Ustad itu yang
Membunuh Ibumu
Cerpen
Subagio S.Waluyo
Laki-laki
tua itu dengan tajamnya menatap Ustad Nur Rohmat. Mata tuanya nyaris tidak
berkedip seperti menelanjanginya.
Laki-laki tua itu tidak percaya dengan penglihatannya karena yang ada di
hadapannya sangat dikenalinya. Orang inilah yang empat puluh tahun lalu
membunuh istrinya. Dia masih mengenalinya dari codet yang cukup panjang di pipi
kanannya. Ustad Nur Rohmat yang disorot oleh mata tua itu lagi-lagi grogi.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika itu terjadi empat puluh tahun lalu, ketika
dia masih muda dulu orang yang menatap seperti itu langsung saja tidak perlu
`ba-bi-bu` sudah pasti tangannya akan bicara. Tapi, itu cerita dulu empat puluh
tahun lalu. Kini Ustad Nur Rohmat sudah memasuki usia 72 tahun. Dia sudah bukan
lagi orang muda. Dia telah menjadi seorang tua yang renta yang tubuhnya sudah
mulai digerogoti rasa tidak enak. Belum sempat dia berkata pada laki-laki tua
yang menatapinya, laki-laki itu berkata setengah berteriak.
“Orang ini yang telah membunuh
istri saya. Empat puluh tahun lalu dengan teganya dia tancapkan sebuah belati
ke tubuh istri saya.”
Anak laki-laki tua yang mendengar
ucapan ayahnya sempat terkejut. Mendengar ayahnya yang mengatakan itu, dia
seperti tidak percaya. Tapi, dia berusaha menenangkan diri. Tidak demikian
dengan KH Mudofhir, dia cenderung bergeming. Dari air mukanya yang teduh tidak
ada sama sekali keterkejutan. Dia memang sudah tahu siapa Ustad Nur Rohmat.
Ustad yang 28 tahun lalu menemuinya dan minta mengabdi di pondok pesantren yang
diasuhnya. Waktu itu usia KH Mudhofir masih tergolong muda baru 26 tahun. Baru
saja selesai Pendidikan S2 di Timur Tengah. Begitu selesai
pendidikan oleh Perserikatan Muhammadiyah diminta menjadi guru sekaligus
pembina pondok pesantren. Sementara itu, Ustad Nur Rohmat telah memasuki usia
42 tahun. Jadi, selisih umur mereka cukup jauh. Meskipun masih tergolong muda,
sebagai pengasuh pondok pesantren KH Mudhofir menampakkan sikap kebapakannya di
hadapan Ustad Nur Rohmat. Sikap itulah yang menjadikan Ustad Nur Rohmat menaruh
hormat pada KH Mudhofir. KH Mudhofir bagi Ustad Nur Rohmat bukan saja sebagai
gurunya, tapi juga menjadi orangtuanya yang selalu memberikan banyak wejangan
padanya.
“Saya membunuh istri Bapak?”,
tanya Ustad Nur Rohmat heran (Sebenarnya Ustad Nur Rohmat di dalam hatinya dia mengakuinya kalau memang
dia pernah membunuh seorang wanita ketika melakukan pencurian di sebuah rumah
mewah di Jakarta. Tapi, dia masih berkeinginan untuk membela diri).
“Ya. Kamu yang membunuh istri
saya. Saya masih
mengenali wajahmu dari bekas luka di pipi kananmu”, masih setengah berteriak
laki-laki tua itu berkata. (Ustad Nur Rohmat
yang disapa `kamu` sempat kaget juga karena selama ini tidak ada seorangpun
yang menyapanya `kamu`. Di kalangan pondok pesantren, baik santri maupun
orangtua santri atau jamaah masjid sekalipun menyapanya dengan `Ustad` atau
`Pak Haji`. Dia bisa menerima sapaan itu karena orang yang menyapanya dalam
kondisi emosi).
“Apa? Saya telah membunuh istri
Bapak?”, Ustad Nur Rohmat berupaya untuk ngeles (Sekali lagi Ustad Nur
Rohmat masih berupaya membela diri).
