Kamis, 12 November 2020

All You Need Is Love (79)

BERKISAH TENTANG KEPEDULIAN

Subagio S. Waluyo



Umar bin Abdul Aziz pernah berujar kepada istrinya, Fathimah, tatkala sang istri bertanya mengapa dia menangis.

“Celakalah wahai Fathimah, aku ini dibebani urusan umat. Aku memikirkan orang fakir yang kelaparan;orang sakit yang hilang harapan; orang yang tiada memiliki pakaian; anak yatim yang kesusahan; orang yang terzalimi dan tertindas; orang yang terasing dan tawanan; para lansia dan janda; orang berkeluarga banyak dengan penghasilan pas-pasan; dan masih banyak lagi yang seperti mereka di seluruh penjuru negeri. Aku menyadari bahwa Tuhanku akan menanyaiku tentang mereka di hari kiamat kelak. Dan Nabi Muhammad membela mereka menghadapiku kelak. Aku khawatir tidak berdaya menyampaikan alasanku sehingga aku pun menangis karenanya.”

***

Umar bin Abdul Aziz banyak orang menyebutnya sebagai khalifah kelima setelah Ali bin Abi Thalib RA. Beliau menjadi khalifah di masa kekuasaan Dinasti Bani Umayah menggantikan khalifah terdahulu: Sulaiman bin Abdul Malik. Sulaiman bin Abdul Malik merupakan saudara sepupu Umar bin Abdul Aziz. Sulaiman bin Abdul Malik memiliki kedekatan dengan Umar bin Abdul Aziz. Disebutkan kalau Sulaiman bin Abdul Malik selaku khalifah dalam banyak hal selalu meminta fatwa (pendapat) dari beberapa orang saleh. Salah satu di antaranya adalah Umar bin Abdul Aziz. Diangkatnya Umar bin Abul Aziz oleh Sulaiman bin Abdul Malik lebih karena ketakwaan, kesalehan, dan keadilannya. Tiga modal utama itulah yang menjadi pilihan utama Sulaiman bin Abdul Malik memahkotai amal-amal salehnya dengan mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah (Abdussyafi Muhammad Abdul Latif dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, 2014:217).

Pilihan Sulaiman bin Abdul Malik mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya ternyata sebuah pilihan yang sangat tepat. Hal itu terbukti, walaupun Umar bin Abdul Aziz berkuasa sebagai khalifat relatif sangat singkat (99-101H/ 717-720M), dalam masa yang demikian singkat itu beliau melakukan banyak perubahan dan perbaikan. Seluruh potensi dan kemampuannya dikerahkan dan  seluruh hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk melakukan reformasi urusan kenegaraan, stabilitas keamanan, pemerataan kesejahteraan, dan penegakan keadilan di semua lapisan masyarakat. Untuk bisa mewujudkan semua itu, Umar bin Abdul Aziz selaku khalifah menerapkan:

1.    penjagaan harta umat Islam;

2.    efisiensi dalam penggunaan waktu dan tenaga;

3.    cepat dalam menangani berbagai urusan;

4.    penyederhanaan birokrasi;

5.    penyeleksian hakim, kepala daerah, dan pejabat publik;

6.    penghapusan semua aktivitas yang tidak sejalan dengan semangat Islam;

7.    mewujudkan keseimbangan di tengah masyarakat; dan

8.    melakukan dialog peruasif dengan para pemberontak (Abdussyafi, 2014:2019).

Hasilnya adalah kekhalifahan yang menjadi kebanggaan Islam dan umat Islam. Bahkan, bukan hanya umat Islam, umat-umat lainnya pun turut merasa bangga dan bersyukur.

Dialog Umar bin Abdul Aziz dengan istrinya, Fatimah bin Abdul Malik, tampak jelas kepedulian Umar bin Abdul Aziz terhadap nasib umatnya. Umar yang diberi amanah selaku khalifah memikirkan nasib umatnya terutama yang fakir miskin. Mereka yang sakit, yang tidak memiliki pakaian, yang tergolong anak-anak yatim, yang terzalimi, singkatnya mereka yang teralienasi yang semua itu menjadi beban pikiran Umar selaku khalifah. Bagi khalifah-khalifah terdahulu masalah nasib orang-orang kecil yang teralienasi kurang diperhatikan. Tapi, tidak demikian bagi Umar bin Abdul Aziz. Pertanggungjawabannya di akhirat ketika nanti berhadapan dengan Sang Khalik menjadi beban pikirannya. Ini sebuah bukti, betapa Umar bin Abdul Aziz selaku khalifah memiliki kepedulian pada nasib umatnya. Bagaimana dengan pimpinan-pimpinan bangsa di zama kiwari? Yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana cara memperkaya diri. Boleh jadi tidak level membandingkan Umar bin Abdul Aziz selaku khalifah dengan pimpinan-pimpinan negara sekarang yang cenderung egois, hedonis, dan serba permisif yang juga diragukan sampai sejauh mana rasa kenegarawanannya.

