Kamis, 15 Januari 2026

Bahasa dan Sastra (240)




Matinya Seorang Lapendos

 Cerpen

 Subagio S.Waluyo

 

      Laki-laki tua yang jasadnya sekarang tersungkur ketika salat duha di masjid itu mengaku dirinya sebagai `lapendos`. Tapi, laki-laki tua itu bukan anggota komunitas gangster yang populer di Samarinda yang sampai saat ini melakukan perilaku menyimpang. Di akhir-akhir hidupnya dia jauh dari perilaku menyimpang. Malah bisa dikatakan semakin bertambah umur laki-laki tua itu semakin dekat pada Allah. Aku lihat di masjid dia bukan cuma menunaikan ibadah-ibadah yang wajib saja, tapi juga ibadah-ibadah yang sunah pun dia kerjakan. Tentang `lapendos` itu sendiri ternyata di lengannya sebelah kanan ada tato besar bertuliskan LAPENDOS yang kepanjangannya `laki-laki penuh dosa`. Tato yang ada di sebelah kanannya dibuat di tahun `80-an ketika dia masih menjadi pelaut. Aku tidak tahu kenapa di tahun-tahun ketika banyak preman bertato diburu pembunuh misterius (petrus) justru dia membuat tato di lengannya. Bahkan, sebelumnya di tahun `60-an dia juga membuat tato berupa gambar jangkar. Gambar itu lebih menunjukkan kalau laki-laki tua yang sekarang telah dicabut nyawanya oleh Allah itu bekerja sebagai pelaut.

***

          Laki-Laki tua yang sering disapa `Pak Haji Murad` itu telah berada di masjid ini sejak dua puluh tahun lalu. Waktu itu usianya baru enam puluh tahun. Di umur enam puluh tahun dia telah hidup menduda. Pada waktu itu dia masih bekerja pada orangtuaku sebagai tukang kebun yang merawat halaman rumah orangtuaku yang terbilang cukup luas. Di hari-hari tertentu ketika kami sekeluarga bepergian ke luar kota, dia  diminta menjaga rumah. Pak Haji Murad teman baik ayahku yang kini telah tiada. Mereka bukan hanya satu kampung, tapi juga dari sisi usia tidak terpaut jauh. Ayahku lebih tua dua bulan dari Pak Haji Murad. Ayahku menerima  kehadirannya karena keluarga Pak Haji Murad bersebelahan rumah dengan keluarga orangtuaku. Ayahku tahu persis tentang perilaku Pak Haji Murad ketika masih bekerja sebagai pelaut. Meskipun selama menjadi pelaut banyak melakukan penyimpangan, begitu pensiun dia mendatangi orangtuaku dan langsung menyatakan dirinya bertobat. Aku masih ingat kata-kata yang dilontarkan Pak Haji Murad ketika menghadap ayahku waktu itu.

“Man, aku mau tobat”, katanya.

“Syukurlah kalau kau mau bertobat”, kata ayahku.

“Aku mau tinggal di masjid. Aku mau jadi marbot di masjid dekat rumahmu ini.”

“Kenapa kau tidak tinggal di sini saja?”, tanya ayahku.

“Kau `kan bisa bolak-balik dari masjid ke rumahku ini. Lagi pula di masjid sudah banyak orang yang bantu-bantu. Jadi, tidak banyak pekerjaan yang kau kerjakan di masjid”, jelas ayahku.

“Aku sudah banyak dosa dan kesalahan. Aku mau menjadikan malam-malamku `tuk bertobat”, jelasnya.

“Aku tidak mau mengganggu waktu-waktu istirahatmu sekeluarga. Kalo nanti dini hari ke masjid, aku yakin akan mengganggu kalian sekeluarga. Aku mau mati di masjid, Man! ”,  katanya tegas berusaha meyakinkan ayahku.

“Kalau kau maunya seperti itu, ya sudah. Silakan kau tinggal di masjid. Tapi, urusan kebunku, kau yang urus ya?”, tanya ayahku.

“Insya Allah selagi aku ada tenaga, akan aku urus kebunmu.”

***

       Sejak saat itu, Pak Haji Murad tinggal di masjid. Dia bolak-balik ke rumahku bantu-bantu mengurusi kebunku. Sampai ayahku wafat sepuluh tahun yang lalu, dia masih aktif bekerja. Tapi, di usia tujuh puluh tahun aku terpaksa mencari orang untuk menggantikannya. Tak terasa sudah dua puluh tahun Pak Haji Murad tinggal di masjid dan bekerja sebagai marbot masjid. Sebagai marbot masjid walaupun usianya sudah memasuki usia lansia, dia masih cekatan untuk bekerja. Selama bekerja bantu-bantu sebagai marbot di masjid, dia tidak pernah mengeluhkan pendapatannya yang diperoleh karena memang sejak awal dia berniat tinggal di masjid untuk ibadah dan bertobat. Aku sendiri atas wasiat ayahku sebelum wafat meminta aku untuk kirim-kirim makanan dan uang ke Pak Haji Murad. Jadi, setiap siang menjelang zuhur istriku menyuruh tukang kebun mengantarkan makanan untuk Pak Haji Murad. Tentang siapa itu Pak Haji Murad, aku dapatkan ceritanya dari dia langsung ketika suatu saat aku datang mengunjunginya di masjid.

      Ayahku dan Pak Haji Murad sama-sama satu sekolah sampai SMP. Karena orangtua ayahku tergolong berkecukupan, ayahku beruntung bisa meneruskan ke SMA sampai ke perguruan tinggi kedinasan walaupun harus sekolah di Jakarta. Pak Haji Murad tidak demikian, dia tidak meneruskan pendidikannya ke SMA. Orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikan anaknya untuk melanjutkan ke SMA. Selain itu, Pak Haji Murad orangtuanya memiliki delapan anak. Pak Haji Murad sendiri anak yang kelima dari delapan anak. Jadi, Pak Haji Murad tidak meneruskan pendidikannya. Meskipun demikian, Murad kecil tidak kecewa. Dia menerima nasibnya. Semula dia bekerja membantu-bantu ayahnya di sawah dan kebunnya. Seorang tengkulak yang biasa berkeliling desa melihat Murad kecil giat membantu orangtuanya bekerja di sawah dan kebunnya, memintanya untuk ikut bantu-bantu di kebun milik sang tengkulak itu. Suatu saat ketika ada tawaran bekerja dari sang tengkulak untuk bekerja di kapal laut tanpa pikir panjang Murad muda yang waktu itu telah memasuki usia dua puluh tahun menyetujuinya.

        Semula orangtua Murad muda tidak setuju dengan keinginan anaknya bekerja di kapal laut. Tapi, Murad muda yang mengancam akan kabur dari rumahnya jika tidak diijinkan, akhirnya orangtuanya menyetujuinya. Murad muda yang hanya berpendidikan SMP pada waktu itu sebenarnya memiliki kecerdasan yang cukup memadai bisa diterima bekerja. Bukan hanya memiliki kecerdasan, Murad muda pada waktu itu juga bertubuh sehat dan atletis sehingga mudah diterima bekerja sebagai pelaut. Setelah urusan administrasi, akademis, dan kesehatannya selesai. Murad muda mengikuti pelatihan selama seminggu. Selesai pelatihan, dia langsung diangkat sebagai pegawai di perusahaan pelayaran. Murad muda tidak menunggu lama karena beberapa hari setelah pengangkatannya sebagai pegawai pelayaran, dia langsung ikut berlayar. Ada sebuah kegembiraan yang tidak terbayangkan bagi Murad muda, cita-citanya yang memang sejak masih sekolah di bangku SR ingin berlayar terkabul.

