Menyoal
tentang Cinta Kasih
Subagio S. Waluyo
The Beatles
Love, love, love.
Love, love, love.
Love, love, love.
There's nothing you can do that can't be done.
Nothing you can sing that can't be sung.
Nothing you can say but you can learn how to play the game.
It's easy.
Nothing you can make that can't be made.
No one you can save that can't be saved.
Nothing you can do but you can learn how to be you in time.
It's easy.
All you need is love.
All you need is love.
All you need is love, love.
Love is all you need.
All you need is love.
All you need is love.
All you need is love, love.
Love is all you need.
Nothing you can know that isn't known.
Nothing you can see that isn't shown.
Nowhere you can be that isn't where you're meant to be.
It's easy.
All you need is love.
All you need is love.
All you need is love, love.
Love is all you need.
All you need is love (all together, now!)
All you need is love. (everybody!)
All you need is love, love.
Love is all you need (love is all you need).
Yee-hai!
Oh yeah!
She loves you, yeah yeah yeah.
She loves you, yeah yeah yeah.
***
Sebelum
kita membicarakan konsep cinta kasih yang kita kaitkan dengan yang terdapat
pada karya sastra, ada baiknya kita simak potongan syair lagu berikut ini.
Rasa
cinta pasti ada
Pada
makhluk yang bernyawa
Sejak
dulu sampai kini
Tetap
suci dan abadi
Takkan
hilang selamanya
Sampai
datang akhir masa
Renungkanlah
Perasaan
insan sama
Ingin
nyinta dan dicinta
Bukan
ciptaan manusia
Tapi
takdir yang Kuasa
Janganlah
Engkau mungkiri
Segala
yang Tuhan beri
Renungkanlah
………………………………
Pernahkah kita mendengar potongan syair di atas? Kalau kita pernah mendengarnya, apa yang dapat kita ambil hikmah dari potongan syair tersebut? Kalau kita belum bisa mengambil hikmahnya, coba kita analisis potongan syair di atas.
Pada bait pertama si
penyair menulis:
Rasa
cinta pasti ada
Pada
makhluk yang bernyawa
Sejak
dulu sampai kini
Tetap
suci dan abadi
Takkan
hilang selamanya
Sampai
datang akhir masa
Renungkanlah
Dari potongan bait pertama tersebut, penyair itu mengatakan bahwa rasa cinta dimiliki oleh semua makhluk. Pernyataan tersebut memang tidak bisa kita tolak. Artinya, penyair memang memberikan gambaran yang sebenarnya bahwa setiap makhluk pasti memiliki rasa cinta. Jangankan manusia yang telah diberikan hati nurani, binatang pun dikaruniai rasa cinta. Coba kita amati gambar berikut ini.
Burung
pipit di atas itu membawa makanan. Untuk siapa makanan tersebut? Tentu saja
untuk pasangannya (betina) atau anaknya. Mengapa ia membawa makanan tersebut
dan tidak dimakannya sendiri? Kita bisa mengatakan bahwa ia membawa makanan
tersebut (yang akan diberikan pada pasangannya atau anaknya) karena ia memiliki
rasa cinta pada sesamanya. Bukankah
demikian? Jika hewan seperti itu saja memiliki rasa cinta, bagaimana kita
makhluk Tuhan yang demikian sempurna ciptaannya?
Rasa
cinta yang dimiliki semua makhluk ciptaan Tuhan juga tidak akan hilang. Ia akan
tetap abadi pada kehidupan manusia. Ia baru akan hilang manakala telah berakhir
masa kontrakannya di dunia alias berakhir masa hidupnya. Karena itu, cinta itu
tak akan hilang begitu saja Jadi, meskipun ada manusia yang telah berlumpur
noda dan dosa, di dalam relung hatinya yang paling dalam pasti masih ada rasa
cinta. Meskipun ia mengaku telah tidak
memiliki lagi rasa cinta, ia pasti telah berbohong pada dirinya sendiri karena
sebenarnya Tuhan telah memberikan rasa cinta kepada semua makhluknya. Dengan demikian, kita tidak bisa lagi untuk mengingkari bahwa rasa cinta memang ada pada
diri kita semua. Sekali lagi, rasa cinta
tersebut baru akan hilang ketika Tuhan (melalui malaikat-Nya) telah mencabut
nyawa kita.
Coba kita perhatikan bait puisi berikutnya:
Perasaan
insan sama
Ingin
cinta dan dicinta
Bukan
ciptaan manusia
Tapi
takdir yang Kuasa
Janganlah
Engkau mungkiri
Segala
yang Tuhan beri
Renungkanlah
………………………………
Kalau
sesama manusia ada rasa cinta, maka layaklah ada rasa saling mencintai di
antara sesama manusia. Perasaan demikian pada setiap makhluk Tuhan yang
(bernyawa) pasti sama karena rasa tersebut memang bukan ciptaan manusia. Ia merupakan takdir yang Kuasa, yang
diberikan pada setiap insan. Untuk itu,
kita tidak bisa memungkirinya segala yang telah diberikan Tuhan termasuk ke
dalamnya rasa cinta itu sendiri.