***

Pimpinan negara (termasuk ke dalamnya pimpinan daerah) yang cenderung egois, hedonis, dan serba permisif jelas tidak akan memiliki kepedulian. Bagaimana punya kepedulian kalau masih seperti itu perilakunya? Untuk bisa memiliki kepedulian, baik pimpinan negara maupun daerah harus terbebaskan dari perilaku-perilaku negatif yang disebutkan di atas. Kalau masih bersemayam perilaku-perilaku negatif , tidak mustahil juga anak bangsa ini lambat-laun juga memiliki perilaku yang sama (boleh jadi saat ini  anak bangsa telah terjangkit perilaku-perilaku negatif itu). Tidak mustahil anak bangsa ini akan terjangkit penyakit tidak peduli alias penyakit `cuek-bebek.` Tidak aneh kalau berbagai penyakit sosial di masyarakat tidak bisa diberantas. Korupsi, misalnya, sampai saat ini semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya. Kenapa bisa demikian? Jawabannya singkat saja, masyarakat kita saat ini yang sudah terlanjur terbelit perilaku egois, hedonis, dan serba permisif menjadi penghalang utama dalam mencegah (termasuk memberantas) tindak pidana korupsi (tipikor).

 

Tembok penghalang yang bernama perilaku (boleh juga penyakit) sosial itu harus dibersihkan. Penyakit yang sudah kronis itu, nyaris sudah menjadi kanker, harus benar-benar dibersihkan sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai ada yang tersisa karena kalau sampai tersisa tidak mustahil suatu saat akan muncul lagi. Bagaimana caranya? Sebelum kita bahas caranya perlu kita sepakati bersama yang tergolong masyarakat itu siapa saja? Kita perlu melakukan pembagian pengelompokan masyarakat itu karena terapi yang dilakukan berbeda antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lainnya. Dalam hal ini yang termasuk masyarakat terbagi dalam lima kelompok, yaitu:

1.   masyarakat yang masuk ke dalam kelompok akademis di perguruan tinggi (PT) ;

2.   masyarakat yang terlibat di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM);

3.   masyarakat yang terlibat dalam organisasi massa (ormas);

4.   masyarakat yang terlibat dalam pers, baik yang di media sosial maupun media mainstream; dan

5.   masyarakat lingkungan (RT,RW, kampung).

***



Masyarakat akademis ditempatkan paling atas karena mereka sebagai orang terpelajar adalah orang yang sudah terbiasa membagi pengetahuan. Karena sudah terbiasa membagi pengetahuan, mereka diharapkan juga bisa melakukan, bahkan, bisa menjadi agen perubahan. Terbukti memang negara ini bisa dibebaskan dari penjajahan di antaranya karena peran para intelektual. Termasuk dalam hal ini peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru sampai dengan peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi juga karena peran para intelektual yang datang dari PT. Tidak aneh kalau kehadiran mereka sangat dinanti-nantikan oleh semua kalangan. Kiprah mereka di PT lewat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat tertantang untuk melakukan perubahan. Kehadiran kalangan akademis sebagai social changes benar-benar sangat diharapkan. Meskipun di antara mereka banyak juga terkena sindrom penyakit sosial seperti yang disebutkan di atas, karena terpanggil untuk melakukan perbaikan, tidak mustahil mereka bisa mengenyampingkan dulu penyakit-penyakit sosial (meskipun juga tidak sedikit yang tersembuhkan dari berbagai penyakit sosial). Selain itu, masih cukup banyak kalangan akademis yang tergolong bersih dari penyakit-penyakit sosial. Mereka-mereka yang mengabdikan tenaga, pikiran, dana, dan waktunya untuk kepentingan akademis sangat mudah untuk peduli membenahi carut-marut bangsa ini sebagaimana disampaikan oleh Pierre  Bourdiou dan Julian Benda berikut ini.  