       Murad muda semula orang yang taat beribadah. Dia juga termasuk anak yang patuh dan menaruh hormat pada orangtuanya. Setiap kali menerima gaji dan tips dari penumpang kapal, dia sisihkan buat orangtuanya. Pergaulan di kapal yang terbiasa dengan miras dan perempuan akhirnya juga terjadi pada Murad muda. Sebagai seorang Muslim, dia mulai meninggalkan kewajibannya. Dia hanya mengerjakan salat jumat karena menurutnya kalau seorang Muslim meninggalkan tiga kali berturut-turut salat jumat bisa menjadi kafir. Untuk menghindari jangan sampai menjadi seorang kafir, dia terpaksa mengerjakan salat jumat. Sementara itu, kiriman uang ke orangtuanya hanya dilakukan sekali-sekali. Murad muda telah berubah 180 derajat bukan hanya nyaris lupa agamanya, tapi juga lupa orangtuanya.

***

          Suatu saat dia mendapat kabar kalau ayahnya jatuh sakit. Pada saat itu dia baru saja selesai bercinta dengan seorang pelacur di salah satu kota di Eropa. Dia hanya menyampaikan telegram belasungkawa dan sedikit kiriman uang duka buat keluarganya karena uangnya memang nyaris habis buat main perempuan dan miras. Dengan masih setengah teler, dia minta tolong pada teman kerjanya untuk mengirimkan telegram belasungkawa dan menitip uang duka buat keluarganya. Begitupun ketika ibunya wafat, dia masih dalam kondisi teler melakukan hal yang sama. Sepuluh tahun kemudian ketika dia memasuki usia tiga puluh tahun terpikir juga untuk berkeluarga. Karena selama sepuluh tahun bekerja di kapal tidak pernah mengambil cuti, ketika kapalnya berlabuh di Tanjung Priok, dia langsung minta cuti selama satu bulan. Dia berniat menikahi Sumiyati, pelacur di Kramat Tunggak yang biasa disetubuhi dan sekaligus dijadikan pacarnya. Sumiyati sudah cukup lama berkeinginan untuk mengakhiri jalan hidupnya yang terbilang kotor. Begitu ada tawaran untuk menikah, spontan dia setujui. Diajaknya Murad muda ke kampung halamannya di Baturetno. Di kota kecil itulah mereka menikah. Tanpa terasa masa cuti buat Murad muda telah berakhir. Dia harus kembali melaut. Semula sang istri keberatan kalau suaminya kembali bekerja di kapal karena dia tahu persis perilaku pelaut. Karena pada waktu itu Murad muda tidak siap untuk beralih pekerjaan, terpaksa Sumiyati melepas kepergian sang suami untuk kembali bekerja sebagai pelaut.

   Murad muda yang kembali bekerja sebagai pelaut, kembali juga pada kebiasaannya yang buruk. Tapi, karena dia mulai sadar kalau sudah punya istri yang wajib dinafkahi, walaupun terhitung sedikit dia mengirimi istrinya uang.Sang istri yang memang telah terlebih dahulu benar-benar meninggalkan dunia hitam setiap kali mendapat kiriman uang ditabungnya. Untuk mengisi waktu-waktu luangnya dia bekerja sambilan. Dia juga merasa dari hubungan suami-istrinya dengan Murad Muda ada benih yang tumbuh di rahimnya. Dia yakin kalau dia mengandung. Benar saja sepuluh bulan setelah menikah dengan Murad muda, dia melahirkan bayi kecil perempuan. Dia beri nama anaknya: Maryam karena memang dia berkeinginan agar anaknya menjadi seorang wanita suci seperti yang sering dibacanya dalam kisah wanita-wanita solehah.

***

     Meskipun terpisah jauh dengan suaminya, Sumiyati tetap setia. Dia tidak berkeinginan untuk selingkuh. Dia tahu persis kalau suaminya pasti di setiap pelabuhan punya kekasih. Bukan hanya di setiap pelabuhan di kapal pesiar pun dia yakin istrinya selingkuh dengan banyak perempuan. Jika sang suami pulang, dia tetap melayaninya. Karena memang sudah qodarullah, sampai di usia pernikahannya yang menginjak 25 tahun, dia tidak pernah mengandung lagi. Jadi, mereka hanya punya anak semata wayang. Anak semata wayang ini karena diasuh oleh ibunya yang terbilang solehah menjadi anak yang juga solehah walaupun sang ayah masih berpetualang dengan banyak perempuan. Maryam yang tidak pernah merasa punya ayah, ternyata secara akademis juga termasuk anak yang berprestasi. Terbukti dia bisa memperoleh gelar sarjana dari PTN ternama di Solo. Bukan hanya itu, dia juga memboyong ibunya ke Solo setelah diterima bekerja sebagai PNS di Kantor Pemda Kota Solo. Murad yang sudah tidak muda lagi suatu kali di kapal pesiar bertemu dengan seorang Arab yang boleh dikatakan seorang alim. Orang Arab itu berpesiar bersama anak-anak dan istrinya. Dia melihat orang Arab ini dari keluarga yang boleh dikatakan keluarga orang-orang yang alim. Mereka orang-orang yang taat beribadah. Entah mengapa ada ketertarikan buat Pak Murad yang sudah tidak muda lagi mendekati laki-laki tersebut. Dari perkenalannya dengan orang Arab alim itu, Pak Murad akhirnya berkeinginan untuk bertobat. Satu tahun kemudian setelah pertemuannya dengan orang Arab alim itu, Pak Murad menjalani masa pensiun. Begitu memasuki masa pensiun dia segera bergabung dengan anak-istrinya di Solo. Dua tahun setelah bergabung dengan anak-istrinya, mereka menunaikan ibadah haji.

      Sepulang ibadah haji, Pak Haji Murad menikahkan anak tunggalnya. Namun, beberapa bulan setelah anaknya melahirkan bayi laki-laki, istrinya jatuh sakit. Tidak berapa lama kemudian istrinya meninggal dunia. Tidak sampai satu tahun setelah ditinggal istrinya, Pak Haji Murad kembali ke kampung halamannya di Palembang. Di hari terakhir bulan Ramadan, ketika ayahku sekeluarga pulang kampung, kami bertemu dengan Pak Haji Murad. Kulihat ayahku demikian akrab dengan Pak Haji Murad. Di akhir pertemuan, ayahku memberikan kartu nama. Kudengar ayahku mempersilakan Pak Haji Murad untuk datang berkunjung ke rumah orangtuaku. Beberapa bulan setelah pertemuan itu, Pak Haji Murad benar-benar datang berkunjung. Bukan hanya berkunjung, Pak Haji Murad juga meminta pekerjaan dan minta izin untuk tinggal di masjid sampai dia wafat di masjid ketika salat duha.

***

      Selama menjadi marbot masjid di tempat tinggalku, Pak Haji Murad benar-benar menunjukkan seorang pekerja yang kinerjanya patut diacungkan jempol. Setiap pagi, jauh sebelum azan subuh berkumandang, Pak Haji Murad telah bangun dari tidur. Seperti biasanya, sebelum salat malam, dia mandi terlebih dahulu. Seusai salat malam, dia tilawah Quran dan berzikir sampai menjelang azan subuh. Selesai salat syuruk, baru dia datang ke rumah orangtuaku untuk mengurusi kebun yang ada di halaman rumah orangtuaku. Karena kondisi fisiknya sudah tidak layak lagi untuk bekerja keras mengurusi kebun orangtuaku, sepeninggal ayahku, aku meminta tetangga sebelah rumah orangtuaku untuk menggantikannya. Sejak saat itu, Pak Haji Murad lebih banyak waktunya di masjid.

      Meskipun kondisi fisiknya sudah tidak memadai untuk mengurusi kebersihan masjid, dalam banyak kesempatan aku sering melihat dia merapikan sendal dan sepatu jamaah masjid. Aku dan jamaah masjid lainnya tidak pernah mengusiknya. Selama yang dia kerjakan di mataku dan para jamaah dinilai baik, kami sepakat untuk cenderung membiarkannya. Suatu malam ketika sedang menonton TV, aku dikejutkan oleh suara orang memanggil namaku. Ternyata, marbot masjid yang telah menggantikan pekerjaan Pak Haji Murad minta tolong aku untuk meredakan kemarahan Pak Haji Murad. Setahuku Pak Haji Murad boleh dikatakan sangat jarang marah. Dia marah kalau ada orang yang berupaya mencegah niat baiknya. Usut punya usut, ternyata ada seorang laki-laki bersama anggota keluarganya yang berkeinginan untuk bermalam di masjid. Mereka ingin bermalam di masjid karena sulit untuk mendapatkan tempat penginapan. Maklum tempat tinggal kami cukup jauh dari kota sedangkan mereka yang mau bermalam di masjid itu mengaku tersesat sehingga ketika mereka selesai menunaikan ibadah salat isya, mereka minta izin pada Pak Haji Murad bermalam di masjid. Spontan marbot masjid yang terbilang masih muda melarangnya. Pak Haji Murad sebagai orang yang jauh lebih tua tidak bisa menerima perlakuan sang marbot masjid yang dalam pandangannya terbilang kasar. Aku tidak berkeinginan pertengkaran di antara mereka berlansung lama. Akhirnya, aku sebagai pengurus masjid mengizinkan mereka bermalam di masjid.