Berkaitan
erat dengan uraian di atas, jika kita perhatikan karya-karya sastra, hampir
semua karya sastra, apakah ia berupa prosa maupun puisi selalu berbicara
tentang cinta. Cinta yang dibicarakan
juga beragam. Karena cinta itu beragam,
menurut Erich Fromm ada lima tipe cinta, yaitu:
1. cinta persaudaraan;
2. cinta keibuan;
3. cinta erotis;
4. cinta diri sendiri; dan
5. cinta terhadap Allah
(Erich Fromm, 1990, 63 –103).
Dari
kelima tipe cinta tersebut, kita hanya
membahas cinta persaudaraan dan cinta terhadap Allah.
***
1)
Cinta Persaudaraan
Seperti
telah diuraikan bahwa rasa cinta dimiliki oleh semua insan sehingga ada rasa
saling mencintai di antara sesama insan.
Rasa cinta juga dimiliki oleh seorang guru manakala berhadapan dengan
murid-muridnya. Boleh jadi cinta seorang
guru pada para muridnya tidak mendapat respon.
Namun, meskipun sang murid tidak pernah membalas kasih sayang yang
diberikan gurunya, sang guru tetap memberikan rasa cintanya. Wujud cinta yang diberikan sang guru di
antaranya seperti terlihat pada puisi berikut ini.
DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA
Hartojo Andangdjaja
Apa yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu
Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidupku di rumah tangga
Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
-----horison yang selalu baru bagiku----
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
Untuk mengenal ini semua
Solo, 1955
Cinta yang diwujudkan Hartojo Andangdjaja melalui puisinya di atas adalah berupa pesan pada para muridnya. Pesan tersebut tersirat pada bait pertama yang mengatakan bahwa ia tidak punya apa-apa kecuali sedikit ilmu yang lebih merupakan sumber ilmu pengetahuan. Ilmu yang sedikit itu diberikan pada para muridnya karena semata-mata rasa cinta.
Di bait kedua tersirat bahwa hidupnya memang dicurahkan untuk murid-muridnya. Sebagai bukti bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang tulus, makhluk Tuhan yang mengabdi untuk kepentingan umat manusia, ia tidak punya apa-apa. Tidak punya apa-apa menunjukkan bahwa ia bekerja tidak semata-mata mencari keuntungan materi, tetapi ia bekerja untuk mencurahkan rasa kasih sayangnya pada sesama makhluk Tuhan, yaitu murid-muridnya.
Meskipun ia miskin, ia tidak mau bercerita tentang kemiskinannya. Ia tidak sampai hati untuk mengeluhkan kemiskinannya, tentang kehidupannya di rumah tangga karena ia memandang murid-muridnya sebagai makhluk Tuhan yang masih terlampau hijau untuk mengenal sisi-sisi gelap kehidupan gurunya. Di sisi lain, ia memandang murid-muridnya adalah generasi muda yang kehidupannya harus lebih baik daripada gurunya. Oleh karena itu, ia tidak ingin murid-muridnya mengikuti jejak langkahnya. Salah satu cara agar murid-muridnya tidak mengikuti langkahnya, selayaknya ia tidak perlu bicara di depan kelas tentang kehidupan rumah tangganya.
Hartojo ingin menyampaikan pada kita semua, begitulah seharusnya kita selaku guru mencintai murid-muridnya. Kita tidak perlu mengeluh dengan menyampaikan pada anak didik kita tentang kehidupan kita yang terasa pahit karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Dengan mengeluh di hadapan anak didik akan menjadikan kita sebagai guru yang bekerja mengharapkan pamrih dari orang lain.Memang dengan menjadi guru seseorang telah menandatangani untuk siap hidup susah. Namun, di sisi-sisi lainnya sebenarnya seorang guru memiliki kekayaan cinta karena setiap hari, setiap saat ia memberikan cintanya kepada para muridnya, yaitu cinta persaudaraan.
***
2) Cinta terhadap Allah
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ber-Tuhan. Karena manusia makhluk yang ber-Tuhan (beragama maksudnya), tentu saja di dalam hati nuraninya yang bersih pasti mengakui adanya Yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Tuhan dengan sebutan kata `Maha` di depannya merupakan wujud pengakuan kita kepada Sang Khalik. Pengakuan ini pun seharusnya diwujudkan sebagai landasan pada saat kita mencintai siapapun. Artinya, kita harus menjadikan bahwa karena hanya Allah kita mencintai siapapun.
Cinta terhadap Allah harus menjadi landasan cinta
manusia kepada siapapun. Entah cinta pada Nabi dan Rosul-Nya, cinta kepada
sesama manusia, dan cinta kepada makhluk-makhluk lainnya sesama ciptaan
Tuhan. Jika kita mencintai sesama kita
karena Allah, kita akan terhindar dari hal-hal yang berbau syirik. Sebagai
contoh, orang yang mencintai isterinya karena Allah akan terhindar dari cinta
karena kecantikan, kecerdasan, keturunan, atau kekayaan karena semua itu akan
musnah. Yang abadi hanya keimanan. Jadi, kita mencintai sesama kita (orang tua
kita, isteri/suami kita, atau makhluk sesama ciptaan Tuhan) harus dilandasi
iman (karena Allah semata). Dengan kata
lain, cinta yang dilandasi iman adalah cinta yang abadi.