 

Menurut Pierre Bourdiou filsuf asal Perancis, kaum intelektual memiliki kekuasaan melalui ide-ide atau pengetahuan dalam sebuah masyarakat untuk membongkar struktur kekuasaan yang selalu mendominasi atau menindas masyarakat yang lemah merupakan pertarungan modal yang tersalurkan melalui arena, baik di masyarakat itu sendiri maupun di dalam dunia akademik, hingga pada akhirnya dapat membentuk habitus kaum intelektual. Habitus sendiri merupakan reproduksi dari sejarah. Di mana habitus kaum intelektual terjalin dengan kekuasaan ide-ide dan realitas yang ia tempati.

Sedangkan peran sosial kaum intelektual adalah untuk menyampaikan pandanganya kepada publik dalam hal masalah-masalah sosial yang dialami masyarakat.

Menurut Julien Benda, dalam kehidupan sosial, peran intelektual menjadi gambaran penting untuk melancarkan kritik dengan cara pandangannya di saat ia menelaah persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehingga dari situ sebagai kaum intelektual mereka dapat menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Intelektual memiliki peran sebagai orang yang selalu berbuat untuk kepentingan masyarakat dan bukan selalu berdiam diri ketika terjadi pertikaian di kepentingan tertentu. Itu artinya, habitus dibentuk melalui pertautan antara pengetahuan dan kenyataan.

(https://grahafilsafat.wordpress.com/2018/01/05/peran-akademik-dan-sosial-kaum-intelektual/)

 

Gambaran ideal orang-orang akademis dari PT seperti yang disampaikan oleh Pierre Bourdiou dan Julien Benda memang harusnya seperti itu, yaitu orang-orang yang mempunyai peran untuk melancarkan entah kritik atau pandangannya. Mereka demi melihat adanya ketimpangan dalam kehidupan sosial tidak bisa berdiam diri. Mereka ingin berbuat demi kepentingan masyarakat. Kalau perlu mereka melalui pengetahuan dan ide-ide yang dimilikinya melawan tirani kekuasaan yang menindas masyarakat. Tapi, apakah perlawanan mereka menghadapi tirani kekuasaan didukung penuh oleh sivitas akademika di PT-nya? Ternyata, tidak semua insan akademis mengapresiasi yang mereka perjuangkan. Boleh jadi sebagian besar insan akademis karena merasa nyaman bersemayam di `menara gading` cenderung bersikap `cuek bebek`. Biasanya mereka yang bersikap demikian lebih dikuasai oleh kehidupan yang serba materialistis sehingga tidak aneh kalau kalangan akademis jenis ini termasuk orang-orang yang terkena sindrom penyakit-penyakit sosial (egois, hedonis, dan permisif). Mereka telah hilang sikap idealismenya.

***

Di masa Orde Baru kalangan akademis (entah mahasiswa atau dosen) yang idealis,yang ingin memperjuangkan idealismenya memasuki berbagai LSM. LSM yang mereka masuki tentu saja bukan LSM plat merah (LSM milik pemerintah). LSM plat merah baik di masa Orde Baru maupun Reformasi tidak pernah berubah, yaitu lebih memperjuangkan aspirasi pemerintah daripada memperjuangkan aspirasi rakyat. Kalangan akademis yang telah hilang idealismenya lebih cenderung memasuki LSM-LSM plat merah karena LSM-LSM plat merah benar-benar menjadi lumbung meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Tidak sedikit di antara mereka yang berkiprah di LSM-LSM plat merah yang direkrut penguasa menjadi pejabat-pejabat tinggi di negara ini. Meskipun demikian, para akademisi yang berkiprah di LSM-LSM bukan plat merah juga banyak yang direkrut penguasa. Karena iming-iming kekuasaan yang tentu saja juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan hidupnya, tidak sedikit dari mereka yang memelacurkan dirinya sehingga mereka menjadi bagian dari kekuasaan yang sebelumnya diperanginya.  

