Berakhirnya Bunglon
di Pohon Kekuasaan
di Pohon Kekuasaan
Cerpen
Aku
bunglon. Aku bisa berubah warna sesuai dengan tempat aku hinggap. Aku bunglon
yang hinggap dari satu pohon kekuasaan ke pohon kekuasaan berikutnya begitu
seterusnya. Sampai saat ini aku masih menghidupkan diri sebagai bunglon yang
menikmati hidup dari pohon-pohon kekuasaan yang aku hinggapi. Kalau pohon
kekuasaan yang satu tiba-tiba saja layu, aku segera hinggap di pohon kekuasaan
yang lain. Aku tinggalkan ekorku di pohon kekuasaan yang layu itu. Banyak orang
yang tidak bisa menangkapku. Mereka hanya menangkap ekorku yang tertinggal di
pohon kekuasaan yang kutinggalkan.
Aku
tidak pernah tersinggung jika ada orang menyebutku bunglon. Aku memang bunglon,
kok! Makanya aku rela jika aku sama
seperti tokoh-tokoh bunglon di dunia ini. Silakan saja ada orang yang bikin
daftar orang-orang bunglon dari abad ke abad, masukkan aku ke dalam daftar itu,
pasti aku terima. Buatku tidak ada masalah kalau namaku dicantumkan sebagai
salah satu bunglon. Aku tidak perlu melempar ke orang lain stigma buruk itu.
Aku sekali lagi siap menerima sebutan bunglon titik. Kenapa stigma buruk itu
aku terima? Buatku menjadi bunglon kata orang `sesuatu banget`. Ya, `sesuatu
banget` karena aku saat ini benar-benar merasakan hidup ini semuanya serba
mudah dan nikmat. Aku tidak perlu kerja keras. Aku cukup kasih instruksi ke
bawahanku kalau ada orang-orang yang mulai membahayakan keberadaanku. Atau aku
cepat-cepat cari pohon kekuasaan yang sekiranya bisa buat aku selamat. Untuk
bisa selamat, apalagi kalau bukan menjadi penjilat di pohon kekuasaanku yang
baru.
***
Aku
tidak tahu, apakah menjadi bunglon lebih merupakan talentaku yang memang sudah
ada sejak aku lahir? Seingatku, dulu aku termasuk orang baik-baik. Aku lahir
dari keluarga orang-orang yang taat beribadah. Sejak sekolah di bangku SD
sampai ke perguruan tinggi aku termasuk anak yang berprestasi. Aku bisa
selesaikan studi S3 dengan predikat summa cumlaude di Monash
University. Selama aku kuliah S2 dan S3 aku sama sekali tidak mengeluarkan
biaya karena aku mendapat beasiswa penuh. Aku kecewa saja ketika kembali ke
tanah air kenaikan pendapatanku tidak seimbang dengan gelar S3 yang kuperoleh
dari perguruan tinggi ternama di Australia. Makanya aku mencoba peruntungan di
dunia politik dengan benar-benar terjun menjadi seorang politikus walaupun aku
harus menjadi bunglon.
Sampai
aku dewasa, menikah, dan punya keturunan aku belum menjadi bunglon. Aku menjadi
bunglon setelah mulai menikmati hidup di bawah pohon kekuasaan. Aku ingat
ketika istriku marah besar padaku karena aku resign sebagai dosen
memilih menjadi politikus. Aku menjadi politikus karena mau mengubah nasib. Aku
tidak mau hidup terus-terusan dengan kondisi ekonomi yang tidak akan menjadikan
aku kaya. Sebagai dosen dengan latar belakang pendidikan S3, buatku gaji yang
aku terima pada waktu itu terbilang kecil. Semua alasan yang aku sampaikan ke
istriku ditolak mentah-mentah. Saking marahnya, istriku mengusirku dari
rumahnya (rumah tempat aku tinggal memang milik istriku).
“Saudara Deni (dia tidak menyebutku
`Ayah` seperti biasanya), silakan bawa semua tas dan koper ini. Dulu Saudara Deni
datang ke rumah ini cuma bawa tas dan pakaian yang melekat di badan. Sekarang
juga silakan bawa semua ini”, sambil berkata begitu istriku langsung membanting
pintu seraya sekalian menguncinya.
“Bu!, Ibu!, tega-teganya mengusirku!”,
aku berteriak sejadi-jadinya. Tetangga-tetangga rumah hanya bisa diam. Mereka
hanya melihat dari kejauhan. Tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka cuma tahu aku
diusir dari rumah istriku. Sementara anak-anakku tidak ada seorang pun yang
melihatku diusir. Rupanya mereka sudah dikondisikan oleh istriku. Karena
istriku di dalam rumah bergeming dan tidak ada reaksi sama sekali dari dalam
rumah, aku tinggalkan rumahku. Aku bawa semua tas dan koper. Aku terseok-seok
membawa tas dan koper di bawah tatapan tetangga-tetangga rumahku yang tidak
bisa berbuat apapun buatku. Mereka hanya menyimpan tanya `ada apa denganku?`.