Hidupku Milikmu
Ebiet G.Ade
Ketika aku mencari cahayaMu
Menerobos lewat celah dedaunan
Bersilangan semburatmu dalam kabut
Aku terpaku aku terpana
Aku turut didalam
Nyanyian burung-burung
Gemuruh didadaku
Sirna bersama keheningan rimba raya
Ketika aku mendengar suaraMu
Bergema diruang dalam jiwa
Mengalir sampai keujung jemari
Aku mengepal aku tengadah
Rindu yang aku simpan
Membawa aku terbang
Menjemput bayang-bayang
Senyap ditelan keheningan rimba raya
Apapun tlah aku coba
Dan tak henti bertanya
Setiap sudut setiap waktu
Tak surut ku mencari
Kemana
Dimana
Aku lepas dahaga
Kepada siapa
Aku rebah bersandar
Tak mungkin kubuang
Rindu semakin dalam bergayut
Hidupku memang milikMu
Hanya untukMu
Cinta yang abadi, yang datangnya karena Allah, akan menghasilkan kerinduan. Kerinduan yang tidak bisa lagi dipendam. Begitu indahnya gambaran kerinduan Ebiet G.Ade ketika melantunkan Hidupku Milikmu seperti terlihat pada untaian lagu di bawah ini.Bisakah dibayangkan kerinduan seperti apa yang dilantunkan Ebiet melalui bait-bait puisinya di atas. Di bait pertama saja kita akan terpesona oleh ungkapannya ketika di keheningan rimba raya menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang diungkapkan dengan kata-katanya “Ketika ku mencari cahayaMu/Menerobos lewat celah dedaunan/Bersilangan semburatMu dalam kabut/Aku terpaku aku terpana/Aku larut didalam/Nyanyian burung-burung/Gemuruh didadaku/Sirna bersama keheningan rimba raya”. Hanya dengan melihat keindahan ciptaan-Nya di pagi hari kita tidak akan habis-habisnya mengungkapkan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Selain itu, suara-suara satwa di rimba raya, yang juga ciptaan-Nya, di pagi hari membuat dada ini bergemuruh yang tak habis-habisnya menyebut Maha Suci-Nya Allah.
Itu baru ciptaan Tuhan yang tertangkap oleh panca
indera. Bagaimana dengan ciptaan Tuhan
yang tersirat, yang hanya muncul dalam dada kita? Ebiet menggambarkan suara Tuhan yang didengarnya,
yang bergema di jiwanya akan terasa sampai ke ujung jemari sehingga ia mengepalkan jari jemarinya dan menengadahkan
kepalanya, dan ia terlena terbawa mimpi.
Ketika
aku mendengar suaraMu
Bergema
diruang dalam jiwa
Mengalir
sampai keujung jemari
Aku
mengepal aku tengadah
Rindu
yang aku simpan
Membawa
aku terbang
Menjemput
bayang bayang
Senyap
ditelan keheningan rimba raya.
Mengingat kebesaran Tuhan lewat ciptaan-Nya menjadikan
seseorang penasaran untuk mencari jawaban semua itu. Ia akan berupaya mencari dan mencari untuk
menemukan jawaban meskipun dalam pencariannya secara fisik ia tidak akan
bertemu:
Apapun
tlah aku coba
Dan tak
henti bertanya
Setiap
sudut setiap waktu
Tak
surut ku mencari
Pencarian itu akan menimbulkan rasa haus, rasa dahaga
karena cintanya pada Tuhan. Manakala
kerinduan itu sudah semakin memuncak kepada siapa ia akan mengadukan kerinduan
itu? Kerinduan itu sendiri tidak akan
mungkin dibuang begitu saja karena ia sudah semakin menguat meski pada akhirnya
ia merasa bahwa hidupnya hanya milik-Nya:
Kemana
Dimana
Aku
lepas dahaga
Kepada
siapa
Aku
rebah bersandar
Tak
mungkin kubuang
Rindu
semakin dalam bergayut
Hidupku
memang milikMu
Hanya
untukMu
***
Begitulah gambaran orang yang benar-benar telah jatuh
cinta pada Tuhannya. Ia tak akan mungkin
merasa ragu karena jalan hidupnya telah banyak memberikan jawaban bahwa hanya
pada Tuhan ia melepaskan dahaganya. Hanya pada Tuhan ia bisa merebahkan dirinya
di saat-saat ia telah lelah mencari nilai-nilai kehidupan. Hanya kepada Tuhan pula ia melepaskan
kerinduannya karena kepada Sang Khalik
ia bersumnpah: Hidupku memang
milikMu/Hanya untukMu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar