Senin, 08 Desember 2025

Bahasa dan Sastra (237)



Ustad itu yang Membunuh Ibumu

 

Cerpen

 

Subagio S.Waluyo

 

          Laki-laki tua itu dengan tajamnya menatap Ustad Nur Rohmat. Mata tuanya nyaris tidak berkedip seperti menelanjanginya. Laki-laki tua itu tidak percaya dengan penglihatannya karena yang ada di hadapannya sangat dikenalinya. Orang inilah yang empat puluh tahun lalu membunuh istrinya. Dia masih mengenalinya dari codet yang cukup panjang di pipi kanannya. Ustad Nur Rohmat yang disorot oleh mata tua itu lagi-lagi grogi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika itu terjadi empat puluh tahun lalu, ketika dia masih muda dulu orang yang menatap seperti itu langsung saja tidak perlu `ba-bi-bu` sudah pasti tangannya akan bicara. Tapi, itu cerita dulu empat puluh tahun lalu. Kini Ustad Nur Rohmat sudah memasuki usia 72 tahun. Dia sudah bukan lagi orang muda. Dia telah menjadi seorang tua yang renta yang tubuhnya sudah mulai digerogoti rasa tidak enak. Belum sempat dia berkata pada laki-laki tua yang menatapinya, laki-laki itu berkata setengah berteriak.

“Orang ini yang telah membunuh istri saya. Empat puluh tahun lalu dengan teganya dia tancapkan sebuah belati ke tubuh istri saya.”

          Anak laki-laki tua yang mendengar ucapan ayahnya sempat terkejut. Mendengar ayahnya yang mengatakan itu, dia seperti tidak percaya. Tapi, dia berusaha menenangkan diri. Tidak demikian dengan KH Mudofhir, dia cenderung bergeming. Dari air mukanya yang teduh tidak ada sama sekali keterkejutan. Dia memang sudah tahu siapa Ustad Nur Rohmat. Ustad yang 28 tahun lalu menemuinya dan minta mengabdi di pondok pesantren yang diasuhnya. Waktu itu usia KH Mudhofir masih tergolong muda baru 26 tahun. Baru saja selesai Pendidikan S2 di Timur Tengah. Begitu selesai pendidikan oleh Perserikatan Muhammadiyah diminta menjadi guru sekaligus pembina pondok pesantren. Sementara itu, Ustad Nur Rohmat telah memasuki usia 42 tahun. Jadi, selisih umur mereka cukup jauh. Meskipun masih tergolong muda, sebagai pengasuh pondok pesantren KH Mudhofir menampakkan sikap kebapakannya di hadapan Ustad Nur Rohmat. Sikap itulah yang menjadikan Ustad Nur Rohmat menaruh hormat pada KH Mudhofir. KH Mudhofir bagi Ustad Nur Rohmat bukan saja sebagai gurunya, tapi juga menjadi orangtuanya yang selalu memberikan banyak wejangan padanya.

“Saya membunuh istri Bapak?”, tanya Ustad Nur Rohmat heran (Sebenarnya Ustad Nur Rohmat di dalam hatinya dia mengakuinya kalau memang dia pernah membunuh seorang wanita ketika melakukan pencurian di sebuah rumah mewah di Jakarta. Tapi, dia masih berkeinginan untuk membela diri).

“Ya. Kamu yang membunuh istri saya. Saya masih mengenali wajahmu dari bekas luka di pipi kananmu”, masih setengah berteriak laki-laki tua itu berkata. (Ustad Nur Rohmat yang disapa `kamu` sempat kaget juga karena selama ini tidak ada seorangpun yang menyapanya `kamu`. Di kalangan pondok pesantren, baik santri maupun orangtua santri atau jamaah masjid sekalipun menyapanya dengan `Ustad` atau `Pak Haji`. Dia bisa menerima sapaan itu karena orang yang menyapanya dalam kondisi emosi).

“Apa? Saya telah membunuh istri Bapak?”, Ustad Nur Rohmat berupaya untuk ngeles (Sekali lagi Ustad Nur Rohmat masih berupaya membela diri).

KH Mudhofir yang berada di situ langsung menengahinya.

“Sudah…sudah. Jangan diteruskan pertikaian ini. Nanti saya saja yang coba bicara dengan Ustad Nur Rohmat. Insya Allah akan ada jalan keluarnya. Ustad Nur Rohmat, sampean ikut saya ke rumah!”, perintah KH Mudhofir.

“Saya ajak ke luar ya, Ustad Nur Rohmat? Assalamualaikum!”, kata KH Mudhofir memberi salam.

“Waalaikum salam”

“Silakan Pak Kyai. Daripada saling debat sebaiknya dibicarakan Pak Kyai dengan Ustad Nur Rohmat”, kata anak laki-laki tua itu mempersilakan.

***

Sepeninggal KH Mudofhir dan Ustad Nur Rohmat ada keheningan. Keduanya, laki-laki tua dan anak laki-lakinya yang memasuki usia 40-an tahun sama-sama terdiam. Tiba-tiba saja laki-laki tua itu buka suara.

“Yunus. Laki-laki tua itu yang telah membunuh ibumu empat puluh tahun lalu. Ayah memang belum pernah bercerita padamu tentang peristiwa yang berakibat wafatnya ibumu. Waktu itu usiamu belum genap satu tahun. Sehabis salat tahajud ibumu mendengar ada orang yang masuk ke rumah kita. Spontan ayah dan ibumu sama-sama menuju pintu rumah yang sudah terbuka. Ternyata, di kamar tidur sudah ada orang yang berhasil membawa perhiasan ibumu dan sedikit uang. Ibumu berusaha menghalangi laki-laki asing itu. Laki-laki itu langsung menghunuskan belatinya dan menusukkan ke tubuh ibumu. Ayah sempat menangkap tubuh ibumu yang berlumuran darah. Sementara laki-laki itu melihat korbannya terkapar kabur dari rumah kita. Ayah masih sempat melihat wajahnya. Di pipi kanannya ada codet bekas luka. Codet bekas luka itu persis seperti yang ayah lihat hari ini, di sini. Ayah yakin, laki-laki tua itu yang sebaya dengan ayah yang telah menghabisi nyawa ibumu”, kata laki-laki tua itu menutup ceritanya.

          Selesai menyampaikan peristiwanya di masa lalu. Laki-laki tua dan anak laki-lakinya lagi-lagi sama terdiam. Ada keheningan. Laki-laki tua itu menitikkan air matanya. Sang anak melihat ayahnya menangis tanpa dia sadari juga sama-sama menitikkan air matanya. Dia tidak menyangka Ustad Nur Rohmat yang kesehariannya sebagai orang kepercayaan KH Mudhofir dan menjadi guru mengaji anaknya ternyata mantan seorang penjahat yang menghabisi nyawa ibunya. Selama ini ayahnya tidak pernah bercerita kalau ibunya wafat karena dibunuh oleh seorang penjahat. Begitu pun dengan paman-paman dan bibi-bibinya tidak ada yang bercerita. Mereka seperti sepakat menutup aib kematian ibunya. Kalau saja dia tidak membawa ayahnya ke pondok pesantren untuk menengok anak laki-lakinya yang mondok di pondok pesantren ini, dia tidak mungkin tahu kalau ibunya wafat karena dibunuh. Dia juga tidak akan tahu kalau pembunuh ibunya adalah seorang ustad yang hampir tiga tahun ini hubungannya demikian dekat, baik dengannya maupun dengan anak laki-lakinya yang menjadi santri di pondok pesantren ini. Dengan sedikit keberanian anak laki-lakinya membuka suara.

“Ya, Ayah. Aku percaya cerita Ayah. Aku bingung Ayah, aku harus berbuat apa setelah mendengar cerita Ayah? Aku dan anakku demikian baik dengannya Ayah. Aku bersyukur banyak perubahan pada anakku semenjak menimba ilmu di pesantren ini. Anakku jadi taat pada agama, berakhlak baik dan memiliki hafalan Quran yang cukup banyak. Ustad Nur Rohmat itu termasuk ustad santun dan berilmu yang memadai di pesantren ini. Sekali lagi, aku harus berbuat apa Ayah? Aku benar-benar bingung Ayah”, kata anaknya sedikit iba meminta pendapat ayahnya.

“Nyawa harus dibalas dengan nyawa, Yunus!”, kata ayahnya tegas.

“Jadi, aku harus membunuh Ustad Nur Rohmat?”, tanya anaknya kaget mendengar perkataan ayahnya.

“Kalau kamu tidak mau membunuhnya, ayah yang akan menghabisi nyawanya. Itu yang adil, Yunus. Untuk itu ayah siap masuk penjara!”, kata ayahnya tegas.