Bicara tentang idealisme, baik kalangan insan akademis yang berkiprah di PT, LSM, ormas, maupun  pers kalau dalam diri mereka masih ada prinsip `aji mumpung`, tergoda kehidupan dunia yang serba gemerlap, atau terpancing pada budaya konsumtif tidak mustahil akan goyah idealismenya (bisa juga imannya). Mereka yang berkiprah di dunia pers meski ketika mereka masih menjadi mahasiswa aktif di dunia pers kampus sangat idealis, begitu masuk ke dunia kerja (kebetulan pekerjaannya berhubungan dengan dunia pers) tidak sedikit juga di antara mereka yang tergerus idealismenya. Jadi, mempertahankan idealisme baik mereka yang di PT, LSM, ormas, maupun pers memang sulit. Di sini dibutuhkan komitmen dan konsistensinya. Justru, kedua hal ini yang demikian mudah diucapkan ternyata sulit dipraktekkan. Buktinya, berapa banyak insan akademis dari PT, LSM, ormas, atau pers yang masih bisa bertahan dengan idealismenya? Karena banyak di antara mereka yang telah memelacurkan dirinya, tidak usah heran kalau berbagai permasalahan yang muncul di negara ini tidak kunjung selesai. Masalah korupsi, misalnya, masih masif prakteknya di Indonesia. Salah satu tudingan yang layak ditujukan di antaranya adalah tidak terlepasnya peran birokrat atau penyelenggara negara. Masalahnya menjadi semakin rumit ketika juga melibatkan pihak swasta. Menghadapi masalah itu pemerintah melakukan berbagai cara. Salah satu di antaranya adalah sinergitas pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh kepolisian, kejaksaan, dan KPK. Meskipun demikian, upaya ini ternyata belum maksimal sehingga tindak pidana korupsi dari hari ke hari semakin masif.

Pakar hukum pidana, Indriyanto Seno Adji, menilai, masifnya praktik korupsi di Indonesia memang tidak terlepas dari peran birokrat atau penyelenggara negara. Namun demikian, yang tidak kalah pentingnya juga tentunya adalah keterlibatan pihak swasta.

 "Korupsi ini semakin masif dan ini tidak saja terlepas dari peran birokrat atau penyelenggaran negara, tetapi juga keterlibatan pihak swasta sebagai potensi kekuataan nonbirokrasi negara," kata Indriyanto, di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

 Menurutnya, saat ini memang harus dilakukan banyak pembenahan oleh pemerintah. Utamanya pembenahan di bidang upaya penindakan dan pencegahan korupsi yang harus dilakukan secara bersama-sama.

 "Dengan makna demikian masih banyak pembenahan yang harus dilakukan oleh Pemerintah. Dibutuhkan dua sinergitas pemberantasan korupsi," ucap Indriyanto.

 Pertama yaitu sinergitas dan paralelitas antara pencegahan dan penindakan. Kemudian yang kedua sinergitas dan sistem pemberantasan korupsi yang terintegrasi di antara Polri, Kejaksaan, dan KPK.

 "Kontinuitas pemberantasan korupsi di antara tiga lembaga ini harus diakui belum maksimal dan optimal, sehingga ruang publik masih menganggap adanya divergensi kepentingan lembaga dalam pemberantasan korupsi," kata Indriyanto.

(https://www.beritasatu.com/faisal-maliki-baskoro/nasional/662037/ pemberantasan-korupsi-di-indonesia-belum-sinergis)

 ***

Idealisme yang tergerus berakibat fatal, salah satu di antaranya korupsi yang semakin masif baik kuantitas maupun kualitasnya. Kalau kalangan akademis yang semula berkiprah di PT kemudian masuk ke berbagai LSM, ormas, dan pers saja sudah tergerus idealismenya, bagaimana dengan masyarakat biasa (masyarakat lingkungan)? Tidak ada lagi di hadapan mereka orang yang bisa dijadikan rujukan untuk menjadi orang yang peduli karena orang-orang yang intelektualnya memadai saja sudah seperti itu. Masih beruntung kalau di tengah-tengah mereka ada tokoh entah tokoh agama, tokoh masyarakat adat, atau orang yang dituakan yang konsisten menjaga perilakunya. Bagaimana kalau tidak ada sama sekali? Mereka akan semakin larut dengan kehidupan yang cenderung egois, hedonis, dan permisif. Perlu diketahui, masyarakat lingkungan (apa lagi kalau mereka tergolong orang-orang miskin) adalah masyarakat yang rentan terhadap berbagai penyakit sosial. Mereka selalu melihat orang dari yang tampak di hadapan mereka. Kalau orang yang dilihat itu dermawan, semua yang menempel di tubuh orang itu serba mewah dan mahal ditambah lagi orang itu berpangkat atau punya jabatan, di mata mereka lebih terpandang dari-pada orang biasa-biasa saja yang tampilannya juga biasa-biasa saja. Mereka memandang orang pada yang dilihatnya. Pikiran mereka masih jauh untuk melihat orang dari yang dikatakannya walaupun perkataannya mengandung kebenaran.