       Aku masih sempat melihat betapa Pak Haji Murad melayani mereka. Pak Haji Murad meminjamkan bantal, kasur, dan selimut yang memang telah dibelinya beberapa hari sebelum tamu yang tidak diundang itu datang. Khusus tentang bantal, kasur, dan selimut yang dimilikinya, ternyata semua itu dibeli oleh uang pensiun yang selama ini ditabungnya. Aku juga tidak habis pikir, kenapa semua itu dibeli dalam jumlah yang cukup banyak. Aku yang telah tahu wataknya, sekali lagi, tidak mau mengusiknya. Ternyata, ketika di malam itu ada tamu Allah (istilah tamu Allah disampaikan oleh Pak Haji Murad sebagai ganti tamu yang tak diundang) yang datang berkunjung dan minta bermalam bantal, kasur, dan selimut yang dimilikinya dipinjamkan ke tamu Allah. Tentu saja dengan pelayanan yang diterimanya, mereka sangat senang. Aku merasa iri ketika aku mendengar pujian dan doa-doa ditujukan ke Pak Haji Murad.

      Pagi hari sebelum mereka meninggalkan masjid, sekali lagi Pak Haji Murad mempersilakan mereka untuk mandi dan sarapan pagi. Lagi-lagi ini merupakan pelayanan yang begitu istimewa buat mereka. Namun, sesuatu yang terjadi di luar dugaanku dan jamaah masjid lainnya, ternyata mereka memberikan infak yang cukup besar buat masjid. Semula mereka memberikan amplop yang cukup tebal kepada Pak Haji Murad. Setelah diterimanya, Pak Haji Murad menyerahkan amplop itu ke aku karena dia tahu aku sebagai bendahara masjid. Ternyata, jumlah yang diberikan tamu Allah itu di luar dugaanku. Jumlah itu melebihi sewa kamar di hotel terbaik di kotaku. Tamu Allah itu juga berjanji untuk menyampaikan pelayanan yang diterimanya ke media sosial. Sejak saat itu, masjid yang aku kelola mulai banyak dikunjungi jamaah yang datang jauh dari luar kota. Dengan kedatangan jamaah yang boleh dikatakan cukup banyak, kas masjidku juga membengkak. Kas masjid yang membengkak itu atas saran Pak Haji Murad, aku distribusikan ke orang-orang duafa yang tinggal di sekitar masjid dalam bentuk sembako.

       Aku beranggapan orang-orang yang datang berkunjung ke masjidku malam itu adalah rombongan malaikat. Anggapan itu oleh Pak Haji Murad diluruskan dengan kata-katanya yang sampai saat ini kuingat `kalau orang berbuat baik pada siapapun, Insya Allah, Allah akan menggantikan kebaikan yang kita berikan`. Aku mengaminkan ucapannya. Aku meyakini sepenuhnya apapun yang dikatakannya. Kas masjid yang membengkak itu, lagi-lagi atas saran Pak Haji Murad, tidak aku gunakan untuk membenahi bangunan masjid melainkan aku salurkan dengan mendistribusikan sembako ke orang-orang duafa yang tinggal di sekitar masjid. Ternyata, lagi-lagi saran Pak Haji Murad demikian manjur. Masjidku semakin hari, semakin makmur. Terbukti, kas masjid semakin membengkak. Sejak saat itu setiap kali kami berencana mengajukan program masjid, baik untuk aktivitas ibadah maupun kegiatan yang berkaitan dengan menyejahterakan masyarakat tidak pernah khawatir dengan dana yang harus disiapkan. Dana masjid kami juga disalurkan ke berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kepedulian, seperti membantu sesama saudara Muslim di Palestina.

       Suatu kali ketika masjid kami melakukan penggalangan dana untuk Palestina, aku dibuat terkejut oleh sumbangan yang diberikan Pak Haji Murad. Ternyata, diam-diam Pak Haji Murad memiliki tabungan yang cukup besar jumlahnya. Begitu ada kegiatan penggalanan dana untuk Palestina digulirkan, seluruh isi tabungannya itu diserahkan ke panitia. Lagi-lagi aku dibikin malu oleh kebaikan dan keikhlasan Pak Haji Murad. Jamaah masjid lainnya juga aku yakin merasa terpukul. Ah, jasad yang kini terbujur kaku dan sudah siap disalatkan menyisakan aku nilai-nilai kebaikan yang begitu besar. Aku banyak belajar dari keikhlasanmu, Pak Haji Murad. Aku berdoa semoga jenazah orang baik ini diterima pertobatannya. Insya Allah, Pak Haji Murad yang di lengan kanannya masih ada tato bertuliskan `LAPENDOS` dan di bahu kirinya ada tato berupa gambar jangkar, termasuk hamba Allah yang tergolong `husnul khotimah`.

 

Kota Bekasi, 15 Januari 2026.    

              

 

Sabtu, 20 Desember 2025

Bahasa dan Sastra (239)

 



Kado Akhir Tahun

 

Cerpen

 

Subagio S.Waluyo

“Sialan, Si Yunus. Nih!”, maki Bima Arwana setengah berteriak.

“Kenapa Si Yunus, Pa?, tanya istrinya heran.

“Masa` dia kirim paket isinya kain kafan?”, kata Bima Arwana sang suami masih setengah berteriak.

“Keren itu, Pa! Benar-benar keren tuh!”, kata sang istri sambil senyum-senyum kecil.

“Kok, keren? Orang ngirim paket isinya kain kafan kok dibilang keren? Gimana nih, Mama?”, tanya sang suami melongo.

“Ya, keren Pa. Sebab itu benar-benar kiriman paket yang unik”, jelas sang istri.

“Unik?”, tanya sang suami seperti tidak mengerti jawaban sang istri.

“Ya, unik Pa. Karena kita diingatkan sama Si Yunus kalo kita semua nanti akan mati”, jelas sang istri seperti memberi nasihat buat suaminya.

“Kok, ngasi paket supaya kita diingatkan dengan kematian?”, Bima Arwana masih belum mengerti jawaban istrinya.

“Papa maunya orang ngirim paket isinya makanan atau kendaraan mewah atau kunci rumah mewah di Citra Grand?”, tanya sang istri.

“Kalo soal makanan, yang kita makan sudah lebih dari cukup. Kalo soal mobil mewah, di rumah ini sudah banyak. Rumah ini sudah seperti show room mobil-mobil mewah. Saking banyaknya mobil kadang Papa bingung mau pakai mobil yang mana setiap keluar rumah. Kalo soal rumah mewah, selain rumah kita yang kita tempatin sekarang ini, kita masih punya rumah yang tergolong mewah di tiga tempat yang kata Papa nanti buat anak-anak kita”, cerocos sang istri.

“Ya, tapi yang wajarlah. Jangan kirim kain kafan. Ini benar-benar keterlaluan Si Yunus tuh!”, jawab sang suami masih sedikit emosional.

“Emangnya gak wajar kalo orang kirim kain kafan?”, tanya istrinya.

“Ya, gak wajarlah kalo orang kirim paket isinya kain kafan!”, tangkis sang suami.

“Papa merasa terhina kalo Si Yunus itu kirim kain kafan? Kalo emang iya, Papa laporin aja ke polisi biar nanti diproses sama polisi. Bisa juga Papa bikin pengaduan ke Komnas HAM karena sudah melanggar HAM, gimana menurut Papa?”, tantang sang istri.

