Dia telah mengambil haknya`. Mungkin karena sudah bosan mendengar kalimat yang aku ucapkan, lama-lama mereka tidak mau lagi mengomentari ucapanku. Mereka cuma mengucapkan `inna lillahi wa inna ilaihi roji`un`. Aku juga ikut-ikutan latah mengucapkan hal yang sama. Setelah itu kami diam seribu bahasa.

          Suatu kali ketika kami berempat menonton berita di televisi ada berita kejadian penjarahan di rumah seorang menteri. Tanpa dikomando kami semua sontak mengucapkan `inna lillahi wa inna ilaihi roji`un`. Tapi, ada sesuatu yang ganjil, mereka tanpa aku sadari juga mengucapkan kalimat yang sering aku ucapkan `Dia telah mengambil haknya`. Aku jadi terheran, apakah ini sebuah sindiran buatku atau mereka telah terpengaruh dengan ucapanku? Padahal aku sendiri tidak mengucapkannya? Kok, bisa-bisanya mereka sontak mengucapkan kalimat yang sering aku ucapkan? Belum sempat aku bertanya serentak mereka juga mentertawai kebingunganku. Menghadapi sikap mereka, aku sendiri jadi salah tingkah. Mereka malah tambah keras tertawa. Biar bisa mengimbanginya aku juga ikut tertawa terpingkal-pingkal. Tengah kami asyik tertawa terpingkal-pingkal, tiba-tiba saja ada orang dari luar pagar rumahku mengucapkan salam.

“Assalamualaikum, Pak Dosen.”

“Waalaikum salam. Eh, Pak RW. Ada apa ya, Pak?”, sambil aku persilakan Pak RW masuk ke rumahku. Pak RW tidak bersedia masuk. Pak RW malah menyampaikan agar saya segera ke Kantor RW sekarang juga. Aku terheran-heran dengan permintaan Pak RW yang memintaku ke Kantor RW. Makanya aku bertanya.

“Ada apa Pak RW?”

“Ada orang yang mengambil sepeda anak Bapak. Sekarang orangnya ada di Kantor RW”, jelas Pak RW.

“Saya malah gak tahu Pak, kalau sepeda anak saya hilang?”, tanyaku heran.

“Ya udah. Bapak ke sana aja sekarang ya?. Nanti biar jelas.”, pinta Pak RW.

“Baik Pak RW”, kataku.

          Setelah Pak RW pergi aku segera panggil anakku. Menurut pengakuan anakku memang benar sepedanya hilang. Dia enggan menyampaikannya. Karena dia juga tahu kalau ada yang kehilangan apapun aku selalu mengucapkan kalimat yang sama. Selain itu, aku tidak pernah melakukan apapun. Akhirnya dia tidak mau bilang kalau sepedanya hilang. Aku juga sebenarnya seperti yang sudah-sudah bersikap sama cenderung tidak peduli karena aku sudah mengikhlaskannya. Tapi, karena Pak RW minta aku harus ke Kantor RW dengan terpaksa aku dan anakku segera ke Kantor RW. 

***

          Di Kantor RW sudah banyak orang berkerumun. Begitu aku dan anakku masuk ke Kantor RW segera orang yang berkerumun itu meminggir. Aku lihat wajah pencuri sepeda itu lebam-lebam dan luka di sana-sini. Melihat itu aku iba. Aku tidak tega `Kok, orang yang cuma mencuri sepeda dibuat bonyok wajahnya? Sementara koruptor yang tertangkap tangan oleh KPK masih sempat cengar-cengir?`. Aku segera menyapanya.

“Assalamu`alaikum Pak”, kataku.

“Waalaikum salam. Maaf, saya telah mencuri sepeda anak Bapak”, katanya menghiba.

Mendengar pengakuan si pencuri orang-orang di luar teriak-teriak tidak karuan. Ada yang langsung menghampiri si pencuri sambil teriak.

“Eh, maling tumben-tumbenan lu ngaku curi barang orang?”, katanya dengan suara tinggi. Pak RW langsung melerainya.

“Udah tarik ke luar aja Bang, kita mampusin dia!”

“Iya, Bang. Kita tarik ke luar. Kita kasi bogem mentah!”

“Sudah, sudah. Jangan diterusin. Kita selesaikan saja baik-baik. Kita gak boleh main hakim sendiri”, teriak Pak RW berupaya mencegahnya.

“Wah, Pak RW kelewat baik nih sama maling”, kata seseorang.

“Iya, iya terlalu baik”, balas seseorang.

“Stop, stop, jangan diterusin lagi. Saya dah ikhlas kalo barang saya diambil orang. Kita selesaikan saja secara baik-baik!”, aku setengah berteriak menahan kemarahan mereka.

“Kita layak bersyukur orang ini tadi sudah minta maaf dan mengakui kalau dia yang mencuri sepeda anak saya. Sekarang kita selesaikan saja secara kekeluargaan. Bagaimana? Setuju?”, aku coba ajukan tawaran.