“Aku terus terang tidak mau membunuh Ustad Nur Rohmat walaupun dia pernah membunuh ibuku. Bagiku terlalu berisiko membunuh seorang ustad yang sudah mengabdi di pesantren ini hampir tiga puluh tahun yang telah berhasil membentuk perilaku anak-anak didiknya. Anak-anak yang semula malas beribadah, seperti anakku menjadi anak yang taat beribadah. Aku cenderung memaafkan kesalahannya. Toh, dia juga `kan paling tidak pernah tersiksa dengan perbuatan buruknya. Aku yakin ketika mau mengabdi di pesantren ini, dia sudah menyampaikan terus terang ke Pak Kyai siapa dirinya dan perbuatannya di masa lalu. Pak Kyai setahuku tidak sembarang orang bisa diterima mengabdi di pesantren ini. Maafkan aku Ayah kalau aku tidak bersedia memenuhi permintaan Ayah. Aku juga minta Ayah untuk memaafkan kesalahannya. Kita tutup saja lembaran hitam di masa lalu walaupun terasa pahit. Gimana Ayah? Ayah mau menerima saranku?”, tanya anaknya.

Ayahnya tidak segera menjawab. Dia masih tercenung. Air matanya masih menitik keluar dari kedua kelopak matanya. Meski demikian, dia paksakan untuk bicara.

“Kamu bisa saja bicara seperti itu. Ayah gak bisa melupakan peristiwa saat itu. Peristiwa yang menyakitkan. Ayah baru dua tahun mengecap hidup berumah tangga. Baru punya anak kamu. Tiba-tiba saja ada peristiwa yang membuat hati ini perih. Kamu bayangkan setelah peristiwa itu, ayah hidup menduda dengan satu anak. Terpaksa ayah minta adik ayah, bibimu, merawat kamu. Kalo saja tidak ada bibimu, apa mungkin ayah bisa merawatmu?”, kenang ayahnya.

“Tapi ayah kawin lagi `kan? Dan ibu sambungku yang sudah seperti ibu sendiri demikian sayang padaku. Dia juga tidak membeda-bedakan aku sebagai anak tiri dengan adik-adikku sebagai anak-anak kandungnya”, anak laki-lakinya mengingatkan.

“Ya, ayah bersyukur mendapatkan seorang istri yang juga sama salehahnya dengan ibumu. Tapi, ayah belum bisa melupakan kejadian yang menyakitkan itu. Anakku”, katanya sedih.

“Memang Yah, kalau diingat-ingat akan selalu menyakitkan. Semua orang juga sama pikirannya seperti Ayah. Aku mau tanya apa cuma ayah saja yang tahu pembunuh ibuku?”, tanya anaknya.

“Paman-pamanmu dan bibi-bibimu dari pihak ayah dan ibumu juga tahu”, jawab ayahnya.

“Terus setelah dia membunuh ibuku, dia gak ditangkap polisi dan diadili?”, tanya anaknya.

“Dia menyerahkan diri ke polisi. Dia kabarnya minta dihukum”, jelas ayahnya.

“Berarti setelah membunuh ibuku, dia sadar akan perbuatannya. Kalo gitu berapa lama dia dihukum?”, tanya anaknya.

“Setahuku vonis pengadilan waktu itu menetapkan lima belas tahun. Ayah kurang tahu berapa lama dia mendekam di jeruji besi. Bisa saja dia mendapatkan remisi sehingga tidak menjalankan hukuman selama lima belas tahun”, jawab ayahnya.

“Kalo sudah menyerahkan diri ke polisi, dia terus minta dihukum karena perbuatannya berarti dia sudah punya niat baik, Yah”, jawab anaknya seperti menceramahinya.

“Kalo sudah punya niat baik, mungkin selepas dari penjara dia mengabdi di pesantren ini karena setahuku dia sudah 28 tahun di sini, dia berkeinginan untuk menghapuskan segala kesalahannya dengan mengabdi di sini. Aku lihat di sini, walaupun jarak usianya sangat jauh dengan santri-santrinya dia bisa mengajar dengan baik. Anak-anak santrinya akrab dengannya. Mereka enjoy-enjoy aja kayaknya Yah. Apa ayah tega mau membunuh laki-laki tua yang sudah sama tuanya dengan Ayah? Aku sulit membayangkan akan jadi apa pesantren ini kalau seorang ustadnya mati terbunuh. Sekali lagi aku usul, yang sudah lewat gak usah diusik-usik lagi. Menyakitkan Yah. Aku ajak ayah untuk memaafkannya. Maaf Yah, ini sekedar usul. Aku serahkan semuanya ke Ayah bagaimana baiknya”, kata anaknya seperti menceramahi ayahnya.

          Sang ayah, laki-laki tua itu sempat tercekat mendengar ucapan anaknya. Berat rasanya menerima usul anaknya. Meskipun demikian, akhirnya keluar juga ucapannya.  

“Ya, ayah menerima usulmu. Tapi, agar batin ini tidak tersiksa karena biar gimana pun setiap kali ayah melihat wajahnya akan selalu terbayang peristiwa pembunuhan itu. Gimana caranya, Yunus?”, laki-laki tua itu meminta saran dari anaknya.    

“Kita tunggu saja putusan Pak Kyai, Yah!”, saran anaknya.

“Ya, kita tunggu saja.”

“Sambil menunggu putusannya, sekarang kita ke masjid saja”, ajak anaknya.

***

          KH Mudhofir mengajak Ustad Nur Rohmat ke rumahnya. Ustad Nur Rohmat sama sekali terdiam. Tidak seperti biasanya Ustad Nur Rohmat yang dikenal banyak bicara, kali ini seperti tidak berdaya di hadapan KH Mudhofir. Dia merasa bersalah persis seperti 28 tahun lalu ketika menghadap KH Mudhofir yang kini telah memasuki usia 54 tahun. KH Mudhofir yang sudah menampakkan ketuaannya menyilakan Ustad Nur Rohmat duduk. Dia masuk ke dalam ruangan dan meminta istrinya untuk membuatkan kopi. Setelah dua cangkir kopi terhidang disertai dengan penganan kampung, KH Mudhofir mempersilakan Ustad Nur Rohmat meminum kopinya.

“Ustad Nur Rohmat, di luar sepengetahuan kita, ada orang yang mengenali sampean. Ini semua merupakan qodarullah yang gak bisa kita pungkiri. Saya ada usul gimana kalo sampean hijrah dulu selama enam bulan ke pesantren yang diasuh teman saya di Bumiayu? Sama seperti pesantren yang kita asuh masih sama-sama dari Perserikatan Muhammadiyah. Nanti setelah anaknya Pak Yunus selesai pendidikan di sini, sampean balik lagi ke sini?”, saran KH Mudhofir.

“Saya ikuti saran Pak Kyai saja”, kata Ustad Nur Rohmat.

“Baik. Nanti saya kontak dulu teman saya itu. Sekarang sampean siap-siap saja berangkat. Sampean cukup berangkat berdua dengan istri. Anak-anak sampean yang masih mengabdi biar di sini saja. Gak usah ikut sampean. Nanti selama enam bulan salah seorang anak sampean menggantikan sampean”, saran Pak Kyai.

“Nanti ada yang mengantar sampean berdua ke sana”, tambahnya.

“Baik Pak Kyai!”

“Ayo, dihabisi dulu kopinya. Itu rengginangnya dimakan! Sampean sekarang tenang aja. Insya Allah akan selalu ada jalan terbaik buat kita. Nanti kalo dipikirin jadi stres. Jangan sampe jadi ustad stres. Kalo ustadnya stres gimana anak-anak didiknya? Bisa-bisa ikut stres”, kelakar Pak Kyai mencairkan kebekuan seolah-olah seperti tidak ada masalah di antara mereka berdua.

“Ya, Pak Kyai”

Setelah menghabisi kopinya, Ustad Nur Rohmat pamit pada Pak Kyai. Sebelum Ustad Nur Rohmat melangkah ke luar. KH Mudhofir memberikan amplop berisikan uang. Ustad Nur Rohmat menolak pemberian itu (Sekedar basa-basi walaupun akhirnya menerima juga). 

“Ini sekedar uang sangu buat sampean sama istri di jalan. Nanti kalo sudah enam bulan di sana, jangan lupa sampean sama istri balik ke sini lagi. Biar sampean sudah tua tenaga sampean masih dimanfaatkan di sini. Nanti sampean berangkat diam-diam saja. Gak perlu nemuin mereka”, pesan Pak Kyai.

“Ya, Pak Kyai. Saya dan istri akan balik ke sini. Mohon doanya Pak Kyai biar saya dan istri bisa mengabdi di Bumiayu”, pintanya.

“Saya akan tetap mendoakan kalian berdua. Buat saya, kalian sudah menjadi bagian dari pesantren ini”, kata Pak Kyai mantap.

“Saya pamit Pak Kyai. Assalamualaikum”, Ustad Nur Rohmat pamit seraya memberi salam.

“Waalaikum salam. Maassalamah wa fi amanillah”, kata Pak Kyai sambil mendoakan.

“Amin. Yaa robbal alamin!”, Ustad Nur Rohmat mengaminkannya.

***

          Sehabis salat zuhur di rumahnya, Ustad Nur Rohmat diam-diam berangkat ke Bumiayu. Selama di pesantren baru kali ini Ustad Nur Rohmat salat di rumahnya dengan istrinya. Ustad Nur Rohmat sudah menyampaikan ke istrinya kalau siang itu juga harus berangkat ke Bumiayu. Dia sengaja tidak menyampaikan alasannya. Dia berjanji nanti ketika sampai di tempat yang dituju baru akan disampaikan. Mereka diantar supir KH Mudhofir. Sementara itu, KH Mudhofir menemui laki-laki tua dan anaknya di masjid. Rupanya, kedua orang itu sudah menunggu kedatangannya.

“Assalamualaikum”, sapa KH Mudhofir memberi salam.

“Waalaikum salam”, jawab mereka serentak.

“Jadi, gimana Pak Kyai putusannya?”, tanya laki-laki tua itu penasaran.

“Alhamdulillah urusannya sudah selesai. Saya sudah minta Ustad Nur Rohmat dan istrinya meninggalkan pesantren ini”, jawab KH Mudhofir.

“Mudah-mudahan dengan perginya Ustad Nur Rohmat, Bapak yang mungkin gak bisa menghilangkan peristiwa yang menyakitkan itu terobati”, jelas KH Mudhofir.

“Amin”, jawab kedua orang itu.

“Jadi, begini Pak. Dulu waktu Ustad Nur Rohmat ingin mengabdi di pesantren cerita sama saya masa lalunya. Dia memang empat puluh tahun lalu pernah membunuh seorang Wanita yang mencoba menghalanginya ketika mencuri di rumahnya. Karena dihalangi, secara spontan dia menikam tubuh wanita yang menghalanginya. Gak ada rencana dia membunuh istri Bapak”, sambil berkata begitu KH Mudhofir menatap wajah laki-laki tua yang persis di hadapannya.

“Kalau berencana membunuhnya, dia mungkin akan dihukum lebih berat lagi. Bisa saja dia dihukum mati”, tambah KH Mudhofir.

“Selama mengabdi di sini di pesantren ini aman-aman saja. Malahan seperti yang Bapak lihat pesantren ini terpelihara kebersihannya karena memang setiap hari dia dibantu para santri dan beberapa ustad yang lain mengurusi kebersihan pesantren. Lihat saja itu di depan masjid, tanaman-tanamannya terpelihara. Kami di sini selama ada Ustad Nur Rohmat tidak pernah beli sayur atau ikan ke luar karena semuanya terpenuhi dari kebun dan kolam ikan yang ada di pesantren ini. Dia juga bercerita selama di penjara dua belas tahun banyak bertobat dan berzikir. Di penjara dia belajar baca Quran. Dia juga belajar ilmu agama dan beberapa keterampilan lainnya di luar agama. Di pesantren ini karena pengabdiannya luar biasa, kami berangkatkan haji dia sama istrinya beberapa tahun lalu. Karena di pesantren ini juga ada biro perjalanan umroh hampir setiap tahun dia ikut menjadi pembimbing. Saya sangat bersyukur kalau bapak-bapak tidak menaruh dendam padanya. Saya sulit membayangkan kalau bapak-bapak tidak bersedia memaafkannya. Apa lagi sampai berniat menghabisi nyawanya. Saya sangat berharap bapak-bapak juga anggota keluarga yang lain yang empat puluh tahun lalu tahu persis peristiwa itu bisa memaafkan kesalahannya”, kata KH Mudofhir penuh harap.

“Kami berdua sudah memaafkan kesalahannya Pak Kyai. Cuma saya secara pribadi tadinya meminta agar Ustad Nur Rohmat dikeluarkan saja dari pesantren ini. Ternyata, Pak Kyai sudah mengeluarkannya ya?”, tanya laki-laki tua itu. 

“Bukan dikeluarkan tapi dimutasikan ke pesantren lain yang tidak perlu bapak-bapak tahu tempatnya”, jelas KH Mudhofir.

“Terus gimana nanti dengan pesantren ini Pak Kyai?”, tanya anaknya.

“Pesantren ini Insya Allah ada yang siap menggantikannya. Anak-anaknya yang dari Al-Azhar, Mesir, siap menggantikannya. Ilmunya lebih baik dari bapaknya. Untuk mengurusi kebun, kolam-kolam ikan, dan ternak kambing sudah ada beberapa orang yang siap mengurusinya. Insya Allah semuanya bisa tertangani”, kata KH Mudhofir.

“Kita doakan saja semoga mereka berdua bisa mengabdi di tempat yang baru”, kata KH Mudhofir penuh harap.

“Amin. Yaa robbal alamin”, kata mereka berdua.

“Saya kira untuk sementara sudah cukup ya? Saya mau ngasi pengajian di luar. Silakan kalau mau ikut makan siang sama ustad-ustad dan anak-anak santri. Assalamualaikum”, KH Mudhofir memberi salam seraya mengulurkan tangannya kepada kedua orang itu.

“Waalaikum salam. Maafkan saya Pak Kyai”, kata laki-laki tua itu.

“Sama-sama Pak, saya juga minta maaf”, jawab KH Mudhofir.

KH Mudhofir langsung meninggalkan mereka karena sudah ditunggu oleh orang yang akan menjemputnya untuk mengisi pengajian di luar pesantren.

 

Kota Bekasi, 9 Desember 2025


 

Jumat, 28 November 2025

Bahasa dan Sastra (236)

 



Maafkan Ayahmu, Anakku

 Cerpen

Subagio S.Waluyo

 

        Sore itu Lukmanul Hakim baru saja pulang dari masjid setelah salat asar. Tiba-tiba saja ada panggilan masuk ke nomor HP-nya. Rupanya itu dari nomor anaknya, Imran, yang tinggal di Bandung.

“Assalamualaikum!”, sapa anaknya.

“Waalaikum salam!”, jawab Lukmanul Hakim.

“Apa kabarnya, Yah?”,   tanya sang anak jauh di seberang sana.

“Alhamdulillah sehat. Ibu juga sehat. Gimana dengan istri dan anak-anakmu? Sehat semua?”, tanya Lukmanul Hakim.

“Alhamdulillah semuanya sehat. Mudah-mudahan kita semua diberi Allah kesehatan ya?”

“Amin. Yaa robbal alamin”, Lukmanul Hakim mengaminkannya.

“Yah, aku mau ngasi kabar kalau rumahku baru aja selesai direhab. Lantai atas aku gunakan nanti buat anak-anakku yang sudah mulai besar. Lantai bawah selain ada kamar buatku dan istri juga ada kamar buat ayah dan ibu. Aku dan istriku ingin sekali ayah dan ibu tinggal di rumahku. Gimana, Yah? Ayah setuju?”, tanya Imran anaknya.

Lukmanul Hakim sempat tercenung sejenak. Terasa berat baginya untuk menjawab pertanyaan sang anak. Dia dikagetkan oleh suara anaknya di seberang sana. Jauh di Bandung.

“Halo. Gimana, Yah? Ayah dengar suaraku?”, tanya anaknya.

“Ya, ayah dengar. Tapi, gak semudah itu ayah memutuskannya. Ayah harus ngomong dulu sama ibumu”, jelas Lukmanul Hakim.

“Silakan kalo mau ngomong dulu sama Ibu”, kata anaknya mempersilakan.

“Kalo bisa jangan lama-lama, Yah. Aku butuh jawaban secepatnya”, pinta anaknya.

“Insya Allah, secepatnya ayah kasi kabar. Kamu tunggu aja kabar dari ayah”, katanya.

“Ya, udah kalo gitu nanti Ayah sampaikan ke ibu, ya? Salam buat ibu, Yah”, pesan anaknya.

“Insya Allah ayah sampaikan salam darimu ke ibu”, janji Lukmanul Hakim pada anaknya.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam”

         Baru saja Lukmanul Hakim memutuskan sambungan telpon dengan anaknya, tiba-tiba saja istrinya menanyakannya.

“Dari Imran ya, Yah?”, tanya istrinya.

“Ya. Dari Imran”, jelasnya.

“Ada apa lagi dia nelpon Ayah?”, tanya istrinya penasaran.

“Dia baru saja rehab rumahnya. Lantai atas mau digunakan untuk anak-anaknya karena mereka sudah besar-besar. Lantai yang bawah digunakan untuk dia sama istrinya. Tapi, juga dia buatkan kamar buat kita supaya kita mau tinggal bersama mereka”, jelas Lukmanul Hakim.

“Ibu biar gimanapun gak mau tinggal sama anak biar di sana ada cucu yang kata orang menyenangkan”, istrinya menjawab dengan ketus.

“Terserah kalau Ayah mau tinggal sama mereka”, lanjut istrinya.

“Ayah juga sama Bu, gak mau tinggal sama mereka. Kalo kita kangen sama mereka kita datangin aja”, jelas Lukmanul Hakim.