“Ah, ngapain harus lapor ke polisi atau ke Komnas HAM. Kayak gak ada kerjaan aja!”, jawab sang suami masih sedikit emosi.

“Terus Papa mau labrak tuh Si Yunus?”, tantang sang istri.

“Kalo menurut mama, Papa sampein saja ke Si Yunus ucapan terima kasih karena sudah diingatkan sama kematian. Gitu aja Pa. Santai aja lagi. Gak usah galau Pa. Ingat, kita nih dah punya anak cucu. Kita dah gak muda lagi. Kita semuanya hidup nunggu dipanggil Allah. Emang Papa merasa mau hidup seribu tahun lagi?”, pertanyaan sang istri masih menantang keberanian sang suami untuk meresponnya.

“Nanti kita mati gak bawa apa-apa. Kita cuma bawa amal baik. Benar juga Si Yunus kirim paket isinya kain kafan karena nanti pas kita dikubur yang melekat di tubuh kita cuma kain kafan. Semua mobil Papa yang mewah-mewah itu sama rumah-rumah yang mewah itu termasuk uang Papa yang disimpan di banyak bank gak dibawa mati”, kata sang istri menceramahi   suami.

          Bima Arwana tertunduk mendengar ceramah istrinya. Dia bergeming. Dia tersudut persis seperti tikus yang tidak bergerak di hadapan kucing yang mau menerkamnya. Dia pasrah. Dia tidak punya perbendaharaan kata untuk menangkis ceramah istrinya. Jauh di lubuk hatinya dia membenarkan kata-kata istrinya yang meluncur begitu lancar dari bibirnya. Belum lagi Bima Arwana bereaksi, sang istri kembali bertanya.

“Gimana Pa, dengan kiriman paket Si Yunus? Papa mau buang? Daripada dibuang buat Mama aja biar Mama simpan. Nanti siapa aja yang duluan mati. Nanti kalo Mama duluan yang mati, kain kafan ini Mama pakai. Kalo Papa yang mati duluan, ya Papa yang pakai. Papa `kan mau pakai kafan ini kalo dah mati?”, tanya sang istri mengejek.

“Kalo papa mati, mana mungkin Papa nolak pakai kain kafan pemberian Si Yunus. Papa `kan sudah gak bisa apa-apa lagi waktu itu. Papa dah pasrah aja. Ah, Mama ini pintar benar ngejek”, kata sang suami agak kesal karena diejek istrinya.

“Ya, udah Mama simpan aja”, jawab Bima Arwana menyerah.

“Oke, Mama simpan dulu, ya?”, tanya sang istri.

“Ya!”

***

   Bima Arwana dan Muhammad Yunus adalah dua orang sahabat yang hubungannya sudah demikian melekat. Ketika kecil dulu, mereka berdua hidup bertetangga. Tinggal dalam satu komplek perumahan AURI di Halim Perdana Kusuma. Mereka juga sama-sama satu sekolah dari SD sampai SMA. Setelah lulus SMA, Bima Arwana kuliah di Universitas Trisakti. Muhammad Yunus kuliah di UI. Selesai dari perguruan tinggi, Bima Arwana mencoba menapaki hidupnya di bidang politik sehingga sejak masuk masa reformasi sampai saat ini (sudah lebih dari 25 tahun), dia menjadi anggota dewan. Sementara itu, Muhammad Yunus lebih cenderung ke dunia usaha. Sebagai anggota dewan Bima Arwana hidup penuh dengan kemewahan. Sampai saat ini di luar rumah dinasnya yang sudah sekian lama tidak ditempati, dia juga masih punya tiga rumah mewah. Selain rumah, Bima Arwana juga punya sepuluh mobil mewah. Uang tabungannya tersimpan di banyak bank. Tampaknya, Bima Arwana sudah benar-benar mapan hidupnya.

   Muhammad Yunus termasuk pengusaha yang berhasil. Sebagai seorang pengusaha, dalam membangun usahanya dia sudah biasa jatuh bangun. Meskipun sudah biasa jatuh bangun, dia tidak pernah putus-putusnya untuk bersedekah. Buatnya sedekah lebih merupakan kewajiban yang jika suatu saat ditinggalkan, ada perasaan bersalah. Sebaliknya, dia merasa tenang hidupnya setiap kali bersedekah meskipun yang dikeluarkan dari koceknya terkadang terhitung kecil. Dia merasa yakin ketenteraman hidupnya dalam berumah tangga sangat ditentukan oleh intensnya bersedekah. Dia juga merasa yakin anak-anaknya yang kata orang termasuk anak-anak yang penurut, anak-anak yang saleh-salehah, dan kesuksesan anak-anaknya dalam menapaki dunia pendidikan lebih disebabkan oleh salah satunya adalah kebiasaannya bersedekah. Di luar itu semua, Muhammad Yunus dikenal sebagai pengurus masjid yang sukses dalam memakmurkan masjidnya. Keaktifannya di masjid sudah dimulai sejak di bangku SMA Kelas 1. Waktu itu Muhammad Yunus muda dikenal sebagai aktivis remaja masjid. Begitu masuk perguruan tinggi keaktifannya  di masjid masih ditindaklanjuti. Ketika hijrah dari Komplek Perumahan Halim Perdana Kusuma, di tempat barunya di bilangan Cipayung, Muhammad Yunus juga aktif di masjid komplek perumahannya sampai sekarang ini. Masjid yang sekarang dikelola bersama pengurus masjid lainnya membuahkan hasil yang luar biasa. Salah satu indikator keberhasilannya bisa dilihat dari banyaknya jamaah salat magrib yang sama banyaknya dengan salat subuh. Tidaklah aneh kalau dia bersama pengurus masjid lainnya demikian mudah memperoleh donasi, baik dari jamaah masjid maupun luar masjid. Setiap program, baik program masjid maupun untuk kesejahteraan umat yang digulirkannya selalu mendapat apresiasi dari jamaah masjid dan warga di komplek perumahannya. Bahkan, ada saja jamaah yang tidak dikenal dari tempat yang jauh mendonasikan uangnya di masjid yang dikelolanya.   

      Bima Arwana tidak pernah aktif di masjid. Keaktifannya lebih banyak di karang taruna dan pencinta alam. Pengalamannya dalam mendaki gunung sudah tidak bisa dihitung dengan jari. Selain aktif sebagai pendaki gunung, dia juga aktif di kemahasiswaan. Di masa-masa jauh sebelum reformasi, Bima Arwana sempat menduduki Ketua Senat Mahasiswa tingkat universitas. Selesai kuliah, Bima sempat aktif di sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Ketika bergolak demontrasi mahasiswa dan masyarakat di negara ini, dia sempat ikut turun ke jalan. Bahkan, Bima Arwana dikenal sebagai salah satu aktivis yang berhasil menggerakkan ribuan mahasiswa dan masyarakat untuk turun ke jalan. Berkat keaktifannya dalam demonstrasi yang bisa menjatuhkan rezim Orde Baru, Bima Arwana direkrut oleh salah satu partai besar di masa itu untuk menjadi anggota dewan. Tidak tanggung-tanggung dia langsung masuk ke parlemen di tingkat pusat atau anggota DPR Pusat. Sebagaimana anggota dewan lainnya, begitu masuk ke dalam lingkar kekuasaan idealisme yang dianutnya mulai luntur. Dia mulai larut dalam kehidupan politik yang menguntungkan, yang membuatnya kehidupannya bergelimang harta. Dibandingkan dengan Muhammad Yunus,teman akrabnya, seorang pengusaha yang hidupnya sederhana kekayaannya tidak sebanding. Muhammad Yunus hanya memiliki dua mobil lama dengan satu rumah yang selama ini ditempatinya. Tetapi, Muhammad Yunus patut bersyukur karena bahtera rumah tangganya tidak mengalami goncangan. Lain halnya dengan Bima Arwana yang bahtera rumah tangganya sempat goyah. Baru belakangan ini saja bahtera rumah tangganya mulai membaik setelah sang istri banyak melakukan introspeksi diri. Sang istri diikuti anak-anaknya mulai akrab dengan agama. Mereka sering mengikuti kajian-kajian agama. Makanya ketika Bima Arwana dikirimi kain kafan, bagi istrinya itu merupakan cara yang efektif untuk menyadarkan sang suami agar tidak larut dengan kehidupan dunia.