“Ya, saya sangat setuju Pak Dosen”, kata Pak RW.

“Gimana yang lain? Setuju ya?”, tanya Pak RW pada warga yang ada di luar Kantor RW.

“Ya. Setuju Pak RW!”, teriak warga serentak.

“Nah, saya perlu tahu nih dari Bapak. Kenapa Bapak mencuri sepeda anak saya?”, tanyaku.

“Saya sekeluarga sudah tiga hari gak makan Pak”, katanya menghiba.

“Tiga hari gak makan?”, tanyaku.

“Iya, Pak. Saya dah gak punya uang sama sekali”, katanya.

“Nah, Bapak-Bapak dan Saudara-Saudara tadi dah dengar ya? Bapak ini sekeluarga sudah tiga hari gak makan”, jelasku.

“Ah, dia bohong tuh Pak!”, teriak seseorang di luar.

“Ya, ya, dia bohong!”, teriak yang lain.

“Tenang, tenang semuanya. Kita jangan suudzon sama orang. Agama kita mengajarkan kita untuk khusnuldzoon. Kita musti berprasangka baik sama orang. Kalau dia bohong dosanya nanti dia yang tanggung. Supaya kita tidak berprasangka buruk, sebaiknya Bapak ini kita antar ke rumahnya. Gimana?”, tanyaku.

“Kok, diantar ke rumahnya Pak. Nanti keenakan dia”, kata seseorang.

“Iya Pak, kok pake diantar ke rumah? Kenapa gak dibawa ke kantor polisi saja?”, tanya yang lain.

“Lho, tadi kita `kan sudah sepakat mau diselesaikan secara kekeluargaan saja? Kalo diselesaikan secara kekeluargaan, kita tidak usah bawa ke kantor polisi”, jelasku.

“Ya. Benar Pak Dosen. Kita tidak usah bawa Bapak ini ke kantor polisi. Kita anter saja ke rumahnya. Biar kita tahu kondisi keluarganya”, bela Pak RW.

“Setuju ya kalau kita anter ke rumahnya?”, tanyaku pada mereka.

“Ya..ya.. setuju Pak!”, serentak warga berteriak setuju.

“Sebelum kita anter ke rumahnya, saya minta luka-lukanya diobati dulu”, usulku.

“Siap Pak!”, kata Pak RW.

          Pak RW segera menyuruh salah seorang warga mengobati luka-lukanya. Sementara itu aku minta izin Pak RW untuk pulang ke rumah sebentar mengambil kendaraan. Sepeda yang dicurinya segera dibawa anakku pulang. Tidak membutuhkan waktu lama, aku dan anakku telah tiba kembali di kantor RW. Begitu sampai di kantor RW Bapak pencuri sepeda anakku telah selesai diobati. Lebam-lebam di wajahnya masih tampak. Perlu waktu agak lama untuk menghilangkan lebam-lebam di wajahnya. Warga yang tadi cukup banyak berkerumun juga pulang. Rupanya tadi ketika aku pergi meninggalkan kantor RW, Pak RW minta warga yang berkerumun kembali ke rumahnya masing-masing. Tidak ada warga yang tadi berkerumun itu ikut. Hanya Pak RW ditemani seorang Linmas. Aku berempat mengantar Bapak pencuri sepeda ke rumahnya.

***

          Ketika tiba di rumahnya, aku benar-benar kaget. Kondisi rumahnya memang sudah tidak layak disebut rumah. Bangunan rumahnya yang setengah tembok dan setengahnya lagi gedek itu sudah benar-benar kusam. Genteng rumahnya pun  sudah banyak yang melorot. Begitu aku masuk ke rumahnya, atap rumahnya yang terbuat dari gedek juga sudah banyak yang bolong. Lantai rumahnya hanya dilapisi plastik yang di sana-sini pun sudah rusak. Aku sulit membayangkan kalau hujan turun. Di rumah itu juga tidak ada aliran listrik karena pihak PLN telah mencabutnya. Kalau malam hari bisa dipastikan mereka sekeluarga akan bergelap-gelap. Aku bisa merasakan penderitaan mereka karena mereka sudah pasti tidak akan nyaman tinggal di rumah seperti itu.

          Aku sempat merenung tentang nasib mereka. Orang-orang duafa yang tidak bisa menikmati hidup selayaknya. Aku tidak habis pikir kenapa orang-orang di sekitar tempat tinggalnya tidak peduli dengan sesamanya? Aku jadi teringat kisah di masa Umar Ibnu Khatab sebagai khalifah yang membebaskan seorang pencuri karena lapar. Dari kisah Umar ini aku mau berbuat adil. Aku memang tidak akan mungkin menghukum tetangga-tetangga rumah si Bapak yang mencuri sepeda anakku, tapi aku berniat membenahi rumahnya yang sudah tidak layak ditempati itu. Tengah aku merenung, tiba-tiba saja ucapan anakku mengagetkanku.