Aku segera menuju ke apartemen yang memang telah disediakan temanku sesama
bunglon.
Temanku
sesama bunglon menyambutku dengan penuh antusias. Dia memelukku erat seraya
membisikkan sesuatu.
“Kau akan jadi politikus terkenal. Aku
sudah lihat talentamu memang ke arah sana. Selamat datang di dunia Politik, Deni!”,
sambil senyum semringah temanku sesama bunglon menerima kehadiranku.
“Terima kasih. Tapi, aku sedih karena
harus meninggalkan keluarga”, kataku penuh haru.
“Sudahlah Den, jangan disedihkan lagi.
Kita harus bikin pesta kecil untuk menyambutmu supaya kesedihanmu hilang. Kalau
kau kesepian, nanti ada yang siap menemanimu. Kau ingat `kan Linda, gadis
mungil yang naksir kau?”, tanya temanku setengah berbisik.Aku hanya mengangguk
mengiyakan. “Nanti kita undang ke pesta kecil kita”, kata temanku
menyemangatiku.
“Sekarang kamu masukkan semua pakaian
yang ada dalam tas dan kopermu ke lemari yang telah kusediakan”, perintah
temanku.
Aku
segera menuruti perintahnya. Sambil memasukkan pakaian ke dalam lemari aku
masih mengingat-ingat kejadian tadi pagi ketika aku diusir oleh istriku. Buatku
pengusiran ini sesuatu yang menyakitkan. Aku harus membalas dendam padanya. Aku
akan melampiaskan dendamku bukan dalam bentuk menyakiti fisiknya. Tapi, aku
akan menerornya lewat perbuatan burukku supaya dia tahu betapa sakitnya seorang
kepala rumah tangga diusir dari rumahnya di bawah tatapan para tetangga rumah
yang tentu saja menaruh curiga padaku. Aku harus mulai mengatur strategi apa
saja yang harus aku perbuat biar dia tambah sakit hati dengan perbuatanku. Sejak
aku menempati apartemen yang disedikan temanku, aku telah mulai memasuki dunia
penuh gegap gempita yang orang sebut sebagai `dugem` dan sekaligus dunia politik
yang penuh tipu daya. Aku campakkan dunia rumah tangga. Aku puasi hidupku di
dua alam, dugem dan politik. Di dugem aku yang dulu dikenal pria-pria baik
saja, kini adalah pria flamboyan yang siap merayu dan meniduri perempuan-perempuan yang bersedia kusetubuhi. Aku yang
dulu tidak pernah memasuki tenggorokanku dengan minunam yang membakar
tenggorokan dan perutku, kini entah berapa botol telah aku habiskan. Kini
sehabis rapat-rapat di DPR yang penuh kepenatan, aku akhiri dengan mampir ke
klub-klub malam apalagi kalau bukan dugem. Ah, aku benar-benar menikmati dugem.
Semua yang aku lakukan ku unggah ke WA istriku. Aku hanya dikomentari`norak`.
Selalu begitu komentarnya sampai-sampai aku bosan mengunggahnya lagi. Ternyata,
strategiku meneror istriku tidak mempan.
Di
dunia politik aku benar-benar sekarang bermuka dua, berstandar ganda, dan aku
kini adalah bunglon. Aku tunjukkan sikapku sebagai bunglon di depan ribuan pendukungku
yang aku akui kemampuan intelektualnya tidak memadai. Di hadapan mereka aku
umbar-umbar janji akan memberikan kesejahteraan termasuk memberikan beasiswa
buat pendukungku yang tergolong miskin sambil aku sawer uang dan kaos. Tapi,
begitu aku bisa melenggang ke gedung kura-kura segera aku lupakan janjiku. Toh,
aku juga yakin pendukungku termasuk orang-orang yang pendek memorinya.