***

    Larut malam Bima baru pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, dia langsung tertidur. Dia tidak sempat untuk menyapa istrinya yang sudah lebih dulu tertidur di sampingnya. Begitupun juga dengan anak-anaknya yang sudah sama pulas dengan tidur dan mimpinya. Belakangan ini kesibukannya dengan rapat-rapat di DPR yang banyak menguras waktu membuat dia pulang larut malam sehingga dia tidak sempat disapa atau menyapa istri dan anak-anaknya. Dia sudah merasakan kehidupannya sudah demikian hampa karena jarang ada tegur sapa antara dia dan istrinya. Demikian juga dengan anak-anaknya. Baru tadi pagi saja tumben-tumbenan sang istri mau menimpalinya ketika dia menerima kiriman paket berupa kain kafan dari temannya. Dalam tidurnya dia bermimpi, teman akrabnya, Muhammad Yunus menelponnya.

“Assaamualaikum”, sapa Muhammad Yunus.

“Waalaikum salam.”

“Gimana kabarnya nih, Bapak anggota dewan terhormat?”, tanya temannya.

“Baik, alhamdulillah”, jawabnya kalem.

“Ente sudah terima kiriman paket?”, tanya temannya.

“Sudah. Cuma yang gua gak habis pikir, kenapa lu kirim gua kain kafan?”, tanyanya heran.     

“Lha, gua juga bingung mau kirim apa ke elu? Mobil? Rumah? Duit? Ato makanan? Semuanya dah banyak lu punya!”, jawab temannya seperti mengejek.

“Ya, tapi jangan kain kafan lu kirim. Itu bikin gua inget mati”, ketus Bima Arwana.

“Kalo berupa buku lu mau terima?”, tanya temannya.

“Buku apa yang mau lu kirim?”, tanyanya.

“Buku yang isinya cerita siksa kubur sama siksa di neraka. Gimana?”, tanya temannya setengah menantang.

“Masalah kematian, masalah siksa kubur, masalah siksa neraka, jangan dulu dah! Jangan dulu! Jangan dulu!”, teriak Bima Arwana sekeras-kerasnya. Teriakan Bima Arwana membuat istrinya yang tidur di sebelahnya terbangun.

“Pa, Pa, ada apa Pa? Kok, Papa teriak-teriak `jangan dulu-jangan dulu`?, tanya istrinya sambil membangunkannya. Bima Arwana terbangun seraya mengucek matanya.

“Tadi papa mimpi ditelpon Si Yunus. Papa sempat tanya soal kiriman paket berupa kain kafan. Terus dia sampein kalo kirim buku yang isinya soal siksa kubur sama siksa neraka, gimana? Papa jawab sambil teriak `jangan dulu-jangan dulu`”, Bima Arwana berusaha menjelaskan isi mimpinya barusan. Istrinya yang mendengarnya tertawa cekikikan seraya mengambilkan air putih buat suaminya.

“Makanya Pa, kalo mau tidur baca doa dulu. Tapi, tadi itu mimpi bagus buat Papa supaya Papa sadar sama umur. Papa dah gak perlu lagi mengejar dunia. Papa dah musti ninggalin tuh kehidupan politik yang bikin Papa lupa dunia-akhirat. Orang seumur kita dah waktunya dekat sama Allah. Sekarang kita nikmatin aja hidup. Gak usah ngoyo-lah ngejar dunia. Kita kejar akhirat supaya kita selamat dari siksa kubur sama siksa akhirat. Papa mau ninggalin dunia politik? Papa mau jauh dari keluarga sampe gak saling sapa sama anak-anak? Gak mau `kan? Kalo bisa Papa besok mengajukan pengunduran diri aja sebagai anggota dewan. Mobil-mobil mewah yang Papa punya dijual aja. Rumah-rumah mewah juga sama dijual aja. Kita cukup tinggal di sini. Kalo bisa semua yang kita jual, kita hibahkan buat bantu orang-orang duafa. Ingat Pa, saudara-saudara kita di Sumatera yang jadi korban banjir. Mereka butuh bantuan. Papa ikut aktif aja sama Si Yunus di masjid. Kita masih punya simpanan di banyak Bank. Insya Allah kita masih bisa hidup sampai Allah nanti menjemput kita. Gimana sama usul Mama, Pa?”, kata sang istri sedikit menceramahi Bima Arwana. Sejenak ada hening karena sang suami tidak segera menjawab. Namun, beberapa saat kemudian secara perlahan-lahan Bima Arwana menjawabnya dengan mantap.

“Papa bersedia mundur sebagai anggota dewan dan pengurus sekaligus anggota partai. Papa sudah sampai titik jenuh hidup di tengah lingkaran kekuasaan. Papa mau jadi rakyat biasa. Papa mau hidup merakyat. Papa mau dekat sama anak-anak dan sama Allah. Besok pagi Papa segera buat surat pengunduran dirinya”,  janjinya.

“Alhamdulillah. Kalo Papa mau mengajukan pengunduran diri sebagai anggota dewan sekaligus pengurus partai dan anggota partai. Mudah-mudahan permintaan Papa tadi di-ijabah Allah”, kata sang istri terharu.

“Amin”, Bima Arwana mengaminkannya.

“Sekarang kita tidur lagi,Pa. Jangan lupa berdoa sebelum tidur!”, pesan sang istri. Meskipun sempat terbangun dan agak sulit untuk meneruskan tidurnya, akhirnya Bima Arwana tertidur juga.

 

Kota Bekasi, 21 Desember 2025.

   

 

         

 


Rabu, 10 Desember 2025

Bahasa dan Sastra (238)

 



Mama sudah Muak dengan Cara Hidup Papa

 

Cerpen
 
Subagio S.Waluyo

 

          Dalam acara makan malam bersama, ketika satu keluarga menikmati hidangan yang tersedia di meja, tiba-tiba saja sang ibu berdiri. Sang bapak dan anak-anaknya yang duduk mengelilingi meja juga terheran-heran karena sang ibu berdiri seraya berteriak.

“Mama sudah muak dengan cara hidup Papa!”, teriak sang istri.

“Muak. Kenapa muak Ma?”, tanya suaminya.

“Papa cuma asik menghitung-hitung keuntungan dari kayu gelondongan yang Papa ambil dari hutan. Papa gak tahu berapa banyak orang jadi korban dari hutan yang Papa tebang. Papa tahu gak, kayu-kayu gelondongan hasil hutan itu sekarang sudah banyak makan korban!”, cerocos istrinya.

“Lihat nih, di Tamiang! Mobil-mobil yang terjebak banjir di dalamnya ternyata ada mayat! Ini gak mungkin terjadi kalau bukan penebangan hutan yang brutal seperti yang Papa lakukan di sana”, istrinya masih saja mencerocos seperti tidak memberikan kesempatan suaminya untuk bicara.

“Papa gak usah bicara dulu. Biar Mama bicara dulu. Papa biar tahu keadaan yang sebenarnya di sana. Nih, lihat! Di You Tube ini rumah-rumah penduduk di sepanjang DAS roboh semua. Rata sama tanah. Penyebabnya kayu-kayu gelondongan. Nih, lihat lagi, mobil-mobil yang terkena banjir. Bukan cuma banjir air, tapi juga lumpur. Coba lihat di dalam mobil itu! Isinya mayat Pa!”, teriak istrinya.

“Ah itu `kan cuma hasil editan pake AI”, kata sang suami mencoba mengeles.

“Apa editan pake AI? Kalo Papa gak percaya turun ke lapangan. Enak aja ini hasil editan. Papa benar-benar kayak pejabat-pejabat tinggi yang lain yang gak punya rasa kemanusiaan!”, sang istri masih bersuara tinggi.

“Pake hati nurani Pa kalo bicara. Jangan asal keluar omongan. Nanti Papa bicara di depan publik ngomong kayak gitu. Begitu diserang, baru minta maaf”, cerocos istrinya.

“Iya Pa. Itu bukan editan. Itu asli Pa. Orang turun ke lapangan lihat langsung yang ada di hadapannya. Teman-temanku juga bilang begitu Pa. Makanya Papa kalo gak percaya ikut kami ke Tamiang besok”, saran anaknya.

“Besok kalian ke Tamiang? Mau ngapain?”, tanya sang ayah heran.

“Kok, nanya mau ngapain?”, tanya istrinya tambah heran.

“Ya, mau terjun langsung ke lapangan!”, kata istrinya masih meninggikan suaranya.

“Mama berlima ke lapangan bukan cuma lihat-lihat,tapi juga mau ikut terlibat bantu-bantu mereka yang jadi korban bencana. Mereka itu Pa, jadi korban kayu gelondongan yang Papa ambil dari hutan”, jelas sang istri masih dengan suara tinggi.

“Jadi bencana alam kali ini diperparah karena hutannya ditebang secara serampangan. Termasuk yang Papa kerjakan selama ini. Papa sama teman-temannya telah melakukan kejahatan membabat habis hutan sampe 50 ribu hektar di Tamiang. Iya `kan?”, tanya istrinya dengan geram.

          Sang suami tidak berkutik diberondong kata-kata istrinya yang keluar begitu saja. Baru kali ini istrinya begitu marah terhadapnya. Dari ucapan-ucapannya yang bernada tinggi disertai pertanyaan-pertanyaan yang nyelekit, dia menyimpulkan kalau kali ini istrinya tidak main-main. Keempat anaknya juga walaupun hanya satu orang yang bicara dari sikapnya menunjukkan ketidaksenangannya pada papanya. Di lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya dia mengakui kesalahannya selama ini. Tapi, lagi-lagi bisikan setan terkadang lebih dahsyat daripada bisikan hati nurani sehingga dengan entengnya dia berucap.

“Silakan aja kalo kalian turun ke lapangan. Nanti kalo ada apa-apa juga pasti minta tolongnya ke papa juga”, katanya ketus.

“Apa? Aku akan minta tolong Papa?”, tanya anak tertuanya.

“Aku mau tunjukin kalo dah lama gak tergantung sama Papa!”, kata anaknya agak keras.

“Aku dah cukup dewasa Pa untuk mengambil keputusan”, kata anaknya ketus.

“Papa tahu gak, dulu Papa nyuru-nyuru aku dan adikku untuk kuliah di luar negeri? Aku dan adikku gak mau. Aku dan adikku kompak lebih baik kuliah di dalam negeri aja biar kata Papa waktu itu gak bermutu kuliah di dalam negeri. Dengan aku kuliah di dalam negeri aku jadi tahu kondisi negara ini. Kalo aku di luar negeri, aku cuma bangga lulusan luar negeri, tapi gak tahu kondisi negara ini. Kayak sekarang aku jadi tahu kalo hutan yang Papa babat habis makan korban yang gak sedikit. Papa mau mengganti semua kerugian yang diderita rakyat karena ulah Papa itu?”, tanya anaknya dengan sedikit kesal.

“Emang ada apa dengan kondisi negara ini”, tanya papanya heran.

“Papa belaga pilon ya?”, tanya istrinya.

“Jangan belaga pilon Pa! Papa itu dikenal sebagai pebisnis besar yang tiap hari pasti melototin berita-berita yang berseliweran atau laporan-laporan dari anak buah Papa. Apa jangan-jangan anak buah Papa sudah memanipulasi data sampe-sampe Papa gak tahu keadaan negara ini?”, desak istrinya.

“Ya, papa tahu”, jawab sang suami.

“Kalo dah tahu kenapa pake ngomong begitu? Pake nanya ada apa dengan kondisi negara ini”, tanya istrinya heran.

“Ayo, anak-anak kita beres-beres. Gak usah lagi diterusin makan malam kita. Kita siap-siap besok pagi habis salat subuh kita berangkat!”, ajak istrinya pada anak-anaknya.

“Siap, Ma!” kata anak-anaknya serentak.

          Mereka dibantu asisten rumah tangganya segera beres-beres meja makan yang baru saja digunakan. Sang papa tidak ikut beres-beres. Dia segera pergi ke ruang tengah. Setelah terjadi perdebatan di ruang makan, sang papa lebih banyak terdiam. Entah diamnya sang papa karena mengakui kesalahannya atau mengatur strategi untuk balik menyerang anggota keluarganya. Maklum, sang papa seorang pebisnis terkenal yang sudah biasa mengatur strategi. Buat dia debat-debat tadi dianggap kecil. Dia menganggap istri dan anak-anaknya sedang mood saja dengan bencana di Sumatra. Nanti kalau sudah turun ke lapangan, dia memastikan istri dan anak-anaknya tidak akan betah di sana. Mungkin tidak sampai satu pekan akan balik ke Jakarta. Ah, masa bodo amat. Emangnya gue pikirin begitu kira-kira yang ada di benaknya.

***

          Pukul 02.30 dini hari istri dan anak-anaknya bangun tidur. Tidak seperti biasanya, mereka langsung mandi. Sehabis mandi mereka berkumpul di musola kecil yang ada di rumahnya. Mereka melaksanakan salat qiyamul lail. Dia sendiri masih tertidur karena semalam sempat nonton sepak bola sampai jauh malam. Baru ketika azan subuh dia terbangun untuk salat berjamaah dengan istri dan anak-anaknya. Selesai salat, karena masih mengantuk, dia teruskan tidur. Sementara itu, istri dan anak-anaknya selesai salat langsung siap-siap berangkat ke bandara. Sebelum berangkat istrinya membangunkannya untuk pamit.

“Pa, mama sama anak-anak mau berangkat. Mama pamit ya?”, kata istrinya.

“Lha, kalian jadi berangkat?”, tanyanya.

“Jadi Pa. Mama dah pesan tiket pesawat tiga hari lalu. Dah ya, Mama sama anak-anak mau berangkat. Hati-hati selama ditinggal Mama sama anak-anak di rumah”, pesan istrinya.

“Ya”, dengan sedikit heran dia menatap istri dan anak-anaknya.

          Mereka satu persatu mencium tangan papanya. Satu persatu juga mereka masuk ke mobil yang sudah siap-siap mau berangkat. Tidak lama kemudian mereka berangkat dan meninggalkan papanya seorang diri. Sang bapak yang ditinggal sendirian sebenarnya ada rasa sedih dan kesepian. Baru kali ini mereka pergi tanpa menyertakan dirinya. Selama ini selalu pergi bersama walaupun sekedar makan malam bersama di luar rumah. Karena masih digelayuti rasa kantuk sang papa yang ditinggal sendirian pergi tidur lagi. Sebelum tidur dia masih bergumam Mereka gak akan bisa lama di sana. Emangnya enak tinggal di tempat yang gak ada aliran listrik, makan apa adanya, dan gak ada tempat buat istirahat. Sudahlah gak usah dipikirin. Emangnya gue pikirin.

***

          Dia baru saja tertidur ketika tiba-tiba saja ada orang berjubah yang mendatanginya. Orang itu memakai jubah putih dan peci putih. Di dagunya ada janggut yang cukup tebal. Orang itu membawa tasbih. Sambil menghampiri dirinya terdengar suara zikir yang tidak henti-hentinya. Dia tidak kenal orang itu. Dari air muka yang tampak dari wajahnya, dia berkesimpulan orang ini orang baik. Orang yang saleh yang sudah pasti tidak punya niat  jahat. Melihat sosok orang yang mendekatinya yang tidak ada niat berbuat jahat, dia cenderung berdiam diri. Belum sempat dia menyapanya,  orang itu memberikan salam.

“ Assalamualaikum Pak Abdul Gani!”, sapa orang berjubah itu.

“Waalaikum salam”, jawabnya setengah heran karena orang itu ternyata tahu namanya.

“Bagaimana kabarnya? Sehat?”, tanya orang berjubah itu.