“Ya, mendingan begitu Yah. Kita cukup datangin aja. Gak usah tinggal sama mereka. Biar mereka rumahnya besar dan mewah. Semuanya serba tersedia. Buat ibu lebih baik tinggal di sini. Jauh sama anak, menantu, atau cucu lebih enak. Kita lebih bebas. Kalo kita tinggal sama mereka, kita gak bebas. Kita bisa-bisa dicuekin. Imran yang sibuk dengan pekerjaannya. Istrinya yang juga sibuk sama urusannya. Anak-anaknya yang asik sama hp-nya. Kita dibikin kayak patung. Gak diajak ngomong. Kita `kan dah cukup lama tinggal di Jakarta. Sekarang kita tinggal di kota kecil ini. Buat ibu, kota ini bikin kita tenang hidup. Jauh lebih enak tinggal di sini. Bandung yang kita tahu `kan hampir sama aja dengan Jakarta. Cuma udaranya agak sejuk. Kalau bisingnya sih sama saja dengan Jakarta. Di Purworejo ini kita benar-benar bisa menikmati hidup, Yah”, cerocos istrinya. 

“Ya”, jawab Lukmanul Hakim singkat.       

“Nanti kalo Imran nelpon lagi jawab aja begitu Yah”, pesan istrinya.

“Insya Allah ayah sampaikan seperti yang Ibu katakan tadi”, janjinya.

“Ibu sih pengennya dulu anak-anak gak terlalu jauhlah tinggal sama kita. Sekarang yang paling dekat cuma si ikhwan aja. Anak bungsu kita. Dua anak kita jauh tinggalnya sama kita”, cerocos istrinya.

“Ya, itu sudah qodarullah, Bu. Kita tinggal jalanin aja ketentuan dari Allah. Semuanya `kan pasti ada hikmahnya”, kata Lukmanul Hakim.

“Ya. Ada hikmahnya. Tapi, nanti kalo kita dah meninggal, ini rumah apa mau kita jual aja?”, tanya istrinya.

“Mau gak mau ya, harus dijual. Kalo bisa sih sama salah seorang dari anak kita”, saran Lukmanul Hakim.

“Ibu setuju kalo rumah ini dibeli sama salah seorang anak kita. Soal dia mau tempatin atau mau dikontrakkan dulu gak apa-apa. Ini `kan rumah warisan dari kakek dulu. Kalo bisa jangan jatuh ke tangan orang lain”, saran istrinya.

“Dari ketiga anak kita, ayah lebih setuju kalau rumah ini dibeli sama Ikhwan”, kata Lukmanul Hakim.

“Ibu juga setuju. Tapi, apakah dia punya uang buat beli rumah ini?”, tanya istrinya penuh keraguan.

“Mudah-mudahan saja Ikhwan diberi kemudahan sama Allah buat beli rumah ini”, kata Lukmanul Hakim penuh harap.

“Amin!”, jawab istrinya mengaminkan.

“Iaudah, nanti kalo Imran telpon lagi, jangan lupa jawab aja yang seperti ibu sampaikan tadi”, pesan istrinya mengingatkan.

“Siap 86”, jawab Lukmanul Hakim sambil cengengesan.

Istrinya cuma senyum singkat saja mendengar jawaban Lukmanul Hakim.    

***

     Lukmanul Hakim telah lima tahun pensiun dari BPK. Dia mengabdi sebagai PNS di BPK lebih dari 35 tahun. Selama berkeluarga dia tinggal di  Rawamangun dekat kampus IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Dari hasil pernikahannya selama 41 tahun, Lukmanul Hakim dikaruniai tiga orang anak. Semuanya laki-laki dan enam orang cucu. Dari tiga anak, anak pertama tinggal di Bandung. Anak kedua menempati rumahnya yang lama di Jakarta. Sedangkan anak ketiga tinggal bersama mertuanya di dekat rumahnya saat ini, di Purworejo. Tinggallah kini Lukmanul Hakim hanya berdua dengan istrinya.

    Rumah peninggalan orangtuanya yang kini ditempati Lukmanul Hakim tergolong besar. Luas tanahnya hampir 1.000 m2. Luas bangunannya 200 m2. Halaman depan dan belakang masih ada tanah kosong. Di samping kanan ada garasi yang digunakan untuk memarkir mobil, sepeda motor, dan sepeda miliknya. Di samping kiri masih ada tanah kosong yang digunakan untuk jemuran. Sebelum Lukmanul Hakim menempati rumahnya lima tahun lalu, rumah itu sempat direhab. Halaman depan rumahnya sebagian dipasangi paving block yang bisa digunakan untuk 4-5 mobil. Sebagian tanah kosong, baik yang berada di halaman depan maupun belakang ditanami berbagai jenis tanaman hias, sayur-sayuran, dan beberapa pohon buah. Dengan rumah yang cukup besar dan halaman yang luas disertai udara Purworejo yang tidak terlalu panas membuat rumah tinggal Lukmanul Hakim cocok untuk orang-orang lansia.

     Halaman rumahnya yang terbilang luas itu diurus mereka. Terkadang anaknya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya ikut bantu-bantu. Hasil dari bertanam sayuran dinikmati mereka berdua. Terkadang jika berlebih tetangga-tetangga yang bersebelahan dengan rumahnya turut menikmatinya. Tanaman hias yang turut menyegarkan halaman rumahnya juga dirawat dengan apik oleh sepasang suami-istri itu. Beberapa pohon mawar dan melati memberikan sumbangan wewangian yang membuat tamu yang datang ke rumahnya dijamu bukan saja oleh jamuan minuman dan makanan, tapi juga wewangian dari bunga-bunga yang banyak tumbuh di rumahnya. Di musim buah-buahan seperti, mangga, yang tumbuh di rumahnya ketika panen tidak pernah dijual. Mereka lebih cenderung membagikannya pada tetangga-tetangganya sehingga tidak ada tetangga-tetangganya yang memiliki perasaan negatif pada kedua pasangan lansia itu. Bagi Lukmanul Hakim dan istrinya, mereka saat ini benar-benar merasakan kehidupan yang damai karena di saat-saat tertentu ada saja tetangga-tetangga yang memberikan penganan pada kedua lansia itu.  

    Tidak terasa sudah lima tahun Lukmanul Hakim tinggal di Purworejo. Anak bungsunya sebelum menikah sempat tinggal bersamanya selama tiga tahun. Setelah menikah dua tahun lalu, anak bungsunya tidak lagi tinggal bersamanya. Setiap akhir pekan anak bungsunya bersama istrinya bermalam di rumahnya. Di hari-hari libur di tanggal-tanggal merah, mereka berempat sering ke tempat-tempat wisata yang berada di sekitar Purworejo. Terkadang, mereka juga berkunjung ke Bandung dan Jakarta menengok anak Lukmanul Hakim yang pertama dan kedua. Terkadang juga ke Malang tempat kakak iparnya. Rumah Lukmanul Hakim ramai dikunjungi anak, menantu, dan cucu-cucunya di saat-saat libur lebaran dan liburan sekolah. Kehadiran mereka tentu saja menjadi hiburan tersendiri bagi Lukmanul Hakim dan istrinya.

   Selama menjalani masa-masa pensiun Lukmanul Hakim banyak melakukan aktivitas sosial dan keagamaan. Sebagai `Darah Biru` keluarga Muhammadiyah, begitu Lukmanul Hakim kembali ke kampung halamannya langsung ditawari jabatan di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purworejo. Tapi, Lukmanul Hakim lebih memilih menjadi bendahara di masjid Muhammadiyah di tempat tinggalnya. Jabatan sebagai bendahara masjid tidak lama dipegangnya. Begitu ketua masjid yang lama meninggal dunia, Lukmanul Hakim didapuk oleh jamaah masjid untuk menggantikan ketua masjid yang wafat. Semenjak Lukmanul Hakim menjadi ketua masjid banyak kebijakan yang dibuatnya. Kebijakan yang dibuatnya menunjukkan kebaikan. Kebijakan membuka pintu lebar-lebar buat para musafir, misalnya, ternyata membuat masjid itu semakin makmur karena mereka yang dilayani di masjid itu tidak segan-segan memberikan infak. Kas masjid yang selalu dilaporkan kosong atau nol, justru memancing jamaah dari mana saja untuk gemar berinfak. Hasil dari infak jamaah digunakan untuk menjamu musafir, memberikan beasiswa bagi anak keluarga tidak mampu, dan program menyejahterakan orang-orang duafa dalam bentuk pemberian pelatihan dan modal usaha. Program itu diperoeh dari hasil ziswaf masjid selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Selain itu, tidak ketinggalan setiap bakda salat jumat ada pembagian beras gratis buat orang-orang duafa. Setiap memasuki bulan Ramadan masjid selalu dipenuhi jamaah selama sebulan penuh. Selama itu pula pengurus masjid menyediakan takjil dan makanan berbuka puasa. Bukan itu saja, setiap idul qurban daging qurban yang berlebih disalurkan ke beberapa desa di sekitar masjid yang terbilang miskin. Kesibukannya sebagai pengurus masjid membuat Lukmanul Hakim semakin kerasan tinggal di kota yang digelari `kota pensiunan` itu.

    Setiap selesai salat jumat anak dan istrinya, termasuk menantunya ikut bantu-bantu mendistribusikan beras gratis pada orang-orang duafa. Setiap bulan sekali selain beras juga diberikan sembako. Istri dan menantunya juga ikut aktif memberikan pengajaran tahsin buat ibu-ibu dan remaja masjid. Banyaknya aktivitas sosial dan agama membuat mereka memiliki kebahagiaan tersendiri. Dengan cara demikian mereka merasa kalau hidupnya benar-benar bisa bermanfaat buat sesamanya. Di hari-hari liburan sekolah ketika anak, menantu, dan cucu-cucunya yang berasal dari Bandung dan Jakarta datang mengunjunginya, Lukmanul Hakim mengajak mereka untuk mengikuti aktivitas sosial dan keagamaan di masjid yang dikelolanya. Lukmanul Hakim menanamkan nilai-nilai kebaikan buat keluarganya lewat masjid.

***

       Tiga hari setelah anaknya, Imran, menelponnya, kembali sang anak menelpon ayahnya. Setelah saling sapa dan basa-basi, tibalah Imran bertanya tentang tawarannya tiga hari yang lalu.

“Yah, bagaimana? Ayah-Ibu bersedia tinggal denganku?”

Lukmanul Hakim sempat diam sejenak. Setelah anaknya berbicara lagi, “Gimana Yah? Ayah bersedia?”, tanya anaknya.

“Imran, ayah minta maaf, ayah tidak bersedia memenuhi permintaanmu”, jawab ayahnya sedikit menghiba.

“Seluruh keluarga ayah di sini sudah terlanjur kerasan tinggal di sini”, katanya menambahkan.

“Kerasan? Ayah tinggal di Purworejo kota kecil yang justru membuatku terasa sepi karena gak banyak kesibukan, membuat ayah sekeluarga kerasan?”, tanya anaknya.

“Ya, ayah sekeluarga sudah kerasan tinggal di sini”, tegas ayahnya.

“Kenapa Yah bisa kerasan?”, tanya anaknya penasaran.

“Di sini ayah sekeluarga menemui kedamaian hidup”, katanya tegas. Sebelum anaknya bertanya lebih jauh Lukmanul Hakim menambahkan.

“Ya, di sini ayah menemui kedamaian hidup karena jauh dari kebisingan. Memang, ini kota kecil. Tapi, kota ini cocok buat orang seperti ayah dan ibu, kota orang-orang pensiunan. Selain itu,….”, Lukmanul Hakim terasa berat untuk menyampaikannya sehingga sang anak diseberang sana sempat penasaran.

Selain itu apa Yah?”, tanya anaknya penasaran.

“Maaf Imran, ayah terpaksa harus mengatakannya walaupun terasa berat”, kata Lukmanul Hakim tercekat.

“Ya, apa Yah? Katakan saja terus terang!”, kata sang anak sedikit memaksa.

“Ayah dan ibu mau bebas. Ayah dan ibu gak mau serba dilayani dan dibatasi. Ayah biasa pagi-pagi bikin kopi sesuai selera ayah. Kalo ayah ke rumahmu, pagi-pagi istrimu sudah mengingatkan ayah biar dia aja yang bikinin kopi. Ayah gak mau serba dilayani Imran. Selain itu, ayah dan ibu biasa kalau pagi sehabis selesai kegiatan di masjid jalan-jalan pagi. Di tempat tinggalmu gimana bisa jalan-jalan pagi kalau begitu keluar dari komplek rumahmu sudah banyak kendaraan berseliweran yang membuat ayah dan ibumu tidak nyaman jalan di pedesterian yang sudah dipenuhi pedagang kaki lima”, jelas Lukmanul Hakim.

“Selain itu, kamu sendiri juga tahu, Nak, ayah sekeluarga sejak tinggal di kota ini ikut aktif memakmurkan masjid. Kalau ayah dan ibu tinggal di rumahmu, apa mungkin ayah dan ibu bisa aktif memakmurkan masjid?”, tanyanya (walaupun pertanyaan itu tidak perlu dijawab anaknya).

“Jadi, ayah minta maaf, Nak, kalau tidak bersedia tinggal bersamamu. Lebih baik seperti yang biasa kalian lakukan saja setiap liburan lebaran atau liburan sekolah kalian tengokin orangtua kalian. Atau kalau ayah dan ibu kangen sama cucu biar ayah dan ibu yang datang nengokin kalian”, pintanya.

“Baik, Yah. Aku gak bisa memaksa. Aku sangat menghargai  keberatan ayah dan ibu tinggal bersamaku di sini. Insya Allah liburan akhir tahun ini, aku sekeluarga akan nengokin ayah-ibu. Ihsan dan keluarganya juga punya niat yang sama mau nengokin ayah ibu. Kami akan berangkat bareng-bareng dari Bandung. Maafkan aku ya, Yah? Salam buat ibu dan Ikhwan”, kata Imran dengan sedikit tercekat (karena permintaannya tidak dituruti ayah dan ibunya).

“Insya Allah ayah sampaikan”, jawab Lukmanul Hakim.

 “Assalamualaikum!”

“Waalaikum salam!”

      ***

    Ada perasaan lega setelah Lukmnul Hakim menyampaikan sesuatu yang terasa berat untuk disampaikan. Sebagai orangtua yang menghadapi hari-hari yang sepi di saat-saat menghadapi hari-hari pensiun (walaupun dia dan keluarganya aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di masjid), Lukmnul Hakim sebenarnya ingin hidup dikelilingi anak-anak dan cucu-cucunya. Tapi, Lukmanul Hakim juga menyadari hidup tidak harus seperti itu. Perjalanan hidup yang diawali dengan sepasang suami-istri setelah hampir 41 tahun hidup berumah tangga siklusnya akan kembali pada kehidupan semula hanya dua pasang: suami-istri. Entah berapa lama lagi Lukmanul Hakim akan tetap hidup bersama dengan istrinya. Apakah dia yang terlebih dulu meninggalkan istrinya atau istrinya yang akan meninggalkannya? Ah, semua ini hanya Allah yang tahu. Sebagai manusia Lukmanul Hakim hanya berkenan menjalaninya.

 

Kota Bekasi, 28 November 2025. 


Rabu, 12 November 2025

Bahasa dan Sastra (235)

 



Jangan Kirimi Karangan Bunga

 Cerpen

 Subagio S.Waluyo

 

    Pak Haji Nasir dikenal sebagai orang yang dermawan. Pak Haji Nasir saking dermawannya setiap ada orang yang berkabung atau menikahkan anaknya, baik orang kaya maupun miskin kerap mengirimi karangan bunga. Tapi, suatu saat dia berpikir dua kali setelah mendengar ceramah seorang ustadz di masjid tempat dia biasa salat berjamaah yang mengatakan kalau mengirimi karangan bunga adalah pekerjaan yang mubazir. Ditegaskan lagi oleh sang ustadz sebagai pekerjaan yang sia-sia. Mendengar ceramah itu dia berusaha bertanya pada anggota keluarganya (salah satu kebiasaan yang menurutnya positif sebelum dia mengambil keputusan).

“Bu, apa benar kalau orang mengirimi karangan bunga itu pekerjaan yang mubazir dan sia-sia?”, tanya Pak Haji Nasir pada istrinya.

“Kata siapa, Pak?”, istrinya balik bertanya.

“Kata ustadz yang tadi ngasi pengajian di masjid”, jelasnya.

“Memang benar itu pekerjaan yang mubazir dan sia-sia”, jawab istrinya.

“Ya, Pak. Aku setuju sama ceramah ustadz tadi di masjid”, anak laki-lakinya juga mengaminkan ucapan ibunya.

“Kalo gitu, yang bapak lakukan selama ini mengirimi orang-orang yang menikahkan anaknya atau yang sedang berduka dengan karangan bunga sia-sia amalannya?”, tanyanya penasaran.

“Ya, Pak. Jelas salah itu. Bapak gak usah lagi kirim-kirim karangan bunga. Mubazir Pak. Uang dibuang-buang. Habis acara besok juga jadi sampah. Gak dilihat orang”, anaknya yang sudah agak dewasa ikut menimpali seperti memberikan ceramah di hadapan bapaknya.

“Ya. Aku berjanji mulai saat ini gak lagi kirim karangan bunga”, kata Pak Haji Nasir mantap.

“Nah, gitu dong. Nanti uang Bapak buat keperluan yang lain aja, misalnya buat membantu orang yang kesusahan atau disalurkan ke yayasan-yayasan yang peduli sama orang-orang susah. Ingat Pak, sekarang banyak orang yang hidupnya susah”, kata anaknya mengingatkannya.

“Ya. Insya Allah aku lakukan.”

“Pak, nanti kalo aku nikah `kan pasti banyak orang yang ngasi karangan bunga, kira-kira Bapak mau menerima gak?”, tanya anaknya yang perempuan.

“Karena aku gak ngirim bunga, mereka juga gak usah kirim bunga. Bapak minta kesediaan mereka untuk ngasi sumbangan aja yang nantinya Bapak salurkan ke yayasan-yayasan yang peduli sama orang-orang duafa. Bisa juga kita bagi-bagi sembako sehabis acara walimahan kamu. Kira-kira kamu setuju gak?”, Pak Haji Nasir balik bertanya ke anaknya.

“Aku sih setuju aja. Nanti gimana nyampeinnya?”, tanya anaknya penasaran.

“Nantilah aku atur. Kamu tenang aja!”, kata Pak Haji Nasir meyakinkan.

“Oke. Kalo gitu, aku tunggu aja janji Bapak”

***

   Pak Haji Nasir cukup lama menunggu kabar entah berita duka cita atau undangan pernikahan. Ketika tiba-tiba dari jauh terdengar suara speaker di musala di luar komplek perumahannya berita duka cita, dia buru-buru mencatat nama dan alamat rumahnya. Dia sudah niat akan mendatangi rumah duka. Kalau yang ditakziah nanti terbukti orang tidak mampu, dia akan memberikan uang duka dan tahlil untuk tiga hari. Sebaliknya, kalau orang kaya, dia hanya mengasi uang seperti biasanya ketika takziah. Kali ini mau dibuktikan, kalau dia tidak mengirimi siapapun orangnya karangan bunga.

   Selesai wudu dan berpakaian rapi, dia segera berangkat ke tempat duka. Sesampainya di rumah yang dituju, ternyata keluarga yang ditinggalkannya termasuk tergolong orang susah. Baru saja sampai di rumah yang ditujunya, ada tetangganya di komplek perumahannya menyapanya.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam”, jawabnya.

“Pak Haji sendiri aja kemari”, tanya tetangganya.

“Ya. Pak.”

“Bapak tumben gak ngirim karangan bunga?”, tanya tetangganya.

“Daripada saya ngasi karangan bunga, mending saya ngasi uang aja buat bantu-bantu orang yang berduka. Mubazir Pak, ngasi karangan bunga!”, jelas Pak Haji Nasir.

“Bapak `kan tahu kalo KH Muhammad Yasin waktu ceramah tempo hari nyampein ke jamaah kalau kirim karangan bunga buat siapa saja orang yang berduka atau walimahan itu mubazir dan sia-sia amalannya”, kata Pak Haji Nasir mengingatkan tetangganya.

“Ya. Saya tahu itu.”

“Nah, kalau dah tahu, sekarang kita praktekkan. Jadi, kita gak usah lagi kirim-kirim karangan bunga.”

“Paham ya?”, tanyanya.

“Ya,ya. Saya paham. Terima kasih sudah diingatkan.”

“Saya mau nemuin dulu ya sohibul baitnya?”, Pak Haji Nasir minta izin untuk menemui keluarga yang berduka.

“Silakan Pak Haji!”, kata tetangganya mempersilakan.

Setelah urusan dengan keluarga yang berduka selesai, keduanya minta izin untuk kembali ke rumahnya.

        Dalam perjalanan pulang Pak Haji Nasir menyampaikan pada temannya kalau dia berencana mau memberi uang duka sebagai ganti karangan bunga. Uang dukanya bisa lebih besar karena nantinya bisa digunakan untuk acara tahlil selama tiga hari. Tentu saja uang yang dikeluarkan jauh lebih besar dari harga karangan bunga. Tapi, bagi Pak Haji Nasir jika dilihat dari manfaatnya jauh lebih bermanfaat. Tetangganya juga tahu Pak Haji Nasir adalah orang terkaya di komplek perumahannya. Rumah Pak Haji Nasir termasuk rumah terbesar karena dia membeli tanah-tanah kosong di seputar rumahnya. Pak Haji Nasir dikenal sebagai juragan rumah makan Padang. Rumah makan Padang yang dimilikinya terdapat di beberapa kota besar di Jawa. Selain itu, dia juga mengelola puluhan UMKM. Meskipun tergolong pengusaha kaya, Pak Haji Nasir dikenal sebagai orang yang dermawan dan rendah hati. Tidak pernah dia menunjukkan keangkuhannya. Istri dan anak-anaknya juga sama seperti bapaknya.

***

   Dua pekan setelah Pak Haji Nasir takziah ke rumah di luar komplek perumahannya ada undangan pernikahan dari tetangganya di komplek perumahannya. Untuk kedua kalinya, sesuai dengan niatnya, dia tidak kirimi karangan bunga. Dia masukkan uang kondangan yang telah diselipi tulisan: 


Dengan tidak mengurangi rasa hormat,

mohon maaf kalau saya tidak

mengirimi karangan bunga. Semoga Bapak/

Ibu berkenan memaafkan kesalahan saya. 


Pak Haji Nasir yakin pasti orang yang mengundangnya kaget. Tapi, dia juga yakin kalau mereka bisa memakluminya. Tidak hanya sampai di situ, di beberapa tempat juga Pak Haji Nasir melakukan hal yang sama: tidak lagi mengirimi karangan bunga. Mereka tahu Pak Haji Nasir orang kaya yang dermawan. Uang kiriman karangan bunga pasti disisihkan untuk kegiatan di masjid atau di lembaga-lembaga sosial yang kerap kali Pak Haji Nasir secara rutin mengeluarkan sebagian hartanya. Mereka juga tahu kalau Pak Haji Nasir jauh dari niat-niat kurang baik. Pasti ada sesuatu yang akan dikerjakan oleh Pak Haji Nasir.

     Pak Haji Nasir memang diam-diam mengumpulkan dana. Dari yang semula uang yang digunakan untuk karangan bunga, kini ditabung. Uang yang terkumpul kemudian diberikan pada orang-orang duafa dalam bentuk pemberian sembako. Pemberian sembako dilakukan di masjid yang dia sendiri termasuk salah satu pengurusnya. Dengan adanya aktivitas rutin pembagian sembako, kegiatan di masjidnya semakin semarak. Semua amal kebaikan yang dilakukannya ternyata membuahkan hasil. Banyak warga di kompleknya yang mulai ikut-ikutan menyumbang entah dalam bentuk uang atau bahan-bahan sembako. Kalau sebelumnya hanya menyumbang konsumsi untuk Jumat Berkah, akhir-akhir  ini warga di perumahannya menyumbang dalam bentuk uang. Bahkan, ada di antara warganya yang secara rutin mengeluarkan zakat profesinya. Melihat perkembangan baru itu Pak Haji Nasir bersyukur pada Allah.

***

     Beberapa hari sebelum acara pernikahan anaknya yang putri, Pak Haji Nasir menyebarkan undangan. Kali ini dia harus membuktikan kalau orang-orang yang diundang (terutama kalangan sesama pengusaha dan pejabat publik) untuk tidak mengirimi karangan bunga. Dengan `Bismillah` Pak Haji Nasir menyelipkan tulisan di setiap amplop undangan: 


Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kami

mohon agar tidak mengirimi karangan bunga.

Kami berniat setelah acara pernikahan

anak kami akan diadakan pembagian

sembako untuk warga yang

tergolong miskin. 


Pak Haji Nasir berdoa agar beberapa koleganya sesama pengusaha dan pejabat publik bisa memakluminya. Dia juga menyerahkan semua urusannya pada Allah. Dia yakin semua niat baiknya dikabulkan Allah.

      Ternyata, tidak ada satupun pengusaha dan pejabat publik yang mengkomplain atau mengeritisinya. Mereka tahu kalau Pak Haji Nasir bukan termasuk orang yang punya niat buruk karena meminta mereka untuk tidak mengirimi karangan bunga. Mereka juga kerap melihat akhir-akhir ini Pak Haji Nasir tidak lagi mengirimi karangan bunga, entah itu di rumah duka, acara pernikahan, atau launching perusahaan yang baru dibuka. Mereka melihat pengganti uang karangan bunga  yang diberikan Pak Haji Nasir justru lebih besar daripada uang yang dikeluarkan untuk karangan bunga.

     Acara pernikahan dan walimahan putrinya berjalan lancar dan meriah tanpa karangan bunga. Banyak tamu yang hadir di acara tersebut. Pak Haji Nasir memang mengundang banyak orang. Bukan saja kalangan pengusaha dan pejabat publik, orang-orang jelata juga diundangnya. Setiap tamu yang diundangnya diberikan suvenir berupa buku kumpulan cerpen yang sarat dengan nilai-nilai agama. Di balik cover buku diselipkan kertas yang bertuliskan: 


Sesuai dengan janji yang telah disampaikan

di undangan yang telah Bapak/Ibu terima,

seusai acara pernikahan dan walimahan

kami akan mendistribusikan sembako

sebanyak dua ratus paket.