KH Mudhofir yang berada di situ
langsung menengahinya.
“Sudah…sudah. Jangan diteruskan
pertikaian ini. Nanti saya saja yang coba bicara dengan Ustad Nur Rohmat. Insya
Allah akan ada jalan keluarnya. Ustad Nur Rohmat, sampean ikut saya ke rumah!”,
perintah KH Mudhofir.
“Saya ajak ke
luar ya, Ustad Nur Rohmat? Assalamualaikum!”, kata KH Mudhofir memberi salam.
“Waalaikum
salam”
“Silakan Pak
Kyai. Daripada saling debat sebaiknya dibicarakan Pak Kyai dengan Ustad Nur
Rohmat”, kata anak laki-laki tua itu mempersilakan.
***
Sepeninggal KH Mudofhir dan Ustad Nur Rohmat ada keheningan. Keduanya,
laki-laki tua dan anak laki-lakinya yang memasuki usia 40-an tahun sama-sama
terdiam. Tiba-tiba saja laki-laki tua itu buka suara.
“Yunus.
Laki-laki tua itu yang telah membunuh ibumu empat puluh tahun lalu. Ayah memang
belum pernah bercerita padamu tentang peristiwa yang berakibat wafatnya ibumu.
Waktu itu usiamu belum genap satu tahun. Sehabis salat tahajud ibumu mendengar
ada orang yang masuk ke rumah kita. Spontan ayah dan ibumu sama-sama menuju
pintu rumah yang sudah terbuka. Ternyata, di kamar tidur sudah ada orang yang
berhasil membawa perhiasan ibumu dan sedikit uang. Ibumu berusaha menghalangi
laki-laki asing itu. Laki-laki itu langsung menghunuskan belatinya dan
menusukkan ke tubuh ibumu. Ayah sempat menangkap tubuh ibumu yang berlumuran
darah. Sementara laki-laki itu melihat korbannya terkapar kabur dari rumah
kita. Ayah masih sempat melihat wajahnya. Di pipi kanannya ada codet bekas
luka. Codet bekas luka itu persis seperti yang ayah lihat hari ini, di sini.
Ayah yakin, laki-laki tua itu yang sebaya dengan ayah yang telah menghabisi
nyawa ibumu”, kata laki-laki tua itu menutup ceritanya.
Selesai menyampaikan peristiwanya di
masa lalu. Laki-laki tua dan anak laki-lakinya lagi-lagi sama terdiam. Ada
keheningan. Laki-laki tua itu menitikkan air matanya. Sang anak melihat ayahnya
menangis tanpa dia sadari juga sama-sama menitikkan air matanya. Dia tidak
menyangka Ustad Nur Rohmat yang kesehariannya sebagai orang kepercayaan KH
Mudhofir dan menjadi guru mengaji anaknya ternyata mantan seorang penjahat yang
menghabisi nyawa ibunya. Selama ini ayahnya tidak pernah bercerita kalau ibunya
wafat karena dibunuh oleh seorang penjahat. Begitu pun dengan paman-paman dan
bibi-bibinya tidak ada yang bercerita. Mereka seperti sepakat menutup aib
kematian ibunya. Kalau saja dia tidak membawa ayahnya ke pondok pesantren untuk
menengok anak laki-lakinya yang mondok di pondok pesantren ini, dia tidak
mungkin tahu kalau ibunya wafat karena dibunuh. Dia juga tidak akan tahu kalau
pembunuh ibunya adalah seorang ustad yang hampir tiga tahun ini hubungannya
demikian dekat, baik dengannya maupun dengan anak laki-lakinya yang menjadi
santri di pondok pesantren ini. Dengan sedikit keberanian anak laki-lakinya
membuka suara.