“Yah, apa yang Ayah sering sampein selama ini benar”.

“Tentang apa, Nak?”, tanyaku penasaran.

“Itu lho, `Dia telah mengambil haknya`”, katanya bercanda.

“Ha…ha…ha!”, aku jadi tertawa. Orang-orang yang ikut mendampingiku juga ikut tertawa.

“Kalau menurutku Yah, sepeda itu kasi aja ke Bapak itu. Barangkali nanti bisa dipake anak-anaknya”, katanya.

“Mudah-mudahan aja ada manfaatnya”, tambahnya.

“Ya, yang kamu sampaikan benar, Nak. Tapi, ayah dah niat mau ngasi uang ke Bapak itu sebesar harga sepedamu. Tadi ketika kita balik ke kantor RW ayah sempat ambil uang. Jadi, sepedamu gak usah dikasi ke Bapak itu. Kamu setuju, kan?”, tanyaku.

Anakku mengangguk tanda setuju.

          Aku kemudian minta waktu pada mereka untuk bicara dan menunaikan niatku. Setelah semuanya berkumpul aku buka suara.

“Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, disaksikan Bapak RW dan Bapak Linmas hari ini saya memberikan sedikit bantuan buat Bapak, maaf siapa namanya Pak?”, tanyaku.

“Sujai”, kata si Bapak pencuri sepeda anakku.

“Ya. Saya ngasi bantuan buat Pak Sujai sekeluarga. Mudah-mudahan bantuan ini bisa bermanfaat”, kataku.

“Amin!”, serentak orang-orang yang hadir di situ mengaminkan ucapanku.

“Selain itu, saya juga usahakan merenovasi rumah Pak Sujai”, tambahku.

“Masya Allah, Pak. Terima kasih banyak!”, kata istri Pak Sujai disertai dengan linangan air mata keharuan.

“Saya hanya minta tolong didoakan agar niat saya merenovasi dan membantu keluarga Pak Sujai dimudahkan Allah Subanahu wa taala”, pintaku.

“Amin!”, serentak yang ada di ruangan itu mengaminkan permintaanku.

“Gimana Pak RW sudah cukup ya?”, tanyaku.

“Ya, saya kira sudah cukup, Pak Dosen”, katanya.

“Nah, ini Pak Sujai tolong diterima ya?”, tanyaku.

“Ya, Pak saya terima. Terima kasih banyak Pak. Sekali lagi saya minta maaf atas kekhilafan saya”, katanya.

“Ya. Saya maafkan kesalahan Bapak. Kalau memang sudah tidak ada lagi. Kami mohon pamit ya, Bapak-Ibu?”, kataku.

“Ya, Pak. Terima kasih banyak, Pak”, serentak mereka menjawab.

“Yuk, Pak RW kita balik!”

“Ya, Pak Dosen.”

***

          Di tengah perjalanan pulang aku sempat bincang-bincang kalau biaya untuk merenovasi rumah selain dariku juga akan aku usahakan bantuan dari beberapa lembaga donor yang mempunyai kepedulian terhadap orang-orang duafa. Aku juga berniat akan memberikan modal usaha buat Pak Sujai dan kalau memungkinkan istrinya juga turut diberdayakan. Anak-anaknya yang sempat mandeg pendidikannya akan aku usahakan untuk dibantu biaya pendidikannya melalui lembaga-lembaga donor. Aku juga mengingatkan peristiwa yang aku alami dan juga dialami oleh Pak RW dan yang lainnya menjadi pelajaran menarik agar kita tidak cepat menghakimi seseorang yang belum tentu terbukti hasil curiannya digunakan untuk maksiat. Kasus Pak Sujai yang mencuri sepeda anakku jelas menjadi pembelajaran kalau beliau mencuri lebih disebabkan kemiskinan. Selain itu, kita juga harus berlaku adil: kenapa seorang pencuri yang hanya mencuri sepeda harus dihakimi sedemikian rupa sampai babak belur dengan wajah penuh lebam di sana-sini sementara seorang koruptor yang sudah jelas-jelas mencuri uang rakyat aman-aman saja? Bahkan, mereka kelihatannya merasa tidak bersalah karena terbukti ketika ditangkap KPK atau kejaksaan sekalipun masih sempat cengar-cengir. Mendengar omonganku, mereka hanya mengangguk-angguk saja. Namun, jauh di lubuk hati ini ada sesuatu yang membuat aku semakin yakin begitu adilnya Allah menunjukkan padaku kalau suatu saat yang aku miliki diambil oleh-Nya, aku hanya bisa pasrah. Dan yang lebih penting lagi aku akan tetap mengatakan jika yang aku miliki hilang, aku hanya bilang `Dia telah mengambil haknya`.  


Kota Bekasi, 11 September 2025.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...