Pandangan-pandangan seperti itu yang harus diluruskan. Siapa yang bisa meluruskannya? Siapa lagi kalau bukan tokoh-tokoh agama, adat, atau masyarakat setempat (entah Ketua RT, RW, kepala desa, atau lurah) plus orang-orang akademis (bisa mahasiswa bisa dosen) yang mau turun ke tengah-tengah masyarakat. Semua orang yang terlibat di atas harus bisa menunjukkan dirinya sebagai orang-orang yang masih punya idealisme. Mereka-mereka adalah orang-orang yang bekerja tulus, tanpa pamrih, dan menunjukkan kejujuran dan kepeduliannya. Lewat orang-orang akademis yang tulus, tanpa pamrih, dan jujur serta peduli masyarakat yang tergolong rentan ini juga harus dicerdaskan. Pendidikan mereka yang minim (minim pendidikan umum dan agama) yang menjadi faktor rentan terkena penyakit sosial. Untuk itu, insan akademis lewat penelitian dan pengabdian pada masyarakat bisa melakukan aktivitas pembelajaran. Selain itu, LSM-LSM, ormas-ormas, dan kalangan pers yang diisi orang-orang yang masih punya idealisme juga boleh-boleh saja berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Sinergitas orang-orang akademis dari PT, LSM, ormas, dan pers (ditambah lagi dari kalangan tokoh agama, adat, dan masyarakat setempat) sangat diperlukan. Dengan demikian, kepedulian masyarakat terhadap sesama manusia, lingkungan, daerah, bahkan negara sekalipun secara perlahan akan tumbuh.

***

Alangkah indahnya jika hidup ini ada orang-orang yang saling peduli. Di sana ada kehidupan yang saling toleran dan saling menolong satu sama lain. Dengan menghidupkan kepedulian, kita telah mewarisi sesuatu yang digariskan Tuhan: sifat-sifat pengasih dan penyayang. Kita mengasihi sesama kita walaupun yang diberikan bukan berupa harta tapi sekedar salam, sapa, dan senyum itu sudah cukup. Kita menyayangi sesama makhluk Tuhan entah itu sesama manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, atau lingkungan hidup di sekitar kita. Mungkinkah itu terjadi di tengah-tengah kehidupan kita yang saat ini diuji dengan pandemi Covid-19? Kita hanya bisa menjawab: Insya Allah. 



Senin, 05 Oktober 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (88)

 

Menyoal tentang Cinta Kasih


Subagio S. Waluyo


ALL YOU NEED IS LOVE 

                             The Beatles 

Love, love, love.

Love, love, love.

Love, love, love.

 

There's nothing you can do that can't be done.

Nothing you can sing that can't be sung.

Nothing you can say but you can learn how to play the game.

It's easy.

 

Nothing you can make that can't be made.

No one you can save that can't be saved.

Nothing you can do but you can learn how to be you in time.

It's easy.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.


Love is all you need.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.

Love is all you need.

 

Nothing you can know that isn't known.

Nothing you can see that isn't shown.

Nowhere you can be that isn't where you're meant to be.

It's easy.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.

Love is all you need.

 

All you need is love (all together, now!)

All you need is love. (everybody!)

All you need is love, love.

Love is all you need (love is all you need).

 

Yee-hai!

Oh yeah!

She loves you, yeah yeah yeah.

She loves you, yeah yeah yeah.

***

Sebelum kita membicarakan konsep cinta kasih yang kita kaitkan dengan yang terdapat pada karya sastra, ada baiknya kita simak potongan syair lagu berikut ini.

Rasa cinta pasti ada

Pada makhluk yang bernyawa

Sejak dulu sampai kini

Tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya

Sampai datang akhir masa

Renungkanlah

 

Perasaan insan sama

Ingin nyinta dan dicinta

Bukan ciptaan manusia

Tapi takdir yang Kuasa

Janganlah Engkau mungkiri

Segala yang Tuhan beri

Renungkanlah

………………………………

Pernahkah kita mendengar potongan syair di atas?  Kalau kita pernah mendengarnya, apa yang dapat kita ambil hikmah dari potongan syair tersebut?  Kalau kita belum bisa mengambil hikmahnya, coba kita analisis potongan syair di atas.  