“Ya, Ayah. Aku
percaya cerita Ayah. Aku bingung Ayah, aku harus berbuat apa setelah mendengar
cerita Ayah? Aku dan anakku demikian baik dengannya Ayah. Aku bersyukur banyak
perubahan pada anakku semenjak menimba ilmu di pesantren ini. Anakku jadi taat
pada agama, berakhlak baik dan memiliki hafalan Quran yang cukup banyak. Ustad
Nur Rohmat itu termasuk ustad santun dan berilmu yang memadai di pesantren ini.
Sekali lagi, aku harus berbuat apa Ayah? Aku benar-benar bingung Ayah”, kata
anaknya sedikit iba meminta pendapat ayahnya.
“Nyawa harus
dibalas dengan nyawa, Yunus!”, kata ayahnya tegas.
“Jadi, aku
harus membunuh Ustad Nur Rohmat?”, tanya anaknya kaget mendengar perkataan
ayahnya.
“Kalau kamu
tidak mau membunuhnya, ayah yang akan menghabisi nyawanya. Itu yang adil, Yunus.
Untuk itu ayah siap masuk penjara!”, kata ayahnya tegas.
“Aku terus
terang tidak mau membunuh Ustad Nur Rohmat walaupun dia pernah membunuh ibuku.
Bagiku terlalu berisiko membunuh seorang ustad yang sudah mengabdi di pesantren
ini hampir tiga puluh tahun yang telah berhasil membentuk perilaku anak-anak
didiknya. Anak-anak yang semula malas beribadah, seperti anakku menjadi anak
yang taat beribadah. Aku cenderung memaafkan kesalahannya. Toh, dia juga `kan
paling tidak pernah tersiksa dengan perbuatan buruknya. Aku yakin ketika mau
mengabdi di pesantren ini, dia sudah menyampaikan terus terang ke Pak Kyai
siapa dirinya dan perbuatannya di masa lalu. Pak Kyai setahuku tidak sembarang
orang bisa diterima mengabdi di pesantren ini. Maafkan aku Ayah kalau aku tidak
bersedia memenuhi permintaan Ayah. Aku juga minta Ayah untuk memaafkan
kesalahannya. Kita tutup saja lembaran hitam di masa lalu walaupun terasa
pahit. Gimana Ayah? Ayah mau menerima saranku?”, tanya anaknya.
Ayahnya tidak segera menjawab. Dia masih tercenung. Air matanya masih menitik
keluar dari kedua kelopak matanya. Meski demikian, dia paksakan untuk bicara.
“Kamu bisa
saja bicara seperti itu. Ayah gak bisa melupakan peristiwa saat itu. Peristiwa
yang menyakitkan. Ayah baru dua tahun mengecap hidup berumah tangga. Baru punya
anak kamu. Tiba-tiba saja ada peristiwa yang membuat hati ini perih. Kamu
bayangkan setelah peristiwa itu, ayah hidup menduda dengan satu anak. Terpaksa
ayah minta adik ayah, bibimu, merawat kamu. Kalo saja tidak ada bibimu, apa
mungkin ayah bisa merawatmu?”, kenang ayahnya.
“Tapi ayah
kawin lagi `kan? Dan ibu sambungku yang sudah seperti ibu sendiri demikian
sayang padaku. Dia juga tidak membeda-bedakan aku sebagai anak tiri dengan
adik-adikku sebagai anak-anak kandungnya”, anak laki-lakinya mengingatkan.
“Ya, ayah
bersyukur mendapatkan seorang istri yang juga sama salehahnya dengan ibumu.
Tapi, ayah belum bisa melupakan kejadian yang menyakitkan itu. Anakku”, katanya
sedih.
“Memang Yah,
kalau diingat-ingat akan selalu menyakitkan. Semua orang juga sama pikirannya
seperti Ayah. Aku mau tanya apa cuma ayah saja yang tahu pembunuh ibuku?”,
tanya anaknya.
“Paman-pamanmu
dan bibi-bibimu dari pihak ayah dan ibumu juga tahu”, jawab ayahnya.
“Terus setelah
dia membunuh ibuku, dia gak ditangkap polisi dan diadili?”, tanya anaknya.
“Dia
menyerahkan diri ke polisi. Dia kabarnya minta dihukum”, jelas ayahnya.
“Berarti
setelah membunuh ibuku, dia sadar akan perbuatannya. Kalo gitu berapa lama dia
dihukum?”, tanya anaknya.
“Setahuku
vonis pengadilan waktu itu menetapkan lima belas tahun. Ayah kurang tahu berapa
lama dia mendekam di jeruji besi. Bisa saja dia mendapatkan remisi sehingga
tidak menjalankan hukuman selama lima belas tahun”, jawab ayahnya.
“Kalo sudah
menyerahkan diri ke polisi, dia terus minta dihukum karena perbuatannya berarti
dia sudah punya niat baik, Yah”, jawab anaknya seperti menceramahinya.
“Kalo sudah
punya niat baik, mungkin selepas dari penjara dia mengabdi di pesantren ini karena
setahuku dia sudah 28 tahun di sini, dia berkeinginan untuk menghapuskan segala
kesalahannya dengan mengabdi di sini. Aku lihat di sini, walaupun jarak usianya
sangat jauh dengan santri-santrinya dia bisa mengajar dengan baik. Anak-anak
santrinya akrab dengannya. Mereka enjoy-enjoy aja kayaknya Yah. Apa ayah
tega mau membunuh laki-laki tua yang sudah sama tuanya dengan Ayah? Aku sulit
membayangkan akan jadi apa pesantren ini kalau seorang ustadnya mati terbunuh.
Sekali lagi aku usul, yang sudah lewat gak usah diusik-usik lagi. Menyakitkan
Yah. Aku ajak ayah untuk memaafkannya. Maaf Yah, ini sekedar usul. Aku serahkan
semuanya ke Ayah bagaimana baiknya”, kata anaknya seperti menceramahi ayahnya.
Sang ayah, laki-laki tua itu sempat
tercekat mendengar ucapan anaknya. Berat rasanya menerima usul anaknya.
Meskipun demikian, akhirnya keluar juga ucapannya.
“Ya, ayah
menerima usulmu. Tapi, agar batin ini tidak tersiksa karena biar gimana pun
setiap kali ayah melihat wajahnya akan selalu terbayang peristiwa pembunuhan
itu. Gimana caranya, Yunus?”, laki-laki tua itu meminta saran dari anaknya.
“Kita tunggu
saja putusan Pak Kyai, Yah!”, saran anaknya.
“Ya, kita
tunggu saja.”
“Sambil menunggu
putusannya, sekarang kita ke masjid saja”, ajak anaknya.
***
KH Mudhofir mengajak Ustad Nur Rohmat
ke rumahnya. Ustad Nur Rohmat sama sekali terdiam. Tidak seperti biasanya Ustad
Nur Rohmat yang dikenal banyak bicara, kali ini seperti tidak berdaya di
hadapan KH Mudhofir. Dia merasa bersalah persis seperti 28 tahun lalu ketika
menghadap KH Mudhofir yang kini telah memasuki usia 54 tahun. KH Mudhofir yang
sudah menampakkan ketuaannya menyilakan Ustad Nur Rohmat duduk. Dia masuk ke
dalam ruangan dan meminta istrinya untuk membuatkan kopi. Setelah dua cangkir
kopi terhidang disertai dengan penganan kampung, KH Mudhofir mempersilakan
Ustad Nur Rohmat meminum kopinya.
“Ustad Nur
Rohmat, di luar sepengetahuan kita, ada orang yang mengenali sampean. Ini semua
merupakan qodarullah yang gak bisa kita pungkiri. Saya ada usul gimana
kalo sampean hijrah dulu selama enam bulan ke pesantren yang diasuh teman saya
di Bumiayu? Sama seperti pesantren yang kita asuh masih sama-sama dari
Perserikatan Muhammadiyah. Nanti setelah anaknya Pak Yunus selesai pendidikan
di sini, sampean balik lagi ke sini?”, saran KH Mudhofir.
“Saya ikuti
saran Pak Kyai saja”, kata Ustad Nur Rohmat.
“Baik. Nanti
saya kontak dulu teman saya itu. Sekarang sampean siap-siap saja berangkat.
Sampean cukup berangkat berdua dengan istri. Anak-anak sampean yang masih mengabdi
biar di sini saja. Gak usah ikut sampean. Nanti selama enam bulan salah seorang
anak sampean menggantikan sampean”, saran Pak Kyai.
“Nanti ada
yang mengantar sampean berdua ke sana”, tambahnya.
“Baik Pak
Kyai!”
“Ayo, dihabisi
dulu kopinya. Itu rengginangnya dimakan! Sampean sekarang tenang aja. Insya
Allah akan selalu ada jalan terbaik buat kita. Nanti kalo dipikirin jadi stres.
Jangan sampe jadi ustad stres. Kalo ustadnya stres gimana anak-anak didiknya?
Bisa-bisa ikut stres”, kelakar Pak Kyai mencairkan kebekuan seolah-olah seperti
tidak ada masalah di antara mereka berdua.
“Ya, Pak Kyai”
Setelah menghabisi kopinya, Ustad Nur Rohmat pamit pada Pak Kyai.
Sebelum Ustad Nur Rohmat melangkah ke luar. KH Mudhofir memberikan amplop
berisikan uang. Ustad Nur Rohmat menolak pemberian itu (Sekedar basa-basi
walaupun akhirnya menerima juga).
“Ini sekedar
uang sangu buat sampean sama istri di jalan. Nanti kalo sudah enam bulan di
sana, jangan lupa sampean sama istri balik ke sini lagi. Biar sampean sudah tua
tenaga sampean masih dimanfaatkan di sini. Nanti sampean berangkat diam-diam
saja. Gak perlu nemuin mereka”, pesan Pak Kyai.
“Ya, Pak Kyai.
Saya dan istri akan balik ke sini. Mohon doanya Pak Kyai biar saya dan istri
bisa mengabdi di Bumiayu”, pintanya.
“Saya akan
tetap mendoakan kalian berdua. Buat saya, kalian sudah menjadi bagian dari
pesantren ini”, kata Pak Kyai mantap.
“Saya pamit
Pak Kyai. Assalamualaikum”, Ustad Nur Rohmat pamit seraya memberi salam.
“Waalaikum
salam. Maassalamah wa fi amanillah”, kata Pak Kyai sambil mendoakan.
“Amin. Yaa
robbal alamin!”, Ustad Nur Rohmat mengaminkannya.
***
Sehabis salat zuhur di rumahnya, Ustad
Nur Rohmat diam-diam berangkat ke Bumiayu. Selama di pesantren baru kali ini
Ustad Nur Rohmat salat di rumahnya dengan istrinya. Ustad Nur Rohmat sudah
menyampaikan ke istrinya kalau siang itu juga harus berangkat ke Bumiayu. Dia
sengaja tidak menyampaikan alasannya. Dia berjanji nanti ketika sampai di
tempat yang dituju baru akan disampaikan. Mereka diantar supir KH Mudhofir.
Sementara itu, KH Mudhofir menemui laki-laki tua dan anaknya di masjid.
Rupanya, kedua orang itu sudah menunggu kedatangannya.
“Assalamualaikum”,
sapa KH Mudhofir memberi salam.
“Waalaikum
salam”, jawab mereka serentak.
“Jadi, gimana
Pak Kyai putusannya?”, tanya laki-laki tua itu penasaran.
“Alhamdulillah
urusannya sudah selesai. Saya sudah minta Ustad Nur Rohmat dan istrinya
meninggalkan pesantren ini”, jawab KH Mudhofir.
“Mudah-mudahan
dengan perginya Ustad Nur Rohmat, Bapak yang mungkin gak bisa menghilangkan
peristiwa yang menyakitkan itu terobati”, jelas KH Mudhofir.
“Amin”, jawab
kedua orang itu.
