Minggu, 11 April 2021

All You Need Is Love (88)

Manajemen Masjid dan Studi Islam 

Subagio S. Waluyo (ed.)




“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18). 

“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah Ta’ala (mengharapkan wajah-Nya) maka Allah akan membangunkan baginya rumah (istana) di Surga”.

Ayat Qur`an dan hadits di atas jelas menjadi pemicu dan pemacu orang-orang beriman untuk memakmurkan masjid. Tidak heran kalau dengan waktu yang demikian singkat banyak masjid yang dibangun. Tapi, apakah masjid-masjid yang dibangun demikian megah dengan asesori yang membikin decak kekaguman setiap jamaah yang memasukinya benar-benar makmur dalam artian aktivitas masjidnya juga luar biasa? Ternyata yang terjadi adalah aktivitas rutinitas sebatas ibadah sementara masyarakat di sekitarnya tidak tertanam dalam dirinya rasa terikat dan cinta terhadap masjid. Mereka cenderung menjauhkan masjid. Masjid hanya dikunjungi ketika salat jumat dan iedul fitri/iedul qurban. Di luar itu? Tidak usah ditanya lagi. Meskipun demikian, dari sekian banyak  masjid yang ada di negara ini, ada salah satu masjid yang layak dijadikan contoh  dalam hal memakmurkan masjid, yaitu Masjid Jogokariyan di Kota Yogya. Kenapa bisa demikian? Biar tidak penasaran silakan diklik file-file berikut yang berkaitan dengan Masjid Jogokariyan. Kalau masih juga kurang puas, silakan datang langsung ke Masjid Jogokariyan. Sebagai tambahan, agar wawasan ke-Islam-an pembaca semakin bertambah silakan juga diklik file-file yang berkaitan dengan materi-materi ke-Islam-an. Semoga bermanfaat. Salam takzim dari Subagio S Waluyo (Pemerhati masalah-masalah ke-Islam-an dan kemasjidan). 

Jumat, 19 Maret 2021

Kebahasaan dan Kesastraan (96)

 

Pembelajaran Penulisan

Subagio S. Waluyo




(1)

Submenu kebahasaan dan Kesastraan kali ini dinamakan Pembelajaran Penulisan karena memang sengaja disediakan kolom untuk siapa saja yang ingin belajar menulis. Dinamakan Pembelajaran Penulisan karena belajar menulis merupakan sebuah proses. Tentang lamanya mengikuti proses belajar menulis itu sendiri bukan semata-mata adanya talenta, tapi juga dibutuhkan keseriusan. Selain itu, perhatian harus fokus. Perlu juga dicamkan, belajar menulis harus disertai kesabaran dan tetap konsisten dengan komitmen yang telah dicanangkan di awal ketika belajar. Komitmen yang harus ada pada seorang calon penulis adalah dia mau belajar menulis untuk memperoleh tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi pembacanya. Memberikan wawasan pada setiap pembacanya. Tentu saja wawasan yang bermanfaat bagi kehidupan pembacanya di masa depan dan diharapkan (setidak-tidaknya) membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi pembaca.

Jumat, 05 Maret 2021

All You Need Is Love (87)

 EVALUASI PEMEKARAN DAERAH

KABUPATEN PANGANDARAN

Subagio S. Waluyo

Sejak diundangkannya UU Nomor 22 tahun 1999 banyak daerah baik di level kota, kabupaten, maupun provinsi menghendaki adanya pemekaran daerah. Di masa orde baru ada 26 provinsi, 234 k abupaten, dan 59 kota. Di masa reformasi dengan keluarnya kebijakan yang berkaitan desentralisasi dan otonomi daerah terjadi pembengkakan luar biasa. Sampai saat ini (meskipun ini sudah dilakukan penghentian sementara) sudah ada 34 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota. Semua itu belum termasuk jumlah kecamatan, kelurahan, dan desa yang juga mengalami pemekaran. Apakah dengan adanya pemekaran daerah terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat? Ternyata dari banyak pemberitaan dan hasil penelitian yang terjadi adalah sebaliknya. Salah satu kabupaten di Jawa Barat yang juga melakukan pemekaran daerah adalah Kabupaten Pangandaran. Kabupaten ini lahir merupakan hasil pemekaran Kabupaten Ciamis. Tentang pemekaran daerah Kabupaten Pangandaran silakan diklik bahan-bahan berikut ini. Semoga file-file berikut ini bermanfaat. Salim takzim dari Subagio S Waluyo (pemerhati pemekaran daerah). 

  1. Penelitian Evaluasi Pemekaran Daerah Kabupaten Pangandaran
  2. Lampiran 1-Profil Wilayah Kabupaten Pangandaran 
  3. Lampiran 2-Alasan Pemekaran Daerah 
  4. Lampiran 3-Sejarah Singkat Berdirinya Kabupaten Pangandaran
  5. Lampiran 4-Kabupaten Pangandaran Miliki Kawasan Ekonomi Baru
  6. Lampiran 5-Profil Kabupaten Pangandaran
  7. Lampiran 6-Petikan UU Nomor 21 Tahun 2012-Pembentukan Kabupaten Pangandaran
  8. Lampiran 7-Konflik Kepentingan dalam Penataan Kabupaten Pangandaran
  9. Lampiran 8-Analisis SWOT Kabupaten Pangandaran 
  10. Lampiran 9-Kabupaten Pangandaran Raih Prestasi Laporan Keuangan
  11. Lampiran10-Prestasi Luar Biasa Kabupaten Pangandaran Terima Penghargaan 
  12. Lampiran11-Kabupaten Pangandaran DOB Terbaik di Indonesia
  13. Lampiran12-Kabupaten Pangandaran Raih Penghargaan Pertama

Kamis, 18 Februari 2021

Kebahasaan dan Kesastraan (95)

 KUMPULAN CERPEN DAN NOVEL

AHMAD TOHARI

Subagio S.Waluyo (ed.)

Mau mendalami kehidupan orang desa? Gak usah jauh-jauh, baca saja karya-karya Ahmad Tohari entah itu yang namanya cerpen atau novel, pasti akan ditemukan beragam perilaku dan peradaban orang-orang desa. Kalau ada referensi akademis yang berhubungan dengan sosiologi, silakan saja cari bukti-buktinya di karya-karya Ahmad Tohari. Pasti akan ditemukan yang namanya perubahan sosial dan budaya, pengangguran, kemiskinan, dan segala macam masalah sosial diungkap dalam karya-karyanya. Di cerpen-cerpen Ahmad Tohari juga kaya mengungkap masalah-masalah sosial yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Penasaran untuk membacanya? Silakan saja diklik cerpen-cerpen novel-novelnya berikut ini. Selamat menikmati karya-karya sastra Ahmad Tohari. Semoga bermanfaat. Salam takzim dari Subagio S. Waluyo (pencinta dan pemerhati sastra). 

Selasa, 09 Februari 2021

All You Need Is Love (86)

 DIPAKSA MENGAKU

Subagio S Waluyo


“Hei, kamu belum menjawab pertanyaan saya?”

“Ss… saya musti jawab apa, Pak?”

laki­laki   itu terisak. Hatinya tertusuk,

nuraninya tersayat, harga dirinya terkoyak.


“Jawab! Gitu aja, nangis. Cengeng!”

“Bapak keterlaluan…Untuk apa, nanya­nanya kayak gini. Bapak tahu, ini kan konyol, Pak. Kalau bapak mau tembak saya, tembak saja. Ini… 

tembak saja, Pak.”

 

Para petugas tersentak. Embun mendingin. Sunyi menyergap.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...