Perilaku
bunglonku juga aku tunjukkan di forum-forum yang diliput oleh sekian banyak,
baik di berbagai media mainstream maupun medsos bukan hanya di tingkat
nasional, tapi juga di tingkat internasional. Aku terbiasa jadi narasumber atau
pembicara dari kalangan anggota dewan terhormat yang berlatar belakang
pendidikan S3 Public Policy and Management Monash University yang bahasa
Inggrisnya berstandar internasional tergolong mahir atau dalam istilah kerennya
disebut C2 Proficient (CEFR). Karena latar belakang pendidikanku dari
perguruan tinggi ternama di Australia ditambah lagi dengan referensiku di
bidang politik terbiasa melahap buku-buku dari penulis dan peneliti kenamaan
dari mancanegara aku selalu bisa mematahkan lawan-lawanku. Sebagai anggota
dewan dari kalangan akademis, aku juga pernah menulis buku-buku politik. Aku juga
pernah melakukan banyak penelitian dan menulis jurnal tingkat internasional. Bahkan,
aku ketika masih aktif sebagai dosen juga biasa diundang sebagai pembicara
mewakili perguruan tinggi di forum-forum nasional dan internasional. Namun yang
pasti, tentu saja sebelum aku dipilih oleh rakyat pendukungku, aku dipilih oleh
para pimpinan partai politik karena bukan semata dari latar belakang pendidikan
dan pekerjaanku dulu sebagai dosen, tetapi juga kemampuan retorikaku ketika
berbicara dan berargumentasi. Berkat kemampuan bicaraku yang bisa mematahkan
orang-orang yang menjadi lawanku, namaku sebagai politikus semakin melambung.
***
Tidak
terasa aku telah memasuki priode ketiga sebagai anggota dewan. Aku telah meninggalkan
keluarga lebih dari sepuluh tahun. Selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah
satu rupiah pun uang yang kuperoleh dari hasil kerja kerasku sebagai bunglon dikirim
ke keluargaku. Bukan aku pelit. Tapi, karena memang istriku tidak mau
menerimanya. Dia pernah mengatakan uang yang kuperoleh dari hasil kerjaku
sebagai bunglon adalah uang yang sudah berbaur antara halal dan haram. Aku pernah
diam-diam mentransfer ke rekening anak-anakku, tapi begitu mereka tahu langsung
istriku segera mengembalikannya. Istriku bukan hanya mengembalikan uangku, tapi
juga menyampaikan kata-kata yang sarkasme padaku. Meskipun istriku benar-benar
menunjukkan sikap ketidaksukaannya padaku, aku tidak pernah membalasnya. Aku tetap
tenang. Aku tidak terusik dengan ucapannya yang cenderung sarkasme.
Istriku
dari ucapan-ucapannya memang sarkasme. Tapi, di acara-acara keluarga dia selalu
minta padaku untuk hadir. Aku tidak perlu jual mahal. Aku segera menuruti
kemauannya. Di acara-acara keluarga, aku, istriku, dan anak-anakku berpura-pura
menunjukkan kebahagiaan. Seusai acara, istriku segera memintaku meninggalkan
rumah. Aku pun kembali ke kehidupanku sebagai bunglon. Semua yang aku, istriku,
dan anak-anakku lakukan yang penuh dengan kepura-puraan itu akhirnya terbongkar juga. Begitu
mereka tahu kalau aku sudah tidak lagi tinggal satu rumah dengan istri dan
anak-anakku, aku tidak pernah lagi kumpul-kumpul dengan istri dan anak-anakku. Aku
ingat hanya dua kali aku terpaksa kumpul dengan mereka ketika aku menjadi wali sekaligus
menjadi pasangan suami istri di panggung pernikahan anak-anakku. Selesai acara
seperti biasa aku kembali menjadi laki-laki yang telah ditunggu teman kumpul
keboku.
Memasuki
tahun pertama di periode ketiga ini ada sedikit keresahan yang akhir-akhir ini
menggelayutiku sebagai bunglon. Aku selalu dikejar-kejar mimpi buruk. Memang,
semua mimpi buruk itu bisa terselesaikan dengan rayuan-rayuan gombal teman
kumpul keboku. Namun, itu hanya sementara karena di malam-malam berikutnya aku
tetap saja dikejar-kerja mimpi serupa. Aku coba konsul ke psikiater ternama. Tetap
saja tidak ada jalan keluar yang terbaik. Bahkan, ke `orang-orang pintar` yang
katanya ada orang yang iri dan sengaja menjatuhiku yang kemudian seusai itu aku
diberikan berbagai macam ajimat, mimpi-mimpi seramku tidak pernah terhenti. Mimpi-mimpi
burukku tidak bisa dihentikan rayuan gombal perempuan-perempuan yang aku
tiduri. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh berbotol-botol miras
yang masuk ke tenggorokanku sampai setiap malam sebelum tidur aku selalu masuk
ke kamar tidur dalam kondisi teler. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan
oleh cara-cara medis yang memberikan suntikan ke tubuhku yang ternyata hanya
memberikan ketenangan sesaat. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh `orang-orang
pintar` yang menjampi dengan doa-doa yang tidak kumengerti bahasanya disertai
dengan ajimat-ajimat yang ternyata penuh dengan kepalsuan. Mimpi-mimpi burukku
yang tidak terhenti itu yang membawaku akhirnya ke rumah sakit jiwa. Aku menjadi
penghuni rumah sakit jiwa karena ketika aku baru selesai berzina, aku ternyata
membunuh perempuan panggilan. Aku benar-benar tidak sadar ketika membunuhnya. Aku
terus meracau yang tidak dimengerti ucapannya oleh orang-orang yang
menangkapku. Karena diduga sakit jiwa, aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa ini.