“Alhamdulillah sehat. Lho, Bapak ini siapa? Kok, tahu nama saya?”, tanyanya masih dalam rasa heran.

“Saya ini orang baik yang mau ngajak Bapak untuk berbuat baik”. Kata orang itu.

“Ya. Tapi, saya belum pernah bertemu dengan Bapak. Kenapa Bapak bisa tahu nama saya?”, tanyanya masih dalam keheranan.

“Saya ini orang yang selalu dekat dengan Allah. Saya selalu menjadikan Allah tempat saya bergantung. Makanya saya diberi kelebihan oleh Allah tahu orang yang saya datangi. Saya bukan cuma tahu nama Bapak, saya juga tahu siapa Bapak dan tahu yang tersembunyi jauh di lubuk hati Bapak”, kata orang itu seperti menceramahinya.

“Tahu sesuatu yang ada lubuk hati saya?”, tanyanya tambah heran.

“Ya. Saya tahu. Saya tahu Bapak pebisnis terkenal yang punya hutan sangat luas di Aceh Tamiang. Yang hutannya habis dibabat nyaris gundul. Setelah gundul Bapak tanami pohon sawit. Sekarang ini gelondongan kayu hasil Bapak membabat pohon secara brutal memakan korban di sepanjang aliran sungai. Bapak pasti sudah tahu berapa banyak rumah yang roboh terhempas gelondongan kayu. Bapak pasti juga tahu berapa banyak masyarakat yang saat ini tidak lagi punya tempat tinggal. Mereka telah menjadi tunawisma. Belum cukup sampai di situ, di jalan-jalan banyak mobil yang terendam lumpur. Lumpur Pak, bukan air yang di dalam mobil-mobil itu ada orang-orang yang terjebak sehingga mereka mati di dalam mobil itu. Semoga mereka termasuk orang-orang yang mati syahid. Amin yaa robbal alamin”, kata orang itu seraya mengangkat kedua lengannya.

“Apakah Bapak masih ngomong kalau itu semua rekayasa orang-orang yang antipemerintah? Orang-orang yang sengaja membuat keonaran di negara ini ketika ditimpa bencana?”, tanya orang itu setengah teriak.

“Tidak. Tidak. Saya memang harus mengakuinya. Itu memang realita yang ada di lapangan”, katanya setengah ketakutan.

“Alhamdulillah kalau Bapak sudah mengakuinya”, kata orang berjubah itu.

“Apa perlu saya sampaikan yang saya tahu biar Bapak benar-benar paham yang terjadi di sana?”, tanya orang berjubah itu.

“Tidak usah. Saya sudah tahu yang terjadi di sana”, katanya masih dalam rasa ketakutan.

“Kalau begitu apa yang harus saya lakukan?”, tanyanya.

          Orang berjubah itu diam sejenak. Orang berjubah itu masih asik dengan zikirnya. Terdengar samar-samar oleh tuan rumah orang berjubah putih itu beristighfar. Sambil matanya menyorot ke arahnya. Orang itu berkata.

“Bapak ingin besok mati?”, tanyanya. Pertanyaan itu tentu saja mengagetkan Pak Abdul Gani.

“Kalau bisa, jangan dulu Pak”, katanya mengiba.

“Kenapa? Takut mati?”, tanya si orang berjubah itu.

“Saya belum siap mati Pak. Saya banyak dosa dan amalan saya masih sedikit Pak”, katanya setengah takut.

“Kalau sudah tahu takut mati, kenapa Bapak berbuat kesalahan?”, tanya si orang berjubah itu.

“Saya selama ini khilaf Pak. Saya selalu mengikuti hawa nafsu Pak”, akunya.

“Saya tahu, Bapak itu sebenarnya dulu orang baik. Bapak mulai rusak ketika jadi pengusaha yang dekat dengan kekuasaan, ya `kan?”, desak orang berjubah itu.

“Ya, Pak. Saya mulai rusak ketika masuk dalam lingkungan kekuasaan. Saya jadi lupa diri. Makanya kalau masih diberi kesempatan hidup saya mau bertobat Pak”, katanya sedikit mengiba.

“Apa cukup bertobat sementara hutan yang Bapak gunduli itu sekarang makan korban?”, desak si orang berjubah itu.

“Saya mau benar-benar taubatan nasuha, Pak”, janjinya.

“Kalo bisa…”, katanya.

“Kalo bisa apa?”, belum selesai Pak Abdul Gani bicara sudah diputus dengan pertanyaan menohok.

“Kalo bisa saya mau mundur jadi pengusaha kelapa sawit, Pak”, katanya masih mengiba.

“Cukup mau mundur saja?”, tanya si orang berjubah itu.

“Saya mau serahkan kebun kelapa sawit itu ke masyarakat dan pemerintah di Tamiang biar dijadikan hutan lagi”, katanya.

“Terus apa lagi?”, tanyanya.

“Saya bersedia mengganti semua kerusakan yang berakibat bencana, Pak”, katanya.

“Nanti gimana dengan keluarga Bapak kalo perusahaan minyak kelapa sawit yang di Tamiang ditutup?”, tanyanya.

“Saya mau merintis usaha dari nol lagi Pak. Masalah rizki, Insya Allah ada yang menjamin Pak”, katanya.

“Siapa yang menjamin?”, tanya si orang berjubah itu.

“Allah pasti yang menjamin, Pak”, kata Pak Abdul Gani mantap.

“Bapak benar-benar mau berjanji, ya?”, tanya si orang berjubah setengah mengancam.

“Ya, saya berjanji Pak”, katanya.

“Gimana kalo Bapak mengingkari janji?”, tanyanya.

“Saya siap dicabut nyawanya. Saya siap masuk neraka, Pak”, katanya mantap.

“Awas, jangan main-main dengan janji. Kalo Bapak ingkar janji saya akan teror Bapak habis-habisan”, ancam si orang berjubah seraya memberi salam dan pergi menghilang.

“Saya berjanji Pak…! Saya berjanji Pak…. ! Saya berjanji Pak…!”, teriak Pak Abdul Gani berulang-ulang sampai-sampai asisten rumah tangganya kaget dan menggedor-gedor kamarnya.

“Pak…! Pak ….! Bangun Pak!”, teriak asisten rumah tangganya.

“Ya…Ya…Ada apa?”, tanyanya heran sambil membukakan pintu kamarnya.

“Bapak tadi teriak-teriak”, kata asisten rumah tangganya.

“Ooooh, saya bermimpi tadi”, katanya.

“Ini diminum dulu, Pak!”, kata asisten rumah tangganya yang telah siap membawakan air putih hangat buatnya.

“Ya. Terima kasih”, katanya sambil meminum air putih hangat.

“Gimana Pak? Bapak gak apa-apa?”, tanya asisten rumah tangganya.

“Alhamdulillah gak apa-apa. Saya cuma bermimpi”, katanya.

“Kalo gitu, saya tinggal dulu ya?”, tanya sang asisten rumah tangga.

“Ya.”

          Sepeninggal asisten rumah tangganya yang telah teruji kesetiaannya, Pak Abdul Gani merenung tentang mimpi yang baru saja dialaminya. Meski hanya mimpi, dia yakin kalau yang datang itu bukan orang sembarangan, orang berjubah putih itu pasti diutus oleh Allah untuk menegur perbuatannya yang selama ini banyak menyimpang. Salah satu perbuatannya yang saat ini memakan korban membuatnya bergidik kalau mengingat rumah-rumah orang yang di sepanjang sungai telah rata dengan tanah akibat tersapu oleh kayu gelondongan miliknya. Tidak cukup sampai di situ, banyak mobil yang terendam bukan hanya air tapi juga lumpur yang di dalamnya tidak sedikit orang yang mati. Akibat dari perbuatannya banyak orang yang tiba-tiba jatuh miskin. Banyak perempuan yang jadi janda atau laki-laki yang jadi duda karena mereka ditinggal mati pasangannya. Bahkan, banyak anak yang jadi yatim karena kehilangan orangtuanya. Ah, begitu banyak orang yang jadi korban akibat ulahnya membuat dia menangis sejadi-jadinya. Air matanya keluar deras dari kelopak matanya. Sejenak dia berhenti menangis karena hanya dengan menangis tidak menyelesaikan masalah. Dia segera mengambil handuk membersihkan diri dan sekaligus mengambil wudu untuk salat duha. Selagi masih ada kesempatan dia harus melakukannya. Setelah itu satu demi satu janji-janjinya yang tadi disampaikannya ke orang berjubah putih itu akan dilaksanakannya.