Pada bait pertama si penyair menulis:

Rasa cinta pasti ada

Pada makhluk yang bernyawa

Sejak dulu sampai kini

Tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya

Sampai datang akhir masa

Renungkanlah

Dari potongan bait pertama tersebut, penyair itu mengatakan bahwa rasa cinta dimiliki oleh semua makhluk.  Pernyataan tersebut memang tidak bisa kita tolak.  Artinya, penyair memang memberikan gambaran yang sebenarnya bahwa setiap makhluk pasti memiliki rasa cinta.  Jangankan manusia yang telah diberikan hati nurani, binatang pun dikaruniai rasa cinta.  Coba kita amati gambar berikut ini.  


***

Burung pipit di atas itu membawa makanan. Untuk siapa makanan tersebut? Tentu saja untuk pasangannya (betina) atau anaknya. Mengapa ia membawa makanan tersebut dan tidak dimakannya sendiri? Kita bisa mengatakan bahwa ia membawa makanan tersebut (yang akan diberikan pada pasangannya atau anaknya) karena ia memiliki rasa cinta pada sesamanya.  Bukankah demikian? Jika hewan seperti itu saja memiliki rasa cinta, bagaimana kita makhluk Tuhan yang demikian sempurna ciptaannya?

Rasa cinta yang dimiliki semua makhluk ciptaan Tuhan juga tidak akan hilang. Ia akan tetap abadi pada kehidupan manusia. Ia baru akan hilang manakala telah berakhir masa kontrakannya di dunia alias berakhir masa hidupnya. Karena itu, cinta itu tak akan hilang begitu saja Jadi, meskipun ada manusia yang telah berlumpur noda dan dosa, di dalam relung hatinya yang paling dalam pasti masih ada rasa cinta.  Meskipun ia mengaku telah tidak memiliki lagi rasa cinta, ia pasti telah berbohong pada dirinya sendiri karena sebenarnya Tuhan telah memberikan rasa cinta kepada semua makhluknya.  Dengan demikian, kita tidak bisa lagi untuk  mengingkari bahwa rasa cinta memang ada pada diri kita semua.  Sekali lagi, rasa cinta tersebut baru akan hilang ketika Tuhan (melalui malaikat-Nya) telah mencabut nyawa kita.

Coba kita perhatikan bait puisi berikutnya:

Perasaan insan sama

Ingin cinta dan dicinta

Bukan ciptaan manusia

Tapi takdir yang Kuasa

Janganlah Engkau mungkiri

Segala yang Tuhan beri

Renungkanlah

………………………………

Kalau sesama manusia ada rasa cinta, maka layaklah ada rasa saling mencintai di antara sesama manusia. Perasaan demikian pada setiap makhluk Tuhan yang (bernyawa) pasti sama karena rasa tersebut memang bukan ciptaan manusia.  Ia merupakan takdir yang Kuasa, yang diberikan pada setiap insan.  Untuk itu, kita tidak bisa memungkirinya segala yang telah diberikan Tuhan termasuk ke dalamnya rasa cinta itu sendiri.

Berkaitan erat dengan uraian di atas, jika kita perhatikan karya-karya sastra, hampir semua karya sastra, apakah ia berupa prosa maupun puisi selalu berbicara tentang cinta.  Cinta yang dibicarakan juga beragam.  Karena cinta itu beragam, menurut Erich Fromm ada lima tipe cinta, yaitu:

1.   cinta persaudaraan; 

2.   cinta keibuan; 

3.   cinta erotis; 

4.   cinta diri sendiri; dan 

5.   cinta terhadap Allah 

(Erich Fromm, 1990, 63 –103).

Dari kelima tipe cinta  tersebut, kita hanya membahas cinta persaudaraan dan cinta terhadap Allah.

***

1)      Cinta Persaudaraan

Seperti telah diuraikan bahwa rasa cinta dimiliki oleh semua insan sehingga ada rasa saling mencintai di antara sesama insan.  Rasa cinta juga dimiliki oleh seorang guru manakala berhadapan dengan murid-muridnya.  Boleh jadi cinta seorang guru pada para muridnya tidak mendapat respon.  Namun, meskipun sang murid tidak pernah membalas kasih sayang yang diberikan gurunya, sang guru tetap memberikan rasa cintanya.  Wujud cinta yang diberikan sang guru di antaranya seperti terlihat pada puisi berikut ini.    

DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA

                                                    

                                                    Hartojo Andangdjaja

 

Apa yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu

sumber pengabdianku kepadamu

 

Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku

aku takut, anak-anakku

kursi-kursi tua yang di sana

dan meja tulis sederhana

dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya

semua padamu akan bercerita

tentang hidupku di rumah tangga

 

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita

depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja

-----horison yang selalu baru bagiku----

karena kutahu, anak-anakku

engkau terlalu muda

engkau terlalu bersih dari dosa

Untuk mengenal ini semua

 

Solo, 1955

Cinta yang diwujudkan Hartojo Andangdjaja melalui puisinya di atas adalah berupa pesan pada para muridnya.  Pesan tersebut tersirat pada bait pertama yang mengatakan bahwa ia tidak punya apa-apa kecuali sedikit ilmu yang lebih merupakan sumber ilmu pengetahuan.  Ilmu yang sedikit itu diberikan pada para muridnya karena semata-mata rasa cinta.          

Di bait kedua tersirat bahwa hidupnya memang dicurahkan untuk murid-muridnya.  Sebagai bukti bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang tulus, makhluk Tuhan yang mengabdi untuk kepentingan umat manusia, ia tidak punya apa-apa.  Tidak punya apa-apa menunjukkan bahwa ia bekerja tidak semata-mata mencari keuntungan materi, tetapi ia bekerja untuk mencurahkan rasa kasih sayangnya pada sesama makhluk Tuhan, yaitu murid-muridnya.         

Meskipun ia miskin, ia tidak mau bercerita tentang kemiskinannya.  Ia tidak sampai hati untuk mengeluhkan kemiskinannya, tentang kehidupannya di rumah tangga karena ia memandang murid-muridnya sebagai makhluk Tuhan yang masih terlampau hijau untuk mengenal sisi-sisi gelap kehidupan gurunya.  Di sisi lain, ia memandang murid-muridnya adalah generasi muda yang kehidupannya harus lebih baik daripada gurunya.  Oleh karena itu, ia tidak ingin murid-muridnya mengikuti jejak langkahnya. Salah satu cara agar murid-muridnya tidak mengikuti langkahnya, selayaknya ia tidak perlu bicara di depan kelas tentang kehidupan rumah tangganya.         

Hartojo ingin menyampaikan pada kita semua, begitulah seharusnya kita selaku guru mencintai murid-muridnya. Kita tidak perlu mengeluh dengan menyampaikan pada anak didik kita tentang kehidupan kita yang terasa pahit karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup.  Dengan mengeluh di hadapan anak didik akan menjadikan kita sebagai guru yang bekerja mengharapkan pamrih dari orang lain.Memang dengan menjadi guru seseorang telah menandatangani untuk siap hidup susah. Namun, di sisi-sisi lainnya sebenarnya seorang guru memiliki kekayaan cinta karena setiap hari, setiap saat ia memberikan cintanya kepada para muridnya, yaitu cinta persaudaraan.  

***

2)   Cinta terhadap Allah

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ber-Tuhan.  Karena manusia makhluk yang ber-Tuhan (beragama maksudnya), tentu saja di dalam hati nuraninya yang bersih pasti mengakui adanya Yang Maha Esa, Maha Kuasa,  Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Tuhan dengan sebutan kata `Maha` di depannya merupakan wujud pengakuan kita kepada Sang Khalik.  Pengakuan ini pun seharusnya diwujudkan sebagai landasan pada saat kita mencintai siapapun.  Artinya, kita harus menjadikan bahwa karena hanya Allah kita mencintai siapapun.         

Cinta terhadap Allah harus menjadi landasan cinta manusia kepada siapapun. Entah cinta pada Nabi dan Rosul-Nya, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada makhluk-makhluk lainnya sesama ciptaan Tuhan.  Jika kita mencintai sesama kita karena Allah, kita akan terhindar dari hal-hal yang berbau syirik. Sebagai contoh, orang yang mencintai isterinya karena Allah akan terhindar dari cinta karena kecantikan, kecerdasan, keturunan, atau kekayaan karena semua itu akan musnah.  Yang abadi hanya keimanan.  Jadi, kita mencintai sesama kita (orang tua kita, isteri/suami kita, atau makhluk sesama ciptaan Tuhan) harus dilandasi iman (karena Allah semata).  Dengan kata lain, cinta yang dilandasi iman adalah cinta yang abadi.