Ah, sang bunglon yang menjadi pembunuh, kini dimasukkan ke dalam rumah sakit
jiwa. Aku jadi penghuni rumah sakit jiwa bersama ratusan orang penderita
penyakit jiwa yang ada di situ. Aku tidak tahu berapa lama aku menjadi penghuni
rumah sakit jiwa. Selama aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa seingatku hanya
sekali istri dan anak-anakku mengunjungiku. Meski hanya sekali dan sebentar
kedatangan mereka membuat aku terhibur.
Aku
kini benar-benar lupa hari, tanggal, bulan, dan tahun. Mimpi-mimpi buruk yang
dulu mengejar-ngejarku sudah mulai berkurang. Mungkin obat penenang yang selalu
disuntikkan dan diminum setiap hari. Aku kini sudah mulai tenang. Satu hal saja
yang aku ketahui kalau aku sekarang bunglon sekaligus pembunuh. Aku sudah siap
menanggung resiko akibat perbuatanku. Dan ternyata, aku dipecat sebagai anggota
dewan dan pengurus partai. Aku kini bukan lagi menjadi bunglon. Aku kini merasa
bebas. Tapi, satu hal lagi yang harus aku lakukan akibat tindakan kriminalku. Itu
pun aku sudah siap. Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku di pengadilan
karena biar bagaimanapun aku adalah pembunuh. Aku telah menghabisi nyawa orang
walaupun itu aku lakukan dalam kondisi tidak sadar.
***
Aku kini bukan lagi menjadi penghuni
rumah sakit jiwa. Aku menjadi pesakitan yang menunggu pengadilan. Aku sekarang
menjadi orang hukuman di lapas. Di lapas inilah aku mulai menyadari kesalahanku.
Pelan-pelan aku di bawah bimbingan pembina rohani di lapas mulai mengerjakan
kewajibanku sebagai hamba Allah. Aku kini benar-benar ingin bertobat. Aku siap
menerima hukuman yang akan ditimpakan padaku sebagai pembunuh. Aku saat ini
menunggu pengadilan yang siap mengadiliku. Di saat-saat aku menunggu, ada
kegembiraan ketika istri, anak-anakku, menantu-menantuku, dan cucu-cucuku mengunjungiku. Saking gembiranya
aku melihat kedatangan mereka, tak terasa air mata ini bercucuran. Di akhir
kunjungan istriku sempat berpesan.
“Yah, ibu, anak-anak, menantu-menantumu, dan cucu-cucumu
akan tetap menunggu sampai ayah menghabisi masa hukuman di penjara. Semua harta
yang ayah peroleh selama menjadi bunglon akan ibu sumbangkan ke lembaga amal
kemanusiaan yang siap menerimanya. Ayah nanti selepas menjalani hukuman kembali
pada keluarga. Kembali pada pekerjaan semula sebagai pendidik. Ayah setuju
dengan usul ibu?”, tanya istriku.
“Insya Allah, ayah setuju ”, kataku
terharu.
“Ibu pamit, ya Yah?”, sambil berkata begitu dia mencium punggung tanganku seraya memelukku.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam! Terima kasih, Bu!”
“Ya. Sama-sama.”
Aku bersyukur karena istriku ternyata
masih mencintaiku. Buktinya, dia siap menungguku sampai selesai masa hukumanku
di penjara. Aku juga layak bersyukur karena dia sangat setia padaku. Buktinya, selama
lebih dari sepuluh tahun aku menjadi bunglon dia tidak pernah menuntut aku
untuk menceraikannya. Memang, dia tidak mau menerima pemberianku. Aku juga
tidak mau memaksanya, tapi di saat-saat aku menderita karena harus menjalani
hukuman dia masih sempat mengurusi harta-harta peninggalanku meskipun aku harus
rela semua itu dilimpahkan ke lembaga-lembaga sosial kemanusiaan. Aku sekarang
benar-benar bangkrut tidak memiliki harta.Yang kumiliki sekarang ini hanya pakaian yang melekat di badan dan beberapa helai pakaian di lemari kecilku. Tapi, aku masih punya orang-orang yang tetap
mencintaiku: keluargaku. Itulah kekayaan yang tidak ternilai buatku.
Kota Bekasi, 20 Februari 2026
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)