“Jadi, begini
Pak. Dulu waktu Ustad Nur Rohmat ingin mengabdi di pesantren cerita sama saya
masa lalunya. Dia memang empat puluh tahun lalu pernah membunuh seorang Wanita
yang mencoba menghalanginya ketika mencuri di rumahnya. Karena dihalangi,
secara spontan dia menikam tubuh wanita yang menghalanginya. Gak ada rencana
dia membunuh istri Bapak”, sambil berkata begitu KH Mudhofir menatap wajah
laki-laki tua yang persis di hadapannya.
“Kalau
berencana membunuhnya, dia mungkin akan dihukum lebih berat lagi. Bisa saja dia
dihukum mati”, tambah KH Mudhofir.
“Selama mengabdi di sini di pesantren ini aman-aman saja. Malahan seperti yang Bapak lihat pesantren ini terpelihara kebersihannya karena memang setiap hari dia dibantu para santri dan beberapa ustad yang lain mengurusi kebersihan pesantren. Lihat saja itu di depan masjid, tanaman-tanamannya terpelihara. Kami di sini selama ada Ustad Nur Rohmat tidak pernah beli sayur atau ikan ke luar karena semuanya terpenuhi dari kebun dan kolam ikan yang ada di pesantren ini. Dia juga bercerita selama di penjara dua belas tahun banyak bertobat dan berzikir. Di penjara dia belajar baca Quran. Dia juga belajar ilmu agama dan beberapa keterampilan lainnya di luar agama. Di pesantren ini karena pengabdiannya luar biasa, kami berangkatkan haji dia sama istrinya beberapa tahun lalu. Karena di pesantren ini juga ada biro perjalanan umroh hampir setiap tahun dia ikut menjadi pembimbing. Saya sangat bersyukur kalau bapak-bapak tidak menaruh dendam padanya. Saya sulit membayangkan kalau bapak-bapak tidak bersedia memaafkannya. Apa lagi sampai berniat menghabisi nyawanya. Saya sangat berharap bapak-bapak juga anggota keluarga yang lain yang empat puluh tahun lalu tahu persis peristiwa itu bisa memaafkan kesalahannya”, kata KH Mudofhir penuh harap.
“Kami berdua sudah memaafkan kesalahannya Pak Kyai. Cuma saya secara pribadi tadinya meminta agar Ustad Nur Rohmat dikeluarkan saja dari pesantren ini. Ternyata, Pak Kyai sudah mengeluarkannya ya?”, tanya laki-laki tua itu.
“Bukan
dikeluarkan tapi dimutasikan ke pesantren lain yang tidak perlu bapak-bapak tahu
tempatnya”, jelas KH Mudhofir.
“Terus gimana
nanti dengan pesantren ini Pak Kyai?”, tanya anaknya.
“Pesantren ini
Insya Allah ada yang siap menggantikannya. Anak-anaknya yang dari
Al-Azhar, Mesir, siap menggantikannya. Ilmunya lebih baik dari bapaknya.
Untuk mengurusi kebun, kolam-kolam ikan, dan ternak kambing sudah ada beberapa
orang yang siap mengurusinya. Insya Allah semuanya bisa tertangani”, kata KH
Mudhofir.
“Kita doakan
saja semoga mereka berdua bisa mengabdi di tempat yang baru”, kata KH Mudhofir
penuh harap.
“Amin. Yaa
robbal alamin”, kata mereka berdua.
“Saya kira
untuk sementara sudah cukup ya? Saya mau ngasi pengajian di luar. Silakan kalau
mau ikut makan siang sama ustad-ustad dan anak-anak santri. Assalamualaikum”,
KH Mudhofir memberi salam seraya mengulurkan tangannya kepada kedua orang itu.
“Waalaikum
salam. Maafkan saya Pak Kyai”, kata laki-laki tua itu.
“Sama-sama
Pak, saya juga minta maaf”, jawab KH Mudhofir.
KH Mudhofir
langsung meninggalkan mereka karena sudah ditunggu oleh orang yang akan
menjemputnya untuk mengisi pengajian di luar pesantren.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)