Hidupku Milikmu

 

                              Ebiet G.Ade

 

Ketika aku mencari cahayaMu

Menerobos lewat celah dedaunan

Bersilangan semburatmu dalam kabut

Aku terpaku aku terpana

Aku turut didalam

Nyanyian burung-burung

Gemuruh didadaku

Sirna bersama keheningan rimba raya

 

Ketika aku mendengar suaraMu

Bergema diruang dalam jiwa

Mengalir sampai keujung jemari

Aku mengepal aku tengadah

Rindu yang aku simpan

Membawa aku terbang

Menjemput bayang-bayang

Senyap ditelan keheningan rimba raya

 

Apapun tlah aku coba

Dan tak henti bertanya

Setiap sudut setiap waktu

Tak surut ku mencari

 

Kemana

Dimana

Aku lepas dahaga

Kepada siapa

Aku rebah bersandar

Tak mungkin kubuang

Rindu semakin dalam bergayut

Hidupku memang milikMu

Hanya untukMu  

Cinta yang abadi, yang datangnya karena Allah, akan menghasilkan kerinduan.  Kerinduan yang tidak bisa lagi dipendam.  Begitu indahnya gambaran kerinduan Ebiet G.Ade ketika melantunkan Hidupku Milikmu seperti terlihat pada  untaian lagu di bawah ini.Bisakah dibayangkan kerinduan seperti apa yang dilantunkan Ebiet melalui bait-bait puisinya di atas. Di bait pertama saja kita akan terpesona oleh ungkapannya ketika di keheningan rimba raya menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang diungkapkan dengan kata-katanya “Ketika ku mencari cahayaMu/Menerobos lewat celah dedaunan/Bersilangan semburatMu dalam kabut/Aku terpaku aku terpana/Aku larut didalam/Nyanyian burung-burung/Gemuruh didadaku/Sirna bersama keheningan rimba raya”.  Hanya dengan melihat keindahan ciptaan-Nya di pagi hari kita tidak akan habis-habisnya mengungkapkan betapa indahnya ciptaan Tuhan.  Selain itu, suara-suara satwa di rimba raya, yang juga ciptaan-Nya, di pagi hari membuat dada ini bergemuruh yang tak habis-habisnya menyebut Maha Suci-Nya Allah.         

Itu baru ciptaan Tuhan yang tertangkap oleh panca indera.  Bagaimana dengan ciptaan Tuhan yang tersirat, yang hanya muncul dalam dada kita?  Ebiet menggambarkan suara Tuhan yang didengarnya, yang bergema di jiwanya akan terasa sampai ke ujung jemari sehingga ia  mengepalkan jari jemarinya dan menengadahkan kepalanya, dan ia terlena terbawa mimpi.

Ketika aku mendengar suaraMu

Bergema diruang dalam jiwa

Mengalir sampai keujung jemari

Aku mengepal aku tengadah

Rindu yang aku simpan

Membawa aku terbang

Menjemput bayang bayang

Senyap ditelan keheningan rimba raya.               

Mengingat kebesaran Tuhan lewat ciptaan-Nya menjadikan seseorang penasaran untuk mencari jawaban semua itu.  Ia akan berupaya mencari dan mencari untuk menemukan jawaban meskipun dalam pencariannya secara fisik ia tidak akan bertemu:

Apapun tlah aku coba

Dan tak henti bertanya

Setiap sudut setiap waktu

Tak surut ku mencari

Pencarian itu akan menimbulkan rasa haus, rasa dahaga karena cintanya pada Tuhan.  Manakala kerinduan itu sudah semakin memuncak kepada siapa ia akan mengadukan kerinduan itu?  Kerinduan itu sendiri tidak akan mungkin dibuang begitu saja karena ia sudah semakin menguat meski pada akhirnya ia merasa bahwa hidupnya hanya milik-Nya:

Kemana

Dimana

Aku lepas dahaga

Kepada siapa

Aku rebah bersandar

Tak mungkin kubuang

Rindu semakin dalam bergayut

Hidupku memang milikMu

Hanya untukMu 

***

Begitulah gambaran orang yang benar-benar telah jatuh cinta pada Tuhannya.  Ia tak akan mungkin merasa ragu karena jalan hidupnya telah banyak memberikan jawaban bahwa hanya pada Tuhan ia melepaskan dahaganya. Hanya pada Tuhan ia bisa merebahkan dirinya di saat-saat ia telah lelah mencari nilai-nilai kehidupan.  Hanya kepada Tuhan pula ia melepaskan kerinduannya karena  kepada Sang Khalik ia bersumnpah: Hidupku memang milikMu/Hanya untukMu.  

 


 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...