***

       Acara pernikahan dan walimahan baru saja usai. Rasa penat keluarga Pak Haji Nasir belum juga hilang. Keluarga Pak Haji Nasir yang berpegang teguh pada `janji adalah utang yang harus dibayar`, dua hari setelah acara pernikahan dan walimahan langsung melaksanakan niatnya untuk membagi-bagi sembako. Undangan pembagian sembako untuk orang-orang duafa rupanya telah disebarkan jauh hari sebelum acara pernikahan anaknya. Di hari H-nya cukup banyak orang duafa yang hadir. Pak Haji Nasir tentu saja tidak bekerja sendirian. Dia melibatkan remaja-remaja masjid. Dalam waktu singkat dua ratus paket sembako telah terbagi ludes. Pak Haji Nasir benar-benar bersyukur karena telah membantu kesulitan orang-orang duafa. Dia juga menyadari kalau bantuan sembako itu hanya bisa digunakan untuk beberapa hari. Selesai acara Pak Haji Nasir dan beberapa pengurus masjid melakukan rapat. Hasil rapat itu memutuskan lima hal penting buat jamaah masjid dan orang-orang duafa di sekitar masjid: 


Pengurus Masjid Baitul Ummah memutuskan:

1.   mulai saat ini masjid dibuka 24 jam;

2.   memberikan layanan pada setiap musafir

untuk bermalam di masjid;

3.   mengumrohkan jamaah yang selalu

salat berjamaah lima waktu dan tepat

waktu selama enam bulan berturut-turut;

4.   merenovasi rumah-rumah warga yang

tergolong tidak mampu; dan

5.   memberikan bantuan dana pendidikan bagi

anak-anak jamaah masjid yang berprestasi.

 

     Hasil rapat yang disebarluaskan itu tentu saja disambut gembira oleh jamaah masjid dan warga setempat. Pak Haji Nasir yakin dengan hasil rapat yang telah diketahui banyak jamaah masjid dan warga setempat, infaq masjid akan semakin bertambah. Dia yakin ke depannya masjid yang turut dikelolanya akan semakin makmur sehingga stigma buruk yang sering dicibir orang masjid sebagai `museum` karena hanya dibuka di saat-saat salat atau seperti `menara gading` yang bikin jarak dengan masyarakat di sekitarnya bisa dihindari. Secara khusus, dia juga yakin dengan semakin banyak harta yang dimilikinya yang dikeluarkannya untuk semua kebaikan, Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik.

Kota Bekasi, 13 November 2025.   


Senin, 10 November 2025

Bahasa dan Sastra (234)

 



Di Rumah ini ada Cinta

 Cerpen

Subagio S.Waluyo

 

   Aku baru saja tiba di rumah kakakku di Jakarta setelah perjalanan yang melelahkan dari Melbourne. Udara Jakarta yang cukup panas membuat sekujur tubuhku penuh keringat. AC di ruang kamarku istirahat rasa-rasanya seperti tidak mempan melawan panasnya Jakarta. Tetap saja aku bersimbah keringat. Entah AC di kamar ini yang memang sudah terbilang berumur atau karena panas di Jakarta di musim kemarau ini memang benar-benar luar biasa. Aku terbiasa di Kota Magelang, kota kecil yang dikerubungi gunung-gunung di sekitarnya yang udaranya memang sejuk. Kemudian di Melbourne juga sama udaranya tidak sepanas Jakarta walaupun memasuki masa-masa musim panas. Jakarta buatku tidak cocok dijadikan tempat tinggal meskipun harapan memperoleh kehidupan lebih baik sangat memungkinkan. Aku lebih memilih tinggal di kotaku, Magelang, walaupun untuk mencari nafkah tidak menjanjikan kata orang-orang yang pernah berjibaku di kotaku, di sana ada cinta yang tak tergantikan.

***

“Gil, kamu sudah bangun?”, tanya kakakku mengagetkanku. Kakakku biasa menyapaku `Gil` karena memang aku disebut `Ragil`. Anak bungsu dari empat bersaudara walaupun namaku sebenarnya Muhammad Ridwan. Aku anak laki-laki satu-satunya. Ketiga kakakku perempuan.

“Sudah Mbak.”

“Kok, sebentar bener tidurnya?”, tanya kakakku.

“Panas Mbak. Aku gak tahan lama-lama di sini!”, tegasku.

“Bukannya di ruang kamar kamu ada AC?”, tanya kakakku.

“Ada sih. Saking panasnya kali sampe-sampe AC-nya gak mempan tuh.”

“Kamu mandi sana gih. Biar seger!”, perintah kakakku.

“Ya. Habis mandi aku mau jalan-jalan sama Iman.”

    Aku segera mandi. Selesai mandi dan berpakaian ponakanku, Iman, sudah menantikanku.

“Paklik, jadi ya kita jalan-jalan ke Tebet Echo Park?”, tanya ponakanku.

“Jadilah. Ini Paklik dah siap”, kataku.

“Yuk, Paklik kita jalan”, ajak ponakanku.

     Kami berdua berjalan beriringan ke Tebet Echo Park. Lokasinya dari rumah kakakku tidak terlalu jauh, hanya ± 500 meter. Ponakanku selama dalam perjalanan tidak berhenti-hentinya mengoceh. Sekali-sekali aku coba menimpalinya. Semakin banyak aku timpali semakin banyak ocehannya. Tapi, buatku mendengar ocehannya cukup menyenangkan. Dulu ketika kecil juga sama seperti ponakanku, aku sering mengoceh. Ayah-ibuku tidak pernah sekalipun memutuskan ocehanku, kecuali jika ada orang yang bertamu ke rumahku aku diminta mereka untuk berhenti dulu mengoceh. Itu pun tamu yang bukan dari keluargaku. Memasuki usia dewasa aku cenderung pendiam.

    Tidak terasa kami berdua sampai di Tebet Echo Park. Meskipun sore hari, Tebet Echo Park tetap ramai dikunjungi orang. Mungkin karena hari libur sehingga banyak pengunjung yang masih ingin berlama-lama di taman yang bisa dibilang luas, bersih, dan asri. Ponakanku begitu ketemu dengan teman-temannya langsung nimbrung, ikut main. Aku ditinggal sendirian. Aku sendiri lebih memilih jalan kaki mengitari taman. Sambil berjalan kaki aku memotret beberapa pepohonan yang buatku langka kutemukan. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang seni rupa aku selalu mencari objek menarik yang kelak bisa kujadikan bahan untuk melukis atau membuat kerajinan. Banyak karyaku yang sudah dipamerkan selama aku kuliah di Monash University. Banyak juga yang terjual. Keuntungan dari hasil penjualan karya-karyaku yang lumayan besar kutabung. Sesuai dengan saran ayahku, setiap kali aku mendapat rizki dari manapun aku sisihkan sebagian buat orang-orang duafa atau mereka-mereka yang menjadi korban genosida di Gaza. Aku tidak tahu persis jumlah uang yang tersimpan di rekeningku.   

      Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, dalam hal menempuh pendidikan aku tidak sama dengan ketiga kakakku. Kakakku yang pertama menempuh pendidikan kedokteran di UGM. Begitu selesai kuliah langsung disunting oleh kakak kelasnya sesama lulusan kedokteran. Kakakku kedua dokter gigi juga dari UGM. Dia sama dengan kakakku pertama, begitu selesai kuliah juga langsung disunting oleh seorang saudagar batik dari Jogja. Kakakku ketiga seorang arsitek dari ITB yang saat ini tinggal di Tebet. Aku sendiri lebih memilih bidang seni. Makanya lebih memilih masuk ISI. Tidak seperti kakak-kakakku, sejak SMA pun aku lebih memilih IPS daripada IPA. Dalam masalah menentukan pendidikan lanjutan buat keempat anaknya, orangtuaku boleh dibilang sangat demokratis.

   Ada yang unik dalam keluargaku. Walaupun kami semua telah dewasa dan ketiga kakakku telah berkeluarga, baik ibu maupun ayahku selalu memberikan ciuman di pipi dan kening anak-anaknya. Bukan hanya itu, mereka juga tidak segan-segan satu persatu memeluk keempat anaknya. Aku masih merasakan ciuman di pipi dan kening serta pelukannya yang tentu saja menghangatkanku. Hubungan kami demikian hangat dan mesra. Aku, kakak-kakakku, dan kedua orangtuaku selalu terbuka. Mungkin karena kehangatan hubungan keluarga yang membuat aku berpikir dua kali untuk menikah dalam waktu dekat walaupun ayah-ibuku selalu mengingatkanku untuk cepat-cepat berkeluarga seperti ketiga kakakku. Entahlah sampai berapa lama aku masih berstatus jomblo.