***

          Dia hari ini tidak masuk kantor dengan alasan kurang sehat. Terhitung mulai hari ini dia memimpin rapat dan mengendalikan usahanya secara daring. Selama beberapa hari, dia mengajak semua stafnya yang ada di kantor perusahaannya, baik yang ada di pusat maupun yang ada di Tamiang untuk rapat daring. Sebelumnya dia telah menerima kabar kalau kebun kelapa sawitnya terendam air dan lumpur. Bukan itu saja pabriknya rata dengan tanah karena terseret kayu gelondongan. Di rapat itu secara sepihak dia memutuskan untuk menutup perusahaannya. Dia sendiri juga memutuskan memundurkan diri dari perusahaannya. Supaya tidak terjadi gejolak, dia sampaikan kalau semua staf dan karyawannya akan diberikan pesangon sesuai dengan masa kerjanya. Dengan cara demikian tidak ada gejolak di perusahaan yang dimilikinya.

          Beberapa hari kemudiann dibantu LSM, baik yang ada di pusat maupun di Tamiang dia mengirim email ke pejabat pemerintah di Tamiang. Dia sampaikan kalau bekas kebun kelapa sawitnya diserahkan ke masyarakat untuk dikelola langsung oleh masyarakat. Selain itu, dia gelontorkan dana yang cukup besar untuk dilakukan reboisasi di bekas kebun kelapa sawitnya. Tidak cukup sampai di situ, semua anggota masyarakat yang turut terlibat dalam reboisasi diberikan honor selama terlibat reboisasi. Khusus untuk korban bencana banjir, dia menyediakan uang santunan. Uang itu diperoleh dari simpanannya yang selama ini diparkir di beberapa bank. Mereka-mereka yang jadi korban bencana setelah didata diberikan uang santunan. Dia tidak peduli dengan kebijakannya akan menghabiskan uang tabungannya. Buat dia lebih baik uang tabungannya habis daripada setiap hari dia mendapat kabar buruk tentang mereka-mereka yang jadi korban bencana. Tidak cukup sampai di situ, lagi-lagi dia mengeluarkan uang tabungannya untuk membenahi infrastruktur di Tamiang yang hancur akibat banjir yang disebabkan oleh penggundulan hutan secara brutal. Dia tidak lagi memperhitungkan berapa banyak uang yang dihabiskan untuk menangani bencana banjir di Tamiang dan sekitarnya. Meskipun demikian, ada sebuah perasaan tersendiri yang tidak dapat digambarkan karena dia telah berbuat yang terbaik sebelum ajal memanggilnya. Sebagaimana permintaannya pada laki-laki berjubah putih yang datang dalam mimpinya kalau dia tidak mau masuk neraka.

          Semua yang dilakukannya selama lebih dari sepekan tidak diketahui oleh istri dan anak-anaknya. Kesibukannya mengurusi perusahaannya yang nyaris bangkrut karena bencana membuat dia lupa untuk berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya. Begitupun dengan istri dan anak-anaknya karena kesibukannya turun ke lapangan membantu orang-orang yang terkena musibah juga tidak sempat mengontaknya. Meskipun demikian, di saat-saat sudah melewati masa-masa genting di Tamiang terpikir juga oleh mereka untuk mengontak papanya. Inisiatif untuk mengontak papanya dilakukan oleh anaknya yang bungsu ketika pada siang hari melakukan video call.

“Assalamualaikum. Halo Papa”, sapa anaknya sambil melambaikan tangan.

“Waalaikum salam”, jawabnya juga sambil melambaikan tangannya.

“Gimana kabarnya Papa?”, tanya sang anak.

“Alhamdulillah sehat. Gimana kabarnya Mama?”, tanya papanya.

“Ini Mama sehat Pa!”, teriaknya girang.

“Kok, Mama kayaknya girang banget?”, tanyanya.

“Ya, Mama girang karena Papa dah banyak berkorban”, katanya.

“Berkorban apa?”, tanyanya pura-pura.

“Ah, Papa kayak gak tahu aja. Bukannya Papa sudah menyerahkan kebun kelapa sawit ke masyarakat? Sekarang lagi dibenahin Pa. Bentar lagi akan direboisasi. Kabarnya semuanya didanai oleh Papa ya `kan?”, tanya istrinya. Dari nada suaranya terdengar sedikit girang.

“Ya. Papa sudah putuskan untuk menutup pabrik kelapa sawit itu. Selain itu, Papa juga sudah sediakan dana untuk santunan kepada para warga yang jadi korban bencana termasuk rumah-rumah yang terseret banjir dan terkena kayu gelondongan. Infrastruktur yang terkena imbas akibat banjir juga sudah Papa putuskan untuk disediakan dananya”, katanya seperti membacakan berita penting ke anggota keluarganya.

“Wah, keren Pa!”, kata anaknya yang nomor dua.

“Ya. Yang Papa lakukan itu bener-bener keren! Gak ada pengusaha yang seperti Papa. Kalo aja di negeri ini ada orang seperti Papa gak perlu lagi yang namanya pemerintah daerah minta-minta bantuan ke pusat yang memang lagi banyak mikirin buat MBG sama Woosh”, kata anaknya yang pertama sambil tertawa.

“Eh, ngomong-ngomong kalian bermalam di mana?”, tanya papanya.

“Waktu pertama kali datang di tenda-tenda. Sekarang sudah disediakan LSM yang bergerak di sini di masjid yang selamat dari bencana”, jawab istrinya.

“Jadi, ada tempat ibadah yang gak terkena bencana?”, tanyanya heran.

“Banyak Pa”, jawab anaknya yang nomor tiga.

“Masyarakat sini tuh walaupun susah begitu lihat kita datang dengan niat baik untuk menolong, mereka langsung meresponnya”, jelas si anak yang nomor tiga.

“Papa ke sini aja!”, kata anak yang bungsu.

“Insya Allah besok pagi Papa berangkat menyusul kalian”, janjinya.

“Sudah ya? Papa masih ada urusan yang harus diselesaikan hari ini”, kata papanya.

“Hati-hati Pa nanti di jalan. Assalamualaikum!”, kata anak yang pertama.

“Waalaikum salam. Sampai ketemu lagi ya?”

“Ya. Papa!”, kata istrinya.   

***

          Setelah video call dengan istri dan anak-anaknya dia jadi tahu kalau mereka bisa membersamai orang-orang yang terkena bencana nun jauh di sana. Sikap tinggi hatinya yang sempat terbetik di benaknya kalau pada suatu saat istri dan anak-anaknya dipastikan akan minta bantuan padanya ternyata tidak terbukti. Buktinya, mereka bisa tinggal di tenda-tenda pengungsian dan di masjid. Terbayang di benaknya, mereka pasti makan bersama dengan para pengungsi dengan makanan apa adanya. Mereka juga tidak akan bisa tidur nyenyak seperti dirinya yang selama ditinggal istri dan anak-anaknya masih bisa tidur nyenyak. Melihat mereka yang tampaknya ceria-ceria saja membuat dirinya rindu ingin segera bertemu dengan mereka. Dia yakin kerinduan ini akan terobati besok ketika bertemu dengan mereka. Dia juga rindu bertemu dengan orang-orang yang menjadi korban bencana yang tiba-tiba saja mereka banyak yang menjadi orang-orang duafa. Ah, mengingat itu semua membuat kelopak matanya berair. Air mata yang keluar ini bukan air mata kesedihan, tapi juga ada kegembiraan. Kegembiraan itu akan berkesinambungan sampai dia bertemu dengan Rob-Nya. Itu harapannya.

 

Kota Bekasi, 10 Desember 2025.

 

 

 

 

         

    


Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...