        Tengah aku melamun sambil berjalan, aku dikagetkan ponakanku.

“Paklik, jalan-jalannya udah?”, tanya ponakanku setengah berteriak.

“Kamu sendiri gimana? Dah cukup belum mainnya?”, tanyaku.

“Kalo aku sih terserah Paklik. Kalo Paklik bilang cukup, kita pulang aja. Gimana?”, tanya ponakanku.

“Sebelum pulang aku minta dibeliin es krim ya?”, pintanya.

“Ya. Nanti Paklik beliin”, janjiku.

“Yes!”, teriak ponakanku.

      Kami segera berjalan beriringan pulang ke rumah kakakku setelah sebelumnya mampir sebentar membeli es krim. Ponakanku, sama seperti tadi ketika berangkat, sepanjang jalan sambil menjilati es krimnya tetap saja mengoceh. Aku tetap berempati dengan ocehan-ocehannya. Buatku sikap terbuka ponakanku yang ditunjukkan dengan ocehan-ocehannya merupakan bukti kalau di rumah kakakku juga ditanamkan keterbukaan. Tentu saja, aku yakin di rumah kakakku ditanamkan rasa cinta seperti yang ditanamkan kedua orangtuaku padaku dan ketiga kakakku. Masih dengan sisa-sisa es krim yang tergenggam di tangan kanan ponakanku, tanpa terasa kami tiba di rumah kakakku. Kakakku dan suaminya serta ponakanku kedua, adiknya Iman, menyambut kedatanganku.

“Assalamualaikum!”, teriak ponakanku.

“Waalaikum salam!, serentak mereka menjawabnya.

“Gimana Iman? Dah puas mainnya?”, tanya kakak iparku ayahnya Iman.

“Udah Yah. Tadi aku ketemu teman-teman. Aku tadi main perosotan. Nih, celanaku. Kotor ya?”, sambil berkata begitu ponakanku menunjukkan bagian belakang celananya. Serentak kami tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah laku ponakanku.

“Iaudah kamu ganti celana sana! Sekalian siap-siap salat magrib”, perintah kakakku. Kamipun segera masuk rumah untuk siap-siap salat magrib.

***

“Mbak, besok pagi aku mau pulang”, kataku.

“Mau pulang? Kok, cepet amat. Kamu di sini dulu aja barang seminggu kek”, pinta kakakku.

“Kamu kangen sama ayah-ibu, ya?”, goda kakakku.

“Selain kangen aku juga ada keperluan, Mbak”, kataku.

“Keperluannya apa? Mau minta kawin?”, kakakku masih tetap menggoda.

“Aku gak ada rencana mau kawin, Mbak”, balasku.

“Aku mau menyelesaikan urusan adminstrasi di ISI Jogja.”

“Memang ada urusan apalagi di ISI Jogja?”, tanya kakakku.

“Aku `kan diterima di program doktor. Jadi, aku mau melunasi pembayaran UKT dan beberapa persyaratan administrasinya”, jelasku.

“Alhamdulillah!”, seru Kakakku.

“Lha, kamu gak cari kerja dulu, Gil? Di Jakarta kalo kamu mau cari kerjaan kayaknya lebih gampang, Gil”, jelas kakakku.

“Gak, Mbak. Aku mau jadi dosen seperti Ayah. Sekalian aku mau kuliah S3 di ISI”, jelasku.

“Selain itu, aku mau kembali aktif di Magelang mengurusi yayasan yang punya kepedulian dengan orang-orang duafa”, tambahku.

“Yayasan amal yang dikelola ayah kita dengan teman-temannya?”, tanyanya.

“Ya. Aku dapat info dari ayah yayasan itu memerlukan orang-orang muda yang siap ikut bantu-bantu. Makanya aku mau terlibat di situ, Mbak”, jelasku.

“Wah, kamu benar-benar mau mengikuti jejak ayah, ya?”, tanya kakakku.

“Ya, aku mau mengikuti jejak ayah karena buatku ayah menjadi panutanku”, kataku mantap.  

“Kamu ambil program studi apa, Gil di ISI”, tanya kakakku.

“Program Studi Seni, Mbak.”

“Aku mendaftarnya waktu masih di Melbourne secara online. Tes dan wawacaranya juga dilakukan secara online. Alhamdulillah, aku lulus. Jadi, aku lusa akan menyerahkan bukti-bukti fisik ke ISI”, jelasku.

“Kamu besok naik kereta `kan?”, tanya kakakku.

“Ya, Mbak. Aku dah dapat tiketnya.”

“Iaudah besok pagi-pagi aku antar ke stasiun.”

     Aku memang kangen dengan kedua orangtuaku. Maklum sudah dua tahun aku meninggalkan mereka. Selama dua tahun itu hubungan kami cuma lewat WA atau telepon. Tentu saja komunikasi seperti itu tidak akan pernah memupus kerinduanku pada kedua orangtuaku. Buatku kasih sayang dan perhatian keduanya padaku tak `kan pernah tergantikan. Aku masih dan akan aku selalu ingat belaian ibuku di saat-saat aku mau tidur. Sampai aku dewasa pun masih demikian. Aku juga masih ingat pelukan ayahku yang demikian hangat di saat-saat aku mengalami kegalauan. Ayahku yang tidak pernah berhenti mengingatkanku untuk berhati-hati di jalan disertai untaian doa ketika aku mau berangkat ke Jogja. Memang, selama aku kuliah di ISI Jogja aku indekos di sekitar kampus. Setiap akhir pekan aku pulang ke Magelang. Kalau aku tidak pulang ke Magelang, kedua orangtuaku pasti mengunjungiku di tempat kosanku. Terkadang kalau ibuku tidak bisa ikut mengunjungiku ayahku datang mengunjungiku. Aku tidak pernah risih kalau orangtuaku mengunjungiku walaupun di saat bersamaan teman-teman kuliahku juga berkunjung ke tempat kosanku. Aku beruntung karena begitu aku kos di Jogja, kedua orangtuaku mengantarkanku ke Masjid Jogokariyan. Di masjid itulah aku aktif sebagai remaja masjid. Alhamdulillah, karena keikutsertaanku dalam aktivitas masjid, aku menjadi orang yang jauh dari perilaku buruk. Di Melbourne juga aku melakukan hal yang sama atas saran dari ayahku, aku ikut kegiatan keislaman yang dilakukan oleh teman-teman sesama mahasiswa Islam dari berbagai negara. Aku beruntung punya orangtua yang saleh-salehah. Yang bisa menunjukkan jalan yang benar yang Allah ridhoi.

 

       Rencanaku kalau nanti aku kuliah S3 di ISI Jogja, aku tidak akan kos di Jogja. Aku mau tetap tinggal di Magelang. Aku berencana membeli mobil. Dengan mobil itulah aku akan bolak-balik ke Jogja. Tentang aktivitas di bidang seni tetap aku jalankan. Sangat mungkin selama kuliah di ISI Jogja, aku bisa sering ikut pameran sambil mempromosikan karya-karya seniku. Sewaktu-waktu jika ada kesempatan bisa saja aku ikut pameran di kota-kota besar di Jawa. Pokoknya, aku lebih cenderung tinggal dengan orangtua sambil ikut mengurusi mereka yang sudah mulai sepuh. Aku ingin menunjukkan rasa baktiku pada kedua orangtuaku. Selagi mereka masih hidup aku berprinsip `kapan lagi aku akan berbuat baik pada kedua orangtuaku?`.    

***

    Aku tiba di Stasiun Tugu ketika azan asar berkumandang. Aku segera menuju musala. Selesai salat aku naik Grabcar ke Magelang. Sebelum magrib aku sudah tiba di rumah. Orangtuaku menyambutku dengan penuh keharuan dan kegembiraan karena sudah dua tahun tidak berjumpa dengan anaknya yang ragil. Aku juga ikut terharu dan gembira karena masih bisa bertemu dengan orangtuaku. Ayahku seperti biasa selain mencium kedua pipiku dan keningku juga memelukku dengan erat. Pelukan kasih sayang orangtua pada anaknya. Aku masih melihat rumah orangtuaku masih seperti yang dulu. Rumah besar tapi sederhana. Rumah tempat aku dilahirkan. Rumah warisan kakekku yang telah tiada. Walaupun hanya beratapkan genteng kodok yang warnanya sudah kusam dengan ubin lama dan dinding rumah yang juga catnya di sana-sini sudah terkelupas, kami yang pernah menetap di sana masih merasakan adanya cinta. Inilah rumah cinta yang di dalamnya selalu ada cinta. Kami berempat menyebutnya sebagai rumah cinta karena memang di sana ada cinta. Bukankah kita memang membutuhkan cinta seperti yang disenandungkan John Lennon, pentolan The Beatles, band kenamaan yang menyenandungkan: “All You Need Is Love. All You Need Is Love. All You Need Is Love…Love. Love Is All You Need?” 

Kota Bekasi, 11 November 2025.

 

     

 


Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...